بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Rabu, 01 Agustus 2012

MENDO’AKAN TEMAN NON-MUSLIM YANG SEDANG SAKIT PARAH

Assalamu’alaikum wr. wb.

S
eorang akhwat telah bertanya: “Pak Imron yth. Maaf saya mengganggu, tapi ada yang ingin saya sampaikan dan tanyakan. Apakah Pak Imron sudah mendengar tentang kondisi terakhir Pak Fulan*? Beliau sakit dan menurut berita yang saya ikuti, kondisinya sekarang sudah koma bahkan katanya sudah mati batang otaknya. Sebagai orang yang tahu akan kontribusi Beliau terhadap perkembangan GDI maupun FOOT (dua buah grup di facebook yang anggotanya terdiri dari para staf pengajar / dosen seluruh Indonesia) saya sangat sedih..., tetapi pertanyaan saya apa yang dapat saya lakukan? Apakah boleh saya mendo’akan kesembuhan beliau? Mengingat beliau adalah Nasrani, apa yang boleh saya lakukan? Saya terus terang tidak tahu harus berbuat apa... Di satu sisi saya merasa Beliau seperti orang tua, tetapi di sisi lain perbedaan keyakinan rasanya ada pembatasan. Mohon Pak Imron dapat memberikan pencerahan. Terima kasih, wass”.

-
----

S
audaraku…,
P
ada dasarnya kita kaum muslimin tidak dilarang untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang non-muslim yang tiada memerangi kita karena agama dan tidak pula mengusir kita dari negeri kita (non-muslim yang bersikap baik kepada kita). Demikian penjelasan Al Qur’an surat Al Mumtahanah ayat 8:

”Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. (QS. Al Mumtahanah. 8).

S
audaraku…,
Dalam konteks hubungan sosial-kemasyarakatan, pergaulan dengan non-muslim (apapun agamanya) tidaklah dilarang dalam agama Islam, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Al Mumtahanah di atas. Dengan berbuat baik dan berlaku adil terhadap mereka, hal ini justru bisa kita jadikan sebagai sarana untuk mengenalkan Islam kepada mereka sehingga akan timbul rasa simpati di hati mereka dan tidak muncul dugaan negatif kepada Islam, karena sesungguhnya Islam itu tidak identik dengan kekerasan. (Semoga Allah menjadikan kita sebagai jalan hidayah bagi orang lain. Amin!).

Meskipun demikian, dalam urusan akidah / keyakinan, sesungguhnya antara yang muslim dengan non-muslim harus ada pemisahan yang jelas. Dalam urusan akidah / keyakinan, biarlah semuanya berjalan sendiri-sendiri, sesuai dengan keyakinan masing-masing. Tidak boleh ada kerja sama**, tidak boleh ada intervensi*** (campur tangan) dari pihak lain. Demikian penjelasan Al Qur’an surat Al Kaafiruun ayat 6: “Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku". (QS. Al Kaafiruun: 6).

S
audaraku…,
Terkait dengan permohonan do’a yang ingin disampaikan kepada non-muslim, tentunya kita harus lebih berhati-hati. Tidak sembarang do’a boleh kita sampaikan kepada non-mulim. Terhadap mereka yang non-muslim, sebaiknya kita do’akan agar mereka mendapat hidayah sebagaimana yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW., dimana Beliau pernah berdo’a agar Allah memberi hidayah kepada salah seorang dari dua lelaki, yaitu Abu Jahal atau Umar bin Al-Khattab.

Rasulullah SAW. pernah berdo’a: “Ya Allah! Muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua lelaki yang Engkau lebih sayang; Abu Jahal atau ‘Umar bin Al-Khattab.” (Hadis riwayat Tirmizi).

Terkait dengan Pak Fulan yang saat ini sudah dalam kondisi batang otak tidak berfungsi dan saat ini masih dibantu peralatan / obat untuk bertahan, maka sebagai seorang hamba, kita hanya bisa berdo’a semoga Beliau masih bisa diberi kesembuhan sehingga pada akhirnya Beliau bisa mendapatkan kesuksesan dalam hidup yang jauh lebih baik daripada yang telah Beliau raih selama ini. (Tentunya tiada yang lebih baik daripada yang telah Beliau raih selama ini, selain mendapat hidayah dari Allah dan menemukan Islam di hari tuanya).

Dengan kita do’akan agar Beliau masih bisa diberi kesembuhan (serta diberi panjang umur dan kesehatan) maka peluang untuk mendapatkan hidayah masih terbuka (jadi ujung-ujungnya kita berdo’a agar Beliau diberi hidayah). Sedangkan jika Beliau telah wafat dalam keadaan tidak beriman, maka Beliau akan tetap dalam kekafiran untuk selama-lamanya. (Na’udzubillahi mindzalika!).

”Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang" Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih”. (QS. An Nisaa’. 18).

S
edangkan apabila kita mendo’akan agar Beliau mendapat ampunan dari Allah, maka ini adalah perbuatan terlarang!

S
audaraku…,
Kita kaum muslimin tidak diperkenankan untuk berdo’a memohonkan ampun kepada Allah bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat kita. Demikian penjelasan Al Qur’an surat At Taubah ayat 113 serta ayat 114:

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahannam”. (QS. At Taubah. 113).

“Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun”. (QS. At Taubah. 114).

Demikian yang bisa kusampaikan. Mohon maaf jika kurang berkenan. Hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku.

Semoga bermanfaat!


NB.
*) Pak Fulan pada tulisan di atas adalah nama samaran / bukan nama sebenarnya.

**) Yang saya maksud dengan kerja sama di sini, antara lain: orang-orang yang beragama Hindu bekerjasama dengan orang-orang Nasrani menyembah Yesus, dst.

***) Sedangkan yang saya maksud dengan intervensi, antara lain: kita ikut mengatur / memasukkan unsur-unsur Islam dalam peribadatan mereka yang non-muslim atau sebaliknya. Contohnya: setiap memulai peribadatan mereka yang non-muslim, kita paksakan untuk membaca basmalah. Atau sebaliknya, ketika seseorang hendak sholat di masjid, kemudian orang lain yang non-muslim telah memaksakannya untuk memakai salib. Atau dilakukan kompromi: saat ini seorang muslim dipersilahkan menyembah Allah, tetapi lain waktu menyembah sembahan-sembahan mereka selain Allah. Demikian juga mereka yang non-muslim melakukan hal yang sama secara bergantian sebagai jalan tengahnya untuk menuju kedamaian.

Jadi, biarlah semuanya berjalan sendiri-sendiri, sesuai dengan keyakinan masing-masing, sebagaimana sudah dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al Kaafiruun ayat 6 di atas.

Kamis, 05 Juli 2012

ORANG-ORANG PILIHAN

Assalamu’alaikum wr. wb.

Pada suatu hari Bang Fulan pergi berjalan kaki ke masjid hendak menunaikan ibadah sholat berjamaah. Selama perjalanan menuju masjid, Bang Fulan telah berhati-hati dengan berjalan di atas trotoar di pinggir jalan. Namun apa dikata, seorang pengendara sepeda motor telah memacu sepeda motornya dengan kecepatan tinggi dan kurang berhati-hati hingga akhirnya menabrak Bang Fulan yang menyebabkan Bang Fulan terluka parah sehingga harus dirawat di rumah sakit.

”Seandainya kemarin aku ’nggak pergi ke masjid dan tinggal di rumah saja, tentunya akan lebih baik karena aku tidak akan seperti ini”. Demikian Bang Fulan menyampaikan keluh kesahnya dengan nada penyesalan yang teramat dalam kepada Bang Nafil (sahabatnya) saat menjenguknya di rumah sakit.

Mendengar keluh kesah dari Bang Fulan tersebut, Bang Nafil berupaya untuk menanggapinya:

Saudaraku…,
Janganlah engkau mengeluh seperti itu. Ingatlah, bahwa dalam salah satu hadits qudsi, Ahmad, Ibn Majah dan Albaihaqi meriwayatkan, bahwa Allah berfirman: “Aku selalu mengikuti persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Jika ia berprasangka baik, maka untung baginya. Dan jika berprasangka buruk, maka ia akan terkena bahayanya”.

Lebih dari itu, sadarkah engkau, bahwa sesungguhnya engkau termasuk orang-orang pilihan yang dipilih langsung oleh Allah karena engkau dipandang mampu untuk mendapatkan cobaan seperti ini? Karena seandainya hal ini ditimpakan kepada orang lain, belum tentu mereka bisa tabah dan sabar dalam menghadapinya. Bukankah dalam Al Qur’an, Allah SWT. telah berfirman (yang artinya): “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya...”. (QS. Al Baqarah ayat 286)?

Saudaraku…,
Sudahkah engkau menyadarinya?
Dan mempersiapkan diri untuk menghadapinya?
Dengan berupaya untuk bisa tabah dan sabar dalam menghadapi cobaan ini dan tetap berbaik sangka kepada-Nya?
Bukankah engkau termasuk orang-orang pilihan yang dipilih langsung oleh Allah karena engkau dipandang mampu untuk mendapatkan cobaan seperti ini? Bukankah Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya?

Terlebih lagi jika hal ini kita kaitkan dengan sebuah hadits berikut ini:
Rasulullah SAW. bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ. (رواه البخارى)
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR. Al Bukhari(.

