بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Jumat, 01 Oktober 2010

KETIKA KEHILANGAN BARANG BERHARGA*

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Ketika kita naik bus dan tanpa kita sadari dompet kita yang berisikan uang beserta surat-surat penting (KTP, SIM, dll) telah terjatuh, kemudian ada orang yang melihatnya, memungutnya dan langsung mengembalikannya kepada kita, maka kita akan mengucapkan terima kasih kepadanya dan setelah itu peristiwa tersebut berlalu begitu saja. Maklum pada situasi seperti itu, kita belum sempat merasakan kehilangan dompet tersebut, tiba-tiba kita telah mendapatkannya kembali.

Lain lagi ceritanya bila pada saat kita naik bus kemudian tanpa kita sadari dompet kita telah terjatuh dan kita baru menyadarinya setelah kita turun dari bus tersebut. Kemudian setelah beberapa hari, tiba-tiba ada seseorang yang memberitahu kita bahwa dia telah menemukan dompet tersebut beserta surat-surat penting di dalamnya. Dia mengatakan, bahwa dia mengetahui alamat beserta identitas kita yang lainnya setelah membaca alamat yang ada di KTP atau SIM yang ada dalam dompet tersebut.

Dalam situasi seperti ini, kemungkinan besar kita tidak hanya mengucapkan terimakasih saja kepada yang bersangkutan. Namun juga kita berikan reward kepadanya. Maklum pada situasi seperti ini, kita benar-benar sempat merasakan kehilangan dompet tersebut dan setelah beberapa hari tiba-tiba kita telah mendapatkannya kembali.

Saudaraku…,
Yang manakah yang lebih baik: orang pertama yang melihatnya, memungutnya dan langsung mengembalikannya kepada kita, ataukah orang kedua yang tidak segera menyerahkan dompet tersebut kepada kita?

Tentunya yang terbaik adalah orang pertama. Namun, justru orang kedua-lah yang mendapatkan reward lebih besar. Begitulah, realita yang sering kita hadapi selama kita hidup di dunia ini.

-----

Saudaraku…,
Dari contoh kasus tersebut, kita dapat melihatnya dari beberapa sudut pandang:

1. Dari sudut pandang orang yang kehilangan dompet.
Sebenarnya sangat wajar jika kita memberikan reward lebih besar kepada orang kedua yang ”dirasakan” telah memberikan jasa lebih besar, meskipun bisa jadi justru orang pertama-lah yang lebih baik (orang yang menemukannya dan langsung memberikannya kepada kita).

Marilah kita renungkan bersama uraian berikut ini:

Dalam Al Qur’an surat An-Nisa` ayat 3, Allah SWT. telah berfirman:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُواْ فِي الْيَتَامَى فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُواْ فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُواْ ﴿٣﴾
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”. (QS. An-Nisa`: 3)

Yang dimaksud dengan adil di sini adalah dalam perkara lahiriah seperti adil dalam pemberian nafkah, tempat tinggal, dan giliran. Adapun dalam perkara batin seperti rasa cinta dan kecenderungan hati tidaklah dituntut untuk adil, karena hal ini di luar kesanggupan seorang hamba. Dalam Al-Qur`anul Karim dinyatakan:

وَلَن تَسْتَطِيعُواْ أَن تَعْدِلُواْ بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلاَ تَمِيلُواْ كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِن تُصْلِحُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ اللّهَ كَانَ غَفُوراً رَّحِيماً ﴿١٢٩﴾
“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri- isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An-Nisaa`: 129)


Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan ketika menafsirkan ayat di atas, “Maksudnya, kalian wahai manusia, tidak akan mampu berlaku sama di antara istri-istri kalian dari segala sisi. Karena walaupun bisa terjadi pembagian giliran malam per malam, namun mesti ada perbedaan dalam hal cinta, syahwat, dan jima’. Sebagaimana hal ini dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ‘Abidah As-Salmani, Mujahid, Al-Hasan Al-Bashri, dan Adh-Dhahhak bin Muzahim rahimahumullah.”

