Assalamu'alaikum wr. wb.
Seorang teman telah bertanya: ”Pak Imron, saya mohon penjelasan tentang bagaimana posisi laki-laki atas kaum hawa dalam Islam (Al Qur’an). Soalnya tadi saya mendengar perdebatan teman saya tentang hal ini. Dan membuat saya ingin tahu lebih dalam. Terima kasih”.
-----
Saudaraku…,
Posisi laki-laki atas kaum hawa dalam Islam itu bermacam-macam, tergantung dalam kedudukannya sebagai apa.
Dalam kedudukannya sebagai hamba Allah, maka posisi laki-laki dan kaum hawa adalah sama saja. Demikian juga antara yang kaya dengan yang miskin, antara pejabat dengan rakyat jelata, antara bangsa Arab dengan bangsa lainnya, dst. Semuanya itu dihadapan Allah adalah sama saja. Karena orang yang paling mulia di antara kita di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa kepada-Nya (tidak dilihat dari jenis kelaminnya, kekayaannya, jabatannya, suku bangsanya, dst).
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Al Hujuraat. 13).
Dalam lingkup keluarga, maka laki-laki (suami) itu adalah pemimpin bagi kaum wanita (istri). Demikian penjelasan Al Qur’an dalam surat An Nisaa’ ayat 34, yang artinya adalah sebagai berikut:
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta`at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta`atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (QS. An Nisaa’. 34).
Sedangkan dalam kedudukannya sebagai seorang ibu, maka selain kepada Allah dan rasul-Nya (Muhammad SAW.), beliau adalah orang yang harus kita hormati melebihi semua manusia yang lainnya. Yah..., berbakti kepadanya benar-benar menduduki tempat tertinggi, melebihi semua yang lain.
Abuhurairah r.a. berkata: Seseorang datang kepada Rasulullah s.a.w. dan bertanya: “Ya Rasulullah, siapakah yang berhak untuk aku layani (untuk aku patuhi)?”. Jawab Rasulullah: “Ibumu!”. Kemudian siapa?”. Jawab Rasulullah: “Ibumu!”. Kemudian siapa?”. Jawab Rasulullah: “Ibumu!”. Kemudian siapa?”. Jawab Rasulullah: “Ayahmu!”. (H. R. Bukhari, Muslim).
“Jagalah ibumu, karena surga itu di bawah tapak kakinya”. (H. R. Ibn Majah, Annasa’i, dan Alhaakim).
Demikian seterusnya. Sehingga jika saudaraku belajar Islam lebih jauh lagi, nampaklah bahwa sesungguhnya Islam begitu memuliakan kaum hawa, sama seperti halnya Islam memuliakan kaum adam. Hal ini sangat berbeda dengan propaganda pihak-pihak yang dengki terhadap kebenaran Islam, dimana mereka hanya menyampaikan ”secuil” informasi yang tidak lengkap, sehingga seolah-olah terkesan bahwa Islam adalah agama yang memandang rendah kaum hawa.
Demikian penjelasan yang bisa aku sampaikan. Mohon koreksinya jika ada kekurangan / kesalahan. Juga mohon maaf jika kurang berkenan. Hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku.
Semoga bermanfaat.
Assalamu’alaikum wr. wb.
Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.
Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritikan/koreksinya. Kritik dan saran bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau melalui "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel. Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain. Untuk lebih jelasnya, bisa klik di sini: http://imronkuswandi.blogspot.com/2011/01/menyebarkan-kebaikan.html
Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan. Hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.)
Senin, 05 Maret 2012
POSISI LAKI-LAKI TERHADAP KAUM HAWA
Sabtu, 03 Maret 2012
TENTANG NAMA TUHAN
Dalam sebuah diskusi terbuka di facebook, seorang teman dari Sulawesi dengan santainya membuat pernyataan berikut ini: ”Tuhan menghadirkan diri-Nya dalam setiap ciptaan-Nya. Siapapun yang menyadari kebesaran-Nya akan melampaui semua hal, termasuk peluru dan rasa takut. Ia mewujud tanpa nama, karena Ia tak memerlukannya. Kitalah yang memberi-Nya nama. Ada yang menyebut-Nya Allah, Tuhan, Sang Hyang Widhi, Tao, Yahweh, Eloi, God, bahkan orang Ambon menyebut-Nya Tete Manis. Penamaan hanya ada dalam aturan pikiran manusia. Manusia harus memberi nama untuk dapat mengenali sesuatu”.
-----
Saudaraku...,
Ada dua kesalahan sangat besar dari pernyataannya tersebut. Kesalahan yang pertama, beliau mengatakan bahwa ”Ia mewujud tanpa nama, karena Ia tak memerlukannya. Kitalah yang memberi-Nya nama”. Padahal, Tuhan telah menjelaskan bahwa Dia mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Hal ini berdasarkan penjelasan-Nya dalam Al Qur'an surat Al Hasyr ayat 24 yang artinya adalah sebagai berikut:
”Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al Hasyr. 24).
