بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Minggu, 05 Agustus 2018

MENGINGATKAN IBUNDA DARI PERILAKU TIDAK BAIK



Assalamu’alaikum wr. wb.

Seorang akhwat (teman sekolah di SMPN 1 Blitar) telah menyampaikan pertanyaan via WhatsApp sebagai berikut: “Pak Imron, ada yang ingin saya sampaikan ganjalan hati saya. Maaf sebelumnya kalau mengganggu, ini mengenai ibu saya. Setiap ada tamu saya ke rumah, tanggapannya tidak mengenakkan bahkan cenderung mengusir mereka, padahal mereka hanya ingin silaturrahim, baik cewek maupun cowok, apalagi yang sudah beristri, padahal kadang mereka hanya (ingin) mampir. Ini membuat saya sering bertengkar dengan ibu saya, bahkan pernah saya dilarang ikut berbagi kegiatan karena rumah ibu jadi kotor alasannya. Apa yang harus saya lakukan, Pak Imron?”.

Saudaraku,
Jika memang benar demikian keadaannya, maka yang pertama harus saudaraku lakukan adalah memberikan pengertian kepada sang bunda agar jangan banyak berprasangka. Sampaikan kepada ibunda tercinta agar menjauhi kebanyakan dari prasangka, karena sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ... ﴿١٢﴾
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, ...”. (QS. Al Hujuraat. 12).

حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا. (رواه البخارى)
Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Muhammad telah mengabarkan kepada kami Abdullah telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Hammam bin Munabbih dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: “Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta, janganlah kalian saling mendiamkan, janganlah suka mencari-cari isu, saling mendengki, saling membelakangi, serta saling membenci, tetapi jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara”. (HR. Imam Bukhari(.

Saudaraku,
Sampaikan kepada ibunda tercinta bahwa kita tidak boleh menyakiti saudara sesama mu'min tanpa kesalahan yang mereka perbuat (seperti mengusir kedatangan mereka padahal mereka hanya ingin silaturrahim).

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَـــٰتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَــــٰـــنًا وَإِثْمًا مُّبِينًا ﴿٥٨﴾
Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu'min dan mu'minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (QS. Al Ahzaab. 58).

Saudaraku,
Sampaikan pula kepada ibunda tercinta bahwa berprasangka buruk itu hanya akan menyesakkan dada. Sebaliknya, berprasangka baik justru bisa melapangkan hati kita dan membersihkan hati kita sehingga bisa membuat jiwa kita menjadi tenang.  

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿٢٧﴾ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴿٢٨﴾ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ﴿٢٩﴾ وَادْخُلِي جَنَّتِي ﴿٣٠﴾
(27) Hai jiwa yang tenang. (28) Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. (29) Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, (30) dan masuklah ke dalam surga-Ku. (QS. Al Fajr. 27 – 30).

Saudaraku,
Pada saat yang sama, sampaikan pula bahwa sesungguhnya tamu itu datang dengan membawa rejeki. Bahkan tidak hanya itu (tidak hanya membawa rejeki), tamu adalah juga membawa pengampunan dosa bagi tuan rumah. Adakah diantara kita yang tidak senang jika mendapatkan rejeki, terlebih lagi mendapatkan pengampunan dosa?

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا دَخَلَ الضَّيْفُ عَلَى الْقَوْمِ دَخَلَ بِرِزْقِهِ وَإِذَا خَرَجَ خَرَجَ بِمَغْفِرَةِ ذُنُوبِهِمْ. (رواه الديلمى)
Apabila tamu telah masuk ke rumah seseorang, maka ia masuk dengan membawa rejekinya dan jika ia keluar, keluar membawa pengampunan dosa orang-orang rumah itu. (HR. Ad-Dailami).

Bahkan tidak hanya itu, wahai saudaraku. Sampaikan kepada ibunda tercinta bahwa bahwa sesungguhnya tamu itu datang tidak hanya membawa rejeki dan membawa pengampunan dosa bagi tuan rumah saja. Jika kita menghormati/memuliakan tamu kita (misalnya dengan memberikan jamuan meski hanya sekedarnya), maka para malaikat akan tetap mendo’akan kita selama hidangan makanan tersebut masih terhampar untuk para tamu kita1.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَاتَزَالُ تُصَلِّى عَلَى أَحَدِكُمْ مَادَامَتْ مَائِدَتُهُ مَوْضُوعَةً. (رواه الترمذى)
“Sesungguhnya para malaikat tetap mendo’akan seseorang selama hidangan makannya masih terhampar (yakni untuk tamu-tamu)”. (HR. At-Tirmidzi)

Saudaraku mengatakan: “Ini membuat saya sering bertengkar dengan ibu saya, bahkan pernah saya dilarang ikut berbagi kegiatan karena rumah ibu jadi kotor alasannya”.

