بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Kamis, 01 Oktober 2020

TENTANG SEPUTAR MASALAH ZAKAT MAL


Assalamu’alaikum wr. wb.

Seorang sahabat (PNS/staf pengajar/guru sebuah SMK Negeri di Jawa Timur) telah menyampaikan pertanyaan via WhatsApp sebagai berikut:

Mas Imron, saya mau konsultasi sekitar masalah zakat. Saya adalah seorang guru SMK dan istri saya punya usaha toko. Selama ini untuk zakat mal saya tidak membayarkan ke lembaga zakat. Yang ingin saya tanyakan:
1.  Besarnya zakat mal yang harus saya keluarkan baik dari profesi saya maupun istri, besarnya 2,5 % itu dari penghasilan bersih atau penghasilan kotor?
2.  Bagaimana teknik pembayarannya yang benar, apakah setahun sekali? Biasanya saya bayarkan di bulan Ramadhan.
3.  Biasanya menjelang lebaran istri saya membagikan berupa barang maupun uang juga kepada tetangga yang kurang mampu, pelanggan toko, karyawan dan para sales serta kuli barang. Terus kalau itu diniati sebagai zakat toko, apakah itu bisa termasuk bagian dari zakat mal?
4.  Saya biasanya memberikan uang kepada para tenaga honorer seperti satpam, bagian kebersihan dll., terus itu saya niati sebagai zakat mal saya, apa juga bisa?

Tanggapan

Terimakasih atas kepercayaan yang telah diberikan untuk membahas pertanyaan tersebut. Semoga aku bisa menjaga kepercayaan ini. Amin, ya rabbal ‘alamin.

1.  Besarnya zakat mal yang harus saya keluarkan baik dari profesi saya maupun istri, besarnya 2,5 % itu dari penghasilan bersih atau penghasilan kotor?

Saudaraku,
Yang dimaksud dengan zakat profesi adalah zakat harta yang dikeluarkan dari hasil pendapatan seseorang yang diperoleh dari profesi/pekerjaan di bidang jasa atau pelayanan selain bertani, berdagang, bertambang maupun beternak, dengan imbalan berupa upah atau gaji dalam bentuk mata uang, baik bersifat tetap atau tidak, baik pekerjaan yang dilakukan langsung ataupun bagian lembaga, baik pekerjaan yang mengandalkan pekerjaan otak ataupun tenaga.

Sedangkan zakat harta yang dikeluarkan dari hasil pendapatan seseorang yang diperoleh dari pekerjaan bertani, berdagang, bertambang maupun beternak, tidak termasuk jenis zakat profesi sehingga perhitungannya berbeda (zakat pertanian, zakat perniagaan/zakat perdagangan, zakat pertambangan maupun zakat peternakan, memiliki ketentuan yang berbeda-beda untuk masing-masing jenis zakat harta tersebut).

Karena profesi saudaraku adalah guru sedangkan profesi isteri adalah pedagang, maka zakat profesi yang harus saudaraku keluarkan hanyalah zakat dari penghasilan saudaraku yang berasal dari gaji/pendapatan saudaraku sebagai guru. Sedangkan dari pihak isteri tidak akan terkena beban untuk mengeluarkan zakat profesi, namun akan terkena beban zakat perdagangan (jika sudah terpenuhi ketentuan wajibnya mengeluarkan zakat perdagangan).