Dan kesalahan yang kedua adalah, beliau telah mengatakan bahwa ”Allah" adalah nama pemberian manusia kepada Tuhan. Padahal Tuhan sendirilah yang memberi nama Diri-Nya Allah, bukan manusia atau makhluk yang lain. Hal ini berdasarkan penjelasan-Nya dalam Al Qur'an surat Thaahaa ayat 14 yang artinya adalah sebagai berikut:
”Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”. (QS. Thaahaa. 14).
-----
Saudaraku...,
Janganlah "membaca" Al Qur'an berdasarkan persepsi kita sendiri. Bagiku, belajar agama tanpa guru, maka setan akan mengambil kesempatan itu. (Na’udzubillahi mindzalika...!!!).
Oleh karena itu, berhati-hatilah wahai saudaraku!
"Memahami Islam secara sepotong-sepotong (secara parsial), bisa menimbulkan kesalahpahaman tentang Islam".
Ya… Rabbi,
Lindungilah kami ketika kami membaca ayat-ayat-Mu dari godaan syaitan yang terkutuk agar kami senantiasa berada dalam jalan-Mu yang lurus. Amin...!!!
”Apabila kamu membaca Al Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk”. (QS. An Nahl. 98).
Semoga bermanfaat.
Kamis, 01 Maret 2012
TENTANG SEKULARISME
Seorang teman telah bertanya: Pak, ana mau tanya nich. Ana pernah mendengar kata "sekularisme". Sejauh yang ana ketahui, arti dari kata tersebut ialah memisahkan antara perkara agama dan dunia. Ana sedikit bingung mengenai hal ini Pak, jadi apa hubungan bid'ah dengan sekularisme? Bid'ah ialah menambah ataupun mengurangi setiap dalam perkara agama diluar dari yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Bukankah segala sesuatu yang kita lakukan (hal-hal dunia sekalipun) jika dikerjakan dengan penuh rasa ikhlas kepada Allah, itu ialah bentuk ibadah? Sedangkan ibadah ialah perkara agama. Jadi kesimpulannya, rasanya tidak ada perkara dunia yang tidak berhubungan dengan agama. Semuanya memiliki hubungan. Tak bisa dipisahkan.
Nah, yang ingin saya tanyakan Pak;
1. Apa yang dimaksud dengan sekularisme, dan adakah hubungannya dengan perkara agama?
2. Bagaimana cara kita sebagai kaum muslimin dalam menyikapi sekularisme Pak?
Terimakasih banyak Pak, ana harap bapak berkenan menjawab pertanyaan ini, jazakallahu khairan katsiran..
-----
Dari pesan yang saudaraku sampaikan tersebut, nampaknya saudaraku telah menanyakan dua hal, yaitu:
1. Apa yang dimaksud dengan sekularisme, dan adakah hubungannya dengan perkara agama?
2. Bagaimana cara kita sebagai kaum muslimin dalam menyikapi sekularisme Pak?
Saudaraku…,
Sebelumnya aku sampaikan terimakasih atas kesediaannya untuk bersama-sama belajar. Dan semoga semangat untuk belajar tidak pernah padam hingga akhir hayat kita. Amin...!!!
1. Apa yang dimaksud dengan sekularisme, dan adakah hubungannya dengan perkara agama?
Saudaraku…,
Sekularisme adalah suatu kepercayaan atau faham yang menganggap bahwa urusan keagamaan atau ketuhanan tidak boleh dicampurkan dengan urusan negara, politik dan pemerintahan.
Saudaraku…,
Mereka yang berpaham sekularisme, banyak yang mengagung-agungkan system demokrasi. Padahal, system demokrasi itu sendiri juga ada kelemahannya. Salah satu kelemahan dari system demokrasi adalah: jika populasi dari suatu wilayah / negara / organisasi / lembaga mayoritas adalah orang-orang yang tidak ber-akhlak, maka keputusan ”terbaik” yang akan diambil, juga akan mengikuti suara mayoritas.
Contoh: pada sebuah negara yang mayoritas penduduknya tidak ber-akhlak sehingga menyukai pergaulan bebas (free sex). Maka sistem demokrasi akan menyetujui adanya pergaulan bebas (free sex) tersebut, selama dilakukan atas dasar suka sama suka (tidak ada paksaan).
Demikian juga ketika dewan perwakilan rakyat (atau sejenisnya) pada sebuah negara mayoritas anggotanya tidak ber-akhlak sehingga sangat mencintai dunia ini secara membabi buta tanpa mengindahkan norma-norma agama, maka keputusan ”terbaik” yang akan diambil, juga akan mengikuti suara mayoritas. Artinya sistem demokrasi akan banyak menghasilkan keputusan-keputusan kontroversial yang justru ”melegalkan” upaya-upaya mereka dalam mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya (baca: merampok uang rakyat) tanpa mengindahkan norma-norma agama.
