بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Senin, 03 November 2014

PERSAKSIAN BAHWA TIADA TUHAN SELAIN ALLAH (I)



Assalamu’alaikum wr. wb.

Dalam sebuah diskusi terbuka di facebook, seorang non-muslim dengan santainya telah membuat pernyataan sebagai berikut:

Saya sering bingung mengartikan kalimat: “Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah”. Setahu saya, saksi adalah “orang yang berada pada saat kejadian, sehingga dipercayai mampu menceritakan kejadian yang sesungguhnya”. Saya jadi berfikir, orang-orang yang berani mengucapkan kalimat tersebut berarti sudah melihat Allah di surga dan sudah keliling dunia dan surga, sehingga dia berani bersaksi mengatakan bahwa “Tiada Tuhan selain Allah”. Jika dia belum melihat langsung, apakah dia bisa dikatakan sebagai saksi?

Seorang saksi harus berada di tempat kejadian perkara. Jika tidak, maka dia adalah "saksi palsu!". Jika bersaksi berdasarkan “feeling” atau perasaan saja maka kesaksiannya tidak bisa dipercaya, atau pembohong.

-----

MARI KITA KAJI PERNYATAAN DI ATAS!

Saudaraku…,
Dari pernyataan di atas, nampak sekali kekurang-pahaman dari yang bersangkutan akan makna persaksian. Lebih dari itu, dari pernyataan di atas juga sangat kelihatan, betapa dalam pikirannya yang ada hanyalah kedengkian yang timbul dari dirinya sendiri, setelah nyata kebenaran itu ada di depannya. Dan kedengkian itu, hanya akan menutup semua kebaikan yang seharusnya menghampiri dirinya. (Na’udzubillahi mindzalika!).

Kita tidak perlu heran melihat hal ini, karena hal seperti ini memang sering kita jumpai di kalangan Ahli Kitab dalam menyikapi kebenaran yang datangnya dari Allah SWT., sebagaimana telah diisyaratkan dalam Al Qur'an surat Al Baqarah ayat 109 serta surat Asy Syuura ayat 14 berikut ini:

وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ ... ﴿١٠٩﴾
“Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran ...” (QS. Al Baqarah. 109).

وَمَا تَفَرَّقُوا إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْعِلْمُ بَغْياً بَيْنَهُمْ وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِن رَّبِّكَ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى لَّقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ أُورِثُوا الْكِتَابَ مِن بَعْدِهِمْ لَفِي شَكٍّ مِّنْهُ مُرِيبٍ ﴿١٤﴾
”Dan mereka (ahli kitab) tidak berpecah belah melainkan sesudah datangnya pengetahuan kepada mereka karena kedengkian antara mereka*. Kalau tidaklah karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulunya (untuk menangguhkan azab) sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka Al-Kitab (Taurat dan Injil)** sesudah mereka, benar-benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan tentang kitab itu”. (QS. Asy Syuura. 14).

*) Maksudnya: Ahli-ahli kitab itu berpecah belah sesudah mereka mengetahui kebenaran dari nabi-nabi mereka. Sesudah datang Nabi Muhammad SAW dan nyata kebenarannya, merekapun tetap berpecah belah dan tidak mempercayainya.

**) Yang dimaksud dengan ”orang-orang yang diwariskan kepada mereka Al-Kitab” adalah ahli kitab yang hidup pada masa Nabi Muhammad SAW.

Saudaraku…,
Terkait pernyataan di atas, marilah kita perhatikan dua contoh kasus berikut ini:

1.  Ketika didapati ada seseorang yang telah meninggal secara tidak wajar sementara tidak ada seorangpun yang berada di tempat kejadian perkara, untuk memastikan sebab-sebab kematiannya (apakah karena dibunuh atau karena minum racun atau karena sebab-sebab yang lainnya), maka bisa didatangkan seorang ahli forensik sebagai saksi ahli.

2.  Dalam sebuah rumah tangga, telah terjadi keributan. Sang suami telah menuduh istrinya berselingkuh dan tidak mengakui anak yang telah lahir dari rahim sang istri sebagai anaknya, sementara sang istri bersikukuh tidak melakukan perselingkuhan dengan siapapun dan juga tetap bersikukuh bahwa anak yang telah lahir dari rahimnya adalah anaknya sang suami juga.