Mendengar nasehat tersebut, Bang Fulan-pun menyampaikan rasa terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada Bang Nafil yang telah mengingatkannya akan makna sebuah cobaan. Hampir-hampir saja Bang Fulan tergelincir, karena telah salah dalam menata hatinya sehingga hanya keluh kesah serta penyesalan saja yang ada. Padahal justru rasa syukur-lah yang seharusnya ada dalam hatinya karena sesungguhnya dia termasuk orang-orang pilihan yang dipilih langsung oleh Allah karena dipandang mampu untuk mendapatkan cobaan ini.

-----

Saudaraku semuanya…,
Jika cara berpikir kita seperti kisah di atas, tentunya tidak ada alasan sedikitpun bagi kita untuk tidak bersyukur atau berkeluh kesah, bagaimanapun situasi / kondisi yang sedang kita hadapi. Apalagi jika hal ini kita kaitkan dengan sebuah hadits berikut ini:

Rasulullah SAW. bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ: إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ. (رواه مسلم)
“Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya setiap perkaranya merupakan kebaikan baginya, dan ini tidak dimiliki siapapun kecuali oleh seorang mukmin: apabila memperoleh kelapangan, dia bersyukur, maka ini kebaikan baginya, dan apabila ditimpa kesusahan, dia bersabar, maka ini pun kebaikan baginya.” (HR. Muslim).

Saudaraku…,
Perhatikan kembali penjelasan Al Qur’an berikut ini: "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim. 7).

Dan dalam salah satu hadits qudsi, Ahmad, Ibn Majah dan Albaihaqi meriwayatkan, bahwa Allah berfirman: “Aku selalu mengikuti persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Jika ia berprasangka baik, maka untung baginya. Dan jika berprasangka buruk, maka ia akan terkena bahayanya”.

Sehingga, Rasulullah SAW. telah mewanti-wanti kepada kita semua agar senantiasa berbaik sangka kepada Allah.

Dari Jabir bin Abdillah r.a., beliau mendengar Rasulullah SAW. bersabda:
لَا يَمُوتُ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ. (رواه مسلم) 
“Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal melainkan dia dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah”. (HR. Muslim).

Semoga bermanfaat!

NB.
Bang Fulan dan Bang Nafil pada kisah di atas hanyalah nama fiktif belaka. Mohon ma’af jika secara kebetulan ada kemiripan nama dengan kisah di atas!

Selasa, 03 Juli 2012

TENTANG HALAL-HARAMNYA DAGING YANG KITA MAKAN

Assalamu’alaikum wr. wb.

Seorang akhwat telah bertanya: ”Pak Imron, mohon penjelasan tentang hukum halal pada daging yang kita makan. Saya penjual makanan (soto iga sapi). Ada sapi dan ayam yang diperjual-belikan di pasar di daerah kami yang disembelih non muslim. Bagaimana sikap kita? Apa kita harus membeli dari peyembelihnya (jagal)? Terus apa makan iga sapi itu halal? Saya pernah dengar katanya tulang adalah makanan jin. Bagaimana, benar ’nggak? Mohon penjelasannya”.

-----

Saudaraku…,
Untuk segala sesuatu yang hukumnya sudah disebutkan secara jelas dalam nash Al Qur'an dan Al Hadits, maka aku berani mengatakan apakah hukumnya halal atau haram. Contohnya, aku berani mengatakan bahwa daging babi itu haram hukumnya untuk dimakan oleh kita kaum muslimin karena sudah disebutkan secara jelas (secara eksplisit) dalam nash Al Qur'an.

”Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al Baqarah. 173).

Sedangkan untuk segala sesuatu yang hukumnya tidak disebutkan secara jelas dalam nash Al Qur'an dan Al Hadits, maka aku belum berani untuk mengatakan apakah hukumnya haram atau halal. Karena dalam hal ini diperlukan syarat keilmuan yang sangat luas serta metodologis dalam mengeluarkan suatu fatwa.

Jadi untuk persoalan-persoalan yang tidak ditemukan hukumnya secara eksplisit dalam Al Qur'an dan Al Hadits itu, maka hal ini merupakan wilayah ulama’ untuk mendiskusikannya (didiskusikan oleh ulama yang memang benar-benar punya kompetensi dan memiliki syarat-syarat untuk berijtihad). Kemudian ditafsirkan berdasarkan keilmuan dan metodologi agama, dan akhirnya lahirlah fatwa, yang tujuan akhirnya adalah solusi dari permasalahan ummat.

Dalam hal ini, ada atau tidak adanya fatwa, hal yang tidak jelas tersebut sebenarnya tetap memiliki hukum (tetap ada hukumnya apakah halal, mubah, atau haram). Fatwa hanya memperjelas untuk mempermudah ummat.

Jadi, untuk persoalan-persoalan yang tidak ditemukan hukumnya secara eksplisit dalam Al Qur'an dan Al Hadits, jika sekiranya kita belum mampu, maka sebaiknya (jalan selamatnya) adalah dengan mengikuti fatwa tersebut.