Setelah menyebutkan sejumlah kalimat, Ibnu Katsir rahimahullah melanjutkan pada tafsir ayat tersebut, maksudnya apabila kalian cenderung kepada salah seorang dari istri kalian, janganlah kalian berlebih-lebihan dengan cenderung secara total padanya, sehingga kalian biarkan yang lain telantar. ”Maksudnya istri yang lain menjadi terkatung-katung. Kata Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Al-Hasan, Adh Dhahhak, Ar-Rabi` bin Anas, As-Suddi, dan Muqatil bin Hayyan, “Makna كَالْمُعَلَّقَةِ, seperti tidak punya suami dan tidak pula ditalak.” (Tafsir Al-Qur`anil Azhim, 2/317)

-----

Uraian tersebut memang menjelaskan seputar perlakuan adil dari seorang suami yang berpoligami terhadap para istrinya.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa memang berat berlaku adil terhadap dua, tiga atau empat istri itu. Tetapi yang perlu diingat adalah, bahwa yang dimaksud dengan adil disini tidaklah sama dengan keadilan sebagaimana adilnya Allah kepada seluruh hamba-Nya.

Sebab jika ini yang dimaksudkan, tentunya perintah pada QS. An Nisaa’ ayat 3 tersebut akan mubadzir (sia-sia), karena tidak mungkin bisa dilaksanakan (maksudnya: buat apa membuat peraturan jika tidak mungkin bisa dilaksanakan?). Padahal, tidak mungkin Allah menciptakan apapun dengan sia-sia (termasuk ayat-ayat Al Qur'an).

Jika kita kaitkan kembali dengan kasus di atas, maka sangat wajar ketika kita ”cenderung merasakan” adanya jasa yang lebih besar kepada orang kedua, kemudian kita berikan reward yang lebih besar pula. Yang penting tidak sampai berlebih-lebihan. Dan tentunya hal ini karena didasari oleh sikap husnudzon (berbaik sangka) kita kepadanya. Artinya kita menduga/berprasangka bahwa orang kedua memang tidak bisa segera mengembalikan dompet tersebut karena memang baru menemukannya. (Wallahu ta’ala a’lam).

2. Dari sudut pandang orang yang menemukan dompet.
Memang..., dengan mengulur-ulur dalam menyerahkan dompet tersebut kepada pemiliknya, kita bisa berharap akan mendapatkan reward lebih besar kepada pemilik dompet. Karena dengan demikian, si pemilik dompet akan sangat merasakan kehilangan dompet-nya sehingga tatkala kita mengembalikannya, maka yang bersangkutan akan merasakan betapa ”jasa” kita sangat-lah besar dirasakannya.

Namun ingatlah, bahwa sesungguhnya perbuatan ini telah merugikan orang lain. Seharusnya, hanya kepada Allah saja-lah kita berharap. Seharusnya kita sandarkan seluruh hidup kita hanya kepada-Nya saja. Karena Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Karena Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾
“Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (QS. 112. 2).

... فَاعْلَمُواْ أَنَّ اللهَ مَوْلاَكُمْ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ ﴿٤٠﴾
“..., maka ketahuilah bahwasanya Allah Pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS. Al Anfaal. 40).

Menyadari hal itu, maka sudah seharusnya jika kita senantiasa berupaya untuk selalu bertakwa kepada-Nya, selalu berupaya untuk menjalankan semua perintah-Nya serta menjauhi semua larangan-Nya. Juga senantiasa berdzikir / ingat kepada-Nya serta setiap saat memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya serta senantiasa berbaik sangka kepada-Nya. Karena Dia adalah Pelindung kita dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

... وَاللهُ مَوْلَاكُمْ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ ﴿٢﴾
... Dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Tahriim. 2).

