بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Rabu, 03 September 2014

MENYIKAPI AJAKAN UNTUK BERGABUNG DENGAN SUATU ORMAS



Assalamu’alaikum wr. wb.

Seorang sahabat telah mengirim pesan: “Pak Imron semoga sehat selalu, aamiin. Tapi sebelumnya mohon pertanyaan ini tidak di-share ke group/umum, karena bersifat pendapat pribadi dan untuk mencegah terjadinya konflik. Maaf Pak, mau minta pendapat Bapak. Saya minta pendapat/pandangan Bapak tentang ormas X*. Note: saya bukan (belum) anggota ormas tersebut”. *) Beliau menyebut nama salah satu ormas.

Hehe. Santai saja, wahai saudaraku!
Nggak usah khawatir, karena insya Allah nggak ada satupun artikel yang ku-posting di blog-ku (http://imronkuswandi.blogspot.com/) yang berpotensi menimbulkan konflik di antara saudara sesama muslim. Untuk lebih jelasnya, silahkan dibaca artikel yang berjudul “Saling Menghormati Dan Saling Menghargai Sesama Kaum Muslimin” (bisa klik di sini: http://imronkuswandi.blogspot.com/2011/05/saling-menghormati-dan-saling.html)

Tentang seputar ormas tersebut, sebenarnya saya tidak begitu paham karena saya bukan anggota ormas tersebut dan juga belum pernah terlibat terlalu jauh dalam ormas tersebut.

Bagi saya sendiri, selama tujuannya baik (artinya tidak bertentangan dengan agama Islam) dan disampaikan dengan cara yang baik pula serta tidak mudah menyalahkan (apalagi sampai mengkafirkan) pihak lain, kiranya tak masalah. Mereka semua tetaplah saudara kita.

-----

Beliau mengatakan:
Terima kasih atas penjelasan dari Bapak. Jujur Pak, ini masalah pribadi saya. Sahabat saya mengajak saya bergabung dengan ormas tersebut. Namun saya belum mau bergabung. Salah satu alasannya adalah sebagaimana saya kutip dari pendapat Bapak: "Bagi saya sendiri, selama tujuannya baik (artinya tidak bertentangan dengan agama Islam) dan disampaikan dengan cara yang baik pula serta tidak mudah menyalahkan (apalagi sampai mengkafirkan) pihak lain, kiranya tak masalah. Mereka semua tetaplah saudara kita". Saya memberi garis bawah pada kalimat: "tidak mudah menyalahkan (apalagi sampai mengkafirkan) pihak lain"

Sejauh pengamatan saya melalui media internet baik dari diskusi maupun lainnya, nampaknya saya menilai mereka sangat mudah sekali menggunakan kata kafir dan kufur. Sahabat yang mengajak saya bergabung ini adalah sahabat yang sangat baik dan sering menolong pada saat saya mengalami kesulitan. Saya ingin menolak ajakannya. Kira-kira bagaimana caranya, ya Pak? Atas arahannya dan saran yang baik, saya ucapkan terima kasih.”

Saudaraku...,
Mengapa saya mengatakan seperti itu?

“Bagi saya sendiri, selama tujuannya baik (artinya tidak bertentangan dengan agama Islam)*1 dan disampaikan dengan cara yang baik*2 pula serta tidak mudah menyalahkan (apalagi sampai mengkafirkan) pihak lain*3, kiranya tak masalah. Mereka semua tetaplah saudara kita”.

*1. Selama tujuannya baik (artinya tidak bertentangan dengan agama Islam).

Saudaraku...,
Sebagai seorang muslim, seharusnya rujukan utamanya adalah Al Qur’an dan Al Hadits. Jika ada yang bertentangan dengan keduanya, tinggalkan! Jika sesuai dengan keduanya, silahkan diambil / dilaksanakan!

ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ ﴿٢﴾
“Kitab (Al Qur'an)* ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”, (QS. Al Baqarah. 2). *) Allah menamakan Al Qur’an dengan Al Kitab* yang di sini berarti “yang ditulis” sebagai isyarat bahwa Al Qur’an diperintahkan untuk ditulis.

هَـذَا بَلاَغٌ لِّلنَّاسِ وَلِيُنذَرُواْ بِهِ وَلِيَعْلَمُواْ أَنَّمَا هُوَ إِلَـهٌ وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُوْلُواْ الأَلْبَابِ ﴿٥٢﴾
“(Al Qur'an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran”. (QS. Ibrahim. 52).

*2. Disampaikan dengan cara yang baik.

Saudaraku...,
Dalam berdakwah, kita musti berendah diri dan berlaku lemah lembut. Sikap merendahkan diri serta berlaku lemah lembut dihadapan mereka, jelas akan lebih dapat mendatangkan simpati dibandingkan sikap angkuh dan kasar. Demikian contoh yang telah diberikan oleh Rasulullah Muhammad SAW. dalam berdakwah, sebagaimana telah diperintahkan Allah SWT. dalam surat Asy Syu’araa’ ayat 215:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ ﴿٢١٥﴾
“dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman”. (QS. Asy Syu’araa’. 215).

Sedangkan dalam ayat yang lain, kita juga diperintahkan untuk berdakwah bil hikmah (dengan hikmah) dan memberi pelajaran yang baik atau nasihat yang lembut dan membantah mereka dengan bantahan yang baik pula, seperti menyeru mereka untuk menyembah Allah SWT. dengan menyampaikan kepada mereka tanda-tanda kebesaran-Nya atau dengan hujjah-hujjah (keterangan, alasan, bukti, atau argumentasi) yang jelas.

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ ﴿١٢٥﴾
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah* dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. An Nahl. 125). *) Hikmah: ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

*3. Tidak mudah menyalahkan (apalagi sampai mengkafirkan) pihak lain.

Saudaraku...,
Sebagai seorang muslim yang baik, janganlah kita mudah menyalahkan/mudah melontarkan tuduhan (apalagi sampai mengkafirkan) kepada saudara sesama muslim. Karena jika tuduhan itu tidak benar, maka tuduhan/ucapan itu akan kembali kepada diri kita sendiri. (Na’udzubillahi mindzalika!)

Dari Ibnu Umar r.a., dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِأَخِيْهِ: يَا كَافِرُ، فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا، فَإِنْ كَانَ كَمَا قَالَ: وَإِلَّا رَجَعَتْ عَلَيْهِ
“Apabila seorang laki-laki menyeru kepada saudaranya (sesama muslim): Wahai kafir, maka salah seorang dari keduanya telah kembali dengan pengkafiran tersebut, lalu apabila (benar) sebagaimana yang dikatakannya (maka menuju kepada orang tersebut), namun bila tidak, niscaya kembali kepada yang mengucapkannya.” (HR. Malik, Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan At Tirmidzi)

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَمَنْ دَعَا رَجُلًا بِالْكُفْرِ أَوْ قَالَ: يَا عَدُوَّاللهِ، وَلَيْسَ كَذلِكَ، إِلَّا حَارَ عَلَيْهِ. (رواه البخارى ومسلم)
“Siapa yang memanggil seseorang dengan kata kafir atau menyatakan: ‘Wahai musuh Allah’ dan ternyata ia bukan demikian, maka (kata tersebut) akan kembali kepadanya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ قَالَ لِأَخِيْهِ: يَا كَافِرُ، فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا. (رواه البخارى)
“Siapa yang menyatakan kepada saudaranya: ‘Wahai kafir’, maka sungguh salah seorang dari keduanya telah kembali dengannya”. (HR. Al Bukhari).