Meskipun demikian, sebenarnya zakat profesi itu tidak ada nash sharih di dalam Al Qur’an atau Hadits, artinya tidak terdapat pensyariatannya dalam bentuk yang eksplisit (tegas, gamblang, tidak tersembunyi, tersurat, jelas, tidak mempunyai gambaran makna yang kabur) di dalam Al Qur’an atau Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hal ini sangat berbeda dengan jenis zakat mal lainnya (yaitu zakat pertanian, zakat perdagangan, zakat emas/perak/uang, zakat pertambangan, zakat peternakan, serta zakat barang temuan/rikaz) yang memang terdapat nash sharih di dalam Al Qur’an atau Hadits (terdapat pensyariatan dalam bentuk yang eksplisit di dalam Al Qur’an atau Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Saudaraku,
Penghasilan seseorang dari bekerja tidak pernah disebut-sebut di Al Qur’an maupun Hadits Nabi. Tidak ada penjelasan tentang nishabnya, haulnya, berapa persen harus dikeluarkan dan kapan dilakukannya. Tidak satu pun ayat Al Qur’an ataupun Hadits Nabawi yang menyebutkan hal itu.

Lalu dari mana kita bisa menetapkan adanya zakat profesi dan segala ketentuannya? Tidak ada jawaban terkait hal ini kecuali hanya satu jawaban saja, yaitu: ijtihad. Tidak ada nash sharih dari Al Qur’an dan Sunnah, jadi semata-mata hasil ijtihad saja.

Saudaraku,
Karena tidak terdapat nash sharih dari Al Qur’an maupun Sunnah dan hanya bersandar pada ijtihad semata, maka tidak ada kesepakatan yang baku tentang zakat profesi ini. Sehingga jika kita bertanya kepada salah satu ‘ulama’ yang mendukung zakat profesi, maka jawabannya bisa berbeda/tidak sama dengan ‘ulama’ lainnya.

Dan karena memang begitu banyak versi jawaban dari masing-masing pihak, maka dipersilahkan untuk mengambil satu pendapat yang kita condong kepadanya, kemudian tidak serta merta menyalahkan pendapat yang lain. Mau pakai cara ini silahkan, mau pakai cara itu juga silahkan saja. Tidak ada yang baku dalam masalah ini. Bahkan mau tidak pakai zakat profesipun, juga silahkan. Semua ada dalilnya dan ada ‘ulama’ yang mendukungnya.

Saudaraku,
Bagi pihak yang condong kepada ‘ulama’ yang mendukung zakat profesi, berikut ini aku kutipkan salah satu diantaranya, yaitu penjelasan Ust. H Abdurrahman Navis, Lc. (Ketua Bidang Fatwa MUI Jawa Timur), yang beliau kutip dari buku fiqh zakat karya Dr. Yusuf Qardhawi bab zakat profesi dan penghasilan, bahwa terdapat 3 macam cara mengeluarkan zakat penghasilan, yaitu:

Pengeluaran bruto

Yaitu mengeluarkan zakat penghasilan kotor. Artinya, zakat penghasilan yang mencapai nisab 85 gram emas dalam jumlah setahun, dikeluarkan 2,5 % langsung ketika menerima sebelum dikurangi apapun. Jadi kalau dapat gaji atau honor dan penghasilan lainnya dalam sebulan mencapai Rp 10 juta x 12 bulan = Rp 120 juta setahun, berarti dikeluarkan langsung sebesar 2,5% dari Rp 10 juta tiap bulan = Rp 250 ribu atau dibayar di akhir tahun sebesar 2,5% dari Rp 120 juta = Rp 3 juta.

Hal ini juga berdasarkan pendapat Az-Zuhri dan 'Auza'i, beliau menjelaskan: “Bila seorang memperoleh penghasilan dan ingin membelanjakannya sebelum bulan wajib zakat datang, maka hendaknya ia segera mengeluarkan zakat itu terlebih dahulu dari membelanjakannya” (Ibnu Abi Syaibah, Al-Mushannif, 4/30). Dan juga meng-qiyas-kan dengan  beberapa harta zakat yang langsung dikeluarkan tanpa dikurangi apapun, seperti zakat ternak, emas perak, ma'dzan dan rikaz.
   
