بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Kamis, 04 September 2008

AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR (MENYURUH KEPADA YANG MA’RUF DAN MENCEGAH DARI YANG MUNKAR)

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
”Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”. (QS. An Nahl. 90).

Dari Abu Sa’id Al Khudry radhiyallahu ’anhu berkata: saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيْمَانِ
“Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaknya mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu dengan tangannya, dengan lisannya. Jika tidak mampu dengan lisannya, dengan hatinya; dan itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim).

”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf* dan mencegah dari yang munkar**; merekalah orang-orang yang beruntung”. (QS. Ali ’Imran. 104). *) Yang dimaksud dengan ma’ruf adalah segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah. **) Sedangkan yang dimaksud dengan munkar adalah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.

”Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan mereka menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh”. (QS. Ali ’Imran. 114).

”Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar”. (QS. An Nisaa’. 114).

”(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma`ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan”. (QS. Al Hajj. 41).

”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Semoga bermanfaat.

Rabu, 03 September 2008

APAKAH ALLAH MASIH PEDULI DENGAN KITA?

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa tangan kita ternyata sangat peka terhadap panas. Sehingga seandainya pada saat kita sedang melamun kemudian tanpa kita sadari tangan kita telah memegang bara api, maka secara refleks (reflex movement, gerakan yang tidak disengaja) tangan kita segera menghindarinya. Setelah peristiwa itu barulah kita sadari, bahwa tanpa sengaja ternyata tangan kita telah memegang bara api.

Bisa dibayangkan seandainya tangan kita tersebut tidak peka terhadap panas. Pada peristiwa yang sama, dimana kita sedang melamun kemudian tanpa kita sadari tangan kita telah memegang bara api, maka – karena tangan kita tidak peka terhadap panas – bisa dipastikan pula bahwa tanpa kita sadari kita akan terus memegang bara api tersebut. Hingga pada akhirnya kita baru menyadarinya setelah tangan kita tersebut hangus terbakar. Jika sudah demikian, maka hanya ada satu pilihan, yaitu tangan kita tersebut harus diamputasi.

Dari gambaran di atas, dapatlah kita simpulkan bahwa kepekaan tangan kita terhadap panas tersebut ternyata merupakan salah satu indikasi/petunjuk/tanda bahwa Allah masih peduli dengan kita. Dengan adanya kepekaan terhadap panas tersebut, sesungguhnya Allah telah menyelamatkan tangan kita sehingga tidak sampai terbakar serta tidak harus diamputasi.

Saudaraku…,
Jika kita renungi lebih jauh lagi, kepekaan terhadap rasa bersalah/berdosa ketika kita melakukan kesalahan (melanggar larangan Allah) sesungguhnya juga merupakan cerminan kasih sayang Allah kepada kita.

Saudaraku…,
Bagi kita yang sudah terbiasa menjalankan ibadah puasa ketika bulan Ramadhan tiba, bisa dibayangkan betapa perasaan bersalah/berdosa begitu besar hinggap dalam hati kita jika pada suatu saat dimana terik matahari begitu menyengat dan rasa haus serasa tak tertahankan, kemudian kita mencoba meminum walau hanya seteguk air sehingga puasa kita menjadi batal. Dengan adanya perasaan bersalah/berdosa yang begitu besar tersebut, tentunya akan membuat kita jera dan berusaha kembali untuk menjalankan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya. Meskipun demikian, jika hal ini diulang dan terus diulang kembali, maka perasaan bersalah/berdosa tersebut berangsur-angsur akan berkurang dan bahkan bisa menghilang. Hingga pada akhirnya kita sudah tidak peka lagi terhadap perasaan bersalah/berdosa tersebut, karena kita telah terbiasa untuk tidak berpuasa.


