بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Minggu, 04 Mei 2008

YA TUHAN KAMI…, JANGANLAH ENGKAU PIKULKAN KEPADA KAMI APA YANG TAK SANGGUP KAMI MEMIKULNYA

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Sesungguhnya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (QS. Al Baqarah. 286).

Oleh karena itu, berdo`alah kepada Allah (kelanjutan dari ayat di atas): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir*". (QS. Al Baqarah. 286).

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir*. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau, Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (QS. Al Mumtahanah. 5).

"Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir*". (QS. Ali ‘Imran. 147).

“Ya Tuhan kami; janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zalim”, (QS. Yunus. 85).

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)." (QS. Ali ‘Imran. 8)

Rasulullah SAW. banyak berdoa:
وَيَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِك. (رواه الترمذى)   
“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan qalbu, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi)


Amin...,
Ya rabbal 'alamin...!!!

NB.
*) Tentunya, yang dimaksud di sini adalah orang-orang kafir yang zalim.

Sabtu, 03 Mei 2008

ILMU PENGETAHUAN (III)

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Sadarkah kita, bahwa Allah telah memberi nikmat yang tak terhingga kepada kita, hingga Dia menundukkan apa yang Dia ciptakan untuk kita di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya? Bukankah pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya? “Dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran”. (QS. An Nahl. 13).

Saudaraku…,
Tidakkah kita sadari, bahwa seluruh kehidupan di bumi ini (termasuk kita) dapat terus berlangsung (antara lain) karena adanya air? Allah-lah yang menurunkan dari langit air hujan dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Bukankah pada yang demikian itu juga benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah? “Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran)”. (QS. An Nahl. 65).

Saudaraku…,
Apakah kita juga menyadari, bahwa bumi tempat kita berpijak ini berputar dan beredar mengelilingi matahari, sehingga daripadanya Allah mempergantikan malam dan siang? Bukankah pada yang demikian itu, juga terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan? “Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan”. (QS. An Nuur. 44).

Saudaraku…,
“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati”. (QS. Ali ‘Imran: 13). Semoga Allah senantiasa membuka mata hati kita untuk tetap dapat menerima pelajaran yang datang dari-Nya. Amin!

Semoga bermanfaat.

{Tulisan ke-3 dari 3 tulisan}

Jumat, 02 Mei 2008

ILMU PENGETAHUAN (II)

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Jika kita amati lebih jauh lagi, kebanyakan diantara kita (mungkin) terlalu silau oleh bermacam ilmu pengetahuan yang hanya bersifat keduniawian semata (tanpa menghubungkan dengan urusan ukhrowi). Sehingga tidak mengherankan jika kebanyakan diantara kita (mungkin) terlalu sibuk untuk membekali diri dengannya, bahkan tidak segan-segan untuk mengeluarkan biaya begitu banyak demi mendapatkan ilmu pengetahuan yang hanya bersifat keduniawian (tanpa menghubungkan dengan urusan ukhrowi) tersebut.

Hal ini semua, biasanya dilakukan (mungkin) dengan harapan agar dapat menopang / menjamin masa depan kita (selama hidup di dunia yang teramat singkat ini), sehingga (diharapkan) kita dapat menjalani hidup ini dengan berkecukupan harta, terhindar dari kemiskinan, terlepas dari derita hidup yang berkepanjangan dan pada akhirnya (diharapkan) dapat menikmati hari tua dengan tenang, nyaman dan bahagia.

Saudaraku…,
Kebanyakan diantara kita (mungkin) juga lupa, bahwa masa depan kita yang sesungguhnya bukanlah di sini, di alam dunia ini. Tetapi nanti, di alam akhirat, dimana kita akan tinggal untuk selamanya di sana! Karena sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah main-main dan senda gurau belaka. “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” . (QS. Al An’aam: 32).

Memang, hal ini bukan berarti bahwa kita musti melupakan kehidupan dunia ini. Marilah kita perhatikan penjelasan Al Qur'an dalam surat Al Qashash berikut ini: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS. Al Qashash. 77).