Karena keributan tak kunjung selesai, akhirnya keduanya sepakat untuk membawa kasus ini ke pengadilan. Selanjutnya dari hasil tes DNA, seorang saksi (saksi ahli/orang yang memiliki kepakaran di bidang tersebut) bisa dimintai kesaksiannya oleh sang hakim untuk memastikan apakah sang suami benar-benar ayah dari anak tersebut atau bukan.

Saudaraku…,
Dari kedua contoh kasus tersebut, nampaklah bahwa semua saksi sama-sama tidak berada di tempat kejadian perkara dan juga sama-sama tidak melihat secara langsung (dengan matanya sendiri) saat kejadian berlangsung. Meskipun demikian mereka semua bukanlah saksi palsu, karena mereka tidak bersaksi berdasarkan “feeling” atau perasaan saja. Namun mereka telah bersaksi berdasarkan bukti-bukti yang sangat meyakinkan.

Saudaraku…,
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tidak benar jika untuk bisa bersaksi / untuk bisa menjadi saksi, seseorang harus selalu berada di tempat kejadian perkara serta melihat secara langsung (dengan matanya sendiri) saat kejadian berlangsung. Yang benar adalah bahwa seseorang sudah bisa bersaksi / sudah bisa menjadi saksi, hanya berdasarkan bukti-bukti yang sangat meyakinkan (tidak harus selalu berada di tempat kejadian perkara serta tidak harus selalu melihat secara langsung saat kejadian berlangsung). Dengan demikian, maka terbantahlah pernyataan yang telah disampaikan oleh orang non muslim di atas.

HIKMAH YANG BISA KITA PETIK DARI KAJIAN INI

Kita harus senantiasa waspada* terhadap semua pernyataan/sikap/tindakan dari para Ahli Kitab, khususnya jika hal itu terkait dengan masalah aqidah. Hati-hati, karena tidak bisa dipungkiri bahwa bisa jadi pernyataan/sikap/tindakan dari para Ahli Kitab tersebut telah dirancang sedemikian rupa sehingga (jika kita tidak berhati-hati) kita akan dibuat ragu-ragu terhadap kebenaran agama kita!

Mengapa demikian? Karena sebagian besar di antara mereka para Ahli Kitab itu menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kita kepada kekafiran setelah kita beriman, karena dengki yang timbul dari diri mereka sendiri setelah nyata bagi mereka kebenaran (sebagaimana penjelasan surat Al Baqarah ayat 109 di atas).

Berikut ini kusampaikan beberapa ayat / hadits yang bisa kita jadikan sebagai bahan renungan terkait dengan kajian di atas. Semoga kita semua senantiasa berada dalam bimbingan-Nya, dijauhkan dari tipu daya syaitan serta senantiasa berada di jalan-Nya yang lurus. Amin, ya rabbal ‘alamin!

شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحاً وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ ﴿١٣﴾
“Dia telah mensyari`atkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)”. (QS. Asy Syuura. 13).

Ubadah bin Shamit radhiyallahu 'anhu yang mengatakan, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنْ الْعَمَلِ
"Barangsiapa bersyahadat (bersaksi) bahwa tiada Ilah (Tuhan) yang berhak disembah kecuali Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan (bersyahadat) bahwa Isa adalah hamba Allah dan utusan-Nya, kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam dan ruh daripada-Nya; dan (bersyahadat) pula bahwa surga benar adanya dan neraka benar adanya; pasti Allah memasukkannya ke dalam surga betapapun amal yang telah diperbuatnya." (Muttafaq 'Alaih).

Dari Abu Hurairah Radliyallah 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ لَا يَلْقَى اللهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فِيهِمَا إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ. (رواه مسلم)
"Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan (yang berhak diibadahi) selain Allah dan aku adalah utusan Allah, tiada-lah seorang hamba bertemu Allah (meninggal dunia) dengan membawa keduanya tanpa ada keraguan sedikitpun pasti ia akan masuk surga." (HR. Muslim).

... لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ ﴿١١﴾
“... Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. Asy Syuura. 11)

إِنَّنِي أَنَا اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي ﴿١٤﴾
”Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”. (QS. Thaahaa. 14).

Semoga bermanfaat.

NB.
*) Yang dimaksud dengan sikap waspada* itu tidaklah identik dengan sikap membenci atau memusuhi. Sebagai ilustrasi, jika kita mempunyai seorang teman dan jelas-jelas kita ketahui bahwa teman kita tersebut suka mencuri, maka sebaiknya kita tetap berteman / tetap menjaga hubungan baik dengannya / tidak lantas membencinya. Namun pada saat yang sama, kita juga harus senantiasa waspada terhadap setiap gerak-geriknya. Semoga dengan sikap seperti ini, kita tetap memiliki kesempatan untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar / berdakwah kepadanya. Dan semoga Allah menjadikan kita sebagai jalan hidayah bagi orang lain. Amin, ya rabbal ‘alamin!