Dipotong oprasional kerja

Yaitu setelah menerima penghasilan gaji atau honor yang mencapai nishab, maka dipotong dahulu dengan biaya oprasional kerja. Contohnya, seorang yang mendapat gaji 2 juta  rupiah sebulan, dikurangi biaya transport dan konsumsi harian di tempat kerja sebanyak Rp 500 ribu, sisanya Rp 1.500.000. maka zakatnya dikeluarkan 2,5% dari Rp 1.500.000 = Rp 37.500,-

Hal ini dianalogikan dengan zakat hasil bumi dan kurma serta sejenisnya. Bahwa biaya dikeluarkan lebih dahulu baru zakat dikeluarkan dari sisanya. Itu adalah pendapat Imam Atho' dan lain-lain dari itu zakat hasil bumi ada perbedaan prosentase zakat antara yang di-airi dengan hujan yaitu 10%  dan melalui irigasi 5%.
 
Pengeluaran netto atau zakat bersih

Yaitu mengeluarkan zakat dari harta yang masih mencapai nishab setelah dikurangi untuk kebutuhan pokok sehari-hari, baik pangan, papan, hutang dan kebutuhan pokok lainnya untuk keperluan dirinya, keluarga dan yang menjadi tanggungannya. Jika penghasilan setelah dikurangi kebutuhan pokok masih mencapai nishab, maka wajib zakat, akan tetapi kalau tidak mencapai nishab ya tidak wajib zakat, karena dia bukan termasuk muzakki (orang yang wajib zakat) bahkan menjadi mustahiq (orang yang berhak menerima zakat) karena sudah menjadi miskin dengan tidak cukupnya penghasilan terhadap kebutuhan pokok sehari-hari.

Hal ini berdasarkan Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari dari Hakim bin Hizam bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “... dan paling baiknya zakat itu dikeluarkan dari kelebihan kebutuhan ...”. (lihat:  Dr. Yusuf Qardhawi, Fiqh Zakat, 486).

Kesimpulan
Seseorang yang mendapatkan penghasilan halal dan (jumlah penghasilan selama setahun) mencapai nishab (85 gram emas), wajib mengeluarkan zakat 2,5%, boleh dikeluarkan setiap bulan atau di akhir tahun. Sebaiknya zakat dikeluarkan dari penghasilan kotor sebelum dikurangi kebutuhan yang lain. Ini lebih afdlal (utama) karena khawatir ada harta yang wajib zakat tetapi tidak dizakati, tentu akan mendapatkan adzab Allah baik di dunia dan di akhirat.

2.  Bagaimana teknik pembayarannya yang benar, apakah setahun sekali? Biasanya saya bayarkan di bulan Ramadhan.

Saudaraku,
Zakat profesi bisa dibayarkan setiap bulan atau lainnya atau dibayarkan setiap tahun sekali atau dibayarkan setiap bulan Ramadhan atau pada waktu lainnya (baca kembali pembahasan dari pernyataan no. 1 di atas).

3.  Biasanya menjelang lebaran istri saya membagikan berupa barang maupun uang juga kepada tetangga yang kurang mampu, pelanggan toko, karyawan dan para sales serta kuli barang. Terus kalau itu diniati sebagai zakat toko, apakah itu bisa termasuk bagian dari zakat mal?

Saudaraku,
Zakat itu hanya sah jika diberikan kepada pihak-pihak yang memang berhak untuk mendapatkan zakat. Al Qur’an telah menjelaskan bahwa terdapat 8 golongan yang berhak untuk mendapatkan zakat. Penjelasan ke-8 golongan tersebut terdapat dalam surat At Taubah ayat 60 berikut ini:

إِنَّمَا الصَّدَقَــــٰتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَـــٰــكِينِ وَالْعَـــٰمِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَـــٰرِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِّنَ اللهِ وَاللهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿٦٠﴾
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. At Taubah. 60).