Dari penjelasan surat Al Qashash ayat 77 tersebut, nampaklah bahwa bagaimanapun, mencari ilmu pengetahuan yang dapat menjamin masa depan kita yang sesungguhnya (mencari kebahagiaan negeri akhirat) itu, seharusnya tetap lebih diutamakan/diprioritaskan, (meski pada saat yang bersamaan kita juga tidak semestinya melupakan kenikmatan duniawi).

Apalagi jika hal ini kita kaitkan dengan penjelasan Al Qur’an serta Al Hadits berikut ini:

“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)”. (QS. Al Baqarah. 269).


Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu’anhu meriwayatkan, katanya Rasulullah SAW. bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْـرًا يُـفَـقِـهْهُ فِي الدِّيْنِ. (رواه البخارى و مسلم)
“Barang siapa yang dikehendaki kebaikannya oleh Allah, Dia akan menjadikannya mengerti tentang agamanya (Allah akan memberikan kepadanya pemahaman tentang agama)”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Saudaraku…,
Jelaslah sekarang, bahwa ternyata ada dua sumber ilmu lain yang selama ini (mungkin) telah kita lupakan, yaitu Al Qur’an serta Al Hadits. Jika kita mau belajar sedikit saja dari kedua sumber ilmu tersebut, maka kita pasti akan tercengang!!! Karena ternyata begitu banyak ilmu pengetahuan (yang teramat tinggi nilainya/mutunya) yang kita dapatkan, yang selama ini (mungkin) tidak pernah kita pikirkan.

Nah…, jika kita mempelajari sedikit saja dari kedua sumber ilmu tersebut, ternyata sudah begitu banyak ilmu pengetahuan (yang teramat tinggi nilainya/mutunya) yang akan kita dapatkan, apalagi jika kita mau mempelajari keduanya secara lebih mendalam lagi!

Semoga bermanfaat.
{Bersambung; tulisan ke-2 dari 3 tulisan}

ILMU PENGETAHUAN (I)

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Jika kita merenungi lebih jauh lagi, maka sadarlah kita, bahwa ilmu pengetahuan yang kita miliki ternyata sangatlah terbatas. Semakin tinggi pendidikan kita, justru semakin menyadarkan kita, bahwa semakin banyak ilmu pengetahuan yang tidak kita ketahui. Teramat banyak ilmu pengetahuan yang tidak kita kuasai, karena pada kenyataannya, kita memang tidak mungkin menguasai semua ilmu, meski setinggi apa-pun pendidikan kita. “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (QS. Al Israa’. 85). “Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya”. (QS. Thaahaa. 110).

Sementara kalimat-kalimat-Nya adalah tidak terbatas. Tidak mungkin bagi kita untuk menuliskan semuanya. Meski telah disediakan tinta sebanyak lautan yang ada di bumi ini untuk menuliskan kalimat-kalimat-Nya, maka pasti akan habis tinta itu sebelum habis ditulis kalimat-kalimat-Nya. Bahkan seandainya didatangkan tambahan tinta sebanyak itu lagi, tetap saja, pasti akan habis lagi tinta itu sebelum habis ditulis kalimat-kalimat-Nya. Hal ini sesuai dengan penjelasan Al Qur’an dalam surat Al Kahfi berikut ini: “Katakanlah: "Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”. (QS. Al Kahfi. 109).

Bahkan dalam ayat yang lainnya, diperoleh penjelasan bahwa seandainya pohon-pohon di bumi ini dijadikan pena dan laut menjadi tintanya untuk menuliskan kalimat-kalimat Allah, kemudian ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah keringnya, niscaya tetap tidak akan pernah habis-habisnya kalimat Allah tersebut. “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)-nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Luqman. 27).

Saudaraku…,
Tentunya uraian di atas, dapat menjadi tantangan sekaligus ujian buat kita semua. Di satu sisi (karena ternyata ilmu kita teramat sedikit), kita mesti belajar dan terus belajar (tanpa mengenal lelah), kapanpun, dimanapun, dalam kondisi apapun. Bahkan meski kita sudah lulus S-2 atau S-3 sekalipun. Jangan pernah berhenti belajar. Di sisi lain, jika kita telah diberi kesempatan untuk meraih strata pendidikan tertinggi, maka janganlah hal ini membuat kita menjadi takabur/sombong. Ingatlah, bahwa setinggi apapun pendidikan kita, tetap saja, pengetahuan kita amatlah sedikit. “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (QS. Al Israa’. 85).

