بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Selasa, 05 Desember 2017

APAKAH NABI-NABI YANG TERDAHULU ITU KAFIR KARENA AGAMA ISLAM BELUM ADA? (III)



Assalamu’alaikum wr. wb.

Berikut ini lanjutan dari artikel: “Apakah Nabi-Nabi Yang Terdahulu Itu Kafir Karena Agama Islam Belum Ada? (II)”:

4. Apakah artinya Islam, muslim dan kafir?

√ Definisi Islam

Islam adalah satu-satunya agama yang diridhoi Allah, yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad serta seluruh nabi-nabi terdahulu dan menjadi pedoman hidup bagi seluruh umat manusia hingga akhir zaman.

... الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَــــٰمَ دِينًا ... ﴿٣﴾
“… Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. ...”. (QS. Al Maa-idah. 3).

قُلْ هَـــٰـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴿١٠٨﴾
“Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". (QS. Yusuf. 108).

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَــٰمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَــــٰسِرِينَ ﴿٨٥﴾
Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (QS. Ali ‘Imraan. 85).

Sedangkan pengertian Islam secara bahasa, artinya: damai, selamat, tunduk (menyerahkan diri), dan bersih (suci).

وَإِن جَنَحُواْ لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ﴿٦١﴾
Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Anfaal. 61)

قَالَ سَلَــــٰمٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا ﴿٤٧﴾
Berkata Ibrahim: "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. (QS. Maryam. 47)

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ واتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَاتَّخَذَ اللهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا ﴿١٢٥﴾
Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya. (QS. An Nisaa’. 125)

إِذْ جَاء رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ ﴿٨٤﴾
(Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (QS. Ash Shaffaat. 84)

√ Definisi muslim ( مُسْلِم )

Muslim adalah orang yang beragama Islam, yaitu orang yang tunduk dan patuh mengikuti secara lahir dan batin terhadap ajaran-ajaran (hukum-hukum) agama Islam.

√ Definisi kafir ( كافر )

Kafir adalah orang yang menyembunyikan atau mengingkari kebenaran. Kafir berasal dari kata kufur yang berarti ingkar, menolak atau menutup. Menurut syariat Islam, orang kafir adalah orang yang mengingkari Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dan mengingkari Rasulullah Muhammad SAW. sebagai utusan-Nya.

Pada zaman sebelum Agama Islam, istilah tersebut digunakan untuk para petani yang sedang menanam benih di ladang, menutup/mengubur dengan tanah. Sehingga kalimat kafir bisa dimplikasikan menjadi "seseorang yang bersembunyi atau menutup diri".

Jadi kafir itu sama sekali tidak terkait dengan perilaku seseorang. Ada orang kafir yang perilakunya (terhadap sesama manusia) bagus, ada pula yang buruk. Perhatikan penjelasan Al Qur’an dalam surat Al Mumtahanah ayat 8 berikut ini:

لَا يَنْهَــٰـكُمُ اللهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَــٰـتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَــٰــرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ ﴿٨﴾
”Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. (QS. Al Mumtahanah. 8).

Berdasarkan surat Al Mumtahanah ayat 8, dapat kita simpulkan bahwa ada orang kafir yang perilakunya (terhadap sesama manusia) bagus, ada pula yang perilakunya buruk.

Demikian yang bisa kusampaikan. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata keterbatasan ilmuku.

Semoga bermanfaat.

{Tulisan ke-3 dari 3 tulisan}

Minggu, 03 Desember 2017

APAKAH NABI-NABI YANG TERDAHULU ITU KAFIR KARENA AGAMA ISLAM BELUM ADA? (II)



Assalamu’alaikum wr. wb.

Berikut ini lanjutan dari artikel: “Apakah Nabi-Nabi Yang Terdahulu Itu Kafir Karena Agama Islam Belum Ada? (I)”:

2. Apakah Allah bisa salah dalam menurunkan kitab dan utusan-Nya?

Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah telah menjelaskan dalam Al Qur'an surat Thaahaa ayat 8 serta surat Al Hasyr ayat 24, bahwa Dia mempunyai nama-nama yang paling baik (asma’ul husna =الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ  ).

اللهُ لَا إِلَـــٰــهَ إِلَّا هُوَ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ﴿٨﴾
Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai al asmaa’ul husna (nama-nama yang baik). (QS. Thaahaa. 8)

هُوَ اللهُ الْخَــــٰـلِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ﴿٢٤﴾
”Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al Hasyr. 24).

