بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Rabu, 05 April 2017

BENARKAH ALLAH TIDAK PERLU DIBELA? (II)



Assalamu’alaikum wr. wb.

Berikut ini lanjutan dari artikel: “Benarkah Allah Tidak Perlu Dibela? (I)”.

Setelah memperhatikan uraian di atas, sekarang marilah kita kaji sikap/pernyataan beliau terkait tindakan penistaan terhadap Agama Islam yang telah dilakukan oleh seorang oknum pejabat di Ibukota, dimana beliau telah memberikan tanggapan negatif terhadap para pembela Islam dengan memberikan pernyataan: “Gusti Allah ra butuh dibelo, ... Wong Maha Kuasa”.

Saudaraku,
Terkait sikap/pernyataan beliau tersebut, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman dalam surat Muhammad ayat 7 berikut ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن تَنصُرُوا اللهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ ﴿٧﴾
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (QS. Muhammad. 7).

Saudaraku,
Jika ayat tersebut menjelaskan bahwa apabila kita orang-orang yang beriman “menolong Allah”, apakah hal itu menunjukkan bahwa Allah itu adalah Tuhan yang lemah sehingga membutuhkan pertolongan dari kita? (Subhanallah, Maha Suci Allah dari sifat yang demikian!).

Adalah mustahil bagi Allah untuk mempunyai sifat sebagai Tuhan yang lemah sehingga membutuhkan pertolongan dari kita, karena sesungguhnya Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.

اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾
“Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu”. (QS. Al Ikhlaash. 2).

وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ ﴿٤﴾
“dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia". (QS. Al Ikhlaash. 4).

Jika memang demikian halnya, maka tiada lain maksud ayat tersebut selain daripada untuk menguji kita orang-orang yang beriman, apakah kita bersedia untuk menyisihkan sebagian ni`mat dari sekian banyak ni`mat (baca: surat Ibrahim ayat 34) yang telah dianugerahkan Allah kepada kita, untuk “menolong (agama) Allah”.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ﴿٢﴾
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?”. (QS. Al ‘Ankabuut. 2).

... وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللهِ لَا تُحْصُوهَا ... ﴿٣٤﴾
“... Dan jika kamu menghitung ni`mat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. ... ”. (QS. Ibrahim. 34).

Lebih dari itu, jika Allah adalah Tuhan yang lemah (subhanallah, Maha Suci Allah dari sifat yang demikian), tentunya Dia tidak akan mampu untuk membalas “pertolongan” kita tersebut dengan balasan yang berlipat ganda. Hal ini sekaligus juga menunjukkan bahwa perbuatan baik yang telah kita lakukan tersebut, yaitu dengan “menolong Allah”, pada hakekatnya hal itu adalah untuk (kebaikan) diri kita sendiri. Karena dari sebagian ni`mat yang kita sisihkan tersebut, justru akan dibalas oleh Allah dengan balasan yang berlipat ganda.

مَنْ عَمِلَ صَــٰــلِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّـــٰمٍ لِّلْعَبِيدِ ﴿٤٦﴾
“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba (Nya)”. (QS. Fushshilat. 46).

Sehingga dengan mudah dapat kita simpulkan bahwa benar Allah tidak membutuhkan pertolongan kita karena Allah adalah Tuhan yang Maha Kuasa. Kitalah yang butuh untuk menolong (agama) Allah, agar kita bisa mendapatkan pertolongan dari-Nya serta agar Allah meneguhkan kedudukan kita. (Wallahu a'lam).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن تَنصُرُوا اللهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ ﴿٧﴾
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (QS. Muhammad. 7).

Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy): “(Hai orang-orang yang beriman! Jika kalian menolong Allah) yakni agama-Nya dan Rasul-Nya (niscaya Dia menolong kalian) atas musuh-musuh kalian (dan meneguhkan telapak kaki kalian) di dalam medan perang”. (QS. Muhammad. 7).

Semoga bermanfaat.

{Tulisan ke-2 dari 2 tulisan}

Senin, 03 April 2017

BENARKAH ALLAH TIDAK PERLU DIBELA? (I)



Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku,
Terkait tindakan penistaan terhadap Agama Islam yang telah dilakukan oleh seorang oknum pejabat tinggi di Ibukota, seorang profesor/guru besar bidang ilmu teknik di sebuah perguruan tinggi negeri terkemuka di Jawa Timur, telah memberikan tanggapan negatif terhadap para pembela Islam dengan memberikan pernyataan berikut ini: “Gusti Allah ra butuh dibelo, ... Wong Maha Kuasa”. Artinya: “Gusti Allah tidak butuh dibela, ... Wong Maha Kuasa”.

