بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Senin, 05 Februari 2018

TENTANG SEPUTAR HAJAT JUAL RUMAH


Assalamu’alaikum wr. wb.
 
Seorang Ibu (dosen senior sebuah perguruan tinggi negeri terkemuka di Semarang) telah bertanya via WhatsApp sebagai berikut: “Pak Imron, saya tanya ya. Apakah boleh/ada tuntunannya jika sesorang punya hajat jual rumah, kemudian tanya pada seorang yang disebut kyai, lalu oleh kyai itu disuruh baca surat tertentu dari Al Qur'an sebanyak jumlah tertentu selama jumlah hari tertentu. Setelah tiap kali baca, ditiupkan ke dua genggam tanah yang diambil dari rumah yang akan dijual. Setelah sejumlah hari tersebut tanah tadi harus dikembalikan ke (tempat) asalnya diambil. Apakah itu syirik? Apakah selama 40 hari amal ibadah kita ditolak Allah? Mohon jawabnya, ya Pak Imron. Terimakasih”.
 
Sebelumnya kusampaikan terimakasih atas kesediaannya untuk bersama-sama belajar. Semoga semangat untuk belajar ini tidak akan pernah padam hingga ajal menjemput kita. Amin, ya rabbal ‘alamin!
 
Saudaraku,
Dugaanku, kemungkinan yang bersangkutan bermaksud menjual rumah, setelah sekian lama belum laku juga, kemudian beliau datangi seseorang yang beliau pandang sebagai kyai agar rumah tersebut segera laku, kemudian "sang “kyai” menyuruhnya untuk mengambil segenggam tanahnya lalu diberi do'a-do'a/jampi-jampi berupa bacaan tertentu dari Al Qur’an dan seterusnya, kemudian tanah tersebut harus dikembalikan ke tempat semula.
 
Jika memang demikian yang dimaksudkan, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya hanya Allah-lah yang bisa menolak mudharat dan memberi manfaat. Dialah yang memiliki kerajaan, pemberian, pencegahan. Dialah yang memiliki segala perintah, Dialah pemilik segala ciptaan.
 
Keputusannya pasti terlaksana, ketentuannya pasti terjadi. Tidak ada yang bisa menahan apa yang Dia berikan, tidak ada yang bisa memberikan apa yang Dia tahan, dan tidak ada yang bisa menolak apa yang Dia putuskan. Dialah satu-satunya yang bisa melenyapkan setiap bencana dan menghilangkan setiap kesulitan.
 
Para malaikat, para nabi, orang-orang shalih, para wali serta semua makhluk lainnya (termasuk tanah yang telah dibacakan doa-doa atau jampi-jampi tersebut), tidak ada yang bisa menolak mudharat dan mendatangkan manfaat!
 
مَا يَفْتَحِ اللهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِن بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ﴿٢﴾
“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Faathir. 2)
 
قُل لَّا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَاْ إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ ﴿١٨٨﴾
“Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfa`atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman". (QS.Al-A’raaf. 188).
 
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ اللهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ ﴿٣٨﴾
“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka menjawab: "Allah". Katakanlah: "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya?. Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku". Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri”. (QS. Az-Zumar. 38).
 
Saudaraku,
Tidak boleh seseorang menyatakan bahwa suatu amalan adalah sebab mashlahat atau mudharrat, sementara tidak ada dalil yang mendasarinya. Mengambil segenggam tanah dari rumah yang mau dijual, kemudian dibacakan doa-doa atau jampi-jampi (meskipun do'a-do'a/jampi-jampi tersebut berupa bacaan tertentu dari Al Qur’an), kemudian menaruhnya kembali di tempat semula, dengan maksud supaya segera laku dijual adalah sebab yang tidak berdasarkan dalil.
 
Apabila orang yang melakukannya hanya meyakini itu sebab, maka dia terjerumus dalam syirik kecil karena dia telah meyakini sesuatu yang pada hakikatnya bukan sebab, sebagai sebab. Namun bila dia meyakini bahwa tanah yang telah dibacakan doa-doa atau jampi-jampi itulah yang kemudian memberi manfaat dan mudharrat, dengan sendirinya dia telah terjerumus dalam syirik besar.
 
Cukuplah bagi seorang muslim mengambil sebab-sebab yang syar'i dan diperbolehkan, seperti: iklan di media, berdo’a kepada Allah dengan adab-adab do’a, mencari sebab tidak lakunya dan menyelesaikannya dengan cara yang syar'i, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.
 
Saudaraku,
Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku" dan kepada-Nyalah aku bertawakkal.
 
... قُلْ حَسْبِيَ اللهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ ﴿٣٨﴾
“... Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku". Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri”. (QS. Az-Zumar. 38).
 
Saudaraku juga bertanya: “Jika hal itu syirik, apakah selama 40 hari amal ibadahnya ditolak Allah?”.
 