{Bersambung; tulisan ke-1 dari 2 tulisan}

Sabtu, 01 November 2014

TA’ZIYAH KEPADA NON MUSLIM



Assalamu’alaikum wr. wb.

Seorang sahabat (teman alumni SMPN 1 Blitar) telah bertanya: “Mas Imron aku mau bertanya, kalau menghadiri prosesi pemakaman (tidak mendo’akan) jenazah orang non muslim hukumnya bagaimana? Sedangkan yang berduka adalah keluarga temanku. Terimakasih”.

-----

Saudaraku…,
Pada dasarnya kita kaum muslimin tidak dilarang untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang non-muslim yang tiada memerangi kita karena agama dan tidak pula mengusir kita dari negeri kita (non-muslim yang bersikap baik kepada kita). Demikian penjelasan Al Qur’an surat Al Mumtahanah ayat 8:

لَا يَنْهَاكُمُ اللهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ ﴿٨﴾
”Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. (QS. Al Mumtahanah. 8).

Saudaraku…,
Dalam konteks hubungan sosial-kemasyarakatan, pergaulan dengan non-muslim tidaklah dilarang dalam agama Islam, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Al Mumtahanah tersebut (termasuk menghadiri prosesi pemakaman mereka yang non muslim).

Sedangkan terkait permohonan do’a yang ingin disampaikan kepada non-muslim, tentunya kita harus lebih berhati-hati. Tidak sembarang do’a boleh kita sampaikan kepada non-mulim. Terhadap mereka yang non-muslim, sebaiknya kita do’akan agar mereka mendapat hidayah sebagaimana yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW., dimana Beliau pernah berdo’a agar Allah SWT. memberi hidayah kepada salah seorang dari dua lelaki, yaitu Abu Jahal atau Umar bin Al-Khattab.

Rasulullah SAW. pernah berdo’a: “Ya Allah! Muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua lelaki yang Engkau lebih sayang; Abu Jahal atau ‘Umar bin Al-Khattab.” (HR. Tirmidzi).

Namun do’a sebagaimana uraian di atas, hanya bisa kita sampaikan kepada non-muslim yang masih hidup. Karena hanya bagi mereka yang masih hidup saja, yang peluangnya untuk mendapatkan hidayah masih terbuka. Sedangkan bagi mereka yang telah wafat dalam keadaan tidak beriman, maka pintu taubat telah tertutup bagi mereka sehingga mereka akan tetap dalam kekafiran untuk selama-lamanya. (Na’udzubillahi mindzalika!).

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدَ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ. (رواه الترمذى)   
“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla akan menerima taubat seorang hamba selama ruhnya belum sampai di tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi).

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الآنَ وَلاَ الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُوْلَـئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَاباً أَلِيماً ﴿١٨﴾
”Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang" Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih”. (QS. An Nisaa’. 18).

Dengan demikian sudah tidak ada lagi do’a yang bisa kita sampaikan kepada non-muslim yang telah wafat. Adapun mendo’akannya dengan mengatakan: “al marhum” (artinya yang dirahmati) atau ”dia telah berpulang ke rahmat Allah”, maka hal ini tidaklah dibenarkan karena rahmat Allah hanya Allah khususkan bagi orang-orang yang beriman kepada-Nya. Begitu pula mendo’akan agar yang bersangkutan mendapat ampunan dari Allah SWT.

Saudaraku…,
Kita kaum muslimin tidak diperkenankan untuk berdo’a memohonkan ampun kepada Allah bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat kita (apalagi hanya teman kita). Hal ini berdasarkan penjelasan Al Qur’an dalam surat At Taubah ayat 113 berikut ini:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُواْ أُوْلِي قُرْبَى مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ ﴿١١٣﴾
“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahannam”. (QS. At Taubah. 113).

Demikian yang bisa kusampaikan. Mohon maaf jika kurang berkenan. Hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku.

Semoga bermanfaat.