Terkait dengan kasus di atas, maka kita tidak perlu berupaya melakukan kecurangan demi memenuhi ambisi kita untuk mendapatkan reward yang lebih besar kepada pemilik dompet. Semuanya kita serahkan kepada-Nya. Yang lebih penting bagi kita adalah segera menyerahkannya dengan baik, lillahi ta’ala. Jika kemudian diberi reward, maka sudah seharusnya bagi kita untuk mensyukurinya. Dan jika ternyata tidak mendapatkan reward apapun (hanya ucapan terimakasih dari pemilik dompet), maka kita harus tetap berprasangka baik kepada-Nya. Mungkin saja hal ini karena Allah berkehendak untuk memberikan balasan yang lebih baik di kemudian hari.

Dengan demikian, maka hal ini semua senantiasa akan membuat hidup kita menjadi tenang. Tidak dipenuhi oleh ambisi yang membabi buta...!!!

Ya… Tuhan kami,
Berilah kekuatan kepada kami, sehingga kami benar-benar dapat ridha dengan apa yang telah Engkau berikan kepada kami. Cukuplah Engkau bagi kami. Sesungguhnya kami hanya berharap kepada Engkau. Semoga Engkau berikan karunia-Mu kepada kami. Amin, ya rabbal ‘alamin!

3. Dari contoh kasus tersebut, juga menunjukkan bahwa sangat sulit bagi kita untuk mendapatkan keadilan mutlak selama hidup di dunia ini (wallahu a'lam).

Semoga bermanfaat.

NB.
*) Contoh kasus pada artikel ini terinspirasi dari catatan Bpk. Ir. H. Syariffuddin Mahmudsyah, MSc. yang berjudul: ”Cerita Jum’at Malam: 4 Skenario Dikala HP Jatuh Di Kereta Api”.


Minggu, 05 September 2010

MANUSIA MEMILIKI KELEBIHAN DIBANDINGKAN DENGAN HEWAN

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Jika kita perhatikan di sekeliling kita, nampaklah bahwa ternyata hewan-pun juga memiliki keahlian dibidang tertentu. Seperti: bebek yang pandai berenang, juga kepintaran kucing dalam menangkap mangsanya (tikus, cecak, dll).

Namun perilaku hewan-hewan tersebut nampaknya hanyalah merupakan kehendak mereka untuk mengeksploitasi alam sekitar yang didorong oleh rasa ingin tahu yang tetap sepanjang zaman (idle curiousity / instinct). Insting ini berpusat pada satu hal saja, yaitu untuk mempertahankan kelestarian hidupnya. Untuk itu mereka perlu makan, melindungi diri dan berkembangbiak.

Lalu bagaimana dengan manusia? Ternyata manusia juga memiliki insting sebagaimana yang dimiliki hewan. Namun manusia memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh hewan, yaitu kemampuan berpikir. Dengan kata lain, curiousity-nya tidak idle (tidak tetap seperti itu sepanjang zaman).

Dan karena hal ini-lah, maka setiap apapun yang telah kita perbuat selama kita hidup di dunia ini, akan dimintai pertanggung-jawaban kelak di hari akhir nanti sebagai konsekuensi logis dari kemampuan berpikir yang telah diberikan kepada kita.

”Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” (QS. Al Qiyaamah. 36).

”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (QS. Al Israa’. 36).

Sedangkan pada hewan, karena tidak dibekali dengan kemampuan berpikir, maka apapun perbuatan yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia ini, tidak akan pernah dimintai pertanggungjawaban sebagaimana kita (wallahu a'lam).

Semoga bermanfaat!

Jumat, 03 September 2010

BACALAH DENGAN MENYEBUT NAMA TUHANMU

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku...,
Akal adalah syarat utama bagi seseorang untuk menjalankan semua syari'at Islam. Artinya, bagi orang yang tidak berakal (gila, tidak sadarkan diri / koma, dll) atau bagi yang belum sempurna akalnya (belum baligh), mereka semua itu tidak ada kewajiban untuk menjalankan syari'at Islam.

