Assalamu’alaikum wr. wb.
Saudaraku…,
Perhatikan penjelasan Al Qur’an dalam beberapa ayat
berikut ini:
مَّن كَانَ يُرِيدُ ثَوَابَ الدُّنْيَا فَعِندَ اللّهِ
ثَوَابُ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَكَانَ اللّهُ سَمِيعًا بَصِيرًا ﴿١٣٤﴾
“Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka
ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha
Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. An Nisaa’. 134).
قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى
﴿٤٦﴾
”Allah berfirman:
"Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku
Mendengar dan Melihat". (QS. Thaahaa. 46).
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ
الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ
لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ ﴿١﴾
”Maha Suci Allah, yang telah
memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil
Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya
sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha
Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. Al Israa’. 1).
ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ
وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَأَنَّ اللهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ ﴿٦١﴾
”Yang demikian itu, adalah
karena sesungguhnya Allah (kuasa) memasukkan malam ke dalam siang dan
memasukkan siang ke dalam malam dan bahwasanya Allah Maha Mendengar lagi Maha
Melihat”. (QS. Al Hajj. 61).
اللهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلاً وَمِنَ
النَّاسِ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ ﴿٧٥﴾
”Allah memilih utusan-utusan-(Nya)
dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha
Melihat”. (QS. Al Hajj. 75).
Saudaraku…,
Dari ayat-ayat tersebut
diatas, diperoleh penjelasan bahwa sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar
lagi Maha Melihat. Namun demikian, pada kenyataannya Allah belum tentu mau
mendengar permohonan kita. Pada kenyataannya Allah belum tentu mau mendengar
do’a-do’a kita (meskipun Allah adalah Maha Mendengar). Dan pada kenyataannya,
Allah juga belum tentu mau melihat amal-amal kita (meskipun Allah adalah Maha
Melihat).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُبْطِلُواْ
صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالأذَى كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاء النَّاسِ
وَلاَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ
عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَّا يَقْدِرُونَ عَلَى
شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُواْ وَاللهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ ﴿٢٦٤﴾
”Hai orang-orang beriman,
janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan
menyakiti (perasaan sipenerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena
riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka
perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian
batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka
tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”. (QS. Al Baqarah. 264).
Saudaraku…,
Jelaslah sekarang, bahwa
sesungguhnya Allah hanya akan mendengarkan permohonan / do’a-do’a kita, jika
kita benar-benar berharap hanya kepada-Nya. Dan sesungguhnya Allah juga hanya
akan melihat amal-amal kita, jika semua amal-amal tersebut hanya kita ikhlaskan
kepada-Nya, jika kita benar-benar memurnikan ketaatan kita kepada-Nya.
قُلْ أَتُحَآجُّونَنَا فِي اللهِ وَهُوَ رَبُّنَا
وَرَبُّكُمْ وَلَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ وَنَحْنُ لَهُ
مُخْلِصُونَ ﴿١٣٩﴾
“Katakanlah: "Apakah
kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami
dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu dan hanya
kepada-Nya kami mengikhlaskan hati”, (QS. Al Baqarah. 139).
قُلِ اللهَ أَعْبُدُ مُخْلِصاً لَّهُ دِينِي ﴿١٤﴾
”Katakanlah: "Hanya
Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam
(menjalankan) agamaku". (QS. Az Zumar. 14).
وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ ﴿٨﴾
”Dan hanya kepada Tuhanmulah
hendaknya kamu berharap”. (QS. Alam Nasyrah. 8).
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ
وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
﴿١٢٧﴾
“Dan (ingatlah), ketika
Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya
berdo`a): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami),
sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". (QS. Al
Baqarah. 127).
Ya, Tuhan kami...,
Hanya kepada Engkaulah kami
menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴿٥﴾
“Hanya kepada Engkaulah kami
menyembah* dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan**” (QS. Al
Faatihah. 5).
*) Na’budu diambil dari kata
‘ibaadat: kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan tentang
Kebesaran Allah sebagai Tuhan yang disembah karena keyakinan bahwa Allah
mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya.
**) Nasta’iin (minta
pertolongan) diambil dari kata isti’aanah: mengharap bantuan untuk dapat
menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup diselesaikan dengan tenaga
sendiri.
Semoga bermanfaat!