Saudaraku,
Sekali lagi kusampaikan, bagi siapapun yang dengan penuh kesadaran telah meyakini bahwa tanah yang telah dibacakan doa-doa atau jampi-jampi itulah yang memberi manfaat sehingga rumah tersebut bisa segera laku, maka jelas dia telah terjerumus dalam syirik besar.
 
Sedangkan  orang yang melakukan kesyirikan, bukan hanya amal ibadahnya yang ditolak selama 40 hari. Orang yang melakukan kesyirikan, bahkan akan menghanguskan imannya sehingga hapuslah pula amalan-amalannya dan Allah tidak mengadakan suatu penilaian bagi amalan-amalannya pada hari kiamat (na’udzubillahi mindzalika). Oleh karena itu, berhati-hatilah wahai saudaraku!
 
ذَٰلِكَ هُدَى اللهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ ﴿٨٨﴾
Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (QS. Al An’aam. 88)
 
Sedangkan bagi saudara kita yang sudah terlanjur melakukan hal itu, sampaikan kepadanya bahwa dia harus bersegera datang kepada Allah untuk bertaubat kepadanya, sebelum ajal tiba. Sampaikan kepadanya bahwa dia harus segera kembali kepada Allah dan berserah diri kepada-Nya. Dan dia juga harus mengikuti dengan sebaik-baiknya apa yang telah diturunkan Allah sebelum datang azab dari-Nya dengan tiba-tiba.
 
وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِّمَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَــٰــلِحًا ثُمَّ اهْتَدَىٰ ﴿٨٢﴾
“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar”. (QS. Thaahaa. 82).
 
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴿٥٣﴾
”Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus-asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Az Zumar. 53).
 
وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ ﴿٥٤﴾
Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). (QS. Az Zumar. 54).
 
وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ ﴿٥٥﴾
Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya, (QS. Az Zumar. 55).
 
Dari Ibnu Umar r.a, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
 
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدَ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ. (رواه الترمذى)   
“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla akan menerima taubat seorang hamba selama ruhnya belum sampai di tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi).
 
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ ﴿٨﴾
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)." (QS. Ali ‘Imran. 8). Amin, ya rabbal ‘alamin!
 
Demikian yang bisa kusampaikan. Mohon koreksinya jika ada kekurangan/kesalahan.
 
 
Semoga bermanfaat.
 
 

Sabtu, 03 Februari 2018

MENGHILANGKAN PIKIRAN NEGATIF AKIBAT DOSA MASA LALU


Assalamu’alaikum wr. wb.
 
Seorang sahabat (dosen senior sebuah perguruan tinggi negeri di Jambi) telah menyampaikan pertanyaan via WhatsApp: “Bagaimana cara menghilangkan pikiran negatif akibat dosa masa lalu, Pak Imron?”.
 
Saudaraku,
Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah SWT. adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.
 
وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِّمَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَــٰــلِحًا ثُمَّ اهْتَدَىٰ ﴿٨٢﴾
“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar”. (QS. Thaahaa. 82).
 
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴿٥٣﴾
”Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus-asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Az Zumar. 53).
 
Saudaraku,
Sebesar apapun dosa seorang hamba, asal dia mau bertaubat sebelum ajal tiba, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya ampunan Allah adalah jauh lebih besar daripada yang kita pikirkan.
 
Dari Ibnu Umar r.a, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda
:
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدَ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ. (رواه الترمذى)   
“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla akan menerima taubat seorang hamba selama ruhnya belum sampai di tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi).
 
Hadits Anas r.a. yang diriwayatkan At-Tirmidzi:
 
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً. (رواه الترمذى)  
Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: ‘Wahai Bani Adam, sesungguhnya selama engkau berdoa kepada-Ku, mengharapkan-Ku, niscaya Aku beri ampun kepadamu atas apa yang ada padamu, dan Aku tidak peduli. Wahai Bani Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai langit kemudian kamu minta ampun kepada-Ku niscaya Aku beri ampunan kepadamu, dan Aku tidak peduli. Wahai Bani Adam, sungguh, seandainya engkau datang kepada-Ku membawa dosa sepenuh bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan Aku dengan apapun, pasti Aku datang kepadamu dengan membawa ampunan sepenuh itu juga.” (HR. At-Tirmidzi)
 
Oleh karena itu jangan pernah berputus asa akan ampunan dari-Nya, wahai saudaraku. Semoga Allah merahmatimu.
 
Semoga bermanfaat.

Kamis, 01 Februari 2018

TENTANG UCAPAN NATAL DAN DO'A UNTUK NON-MUSLIM (IV)


Assalamu’alaikum wr. wb.
 