Sedangkan dalam Al Qur’an surat Al ‘Alaq ayat 1 – 5, diperoleh penjelasan sebagai berikut:
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam*.
5. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
*) Maksudnya: Allah mengajarkan manusia dengan perantaraan tulis baca.

Saudaraku...,
Dari Al Qur’an surat Al ‘Alaq ayat 1 – 5 tersebut, nyata-lah bahwa kita semua dituntut untuk terus-menerus membaca / memikirkan ayat-ayat Allah, baik yang qouliyah (dalam nash Al Qur'an dan As Sunnah) maupun kauniyah (ayat-ayat Allah di alam semesta), dimanapun dan sampai kapanpun. Tentunya dengan menggunakan segenap potensi yang ada pada akal kita (sebagai makhluk yang ber-akal).

Saudaraku...,
Sekali lagi, sebagai makhluk yang ber-akal, kita memang sudah seharusnya menggunakan akal kita untuk selalu membaca / memikirkan ayat-ayat Allah, baik yang qouliyah (dalam nash Al Qur'an dan As Sunnah) maupun kauniyah (ayat-ayat Allah di alam semesta), dimanapun dan sampai kapanpun.

Meskipun demikian, kita tidak boleh terlalu mengedepankan akal kita, karena ternyata akal kita sangatlah terbatas. Artinya jika pada saat ini kita menemukan adanya pertentangan antara logika kita dengan penjelasan Al Qur’an, maka janganlah kita terus memperturutkan akal kita. Karena yang sesungguhnya terjadi adalah karena kemampuan logika kita belum mencukupi untuk memahami penjelasan Al Qur’an tersebut.

Saudaraku...,
Dengan akal yang berpegang (mengimani dan mengikuti) Al Qur'an, insya Allah kita akan mencapai puncak kemuliaan, dunia dan akhirat. (Wallahu ta'ala a'lam).

Dan ketika ilmu tersebut telah ada dalam genggaman, maka jangan bosan-bosannya untuk menyampaikannya kepada sesama.



Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW. bersabda:
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ مِن أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا. (رواه مسلم) 
“Barangsiapa menyeru (mengajak) kepada petunjuk, baginya pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya, tidak berkurang pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang menyeru (mengajak) kepada kesesatan, atasnya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi demikian itu dari dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim no. 2674).

عَنْ جَابِرٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْمُؤْمِنُ يَأْلَفُ وَيُؤْلَفُ، وَلا خَيْرَ فِيمَنْ لا يَأْلَفُ وَلا يُؤْلَفُ، وَخَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Jabir r.a berkata: Rasulullah SAW. bersabda: Orang beriman ialah insan yang mampu bergaul dengan manusia, dan manusia lain mampu bergaul dengannya. Tiada kebaikan bagi siapa yang tidak mampu bercampur dengan manusia, dan manusia tidak mau mencampurinya. Dan sebaik-baik manusia ialah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain. (HR. at-Thabrani) 

Semoga bermanfaat!

NB.
Penting juga untuk dibaca, link berikut ini (silahkan klik di sini): http://imronkuswandi.blogspot.com/2010/05/kedudukan-akal-dalam-memahami-kitab.html

Rabu, 01 September 2010

PELAJARAN BERHARGA UNTUK KITA SEMUA

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Jerome Irving Rodale, penemu makanan organik dan penerbit koran Rodale ketika ia diwawancarai sebuah stasiun televisi dalam acara Dick Cavett pada tahun 1971 (mengatakan) bahwa ia akan hidup hingga umur 100 tahun.

Sesaat kemudian, Rodale 72 tahun tewas terjungkkal dari kursi akibat serangan jantung di acara tersebut, alhasil wawancara tersebut pun tidak pernah disiarkan.


