بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Minggu, 06 April 2008

ORANG YANG KAYA

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Secara naluriah, kebanyakan diantara kita, pasti ingin hidup senang dan berkecukupan dalam harta. Secara naluriah, kebanyakan diantara kita pasti sangat berharap akan dapat menjadi orang yang kaya. Karena orang yang kaya biasanya identik dengan orang yang dalam hidupnya diliputi oleh kebahagiaan, kesenangan, maupun kegembiraan karena dengan limpahan harta kekayaan yang dimilikinya, maka semua kebutuhan hidupnya/keinginannya dapat diraihnya dengan mudah. Sehingga tidak mengherankan jika kebanyakan diantara kita akan berusaha keras untuk menggapainya.

Namun, betulkah limpahan harta kekayaan yang telah diraih tersebut akan mampu menjamin seseorang untuk mandapatkan kebahagiaan, kesenangan, maupun kegembiraan yang hakiki (kebahagiaan, kesenangan, maupun kegembiraan yang sebenar-benarnya)? Jika memang demikian, mengapa masih bisa dijumpai orang-orang yang gelisah, ketakutan, kekhawatiran akan hari tuanya, frustasi/putus asa, bahkan mengakhiri hidup secara tragis (na’udzubillahi mindzalika!), dst. justru ditengah limpahan harta yang dimilikinya?

Saudaraku…,
Bagaimana mungkin seseorang dikatakan kaya (meski hidup ditengah limpahan harta) sedangkan pada saat yang sama, dia senantiasa kekurangan/membutuhkan harta yang teramat banyak? Sehingga (jika dia seorang pegawai/pejabat) uang negara/uang perusahaan-pun dia ambil secara tidak syah, karena gaji yang selama ini dia terima dirasa sangat kurang? Demikian juga (jika dia seorang pedagang) dia harus mengurangi timbangan karena keuntungan yang selama ini dia peroleh dirasa sangat kurang? Sehingga (jika dia seorang polisi) dia harus melakukan pungli (pungutan liar) karena pendapatan yang selama ini dia terima dirasa sangat kurang? Dst…, dst. Jika memang demikian, bukankah orang yang demikian itu pada hakekatnya adalah orang-orang yang miskin (meski secara kasat mata hidup ditengah limpahan harta)?

Saudaraku…,
Orang kaya yang sesungguhnya itu adalah orang yang dalam hidupnya sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepadanya. Cukuplah Allah baginya, sehingga dia merasa tidak perlu dan tidak membutuhkan perbuatan meminta-minta atau mengemis kepada orang lain, apalagi sampai melakukan kecurangan, melakukan pungli, korupsi, dll., karena dia teramat yakin, bahwa Allah akan memberikan kepadanya sebahagian dari karunia-Nya dan demikian pula Rasul-Nya.

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW. bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ. (رواه البخارى ومسلم)   
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati.” (HR. al-Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 2417)

Rasulullah SAW. juga bersabda dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri r.a:
وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ. (رواه البخارى ومسلم)   
“Siapa yang menampakkan kecukupan niscaya Allah akan membuatnya kaya.” (HR. al-Bukhari no. 1469 dan Muslim no. 1745)

“Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: "Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebahagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah", (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka)”. (QS. At Taubah. 59).

Di samping itu, dia juga senantiasa menafkahkan harta kekayaannya pada jalan Allah sebagai perwujudan rasa syukurnya kepada-Nya. Karena dia tahu, bahwa jika dia bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri, sedangkan apabila dia tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Sebaliknya, jika dia kikir, maka sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan dialah yang membutuhkan-Nya. Dan dia juga bergembira dengan kurnia Allah serta rahmat-Nya, karena dia tahu bahwa kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang dia kumpulkan.

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". (QS. Luqman. 12).

”Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan (Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini)”. (QS. Muhammad. 38).

Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan". (QS. Yunus. 58).

”Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (QS. Al Hajj. 64). ”Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi. Sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (QS. Luqman. 26). Dan Musa berkata: "Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (ni`mat Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (QS. Ibrahim. 8).

Abuhurairah r.a. berkata: Rasulullah bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ. (رواه البخارى و مسلم) 
“Bukanlah kekayaan itu dari banyaknya harta, akan tetapi kekayaan itu adalah rasa cukup yang ada di dalam hati.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Semoga bermanfaat.