Tanggapan

Sebelum menanggapi sikap/pernyataan beliau tersebut, marilah kita perhatikan terlebih dahulu uraian berikut ini:

Saudaraku,
Dalam sebuah Hadits Qudsi, Allah Ta’ala telah berfirman:

يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضُرِّي فَتَضُرُّوْنِي، وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُوْنِي.
يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا.
يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا.
يَاعِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُوْنِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ الْمَخِيْطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ. (رواه مسلم)
Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian tidak akan bisa mendatangkan kemudharatan kepadaKu lalu menimpakannya kepadaKu, dan kalian takkan bisa memberikan manfaat kepadaKu lalu kalian memberikannya kepadaKu.

Wahai hamba-hambaKu, seandainya generasi pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari bangsa manusia dan jin, mereka semua berada pada taraf ketakwaan seorang paling tinggi tingkat ketakwaannya di antara kalian, hal itu takkan menambah kerajaanKu sedikit pun.

Seandainya generasi pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari kalangan bangsa jin dan manusia, mereka semua berada pada taraf kedurhakaan seorang yang paling tinggi tingkat kedurhakaannya di antara kalian, hal itu takkan mengurangi kerajaanKu sedikit pun.

Wahai hambaKu, seandainya generasi pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari bangsa manusia dan jin, semuanya berdiri di atas tanah yang tinggi, lalu mereka semua meminta kepadaKu, lalu aku penuhi permintaan mereka, untuk yang demikian itu, tidaklah mengurangi apa-apa yang Aku miliki, kecuali seperti berkurangnya jarum jika dimasukkan ke dalam lautan. (HR. Muslim).

Sedangkan dalam Al Qur’an surat Ibrahim ayat 8, Allah Ta’ala juga telah berfirman:

وَقَالَ مُوسَىٰ إِن تَكْفُرُواْ أَنتُمْ وَمَن فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا فَإِنَّ اللهَ لَغَنِيٌّ حَمِيدٌ ﴿٨﴾
Dan Musa berkata: "Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (ni`mat Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (QS. Ibrahim. 8).

Saudaraku,
Berdasarkan firman Allah Ta’ala dalam Hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim serta dalam Al Qur’an surat Ibrahim ayat 8 di atas, dapat disimpulkan bahwa Allah tidak membutuhkan keimanan kita, Allah tidak butuh semua ibadah kita, dan Allah juga tidak butuh ketaatan kita.

Karena seandainya semua manusia (serta jin) dari manusia (serta jin) yang pertama diciptakan Allah hingga manusia (serta jin) yang terakhir diciptakan sebelum datangnya hari kiamat semuanya kafir, semuanya tidak beribadah kepada Allah, semuanya tidak menyembah Allah, semuanya durhaka dan selalu bermaksiat kepada Allah, maka hal itu semua tidak akan mengurangi kerajaan Allah sedikitpun.

Demikian pula sebaliknya, seandainya semua manusia (serta jin) dari manusia (serta jin) yang pertama diciptakan Allah hingga manusia (serta jin) yang terakhir diciptakan sebelum datangnya hari kiamat semuanya beriman, semuanya taat beribadah kepada Allah, semuanya hanya  menyembah Allah semata, semuanya tidak pernah durhaka dan tidak pernah bermaksiat kepada Allah, maka hal itu semua juga tidak akan menambah kerajaan Allah sedikitpun.

Saudaraku,
Dalam Al Qur’an surat Al-A’raaf ayat 188 berikut ini, bahkan Allah telah menjelaskan kepada kita semua bahwa ternyata tidak ada satupun diantara kita yang dapat menarik kemanfa`atan bagi diri kita sendiri dan tidak pula dapat menolak kemudharatan bagi diri kita sendiri, kecuali yang dikehendaki Allah (memberi manfaat serta menolak mudharat bagi diri sendiri saja tak bisa, apalagi memberikan manfaat serta mudharat kepada Allah SWT., tentunya akan lebih mustahil lagi).

قُل لَّا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَاْ إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ ﴿١٨٨﴾
“Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfa`atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman". (QS.Al-A’raaf. 188).

Nah,
Jika ternyata Allah tidak membutuhkan keimanan kita, jika ternyata Allah tidak butuh semua ibadah kita, dan jika ternyata Allah juga tidak butuh ketaatan kita, apakah itu artinya kita tidak perlu beriman kepada-Nya? Apakah itu artinya kita tidak perlu beribadah kepada-Nya? Apakah itu artinya kita tidak perlu taat kepada-Nya?

