بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Kamis, 05 April 2018

SEKILAS RENUNGAN TENTANG KEBENARAN ALKITAB? (III)

Assalamu’alaikum wr. wb.

Berikut ini lanjutan dari artikel: “Sekilas Renungan Tentang Kebenaran Alkitab? (II)”:

18. Taurat dan Injil dibenarkan oleh Al Quran (QS. 32: 23)

Berikut ini firman Allah dalam QS. 32: 23 (Al Qur’an surat nomer 32 [surat As Sajdah] ayat 23):

وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا مُوسَى الْكِتَـــٰبَ فَلَا تَكُن فِي مِرْيَةٍ مِّن لِّقَائِهِ وَجَعَلْنَـــٰــهُ هُدًى لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ ﴿٢٣﴾
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al Kitab (Taurat), maka janganlah kamu (Muhammad) ragu-ragu menerima (Al Qur'an itu) dan Kami jadikan Al Kitab (Taurat) itu petunjuk bagi Bani Israil. (QS. As Sajdah. 23)

Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy): “(Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Alkitab) yaitu kitab Taurat (maka janganlah kamu ragu-ragu) meragukan (untuk bertemu dengan Musa) dan keduanya telah berjumpa pada malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di-isra’kan (dan Kami jadikan ia) Musa atau kitab Taurat (sebagai petunjuk) yaitu pemberi petunjuk (buat Bani Israel)”.

Saudaraku,
Terkait point 18 (Taurat dan Injil dibenarkan oleh Al Qur’an) secara umum bisa diterima karena Al Qur’an memang membenarkan Taurat dan Injil.

وَءَامِنُواْ بِمَا أَنزَلْتُ مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَكُمْ وَلَا تَكُونُواْ أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ وَلَا تَشْتَرُواْ بِئَايَـــٰتِي ثَمَـــنًا قَلِيلًا وَإِيَّــــٰيَ فَاتَّقُونِ ﴿٤١﴾
Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Qur'an) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa. (QS. Al Baqarah. 41).

نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنجِيلَ ﴿٣﴾
Dia menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil. (QS. Ali ‘Imraan. 3).

Sekali lagi, terkait point 18 (Taurat dan Injil dibenarkan oleh Al Qur’an) secara umum bisa diterima karena Al Qur’an memang membenarkan Taurat dan Injil. Namun yang dimaksud di sini adalah Kitab Taurat dan Kitab Injil yang masih asli, yang masih terjamin kesucian dan kemurniannya dari campur tangan manusia. Sedangkan pada saat ini, keberadaan kitab suci - kitab suci tersebut sudah tidak terjamin kesucian dan kemurniannya dari campur tangan manusia. Penjelasan selengkapnya, silakan dibaca kembali penjelasan pada point 17 (Taurat dan Injil harus dituruti) di atas.

19. Taurat dan Injil adalah induk dari Al Quran (QS. 43: 4)

Berikut ini firman Allah dalam QS. 43. 4 (Al Qur’an surat nomer 43 [surat Az-Zukhruf] ayat 4):

وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ ﴿٤﴾
Dan sesungguhnya Al Qur'an itu dalam induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah. (QS. Az-Zukhruf. 4).

Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy): “(Dan sesungguhnya Alquran itu) telah ditetapkan (dalam induk Alkitab) asal Kitab, yaitu Lauh Mahfuzh (di sisi Kami) lafal ayat ini menjadi Badal dari lafal 'Indana (adalah benar-benar tinggi) yang jauh lebih tinggi daripada Kitab-kitab sebelumnya (dan amat banyak mengandung hikmah) artinya sangat padat dengan hikmah-hikmah”.

Saudaraku,
Berdasarkan penjelasan surat Az-Zukhruf ayat 4 di atas, nampak sekali kesengajaan yang mereka lakukan dalam membelokkan makna ayat tersebut. Bagaimana mungkin bisa dikatakan bahwa Taurat dan Injil adalah induk dari Al Qur’an?

Saudaraku,
Dengan memperhatikan kembali penjelasan surat Az-Zukhruf ayat 4 di atas, maka klaim mereka itu jelas-jelas merupakan suatu pembohongan yang nyata.

20. Orang Kristen sahabat dekat orang Islam (QS. 5: 82)

Berikut ini firman Allah dalam QS. 5: 82 (Al Qur’an surat nomer 5 [surat Al Maa-idah] ayat 82) {aku tambahkan pula penjelasan surat Al Maa-idah] ayat 83}:

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُواْ وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَّوَدَّةً لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ الَّذِينَ قَالُوَاْ إِنَّا نَصَارَىٰ ذَٰلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ ﴿٨٢﴾
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani". Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. (QS. Al Maa-idah. 82).

Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy):

(Sesungguhnya kamu dapati) wahai Muhammad (orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik) dari kalangan penduduk Mekah oleh sebab menebalnya kekafiran mereka, kebodohan mereka dan tenggelamnya mereka dalam hawa nafsu (dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani." Yang demikian itu) maksudnya kecintaan mereka begitu dekat terhadap orang-orang mukmin (disebabkan karena) oleh karena (di antara mereka/orang-orang Nasrani terdapat pendeta-pendeta) ulama-ulama agama Nasrani (dan rahib-rahib) orang-orang ahli ibadah Nasrani (juga karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri) untuk mengikuti barang yang hak tidak sebagaimana orang-orang Yahudi dan kaum musyrikin penduduk Mekah yang menyombongkan diri. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan utusan raja Najasyi yang datang dari negeri Habasyah untuk menemui kaum Muslimin. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan surah Yasin kepada mereka setelah itu mereka menangis dan masuk Islam semuanya seraya mengatakan: “Alangkah miripnya bacaan ini dengan apa yang telah diturunkan kepada Nabi Isa”. Allah SWT. berfirman:

وَإِذَا سَمِعُواْ مَا أُنزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَىٰ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُواْ مِنَ الْحَقِّ يَقُولُونَ رَبَّنَا ءَامَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّـــٰـهِدِينَ ﴿٨٣﴾
Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur'an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur'an dan kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam). (QS. Al Maa-idah. 83).

Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy):

(Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul) yaitu sebagian dari Al Qur’an (kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran Al Qur’an yang telah mereka ketahui dari kitab-kitab mereka sendiri, seraya berkata, “Ya Tuhan kami! Kami telah beriman) kami telah percaya kepada Nabi-Mu dan Kitab-Mu (maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi -atas kebenaran Alquran dan kenabian Nabi Muhammad”) orang-orang yang mengakui dirinya beriman kepada keduanya.

Saudaraku,
Berdasarkan ayat di atas, diperoleh penjelasan bahwa yang dimaksud dengan orang-orang Nasrani adalah orang-orang Nasrani dari negeri Habasyah, karena ayat ini diturunkan berkenaan dengan utusan raja Najasyi yang datang dari negeri Habasyah untuk menemui kaum Muslimin (Habasyah adalah negeri tujuan hijrah yang pertama, saat ini dikenal sebagai negara Ethiopia). Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan surah Yasin kepada mereka setelah itu mereka menangis dan masuk Islam semuanya seraya mengatakan: “Alangkah miripnya bacaan ini dengan apa yang telah diturunkan kepada Nabi Isa”.

21. Orang murtad akan dipertemukan dengan orang Kristen (QS. 5: 54).

Berikut ini firman Allah dalam QS. 5: 54 (Al Qur’an surat nomer 5 [surat Al Maa-idah] ayat 54):

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ ﴿٥٤﴾
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu'min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Maa-idah. 54).

Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy):

(Hai orang-orang yang beriman! Siapa yang murtad) yartadda pakai idgam atau tidak; artinya murtad atau berbalik (di antara kamu dari agamanya) artinya berbalik kafir; ini merupakan pemberitahuan dari Allah SWT. tentang berita ghaib yang akan terjadi yang telah terlebih dahulu diketahui-Nya. Buktinya setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, segolongan umat keluar dari agama Islam (maka Allah akan mendatangkan) sebagai ganti mereka (suatu kaum yang dicintai oleh Allah dan mereka pun mencintai-Nya) sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: "Mereka itu ialah kaum orang ini," sambil menunjuk kepada Abu Musa Al-Asyari; riwayat Hakim dalam sahihnya (bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin dan bersikap keras) atau tegas (terhadap orang-orang kafir. Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut akan celaan orang yang suka mencela) dalam hal itu sebagaimana takutnya orang-orang munafik akan celaan orang-orang kafir. (Demikian itu) yakni sifat-sifat yang disebutkan tadi (adalah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah Maha Luas) karunia-Nya (lagi Maha Mengetahui) akan yang patut menerimanya. Ayat ini turun ketika Ibnu Salam mengadu kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah! Kaum kami telah mengucilkan kami!".

Saudaraku,
Berdasarkan penjelasan surat Al Maa-idah ayat 54 di atas, nampak sekali kesengajaan yang mereka lakukan dalam membelokkan makna ayat tersebut. Bagaimana mungkin bisa dikatakan bahwa orang murtad akan dipertemukan dengan orang Kristen?