-----

Saudaraku…,
Dari kasus di atas, nampaklah bahwa seseorang (termasuk kita semua) benar-benar tidak menyadari kapan datangnya maut itu. Bahkan Pak Jerome Irving Rodale-pun masih merasa akan terus hidup hingga usia 100 tahun, sesaat menjelang wafatnya. Dan hal ini bukan mustahil bisa terjadi pada kita semua.

Saudaraku…,
Betapa singkatnya kehidupan dunia ini. Oleh karena itu, sudah sepatutnyalah bagi kita untuk senantiasa berhati-hati dalam menjalani kehidupan ini. Dan sudah seharusnya bagi kita untuk senantiasa berdo’a kepada-Nya. Semoga Allah senantiasa membimbing kita, sehingga kelak kita dapat mengakhiri hidup ini dengan khusnul khotimah. Amin!

”Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhan-mu", maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti”. (QS. Ali ‘Imran. 193).

Semoga bermanfaat!

Kamis, 05 Agustus 2010

BERBUAT BAIK ATAU JAHAT, HAL ITU ADALAH BAGI DIRI KITA SENDIRI


JIKA KITA BERBUAT BAIK SESUNGGUHNYA KITA TELAH BERBUAT BAIK BAGI DIRI KITA SENDIRI, DAN JIKA KITA BERBUAT KEJAHATAN SESUNGGUHNYA KEJAHATAN ITU ADALAH BAGI DIRI KITA SENDIRI

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Pada saat ini, (mungkin) kita dengan mudah bisa menyaksikan, betapa begitu banyak orang yang menghadapi problematika kehidupan ini dengan nafsu belaka. Ditambah dengan keserakahannya, hal ini telah membuat mereka dengan mudahnya berbuat aniaya kepada pihak lain.

Memang...,
Sepertinya dengan mengurangi timbangan, sang pedagang dapat mengeruk keuntungan lebih besar dengan mudah. Juga, sepertinya dengan melakukan kecurangan via KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) atau cara lainnya, sang pelamar kerja dapat memperoleh pekerjaan dengan mudah. Juga, sepertinya dengan melakukan korupsi, sang karyawan dapat memperoleh tambahan penghasilan dengan mudah. Dan sepertinya dengan melakukan KKN atau cara lainnya, sang karyawan dapat memperoleh promosi jabatan dengan mudah. Demikian seterusnya.

Namun ketahuilah, bahwa sesungguhnya mereka semuanya telah berbuat aniaya terhadap diri mereka sendiri.

Karena...,
Pada saat seorang pedagang mengurangi timbangan, maka pada saat itu pula dia telah mengambil sebagian barang yang menjadi hak pembeli secara tidak halal. Dalam hal ini, pada hakekatnya sang pedagang hanyalah “meminjam” barang tersebut dari pemilik yang syah (pembeli). Dan karena hanya meminjam, maka dia tetap harus mengembalikan barang yang “dipinjamnya” kepada pemiliknya.

Rasulullah SAW. bersabda:
لَا يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلَّا بِطِيْبِ نَفْسٍ مِنْهُ. (رواه ابو داود)
“Tidak halal harta seorang muslim kecuali dengan kerelaan dari dirinya.” (HR. Abu Dawud)

Jika dia tidak bersedia untuk mengembalikannya ketika masih hidup di dunia ini (atau minta dihalalkan), maka kelak di akhirat nanti dia tetap harus mengembalikannya.