Tentu saja akan sangat menyesatkan jika kita meng-iyakan semua pertanyaan tersebut. Artinya akan sangat menyesatkan jika kita semua setuju bahwa karena Allah tidak membutuhkan keimanan kita, karena Allah tidak butuh semua ibadah kita, dan karena Allah juga tidak butuh ketaatan kita, maka itu artinya kita juga tidak perlu beriman kepada-Nya, kita juga tidak perlu beribadah kepada-Nya, dan kita juga tidak perlu taat kepada-Nya.

Yang benar adalah bahwa Allah memang tidak membutuhkan keimanan kita, Allah memang tidak butuh semua ibadah kita, dan Allah juga tidak butuh ketaatan kita. Kitalah yang membutuhkan untuk beriman kepada-Nya, kitalah yang butuh untuk beribadah kepada-Nya, dan kitalah yang butuh untuk taat kepada-Nya, jika kita ingin mendapatkan keselamatan dalam kehidupan di dunia ini, terlebih lagi pada hari kiamat nanti. Karena Allah telah berjanji untuk menolong/menyelamatkan para rasul-Nya dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari kiamat nanti, yang artinya Allah akan menyelamatkannya dari api neraka.

إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ ءَامَنُوا فِي الْحَيَوٰةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَــٰـدُ ﴿٥١﴾
“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat)”, (QS. Ghafir. 51).

Adalah mustahil bagi Allah untuk tidak menolong/tidak menyelamatkan para rasul-Nya serta orang-orang yang bertakwa kepada-Nya untuk kemudian memasukkan mereka ke dalam api neraka, karena sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Maha Menepati Janji.

... وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللهِ ...﴿١١١﴾
"... Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? ...” (QS. At Taubah. 111).

Dan Allah tidak akan pernah menyalahi janji-Nya, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Ar Ruum ayat 6:  

... لَا يُخْلِفُ اللهُ وَعْدَهُ ... ﴿٦﴾
"... Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, ...”. (QS. Ar Ruum. 6).

Sehingga dengan mudah dapat dipahami, agar kita bisa terhindar dari api neraka, maka satu-satunya jalan yang harus kita pilih adalah dengan menjadi orang-orang yang beriman kepada-Nya, yaitu dengan memilih Islam sebagai agama kita.

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَــٰمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَـــٰسِرِينَ ﴿٨٥﴾
Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (QS. Ali ‘Imraan. 85).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ اتَّقُواْ اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ ﴿١٠٢﴾
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (QS. Ali ’Imran. 102).

... وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُوْلَــٰـــئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَــٰــلُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُوْلَــٰــئِكَ أَصْحَــٰـبُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَــٰـلِدُونَ ﴿٢١٧﴾
”... Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. (QS. Al Baqarah. 217).

{ Bersambung; tulisan ke-1 dari 2 tulisan }

Sabtu, 01 April 2017

MENUNTUT HAK



Assalamu’alaikum wr. wb.

Terkait honor dari pihak yayasan yang dirasakan rendah pada sebagian perguruan tinggi serta tunjangan/hak-hak dosen lainnya yang acapkali tidak diberikan tepat waktu, beberapa dosen telah mendiskusikannya via WhatsApp di “Grup WA Dosen Indonesia”.

Ibu Fulanah (nama samaran, mahasiswi S3/dosen Bahasa Inggris di Jakarta): Kenapa ya, bahkan bagi kalangan terdidik sekali pun, komplain itu artinya lupa Tuhan dan nggak bersyukur? Lagian kalau komplain atau diskusi tentang keprihatinan dilarang, jadi maunya gimana? Mau bilang hidup berlimpah gitu? Ini ni makanya profesi kita nggak diperhatiin. Kayaknya tabu banget bilang kita ini gaji sedikit. Ujung-ujungnya mroyek di belakang, kayak aku. Habis kalau nggak mroyek, manalah cukup. Padahal ini krusial lho untuk diobrolin. Kok malah sok gengsi dan jadi penasihat dadakan yang salah kaprah.

Ibu Nafilah (nama samaran, dosen di Jakarta): Mirip dengan kasus di kampus tempat saya ngajar. Kalau ada yang komplain tentang kurangnya honor yang diterima, ada saja yang nyeletuk: syukuri saja. Atau kalau ada tunjangan belum turun-turun juga, ada juga yang bilang: syukuri saja. Padahal kan komplain itu bukan berarti tidak bersyukur, tapi menuntut hak.

