بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Minggu, 05 Februari 2017

SERING GAGAL DALAM USAHA



Assalamu’alaikum wr. wb.

Seorang akhwat (dosen fakultas ekonomi sebuah perguruan tinggi negeri di Sumatera) telah menyampaikan pesan via WhatsApp sebagai berikut: “Kenapa ya Pak Imron, saya sering banget gagal saat buka usaha? Semua sudah saya perhitungkan, zakat sudah saya bayar. Apa yang salah dalam usaha saya? Matursuwun, Pak Imron”.

Saudaraku,
Sebelum aku menanggapi pertanyaan panjenengan, marilah kita perhatikan terlebih dahulu penjelasan hadits berikut ini:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ كِلَاهُمَا عَنْ الْأَسْوَدِ بْنِ عَامِرٍ قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا أَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ وَعَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِقَوْمٍ يُلَقِّحُونَ فَقَالَ لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا لَصَلُحَ قَالَ فَخَرَجَ شِيصًا فَمَرَّ بِهِمْ فَقَالَ مَا لِنَخْلِكُمْ قَالُوا قُلْتَ كَذَا وَكَذَا قَالَ أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ. (رواه مسلم)
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan 'Amru An Naqid seluruhnya dari Al Aswad bin 'Amir; Abu Bakr berkata; Telah menceritakan kepada kami Aswad bin 'Amir; Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Hisyam bin 'Urwah dari Bapaknya dari 'Aisyah dan dari Tsabit dari Anas bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah melewati suatu kaum yang sedang mengawinkan pohon kurma lalu beliau bersabda: “Sekiranya mereka tidak melakukannya, kurma itu akan (tetap) baik”. Tapi setelah itu, ternyata kurma tersebut tumbuh dalam keadaan rusak. Hingga suatu saat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melewati mereka lagi dan melihat hal itu beliau bertanya: “Ada apa dengan pohon kurma kalian?” Mereka menjawab: “Bukankah anda telah mengatakan hal ini dan hal itu?” Beliau lalu bersabda: “Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian”. (HR. Muslim).

Saudaraku,
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan tanggapan tentang cara mengawinkan pohon kurma supaya berbuah, bisa jadi petani kurma itu telah menganggap bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memasukkan otoritas agama untuk urusan duniawi di mana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mendapatkan wahyu atau kewenangan untuk itu.

Tapi ternyata dalam masalah menanam kurma tersebut, pendapat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam keliru. Pohon kurma itu malah menjadi mandul. Maka para petani kurma tersebut mengadu lagi kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, meminta pertanggungjawaban beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyadari kesalahan tanggapannya waktu itu dan dengan rendah hati berkata: “Kalau itu berkaitan dengan urusan agama ikutilah aku, tetapi kalau itu berkaitan dengan urusan dunia kamu, maka: antum a’lamu bi umuri dunyaakum (kamu sekalian lebih mengetahui urusan duniamu)”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakui keterbatasannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah penentu untuk segala hal. Rasul bukanlah orang yang paling tahu untuk segala hal. Bahkan untuk urusan dunia di jaman beliau-pun, beliau bukanlah orang yang paling tahu.

Jadi tidak mungkin jika kita menuntut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengetahui segala sesuatu hal tentang urusan dunia. Apalagi kalau mengurusi urusan kita di jaman modern ini. Lhawong di jamannya saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa ada hal-hal yang tidak beliau pahami dan hendaknya tidak mengikuti pendapat beliau dalam “urusan duniamu” tersebut.

Saudaraku,
Dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya memberikan tanggapan mengapa mesti kurma itu dikawinkan segala, mengapa tidak dibiarkan begitu saja secara alami. Permasalahan kurma tersebut tumbuh dalam keadaan rusak tidaklah terkait dengan tanggapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sedangkan makna perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:  “wa antum a’lamu bi amri dunyakum (dan kamu sekalian lebih mengetahui urusan-urusan duniamu)” ,  yang dimaksud “urusan dunia” di sini adalah khusus urusan disiplin ilmu tertentu atau pengetahuan tertentu di luar ilmu agama, seperti dalam hadits tersebut adalah ilmu pertanian, ilmu pengetahuan manusia dalam membantu perkawinan kurma.