Saudaraku,
Dengan memperhatikan kembali penjelasan surat Al Maa-idah ayat 54 di atas, maka klaim mereka itu jelas-jelas merupakan suatu pembohongan yang nyata, sebagaimana yang telah mereka lakukan pada pernyataan no. 19 (Taurat dan Injil adalah induk dari Al Qur’an).

Selanjutnya pada bagian akhir tulisan tersebut, tertulis kalimat berikut ini:

Dalam Al Qur’an sendiri, terdapat cukup banyak ayat yang mengakui bahwa Injil  adalah benar firman Allah yang harus diterima oleh umat Islam, diantaranya:

Kami  iringkan  jejak mereka (nabi-nabi Bani Israel) dengan  Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa. (QS. 5: 46).

Ayat lain berkata: “Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu- aguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu”. (QS. 10: 94).
Subhanallah ~ Amin!

Saudaraku,
Berikut ini firman Allah dalam QS. 5: 46 (Al Qur’an surat nomer 5 [surat Al Maa-idah] ayat 46) serta firman Allah dalam QS. 10: 94 (Al Qur’an surat nomer 10 [surat Yunus] ayat 94):

وَقَفَّيْنَا عَلَىٰ ءَاثَــــٰرِهِم بِعَيسَى ابْنِ مَرْيَمَ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَىٰةِ وَءَاتَيْنَـــٰهُ الْإِنجِيلَ فِيهِ هُدًى وَنُورٌ وَمُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَىٰةِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِينَ ﴿٤٦﴾
Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israil) dengan `Isa putera Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa. (QS. Al Maa-idah. 46).

فَإِن كُنتَ فِي شَكٍّ مِّمَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ فَاسْأَلِ الَّذِينَ يَقْرَؤُونَ الْكِتَـــٰبَ مِن قَبْلِكَ لَقَدْ جَاءَكَ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ ﴿٩٤﴾
Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. (QS. Yunus. 94).

Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy):

(Maka jika kamu) hai Muhammad (berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu) yaitu berupa kisah-kisah, seumpamanya (maka tanyakanlah kepada orang-orang yang telah membaca kitab) Taurat (sebelum kamu) maka sesungguhnya hal itu telah tertera di dalam kitab mereka, mereka akan memberitakannya kepadamu sesuai dengannya; untuk itu maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Aku tidak ragu dan tidak menanyakannya." (Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Rabbmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu) menaruh keraguan padanya.

Saudaraku,
Sebagaimana uraian sebelumnya pada point 17 (Taurat dan Injil harus dituruti) dan pada point 18 (Taurat dan Injil dibenarkan oleh Al Qur’an), diperoleh penjelasan bahwa Al Qur’an memang membenarkan Taurat dan Injil. Namun yang dimaksud di sini adalah Kitab Taurat dan Kitab Injil yang masih asli, yang masih terjamin kesucian dan kemurniannya dari campur tangan manusia. Sedangkan pada saat ini, keberadaan kitab suci - kitab suci tersebut sudah tidak terjamin kesucian dan kemurniannya dari campur tangan manusia. Penjelasan selengkapnya, silakan dibaca kembali penjelasan pada point 17 (Taurat dan Injil harus dituruti) di atas.

Sebagai penutup,
Ketahuilah bahwa sebenarnya tidak akan jadi masalah bagi kita kaum muslimin jika mereka menggunakan dalil Alkitab/Bible sebagai hujjah untuk menunjukkan bahwa Yesus itu Tuhan atau bukan.

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ ﴿٦﴾
“Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. Al Kaafiruun. 6).

Yang jadi masalah adalah karena mereka mengutip, memotong serta menafsirkan secara sembarangan (seenaknya sendiri) tentang ayat-ayat Al Qur’an serta Al Hadits untuk membenarkan hujjahnya.

وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَــٰبِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَــــٰـنِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُواْ وَاصْفَحُواْ حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ﴿١٠٩﴾
“Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma`afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Al Baqarah. 109).

وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَــٰــرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللهِ هُوَ الْهُدَىٰ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ ﴿١٢٠﴾
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. (QS. Al Baqarah. 120).

Demikian yang bisa kusampaikan. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku.

Semoga bermanfaat.

{Tulisan ke-3 dari 3 tulisan}

Selasa, 03 April 2018

SEKILAS RENUNGAN TENTANG KEBENARAN ALKITAB? (II)



Assalamu’alaikum wr. wb.