Sabtu, 05 April 2008

ORANG YANG CERDAS

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Saat ini, kita masih bisa bersenda gurau, kita masih bisa saling bertegur sapa, kita masih bisa saling berkirim kabar, kita masih bisa saling bertukar cerita. Dan yang pasti, kita masih bisa bersama-sama.

Namun, dibalik itu semua, sadarkah kita, bahwa pada saat yang bersamaan, satu per satu saudara-saudara kita telah dipanggil kembali untuk berpulang menghadap kepada Sang Kholiq, Pemilik seluruh alam semesta ini? Sementara yang lain (termasuk kita), baik disadari atau tidak, sedang menunggu untuk mendapatkan giliran yang sama. Yah…, cepat atau lambat, pada akhirnya kita akan kembali jua kepada-Nya, untuk selama-lamanya.

Saudaraku…,
Sadarkah kita, bahwa jika masa itu telah tiba (yaitu masa ketika kita harus meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya, ketika kita telah tutup usia), maka kita akan berjalan seorang diri, segala sesuatunya harus kita urusi sendiri?

Pada saat itu, tidak ada seorangpun yang peduli dengan urusan kita, sekalipun itu adalah orang tua kita, istri/suami kita, anak-anak kita, saudara kita, sahabat kita. Karena masing-masing sudah teramat sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.

Pada saat itu, sudah tidak ada kesempatan untuk bersenda gurau lagi, untuk saling bertegur sapa lagi, untuk saling bertukar cerita lagi. Dan yang pasti, kita sudah tidak bersama-sama lagi, seperti saat ini.

Saudaraku…,
Sudahkah kita mempersiapkan diri kita untuk menghadapi masa yang telah pasti itu? Dimana kita harus mempertanggung-jawabkan semua yang telah kita perbuat selama masa hidup kita di dunia yang teramat singkat ini? Dimana kita harus sendiri? Dimana tidak ada seorangpun yang peduli dengan kita? Sekalipun itu adalah orang tua kita, istri/suami kita, anak-anak kita, saudara kita, sahabat kita?

Atau, apakah kita masih saja terlena? Seolah-olah kita akan hidup untuk selama-lamanya? Seolah-olah maut itu tidak akan pernah menyapa kita? Seolah-olah kita akan terus bersama-sama? Na’udzubillahi mindzalika!

Saudaraku…,

Ingatlah, bahwa orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling sibuk mempersiapkan bekal untuk menghadapinya, dialah orang yang paling cerdas.

Rasulullah SAW. bersabda:
أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا, أُولَئِكَ أَكْيَاسٌ
“Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah).

Semoga bermanfaat.

Jumat, 04 April 2008

NIKAH

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Hendaklah saudara-saudara kita, baik laki-laki yang belum kawin atau wanita-wanita yang tidak bersuami, dibantu agar mereka dapat segera kawin. Karena hal ini sejalan dengan perintah-Nya sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat An Nuur berikut ini:

وَأَنكِحُوا الْأَيَامَى مِنكُمْ ... ﴿٣٢﴾
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, …” (QS. An Nuur. 32).

Hendaklah kepada saudara-saudara kita tersebut, kita himbau untuk meluruskan niat, memantapkan hati, tidak perlu merasa khawatir. Yakinkan, bahwa jika kita miskin, Allah akan memampukan kita dengan kurnia-Nya. Karena sesungguhnya Allah Maha luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui, sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an surat An Nuur berikut ini (kelanjutan dari ayat di atas):

... إِن يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِن فَضْلِهِ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ ﴿٣٢﴾
“... Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS. An Nuur. 32).

Sedangkan bagi saudara-saudara kita yang tidak mampu kawin, hendaklah mereka menjaga kesucian (diri)-nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. Hal ini sejalan dengan penjelasan pada ayat berikutnya:

وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحاً حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللهُ مِن فَضْلِهِ ... ﴿٣٣﴾
“Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)-nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. ...” (QS. An Nuur. 33).

Sedangkan terkait wanita yang akan dinikahi, maka sebaiknya pilihlah wanita yang memiliki agama. Karena bila tidak, engkau akan celaka. Demikian penjelasan dari sebuah Hadits:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ؛ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Wanita itu (menurut kebiasaan) dinikahi karena empat hal: Bisa jadi karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang memiliki agama. Karena bila tidak, engkau akan celaka”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a.).