Demikian juga halnya dengan ibadah sholat. Bagi kita yang sudah terbiasa menjalankan ibadah sholat wajib lima waktu, bisa dibayangkan betapa perasaan bersalah/berdosa begitu besar hinggap dalam hati kita jika pada suatu saat dimana kita sedang dihadapkan dengan pekerjaan yang begitu menggunung, kemudian kita mencoba untuk meninggalkan sholat demi kesibukan kita dalam menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk tersebut. Dengan adanya perasaan bersalah/berdosa yang begitu besar tersebut, tentunya akan membuat kita jera dan berusaha kembali untuk menjalankan ibadah sholat dengan sebaik-baiknya. Apalagi jika hal ini kita kaitkan dengan penjelasan sebuah hadits yang menyatakan bahwa yang pertama diwajibkan atas umat Islam adalah sholat lima waktu, dan pertama yang terangkat dari amal mereka adalah sholat lima waktu, dan pertama yang akan ditanya dari amal mereka adalah sholat lima waktu.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا قَاَل: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوَّلُ مَاافْتَرَضَ اللهُ عَلى أُمَّتِى الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَأَوَّلُ مَايُرْفَعُ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَأَوَّلُ مَايُسْأَلُوْنَ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، ... (رَوَاهُ الْحَاكِمُ)
Ibn Umar r.a. berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Pertama yang diwajibkan atas umatku sholat lima waktu, dan pertama yang terangkat dari amal mereka sholat lima waktu, dan pertama yang akan ditanya dari amal mereka sholat lima waktu, …” (HR. Al Hakim).

Meskipun demikian, jika hal ini (meninggalkan sholat) diulang dan terus diulang kembali, maka perasaan bersalah/berdosa tersebut berangsur-angsur akan berkurang dan bahkan bisa menghilang. Hingga pada akhirnya kita sudah tidak peka lagi terhadap perasaan bersalah/berdosa tersebut, karena kita telah terbiasa untuk tidak mendirikan sholat.

Hal yang sama juga bisa terjadi ketika kita mulai mencoba untuk melakukan kecurangan/korupsi (karena sudah mulai ada kesempatan). Jika selama ini kita senantiasa memegang teguh kejujuran, maka bisa dibayangkan pula betapa perasaan bersalah/berdosa akan begitu besar hinggap dalam hati kita. Bisa dipastikan, bahwa akan terjadi pertarungan antara perasaan bersalah/berdosa dengan perasaan senang karena memperoleh pendapatan ekstra. Dengan adanya perasaan bersalah/berdosa yang begitu besar tersebut, tentunya akan membuat kita jera dan berusaha kembali untuk senantiasa memegang teguh kejujuran. Meskipun demikian, jika hal ini diulang dan terus diulang kembali, maka perasaan bersalah/berdosa tersebut berangsur-angsur akan berkurang dan bahkan bisa menghilang. Hingga pada akhirnya kita sudah tidak peka lagi terhadap perasaan bersalah/berdosa tersebut, karena kita telah terbiasa melakukan kecurangan/korupsi. Demikian seterusnya...

Saudaraku…,
Jika sudah demikian – ketika kita sudah tidak memiliki kepekaan terhadap rasa bersalah/berdosa pada saat kita melakukan kesalahan/melanggar larangan Allah – apakah hal ini merupakan satu indikasi/petunjuk/tanda bahwa Allah sudah tidak peduli dengan kita? Jika memang demikian, kemana lagi kita memohon pertolongan? Jika memang demikian, kemana lagi kita mencari perlindungan? Wallahu a'lam bish-shawab.

Saudaraku…,
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah telah berfirman dalam Al Qur’an surat Al An’aam sebagai berikut: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’aam: 44). Na’udzubillahi mindzalika!

Semoga bermanfaat!

Selasa, 02 September 2008

CARILAH DUNIA INI SEBANYAK-BANYAKNYA!

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Perhatikanlah saudara-saudara kita di Yogyakarta yang terkena musibah gempa beberapa waktu yang lalu. Betapa hanya dalam hitungan detik, seluruh harta benda yang dikumpulkan bertahun-tahun, hancur begitu saja, sehingga yang kaya maupun yang miskin seketika benar-benar berada dalam situasi yang sama. Sama-sama tidak punya apa-apa, sama-sama menderita, sama-sama tidur di tenda-tenda pengungsian, dst. Sebelumnya keadaan serupa juga dialami oleh saudara-saudara kita di Aceh yang terkena musibah tsunami. Dan masih banyak kejadian serupa yang dialami oleh saudara-saudara kita yang lainnya.

Saudaraku…,
Tentunya, hal yang sama bisa saja menimpa kita, kapan saja. Jika sudah demikian, maka dalam hitungan waktu yang singkat, seluruh harta benda yang kita kumpulkan bertahun-tahun, bisa hilang begitu saja. Dan seandainya bencana alam itu tidak pernah menimpa kita, maka tanpa kita sadari, cepat atau lambat, bisa dipastikan bahwa kitalah yang akan meninggalkannya. Karena pada saat itu, kita telah dipanggil kembali untuk berpulang menghadap kepada Sang Kholiq, Pemilik seluruh alam semesta ini.