Untuk kasus seperti yang saudaraku tanyakan tersebut, aku hanya bisa memberi saran bahwa untuk lebih berhati-hati, sebaiknya kita membeli daging sapi dan ayam yang diperjual-belikan di pasar yang disembelih oleh sesama kita kaum muslimin. Mengingat penjelasan Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 173, yang menyebutkan bahwa daging dari binatang yang ketika disembelih disebut nama selain Allah, maka hukumnya haram.

”Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al Baqarah. 173).

Tentang apakah benar bahwa tulang itu adalah makanan jin, menurut hematku, selama tidak ada keterangan (dalil) yang menyatakan haramnya makan tulang, sebaiknya kita tidak perlu pusing dengan hal itu. Yang pasti, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah tidak pernah mempersulit urusan kita. (Wallahu ta’ala a'lam).

”Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan Kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah Kami". (QS. Al Kahfi. 88).

Meskipun demikian, jika saudaraku ingin mengetahui hukumnya secara lebih jelas, sebaiknya saudaraku bertanya kepada alim ulama’ di sekitar saudaraku tinggal. Semoga bisa mendapatkan penjelasan / jawaban yang lebih memuaskan. Karena bagaimanapun juga, mereka (para ulama') lebih banyak memiliki ilmu dan keutamaan daripada aku.

Demikian penjelasan yang bisa aku sampaikan. Semoga bermanfaat. Mohon koreksinya jika ada kekurangan / kesalahan. Juga mohon maaf jika kurang berkenan. Hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku.

Semoga bermanfaat.

NB.
Batasan terpaksa dalam Islam (sebagaimana penjelasan surat Al Baqarah ayat 173 di atas) adalah jika sampai mengancan jiwa kita. Misal: seseorang terdampar di suatu tempat hingga menderita kelaparan. Jika tidak segera makan, bisa terancam jiwanya (bisa meninggal dunia), sedangkan di depan mata ada bangkai. Maka tidak mengapa jika dia memakan bangkai tersebut, hanya sekedar untuk mempertahankan jiwanya dan tidak melampaui batas / tidak sampai kekenyangan (wallahu a'lam).

Minggu, 01 Juli 2012

AGAR DO’A DIKABULKAN

Assalamu’alaikum wr. wb.

Seorang akhwat (teman alumni SMAN 1 Blitar '89) telah bertanya tentang bagaimana caranya agar do’a kita dikabulkan oleh Allah.

-----

Saudaraku...,
Sebagai seorang hamba, maka kita harus menyadari akan kelemahan diri kita (sebagai makhluk yang tidak mempunyai kemampuan apapun dihadapan Allah) serta menyadari bahwa sesungguhnya Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia, sehingga karenanya kita merasa sangat memerlukan pertolongan dan ampunan dari-Nya.

Dalam Al Qur'an surat Al Ikhlash ayat 1 – 4, diperoleh penjelasan (yang artinya) sebagai berikut:
1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa,
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan,
4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia".

Disamping kita harus menyadari hal itu, berdo`alah kepada-Nya dengan merendahkan diri dan dengan suara yang lembut serta berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut tidak akan diterimanya do’a kita dan harapan akan dikabulkannya do’a kita.

"Berdo`alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas". (QS. Al A'raaf. 55).

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al A'raaf. 56).

Dan yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa kita juga musti berupaya untuk mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar. Karena semuanya itu hanya akan menjauhkan kita dari pada-Nya.

Saudaraku…,
Bagaimana mungkin kita berharap agar do’a-do’a kita dikabulkan-Nya, sedangkan pada saat yang bersamaan sekaligus juga melakukan perbuatan-perbuatan yang keji dan mungkar yang semuanya itu hanya akan menjauhkan kita dari pada-Nya? Tentunya mustahil, bukan?

Demikian yang bisa kusampaikan. Mohon koreksinya jika ada kekurangan / kesalahan. Mohon maaf jika kurang berkenan. Hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku.

Semoga bermanfaat.

NB.
Artikel terkait, silahkan klik di sini:
http://imronkuswandi.blogspot.com/2009/10/ketika-doa-doa-kita-dikabulkan.html

Selasa, 05 Juni 2012

CINTA YANG MENGGELORA

Assalamu’alaikum wr. wb.

Seorang akhwat telah bertanya: “Mas Imron... Saya mohon pencerahan mas. Apa yang harus saya lakukan pada saat hati galau seperti ini. Sungguh tidak menyangka, ketika sudah menemukan calon yang saya rasa cocok diusia yang tidak muda ini, saya malah menjadi kacau. Pekerjaan terbengkalai, keimanan menurun karena terlalu cemburu dan terlalu mencintainya. Mohon saya diberi doa yang bisa mengembalikan saya seperti saya yang dulu. Mandiri, kuat ibadah dan cinta Allah. Saat ini saya ingin lari. Lari dari semua ini. Saya takut jatuh kedua kali dan saya takut disakiti lagi. Saya memang butuh suami, tapi saya lebih butuh imam dalam hidup saya sehingga membaikkan dunia akhirat saya.. Mohon bantuan mas. Mohon maaf kalau kurang berkenan. Wassalam.”