Ibu Fulanah: Ya, aku juga ada yang gitu. Ada rekan dosen yang link-nya tidak begitu luas. Kebetulan dia juga tipe yang tidak mudah "menjual" secara supel. Beberapa kali aku bantu buka jalan, tapi petinggi kampus yang aku sambungkan kurang srek  dengannya. Akhirnya, ya berdiam di kampusku yang PTS kecil ini saja dengan gaji minim, belum serdos.

Pak Fulan (nama samaran, mahasiswa S3 di Spanyol/dosen Fakultas Teknik di Pontianak): Mungkin Pak Imron bisa menjelaskan bersyukur itu (seperti apa) dalam hal mencari rejeki buat keluarga?

Tanggapan

Saudaraku,
Aku sangat setuju dengan pendapat Ibu Fulanah, Ibu Nafilah serta bapak/ibu dosen lainnya bahwa komplain itu bukan berarti tidak bersyukur, tapi menuntut hak. Firman Allah ta’ala:

وَلَمَنِ انتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُوْلَـــٰــئِكَ مَا عَلَيْهِم مِّن سَبِيلٍ ﴿٤١﴾
“Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosapun atas mereka”. (QS. Asy Syuura. 41).

Sedangkan terkait rasa syukur atas segala nikmat yang telah dianugerahkan Allah kepada kita tersebut, terdapat tiga hal yang tidak boleh kita tinggalkan, yaitu: (1) senantiasa memuji Allah atas segala nikmat yang telah diberikan, (2) mengakui bahwa semua nikmat itu datangnya dari Allah, dan (3) mempergunakannya untuk taat kepada Allah semata.

1. Senantiasa memuji Allah atas segala nikmat yang telah diberikan.

Saudaraku,
Perhatikan penjelasan Al Qur’an dalam surat Az Zumar ayat 73 – 74 berikut ini:

وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّىٰ إِذَا جَاؤُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَـــٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَـــٰـلِدِينَ ﴿٧٣﴾
“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! Maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya". (QS. Az Zumar. 73).

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي صَدَقَنَا وَعْدَهُ وَأَوْرَثَنَا الْأَرْضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَاءُ فَنِعْمَ أَجْرُ الْعَـــٰمِلِينَ ﴿٧٤﴾
“Dan mereka mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki." Maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal”. (QS. Az Zumar. 74).

Dari surat Az Zumar ayat 73 tersebut diperoleh penjelasan bahwa orang-orang yang bertakwa kepada Allah akan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan. Terhadap nikmat tersebut, mereka (ayat 74) mengucapkan: اَلْحَمْدُ ِللهِ “Segala puji bagi Allah” yang telah memenuhi janji-Nya sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Al Baqarah ayat 25:

وَبَشِّرِ الَّذِين آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ ...﴿٢٥﴾
“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya ...” (QS. Al Baqarah. 25)

Saudaraku,
Dari uraian di atas, nampaklah bahwa terhadap segala nikmat yang telah dianugerahkan Allah, kita harus senantiasa memuji-Nya dengan mengucapkan: اَلْحَمْدُ ِللهِ “Segala puji bagi Allah”atau اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”.

2. Mengakui bahwa semua nikmat itu datangnya dari Allah.

Saudaraku,
Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah telah berfirman dalam Al Qur’an surat Asy Syuura ayat 4 serta surat Maryam ayat 64:

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ ﴿٤﴾
“Kepunyaan-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (QS. Asy Syuura. 4).

وَمَا نَتَنَزَّلُ إِلَّا بِأَمْرِ رَبِّكَ لَهُ مَا بَيْنَ أَيْدِينَا وَمَا خَلْفَنَا وَمَا بَيْنَ ذَٰلِكَ وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا ﴿٦٤﴾
“Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nya-lah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita dan apa-apa yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa”. (QS. Maryam. 64).

Dari kedua ayat tersebut diperoleh penjelasan bahwa semua yang ada di langit dan di bumi ini serta segala apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita dan apa-apa yang ada di antara keduanya, semuanya adalah milik Allah SWT, tak terkecuali segala nikmat yang telah dianugerahkan Allah kepada kita. Oleh karena itu, janganlah mengingkari kenyataan ini.