Saudaraku,
Terkait perayaan natal, seorang teman sejawat muslim (staf pengajar/dosen fakultas teknik sebuah perguruan tinggi negeri di Jawa Timur) telah membuat pernyataan/status di facebook sebagai berikut: "Selamat merayakan natal buat semua yang merayakan. Semoga kelahiran Jesus yang diperingati bisa menjadi jalan keselamatan bagi umat manusia”.
 
MARI KITA KAJI PERNYATAAN DI ATAS
 
Pernyataan tersebut bisa kita bagi menjadi dua, yaitu: (1) Selamat merayakan natal buat semua yang merayakan, dan (2) Semoga kelahiran Jesus yang diperingati bisa menjadi jalan keselamatan bagi umat manusia.
 
1.  Selamat merayakan natal buat semua yang merayakan.
 
Saudaraku,
Mereka meyakini Nabi Isa AS. sebagai Tuhan atau Anak Tuhan, bagaimana mungkin kita memberi ucapan selamat kepada mereka (apalagi jika sampai ikut merayakannya)? Padahal Nabi Isa AS. itu tidak lain hanyalah seorang hamba Allah yang Allah berikan kepadanya nikmat kenabian dan Allah jadikan dia (Nabi Isa AS) sebagai tanda bukti kekuasaan Allah untuk Bani Israil.
 
قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللهِ ءَاتَـــٰنِيَ الْكِتَـــٰبَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا ﴿٣٠﴾
Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi”. (QS. Maryam. 30)
 
إِنْ هُوَ إِلَّا عَبْدٌ أَنْعَمْنَا عَلَيْهِ وَجَعَلْنَـــٰـهُ مَثَلًا لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ ﴿٥٩﴾
“Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya ni`mat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israil”. (QS. Az Zukhruf. 59).
 
Saudaraku,
Tidak selayaknya bagi kita orang-orang yang beriman untuk mencampur-adukkan iman dengan kemusyrikan, jika kita ingin mendapat keamanan dari siksaan dan petunjuk dari-Nya.
 
 
الَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَـــــٰــنَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـــــٰــئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ ﴿٨٢﴾
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. Al A’aam. 82).
 
 
Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy): “(Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan) tidak mencampurkan (keimanan mereka dengan kelaliman) yakni kemusyrikan demikianlah menurut penafsiran yang tersebutkan di dalam hadits sahih Bukhari dan Muslim (mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan) dari siksaan (dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk)”.
 
2.  Semoga kelahiran Jesus yang diperingati bisa menjadi jalan keselamatan bagi umat manusia.
 
Saudaraku,
Jesus putera Maria (Isa AS putra Maryam) telah diyakini oleh mereka kaum Nasrani sebagai Anak Tuhan yang hanya melalui dirinya sajalah jalan keselamatan bagi umat manusia (menurut keyakinan orang-orang Nasrani, Jesus merupakan satu-satunya jalan terang menuju keselamatan). Di dalam Injil Yohanes 14: 6, Jesus berfirman: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku”.
 
Padahal (menurut Al Qur’an) Isa AS. itu tidak lain hanyalah seorang hamba Allah yang Allah berikan kepadanya nikmat kenabian dan Allah jadikan dia (Nabi Isa AS) sebagai tanda bukti kekuasaan Allah untuk Bani Israil, sebagaimana penjelasan Al Qur’an surat Maryam ayat 30 serta surat Az Zukhruf ayat 59 di atas.
 
Sehingga bagi siapapun yang dengan penuh kesadaran/dengan penuh keyakinan telah membuat pernyataan seperti ini, maka itu artinya yang bersangkutan dengan penuh kesadaran/dengan penuh keyakinan telah menyelisihi firman Allah dalam surat Al Maa-idah ayat 17 dan ayat 73 serta surat An Nisaa’ ayat 171. Lebih dari itu, ketahuilah bahwa sesungguhnya jalan keselamatan itu hanya melalui Islam (QS. Ali ‘Imraan. 85).
 
لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ... ﴿١٧﴾
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam”. (QS. Al Maa-idah. 17).
 
لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللهَ ثَالِثُ ثَلَـــٰـــثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَـــٰـهٍ إِلَّا إِلَـــٰـهٌ وَاحِدٌ وَإِن لَّمْ يَنتَهُواْ عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿٧٣﴾
Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga", padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (QS. Al Maa-idah. 73).
 
يَا أَهْلَ الْكِتَــــٰبِ لَا تَغْلُواْ فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُواْ عَلَى اللهِ إِلَّا الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَـــٰـهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِّنْهُ فَئَامِنُواْ بِاللهِ وَرُسُلِهِ وَلَا تَقُولُواْ ثَلَــــٰـــثَةٌ اِنتَهُواْ خَيْرًا لَّكُمْ إِنَّمَا اللهُ إِلَـــٰــهٌ وَاحِدٌ سُبْحَـــٰـــنَهُ أَن يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَفَىٰ بِاللهِ وَكِيلًا ﴿١٧١﴾
”Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu*, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, `Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya** yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya***. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara”. (QS. An Nisaa’ ayat 171).
 