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا أَكْفَرَ رَجُلٌ رَجُلًا إِلَّا بَاءَ أَحَدُهُمَا بِهَا إِنْ كَانَ كَافِرًا وَإِلَّا كَفَرَ بِتَكْفِيْرِهِ. (روه ابن حبان)
“Tidaklah seseorang memvonis kafir (mengkafirkan) orang lain kecuali salah seorang dari keduanya kembali dengan hal tersebut. Apabila benar kafir (maka menuju kepada orang yang dikafirkannya tersebut), namun bila tidak, maka ia kafir dengan sebab pengkafirannya tersebut”. (HR. Ibnu Hibban).

Oleh karena itu janganlah kita mudah menyalahkan/mudah melontarkan tuduhan/memvonis kafir (mengkafirkan) orang lain, kecuali jika benar-benar telah jelas tanda-tanda kekafirannya. Misalnya: seseorang telah secara jelas mengatakan bahwa Nabi Isa Al Masih* itu putera Allah. Hal ini berdasarkan firman Allah dalam Al Qur’an surat At Taubah ayat 30:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللهِ وَقَالَتْ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللهِ ذَلِكَ قَوْلُهُم بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِؤُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ ﴿٣٠﴾
Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah". Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dila`nati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS At Taubah. 30).

*) Al Masih artinya mengusap; mengusap orang mati menjadi hidup kembali, mengusap orang sakit jadi sembuh, dll. (yang semuanya itu atas ijin Allah SWT).

-----

Lalu bagaimana jika kita menjumpai sahabat yang telah menjadi anggota ormas yang sangat mudah menggunakan kata kafir dan kufur kepada sesama muslim?

Saudaraku...,
Jika benar bahwa ormas tersebut sangat mudah menggunakan kata kafir dan kufur kepada sesama muslim, tentunya menjadi tugas kita untuk meluruskan sahabat kita yang telah menjadi anggota ormas tersebut (agar tidak lagi dengan mudah mengkafirkan pihak lain).

Jika kita mempunyai kekuasaan untuk meluruskannya, hendaknya kita luruskan/kita ubah dengan kekuasaan kita.

Namun jika tidak mampu dengan tangan/kekuasaan, maka dengan lisan kita. Artinya jika saudaraku mempunyai bekal ilmu yang cukup, sebaiknya saudaraku ajak untuk berdiskusi dengan menyertakan hujjah (keterangan, alasan, bukti, atau argumentasi) yang kuat disertai dengan dalil-dalil yang mendasarinya, dengan harapan semoga yang bersangkutan bisa mendapatkan pemahaman yang benar tentang Islam.

Sedangkan jika dengan lisanpun kita tidak mampu, maka dengan hati kita. Artinya jika saudaraku tidak mempunyai bekal ilmu yang cukup (sebagaimana penjelasan di atas), setidaknya hati saudaraku tidak setuju dengan tindakan/sikapnya.

Dari Abu Sa’id Al Khudry radhiyallahu ’anhu berkata: saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيْمَانِ. (رواه مسلم)
“Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaknya mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu dengan tangannya, dengan lisannya. Jika tidak mampu dengan lisannya, dengan hatinya; dan itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim).

Saudaraku...,
Satu hal yang harus kita perhatikan saat menyampaikan dakwah kepadanya (serta kepada saudara kita yang lainnya), bahwa disamping harus kita sampaikan dengan cara yang baik sebagaimana penjelasan surat Asy Syu’araa’ ayat 215 serta surat An Nahl ayat 125 di atas, kita juga musti belajar banyak terhadap apa yang telah dilakukan oleh Nabi Musa AS., dimana Beliau telah menyampaikan dakwah kepada Fir’aun dengan kata-kata yang lemah lembut sebagaimana perintah Allah SWT dalam surat Thaahaa berikut ini:

اذْهَبْ أَنتَ وَأَخُوكَ بِآيَاتِي وَلَا تَنِيَا فِي ذِكْرِي ﴿٤٢﴾ اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى ﴿٤٣﴾ فَقُولَا لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى ﴿٤٤﴾
(42) “Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku”; (43) “Pergilah kamu berdua kepada Fir`aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas”; (44) “maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut". (QS. Thaahaa. 42 – 44).