Dan salah satu dari Asma’ul Husna tersebut adalah Al Haq (الحق  ) artinya: Yang Maha Benar. Allah itu Maha Benar, firman-Nya benar, perbuatan-Nya benar, kitab-kitab-Nya benar, agama-Nya benar dan segala sesuatu yang bersandar kepada-Nya juga benar.

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّهُ يُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَأَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ﴿٦﴾
Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala suatu, (QS. Al Hajj. 6)

فَذَٰلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَـــٰــلُ فَأَنَّىٰ تُصْرَفُونَ ﴿٣٢﴾
Maka itulah Allah Tuhan kamu yang haq; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)? (QS. Yunus. 32)

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَـــٰطِلُ وَأَنَّ اللهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ ﴿٦٢﴾
(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. Al Hajj. 62)

Dan karena Allah itu Maha benar, firman-Nya benar, perbuatan-Nya benar, kitab-kitab-Nya benar, agama-Nya benar dan segala sesuatu yang bersandar kepada-Nya juga benar, maka itu artinya Allah tidak mungkin salah dalam menurunkan kitab dan utusan-Nya.

3. Apakah kitab-kitab-Nya tidak kekal dan tidak sempurna?

Setiap kali seorang nabi wafat (atau dibunuh kaumnya), ajaran yang dibawanya dari waktu ke waktu selalu mengalami pelunturan, dari yang paling sederhana hingga yang paling parah. Seringkali para nabi dan orang shalih yang awalnya dihormati, kemudian malah dijadikan sesembahan selain Allah SWT.

Setiap kali ajaran nabi terdahulu mengalami penyimpangan berat, Allah mengutus nabi berikutnya untuk meluruskannya kembali. Dan begitu Allah telah mengutus nabi berikutnya, maka ajaran yang dibawa nabi sebelumnya yang sudah mengalami penyimpangan berat tersebut, tidak berlaku lagi. Semua kaum yang pernah diturunkan kepada mereka syariat (ketentuan-ketentuan atau peraturan-peraturan) sebelumnya yang sudah mengalami penyimpangan berat tersebut, diwajibkan untuk meninggalkannya dan berpindah masuk ke dalam syariat terbaru.

Berhala-berhala di masa Nabi Nuh, tidak lain asalnya adalah dari patung-patung orang shalih di zamannya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, aqidah (keyakinan) umat Nabi Nuh sedikit demi sedikit mulai mengalami penyimpangan hingga akhirnya terjadi penyimpangan berat sampai menyembah patung-patung orang shalih tersebut.

قَالَ نُوحٌ رَّبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَن لَّمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلَّا خَسَارًا ﴿٢١﴾ وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا ﴿٢٢﴾ وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ ءَالـِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا ﴿٢٣﴾
(21) Nuh berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakai-ku, dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, (22) dan melakukan tipu-daya yang amat besar". (23) Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwaa`, Yaghuts, Ya`uq dan Nasr". (QS. Nuh. 21 – 23)

Ibnu Abbas r.a. menjelaskan:

أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِينَ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ ، فَلَمَّا هَلَكُوا أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ أَنِ انْصِبُوا إِلَى مَجَالِسِهِمُ الَّتِى كَانُوا يَجْلِسُونَ أَنْصَابًا ، وَسَمُّوهَا بِأَسْمَائِهِمْ فَفَعَلُوا فَلَمْ تُعْبَدْ حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وَتَنَسَّخَ الْعِلْمُ عُبِدَتْ. (رواه البخارى)
Mereka adalah nama-nama orang-orang soleh di kalangan kaumnya Nuh. Ketika mereka meninggal, setan membisikkan kaumnya untuk membuat prasasti di tempat-tempat peribadatan orang soleh itu. Dan memberi nama prasasti itu sesuai nama orang soleh tersebut. Merekapun melakukannya. Namun prasasti itu tidak disembah. Ketika generasi (pembuat prasasti) ini meninggal, dan pengetahuan tentang prasasti ini mulai kabur, akhirnya prasasti ini disembah. (HR. Bukhari).

Ketika Nabi Isa diangkat, awalnya belum ada orang yang menyatakan beliau sebagai Tuhan (baca Al Qur’an surat Maryam ayat 30 serta surat Az Zukhruf ayat 59 di bawah ini). Namun dengan seiring berjalannya waktu, aqidah umat Nabi Isa sedikit demi sedikit mulai mengalami penyimpangan hingga akhirnya terjadi penyimpangan berat sampai menjadikan beliau Tuhan (baca surat An Nisaa’ ayat 171 di bawah ini).

قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللهِ ءَاتَـــٰنِيَ الْكِتَـــٰبَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا ﴿٣٠﴾
Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi”. (QS. Maryam. 30)

إِنْ هُوَ إِلَّا عَبْدٌ أَنْعَمْنَا عَلَيْهِ وَجَعَلْنَـــٰـهُ مَثَلًا لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ ﴿٥٩﴾
“Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya ni`mat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israil”. (QS. Az Zukhruf. 59).

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُواْ فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُواْ عَلَى اللهِ إِلَّا الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِّنْهُ فَئَامِنُواْ بِاللهِ وَرُسُلِهِ وَلَا تَقُولُواْ ثَلَاثَةٌ اِنتَهُواْ خَيْرًا لَّكُمْ إِنَّمَا اللهُ إِلَـٰهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَن يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَكَفَىٰ بِاللهِ وَكِيلًا ﴿١٧١﴾
”Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu7, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, `Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya8 yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya9. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara”. (QS. An Nisaa’ ayat 171).

7)  Maksudnya: Janganlah kamu mengatakan Nabi ’Isa itu Allah, sebagai yang dikatakan oleh orang-orang Nasrani.
8)  Maksudnya: Membenarkan kedatangan seorang nabi yang diciptakan dengan kalimat ”kun” (jadilah) tanpa bapak, yaitu Nabi ’Isa AS.
9)  Disebut tiupan dari Allah karena tiupan itu berasal dari perintah Allah.

Nah, jika masalah aqidah (keyakinan) yang paling esensial sampai mengalami deviasi yang parah, apatah lagi masalah detail teknis syar’iah, tentunya jauh mengalami penyimpangan luar biasa.

Al Qur’an banyak mengupas tentang adanya penyimpangan-penyimpangan tersebut. Salah satu ayat Al Qur’an yang menjelaskan tentang penyimpangan-penyimpangan tersebut adalah surat An Nisaa’ ayat 171 di atas.

Nah, karena ajaran-ajaran umat terdahulu mengalami penyimpangan, maka hanya satu penjelasan yang bisa diterima, yaitu sumber dari keyakinan tersebut (yaitu kitab suci-nya) juga terdapat penyimpangan/kesalahan. Dan penyimpangan-penyimpangan/kesalahan-kesalahan ini tidak mungkin terjadi jika kitab suci - kitab suci terdahulu masih terjamin kesucian dan kemurniannya dari campur tangan manusia.

Surat Al Maa-idah ayat 41 serta surat Ali ‘Imraan ayat 78 berikut ini memberi penjelasan tentang kitab suci - kitab suci terdahulu yang sudah tidak lagi terjamin kesucian dan kemurniannya dari campur tangan manusia:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ لَا يَحْزُنكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ مِنَ الَّذِينَ قَالُواْ آمَنَّا بِأَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِن قُلُوبُهُمْ وَمِنَ الَّذِينَ هَادُواْ سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ سَمَّاعُونَ لِقَوْمٍ آخَرِينَ لَمْ يَأْتُوكَ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ مِن بَعْدِ مَوَاضِعِهِ يَقُولُونَ إِنْ أُوتِيتُمْ هَـٰذَا فَخُذُوهُ وَإِن لَّمْ تُؤْتَوْهُ فَاحْذَرُواْ وَمَن يُرِدِ اللهُ فِتْنَتَهُ فَلَن تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللهِ شَيْئًا أُوْلَـٰــئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللهُ أَن يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿٤١﴾
”Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: "Kami telah beriman", padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merubah10 perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: "Jika diberikan ini (yang sudah dirobah-robah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah" Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar”. (QS. Al Maa-idah. 41).

10)  Maksudnya: mengubah arti kata-kata, tempat, atau menambah dan mengurangi.

وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُم بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِندِ اللهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِندِ اللهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ ﴿٧٨﴾
“Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: "Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah", padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui”. (QS. Ali ‘Imraan 78)

Berbeda dengan ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi terdahulu yang dengan berjalannya waktu selalu mengalami penyimpangan dari yang paling sederhana hingga yang paling parah sehingga Allah mengutus nabi berikutnya untuk meluruskannya kembali, ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. telah Allah jaga kesucian dan kemurniannya dari campur tangan manusia hingga hari akhir nantinya karena Nabi Muhammad adalah nabi terakhir dari seluruh nabi.

Tidak ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga hari kiamat, karena Nabi Muhammad adalah penutup para nabi (Nabi Muhammad adalah nabi yang terakhir). Demikian penjelasan Allah dalam Al Qur’an surat Al Ahzaab ayat 40:

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَـــٰــكِن رَّسُولَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا ﴿٤٠﴾
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. Al Ahzaab. 40).