-----

Saudaraku yang dicintai Allah...,
Memang begitulah pada umumnya keadaan seseorang ketika sedang dilanda cinta. Tak peduli berapapun usianya. Ketika cinta sedang menggelora, rasanya setiap saat selalu ingat padanya. Perasaan senang, cemburu, cemas / takut kehilangan dia, dst. bercampur menjadi satu.

Jika keadaan seperti ini berlangsung sebentar saja, tentu wajar-wajar saja. Sebagaimana halnya ketika seseorang baru saja ditinggal pergi oleh orang-orang tercinta (ibunya/ayahnya baru saja wafat, dst) maka adalah wajar jika yang bersangkutan mengalami kesedihan yang mendalam. Namun jika yang bersangkutan terus larut dalam kesedihan tersebut dalam waktu yang lama, tentunya hal ini menjadi tidak baik.

Saudaraku...,
Silahkan bersuka cita, tetapi janganlah kita terlalu bersuka cita / terlalu bergembira dengan apa saja yang telah berhasil kita raih / telah berhasil kita miliki. Termasuk kepada sang calon suami (dan saya ikut berdo’a semoga bisa berakhir hingga ke pelaminan, amin). Cobalah untuk menata hati kembali agar perasaan cinta yang menggelora kepadanya tersebut jangan berlangsung terlalu lama. Silahkan mencintainya, tapi jangan terlalu mencintainya. Bersikaplah yang sewajarnya saja, karena semuanya itu (termasuk calon suami), pada hakekatnya hanyalah titipan Allah semata.

Sebaliknya: silahkan berduka cita, tetapi jangan terlalu berduka cita (apalagi sampai larut di dalamnya) terhadap segala sesuatu yang luput dari kita, apakah itu berupa kehilangan jabatan, pekerjaan, harta kekayaan, orang-orang yang kita cintai, dll., termasuk jika saudaraku harus mendapati kemungkinan terburuk / tidak jadi menikah dengannya (dan saya ikut berdo’a semoga hal ini tidak sampai terjadi, amin). Ingatlah, bahwa pada hakekatnya semuanya itu hanyalah titipan Allah semata. Karena sesungguhnya Allah-lah pemilik seluruh alam semesta beserta isinya, termasuk jiwa dan raga kita. Sebagaimana telah dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al Hadiid ayat 23 berikut ini:

“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira* terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,” (QS. Al Hadiid. 23). *) Yang dimaksud dengan terlalu gembira disini adalah gembira yang telah melampaui batas, yang menyebabkan kesombongan, ketakaburan, dan lupa kepada Allah.

Saudaraku...,
Satu hal yang harus kita tanamkan dalam hati kita, bahwa sebagai seorang muslim / muslimah yang baik, maka seharusnya cinta kita 100% hanya untuk Allah semata.

Kalaupun kita harus mencintai istri (suami) kita, termasuk cinta kita kepada orang tua, anak, saudara, dll., maka semuanya itu hanyalah dalam rangka memenuhi perintah Allah semata (sebagai perwujudan cinta kita kepada-Nya). Dan jika suatu ketika Allah memerintahkan kita untuk menceraikan istri (suami) kita, maka (karena cinta kita kepada Allah) kita juga harus menceraikannya. Misal: ketika tiba-tiba sang istri (suami) murtad, maka terlebih dahulu kita harus berupaya semaksimal mungkin untuk mengajaknya kembali. Namun jika ternyata sang istri tetap tidak mau, maka kita harus tinggalkan dia. Sekalipun kecantikannya masih membuat kita terpesona, juga kelembutan sikapnya, dll. (Semoga hal ini tidak sampai terjadi pada istri/suami kita. Amin...!!!)

Saudaraku mengatakan: ”Saat ini saya ingin lari. Lari dari semua ini. Saya takut jatuh kedua kali dan saya takut disakiti lagi”.

Mengapa harus lari dari semua ini? Bukankah tidak ada satupun diantara kita yang mampu menghindar dari masalah selama kita masih menjalani kehidupan di dunia ini? Dan seandainya saudaraku lari dari semuanya ini, apakah bisa dipastikan bahwa saudaraku tidak akan ketemu dengan masalah yang baru lagi? Tidak, bukan?