Senin, 06 Oktober 2014

BISNIS YANG PALING MENGUNTUNGKAN



Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Tak bisa dipungkiri bahwa bagi sebagian besar orang (baik karyawan maupun para wirausahawan), khususnya bagi mereka yang memiliki tabungan lebih dan ingin mengalokasikan sejumlah dananya untuk mencari titik aman dalam hal perekonomian di masa yang akan datang, tentunya investasi dalam bentuk properti maupun dalam bentuk usaha akan banyak didambakan.

Bagi mereka yang punya dana lebih dan menginginkan bisnis yang relatif aman (tidak terlalu beresiko), bisnis / investasi dalam bentuk properti, baik dalam bentuk rumah atau ruko, mungkin akan dipilih. Membeli properti kemudian properti tersebut disewakan, tentunya hal ini akan sangat efektif bagi investasi dalam jangka panjang. Meski keuntungan langsung yang dirasakan tidak terlalu signifikan, namun memiliki properti sebuah rumah atau ruko akan sangat menguntungkan dalam jangka panjang karena nilainya yang terus naik.

Sedangkan bagi mereka yang punya dana terbatas, biasanya akan lebih suka membidik investasi di dunia usaha, baik dalam usaha kecil milik sendiri maupun bisnis dalam skala yang lebih besar dengan menjalin kerjasama dengan pihak lain untuk bersama-sama menanamkan modalnya (sebagai penanam modal gabungan).

Tentu saja kejelian dalam memilih bisnis sangat penting karena setiap orang menginginkan dana yang di investasikan bisa efektif dan menguntungkan di kemudian hari. Disamping itu juga harus melalui banyak pertimbangan. Diantaranya: prospek bisnis, keadaan pasar, serta banyak faktor lainnya. Ditambah lagi dengan trend bisnis yang terkadang berubah-ubah dalam setiap tahunnya, maka (sekali lagi) tak bisa dihindari lagi bahwa bagi para pelaku bisnis benar-benar harus jeli dalam mengambil keputusan bisnis apa yang harus dijalankan nanti.

Saudaraku…,
Demikianlah gambaran yang terjadi dalam masyarakat, dimana bisnis investasi yang paling menguntungkan pada saat ini akan banyak diburu oleh mereka yang memiliki tabungan lebih dan ingin mengalokasikan sejumlah dananya pada sebuah properti maupun sebuah usaha untuk mencari titik aman dalam hal perekonomian di masa yang akan datang.

Namun dibalik itu semua, ketahuilah bahwa sesungguhnya terdapat bisnis yang jauh lebih menguntungkan dari bisnis / investasi dalam bentuk properti maupun dalam bentuk usaha sebagaimana pembahasan di atas yang masih banyak dilupakan orang, yaitu berbisnis dengan Allah SWT.

Jika berbisnis / berinvestasi dalam bentuk properti maupun dalam bentuk usaha sebagaimana pembahasan di atas secara umum keuntungannya sangat terbatas (pada umumnya hanya pada kisaran beberapa persen dari nilai investasi), maka berbisnis dengan Allah akan mendatangkan keuntungan hingga ribuan persen, bahkan bisa mendatangkan keuntungan hingga tak terhingga. Allah akan melipat-gandakan (investasi yang telah dilakukan hamba-Nya) bagi siapa yang Dia kehendaki, karena Allah adalah Tuhan Yang Maha Luas kurnia-Nya.

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّئَةُ حَبَّةٍ وَاللهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ ﴿٢٦١﴾
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al Baqarah. 261).

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ مِن أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا. (رواه مسلم) 
“Barangsiapa menyeru (mengajak) kepada petunjuk, baginya pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya, tidak berkurang pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang menyeru (mengajak) kepada kesesatan, atasnya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi demikian itu dari dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim no. 2674).

Saudaraku…,
Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim di atas, diperoleh penjelasan bahwa berbisnis dengan Allah bahkan bisa mendatangkan keuntungan hingga tak terhingga. Karena ketika seseorang berinvestasi dengan menanamkan kebaikan kepada orang lain sedangkan orang lain tersebut menerima dengan baik dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari, maka orang yang berinvestasi tersebut akan mendapatkan imbalan (pahala) dari Allah sebagaimana pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala orang yang mengikutinya tersebut.

Jika orang-orang yang telah dia tanamkan kebaikan tersebut kemudian juga menebarkan kebaikan kepada orang yang lainnya lagi, maka dia-pun akan mendapatkan pahala orang-orang yang mengikuti orang-orang yang telah dia tanamkan kebaikan tersebut, tanpa mengurangi pahala mereka semua. Demikian seterusnya. Dan jika hal ini terus berlanjut hingga hari akhir nantinya, maka imbalan yang diberikan Allah akan berlipat-lipat. Sehingga dapat dibayangkan, alangkah besarnya keuntungan yang akan didapat!