Saudaraku…,
Memang, boleh saja mengawini wanita yang disenangi: dua, tiga atau empat. Namun, sangat disarankan untuk mengawini seorang saja. Hal ini terutama jika kita takut tidak akan dapat berlaku adil (berat lho…, berlaku adil terhadap dua, tiga atau empat istri itu!!!). Hal ini sejalan dengan penjelasan Al Qur’an dalam surat An Nisaa’ berikut ini:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تُقْسِطُواْ فِي الْيَتَامَى فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُواْ فَوَاحِدَةً ... ﴿٣﴾
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, …” (QS. An Nisaa’. 3).

Kepada saudara-saudara kita yang sudah sanggup untuk menunaikan kewajiban perkawinan, sebaiknya disarankan untuk segera kawin. Karena kawin itu dapat menundukkan penglihatan dan menjaga kemaluan dari yang haram. Namun jika ternyata mereka memang belum sanggup untuk menunaikannya, maka hendaklah berpuasa (menjaga diri dari zina) karena puasa itu sebagai pencegahnya. Hal ini sesuai dengan perintah Rasulullah sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut ini:

Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata: Rasulullah bersabda:

يَامَعْشَرَالشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ. وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ. (رواه البخارى و مسلم)
“Hai para pemuda, siapa yang sanggup menunaikan kewajiban perkawinan, maka hendaklah kawin. Karena kawin itu dapat menundukkan penglihatan dan menjaga kemaluan dari yang haram. Dan siapa yang belum dapat, maka hendaklah berpuasa (menjaga diri dari zina) karena puasa itu sebagai pencegahnya”. (HR. Bukhari, Muslim).

Sedangkan pada hadits yang lain, diperoleh keterangan bahwa: Abuhurairah r.a. berkata: Rasulullah bersabda:

مَنْ أحَبَّ فِطْرَتِى فَلْيَسْتَنَّ بِسُنَّتِى وَإِنَّ مِنْ سُنَّتِى النِّكَاحُ. (رواه البيهقى)
“Siapa yang suka pada syari’atku, maka hendaklah mengikuti sunnahku (perjalananku). Dan daripada sunnahku ialah kawin”. (HR. Albaihaqi).

Juga dijelaskan dalam hadits lainnya, bahwa: Anas r.a. berkata: Rasulullah bersabda:

إِذَا تَزَوَّجَ اْلعَبْدُ فَقَدِاسْتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّيْنِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ الْبَاقِي. (رواه البيهقى)
“Jika seseorang telah kawin, berarti ia telah mencukupi separuh dari agamanya. Maka hendaknya bertaqwa kepada Allah dalam menjaga sisanya yang separuh”. (HR. Al Baihaqi).

Saudaraku…,
Jika saudara-saudara kita tersebut saat ini telah merasa nikmat (terhibur) dalam kesendiriannya, sebaiknya kita beri penjelasan, bahwa hal ini adalah salah besar. Masih ada kenikmatan (hiburan) lain yang jauh lebih dahsyat. Terutama jika kita merujuk pada hadits berikut ini: Ibn Umar r.a. berkata: Rasulullah bersabda:

اَلدُّنْيَا كُلُّهَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُالصَّالِحَةُ (رواه أحمدومسلم)
“Dunia ini semuanya sebagai hiburan, dan sebaik-baik hiburannya ialah wanita (istri) yang shalihah”. (H. R. Ahmad, Muslim).

Semoga bermanfaat!

Kamis, 03 April 2008

DUNIA AKHIRAT

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Janganlah kita terlalu silau oleh gemerlapnya kehidupan dunia ini. Karena masa depan kita yang sesungguhnya bukanlah di sini, di alam dunia ini. Tetapi nanti, di alam akhirat, dimana kita akan tinggal untuk selamanya di sana! “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”. (QS. Al An’aam: 32).

Namun demikian, hal ini bukan berarti bahwa kita musti melupakan kehidupan dunia ini. “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS. Al Qashash. 77).

Semoga bermanfaat.

Rabu, 02 April 2008

MENGHADAPI KRITIKAN

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Biasanya, orang akan senang jika mendapat pujian. Demikian juga halnya apabila dia dihormati serta dihargai.

Hal sebaliknya biasanya terjadi padanya. Jangankan sampai dihina, dikritik saja, seringkali orang kurang bisa menanggapinya dengan baik. Seringkali orang menganggapnya sebagai suatu penghinaan yang dapat menurunkan harga diri dan mencemarkan nama baiknya. Hal ini bisa terjadi karena biasanya orang merasa dirinya lebih tinggi, merasa dirinya lebih baik, dan merasa terhormat, sehingga tidak sepatutnya mendapat kritikan.