Nah, jika kepada Fir’aun saja Allah telah memerintahkan Musa AS. untuk menyampaikan dakwah dengan kata-kata yang lemah lembut, apalagi kepada saudara sesama muslim! Hal ini sebaiknya juga saudaraku sampaikan kepada sahabat tersebut, tentang bagimana sikap kita dalam mendakwahi saudara sesama muslim (kalau kepada Fir’aun saja seperti itu, apalagi kepada sesama muslim) sehingga diharapkan yang bersangkutan tidak lagi dengan mudah memvonis kafir (mengkafirkan) orang lain.

Saudaraku tidak perlu khawatir jika sahabat tersebut pada akhirnya akan bersikap buruk kepada diri saudaraku (setelah saudaraku berupaya menyampaikan dakwah kepadanya dengan cara yang baik). Kita tidak perlu takut, karena sesungguhnya Allah beserta kita/Allah akan membantu kita!

قَالَا رَبَّنَا إِنَّنَا نَخَافُ أَن يَفْرُطَ عَلَيْنَا أَوْ أَن يَطْغَى ﴿٤٥﴾ قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى ﴿٤٦﴾
(45) Berkatalah mereka berdua: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas". (46) Allah berfirman: "Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat". (QS. Thaahaa. 45 – 46).

-----

Bagaimana pula cara menolak ajakan sahabat untuk bergabung ke dalam ormas tersebut?

Saudaraku...,
Jika benar bahwa ormas tersebut sangat mudah menggunakan kata kafir dan kufur kepada sesama muslim, kita sampaikan saja sikap kehati-hatian kita sehingga kita belum bisa memutuskan untuk bergabung dengan ormas tersebut sampai jelas/ sampai ada kepastian bahwa ormas tersebut telah mengubah cara dakwahnya sehingga tidak lagi dengan mudah menggunakan kata kafir dan kufur kepada sesama muslim.

Demikian penjelasan yang bisa kusampaikan. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku.

-----

Beliau mengatakan: “Terima kasih, Pak Imron... Terima kasih atas segala perkenan bapak memberi jawaban atas segala apa yang menjadi keraguan/ketidaktahuan saya.. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan balasan baik yang berlipat kepada bapak sekeluarga... Aamiin Yaa Rabb...”

Demikian hasil diskusi ini,
Semoga bermanfaat.


Senin, 01 September 2014

JANGAN PERNAH BERHENTI MELANGKAH!



Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Berdakwah bermakna menghimbau / menyeru kepada umat manusia untuk melaksanakan segala apa yang Allah Ta’ala perintahkan dan meninggalkan semua yang dilarang-Nya.

Sedangkan perintah untuk berdakwah itu datangnya dari Allah SWT., sebagaimana firman-Nya dalam Al Qur’an surat Ali ’Imran ayat 104:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ﴿١٠٤﴾
”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf* dan mencegah dari yang munkar**; merekalah orang-orang yang beruntung”. (QS. Ali ’Imran. 104). *) Yang dimaksud dengan ma’ruf adalah segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah. **) Sedangkan yang dimaksud dengan munkar adalah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.

Saudaraku…,
Perintah untuk berdakwah juga terlihat jelas dalam dua hadits berikut ini:

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW. bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ مِن أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا. (رواه مسلم) 
“Barangsiapa menyeru (mengajak) kepada petunjuk, baginya pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya, tidak berkurang pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang menyeru (mengajak) kepada kesesatan, atasnya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi demikian itu dari dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim no. 2674).

Dari Sahl bin Sa’d r.a., sungguh Nabi Muhammad SAW. berbicara kepada Ali bin Abi Thalib r.a.:

وَاللهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ. (رواه البخارى ومسلم وأحمد)  
"Sungguh, bila Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui perantara kamu maka itu lebih baik bagi kamu dari pada unta merah*." (HR Bukhari, Muslim dan Ahmad). *) Unta merah adalah harta kekayaan yang sangat berharga dan menjadi kebanggaan orang Arab pada masa itu.