Contoh yang lain: jika sebuah organisasi mayoritas anggotanya adalah preman / perampok, maka organisasi tersebut akan cenderung menyetujui adanya tindakan premanisme / perampokan dalam mengumpulkan harta / kekayaan. Demikian seterusnya.
Oleh karena itu, sangatlah tepat apa yang telah dilakukan / dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW (pemimpin kita yang teramat kita cintai), yaitu dengan terus-menerus memperbaiki akhlak umat. (Semoga kita semua bisa melaksanakan segala yang telah dituntunkan oleh beliau. Amin...!!!).
Jadi nampaklah bahwa urusan keagamaan atau ketuhanan tidak boleh dipisahkan dengan urusan negara, politik dan pemerintahan. Islam tidak membenarkan pemisahan agama (Islam) dari negara karena negara dengan fiqh Islam bukanlah dua perkara yang berasingan alias satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
2. Bagaimana cara kita sebagai kaum muslimin dalam menyikapi sekularisme pak?
Saudaraku…,
Sekali lagi aku sampaikan, bahwa dari uraian di atas (jawaban pertanyaan pertama) nampaklah bahwa urusan keagamaan atau ketuhanan tidak boleh dipisahkan dengan urusan negara, politik dan pemerintahan. Islam tidak membenarkan pemisahan agama dari negara karena negara dengan fiqh Islam adalah bukan dua perkara yang berasingan. Tidak mungkin sebuah negara tegak dengan baik jika tidak ada agama yang memandunya.
Pada saat yang sama, agama juga tidak mungkin tegak dengan sempurna tanpa adanya negara yang akan menguatkannya dengan undang-undang dan aparat yang menjaga pelaksanaan undang-undang tersebut. Bisa dibayangkan, betapa sulitnya memberantas berbagai kemaksiatan (korupsi, perjudian, perzinahan / pergaulan bebas, dll) jika negara membiarkan semuanya itu tanpa adanya undang-undang yang mencegahnya + aparat yang menjaga pelaksanaan undang-undang tersebut.
Dan undang-undang yang mencegah berbagai kemaksiatan tersebut (ditambah dengan aparat yang menjaga pelaksanaan undang-undang tersebut) hanya bisa lahir dari sebuah negara yang berdiri di atas landasan agama yang kuat.
Nah, karena sudah jelas bahwa Islam tidak membenarkan pemisahan agama dari negara karena negara dengan fiqh Islam adalah bukan dua perkara yang berasingan alias satu kesatuan yang tidak terpisahkan, maka nyata-lah bahwa sekularisme adalah faham yang sesat. Oleh karena itu, kita harus menolaknya. Jika kita mempunyai kekuasaan, kita tolak faham sekularisme tersebut dengan kekuasaan kita. Sedangkan jika kita tidak mampu melakukannya, kita sampaikan penolakan kita dengan lisan kita (dengan kata-kata, dengan tulisan, dll). Dan jika dengan lisanpun kita tidak mampu, maka setidaknya hati kita harus mengingkari faham sekularisme tersebut.
”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf* dan mencegah dari yang munkar**; merekalah orang-orang yang beruntung”. (QS. Ali ’Imran. 104).
Dari Abu Sa’id Al Khudry radhiyallahu ’anhu berkata: saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim).
Demikian penjelasan yang bisa aku sampaikan. Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan. Hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. Karena bagaimanapun juga, sampai saat ini aku benar-benar menyadari bahwa wawasan ilmuku masih sangat terbatas. Oleh karena itu, ada baiknya jika saudaraku juga bertanya kepada alim ulama’ di sekitar saudaraku tinggal. Semoga bisa mendapatkan penjelasan / jawaban yang lebih memuaskan. Karena bagaimanapun juga, mereka (para ulama') lebih banyak memiliki ilmu dan keutamaan daripada aku.
Semoga bermanfaat.
Minggu, 05 Februari 2012
BETAPA SERINGNYA KAMI MELUPAKAN KITAB SUCI-MU
Ya Rabbi…!
Betapa seringnya kami melupakan kitab suci-Mu,
Sehingga pantaslah jika dalam dada kami senantiasa dipenuhi kesempitan.
Ya Rabbi…!
Betapa seringnya kami berpaling dari kitab suci-Mu,
Sehingga pantaslah jika hidup kami senantiasa dipenuhi oleh ambisi jahiliyah.
Ya Rabbi…!
Betapa seringnya kami meninggalkan kitab suci-Mu,
Sehingga pantaslah jika hidup kami senantiasa tidak tenang.
Padahal telah Engkau beritakan kepada kami, bahwa sesungguhnya Al Qur’an itu adalah sebuah kitab yang diturunkan kepada kami, agar tidak ada lagi kesempitan di dalam dada kami karenanya.