Oleh karena itu sebaiknya hadapi saja, wahai saudaraku. Sambil terus berdo’a kepada-Nya agar diberikan jalan terbaik. Jika memang dia benar-benar calon suami yang baik yang mampu membimbing saudaraku dalam menggapai ridho-Nya, mohonlah kepada-Nya agar dimudahkan jalan hingga ke jenjang pernikahan. Sedangkan jika ternyata dia bukanlah calon suami yang baik, mohonlah kepada-Nya agar segera ditunjukkan tanda-tandanya sebelum akad nikah dilaksanakan.

Saudaraku…,
Setelah kita berupaya secara maksimal, maka apapun yang akan terjadi, terimalah dengan hati yang lapang. Kembalikan semua urusan ini hanya kepada-Nya, supaya jiwa kita menjadi tenang. “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya”. (QS. Al Fajr. 27-28).

Demikian yang bisa kusampaikan. Mohon koreksinya jika ada kekurangan / kesalahan.

Semoga bermanfaat.

Dari saudara seiman: Imron Kuswandi M.

NB.
Artikel terkait, silahkan klik di sini:
http://imronkuswandi.blogspot.com/2008/04/nikah.html. Semoga bermanfaat.

Minggu, 03 Juni 2012

SEMUA AGAMA ITU BENAR?

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Dengan berbekal pemahaman agama yang dangkal, sebagian orang dengan santainya telah membuat pernyataan-pernyataan hanya berdasarkan persepsi mereka sendiri. Seperti yang dilakukan oleh kaum Liberal dan Pluralis (JIL dan kawan-kawannya) yang mengatakan bahwa semua agama itu benar, khususnya agama-agama Yahudi, Nasrani dan Islam yang (menurut mereka) sama-sama merupakan agama samawi serta berlandaskan pada monothesime / agama tauhid.

Bagaimana mungkin bisa dikatakan bahwa ketiga agama itu sama-sama benarnya karena (menurut mereka kaum Liberal dan Pluralis) sama-sama merupakan agama samawi serta berlandaskan pada monothesime / agama tauhid?

Padahal telah sangat jelas pembeda antara kaum muslimin dengan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), sebagaimana penjelasan Al Qur'an dalam surat At Taubah ayat 30 berikut ini:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللهِ وَقَالَتْ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللهِ ذَلِكَ قَوْلُهُم بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِؤُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ ﴿٣٠﴾
”Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah". Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dila`nati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS. At Taubah. 30).

Sedangkan dalam Al Qur’an surat Al Maa-idah ayat 72, diperoleh penjelasan sebagai berikut:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُواْ اللهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ ﴿٧٢﴾
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putra Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang yang zalim itu seorang penolong-pun”. (QS. Al Maa-idah. 72).

Saudaraku…,
Bagaimana mungkin mereka kaum Liberal dan Pluralis (JIL dan kawan-kawannya) bisa mengatakan bahwa ketiga agama samawi sama-sama benarnya dengan dalih karena sama-sama berlandaskan pada monothesime / agama tauhid? Apakah mereka tutup mata dengan penjelasan Al Qur'an dalam surat At Taubah ayat 30 serta surat Al Maa-idah ayat 72 di atas?

Jelas sekali, klaim mereka kaum Liberal dan Pluralis itu menunjukkan kedangkalan pemahaman mereka tentang Islam, sehingga menimbulkan banyak persepsi mereka yang salah tentang Islam. Atau jika mereka kaum Liberal dan Pluralis itu sudah membaca dan memahami penjelasan Al Qur'an dalam surat At Taubah ayat 30 serta surat Al Maa-idah ayat 72 di atas, maka klaim mereka itu jelas-jelas suatu pembohongan yang nyata.

-----

Ya… Tuhan kami,
Lindungilah kami ketika kami membaca ayat-ayat-Mu dari godaan syaitan yang terkutuk agar kami senantiasa berada dalam jalan-Mu yang lurus. Amin...!!!

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ﴿٩٨﴾
”Apabila kamu membaca Al Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk”. (QS. An Nahl. 98).

Ya… Tuhan kami,
Bimbinglah kami,
Sehingga kami tetap mampu untuk mendapatkan pemahaman yang benar tentang semua ajaran Islam, sesuai dengan yang Engkau ajarkan kepada kami.

اللَّهُّمَ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
“Ya Allah, tampakkanlah kepada kami kebenaran itu sebagai kebenaran dan karuniakanlah kami untuk mengikutinya. Dan tampakkanlah kebatilan itu sebagai kebatilan dan karuniakanlah kami untuk menjauhinya.” 

Ya… Tuhan kami,

اهدِنَــــا الصِّرَاطَ الْمُستَقِيمَ ﴿٦﴾ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ ﴿٧﴾
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. (QS. Al Faatihah. 6 – 7).

Amin...,
Ya rabbal ‘alamin...!!!

Semoga bermanfaat.


Jumat, 01 Juni 2012

PERLUNYA PEMAHAMAN AL QUR'AN DALAM MENGGALI ILMU DAN MENCIPTAKAN TEKNOLOGI

Assalamu’alaikum wr. wb.