*) Maksudnya: Janganlah kamu mengatakan Nabi ’Isa itu Allah, sebagai yang dikatakan oleh orang-orang Nasrani.
**) Maksudnya: Membenarkan kedatangan seorang nabi yang diciptakan dengan kalimat ”kun” (jadilah) tanpa bapak, yaitu Nabi ’Isa AS.
***) Disebut tiupan dari Allah karena tiupan itu berasal dari perintah Allah.
 
وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَــٰمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَـــٰسِرِينَ ﴿٨٥﴾
Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Ali ‘Imraan. 85).
 
Dan bagi siapapun yang dengan penuh kesadaran/dengan penuh keyakinan telah membuat pernyataan seperti ini, maka hal itu bisa menghanguskan imannya sehingga hapuslah pula amalan-amalannya dan Allah tidak mengadakan suatu penilaian bagi amalan-amalannya pada hari kiamat (na’udzubillahi mindzalika), karena Allah telah berfirman dalam AL Qur’an surat Ghafir ayat 4:
 
مَا يُجَـــٰـدِلُ فِي ءَايَـــــٰتِ اللهِ إِلَّا الَّذِينَ كَفَرُوا ... ﴿٤﴾
Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir ...”. (QS. Ghafir. 4).
 
Sedangkan dalam Al Qur’an surat An Nisaa’ ayat 115, Allah telah berfirman:
 
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا ﴿١١٥﴾
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”. (QS. An Nisaa’. 115).
 
Oleh karena itu, berhati-hatilah wahai saudaraku!
 
Saudaraku,
Bagi siapapun yang dengan penuh kesadaran/dengan penuh keyakinan telah membuat pernyataan seperti ini dan tidak segera bertaubat sebelum ajal menjelang, maka dia akan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang paling merugi perbuatannya, yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Na’udzubillahi mindzalika!
 
 
Perhatikan penjelasan Allah dalam Al Qur’an surat Al Kahfi ayat 103 – 106 berikut ini:
 
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَــٰــلًا ﴿١٠٣﴾ الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا ﴿١٠٤﴾ أُوْلَــــٰـــئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِئَايَـــٰتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَـــٰــلُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَــــٰــمَةِ وَزْنًا ﴿١٠٥﴾ ذَٰلِكَ جَزَاؤُهُمْ جَهَنَّمُ بِمَا كَفَرُوا وَاتَّخَذُوا ءَايَــــٰتِي وَرُسُلِي هُزُوًا ﴿١٠٦﴾
(103) Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" (104) Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (105) Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. (106) Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok. (QS. Al Kahfi. 103 – 106).
 
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ ﴿٨﴾
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)." (QS. Ali ‘Imran. 8).
 
... رَبَّنَا ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا ﴿١٠﴾
"... Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)". (QS. Al Kahfi. 10).
 
رَبَّنَا (Ya Tuhan kami),
اهدِنَــــا الصِّرَاطَ الْمُستَقِيمَ ﴿٦﴾ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ﴿٧﴾
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. (QS. Al Faatihah. 6 – 7). Amin, ya rabbal ‘alamin!
 
Demikian yang bisa kusampaikan. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku.
 
Semoga bermanfaat.


Info Buku:

Assalamu'alaikum wr. wb.

Alhamdulillah telah terbit buku "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur'an dan Hadits" jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan jilid 4.

Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz, M.Ag. yang telah berkenan untuk membaca dan memeriksa buku jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan jilid 4 tersebut.

Beliau (Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz, M.Ag.) adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Unsur Ketua MUI Jatim, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia 2009-2013, Dekan Fakultas Dakwah 2000-2004 / Guru Besar / Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 2004 - sekarang.

_____

Buku "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur'an dan Hadits" ini berisi kumpulan artikel-artikel yang pernah saya sampaikan dalam kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah menjelang shalat tarawih/ba’da shalat tarawih, kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus maupun kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook/whatsapp (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab, konsultasi, diskusi via email, facebook, sms, whatsapp, maupun media lainnya.

Semoga karya yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi saudara sesama muslim. Dan semoga amal karya yang sederhana ini dapat diterima Allah SWT. sebagai amal kebajikan, sehingga dapat menambah ketakwaan kepada-Nya. Amin, ya rabbal ‘alamin.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

Jilid 4:

Jilid 4:
Jilid 4: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-28-6

Jilid 3:

Jilid 3:
Jilid 3: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 396 halaman, ISBN 978-602-5416-27-9

Jilid 2:

Jilid 2:
Jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 324 halaman, ISBN 978-602-5416-26-2

Jilid 1:

Jilid 1:
Jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 330 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

Keterangan:

Penulisan buku di atas adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini: ”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