Berikut ini lanjutan dari artikel: “Sekilas Renungan Tentang Kebenaran Alkitab? (I)”:

10. Isa berkuasa di dunia dan akhirat (QS. 3: 45)

Berikut ini firman Allah dalam QS. 3: 45 (Al Qur’an surat nomer 3 [surat Ali ‘Imraan] ayat 45):

إِذْ قَالَتِ الْمَلَـــٰــئِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِّنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ ﴿٤٥﴾
“(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih `Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)”, (QS. Ali ‘Imraan. 45).

Saudaraku,
Dari ayat di atas, diperoleh penjelasan bahwa Nabi Isa AS adalah seorang terkemuka di dunia dan di akhirat. Hal ini terkait dengan statusnya sebagai Nabi/Rasul/utusan Allah, yang mana hal ini juga berlaku untuk seluruh Nabi/Rasul/utusan Allah yang lainnya (jadi tidak hanya dikhususkan untuk Nabi Isa AS saja).

إِنَّ اللهَ اصْطَفَىٰ ءَادَمَ وَنُوحًا وَءَالَ إِبْرَاهِيمَ وَءَالَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَـــٰــلَمِينَ ﴿٣٣﴾
“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga `Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)”, (QS. Ali ‘Imraan. 33).

11. Isa adalah satu-satunya Imam Mahdi (Hadist Ibnu Hajah)

Saudaraku,
Mohon maaf, kalimat tersebut tidak dapat aku temukan dalam hadits manapun. Jika memang itu hadist shahih, seharusnya penulis tulisan di atas bisa menunjukkan sanad lengkapnya sampai ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

12. Isa mati dan bangkit ke surga (QS. 3: 45)

Berikut ini firman Allah dalam QS. 3: 45 (Al Qur’an surat nomer 3 [surat Ali ‘Imraan] ayat 45):

إِذْ قَالَتِ الْمَلَـــٰــئِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِّنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ ﴿٤٥﴾
“(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih `Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)”, (QS. Ali ‘Imraan. 45).

Saudaraku,
Terkait point 12 yang menyatakan bahwa Nabi Isa AS mati dan bangkit ke surga, maka ayat yang lebih tepat yang menyatakan bahwa Nabi Isa AS mati adalah surat Ali ‘Imran ayat 185, dimana dalam ayat ini dinyatakan bahwa tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati (termasuk Nabi Isa AS).

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَـــٰـمَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ ﴿١٨٥﴾
”Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. (QS. Ali ‘Imran. 185).

Sedangkan ayat yang lebih tepat yang menyatakan bahwa Nabi Isa bangkit ke surga adalah surat Ghafir ayat 51, dimana dalam ayat ini diperoleh penjelasan bahwa bahwa Allah telah berjanji untuk menolong/menyelamatkan para rasul-Nya (termasuk Nabi Isa AS) dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari kiamat nanti, yang artinya Allah akan menyelamatkannya dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga yang dipenuhi dengan berbagai kenikmatan abadi.

إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ ءَامَنُوا فِي الْحَيَوٰةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَــٰـدُ ﴿٥١﴾
“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat)”, (QS. Ghafir. 51).

13. Isa lahir, mati dan dihidupkan kembali (QS. 19: 33)

Berikut ini firman Allah dalam QS. 19: 33 (Al Qur’an surat nomer 19 [surat Maryam] ayat 33):

وَالسَّلَـــٰمُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدتُّ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا ﴿٣٣﴾
“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”. (QS. Maryam. 33).

Saudaraku,
Terkait point 13, secara umum bisa diterima karena berdasarkan firman Allah dalam Al Qur’an surat Maryam ayat 33 di atas, diperoleh penjelasan bahwa Nabi Isa AS memang lahir, mati dan dihidupkan kembali.

14. Isa akan diimani oleh semua Ahli Kitab ( QS. 4: 159)

Berikut ini firman Allah dalam QS. 4: 159 (Al Qur’an surat nomer 4 [surat An Nisaa’] ayat 159):

وَإِن مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا ﴿١٥٩﴾
Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (`Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti `Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka. (QS. An Nisaa’. 159).

Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy): “(Dan tidak ada di antara Ahli Kitab) seorang pun juga (kecuali akan beriman kepadanya) yakin kepada Isa (sebelum meninggalnya) artinya sebelum ahli Kitab itu meninggal di waktu ia melihat malaikat maut, tetapi keimanannya itu sudah tidak berguna lagi. Atau sebelum wafatnya Isa, yakni ketika dia turun dekat datangnya hari kiamat sebagaimana tercantum dalam sebuah hadis (Dan pada hari kiamat itu, ia) yakni Isa (akan menjadi saksi terhadap mereka) mengenai apa yang mereka lakukan sewaktu ia diutus kepada mereka dahulu”.