Saudaraku,
Setelah memperhatikan uraian di atas, mari kita kaji pertanyaan yang saudaraku sampaikan.

Dari pertanyaan yang saudaraku sampaikan, aku melihat bahwa pertanyaan tersebut ada kemiripan dengan apa yang terjadi pada para petani dalam hadits di atas. Yaitu sama-sama menyangkut “urusan dunia”. Jika dalam hadits di atas yang dimaksud dengan urusan dunia adalah terkait ilmu pertanian, pada pertanyaan yang saudaraku sampaikan, banyak terkait dengan ilmu ekonomi.

“Kenapa ya Pak Imron, saya sering banget gagal saat buka usaha?”.

Saudaraku,
Sering gagal saat buka usaha, bisa jadi disebabkan oleh beberapa faktor. Antara lain: kurang cakap dalam mengatur keuangan, kurangnya modal cadangan, pemilihan lokasi usaha yang kurang tepat, layanan kepada pelanggan yang kurang baik, rencana bisnis yang kurang memadai, kemampuan untuk mengenali peluang yang kurang memadai serta kurang fleksibel untuk beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi, pemasaran yang tidak efektif, meremehkan kompetisi, terlalu fokus pada hal-hal yang kurang penting, serta networking yang kurang bagus.

Mohon maaf, disamping hanya itu yang bisa kusampaikan, bisa jadi apa yang kusampaikan tersebut masih terlalu teoritis (tidak aplikatif) dan juga tidak tertutup kemungkinan masih banyak kesalahan di sana-sini. Harap maklum, karena latar belakang pendidikan formalku adalah ilmu teknik, bukan ilmu ekonomi.

Dalam hal ini, aku lebih senang untuk kembali mengacu kepada perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadits di atas: “wa antum a’lamu bi amri dunyakum (dan kamu sekalian lebih mengetahui urusan-urusan duniamu)”.

Saudaraku mengatakan: “..., zakat sudah saya bayar. Apa yang salah dalam usaha saya?”.

Saudaraku,
Mengaitkan pembayaran zakat dengan kesuksesan usaha, tentunya akan sangat membahayakan “keselamatan” amalan saudaraku.

Saudaraku,
Ada dua kunci utama agar semua ibadah yang kita lakukan diterima Allah SWT., yaitu ikhlas dan ittiba’. Ikhlas berarti melakukannya semata-mata karena Allah, sedangkan ittiba’ berarti mengikuti cara peribadatan yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam contohkan.

قُلِ اللهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَّهُ دِينِي ﴿١٤﴾
”Katakanlah: "Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku". (QS. Az Zumar. 14).

Sedangkan dalam rangkaian ittiba’ kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mari kita mengkaji firman Allah SWT. pada bagian akhir ayat 7 dari surat Al Hasyr berikut ini:

... وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ ﴿٧﴾
“... Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya”. (QS Al Hasyr. 7).

Sehingga dari uraian tersebut, dengan mudah dapat kita simpulkan bahwa mengaitkan pembayaran zakat dengan kesuksesan usaha, tentunya akan sangat membahayakan “keselamatan” amalan saudaraku. Artinya kita tidak akan beroleh apapun dari amalan zakat yang kita lakukan (kita tidak akan mendapatkan pahala dari Allah, na’udzubillahi mindzalika). Perhatikan penjelasan hadits berikut ini:

عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ عَنْ عُمَرَأَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ. (رواه البخارى)    
Dari Alqamah bin Waqash dari Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; barangsiapa niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan”. (HR. Bukhari).

Saudaraku,
Hadits tersebut menunjukkan bahwa niat itu merupakan timbangan penentu kesahihan amal. Apabila niatnya baik, maka amal menjadi baik. Sedangkan apabila niatnya buruk, maka amalnya-pun menjadi buruk. Sedangkan yang dimaksudkan di sini adalah terkait dengan ”keikhlasan” kita dalam melaksanakan perintah Allah.