Padahal Engkau juga telah beritakan kepada kami, bahwa diturunkannya Al Qur’an itu, supaya menjadi pelajaran bagi kami, orang-orang yang beriman kepada-Mu.
“Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir), dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Al A’raaf. 2).
Ya Rabbi…!
Ampunilah kami, atas segala kekhilafan ini.
Ya Rabbi…!
Bimbinglah kami…,
Agar kami senantiasa berada dalam jalan-Mu yang lurus.
Ya Rabbi…!
Jagalah kami…,
Agar kami senantiasa berada dalam naungan ridlo-Mu.
Sehingga hidup kami tidak dipenuhi oleh ambisi jahiliyah.
Sehingga tidak ada lagi kesempitan di dalam dada kami
Sehingga hal ini semua senantiasa dapat membuat hidup kami menjadi tenang.
"Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi". (QS. Al A’raaf. 23).
Amin...,
Ya rabbal ‘alamin...!!!
{Semoga Allah mengabulkan do’a kita}
Jumat, 03 Februari 2012
KELUARGA MUDA ITU IBARAT SEBATANG POHON MUDA YANG BARU DITANAM
Saudaraku…,
Sebatang pohon muda yang baru ditanam itu secara umum kondisinya masih teramat lemah dan mudah mati, hanya dengan sedikit gangguan dari lingkungan yang melingkupinya.
Terhadap kebutuhannya akan air serta zat-zat hara tanah*, misalnya. Pada pohon muda yang baru ditanam, lupa tidak disiram beberapa hari saja, sudah bisa menyebabkannya layu. Dan jika terlambat, maka pohon muda yang baru ditanam tersebut dengan mudah bisa segera mati.
Demikian juga dengan adanya gangguan angin (serta gangguan lainnya). Terkena angin kecil saja, sudah bisa mengakibatkan pohon muda yang baru ditanam tersebut roboh. Dan jika tidak segera dibenahi, pohon muda yang baru ditanam tersebut (pada umumnya) dengan mudah bisa mati. Sekalipun supply air serta zat-zat hara tanah* lainnya tercukupi.
Oleh karena itu, supaya bisa tumbuh dengan baik, maka pohon muda yang baru ditanam tersebut harus dijauhkan dari gangguan angin (serta gangguan lainnya) yang mengancam. Di sisi lain, kebutuhannya terhadap air serta zat-zat hara tanah* juga harus terpenuhi dengan baik.
Saudaraku…,
Kondisi sebaliknya terjadi pada pohon yang sudah lama ditanam dan tumbuh menjadi pohon besar yang sudah menancapkan akar-akarnya dengan kuat dan dalam di tanah. Pohon yang sudah lama ditanam dan tumbuh menjadi pohon besar, pada umumnya akan tumbuh menjadi sebatang pohon yang kokoh dan tidak mudah mati, akibat adanya gangguan dari lingkungan yang melingkupinya.
Jangankan hanya terkena hembusan angin kecil / angin sepoi-sepoi, terkena badai-pun, kemungkinan masih bisa bertahan hidup. Bahkan meskipun sudah roboh dan tidak segera dibenahi, pohon tersebut masih bisa bertahan hidup.
Demikian juga dengan kebutuhannya terhadap air serta zat-zat hara tanah* lainnya. Kalau hanya lupa tidak disiram beberapa hari saja, hal itu tidak akan berdampak sama sekali terhadap kelangsungan hidupnya. Bahkan tanpa disirami air sama sekali-pun, hal itu tak masalah (pada umumnya tidak akan menyebabkan layu dan mati). Karena dari akar-akarnya yang sudah banyak dan menancap dengan kuat dan dalam di tanah, kebutuhan akan air serta zat-zat hara tanah* lainnya sudah tercukupi tanpa adanya bantuan pihak lain.
Meskipun demikian, tidak semua pohon menunjukkan gejala seperti uraian di atas. Sebagian diantaranya, ada juga yang tetap bisa bertahan ditengah badai yang melandanya, meskipun masih baru tumbuh / baru ditanam.
Saudaraku…,
Terkait dengan hubungan antara keluarga muda yang baru terbina dengan orang tua atau mertua, maka keluarga muda yang baru terbina tersebut ibarat sebuah pohon muda yang baru ditanam. Sedangkan orang tua atau mertua, ibarat lingkungan yang melingkupinya, yang bisa memberikan siraman air maupun gangguan angin bahkan badai kepadanya.
Bagi keluarga muda yang baru terbina, pada umumnya kondisinya masih teramat lemah dan mudah goyah, hanya dengan sedikit gangguan dari lingkungan yang melingkupinya. Sehingga apabila keluarga muda yang baru terbina tersebut tinggal serumah dengan orang tua atau mertuanya, maka keluarga muda tersebut akan berada dekat sekali dengan lingkungan yang berpotensi untuk memberikan bantuan maupun gangguan kepadanya. Terlebih lagi jika orang tua atau mertuanya masih cukup muda dan segar bugar alias sehat wal afiat.