Semoga bermanfaat.

{Bersambung; tulisan ke-1 dari 3 tulisan}

Rabu, 16 April 2008

KECURANGAN

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Ketika seseorang mulai mencoba untuk melakukan kecurangan/korupsi (karena sudah mulai ada kesempatan), biasanya pada awalnya akan terjadi pertarungan antara perasaan bersalah/berdosa dengan perasaan senang karena memperoleh pendapatan ekstra. Namun, jika hal ini diulang dan terus diulang kembali, maka perasaan bersalah/berdosa tersebut berangsur-angsur akan berkurang dan pada akhirnya bisa menghilang. Hingga yang tersisa tinggallah perasaan senang karena memperoleh pendapatan ekstra tersebut.

Celakanya, dengan berjalannya waktu, biasanya yang bersangkutan semakin terampil dan berpengalaman dalam melakukan kecurangan/korupsi tersebut. Sehingga tidak tertutup kemungkinan, kesuksesan demi kesuksesan justru dapat diraihnya. Rasanya semua pintu-pintu kesenangan semakin terbuka untuknya. Dan dia bergembira dengan apa yang telah diberikan kepadanya. Seolah-olah dia akan hidup untuk selama-lamanya. Seolah-olah maut tidak akan pernah menyapanya. Seolah-olah semua perbuatannya tidak akan pernah dimintai pertanggung-jawaban kepada-Nya, kelak dikemudian hari.

Dia lupa, bahwa dalam Al Qur’an surat At Takaatsur, Allah telah berfirman: “Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)”. (QS. At Takaatsur. 8).

Saudaraku…,
Pada saat yang sama, dia (mungkin) juga tidak menyadari, bahwa sesungguhnya dia benar-benar berada di bawah ancaman siksa Allah. “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’aam: 44). Na’udzubillahi mindzalika!

Saudaraku…,
Katakanlah: "Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku". (QS. Al An’aam: 15). Dan “Berdo`alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al A’raaf: 55).

Semoga, kita tidak sampai terperdaya oleh kehidupan dunia ini. Dan semoga kita tidak sampai tertipu oleh syaitan, hingga mampu memperdayakan kita tentang Allah. “Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syetan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” (QS. Faathir. 5).

Semoga bermanfaat.

Kamis, 10 April 2008

SABAR DALAM MENGHADAPI COBAAN

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Pada hakekatnya kehidupan di dunia ini adalah sarana untuk menguji kita, apakah kita dapat menjalaninya dengan baik atau malah sebaliknya. “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?” (QS. Al Baqarah. 214).

Jadi, jangan heran jika masalah demi masalah datang silih berganti. Bahkan, tantangan hidup dari hari ke hari terasa kian bertambah berat. Namun kita harus tetap menghadapinya dengan penuh kesabaran. Betapapun beratnya masalah yang kita hadapi, sesungguhnya kita tidaklah sendiri. Orang lain juga menghadapi masalah yang sama, bahkan mungkin lebih berat dengan bentuk yang berbeda. “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”, (QS. Al Baqarah. 155).

Saudaraku…,
Jika saat ini kita telah mempunyai kelebihan rezeki, kita telah mempunyai kedudukan, atau kita telah meraih kesuksesan-kesuksesan lainnya, maka jangan serta merta kita merasa bangga dengan semuanya itu. Karena sesungguhnya, hal itu semua justru merupakan cobaan yang sebenar-benarnya yang justru lebih berat lagi. Karena sesungguhnya, hal itu semua justru dapat membuat kita terlena serta dapat melalaikan kita. Oleh karena itu, kita tetap harus waspada.

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At Taghaabun. 15). “Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)”. (QS. At Takaatsur. 8). “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al Anfaal. 28).

Saudaraku…,
Dalam Al Qur’an, Allah juga telah berfirman: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al Anbiyaa’. 35).