Dalam sebuah diskusi, seorang sahabat (dosen senior di ITS) telah mengatakan: ”Karena sifatnya mencari tahu, bisa saja sumber infonya tidak langsung ke kitab suci, tapi mungkin dari guru ngajinya. Nah, karena penulis status itu saya, maka saya harus klarifikasi essensinya. Kiat mencari tahu Tuhan ini jelas mengarah pada upaya mencari jawaban apakah diperlukan pemahaman Al Qur'an dalam menggali ilmu dan menciptakan teknologi”.

Saudaraku...,
Sudah barang tentu, bidang ilmu keteknikan/teknologi adalah penting untuk dikuasai oleh kaum muslimin. Cukup banyak ayat-ayat Al Qur’an yang mengisyaratkan hal ini. Bahkan ayat yang pertama kali turun, yaitu ayat 1 – 5 dari Surat Al-‘Alaq [96], telah mengisyaratkan hal ini.

Berikut ini adalah penjelasan Al Qur’an surat Al ‘Alaq ayat 1 – 5:
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam*.
5. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
*) Maksudnya: Allah mengajarkan manusia dengan perantaraan tulis baca.

Sedangkan pada ayat-ayat yang lain, kita juga mendapati adanya penjelasan agar kita memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi serta apa yang ada diantara keduanya. Yang tentunya hal ini semua tidak mungkin bisa kita lakukan dengan baik, jika kita tidak menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

”Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Yunus. 6).

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,” (QS. Ali ‘Imran. 190). “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. Ali ‘Imran. 191).

Saudaraku…,
Dari uraian tersebut, jelaslah bahwa memang sudah seharusnya bagi kita semua untuk selalu menggunakan akal dengan selalu memikirkan ayat-ayat Allah baik yang qouliyah (dalam nash Qur'an dan Sunnah) maupun kauniyah (ayat-ayat Allah di alam semesta).

-----

Beliau memberi tanggapan terhadap uraian di atas: ”Kalau jawabnya ya, bagaimana dengan orang non-muslim yang sama sekali tidak menyentuh Al Qur'an, tapi faktanya leading dalam sains teknologinya, bahkan banyak diantara saudara kita yang malah merengek rengek untuk berguru pada mereka?”.

Saudaraku…,
Tanpa adanya penguasaan ilmu agama (Islam), semuanya itu hanya akan sia-sia saja. Maka betapa ruginya mereka nanti ketika ternyata semua apa yang diketahuinya sama-sekali tidak ada gunanya. Semua amal dan usahanya bagaikan daun-daun kering yang hancur menjadi debu tertiup angin.

Tiada cahaya kebenaran datang dari yang mati, hanyalah Dia Yang Hidup dapat memberi kehidupan dan cahaya dalam kehidupan ini. Perhatikan penjelasan Al Qur’an dalam surat Al An'aam ayat 122 serta surat l Anfaal ayat 24 berikut ini:

”Dan apakah orang yang mati yang kemudian dia Kami hidupkan dan Kami jadikan baginya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. Al An'aam. 122).

”Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan (ruhaniah) kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi (meng-hijab) antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan”. (QS. Al Anfaal. 24).

Kehidupan ruhaniah adalah hidupnya hati oleh iman dengan 6 rukunnya dan 5 rukun Islam sebagai implementasinya untuk menghasilkan muhsinin yang ber-akhlaqul karimah.

Semoga bermanfaat!

NB.
Ucapan terimakasih disampaikan kepada Pak Eko Pramunanto, yang telah melengkapi tulisan ini.

Sabtu, 05 Mei 2012

HANYA DENGAN KESUSAHAN DAN MUSIBAH SAJA KITA BISA MENDAPATKAN KEMULIAAN DI SISI-NYA?

Assalamu’alaikum wr. wb.

Seorang sahabat (dosen ITS) mengatakan: “Orang selalu mendambakan kesempatan emas menjadi seseorang yang mulia (di sisi-Nya) dalam kehidupan ini. Ketahuilah, bahwa kesusahan dan musibah adalah kesempatan emas dari Allah bagi kita untuk menjadi insan yang mulia di sisi-Nya. Karena hanya dengan kesusahan dan musibah saja, manusia bisa bersabar dan balasan dari sabar adalah pahala tanpa batas”.

-----

Saudaraku…,
Menurutku, untuk mendapatkan kemuliaan disisi-Nya, tidak hanya melalui kesusahan dan musibah saja (dengan kekurangan harta, kelaparan, gangguan kesehatan, kegagalan dalam berkarier, dst.). Namun bisa juga melalui berbagai limpahan kesenangan duniawi yang ada dalam genggaman kita (dengan kelebihan harta, kesuksesan dalam berkarier, kesehatan, kedudukan/jabatan yang kita miliki, dst.). Karena sesungguhnya kekayaan dan kemiskinan itu adalah sama saja, kesuksesan serta kegagalan dalam berkarir itu juga sama saja, yaitu sama-sama dijadikan sebagai sarana untuk menguji kita, apakah kita dapat menjalaninya dengan baik atau malah sebaliknya.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?” (QS. Al Baqarah. 214).