Rasulullah SAW. bersabda:
مَنْ كَانَ عِنْدَهُ لِأَخِيْهِ مَظْلَمَةٌ فَلْيَتَحَلَّلْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُوْنَ دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا. إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْ حَسَناَتِهِ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٍ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ. (رواه البخارى)
“Siapa yang memiliki kezaliman terhadap saudaranya, hendaklah ia meminta kehalalan saudaranya tersebut pada hari ini, sebelum datang suatu hari saat tidak berlaku lagi dinar dan tidak pula dirham. Jika ia memiliki amal saleh, akan diambil dari kebaikannya sesuai dengan kadar kezaliman yang diperbuatnya lalu diserahkan kepada orang yang dizaliminya. Apabila ia tidak memiliki kebaikan, akan diambil kejelekan saudaranya yang dizaliminya lalu dibebankan kepadanya.” (HR. al-Bukhari)

Jika sudah demikian, jelaslah bahwa hal ini merupakan suatu kesulitan yang tiada tara, sangat tidak sebanding dengan sedikit kesenangan yang dia peroleh saat mengambil sebagian hak pembeli tersebut. Jika sudah demikian adanya, bukankah dia telah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri...?

Demikian juga halnya ketika seorang pelamar kerja melakukan kecurangan via KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) atau cara lainnya, demi memperoleh suatu pekerjaan dengan mudah. Maka pada saat itu pula dia telah merampas pekerjaan dari pelamar lain yang lebih berhak. Dalam hal ini, pada hakekatnya dia hanyalah “meminjam” pekerjaan tersebut (beserta hak-hak yang melekat pada pekerjaan tersebut) dari pemiliknya yang syah. Dan karena hanya meminjam, maka dia tetap harus mengembalikan pekerjaan yang “dipinjamnya” kepada pemiliknya. Jika dia tidak bersedia untuk mengembalikannya ketika masih hidup di dunia ini (atau minta dihalalkan), maka kelak di akhirat nanti dia tetap harus mengembalikannya. Dan hal ini merupakan suatu kesulitan yang tiada tara, sangat tidak sebanding dengan sedikit kesenangan yang dia peroleh dari pekerjaan tersebut. Jika sudah demikian adanya, bukankah dia telah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri...?

Demikian juga halnya ketika seorang karyawan melakukan korupsi, demi memperoleh ”tambahan penghasilan” dengan mudah. Maka pada saat itu pula sang karyawan telah mengambil uang negara / uang perusahaan secara tidak halal. Dalam hal ini, pada hakekatnya karyawan tersebut hanyalah “meminjam” uang negara / uang perusahaan tersebut. Dan karena hanya meminjam, maka dia tetap harus mengembalikan uang yang “dipinjamnya” kepada pemiliknya. Jika dia tidak bersedia untuk mengembalikannya ketika masih hidup di dunia ini, maka kelak di akhirat nanti dia tetap harus mengembalikannya. Dan hal ini merupakan suatu kesulitan yang tiada tara, sangat tidak sebanding dengan sedikit kesenangan yang dia peroleh dari ”tambahan penghasilan” tersebut. Jika sudah demikian adanya, bukankah dia telah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri...?

Hal yang sama juga terjadi pada saat seorang karyawan melakukan kecurangan via KKN atau cara lainnya, demi memperoleh promosi jabatan dengan mudah. Maka pada saat itu pula dia telah merampas jabatan dari rekannya yang lebih berhak. Dalam hal ini, pada hakekatnya dia hanyalah “meminjam” jabatan tersebut (beserta hak-hak yang melekat pada jabatan tersebut) dari pemiliknya yang syah. Dan karena hanya meminjam, maka dia tetap harus mengembalikan jabatan yang “dipinjamnya” kepada pemiliknya. Jika dia tidak bersedia untuk mengembalikannya ketika masih hidup di dunia ini, maka kelak di akhirat nanti dia tetap harus mengembalikannya. Dan hal ini merupakan suatu kesulitan yang tiada tara, sangat tidak sebanding dengan sedikit kesenangan yang dia peroleh dari pekerjaan tersebut. Jika sudah demikian adanya, bukankah dia telah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri...? Demikian seterusnya.

”Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang (syaitan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya?” (QS. Muhammad. 14).

”Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa". (QS. Thaahaa. 16). Semoga bermanfaat!