Sedangkan dalam sebuah hadits, diperoleh keterangan bahwa: Rasulullah SAW. bersabda:
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ. (رواه الترمذى)  
Sesungguhnya besarnya balasan itu tergantung dengan besarnya ujian. Sesungguhnya apabila Allah mencintai satu kaum, Ia akan menguji mereka. Barangsiapa ridha (dengan ujian tersebut), dia akan mendapatkan keridhaan (dari Allah), sedangkan barangsiapa yang murka, dia juga akan mendapatkan kemurkaan (dari Allah)". (HR. At Tirmidzi).

Semoga kita senantiasa mendapat bimbingan, pertolongan serta ampunan dari-Nya. Amin!

Semoga bermanfaat!

Rabu, 09 April 2008

ORANG YANG PINTAR

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Orang yang pintar biasanya identik dengan orang yang dalam hidupnya selalu dapat mengambil keputusan dengan tepat. Tidak hanya untuk jangka pendek saja, tetapi juga meliputi jangka waktu yang panjang, bahkan hingga waktu yang tak terhingga, yaitu hingga ke alam akhirat nanti.

Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar". (QS. Al Qashash. 80).

“Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfa`atnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu)”. (QS. Al An’aam. 104).

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu”. (QS. Al ‘Ankabuut. 43).

Semoga bermanfaat.

Selasa, 08 April 2008

ORANG YANG SUKSES

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Tentunya kebanyakan diantara kita sangat berharap akan dapat menjadi orang yang sukses. Karena orang yang sukses biasanya identik dengan orang yang dalam hidupnya diliputi oleh kebahagiaan, kesenangan, maupun kegembiraan karena keberhasilan demi keberhasilan telah diraihnya dengan baik.

Namun, betulkah keberhasilan demi keberhasilan yang telah diraih tersebut akan mampu menjamin seseorang untuk mandapatkan kebahagiaan, kesenangan, maupun kegembiraan yang hakiki (kebahagiaan, kesenangan, maupun kegembiraan yang sebenar-benarnya)? Jika memang demikian, mengapa masih bisa dijumpai orang-orang yang frustasi justru ditengah limpahan harta? Mengapa masih bisa ditemui orang-orang yang gelisah justru ketika karirnya sedang menanjak? Mengapa masih ada saja orang-orang yang selalu murung, justru ketika segala pujian datang menyapanya?

Saudaraku…,
“Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih”. (QS. Ali ’Imran. 188). Na’udzubillahi mindzalika!

Saudaraku…,
Untuk apa harta yang melimpah, jika hal ini hanya menjauhkan kita dari-Nya? Untuk apa jabatan/pangkat yang tinggi, jika hal ini hanya menjauhkan kita dari-Nya? Untuk apa segala pujian datang menyapa, jika hal ini malah menjauhkan kita dari-Nya? Untuk apa …, dst., jika semuanya ini justru menjauhkan kita dari-Nya?

Saudaraku…,
Sesungguhnya ukuran kesuksesan itu adalah: apabila keberhasilan demi keberhasilan yang telah kita raih tersebut mampu membawa kita untuk semakin dekat kepada-Nya. Karena hanya dengan jalan inilah kita akan mampu menggapai kebahagiaan, kesenangan, maupun kegembiraan yang hakiki, dimana kita akan memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah kita kerjakan dan kita akan aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi karena kelak Allah akan memasukkan kita ke dalam rahmat (surga)-Nya.

”Dan di antara orang-orang Arab Badwi itu, ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh do`a Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (surga)-Nya; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. At Taubah. 99).

”Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga)”. (QS. Saba’. 37).

”Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti”. (QS. Al Israa’. 57).

Semoga bermanfaat.

NB.
Semoga kita semuanya tidak hanya bisa meraih kesuksesan dari sudut pandang manusia, namun juga bisa meraih kesuksesan yang hakiki (kesuksesan yang sebenar-benarnya) bukan kesuksesan yang semu belaka. Amin!!!

Senin, 07 April 2008

ORANG YANG KUAT

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Abu Dawud dan Ibn Abid Dunia meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW. bersabda:
مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَى إِنْفَاذِهِ مَلَأَاللهُ قَلْبَهُ أَمْنًا وَإِيْمَانًا.
“Siapa yang dapat menahan marahnya, padahal ia kuasa untuk melampiaskan marahnya itu, maka Allah SWT. akan memenuhi hatinya dengan iman dan rasa aman ketenangan”.