Sayangnya…, bantuan yang diberikan (meski dalam jumlah besar) biasanya dirasakan kurang “membekas” dibandingkan dengan gangguan yang mengancam. Seperti segelas air susu putih yang dengan mudah bisa menjadi keruh, hanya karena beberapa tetes tinta hitam. Terlebih lagi jika orang tua atau mertuanya masih cukup muda dan segar bugar alias sehat wal afiat. Maka potensi untuk memberikan gangguan akan lebih besar, sehingga gangguan yang mengancam akan dirasakan sangat “membekas”. Dan hal ini bisa berdampak serius terhadap kelangsungan rumah tangga yang baru terbina.
Oleh karena itu, supaya keluarga muda yang baru terbina tersebut bisa tumbuh dengan baik (seperti halnya pohon muda yang baru ditanam), maka sebaiknya juga dijauhkan dari gangguan angin (serta gangguan lainnya) yang mengancam. Artinya sangat disarankan untuk tinggal terpisah dari orang tua atau mertuanya. Tidak harus punya rumah sendiri. Mengontrak / menyewa rumah semampunya, itu sudah cukup. Terkecuali jika kondisi orang tua atau mertua sudah sepuh / sudah tua, maka tidak mengapa (bahkan ada baiknya) tinggal serumah. Ibarat angin, maka orang tua atau mertua yang sudah sepuh / sudah tua tersebut, hanya akan memberikan angin sepoi-sepoi saja, yang tidak akan berdampak serius bagi kelangsungan rumah tangga yang baru terbina.
Baru setelah keluarga muda tersebut tumbuh dan berkembang sebagaimana halnya pohon besar yang sudah menancapkan akar-akarnya dengan kuat dan dalam di tanah (sehingga menjadi sebatang pohon yang kokoh dan tidak mudah mati akibat adanya gangguan dari lingkungan yang melingkupinya), maka tidak masalah jika harus tinggal serumah dengan orang tua atau mertua. Meskipun mereka berpotensi untuk memberikan gangguan kepadanya, namun karena sudah tumbuh dan berkembang sebagaimana halnya pohon besar yang sudah menancapkan akar-akarnya dengan kuat dan dalam di tanah, maka gangguan yang ada sudah tidak berdampak serius terhadap kelangsungan rumah tangga tersebut. (Wallahu ta’ala a’lam).
Demikian, semoga bermanfaat!
NB.
*) Zat hara tanah ialah zat yang berguna untuk tumbuhan.
Rabu, 01 Februari 2012
ALLAH TELAH MENCIPTAKAN SELURUH ALAM SEMESTA INI DALAM KEADAAN YANG TERATUR DAN SEIMBANG
Saudaraku…,
Tidakkah kita perhatikan betapa indah dan menakjubkannya langit dengan gugusan bintang-bintang di dalamnya? Betapa jika kita perhatikan secara berulang-ulang, gugusan bintang-bintang tersebut termasuk planet-planet beserta bulan/satelit yang mengikutinya, juga benda-benda langit lainnya, ternyata benar-benar teratur dan seimbang? Dimana masing-masing beredar menurut garis edarnya?
Yah..., Allah benar-benar telah menciptakan seluruh alam semesta ini dalam keadaan yang teratur dan seimbang. Sehingga ketika manusia telah melakukan eksplorasi alam secara berlebihan, seperti: menebangi hutan-hutan secara besar-besaran, menggali bumi dalam skala besar untuk mengambil bahan tambang di dalamnya, dll., termasuk ketika manusia melaksanakan pembangunan terus menerus, dimana akan terjadi pemindahan material dari satu tempat ke tempat lain, (contoh semen yang dipakai, tanah urug yang di pindahkan sehingga menjadi bangunan dengan berat berton-ton dikota-kota besar), maka alam-pun akan memberikan reaksinya* agar keteraturan serta keseimbangan itu tetap terjaga. *) Reaksi yang diberikan alam tersebut biasanya akan dirasakan oleh manusia sebagai bencana alam. Bisa berupa banjir dimana-mana, tanah longsor, dll. (Wallahu ta’ala a’lam).
Subhanallah...!
Maha Suci Engkau, Yaa Allah! Sesungguhnya Engkaulah Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya ilmu-Mu benar-benar meliputi segala sesuatu. Sesungguhnya Engkaulah Allah Yang Memelihara semuanya ini dengan sebaik-baiknya.
”Demi langit yang mempunyai jalan-jalan**”, (QS. Adz Dzaariyaat. 7). **) Yang dimaksud dengan jalan-jalan ialah garis edar bintang-bintang dan planet-planet. “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu”. (QS. Ath Thalaaq. 12).