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”, (QS. Al Baqarah. 155).

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At Taghaabun. 15). “Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)”. (QS. At Takaatsur. 8). “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al Anfaal. 28).

Semoga bermanfaat.

Kamis, 03 Mei 2012

MUSIBAH DAN BENCANA

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku...,
Jika pada saat ini kita mendapati adanya musibah dan bencana yang silih berganti menimpa bangsa kita, maka sesungguhnya hal ini disebabkan oleh kesalahan yang telah dikerjakan oleh bangsa kita sendiri (karena disebabkan oleh sebahagian dosa-dosa yang telah dikerjakan oleh bangsa kita sendiri).

Dan nampaknya inilah realita yang sedang kita hadapi saat ini, dimana dengan mudahnya kita temui para pemuda / pemudi kita yang bergaul dengan bebasnya. Sementara korupsi juga sudah merata dimana-mana, mulai dari pegawai rendahan dengan nilai kecil-kecilan hingga pejabat negara dengan nilai besar-besaran. Ditambah dengan berbagai kemaksiatan yang lainnya, sungguh..., benar-benar suatu kenyataan yang sangat menyedihkan.

Dengan melihat realita yang ada, maka wajarlah jika pada saat ini kita mendapati adanya musibah dan bencana yang silih berganti menimpa bangsa kita. Dan sekali lagi, sesungguhnya ditimpanya sesuatu musibah / bahaya itu, disebabkan oleh kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan kita sendiri. Sesungguhnya sesuatu musibah / bahaya yang menimpa kita itu adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kita sendiri, karena disebabkan oleh sebahagian dosa-dosa yang telah dikerjakan oleh bangsa kita sendiri. (Wallahu ta'ala a'lam).

(Semoga hal ini semua dapat menjadi peringatan buat kita agar kita bisa segera kembali ke jalan yang benar. Dan semoga Allah memaafkan kesalahan-kesalahan kita. Amin!).

Saudaraku...,
Demikianlah penjelasan Al Qur'an dalam beberapa ayat berikut ini:

“dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik”. (QS. Al Maa-idah. 49).

”Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa sesuatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa”. (QS. Ar Ruum. 36).

”Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”. (QS. Asy Syuura. 30).

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS. Ar Ruum. 41).

Wallahu ta'ala a'lam,

Semoga bermanfaat!

Info Buku:

● Alhamdulillah, telah terbit buku: Islam Solusi Setiap Permasalahan jilid 1.

Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, MAg: “Banyak hal yang dibahas dalam buku ini. Tapi, yang paling menarik bagi saya adalah dorongan untuk mempelajari Alquran dan hadis lebih luas dan mendalam, sehingga tidak mudah memandang sesat orang. Juga ajakan untuk menilai orang lebih berdasar kepada kitab suci dan sabda Nabi daripada berdasar nafsu dan subyektifitasnya”.

Buku jilid 1:

Buku jilid 1:
Buku: “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 378 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

● Buku “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1 ini merupakan kelanjutan dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” (jilid 1 s/d jilid 5). Berisi kumpulan artikel-artikel yang pernah saya sampaikan dalam kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah menjelang shalat tarawih/ba’da shalat tarawih, Khutbah Jum’at, kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus maupun kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook/whatsapp (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab, konsultasi, diskusi via email, facebook, sms, whatsapp, maupun media lainnya.

● Sebagai bentuk kehati-hatian saya dalam menyampaikan Islam, buku-buku religi yang saya tulis, biasanya saya sampaikan kepada guru-guru ngajiku untuk dibaca + diperiksa. Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz adalah salah satu diantaranya. Beliau adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Unsur Ketua MUI Jatim, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia 2009-2013, Dekan Fakultas Dakwah 2000-2004/Guru Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 2004 - sekarang.

_____

Assalamu'alaikum wr. wb.

● Alhamdulillah, telah terbit buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5.

● Buku jilid 5 ini merupakan penutup dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan jilid 4.

Buku Jilid 5

Buku Jilid 5
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-29-3

Buku Jilid 4

Buku Jilid 4
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 4: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-28-6

Buku Jilid 3

Buku Jilid 3
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 3: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 396 halaman, ISBN 978-602-5416-27-9

Buku Jilid 2

Buku Jilid 2
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 324 halaman, ISBN 978-602-5416-26-2

Buku Jilid 1

Buku Jilid 1
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 330 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

Keterangan:

Penulisan buku-buku di atas adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini: ”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