Dalam hadits di atas, dijelaskan bahwa jika hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa yang dia diniatkan, artinya yang bersangkutan tidak akan memperoleh apapun dari Allah (tidak akan mendapatkan pahala dari Allah) dari hijrah yang dia lakukan.

Demikian juga pada saat bersedekah. Hal ini-pun harus kita niatkan karena Allah semata agar bisa membuahkan pahala. Sedangkan jika kita berniat karena ingin mendapat pujian dari orang lain/riya’ atau karena yang lainnya, maka akan rusaklah amalan kita tersebut. Artinya kita tidak akan beroleh apapun dari sedekah yang kita lakukan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُبْطِلُواْ صَدَقَــــٰــتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُواْ وَاللهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَـــٰــفِرِينَ ﴿٢٦٤﴾
”Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”. (QS. Al Baqarah. 264).

Sehingga dari uraian di atas, dengan mudah dapat dipahami bahwa untuk menjaga kemurnian ibadah saudaraku, maka pada saat saudaraku membayar zakat, jangan kaitkan sama sekali dengan kesuksesan dalam usaha saudaraku, agar amalan yang saudaraku lakukan tidak sia-sia.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّٰهِ رَبِّ الْعَــٰــلَمِينَ ﴿١٦٢﴾ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ ﴿١٦٣﴾
“Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”, (QS. Al An’aam. 162). “tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". (QS. Al An’aam. 163).

Sekali lagi, apapun yang saudaraku lakukan (termasuk dalam berzakat), cukuplah jika semuanya itu saudaraku niatkan hanya karena Allah semata agar amalan yang saudaraku lakukan tidak sia-sia.

Saudaraku,
Mohon maaf, hanya itu yang bisa kusampaikan. Hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku.

Aku melihat pertanyaan saudaraku tersebut memang sulit, karena tidak murni masalah agama namun juga banyak terkait dengan bidang ilmu ekonomi. Seandainya pertanyaan yang saudaraku sampaikan adalah murni masalah agama, biasanya kita dengan mudah bisa mencari solusinya dengan merujuk kepada Al Qur'an atau Al Hadits.

Beliau mengatakan: “Wa’alaikumussalam. Alhamdulillah, penjelasannya sangat lengkap. Saya yang selama ini salah memahami antara zakat dan kesuksesan. Saya meminta balasan atas amalan saya. Astagfirullah... Matur nuwun, Pak Imron”.

Alhamdulillah, Ya Rabb!
Engkau telah memberi kesempatan kepada hamba untuk berbagi ilmu kepada saudara hamba. Semoga Engkau berkenan memberi kekuatan kepada hamba, sehingga hamba tetap mampu untuk terus menebar kebaikan kepada sesama, hingga akhir hayat hamba. Amin, ya rabbal ‘alamin!

عَنْ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ...، وَخَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Jabir r.a berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “..., Dan sebaik-baik manusia ialah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain”. (HR. at-Thabrani).

Semoga bermanfaat.

Jumat, 03 Februari 2017

MEMULIAKAN TAMU (II)



Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku,
Sekali lagi kusampaikan, bahwa sesungguhnya Islam telah mengajarkan kepada kita agar menghormati/memuliakan saudara kita yang datang bertamu ke rumah kita. Penghormatan tersebut tidak hanya sebatas pada tutur kata yang halus untuk menyambutnya, namun juga diiringi dengan perbuatan yang menyenangkan. Misalnya dengan memberikan jamuan, meski hanya sekedarnya.