Saudaraku,
Perhatikan penjelasan Al Qur’an surat Al ‘Ankabuut ayat 8 dan surat Luqman ayat 15 berikut ini:

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا وَإِن جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ﴿٨﴾
“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. Al ‘Ankabuut. 8).

وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ﴿١٥﴾
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. Luqman. 15).

Dari dua ayat di atas, diperoleh penjelasan bahwa sekalipun kedua orang tua kita memaksa kita untuk mempersekutukan Allah, ternyata Allah tetap memerintahkan kita untuk berbakti kepada keduanya/mempergauli keduanya di dunia ini dengan baik. Padahal perbuatan syirik (mempersekutukan Allah) adalah dosa terbesar dari semua dosa, hingga Allah tidak akan mengampuni dosa syirik tersebut.

إِنَّ اللهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا ﴿٤٨﴾
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (QS. An Nisaa’. 48).

Nah, jika keduanya memaksa kita untuk mempersekutukan Allah saja ternyata Allah tetap memerintahkan kita untuk berbakti kepada keduanya/mempergauli keduanya di dunia ini dengan baik, lalu bagaimanakah jika keduanya hanya melakukan kekhilafan yang kecil saja, bahkan tidak sebanding dengan dosa syirik?

Oleh karena itu, mulai saat ini jangan pernah lagi bertengkar dengan ibunda tercinta. Tetaplah berbakti kepadanya/tetaplah berbuat baik kepadanya selagi beliau masih hidup bersama kita di dunia ini, meski beliau telah berbuat salah kepada kita, sebesar apapun kesalahannya.

Jika beliau memang mengatakan bahwa berbagai kegiatan positif yang selama ini saudaraku lakukan bersama dengan teman-teman telah membuat rumah ibu jadi kotor, sampaikan permohonan maaf kepadanya kemudian tindaklanjuti dengan segera membersihkan rumah tersebut hingga kembali bersih seperti semula.

Sebagai tambahan,
Ada satu hal yang harus kita perhatikan saat menyampaikan hal itu semua kepada ibunda tercinta, bahwa disamping harus kita sampaikan dengan cara yang baik (sebagaimana penjelasan surat An Nahl ayat 125)2, kita juga musti belajar banyak terhadap apa yang telah dilakukan oleh Nabi Musa AS., dimana beliau telah menyampaikan dakwah kepada Fir’aun dengan kata-kata yang lemah lembut sebagaimana perintah Allah SWT dalam surat Thaahaa berikut ini:

اِذْهَبْ أَنتَ وَأَخُوكَ بِئَايَـــٰتِي وَلَا تَنِيَا فِي ذِكْرِي ﴿٤٢﴾ اِذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ ﴿٤٣﴾ فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ ﴿٤٤﴾
(42) “Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku”; (43) “Pergilah kamu berdua kepada Fir`aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas”; (44) “maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut". (QS. Thaahaa. 42 – 44).

Nah, jika kepada Fir’aun saja Allah telah memerintahkan Nabi Musa AS. untuk menyampaikan dakwah dengan kata-kata yang lemah lembut, apalagi kepada ibunda tercinta!

Saudaraku,
Ada satu hal lagi yang harus kita perhatikan, yaitu jangan pernah bosan untuk terus dan terus menyampaikan hal-hal di atas kepada ibunda tercinta, selama beliau masih hidup bersama kita di dunia ini. Karena Allah telah berfirman dalam surat At Tahriim ayat 6 berikut ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَـــٰــئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ﴿٦﴾
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At Tahriim ayat 6).

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ ﴿٤١﴾
Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mu'min pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)". (QS. Ibrahim. 41).

... رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَـــٰسِرِينَ ﴿٢٣﴾
Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Al-A’raaf. 23)

Demikian yang bisa kusampaikan. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku.

Semoga bermanfaat.

NB.
1)  Meskipun demikian, hal ini bukan berarti kita mesti menjamu tamu kita dengan jamuan berupa hidangan makanan/minuman/lainnya jika kita memang tidak mampu (kita tidak perlu memaksakan diri untuk menjamu tamu kita dengan hidangan yang di luar kemampuan kita).

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ كُنَّا عِنْدَ عُمَرَ فَقَالَ نُهِينَا عَنْ التَّكَلُّفِ. (رواه البخارى)
Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Tsabit dari Anas berkata, pernah kami di sisi Umar dan beliau berkata: “Kami dilarang dari perbuatan yang memaksakan diri”. (HR. Al-Bukhari).