Saudaraku…,
Jika kita melihat uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ternyata kehidupan dunia ini hanyalah main-main dan senda gurau belaka. Betapa tidak! Harta yang kita kumpulkan dengan susah payah, ternyata kebersamaannya dengan kita hanyalah sebentar saja. Yah….., kalau bukan harta kita yang meninggalkan kita, kitalah yang akan meninggalkannya.

Saudaraku…,
Carilah harta sebanyak-banyaknya, karena tanpa adanya harta, kita memang tidak bisa berbuat banyak. Namun ingatlah, bahwa kebersamaan kita dengannya hanyalah sebentar saja, untuk selanjutnya harus kita pertanggung-jawabkan kepada-Nya kelak dikemudian hari. Oleh karena itu, carilah dunia ini dengan cara yang halal!!!

Saudaraku…,
"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu". (QS. Al Hadiid. 20).

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?". (QS. Al An'aam. 32).

Semoga bermanfaat.

Senin, 01 September 2008

ADAKAH KESEMPATAN UNTUK TIDAK BERSYUKUR?

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
”Jika ada kelebihan, optimalkan kelebihan itu sebagai perwujudan rasa syukur kita kepada-Nya. Sebaliknya, jika ada kekurangan, pandanglah kekurangan itu justru sebagai kelebihan kita”.

Jika pada saat ini ada kelebihan yang diberikan Allah pada diri kita, maka optimalkan kelebihan itu sebagai perwujudan rasa syukur kita kepada-Nya. Yang dimaksud dengan kelebihan disini dapat meliputi segala hal. Bisa berupa kelebihan harta, kesehatan, ilmu yang kita miliki, waktu/kesempatan, dst.

Jika pada saat ini Allah memberikan kelebihan harta kepada kita, maka optimalkan kelebihan harta itu untuk dibelanjakan di jalan Allah (untuk diberikan kepada kerabat yang terdekat akan haknya, membantu fakir miskin, untuk berdakwah, dst.) yang kesemuanya itu kita lakukan semata-mata untuk mencari keridhaan Allah sekaligus sebagai perwujudan rasa syukur kita kepada-Nya. Jangan malah sebaliknya (menghambur-hamburkan harta, berlebih-lebihan, dll.). Ingat..., bahwa tidak semua orang diberi kelebihan harta. “… dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros”. (QS. Al Israa. 26). “… dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al An’aam. 141).

Jika pada saat ini Allah telah memberikan kelebihan ilmu kepada kita, maka manfaatkan ilmu yang kita miliki tersebut sebesar-besarnya untuk mendekatkan diri kepada-Nya, serta sebarkan ilmu yang kita miliki tersebut kepada saudara-saudara kita yang lain. Bukankah orang yang paling baik adalah orang yang paling banyak memberi manfaat kepada yang lain? Demikian penjelasan Rasulullah dalam sebuah hadits.



عَنْ جَابِرٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْمُؤْمِنُ يَأْلَفُ وَيُؤْلَفُ، وَلا خَيْرَ فِيمَنْ لا يَأْلَفُ وَلا يُؤْلَفُ، وَخَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Jabir r.a berkata: Rasulullah SAW. bersabda: Orang beriman ialah insan yang mampu bergaul dengan manusia, dan manusia lain mampu bergaul dengannya. Tiada kebaikan bagi siapa yang tidak mampu bercampur dengan manusia, dan manusia tidak mau mencampurinya. Dan sebaik-baik manusia ialah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain. (HR at-Thabrani)


Jika pada saat ini Allah masih memberikan waktu/kesempatan kepada kita, maka manfaatkan waktu/kesempatan tersebut sebesar-besarnya untuk berbuat amal kebajikan, sebelum waktu/kesempatan itu pergi meninggalkan kita. Hal ini kita lakukan, semata-mata untuk mencari keridhaan Allah sekaligus sebagai perwujudan rasa syukur kita kepada-Nya atas waktu/kesempatan yang telah Allah berikan kepada kita. “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa`at.” (QS. 2. 254). Demikian seterusnya..., jika saat ini ada kelebihan yang diberikan Allah (apapun bentuk kelebihan itu) pada diri kita, maka optimalkan kelebihan itu sebagai perwujudan rasa syukur kita kepada-Nya.