Atthabarani meriwayatkan:
مَنْ دَفَعَ غَيْظَهُ دَفَعَ اللهُ عَنْهُ عَذَابَهَ
“Siapa yang dapat menahan marahnya karena Allah, maka Allah akan menghindarkan dari siksa-Nya”.

Rasulullah SAW. bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيْدُ باِلصُّرْعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ. (رواه البخارى) 
“Orang yang kuat bukan yang banyak mengalahkan orang dengan kekuatannya. Orang yang kuat hanyalah yang mampu menahan dirinya di saat marah.” (HR. Al-Bukhari)

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS. Ali ‘Imran. 134).

“Jadilah engkau pema`af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma`ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh”. (QS. Al A’raaf. 199).

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa mema`afkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim”. (QS. Asy Syuura. 40).

“Tetapi orang yang bersabar dan mema`afkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan”. (QS. Asy Syuura. 43).

Saudaraku…,
Bagaimanakah keadaan kita saat ini? Apakah ketika kita kuasa untuk melampiaskan amarah, kita masih mampu untuk menahan amarah kita? Apakah ketika kita sedang berada di atas angin (karena pada posisi yang benar), kita masih mampu menahan diri untuk tidak memanfaatkannya demi mengumbar hawa nafsu amarah kita?

Saudaraku…,
Hanya orang-orang yang kuatlah, yang mampu menahan amarah ketika kesempatan untuk itu ada di depan mata. Ingatlah, bahwa jika kita berbuat baik, sesungguhnya kita telah berbuat baik bagi diri kita sendiri dan jika kita berbuat jahat maka sesungguhnya kejahatan itu adalah bagi diri kita sendiri. “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri”, (QS. Al Israa’. 7).

“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba (Nya)”. (QS. Fushshilat. 46).

Semoga bermanfaat.

Info Buku:

● Alhamdulillah, telah terbit buku: Islam Solusi Setiap Permasalahan jilid 1.

Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, MAg: “Banyak hal yang dibahas dalam buku ini. Tapi, yang paling menarik bagi saya adalah dorongan untuk mempelajari Alquran dan hadis lebih luas dan mendalam, sehingga tidak mudah memandang sesat orang. Juga ajakan untuk menilai orang lebih berdasar kepada kitab suci dan sabda Nabi daripada berdasar nafsu dan subyektifitasnya”.

Buku jilid 1:

Buku jilid 1:
Buku: “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 378 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

● Buku “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1 ini merupakan kelanjutan dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” (jilid 1 s/d jilid 5). Berisi kumpulan artikel-artikel yang pernah saya sampaikan dalam kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah menjelang shalat tarawih/ba’da shalat tarawih, Khutbah Jum’at, kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus maupun kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook/whatsapp (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab, konsultasi, diskusi via email, facebook, sms, whatsapp, maupun media lainnya.

● Sebagai bentuk kehati-hatian saya dalam menyampaikan Islam, buku-buku religi yang saya tulis, biasanya saya sampaikan kepada guru-guru ngajiku untuk dibaca + diperiksa. Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz adalah salah satu diantaranya. Beliau adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Unsur Ketua MUI Jatim, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia 2009-2013, Dekan Fakultas Dakwah 2000-2004/Guru Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 2004 - sekarang.

_____

Assalamu'alaikum wr. wb.

● Alhamdulillah, telah terbit buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5.

● Buku jilid 5 ini merupakan penutup dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan jilid 4.

Buku Jilid 5

Buku Jilid 5
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-29-3

Buku Jilid 4

Buku Jilid 4
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 4: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-28-6

Buku Jilid 3

Buku Jilid 3
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 3: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 396 halaman, ISBN 978-602-5416-27-9

Buku Jilid 2

Buku Jilid 2
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 324 halaman, ISBN 978-602-5416-26-2

Buku Jilid 1

Buku Jilid 1
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 330 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

Keterangan:

Penulisan buku-buku di atas adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini: ”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