“Demi langit yang mempunyai gugusan bintang”, (QS. Al Buruuj. 1). “Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang”, (QS. Ash Shaaffaat. 6).“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” (QS. Al Mulk. 3).
Semoga bermanfaat.
Kamis, 05 Januari 2012
BISAKAH DOSA ITU DIHAPUSKAN?
Seorang sahabat (teman alumni SMAN 1 Blitar ’89) telah bertanya: "Bagaimana aku harus menghapus dosaku ya Allah Yang Maha Suci...! Bisakah dosa itu dihapus Bung Imron? Sesungguhnya aku sangat takut dengan siksa-Nya...!"
Saudaraku…,
Sekalipun banyak ayat-ayat Al Qur’an yang mengupas tentang berbagai ancaman yang mengerikan, namun ketahuilah bahwa sesungguhnya rahmat-Nya mendahului murka-Nya*. Karena Rasulullah S.A.W. telah bersabda: ”Ketika Allah telah selesai menjadikan semua makhluk, maka menulis tulisan yang ada di atas ’arsy yang berbunyi: rahmat-Ku mendahului murka-Ku” (H. R. Bukhari, Muslim, Ibn Majah).
Bahkan sesungguhnya Allah lebih sayang kepada kita, melebihi sayangnya seorang ibu terhadap anaknya*. Karena ketika tiba-tiba ada seorang wanita yang teteknya telah menetes-netes air susunya, ia berlari-lari mencari bayinya. Tiba-tiba ia bertemu dengan bayinya, maka langsung diangkat ke dadanya dan ditetekinya. Lalu Rasulullah bersabda: ”Apakah kalian mengira bahwa wanita itu akan membuang anaknya itu ke dalam api?”. Jawab sahabat: ”Tidak, selama ia dapat mengelakkannya!”. Maka sabda Rasulullah: ”Allah lebih sayang pada hamba-Nya melebihi kesayangan ibu itu terhadap anaknya”. (H. R. Bukhari, Muslim).
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus-asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Az Zumar. 53).
-----
Beliau berkata: "Alhamdulillah..., tetapi setiap perbuatan sekecil apapun akan ada ganjarannya...! Berarti dosa sekecil apapun pasti ada siksanya...! Apa berarti begitu, Bung Imron?"
Tidak selalu begitu, wahai saudaraku**. Perhatikan pula penjelasan Al Qur’an berikut ini:
”Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”. (QS. Al Baqarah. 264).
Saudaraku…,
Sebaliknya, sebesar apapun kebaikan yang kita lakukan, jika semua amal-amal kebajikan tersebut tidak kita ikhlaskan kepada-Nya, jika kita tidak benar-benar memurnikan ketaatan kita kepada-Nya, maka semuanya hanya akan sia-sia saja. (Wallahu ta'ala a'lam).
-----
Beliau mengatakan: "Alhamdulillah...! Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya...! Aku teramat takut pada-Mu, ya Allah...! Hanya kepadaMu-lah aku menyembah, berdo’a dan memohon pertolongan...!!!"
Saudaraku…,
Saudaraku…,
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo`a): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". (QS. Al Baqarah. 127).
Ya Rabbi…!
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah*** dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan****” (QS. Al Faatihah. 5).
Demikian...,
Semoga bermanfaat.
*) Artikel terkait, silahkan klik di sini: http://imronkuswandi.blogspot.com/2008/10/sikap-optimis.html
**) Artikel terkait, silahkan klik di sini: http://imronkuswandi.blogspot.com/2009/02/benarkah-allah-maha-mendengar-lagi-maha.html
***) Na’budu diambil dari kata ‘ibaadat: kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan tentang Kebesaran Allah sebagai Tuhan yang disembah karena keyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya.
****) Nasta’iin (minta pertolongan) diambil dari kata isti’aanah: mengharap bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup diselesaikan dengan tenaga sendiri.
Selasa, 03 Januari 2012
MENYIKAPI SITUS-SITUS YANG MENGHUJAT ISLAM
Seorang sahabat (dosen senior di ITS) telah bertanya tentang bagaimana kita menyikapi situs-situs di internet yang isinya hanya menghujat Islam / Rasulullah Muhammad SAW, pemimpin kita yang teramat kita cintai.
-----
Saudaraku...,
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Islam telah melarang kita kaum muslimin untuk berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka. Demikian penjelasan Al Qur'an dalam surat Al ‘Ankabuut ayat 46 yang artinya adalah sebagai berikut:
”Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim* di antara mereka, dan katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri". (QS. Al ‘Ankabuut. 46**).
*) Yang dimaksud dengan ”orang-orang zalim” ialah orang-orang yang setelah diberikan kepadanya keterangan-keterangan dan penjelasan-penjelasan dengan cara yang paling baik, mereka tetap membantah dan membangkang dan tetap menyatakan permusuhan.