Saudaraku,
Benar bahwa Nabi Isa akan diimani oleh semua Ahli Kitab sebagaimana pernyataan pada point 14 di atas. Namun keimanan tersebut terjadi di waktu yang bersangkutan melihat malaikat maut, sehingga keimanannya sudah tidak berguna lagi.

Dari Ibnu Umar r.a, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدَ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ. (رواه الترمذى)   
“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla akan menerima taubat seorang hamba selama ruhnya belum sampai di tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi).

Atau sebelum wafatnya Isa, yakni ketika dia turun dekat datangnya hari kiamat sebagaimana tercantum dalam sebuah hadis (Dan pada hari kiamat itu, ia) yakni Isa (akan menjadi saksi terhadap mereka) mengenai apa yang mereka lakukan sewaktu ia diutus kepada mereka dahulu, sebagaimana penjelasan Tafsir Jalalain di atas.

15. Isa adalah hakim pada akhir zaman ( Hadist Shahih Muslim)

Saudaraku,
Mohon maaf, kalimat tersebut tidak dapat aku temukan dalam hadits manapun. Jika memang itu hadist shahih, seharusnya penulis tulisan di atas bisa menunjukkan sanad lengkapnya sampai ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terlebih lagi, isi hadits (matan hadits) di atas jelas-jelas bertentangan dengan penjelasan Al Qur’an dalam surat At Tiin ayat 8, sehingga bisa dipastikan bahwa hadits di atas adalah hadits palsu.

أَلَيْسَ اللهُ بِأَحْكَمِ الْـحَـــٰـكِمِينَ ﴿٨﴾
“Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?”. (QS. At Tiin. 8).

Mengapa setiap hadits yang matan haditsnya bertentangan dengan Al Qur’an bisa dipastikan merupakan hadits palsu?

Karena Al Qur'an telah menjelaskan bahwa segala apa yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak lain adalah wahyu semata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berkata-kata tidaklah mengikuti hawa nafsunya, melainkan dibimbing oleh wahyu yang diturunkan kepada Beliau.

قُلْ إِنَّمَا أُنذِرُكُم بِالْوَحْيِ وَلَا يَسْمَعُ الصُّمُّ الدُّعَاءَ إِذَا مَا يُنذَرُونَ ﴿٤٥﴾
“Katakanlah (hai Muhammad): "Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu dan tiadalah orang-orang yang tuli mendengar seruan, apabila mereka diberi peringatan" (QS. Al Anbiyaa’. 45).

Sehingga jika sebuah hadits itu memang benar-benar bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dipastikan isi hadits (matan hadits) tidak mungkin bertentangan dengan Al Qur’an, karena segala yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lain adalah wahyu semata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berkata-kata tidaklah mengikuti hawa nafsunya, melainkan dibimbing oleh wahyu yang diturunkan kepada Beliau.

16. Isa itu yang awal dan yang akhir (QS. 57: 3)

Berikut ini firman Allah dalam QS. 57: 3 (Al Qur’an surat nomer 57 [surat Al Hadiid] ayat 3):

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ﴿٣﴾
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al Hadiid. 3).

Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy): “(Dialah Yang Awal) sebelum segala sesuatu ada, keawalan Dia tidak ada permulaannya (dan Yang Akhir) sesudah segala sesuatu berakhir, keakhiran-Nya tanpa batas (dan Yang Maha Zahir) melalui bukti-bukti yang menunjukkan kezahiran Nya (dan Yang Batin) yakni tidak dapat dilihat dan ditemukan oleh panca indra (dan Dia Maha Mengetahui atas segala sesuatu)”.

Saudaraku,
Sebenarnya ayat di atas (surat Al Hadiid ayat 3) merupakan kelanjutan/masih terkait dengan 2 ayat sebelumnya, yaitu surat Al Hadiid ayat 1 – 2:

سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ﴿١﴾ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ﴿٢﴾
(1) Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. (2) Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al Hadiid. 1 – 2).

Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy): “(1) (Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah) memahasucikan-Nya dari semua yang tidak layak bagi-Nya. Huruf Lam adalah Zaidah, dan dipakai lafal Ma bukannya Man karena memandang dari segi mayoritasnya. (Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa) di dalam kerajaan-Nya (lagi Maha Bijaksana) di dalam perbuatan-Nya. (2) (Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan) melalui penciptaan (dan mematikan) sesudah itu (dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu)”.

Saudaraku,
Dari penjelasan ketiga ayat di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan yang awal dan yang akhir sebagaimana pernyataan pada point 16 tersebut bukanlah Nabi Isa AS, melainkan Allah SWT. Allah telah ada sebelum segala sesuatu ada (awal) dan Allah juga akan tetap ada ketika yang lain telah musnah (akhir).