Saudaraku,
Berdasarkan penjelasan surat At Taubah ayat 60 di atas, ke-8 golongan yang berhak untuk mendapatkan zakat tersebut adalah:
a.  Orang fakir: orang yang amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi penghidupannya.
b.  Orang miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan kekurangan.
c.  Amil: orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat.
d. Muallaf: orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah.
e.  Hamba sahaya: memerdekakan budak mencakup juga untuk melepaskan muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir.
f.   Orang yang berhutang: orang yang berhutang karena untuk kepentingan yang bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya. Adapun orang yang berutang untuk memelihara persatuan umat Islam dibayar utangnya itu dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya.
g.  Sabilillah: yaitu untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum muslimin. Di antara mufasirin ada yang berpendapat bahwa fisabilillah itu mencakup juga kepentingan-kepentingan umum seperti mendirikan sekolah, rumah sakit, madrasah, masjid, pesantren, ekonomi umat, dll.
h.  Ibnu sabil: orang yang sedang dalam perjalanan yang bukan maksiat mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya. Atau juga orang yang menuntut ilmu di tempat yang jauh yang kehabisan bekal.

Saudaraku,
Selama tetangga, pelanggan toko, karyawan maupun para sales serta kuli barang tersebut termasuk salah satu dari ke-8 golongan tersebut, jika pemberian tersebut diniati sebagai zakat toko, maka pemberian tersebut termasuk bagian dari zakat mal. Namun jika ada sebagian diantara mereka yang tidak termasuk salah satu dari ke-8 golongan tersebut, maka pemberian kepada mereka yang tidak termasuk salah satu dari ke-8 golongan tersebut tidak bisa dinilai sebagai zakat/akan dinilai sebagai sedekah biasa.

4.  Saya biasanya memberikan uang kepada para tenaga honorer seperti satpam, bagian kebersihan dll., terus itu saya niati sebagai zakat mal saya, apa juga bisa?

Saudaraku,
Penjelasan untuk pertanyaan no. 4 ini sama persis dengan penjelasan pada pertanyaan no. 3 di atas. Artinya selama tenaga honorer seperti satpam, bagian kebersihan dll. tersebut termasuk salah satu dari ke-8 golongan di atas, maka pemberian tersebut termasuk bagian dari zakat mal. Namun jika ada sebagian diantara mereka yang tidak termasuk salah satu dari ke-8 golongan tersebut, maka pemberian kepada mereka yang tidak termasuk salah satu dari ke-8 golongan tersebut tidak bisa dinilai sebagai zakat/akan dinilai sebagai sedekah biasa.

Demikian yang bisa kusampaikan. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku.

Semoga bermanfaat.

Sabtu, 05 September 2020

BANYAK BERIBADAH NAMUN PERILAKUNYA BURUK TERHADAP SESAMA (II)


Assalamu’alaikum wr. wb.

Berikut ini kelanjutan dari artikel “Banyak Beribadah Namun Perilakunya Buruk Terhadap Sesama (I)”:

Selanjutnya sang kyai dalam postingan di atas juga berpendapat bahwa “seseorang yang tidak beribadah tapi kelakuannya baik pada sesama” adalah orang yang baik karena akan mendapat bimbingan Allah SWT melalui rahmat-Nya untuk semakin taat kepada-Nya. Benarkah hal ini?

Saudaraku,
Orang yang tidak mau beribadah kepada Allah, sudah pasti bukan orang yang baik. Perhatikan penjelasan Allah dalam Al Qur’an surat Adz Dzaariyaat ayat 56 berikut ini:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴿٥٦﴾
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. Adz Dzaariyaat. 56).

Tafsir Ibnu Katsir:

Sesungguhnya Aku menciptakan mereka agar Aku memerintahkan mereka untuk menyembah-Ku, bukan karena Aku membutuhkan mereka.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a.: “melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adz- Dzaariyaat: 56)”, yakni agar mereka mengakui kehambaan mereka kepada-Ku, baik dengan sukarela maupun terpaksa.