Karena Nabi Muhammad adalah nabi yang terakhir, maka sudah tidak ada lagi kitab suci setelah kitab suci Al Qur'an hingga hari kiamat. Sedangkan yang dimaksud dengan kitab suci itu adalah sebuah kitab yang di dalamnya berisi firman-firman Allah yang diwahyukan hanya kepada para Nabi/Rasul-Nya saja. Artinya tidak ada seorangpun yang bisa menerima wahyu dari-Nya, kecuali para Nabi/Rasul-Nya.

Nah, karena sudah tidak ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad hingga hari kiamat nanti (sebagaimana penjelasan Al Qur’an surat Al Ahzab ayat 40 di atas), maka hal ini sekaligus juga menunjukkan bahwa Al Qur'an adalah kitab suci terakhir yang diturunkan ke muka bumi ini hingga akhir zaman.

Berbeda dengan kitab suci – kitab suci terdahulu, Al Qur'an sebagai kitab suci terakhir, Allah yang berjanji untuk memeliharanya sehingga tetap terjaga kesucian dan kemurniannya dari campur tangan manusia hingga hari akhir nantinya.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَـــٰــفِظُونَ ﴿٩﴾
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya11.” (QS. Al Hijr. 9).

11)  Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Qur’an untuk selama-lamanya.

Lebih dari itu, karena Nabi Muhammad adalah nabi yang terakhir, maka sudah tidak ada lagi nabi berikutnya yang diutus Allah untuk meluruskan/merevisi Al Qur’an karena Al Qur’an memang sudah dijaga oleh Allah sehingga mustahil akan terjadi penyimpangan-penyimpangan sebagaimana kitab suci – kitab suci terdahulu. Penjelasan selengkapnya, bisa dibaca pada artikel yang telah kutulis dengan judul: “Benarkah Al Qur’an Itu Perlu Direvisi?” (silakan klik di sini: http://imronkuswandi.blogspot.co.id/2015/06/benarkah-al-quran-itu-perlu-direvisi.html )

{ Bersambung; tulisan ke-2 dari 3 tulisan }

Info Buku

Assalamu'alaikum wr. wb.

Alhamdulillah buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur'an dan Hadits" Jilid 1 dan 2, telah dibaca & diperiksa oleh Prof. Dr. H. M. Ali Aziz, MAg.

Beliau adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Unsur Ketua MUI Jatim, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia 2009-2013, Dekan Fakultas Dakwah 2000-2004/Guru Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 2004 - sekarang.

Penulisan buku tersebut adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini:

”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Jilid 1:

Jilid 1:
Jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 330 halaman, ISBN: 978-602-396-004-0

Jilid 2:

Jilid 2:
Jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 324 halaman, ISBN: 602-396-005-7

Buku tersebut (Jilid 1 dan Jilid 2) merupakan kumpulan artikel yang pernah kusampaikan dalam ceramah/kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah ba’da shalat tarawih, ceramah/kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus/kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab/konsultasi/diskusi via email/facebook/sms/media lainnya.

Artikel-artikel tersebut telah dihimpun menjadi 13 bab yang disusun secara berurutan mulai dari bab awal yang membahas tentang kebenaran Al Qur'an serta kebenaran Agama Islam dengan harapan dapat memperkuat pondasi keimanan kita, hingga membahas berbagai problematika kehidupan sehari-hari dan diakhiri dengan bab yang membahas tentang kehidupan sesudah mati. Ditambah dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, diharapkan hal ini dapat menambah wawasan bagi yang ingin belajar banyak tentang nilai-nilai keislaman yang lebih dalam.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke sini: imronkuswandi@gmail.com atau via inbox (facebook) di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

____________________

Alhamdulillah, saat ini telah terbit buku:Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” Jilid 3. Buku jilid 3 ini merupakan kelanjutan dari buku jilid 1 dan jilid 2.

Jilid 3:

Jilid 3:
Jilid 3: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 396 halaman, ISBN: 978-602-006-4

Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Prof. Dr. H. M. Ali Aziz, M.Ag. yang telah memberi motivasi untuk menulis buku serta telah berkenan membaca dan memeriksa buku jilid 1 dan jilid 2 untuk kemudian memberikan banyak masukan dan kembali memotivasi untuk terus menulis buku-buku berikutnya. Dan alhamdulillah atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan penulisan buku jilid 3 ini.

Semoga karya yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi saudara sesama muslim. Dan semoga amal karya yang sederhana ini dapat diterima Allah SWT. sebagai amal kebajikan, sehingga dapat menambah ketakwaan kepada-Nya. Amin, ya rabbal ‘alamin.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