**) Hanya saja yang membedakan antara kita kaum muslimin dengan Ahli Kitab (kaum Yahudi dan kaum Nasrani) adalah sebagaimana penjelasan Al Qur'an dalam surat At Taubah ayat 30 berikut ini: ”Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah". Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dila`nati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS. At Taubah. 30).
Bahkan Al Qur’an secara tegas juga melarang kita yang beragama Islam untuk memaki sembahan-sembahan pemeluk agama lain, termasuk sembahan-sembahan mereka. “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan...” (QS. Al An’aam: 108).
Saudaraku...,
Terhadap situs-situs di internet yang isinya hanya menghujat Islam / Rasulullah Muhammad SAW (pemimpin kita yang teramat kita cintai), aku sendiri melihat bahwa itu hanyalah sikap orang-orang yang frustasi dan sudah kehabisan akal untuk memadamkan cahaya kebenaran Islam. Mereka takut akan kebangkitan Islam. Dan karena kemampuan mereka sangat terbatas, maka hanya itulah yang dapat mereka lakukan.
Sebaiknya kita tidak perlu menanggapi hujatan mereka. Tidak ada gunanya menanggapi orang-orang yang frustasi seperti mereka. Hanya menghabiskan waktu, tenaga dan pikiran saja tanpa ada manfaat sama sekali.
”Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu)”. (QS. Al An’aam. 68)
Saudaraku...,
Sesungguhnya hujatan yang mereka lakukan itu hanyalah dilandaskan pada nafsu belaka, karena dengki yang timbul dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Demikian penjelasan Al Qur’an dalam surat Al Baqarah ayat 109, yang artinya adalah sebagai berikut: “Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma`afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Al Baqarah. 109).
“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai”. (QS. At Taubah. 32).
Sekali lagi…,
Kita tidak perlu menanggapi hujatan mereka. Semoga Allah senantiasa membimbing kita hingga akhir hayat kita dan mewafatkan kita dalam keadaan berserah diri kepada-Nya. Amin...!
Kecuali jika mereka datang dengan baik-baik dan mengajak kita diskusi tentang Islam juga dengan baik-baik dan dilandasi rasa saling menghormati, tentunya ini adalah kesempatan dakwah yang tidak boleh kita sia-siakan. Jika memang demikian keadaannya, maka sudah seharusnya bagi kita untuk menanggapinya dengan baik-baik pula. Semoga Allah menjadikan kita sebagai jalan hidayah bagi orang lain. Amin...!!!
-----
Ya Rasullullah...,
Betapa rindunya kami umatmu yang seumur hidup kami hanya bisa mendengar dan membayangkan kisah - kisah keagunganmu. Semoga Rahmat Allah SWT selalu tercurah atasmu. Amin...!!!
Demikian yang bisa kusampaikan. Mohon koreksinya jika ada kekurangan / kesalahan. Mohon maaf jika kurang berkenan. Hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku.
Semoga bermanfaat.
Wassalam,
Dari saudara seiman: Imron kuswandi M.
Minggu, 01 Januari 2012
KITA HARUS TETAP WASPADA
Meskipun Islam adalah agama yang sangat toleran*, namun kita tetap harus senantiasa waspada, khususnya kepada para Ahli Kitab. Karena Al Qur’an juga telah memperingatkan kita, bahwa sebahagian besar diantara mereka (Ahli Kitab) benar-benar menginginkan kehancuran iman kita kaum muslimin, dimana sebahagian besar diantara mereka benar-benar menginginkan agar kita kaum muslimin dapat kembali kepada kekafiran setelah kita beriman.
“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan”. (QS. Ali ‘Imran: 186)
Saudaraku...,
Sedangkan dalam Al Qur’an surat Ash Shaff ayat 8, Allah telah berfirman: “Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci”. (QS. Ash Shaff. 8).
-----
Ya Allah!
Berilah kekuatan kepada kami agar kami senantiasa dapat bersabar, tabah serta tawakal kepada-Mu.
Ya Allah!
Jagalah kami, sehingga kami senantiasa berada di bawah naungan ridlo-Mu.
Ya Allah!
Tunjukilah kami, sehingga kami senantiasa dapat menjaga cahaya kebenaran ini (setelah pengetahuan datang kepada kami) hingga akhir hayat kami.
"Ya Allah, tetapkanlah hatiku diatas agama-Mu". (HR. Ahmad, Ibnu Majah).
Amin…,
Ya rabbal ‘alamin!
-----
Jadi berhati-hatilah, wahai Saudaraku…!!!
Sebagai sesama muslim, kita harus senantiasa tolong-menolong dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, juga dalam menegakkan agama Allah. Semoga syi’ar Islam terus memancar di semua belahan bumi ini. Amin!
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. (QS. Al Maa-idah. 2).
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (QS. Muhammad: 7).
Saudaraku...,
“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu**, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar”. (QS. Al Anfaal. 73). **) Yang dimaksud dengan apa yang telah diperintahkan Allah itu; adalah keharusan adanya persaudaraan yang teguh antara kaum muslimin.