2)  Berikut ini penjelasan surat An Nahl ayat 125:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ ﴿١٢٥﴾
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah* dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. An Nahl. 125). *) Hikmah: ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

Jumat, 03 Agustus 2018

MAKNA HALAL BI HALAL



Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku,
Secara bahasa, halal bi halal adalah kata majemuk dalam Bahasa Arab dan berarti halal dengan halal atau sama-sama halal. Tapi kata majemuk ini tidak dikenal dalam kamus-kamus Bahasa Arab maupun pemakaian masyarakat Arab sehari-hari.

Kata majemuk ini tampaknya memang made in Indonesia, yang tidak dikenal oleh masyarakat/bangsa Arab. Kata halal bi halal tersebut justru diserap dari Bahasa Indonesia dan diartikan sebagai hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadhan, yang biasanya diadakan di sebuah tempat oleh sejumlah orang dan merupakan suatu kebiasaan khas di negara kita.

Saudaraku,
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa halal bi halal berasal dari lafadz Arab yang disusun dengan tidak memperhatikan/tidak berdasarkan tata bahasa Bahasa Arab (ilmu nahwu).

Faktanya, halal bi halal yang berarti halal dengan halal atau sama-sama halal, yang bermakna saling menghalalkan/saling memaafkan yang sekaligus bermakna menjalin/menyambung tali silaturrahim (صِلَةُ الرَّحِمِ  ), yang tentunya merupakan bagian dari risalah Islam (dan hal seperti ini sebenarnya tidak hanya terbatas saat hari raya Idul fitri saja).

Saudaraku,
Sekali lagi kusampaikan, bahwa halal bi halal yang berarti halal dengan halal atau sama-sama halal, yang bermakna saling menghalalkan/saling memaafkan yang sekaligus bermakna menjalin/menyambung tali silaturrahim, merupakan bagian dari risalah Islam karena hal ini memang ada dalil yang mendasarinya. Perhatikan firman Allah dalam surat Al A’raaf ayat 199 berikut ini:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَـــٰهِلِينَ ﴿١٩٩﴾
Jadilah engkau pema`af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma`ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh. (QS. Al A’raaf. 199).

Sedangkan terkait perintah untuk mengadakan hubungan silaturrahim dan tali persaudaraan, bisa dilihat penjelasan Al Qur’an dalam surat An Nisaa' ayat 1 dan surat Ar Ra'd ayat 21, serta dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari & Imam Muslim dan sebuah hadits lainnya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Hibban, dan al-Hakim berikut ini:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُواْ اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ﴿١﴾
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (QS. An Nisaa’. 1).

وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ ﴿٢١﴾
"dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan*, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk". (QS. Ar Ra’d. 21).

*) Maksudnya ialah mengadakan hubungan silaturrahim dan tali persaudaraan.

Dalam sebuah Hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Barangsiapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung hubungan rahimnya (hendaklah ia senantiasa menjaga hubungan silaturrahim)**.” (Muttafaqun ‘alaih).

**) Shilaturrahim terdiri dari 2 kata, yakni shilat ( صِلَةُ ) yang berarti menyambungkan atau menghimpun, dan ar-rahiim ( الرَّحِمِ ) yang berarti kasih sayang, sehingga shilaturrahim diartikan sebagai menghubungkan kasih sayang antar sesama.

Sedangkan dalam Hadits yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَفْشِ السَّلَامَ، وَأَطْعِم ِالطَّعَامَ، وَصِلِ الْأَرْحَامَ، وَقُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ، وَادْخُلِ الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ.
“Tebarkanlah salam, berilah (orang) makanan, sambunglah karib kerabat (silaturrahim), berdirilah (shalat) di malam hari ketika manusia tidur, dan masuklah kamu ke dalam surga dengan selamat.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan al-Hakim dari Abu Hurairah(.

Saudaraku,
Ada satu hal yang perlu kusampaikan di sini, bahwa kegiatan saling memaafkan serta kegiatan mengadakan hubungan silaturrahim dan tali persaudaraan adalah termasuk ibadah ghairu mahdhah, yaitu ibadah yang ada perintahnya, namun tentang tata caranya, tempatnya, waktunya, berapa banyaknya, dst. tidak ada ketetapan dari Al Qur’an maupun Hadits sehingga terbuka kesempatan bagi kita untuk berkreasi dalam pelaksanaannya.