Demikianlah menurut apa yang dipilih oleh Ibnu Jarir. Menurut Ibnu Juraij, makna yang dimaksud ialah melainkan supaya mereka mengenal-Ku.

Ar-Rabi' ibnu Anas telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: “melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adz- Dzaariyaat: 56)”, yakni kecuali untuk beribadah.

.  .  .  .  .

Saudaraku,
Berdasarkan surat Adz Dzaariyaat ayat 56 di atas, diperoleh penjelasan bahwa tidaklah diciptakan jin dan manusia itu, melainkan supaya mereka menyembah Allah, supaya mereka beribadah kepada Allah.

Sehingga bagi siapa saja yang tidak mau menyembah Allah/tidak mau beribadah kepada Allah, jelas hal ini akan mendatangkan murka Allah. Sedangkan bagi siapa saja yang mendapat murka Allah, sudah pasti tidak akan mungkin mendapatkan bimbingan Allah SWT melalui rahmat-Nya untuk semakin taat kepada-Nya.

Kecuali jika yang bersangkutan bersegera datang kepada Allah untuk bertaubat kepada-Nya. Dia harus segera kembali kepada Allah dan berserah diri kepada-Nya. Dan dia juga harus mengikuti dengan sebaik-baiknya apa yang telah diturunkan Allah sebelum datang azab dari-Nya dengan tiba-tiba.

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴿٥٣﴾
”Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus-asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Az Zumar. 53).

وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ ﴿٥٤﴾
Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). (QS. Az Zumar. 54).

وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ ﴿٥٥﴾
Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya, (QS. Az Zumar. 55).

Dalam postingan di atas, juga tertulis: “Terus, siapa yang lebih buruk?”, desak sang santri penasaran. Kemudian sang kyai menjawab: “Kita nak. Kitalah yang layak disebut buruk, sebab gemar menghabiskan waktu untuk menilai orang lain, melupakan diri sendiri. Kelak di hadapan Allah, kita ditanya tentang diri kita, bukan tentang orang lain”.

Saudaraku,
Benar bahwa jika kita gemar menghabiskan waktu untuk menilai orang lain dan melupakan diri sendiri, maka ini adalah perbuatan yang buruk karena hal ini bisa melupakan diri sendiri. Sedangkan kelak di hadapan Allah, kita ditanya tentang diri kita, bukan tentang orang lain.

وَكُلُّهُمْ ءَاتِيهِ يَوْمَ الْقِيَـــٰــمَةِ فَرْدًا ﴿٩٥﴾
“Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri”. (QS. Maryam. 95).

يَوْمَ تَأْتِي كُلُّ نَفْسٍ تُجَـــٰـدِلُ عَن نَّفْسِهَا وَتُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ ﴿١١١﴾
(Ingatlah) suatu hari (ketika) tiap-tiap diri datang untuk membela dirinya sendiri dan bagi tiap-tiap diri disempurnakan (balasan) apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka tidak dianiaya (dirugikan). (QS. An Nahl. 111).

Namun dalam hal ini harus bisa dibedakan antara “menilai orang lain” dengan “menilai suatu amal perbuatan”.

Menilai orang lain, jelas ini adalah perbuatan tercela. Karena pada saat kita sedang menilai orang lain, maka pada saat itu pula (tanpa kita sadari) kita telah merasa lebih baik dari padanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَعَظَّمَ فِى نَفْسِهِ وَاَجْتَالَ فِى مِشْيَتِهِ لَقِىَ اللهَ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ (رواه أحمد)
“Siapa yang merasa dirinya besar, lalu sombong dalam jalannya, maka ia akan menghadap pada Allah, sedang Allah murka padanya”. (HR. Ahmad).

Sedangkan dalam Al Qur’an surat Al Hujuraat, Allah telah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ ﴿١٢﴾
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (QS. Al Hujuraat. 12).