17. Taurat dan Injil harus dituruti (QS. 5: 68)

Berikut ini firman Allah dalam QS. 5: 68 (Al Qur’an surat nomer 5 [surat Al Maa-idah] ayat 68):

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَسْتُمْ عَلَىٰ شَيْءٍ حَتَّىٰ تُقِيمُواْ التَّوْرَاةَ وَالْإِنجِيلَ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِّنْهُم مَّا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا فَلَا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ ﴿٦٨﴾
Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al Qur'an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu". Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu. (QS. Al Maa-idah. 68).

Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy): (Katakanlah "Hai Ahli Kitab! Kamu tidaklah berada dalam sesuatu agama) tidak dianggap beragama (hingga kamu menjalankan Taurat dan Injil dan apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu) yakni dengan mengamalkan apa yang terdapat di dalamnya, di antaranya beriman kepadaku. (Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu hanyalah akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan mereka) maksudnya bahwa disebabkan kekafiran mereka tadi, maka Alquran yang diturunkan padamu itu hanyalah menambah kekafiran dan kedurhakaan mereka, jadi bukan petunjuk dan keimanan. (Maka janganlah kamu berduka-cita) atau bersedih hati (terhadap orang-orang yang kafir.") jika mereka tak mau beriman, tidak usah mereka itu dihiraukan.

Saudaraku,
Benar bahwa Taurat dan Injil itu harus dituruti. Namun yang dimaksud di sini adalah Kitab Taurat dan Kitab Injil yang masih asli, yang masih terjamin kesucian dan kemurniannya dari campur tangan manusia. Sedangkan pada saat ini, keberadaan kitab suci - kitab suci tersebut sudah tidak terjamin kesucian dan kemurniannya dari campur tangan manusia.

Surat Al Maa-idah ayat 41 serta surat Ali ‘Imraan ayat 78 berikut ini memberi penjelasan tentang kitab suci - kitab suci terdahulu yang sudah tidak lagi terjamin kesucian dan kemurniannya dari campur tangan manusia:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ لَا يَحْزُنكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ مِنَ الَّذِينَ قَالُواْ آمَنَّا بِأَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِن قُلُوبُهُمْ وَمِنَ الَّذِينَ هَادُواْ سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ سَمَّاعُونَ لِقَوْمٍ آخَرِينَ لَمْ يَأْتُوكَ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ مِن بَعْدِ مَوَاضِعِهِ يَقُولُونَ إِنْ أُوتِيتُمْ هَـٰذَا فَخُذُوهُ وَإِن لَّمْ تُؤْتَوْهُ فَاحْذَرُواْ وَمَن يُرِدِ اللهُ فِتْنَتَهُ فَلَن تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللهِ شَيْئًا أُوْلَـٰــئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللهُ أَن يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿٤١﴾
”Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: "Kami telah beriman", padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merubah* perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: "Jika diberikan ini (yang sudah dirobah-robah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah" Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar”. (QS. Al Maa-idah. 41).

*)  Maksudnya: mengubah arti kata-kata, tempat, atau menambah dan mengurangi.

وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُم بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِندِ اللهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِندِ اللهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ ﴿٧٨﴾
“Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: "Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah", padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui”. (QS. Ali ‘Imraan 78)

Saudaraku,
Ketahuilah bahwa setiap kali seorang nabi wafat (atau dibunuh kaumnya), ajaran yang dibawanya dari waktu ke waktu selalu mengalami pelunturan, dari yang paling sederhana hingga yang paling parah. Seringkali para nabi dan orang shalih yang awalnya dihormati, kemudian malah dijadikan sesembahan selain Allah SWT.

Setiap kali ajaran nabi terdahulu mengalami penyimpangan berat, Allah mengutus nabi berikutnya untuk meluruskannya kembali. Dan begitu Allah telah mengutus nabi berikutnya, maka ajaran yang dibawa nabi sebelumnya yang sudah mengalami penyimpangan berat tersebut, tidak berlaku lagi. Semua kaum yang pernah diturunkan kepada mereka syariat (ketentuan-ketentuan atau peraturan-peraturan) sebelumnya yang sudah mengalami penyimpangan berat tersebut, diwajibkan untuk meninggalkannya dan berpindah masuk ke dalam syariat terbaru.