Saudaraku...,
Pada saat yang sama, kita juga harus senantiasa berharap kepada-Nya. ”dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”. (QS. Alam Nasyrah. 8).
Dan kita juga harus optimis bahwa semuanya pasti akan ada jalan keluarnya. Optimis bahwa semuanya pasti akan bisa teratasi. Optimis bahwa kita akan mendapatkan pertolongan-Nya! Karena meskipun mereka nampak bersatu padu, saling bekerja sama dalam upayanya untuk menghancurkan kita kaum muslimin (dalam upayanya untuk mengembalikan kita kepada kekafiran setelah kita beriman), namun sesungguhnya hati mereka benar-benar berpecah belah.
”Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti”. (QS. Al Hasyr. 14).
Semoga bermanfaat!
NB.
*) Artikel terkait, silahkan klik tautan berikut ini (silahkan klik di sini):
1. http://imronkuswandi.blogspot.com/2010/12/betapa-indahnya-islam.html
Senin, 05 Desember 2011
MEMANFAATKAN SISA UMUR YANG TINGGAL SEDIKIT
Saudaraku, aku mau bertanya: “Apa yang sebaiknya dilakukan oleh seseorang yang sudah memasuki usia pensiun seperti aku ini? Apa harus berdzikir saja?”. Demikian pertanyaan Pak Nafil kepada Pak Fulan, sahabatnya.
Mendengar pertanyaan dari Pak Nafil tersebut, Pak Fulan berupaya untuk menanggapinya: “Teruslah berupaya untuk mendekatkan diri kepada-Nya, wahai saudaraku! Dengan mengisi sisa umur kita yang tinggal sedikit ini dengan segala kebaikan. Bisa dengan berdzikir, terus belajar tentang Islam + segala kebaikan lainnya. Jangan sampai engkau luangkan sedikitpun waktu yang tersisa ini untuk bersantai, apalagi sampai bermaksiat kepada-Nya. Dan jangan sampai datang ajalmu sedang engkau belum berserah diri kepada-Nya, padahal tak seorang pun tahu kapan ajalnya 'kan tiba”.
Tak lupa, Pak Fulan juga mengingatkan: ”Saudaraku..., Berapapun usia kita saat ini, sesungguhnya sisa umur kita tetaplah sangat sedikit. Karena kita tidak tinggal di dunia ini, melainkan hanya sebentar saja”.
Allah berfirman: "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui". (QS. Al Mu’minuun. 114).
-----
Saudaraku…,
Perhatikan nasehat Pak Fulan yang terakhir: ”Berapapun usia kita saat ini, sesungguhnya sisa umur kita tetaplah sangat sedikit. Karena kita tidak tinggal di dunia ini, melainkan hanya sebentar saja”.
Yah...,
Berapapun usia kita saat ini, sebenarnya sisa umur kita, ternyata tetaplah sangat sedikit. Karena kita tidak tinggal di dunia ini, melainkan hanya sebentar saja. Ini artinya bahwa nasehat Pak Fulan tersebut sebenarnya tidak hanya ditujukan kepada Pak Nafil yang sudah memasuki usia pensiun. Tetapi juga ditujukan kepada kita semua, berapapun usia kita saat ini.
Menyadari akan hal ini, maka sekali-kali jangan sia-siakan sisa umur kita yang tinggal sedikit ini dengan berbagai kegiatan yang tidak bermanfaat, seperti: tidak tidur semalaman hanya karena larut dalam bermain “game” di komputer kesayangan, ‘ngobrol tak tentu arah hingga berjam-jam, dll. Apalagi sampai bermaksiat kepada-Nya.
Ingat...!!!
Bahwa berapapun usia kita saat ini, sebenarnya sisa umur kita tetaplah sangat sedikit. Sementara tidak lama lagi, kita semua akan menempuh suatu perjalanan nan amat panjang, yang harus kita lalui sendirian.
“Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri”. (QS. Maryam. 95).
Saudaraku…,
Kita semua, sudah seharusnya menyadari hal ini...!!!
Demikian...,
Semoga bermanfaat…!
NB.
Pak Fulan dan Pak Nafil pada kisah di atas hanyalah nama fiktif belaka. Mohon ma’af jika secara kebetulan ada kemiripan nama dengan kisah di atas!
-----
Saudaraku…,
Bagaimanapun sampai saat ini aku benar-benar menyadari bahwa wawasan ilmuku masih sangat terbatas.
Oleh karena itu, ada baiknya jika saudaraku juga bertanya kepada alim ulama’ di sekitar saudaraku tinggal. Semoga bisa mendapatkan penjelasan / jawaban yang lebih memuaskan. Karena bagaimanapun juga, mereka (para ulama') lebih banyak memiliki ilmu dan keutamaan daripada aku. (Imron Kuswandi M.)