Lebih dari itu, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Tidak ada yang bisa terbebas dari tindakan salah. Melakukan kesalahan, adalah salah satu tabiat manusia, karena manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Sehingga wajar jika ada ungkapan dalam Bahasa Arab: “Al-insaanu mahallu al-khatha’ wa an-nisyaan” yang artinya adalah bahwa “manusia itu tempatnya salah dan lupa”.

Namun, sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang mau mengakui kesalahannya kemudian bertaubat kepada-Nya..

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ حُبَابٍ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مَسْعَدَةَ الْبَاهِلِيُّ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ. (رواه الترمذى)
Ahmad bin Mani' menceritakan kepada kami, Zaid bin Hubab menceritakan kepada kami, Ali bin Mas'adah Al Bahili menceritakan kepada kami, Qatadah menceritakan kepada kami, dari Anas, bahwa Rasulullah bersabda: “Setiap anak Adam itu bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang mau bertaubat”. (HR. At-Tirmidzi).

Adapun yang kita lakukan di atas adalah “menilai suatu amal perbuatan”, bukan “menilai orangnya”.

Saudaraku,
Dalam hal ini, setiap muslim justru wajib berlepas diri dari semua amalan yang tidak diridhai oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, walaupun amalan tersebut tidak sampai pada derajat kekafiran, seperti perbuatan fasik dan maksiat. Perhatikan firman Allah dalam Al Qur’an surat Al Hujuraat ayat 7 berikut ini:

وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِّنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَـــٰـكِنَّ اللهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُوْلَـــٰـــئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ ﴿٧﴾
Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, (QS. Al Hujuraat. 7).

Demikian yang bisa kusampaikan, mohon maaf jika kurang berkenan. Hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku.
                            
Semoga bermanfaat.

{Tulisan ke-2 dari 2 tulisan}

Info Buku:

● Alhamdulillah, telah terbit buku: Islam Solusi Setiap Permasalahan jilid 1.

Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, MAg: “Banyak hal yang dibahas dalam buku ini. Tapi, yang paling menarik bagi saya adalah dorongan untuk mempelajari Alquran dan hadis lebih luas dan mendalam, sehingga tidak mudah memandang sesat orang. Juga ajakan untuk menilai orang lebih berdasar kepada kitab suci dan sabda Nabi daripada berdasar nafsu dan subyektifitasnya”.

Buku jilid 1:

Buku jilid 1:
Buku: “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 378 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

● Buku “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1 ini merupakan kelanjutan dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” (jilid 1 s/d jilid 5). Berisi kumpulan artikel-artikel yang pernah saya sampaikan dalam kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah menjelang shalat tarawih/ba’da shalat tarawih, Khutbah Jum’at, kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus maupun kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook/whatsapp (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab, konsultasi, diskusi via email, facebook, sms, whatsapp, maupun media lainnya.

● Sebagai bentuk kehati-hatian saya dalam menyampaikan Islam, buku-buku religi yang saya tulis, biasanya saya sampaikan kepada guru-guru ngajiku untuk dibaca + diperiksa. Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz adalah salah satu diantaranya. Beliau adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Unsur Ketua MUI Jatim, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia 2009-2013, Dekan Fakultas Dakwah 2000-2004/Guru Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 2004 - sekarang.

_____

Assalamu'alaikum wr. wb.

● Alhamdulillah, telah terbit buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5.

● Buku jilid 5 ini merupakan penutup dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan jilid 4.

Buku Jilid 5

Buku Jilid 5
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-29-3

Buku Jilid 4

Buku Jilid 4
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 4: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-28-6

Buku Jilid 3

Buku Jilid 3
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 3: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 396 halaman, ISBN 978-602-5416-27-9

Buku Jilid 2

Buku Jilid 2
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 324 halaman, ISBN 978-602-5416-26-2

Buku Jilid 1

Buku Jilid 1
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 330 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

Keterangan:

Penulisan buku-buku di atas adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini: ”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