Padahal, seringkali dari kritikan tersebut, seseorang menjadi tahu tentang kelemahan serta kekurangannya, bahkan bahaya yang sedang mengancamnya, sehingga bisa dilakukan langkah-langkah perbaikan. Orang lainlah yang lebih tahu tentang kelemahan serta kekurangan dirinya, karena ada kecenderungan pada kebanyakan orang untuk menilai dirinya sendiri secara subyektif (cenderung untuk memberi penilaian yang lebih baik dari kenyataannya), sehingga dia menjadi kurang jeli terhadap kelemahan, kekurangan maupun bahaya yang sedang mengancam dirinya.

Jadi, diantara kita sudah semestinya untuk saling nasehat-menasehati, yang dalam hal ini tentunya masing-masing pihak harus siap untuk menerima kritikan demi kebaikan bersama. “Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. 103. 2-3).

Saudaraku…,
Belajarlah untuk merendahkan diri. Karena dengan merendahkan diri, kita akan sanggup untuk menerima kritikan dengan lapang dada. Dan ucapkanlah kata-kata yang baik, dimanapun, kapanpun, kepada siapapun. “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik”. (QS. Al Furqaan. 63). Dan belajarlah untuk menjadi pendengar yang baik. Terimalah kritikan/nasehat itu dengan baik, bagaimanapun cara orang dalam menyampaikan kritikan/nasehat tersebut.

Sebagai ilustrasi, ketika kita sedang duduk di sebuah kursi, kemudian orang mengingatkan kita bahwa di bawah kursi kita ada ular berbisa, tentunya harus kita sambut dengan baik, bagaimanapun cara orang tersebut dalam menyampaikannya. Sekalipun dia menyampaikannya dengan cara yang kasar, apalagi dengan sikap yang sopan dan lemah lembut. Karena dalam hal ini, yang terpenting bagi kita adalah mendapatkan informasi tersebut, sehingga kita dengan cepat dapat mengambil tindakan untuk menyelamatkan diri dari bahaya yang sedang/akan mengancam kita.

Dan tak lupa, belajarlah untuk memberi ucapan terimakasih kepada orang-orang yang telah memberikan kritikan/masukan/nasehat kepada kita. Jika perlu, sertakan dalam do’a kita. Semoga Allah memberikan balasan terbaik kepadanya. Amin!

Semoga bermanfaat!

Kamis, 27 Maret 2008

Sebaiknya Memilih Sikap Positif

Assalamu’alaikum wr. wb.

Mas Nafil dan Mas Fulan adalah dua orang alumnus sebuah SMA di Blitar. Meski rumah keduanya tidak berdekatan dan baru saling mengenal pada saat keduanya sama-sama menempuh pendidikan di SMA, namun persahabatan antara keduanya tetap dapat terjalin dengan indahnya. Rasanya, dimana ada Mas Nafil disitu pula ada Mas Fulan.

Namun setelah lulus dari SMA, keduanya tidak bisa bersama-sama lagi. Mas Nafil melanjutkan pendidikan tinggi di Unibraw Malang, sedangkan Mas Fulan menempuh pendidikan tinggi di sebuah perguruan tinggi swasta, nun jauh di ujung barat pulau Jawa. Meskipun demikian, persahabatan antara keduanya tetap dapat terjalin dengan baik, karena komunikasi antara keduanya tetap bisa berjalan, baik lewat telepon, SMS maupun lewat e-mail.

Hingga akhirnya ”petaka” itu datang. Mas Fulan yang selama ini setia dan senantiasa meluangkan waktu untuk menjalin komunikasi dengan Mas Nafil, tiba-tiba ”menghilang” begitu saja. Beberapa waktu kemudian, barulah Mas Nafil mengetahui penyebabnya. Ternyata Mas Fulan telah wafat dalam sebuah kecelakaan yang menimpanya beberapa waktu yang lalu.

Melihat kenyataan ini, Mas Nafil hanya bisa mengeluh dan menyesalinya. Seolah, Mas Nafil tidak bisa menerima kenyataan ini, hingga hari-hari dia lalui dengan wajah yang selalu murung, frustasi dan penuh dengan keputus-asaan. Karena rasa frustasi itu terus berkepanjangan, hingga pada akhirnya berdampak negatif pada perkembangan jiwanya.