Saudaraku,
Berhala-berhala di masa Nabi Nuh, tidak lain asalnya adalah dari patung-patung orang shalih di zamannya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, aqidah (keyakinan) umat Nabi Nuh sedikit demi sedikit mulai mengalami penyimpangan hingga akhirnya terjadi penyimpangan berat sampai menyembah patung-patung orang shalih tersebut.

قَالَ نُوحٌ رَّبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَن لَّمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلَّا خَسَارًا ﴿٢١﴾ وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا ﴿٢٢﴾ وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ ءَالـِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا ﴿٢٣﴾
(21) Nuh berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakai-ku, dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, (22) dan melakukan tipu-daya yang amat besar". (23) Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwaa`, Yaghuts, Ya`uq dan Nasr". (QS. Nuh. 21 – 23)

Ibnu Abbas r.a. menjelaskan:

أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِينَ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ ، فَلَمَّا هَلَكُوا أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ أَنِ انْصِبُوا إِلَى مَجَالِسِهِمُ الَّتِى كَانُوا يَجْلِسُونَ أَنْصَابًا ، وَسَمُّوهَا بِأَسْمَائِهِمْ فَفَعَلُوا فَلَمْ تُعْبَدْ حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وَتَنَسَّخَ الْعِلْمُ عُبِدَتْ. (رواه البخارى)
Mereka adalah nama-nama orang-orang soleh di kalangan kaumnya Nuh. Ketika mereka meninggal, setan membisikkan kaumnya untuk membuat prasasti di tempat-tempat peribadatan orang soleh itu. Dan memberi nama prasasti itu sesuai nama orang soleh tersebut. Merekapun melakukannya. Namun prasasti itu tidak disembah. Ketika generasi (pembuat prasasti) ini meninggal, dan pengetahuan tentang prasasti ini mulai kabur, akhirnya prasasti ini disembah. (HR. Bukhari).

Saudaraku,
Ketika Nabi Isa diangkat, awalnya belum ada orang yang menyatakan beliau sebagai Tuhan (baca Al Qur’an surat Maryam ayat 30 serta surat Az Zukhruf ayat 59 di bawah ini). Namun dengan seiring berjalannya waktu, aqidah umat Nabi Isa sedikit demi sedikit mulai mengalami penyimpangan hingga akhirnya terjadi penyimpangan berat sampai menjadikan beliau Tuhan (baca surat An Nisaa’ ayat 171 di bawah ini).

قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللهِ ءَاتَـــٰنِيَ الْكِتَـــٰبَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا ﴿٣٠﴾
Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi”. (QS. Maryam. 30)

إِنْ هُوَ إِلَّا عَبْدٌ أَنْعَمْنَا عَلَيْهِ وَجَعَلْنَـــٰـهُ مَثَلًا لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ ﴿٥٩﴾
“Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya ni`mat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israil”. (QS. Az Zukhruf. 59).

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُواْ فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُواْ عَلَى اللهِ إِلَّا الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِّنْهُ فَئَامِنُواْ بِاللهِ وَرُسُلِهِ وَلَا تَقُولُواْ ثَلَاثَةٌ اِنتَهُواْ خَيْرًا لَّكُمْ إِنَّمَا اللهُ إِلَـٰهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَن يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَكَفَىٰ بِاللهِ وَكِيلًا ﴿١٧١﴾
”Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu*, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, `Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya** yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya***. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara”. (QS. An Nisaa’ ayat 171).

*)    Maksudnya: Janganlah kamu mengatakan Nabi ’Isa itu Allah, sebagai yang dikatakan oleh orang-orang Nasrani.
**)   Maksudnya: Membenarkan kedatangan seorang nabi yang diciptakan dengan kalimat ”kun” (jadilah) tanpa bapak, yaitu Nabi ’Isa AS.
***) Disebut tiupan dari Allah karena tiupan itu berasal dari perintah Allah.

Nah, jika masalah aqidah (keyakinan) yang paling esensial sampai mengalami deviasi yang parah, apatah lagi masalah detail teknis syar’iah, tentunya jauh mengalami penyimpangan luar biasa.

Al Qur’an banyak mengupas tentang adanya penyimpangan-penyimpangan tersebut. Salah satu ayat Al Qur’an yang menjelaskan tentang penyimpangan-penyimpangan tersebut adalah surat An Nisaa’ ayat 171 di atas.

Nah, karena ajaran-ajaran umat terdahulu mengalami penyimpangan, maka hanya satu penjelasan yang bisa diterima, yaitu sumber dari keyakinan tersebut (yaitu kitab suci-nya) juga terdapat penyimpangan/kesalahan. Dan penyimpangan-penyimpangan/kesalahan-kesalahan ini tidak mungkin terjadi jika kitab suci - kitab suci terdahulu masih terjamin kesucian dan kemurniannya dari campur tangan manusia. (Baca kembali penjelasan surat Al Maa-idah ayat 41 serta surat Ali ‘Imraan ayat 78 di atas).