Perhatikan bagaimana Nabi Ibrahim AS dalam memuliakan tamu-tamunya, sebagaimana dikisahkan Al Qur’an dalam surat Adz Dzaariyaat ayat 25 – 27 berikut ini (di sini dikutipkan ayat 24 – 28):

هَلْ أَتَـــىٰـكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ ﴿٢٤﴾ إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَـــٰمًا قَالَ سَلَــٰمٌ قَوْمٌ مُّنكَرُونَ ﴿٢٥﴾ فَرَاغَ إِلَىٰ أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ ﴿٢٦﴾ فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ ﴿٢٧﴾ فَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوا لَا تَخَفْ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَـــٰمٍ عَلِيمٍ ﴿٢٨﴾
(24). Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (25). (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: "Salaaman", Ibrahim menjawab: "Salaamun" (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. (26). Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), (27). lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim berkata: "Silakan kamu makan". (28). (Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata: "Janganlah kamu takut," dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishaq). (QS. Adz Dzaariyaat. 24 – 28).

Saudaraku,
Memberikan jamuan kepada tamu termasuk sunnah Nabi Ibrahim AS. yang telah diperintahkan oleh Allah SWT. kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta kita ummatnya untuk mengikutinya. Dalam surat An Nahl ayat 123, Allah SWT. telah berfirman:

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴿١٢٣﴾
“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif*” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”. (QS. An Nahl. 123).

Sedangkan dalam hadits berikut ini, diperoleh penjelasan bahwa para malaikat akan tetap mendo’akan seseorang selama hidangan makanannya masih terhampar untuk para tamunya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَاتَزَالُ تُصَلِّى عَلَى أَحَدِكُمْ مَادَامَتْ مَائِدَتُهُ مَوْضُوعَةً. (رواه الترمذى)
“Sesungguhnya para malaikat tetap mendo’akan seseorang selama hidangan makannya masih terhampar (yakni untuk tamu-tamu)”. (HR. At-Tirmidzi).

Saudaraku,
Meskipun dalam surat Adz Dzaariyaat ayat 26 di atas dijelaskan bahwa Nabi Ibrahim AS telah menjamu tamunya dengan daging anak sapi gemuk yang dibakar, hal ini bukan berarti kita juga diperintahkan untuk menjamu tamu kita dengan jamuan serupa jika kita memang tidak mampu. Kita tidak perlu memaksakan diri untuk menjamu tamu kita dengan hidangan yang di luar kemampuan kita.

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ كُنَّا عِنْدَ عُمَرَ فَقَالَ نُهِينَا عَنْ التَّكَلُّفِ. (رواه البخارى)
Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Tsabit dari Anas berkata, pernah kami di sisi Umar dan beliau berkata: “Kami dilarang dari perbuatan yang memaksakan diri”. (HR. Al-Bukhari).

Semoga bermanfaat.

{Tulisan ke-3 dari 3 tulisan}

NB.
*)  Hanif maksudnya: seorang yang selalu berpegang kepada kebenaran dan tak pernah meninggalkannya.



Rabu, 01 Februari 2017

MEMULIAKAN TAMU (I)



Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku,
Ketahuilah bahwa sesungguhnya tamu itu membawa rejeki. Bahkan tidak hanya itu (tidak hanya membawa rejeki), tamu adalah juga membawa pengampunan dosa bagi tuan rumah. Perhatikan penjelasan hadits berikut ini:

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا دَخَلَ الضَّيْفُ عَلَى الْقَوْمِ دَخَلَ بِرِزْقِهِ وَإِذَا خَرَجَ خَرَجَ بِمَغْفِرَةِ ذُنُوبِهِمْ. (رواه الديلمى)
Apabila tamu telah masuk ke rumah seseorang, maka ia masuk dengan membawa rejekinya dan jika ia keluar, keluar membawa pengampunan dosa orang-orang rumah itu. (HR. Ad-Dailami).

Sedangkan terkait dengan kedatangan seseorang yang bertamu ke rumah kita, maka ketahuilah bahwa Islam telah mengajarkan kepada kita kaum muslimin agar menghormati/memuliakan tamu kita tersebut.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ. (رواه البخارى ومسلم)
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka katakanlah yang baik atau diam. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia memuliakan tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya dia memuliakan tamunya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim).

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ أَبِي حَصِينٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ. (رواه البخارى)
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Abu Al Ahwash dari Abu Hashin dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, janganlah ia mengganggu tetangganya, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia memuliakan tamunya dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia berkata baik atau diam". (HR. Al-Bukhari).