Dengan demikian, tindakan mengkhususkan pada hari-hari tertentu (seperti mengkhususkan pada hari raya Idul Fitri saja) untuk bermaaf-maafan sekaligus mengadakan hubungan silaturrahim dan tali persaudaraan, hal ini jelas merupakan perbuatan penambahan syariat baru dalam Islam tanpa adanya landasan dalil.

Sedangkan jika kita mengada-adakan “ibadah baru” yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam/tidak ada dalil yang mendasarinya baik dari Al Qur’an maupun Al Hadits, maka jelas hal ini adalah perbuatan bid’ah.

Diriwayatkan dari Jabir berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ. (رواه مسلم) 
“Kemudian daripada itu. Maka sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah Kitabullah. Dan sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan. Maka sesungguhnya setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap kebid’ahan adalah sesat.” (HR. Muslim)

Saudaraku,
Adapun yang benar adalah bahwa bermaaf-maafan sekaligus mengadakan hubungan silaturrahim dan tali persaudaraan tersebut merupakan salah satu bentuk ibadah ghairu mahdhah yang pelaksanaannya bisa kapan saja tidak terkait dengan hari-hari tertentu. Artinya bisa dilaksanakan pada hari raya Idul Fitri atau waktu lainnya. Sehingga kalaupun harus melaksanakannya pada hari raya Idul Fitri, tentunya tidak masalah selama diiringi keyakinan bahwa hal seperti ini sebenarnya tidak hanya terbatas saat Idul fitri. (Wallahu ta’ala a’lam).

Penjelasan tambahan:
Ibadah dalam Islam, ada yang disebut sebagai ibadah mahdhah (ibadah yang murni hubungan antara manusia dengan Allah), ada juga yang disebut sebagai ibadah ghairu mahdhah (ibadah yang bukan murni berhubungan secara langsung dengan Allah).
   Ibadah mahdhah adalah ibadah yang tata caranya, tempatnya, waktunya, berapa banyaknya, dst. sudah ada ketetapan dari Al Qur’an maupun Hadits sehingga tidak ada celah kreatifitas bagi kita dalam melaksanakannya. Contoh: wudhu, tayammum, mandi suci dari hadats, adzan, iqamat, shalat, i’tikaf di masjid, puasa, haji, umrah, dll.
   Ibadah ghairu mahdhah adalah ibadah yang ada perintahnya, namun tentang tata caranya, tempatnya, waktunya, berapa banyaknya, dst. tidak ada ketetapan dari Al Qur’an maupun Hadits sehingga terbuka kesempatan bagi kita untuk berkreasi dalam pelaksanaannya (biasanya terkait muammalah). Contoh: menuntut ilmu dan menyebarkannya, berdakwah/amar ma’ruf nahi munkar, dll.

Demikian yang bisa kusampaikan. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku.

Semoga bermanfaat.

Info Buku:

Assalamu'alaikum wr. wb.

Alhamdulillah telah terbit buku "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur'an dan Hadits" jilid 5.

Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz, M.Ag. yang telah memberi motivasi untuk menulis buku serta telah berkenan membaca dan memeriksa buku jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan jilid 4, kemudian memberikan banyak masukan dan kembali memotivasi untuk terus menulis buku-buku berikutnya. Dan alhamdulillah atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, penulisan buku jilid 5 ini dapat terselesaikan.

Beliau (Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz, M.Ag.) adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Unsur Ketua MUI Jatim, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia 2009-2013, Dekan Fakultas Dakwah 2000-2004 / Guru Besar / Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 2004 - sekarang.

_____

Buku "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur'an dan Hadits" ini berisi kumpulan artikel-artikel yang pernah saya sampaikan dalam kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah menjelang shalat tarawih/ba’da shalat tarawih, kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus maupun kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook/whatsapp (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab, konsultasi, diskusi via email, facebook, sms, whatsapp, maupun media lainnya.

Semoga karya yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi saudara sesama muslim. Dan semoga amal karya yang sederhana ini dapat diterima Allah SWT. sebagai amal kebajikan, sehingga dapat menambah ketakwaan kepada-Nya. Amin, ya rabbal ‘alamin.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

Buku Jilid 5

Buku Jilid 5
Buku jilid 5: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-29-3

Buku Jilid 4

Buku Jilid 4
Buku jilid 4: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-28-6

Buku Jilid 3

Buku Jilid 3
Buku jilid 3: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 396 halaman, ISBN 978-602-5416-27-9

Buku Jilid 2

Buku Jilid 2
Buku jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 324 halaman, ISBN 978-602-5416-26-2

Buku Jilid 1

Buku Jilid 1
Buku jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 330 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

Keterangan:

Penulisan buku di atas adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini: ”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