Berbeda dengan ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi terdahulu yang dengan berjalannya waktu selalu mengalami penyimpangan dari yang paling sederhana hingga yang paling parah sehingga Allah mengutus nabi berikutnya untuk meluruskannya kembali, ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah Allah jaga kesucian dan kemurniannya dari campur tangan manusia hingga hari akhir nantinya karena Nabi Muhammad adalah nabi terakhir dari seluruh nabi.

Tidak ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga hari kiamat, karena Nabi Muhammad adalah penutup para nabi (Nabi Muhammad adalah nabi yang terakhir). Demikian penjelasan Allah dalam Al Qur’an surat Al Ahzaab ayat 40:

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَـــٰــكِن رَّسُولَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا ﴿٤٠﴾
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. Al Ahzaab. 40).

Nah, karena Nabi Muhammad adalah nabi yang terakhir, maka sudah tidak ada lagi kitab suci setelah Al Qur'an hingga hari kiamat. Sedangkan yang dimaksud dengan kitab suci itu adalah sebuah kitab yang di dalamnya berisi firman-firman Allah yang diwahyukan hanya kepada para Nabi/Rasul-Nya saja. Artinya tidak ada seorangpun yang bisa menerima wahyu dari-Nya, kecuali para Nabi/Rasul-Nya.

Karena sudah tidak ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad hingga hari kiamat nanti (sebagaimana penjelasan Al Qur’an surat Al Ahzab ayat 40 di atas), maka hal ini sekaligus juga menunjukkan bahwa Al Qur'an adalah kitab suci terakhir yang diturunkan ke muka bumi ini hingga akhir zaman.

Berbeda dengan kitab suci – kitab suci terdahulu, Al Qur'an sebagai kitab suci terakhir, Allah yang berjanji untuk memeliharanya sehingga tetap terjaga kesucian dan kemurniannya dari campur tangan manusia hingga hari akhir nantinya.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَـــٰــفِظُونَ ﴿٩﴾
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya*.” (QS. Al Hijr. 9).

*)  Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Qur’an untuk selama-lamanya.

Lebih dari itu, karena Nabi Muhammad adalah nabi yang terakhir, maka sudah tidak ada lagi nabi berikutnya yang diutus Allah untuk meluruskan/merevisi Al Qur’an karena Al Qur’an memang sudah dijaga oleh Allah sehingga mustahil akan terjadi penyimpangan-penyimpangan sebagaimana kitab suci – kitab suci terdahulu. Penjelasan selengkapnya, bisa dibaca pada artikel yang telah kutulis dengan judul: “Benarkah Al Qur’an Itu Perlu Direvisi?” (silakan klik di sini: http://imronkuswandi.blogspot.co.id/2015/06/benarkah-al-quran-itu-perlu-direvisi.html )

{ Bersambung; tulisan ke-2 dari 3 tulisan }

Info Buku:

Assalamu'alaikum wr. wb.

Alhamdulillah telah terbit buku "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur'an dan Hadits" jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan jilid 4.

Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz, M.Ag. yang telah berkenan untuk membaca dan memeriksa buku jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan jilid 4 tersebut.

Beliau (Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz, M.Ag.) adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Unsur Ketua MUI Jatim, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia 2009-2013, Dekan Fakultas Dakwah 2000-2004 / Guru Besar / Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 2004 - sekarang.

_____

Buku "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur'an dan Hadits" ini berisi kumpulan artikel-artikel yang pernah saya sampaikan dalam kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah menjelang shalat tarawih/ba’da shalat tarawih, kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus maupun kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook/whatsapp (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab, konsultasi, diskusi via email, facebook, sms, whatsapp, maupun media lainnya.

Semoga karya yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi saudara sesama muslim. Dan semoga amal karya yang sederhana ini dapat diterima Allah SWT. sebagai amal kebajikan, sehingga dapat menambah ketakwaan kepada-Nya. Amin, ya rabbal ‘alamin.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

Jilid 4:

Jilid 4:
Jilid 4: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-28-6

Jilid 3:

Jilid 3:
Jilid 3: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 396 halaman, ISBN 978-602-5416-27-9

Jilid 2:

Jilid 2:
Jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 324 halaman, ISBN 978-602-5416-26-2

Jilid 1:

Jilid 1:
Jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 330 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

Keterangan:

Penulisan buku di atas adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini: ”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