Sebaliknya...,
Sepertinya dengan berlaku jujur dalam timbangan, sang pedagang hanya mendapatkan keuntungan yang sedikit. Juga, sepertinya dengan bersaing secara fair, sang pelamar kerja akan lebih sulit untuk memperoleh pekerjaan. Juga, sepertinya dengan berlaku amanah, sang karyawan akan lebih sulit untuk memperoleh tambahan penghasilan. Dan sepertinya dengan berlaku jujur serta bersaing secara fair, sang karyawan juga akan lebih sulit untuk memperoleh promosi jabatan. Demikian seterusnya.

Namun ketahuilah, bahwa ketika mereka berbuat kebaikan, maka sesungguhnya mereka telah berbuat kebaikan untuk diri mereka sendiri

Saudaraku…,
Dengan berlaku jujur dalam timbangan, dengan bersaing secara fair, serta dengan berlaku amanah dalam segala hal (dan seterusnya), hal itu menunjukkan bahwa mereka semuanya hanya berharap kepada Allah semata. Dia menyandarkan seluruh hidupnya hanya kepada-Nya. Karena dia menyadari, bahwa: “Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (QS. 112. 2). Karena “Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS. Al Anfaal. 40).

Menyadari hal itu, maka mereka senantiasa berupaya untuk selalu bertakwa kepada-Nya, selalu berupaya untuk menjalankan semua perintah-Nya serta menjauhi semua larangan-Nya. Dia juga senantiasa berdzikir / ingat kepada-Nya serta setiap saat memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya serta senantiasa berbaik sangka kepada-Nya. Karena Dia adalah Pelindungnya dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. “Dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Tahriim. 2).

Sebagai ilustrasi, jika dia adalah pencari kerja, maka dia tidak akan berlaku curang. Dia akan berupaya secara maksimal sambil menyerahkan semuanya hanya kepada-Nya. Jika pada akhirnya dia diterima, maka dia akan bersyukur. Sedangkan jika ternyata gagal, dia akan bersabar dan tetap berprasangka baik kepada-Nya. Mungkin kegagalan itu hanyalah karena Allah akan memilihkan pekerjaan lain yang lebih baik / lebih cocok untuknya dibelakang hari.

Sedangkan jika yang bersangkutan adalah seorang karyawan, ketika ada promosi jabatan, maka dia juga tidak akan berupaya melakukan kecurangan demi memenuhi ambisinya untuk mendapatkan jabatan itu. Semuanya dia serahkan kepada-Nya. Yang lebih penting baginya adalah bekerja dengan baik, lillahi ta’ala. Jika kemudian dinilai pantas untuk menduduki jabatan itu, maka dia akan berupaya untuk menjalankannya dengan penuh amanah. Dan jika ternyata harus orang lain yang diberi kesempatan, maka dia akan tetap berprasangka baik kepada-Nya. Mungkin saja hal ini karena Allah berkehendak untuk meyelamatkannya dari fitnah yang menjerumuskan.

Demikian seterusnya…! Sehingga hal ini semua senantiasa membuat hidupnya menjadi tenang. Tidak dipenuhi oleh ambisi jahiliyah...!!!

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri”, (QS. Al Israa’. 7).

“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng`azab sebelum Kami mengutus seorang rasul”. (QS. Al Israa’. 15).

“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba (Nya)”. (QS. Fushshilat. 46).

“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan”. (QS. Al Jaatsiyah. 15).

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". (QS. Luqman. 12).

Semoga bermanfaat!

NB.
Ada baiknya juga untuk dibaca, artikel berikut ini (silahkan klik di sini): http://imronkuswandi.blogspot.com/2008/10/nilai-sebuah-kesalahan_26.html

Selasa, 03 Agustus 2010

CEPAT ATAU LAMBAT, ALLAH PASTI AKAN MENUNJUKKAN KEADILAN-NYA

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Pada saat ini, (mungkin) kita dengan mudah bisa menyaksikan, betapa begitu banyak orang yang menghadapi problematika kehidupan ini dengan nafsu belaka. Dengan keserakahannya, hal ini telah membuat mereka dengan mudahnya berbuat aniaya kepada pihak lain. Dan ditambah dengan serangkaian langkah yang telah mereka tempuh, seolah mereka lupa bahwa di atas kita semua masih ada Allah SWT. yang selalu mengawasi setiap gerak langkah kita. “… Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (QS. An Nisaa’. 1).