Saudaraku…,
Dalam berdakwah, maka pertama-tama yang kita dakwahi adalah keluarga / kerabat terdekat kita terlebih dahulu, baru kemudian yang lainnya. Hal ini mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW. (pemimpin kita yang teramat kita cintai), dimana Beliau SAW. telah memberi peringatan secara terang-terangan kepada kerabat-kerabat Beliau SAW. (yaitu Bani Hasyim dan Bani Mutalib) sebagaimana perintah Allah SWT. dalam Al Qur’an surat Asy Syu’araa’ ayat 214:

وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ ﴿٢١٤﴾
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”, (QS. Asy Syu’araa’. 214).

Dan dalam berdakwah, kita musti berendah diri dan berlaku lemah lembut. Sikap merendahkan diri serta berlaku lemah lembut dihadapan mereka, jelas akan lebih dapat mendatangkan simpati dibandingkan sikap angkuh dan kasar. Demikian contoh yang telah diberikan oleh Rasulullah Muhammad SAW. dalam berdakwah, sebagaimana telah diperintahkan Allah SWT. dalam surat Asy Syu’araa’ ayat 215:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ ﴿٢١٥﴾
“dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman”. (QS. Asy Syu’araa’. 215).

Sedangkan dalam ayat yang lain, kita juga diperintahkan untuk berdakwah bil hikmah (dengan hikmah) dan pelajaran yang baik atau nasihat yang lembut dan membantah mereka dengan bantahan yang baik pula, seperti menyeru mereka untuk menyembah Allah SWT. dengan menyampaikan kepada mereka tanda-tanda kebesaran-Nya atau dengan hujjah-hujjah (keterangan, alasan, bukti, atau argumentasi) yang jelas.

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ ﴿١٢٥﴾
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah* dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. An Nahl. 125). *) Hikmah: ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

Saudaraku…,
Satu hal yang harus kita ingat: bahwa sebaik apapun kita dalam berdakwah (sebagaimana penjelasan surat Asy Syu’araa’ ayat 215 serta surat An Nahl ayat 125 di atas), pasti akan ada yang menentang, sebagaimana telah diisyaratkan dalam surat Asy Syu’araa’ ayat 216:

فَإِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ مِّمَّا تَعْمَلُونَ ﴿٢١٦﴾
“Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan"; (QS. Asy Syu’araa’. 216).

Terkait hal ini, perhatikanlah kisah perjalanan dakwah Rasulullah SAW!

Disaat-saat awal kenabiannya, Rasulullah SAW. melaksanakan dakwahnya dengan sembunyi-sembunyi (secara rahasia) karena saat itu jumlah umat Islam masih sedikit. Hingga ketika jumlah umat Islam semakin bertambah banyak, maka Rasulullah SAW. melaksanakan dakwahnya secara terang-terangan.

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ ﴿٩٤﴾
”Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik”. (QS. Al Hijr. 94).

Namun dalam perkembangan dakwahnya, ternyata Rasulullah SAW. beserta kaum muslimin menemui banyak rintangan. Pada awalnya, mereka berusaha menghentikan dakwah Rasulullah SAW. dengan cara ”halus”. Mereka mencoba menawarkan tiga hal (harta, tahta dan wanita) kepada Rasulullah agar berhenti mendakwahkan Islam.

Setelah cara “halus” tidak berhasil, mereka mulai menebar teror dengan siksaan terhadap Rasulullah SAW. dan kaum muslimin, yang dari waktu ke waktu rintangan tersebut terus meningkat hingga siksaan dari kaum Quraisy tersebut telah sampai pada titik puncaknya.