Sebaliknya, jika pada saat ini ada kekurangan pada diri kita, pandanglah kekurangan itu justru sebagai kelebihan kita. Yang dimaksud dengan kekurangan disini dapat meliputi segala hal. Bisa berupa kekurangan harta, kesehatan, ilmu yang kita miliki, waktu/kesempatan, dll., dst.

Jika pada saat ini kita sedang kekurangan harta, maka pandanglah hal ini justru sebagai kelebihan kita. Karena bisa jadi, dengan kekurangan harta tersebut, Allah telah membentengi diri kita dari perbuatan maksiat/kesombongan. Betapa tidak, ketika keinginan untuk berbuat maksiat itu ada, ternyata kita tidak mungkin melakukannya, karena kita tidak punya biaya untuk itu. Pada saat yang lain, ketika kita akan menyombongkan diri, terpaksa kita harus menahan diri karena hal itu tak mungkin kita lakukan, karena kita tidak punya cukup harta untuk menyombongkan diri. Dst... Bukankah hal ini justru merupakan kelebihan kita, karena dengan kondisi ini, kita dapat terhindar dari perbuatan maksiat/kesombongan?

Jika pada saat ini kita sedang sakit, maka pandanglah hal ini justru sebagai kelebihan kita. Bukankah pada saat kita dalam keadaan sakit, biasanya kita dalam keadaan lemah sehingga kita dapat merasakan bahwa ternyata kita sangat membutuhkan-Nya? Bukankah hal ini justru merupakan kelebihan kita, karena dalam kondisi sakit, justru dapat membuat kita menjadi lebih dekat dengan Allah? Demikian seterusnya..., jika pada saat ini ada kekurangan (apapun bentuk kekurangan itu), maka pandanglah kekurangan itu justru sebagai kelebihan kita.

Saudaraku…,
Jika cara berpikir kita seperti ini, tentunya tidak ada alasan sedikitpun bagi kita untuk tidak bersyukur/mengeluh, bagaimanapun situasi/kondisi yang sedang kita hadapi. Yang terjadi justru sebaliknya. Apalagi jika hal ini kita kaitkan dengan salah satu hadits dimana Ahmad, Ibn Majah dan Albaihaqi meriwayatkan, bahwa Allah berfirman: “Aku selalu mengikuti persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Jika ia berprasangka baik, maka untung baginya. Dan jika berprasangka buruk, maka ia akan terkena bahayanya”.

Semoga bermanfaat.

Info Buku:

● Alhamdulillah, telah terbit buku: Islam Solusi Setiap Permasalahan jilid 1.

Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, MAg: “Banyak hal yang dibahas dalam buku ini. Tapi, yang paling menarik bagi saya adalah dorongan untuk mempelajari Alquran dan hadis lebih luas dan mendalam, sehingga tidak mudah memandang sesat orang. Juga ajakan untuk menilai orang lebih berdasar kepada kitab suci dan sabda Nabi daripada berdasar nafsu dan subyektifitasnya”.

Buku jilid 1:

Buku jilid 1:
Buku: “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 378 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

● Buku “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1 ini merupakan kelanjutan dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” (jilid 1 s/d jilid 5). Berisi kumpulan artikel-artikel yang pernah saya sampaikan dalam kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah menjelang shalat tarawih/ba’da shalat tarawih, Khutbah Jum’at, kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus maupun kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook/whatsapp (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab, konsultasi, diskusi via email, facebook, sms, whatsapp, maupun media lainnya.

● Sebagai bentuk kehati-hatian saya dalam menyampaikan Islam, buku-buku religi yang saya tulis, biasanya saya sampaikan kepada guru-guru ngajiku untuk dibaca + diperiksa. Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz adalah salah satu diantaranya. Beliau adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Unsur Ketua MUI Jatim, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia 2009-2013, Dekan Fakultas Dakwah 2000-2004/Guru Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 2004 - sekarang.

_____

Assalamu'alaikum wr. wb.

● Alhamdulillah, telah terbit buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5.

● Buku jilid 5 ini merupakan penutup dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan jilid 4.

Buku Jilid 5

Buku Jilid 5
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-29-3

Buku Jilid 4

Buku Jilid 4
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 4: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-28-6

Buku Jilid 3

Buku Jilid 3
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 3: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 396 halaman, ISBN 978-602-5416-27-9

Buku Jilid 2

Buku Jilid 2
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 324 halaman, ISBN 978-602-5416-26-2

Buku Jilid 1

Buku Jilid 1
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 330 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

Keterangan:

Penulisan buku-buku di atas adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini: ”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