Saudaraku…,
Menghadapi situasi yang demikian sulit ini, jika kita mempunyai kemampuan untuk memberantas semua kemungkaran / kekejian / ketidakadilan / keserakahan / kedholiman ini, maka kita harus lakukan semaksimal mungkin.

”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf* dan mencegah dari yang munkar**; merekalah orang-orang yang beruntung”. (QS. Ali ’Imran. 104). *) Yang dimaksud dengan ma’ruf adalah segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah. **) Sedangkan yang dimaksud dengan munkar adalah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.

Namun jika kebetulan kita berada pada pihak yang lemah, sehingga kita tidak bisa berbuat banyak dalam menghadapi situasi yang demikian sulit ini, maka kita tidak perlu berkecil hati. Karena sesungguhnya, Allah adalah Tuhan Yang Maha Adil. ”Allah-lah yang menurunkan kitab dengan (membawa) kebenaran dan (menurunkan) neraca (keadilan)...” (QS. Asy Syuura. 17).

Dan cepat atau lambat, Allah pasti akan menunjukkan keadilan-Nya. Karena sesungguhnya janji-janji Allah adalah “pasti”. Dan Allah lebih mengetahui kapan saat yang tepat untuk melaksanakan janji-janji-Nya.

"Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? ...” (QS. At Taubah. 111).

Semoga bermanfaat!

Info Buku:

● Alhamdulillah, telah terbit buku: Islam Solusi Setiap Permasalahan jilid 1.

Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, MAg: “Banyak hal yang dibahas dalam buku ini. Tapi, yang paling menarik bagi saya adalah dorongan untuk mempelajari Alquran dan hadis lebih luas dan mendalam, sehingga tidak mudah memandang sesat orang. Juga ajakan untuk menilai orang lebih berdasar kepada kitab suci dan sabda Nabi daripada berdasar nafsu dan subyektifitasnya”.

Buku jilid 1:

Buku jilid 1:
Buku: “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 378 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

● Buku “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1 ini merupakan kelanjutan dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” (jilid 1 s/d jilid 5). Berisi kumpulan artikel-artikel yang pernah saya sampaikan dalam kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah menjelang shalat tarawih/ba’da shalat tarawih, Khutbah Jum’at, kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus maupun kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook/whatsapp (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab, konsultasi, diskusi via email, facebook, sms, whatsapp, maupun media lainnya.

● Sebagai bentuk kehati-hatian saya dalam menyampaikan Islam, buku-buku religi yang saya tulis, biasanya saya sampaikan kepada guru-guru ngajiku untuk dibaca + diperiksa. Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz adalah salah satu diantaranya. Beliau adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Unsur Ketua MUI Jatim, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia 2009-2013, Dekan Fakultas Dakwah 2000-2004/Guru Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 2004 - sekarang.

_____

Assalamu'alaikum wr. wb.

● Alhamdulillah, telah terbit buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5.

● Buku jilid 5 ini merupakan penutup dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan jilid 4.

Buku Jilid 5

Buku Jilid 5
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-29-3

Buku Jilid 4

Buku Jilid 4
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 4: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-28-6

Buku Jilid 3

Buku Jilid 3
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 3: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 396 halaman, ISBN 978-602-5416-27-9

Buku Jilid 2

Buku Jilid 2
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 324 halaman, ISBN 978-602-5416-26-2

Buku Jilid 1

Buku Jilid 1
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 330 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

Keterangan:

Penulisan buku-buku di atas adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini: ”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