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْاْ مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَآءُ وَالضَّرَّآءُ وَزُلْزِلُواْ حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللهِ أَلَآ إِنَّ نَصْرَ اللهِ قَرِيبٌ ﴿٢١٤﴾
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (QS. Al Baqarah. 214).

Saudaraku…,
Ayat di atas (QS. Al Baqarah. 214) diturunkan mengenai susah payah yang menimpa Rasulullah SAW. beserta kaum muslimin.

Ya, Rasulullah SAW. beserta kaum muslimin telah mengalami rintangan yang sangat berat dalam berdakwah, sementara hal itu semua ternyata tak mampu membuat Rasulullah SAW. (beserta kaum muslimin) surut dalam berdakwah. Demikianlah contoh yang telah diberikan Rasulullah SAW. kepada kita semua.

Maka jangan pernah berhenti melangkah!
Jangan pernah surut dalam berdakwah, meski rintangan tak pernah berhenti menghadang!

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطاً ﴿٢٨﴾
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”. (QS. Al Kahfi. 28).

Sekali lagi, teruslah melangkah. Jangan pernah surut dalam berdakwah, meski rintangan tak pernah berhenti menghadang! Karena orang yang paling baik perkataan dan perbuatannya adalah orang yang mengajak manusia kepada Allah SWT., membimbing mereka kepada-Nya, mengajari mereka urusan agama mereka, memberikan pemahaman agama kepada mereka, bersabar dalam menjalankannya, dan mengamalkan apa yang didakwahkanya.

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَآ إِلَى اللهِ وَعَمِلَ صَالِحاً وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ ﴿٣٣﴾
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?" (QS. Fushshilat. 33).

Demikian,
Semoga langkah kita tak pernah surut dalam berdakwah, meski rintangan tak pernah berhenti menghadang!

Semoga bermanfaat!

Info Buku:

● Alhamdulillah, telah terbit buku: Islam Solusi Setiap Permasalahan jilid 1.

Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, MAg: “Banyak hal yang dibahas dalam buku ini. Tapi, yang paling menarik bagi saya adalah dorongan untuk mempelajari Alquran dan hadis lebih luas dan mendalam, sehingga tidak mudah memandang sesat orang. Juga ajakan untuk menilai orang lebih berdasar kepada kitab suci dan sabda Nabi daripada berdasar nafsu dan subyektifitasnya”.

Buku jilid 1:

Buku jilid 1:
Buku: “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 378 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

● Buku “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1 ini merupakan kelanjutan dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” (jilid 1 s/d jilid 5). Berisi kumpulan artikel-artikel yang pernah saya sampaikan dalam kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah menjelang shalat tarawih/ba’da shalat tarawih, Khutbah Jum’at, kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus maupun kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook/whatsapp (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab, konsultasi, diskusi via email, facebook, sms, whatsapp, maupun media lainnya.

● Sebagai bentuk kehati-hatian saya dalam menyampaikan Islam, buku-buku religi yang saya tulis, biasanya saya sampaikan kepada guru-guru ngajiku untuk dibaca + diperiksa. Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz adalah salah satu diantaranya. Beliau adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Unsur Ketua MUI Jatim, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia 2009-2013, Dekan Fakultas Dakwah 2000-2004/Guru Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 2004 - sekarang.

_____

Assalamu'alaikum wr. wb.

● Alhamdulillah, telah terbit buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5.

● Buku jilid 5 ini merupakan penutup dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan jilid 4.

Buku Jilid 5

Buku Jilid 5
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-29-3

Buku Jilid 4

Buku Jilid 4
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 4: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-28-6

Buku Jilid 3

Buku Jilid 3
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 3: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 396 halaman, ISBN 978-602-5416-27-9

Buku Jilid 2

Buku Jilid 2
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 324 halaman, ISBN 978-602-5416-26-2

Buku Jilid 1

Buku Jilid 1
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 330 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

Keterangan:

Penulisan buku-buku di atas adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini: ”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