Saudaraku…,
Pada kisah di atas, apapun sikap Mas Nafil – apakah dia mengeluh dan menyesalinya atau dia menerima dengan lapang dada – yang pasti Mas Fulan telah berpulang menghadap Sang Pencipta. Sikap apapun yang diambil oleh Mas Nafil, hal ini tetap tidak akan mengubah keadaan, karena wafatnya Mas Fulan adalah sebuah fakta/kenyataan.

Saudaraku…,
Jika memang demikian, mengapa Mas Nafil memilih sikap negatif? Mengapa tidak memilih sikap yang positif saja? Bukankah kedua sikap tersebut sama-sama tidak mampu mengubah fakta/kenyataan bahwa Mas Fulan telah wafat?

Jika Mas Nafil memilih sikap negatif (mengeluh dan menyesalinya, tidak bisa menerima kenyataan, selalu murung, frustasi, putus asa, dst.), maka hal ini dapat menjadikannya senantiasa berburuk sangka kepada-Nya sehingga jiwanya menjadi tidak tenang dan tanpa disadarinya – perlahan namun pasti – Mas Nafil dapat semakin jauh dari Allah. Na’udzubillahi mindzalika!

Sebaliknya, jika Mas Nafil memilih sikap positif (menerimanya dengan lapang dada), maka hal ini dapat menjadikannya untuk senantiasa berbaik sangka kepada Sang Pencipta sehingga mampu membawanya untuk semakin dekat kepada-Nya dan hatinya menjadi tenang.

Dengan memilih sikap positif, maka Mas Nafil menjadi tidak terlalu berduka cita terhadap apa yang luput darinya. Karena sesungguhnya Allah-lah pemilik seluruh alam semesta beserta isinya. Sebagaimana telah dijelaskan dalam Al Qur’an berikut ini: “(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira** terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,” (QS. Al Hadiid. 23). **) Yang dimaksud dengan terlalu gembira disini adalah gembira yang telah melampaui batas, yang menyebabkan kesombongan, ketakaburan, dan lupa kepada Allah.

Semoga bermanfaat.

NB.
Mas Nafil dan Mas Fulan pada kisah di atas hanyalah nama fiktif belaka. Mohon ma’af jika secara kebetulan ada kemiripan nama dengan kisah di atas!

Info Buku:

● Alhamdulillah, telah terbit buku: Islam Solusi Setiap Permasalahan jilid 1.

Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, MAg: “Banyak hal yang dibahas dalam buku ini. Tapi, yang paling menarik bagi saya adalah dorongan untuk mempelajari Alquran dan hadis lebih luas dan mendalam, sehingga tidak mudah memandang sesat orang. Juga ajakan untuk menilai orang lebih berdasar kepada kitab suci dan sabda Nabi daripada berdasar nafsu dan subyektifitasnya”.

Buku jilid 1:

Buku jilid 1:
Buku: “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 378 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

● Buku “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1 ini merupakan kelanjutan dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” (jilid 1 s/d jilid 5). Berisi kumpulan artikel-artikel yang pernah saya sampaikan dalam kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah menjelang shalat tarawih/ba’da shalat tarawih, Khutbah Jum’at, kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus maupun kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook/whatsapp (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab, konsultasi, diskusi via email, facebook, sms, whatsapp, maupun media lainnya.

● Sebagai bentuk kehati-hatian saya dalam menyampaikan Islam, buku-buku religi yang saya tulis, biasanya saya sampaikan kepada guru-guru ngajiku untuk dibaca + diperiksa. Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz adalah salah satu diantaranya. Beliau adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Unsur Ketua MUI Jatim, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia 2009-2013, Dekan Fakultas Dakwah 2000-2004/Guru Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 2004 - sekarang.

_____

Assalamu'alaikum wr. wb.

● Alhamdulillah, telah terbit buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5.

● Buku jilid 5 ini merupakan penutup dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan jilid 4.

Buku Jilid 5

Buku Jilid 5
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-29-3

Buku Jilid 4

Buku Jilid 4
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 4: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-28-6

Buku Jilid 3

Buku Jilid 3
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 3: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 396 halaman, ISBN 978-602-5416-27-9

Buku Jilid 2

Buku Jilid 2
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 324 halaman, ISBN 978-602-5416-26-2

Buku Jilid 1

Buku Jilid 1
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 330 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

Keterangan:

Penulisan buku-buku di atas adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini: ”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