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ قَالَ حَدَّثَنِي سَعِيدٌ الْمَقْبُرِيُّ عَنْ أَبِي شُرَيْحٍ الْعَدَوِيِّ قَالَ سَمِعَتْ أُذُنَايَ وَأَبْصَرَتْ عَيْنَايَ حِينَ تَكَلَّمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتَهُ قَالَ وَمَا جَائِزَتُهُ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ وَالضِّيَافَةُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ فَمَا كَانَ وَرَاءَ ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ عَلَيْهِ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ. (رواه البخارى)
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami Al Laits dia berkata; telah menceritakan kepadaku Sa'id Al Maqburi dari Abu Syuraih Al 'Adawi dia berkata; "Saya telah mendengar dengan kedua telingaku dan melihat dengan kedua mataku ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengucapkan sabdanya: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia memuliakan tetangganya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia memuliakan tamunya, dan menjamunya" dia bertanya; 'Apa yang dimaksud dengan menjamunya wahai Rasulullah?" beliau menjawab: "yaitu pada siang dan malam harinya, bertamu itu tiga hari, lebih dari itu adalah sedekah bagi tamu tersebut." Dan beliau bersabda: "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia berkata dengan baik atau diam". (HR. Al-Bukhari).

Demikian,
Semoga bermanfaat.

{ Bersambung; tulisan ke-1 dari 2 tulisan }

Info Buku

Assalamu'alaikum wr. wb.

Alhamdulillah buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur'an dan Hadits" Jilid 1 dan 2, telah dibaca & diperiksa oleh Prof. Dr. H. M. Ali Aziz, MAg.

Beliau adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Unsur Ketua MUI Jatim, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia 2009-2013, Dekan Fakultas Dakwah 2000-2004/Guru Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 2004 - sekarang.

Penulisan buku tersebut adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini:

”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Jilid 1:

Jilid 1:
Jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 330 halaman, ISBN: 978-602-396-004-0

Jilid 2:

Jilid 2:
Jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 324 halaman, ISBN: 602-396-005-7

Buku tersebut (Jilid 1 dan Jilid 2) merupakan kumpulan artikel yang pernah kusampaikan dalam ceramah/kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah ba’da shalat tarawih, ceramah/kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus/kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab/konsultasi/diskusi via email/facebook/sms/media lainnya.

Artikel-artikel tersebut telah dihimpun menjadi 13 bab yang disusun secara berurutan mulai dari bab awal yang membahas tentang kebenaran Al Qur'an serta kebenaran Agama Islam dengan harapan dapat memperkuat pondasi keimanan kita, hingga membahas berbagai problematika kehidupan sehari-hari dan diakhiri dengan bab yang membahas tentang kehidupan sesudah mati. Ditambah dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, diharapkan hal ini dapat menambah wawasan bagi yang ingin belajar banyak tentang nilai-nilai keislaman yang lebih dalam.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke sini: imronkuswandi@gmail.com atau via inbox (facebook) di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

____________________

Alhamdulillah, saat ini telah terbit buku:Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” Jilid 3. Buku jilid 3 ini merupakan kelanjutan dari buku jilid 1 dan jilid 2.

Jilid 3:

Jilid 3:
Jilid 3: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 396 halaman, ISBN: 978-602-006-4

Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Prof. Dr. H. M. Ali Aziz, M.Ag. yang telah memberi motivasi untuk menulis buku serta telah berkenan membaca dan memeriksa buku jilid 1 dan jilid 2 untuk kemudian memberikan banyak masukan dan kembali memotivasi untuk terus menulis buku-buku berikutnya. Dan alhamdulillah atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan penulisan buku jilid 3 ini.

Semoga karya yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi saudara sesama muslim. Dan semoga amal karya yang sederhana ini dapat diterima Allah SWT. sebagai amal kebajikan, sehingga dapat menambah ketakwaan kepada-Nya. Amin, ya rabbal ‘alamin.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