Maka masih adakah alasan bagi kita untuk menyia-nyiakan setiap kesempatan untuk berbisnis dengan Allah? Terlebih lagi jika kita memperhatikan penjelasan Allah dalam tiga ayat berikut ini:

مَن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللهَ قَرْضاً حَسَناً فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ ﴿١١﴾
“Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak,” (QS. Al Hadiid. 11).

إِن تُقْرِضُوا اللهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ ﴿١٧﴾
”Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan (pembalasannya) kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun”. (QS. At Taghaabun. 17).

إِنَّ اللهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْداً عَلَيْهِ حَقّاً فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللهِ فَاسْتَبْشِرُواْ بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ﴿١١١﴾
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah. 111).

Saudaraku…,
Lebih dari itu semua, ketahuilah bahwa sesungguhnya berbisnis dengan Allah adalah bisnis yang tak akan pernah merugi. Hal ini sangat berbeda dengan berbisnis / berinvestasi dalam bentuk properti maupun dalam bentuk usaha sebagaimana pembahasan di atas. Bisnis semacam ini punya resiko kerugian karena terkait dengan prospek bisnis, keadaan pasar, serta banyak faktor lainnya yang mempengaruhi trend bisnis dalam setiap tahunnya.

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ ﴿٢٩﴾ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ ﴿٣٠﴾
(29) "Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”, (30) “agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri”. (QS. Faathir. 29 – 30).

Saudaraku…,
Sekali lagi, berbisnis dengan Allah adalah bisnis yang tak akan pernah merugi. Karena Allah memiliki sifat Asy Syakur (Maha Balas Jasa) dan Al Haliim (Maha Penyantun), sehingga Dia tidak akan memerintahkan sesuatu kepada hamba-Nya, kecuali Dia akan memberikan balas jasa kepada hamba-Nya yang telah melaksanakan perintah-Nya. Perintah-Nya tidak gratis, tapi ada bayaran-Nya.

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللهِ ۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ ﴿٢٨١﴾
“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)”. (QS. Al Baqarah. 281).

Wallahu a'lam,
Semoga bermanfaat.

Info Buku:

● Alhamdulillah, telah terbit buku: Islam Solusi Setiap Permasalahan jilid 1.

Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, MAg: “Banyak hal yang dibahas dalam buku ini. Tapi, yang paling menarik bagi saya adalah dorongan untuk mempelajari Alquran dan hadis lebih luas dan mendalam, sehingga tidak mudah memandang sesat orang. Juga ajakan untuk menilai orang lebih berdasar kepada kitab suci dan sabda Nabi daripada berdasar nafsu dan subyektifitasnya”.

Buku jilid 1:

Buku jilid 1:
Buku: “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 378 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

● Buku “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1 ini merupakan kelanjutan dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” (jilid 1 s/d jilid 5). Berisi kumpulan artikel-artikel yang pernah saya sampaikan dalam kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah menjelang shalat tarawih/ba’da shalat tarawih, Khutbah Jum’at, kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus maupun kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook/whatsapp (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab, konsultasi, diskusi via email, facebook, sms, whatsapp, maupun media lainnya.

● Sebagai bentuk kehati-hatian saya dalam menyampaikan Islam, buku-buku religi yang saya tulis, biasanya saya sampaikan kepada guru-guru ngajiku untuk dibaca + diperiksa. Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz adalah salah satu diantaranya. Beliau adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Unsur Ketua MUI Jatim, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia 2009-2013, Dekan Fakultas Dakwah 2000-2004/Guru Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 2004 - sekarang.

_____

Assalamu'alaikum wr. wb.

● Alhamdulillah, telah terbit buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5.

● Buku jilid 5 ini merupakan penutup dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan jilid 4.

Buku Jilid 5

Buku Jilid 5
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-29-3

Buku Jilid 4

Buku Jilid 4
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 4: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-28-6

Buku Jilid 3

Buku Jilid 3
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 3: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 396 halaman, ISBN 978-602-5416-27-9

Buku Jilid 2

Buku Jilid 2
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 324 halaman, ISBN 978-602-5416-26-2

Buku Jilid 1

Buku Jilid 1
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 330 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

Keterangan:

Penulisan buku-buku di atas adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini: ”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