Saudaraku,
Dengan mengakui bahwa semua nikmat itu datangnya dari Allah, maka terhadap (nikmat) apapun yang saat ini telah kita miliki, tentunya tidak ada sedikitpun alasan/kesempatan bagi kita untuk menyombongkan diri. Karena sesungguhnya semuanya itu adalah milik-Nya semata. Sedangkan kita hanyalah insan yang lemah yang tidak bisa berbuat apa-apa tanpa pertolongan-Nya, tanpa nikmat yang datang dari-Nya.

... وَخُلِقَ الإِنسَـــٰـنُ ضَعِيفًا ﴿٢٨﴾
“..., dan manusia dijadikan bersifat lemah”. (QS. An Nisaa’. 28).

3. Mempergunakannya untuk taat kepada Allah.

Saudaraku,
Sebagai perwujudan rasa syukur kita kepada Allah, hendaknya terhadap semua nikmat tersebut kita pergunakan semata-mata hanya untuk taat kepada-Nya saja. Demikianlah perintah Allah kepada kita, sebagaimana firman-Nya dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 254:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِمَّا رَزَقْنَـــٰــكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ يَوْمٌ لَّا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَـــٰــعَةٌ وَالْكَـــٰــفِرُونَ هُمُ الظَّـــٰــلِمُونَ ﴿٢٥٤﴾
“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa`at*. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim”. (QS. Al Baqarah. 254).

Sedangkan dalam surat Al An’aam ayat 162 – 163, diperoleh penjelasan sebagai berikut:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّٰهِ رَبِّ الْعَـــٰـــلَمِينَ ﴿١٦٢﴾ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ ﴿١٦٣﴾
(162) Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”, (163) “tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". (QS. Al An’aam. 162 – 163).

Kesimpulan

Saudaraku,
Menuntut hak itu tidak sama dengan tidak bersyukur atas segala nikmat yang telah dianugerahkan Allah kepada kita. Aku melihat, ini adalah dua perkara yang tidak berkaitan. (Wallahu ta'ala a'lam).

Semoga bermanfaat.

NB.
*) Yang dimaksud dengan syafa`at ialah: usaha perantaraan dalam memberikan sesuatu manfa’at bagi orang lain atau mengelakkan sesuatu mudharat bagi orang lain.

Info Buku

Assalamu'alaikum wr. wb.

Alhamdulillah buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur'an dan Hadits" Jilid 1 dan 2, telah dibaca & diperiksa oleh Prof. Dr. H. M. Ali Aziz, MAg.

Beliau adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Unsur Ketua MUI Jatim, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia 2009-2013, Dekan Fakultas Dakwah 2000-2004/Guru Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 2004 - sekarang.

Penulisan buku tersebut adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini:

”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Jilid 1:

Jilid 1:
Jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 330 halaman, ISBN: 978-602-396-004-0

Jilid 2:

Jilid 2:
Jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 324 halaman, ISBN: 602-396-005-7

Buku tersebut (Jilid 1 dan Jilid 2) merupakan kumpulan artikel yang pernah kusampaikan dalam ceramah/kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah ba’da shalat tarawih, ceramah/kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus/kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab/konsultasi/diskusi via email/facebook/sms/media lainnya.

Artikel-artikel tersebut telah dihimpun menjadi 13 bab yang disusun secara berurutan mulai dari bab awal yang membahas tentang kebenaran Al Qur'an serta kebenaran Agama Islam dengan harapan dapat memperkuat pondasi keimanan kita, hingga membahas berbagai problematika kehidupan sehari-hari dan diakhiri dengan bab yang membahas tentang kehidupan sesudah mati. Ditambah dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, diharapkan hal ini dapat menambah wawasan bagi yang ingin belajar banyak tentang nilai-nilai keislaman yang lebih dalam.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke sini: imronkuswandi@gmail.com atau via inbox (facebook) di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

____________________

Alhamdulillah, saat ini telah terbit buku:Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” Jilid 3. Buku jilid 3 ini merupakan kelanjutan dari buku jilid 1 dan jilid 2.

Jilid 3:

Jilid 3:
Jilid 3: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 396 halaman, ISBN: 978-602-006-4

Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Prof. Dr. H. M. Ali Aziz, M.Ag. yang telah memberi motivasi untuk menulis buku serta telah berkenan membaca dan memeriksa buku jilid 1 dan jilid 2 untuk kemudian memberikan banyak masukan dan kembali memotivasi untuk terus menulis buku-buku berikutnya. Dan alhamdulillah atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan penulisan buku jilid 3 ini.

Semoga karya yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi saudara sesama muslim. Dan semoga amal karya yang sederhana ini dapat diterima Allah SWT. sebagai amal kebajikan, sehingga dapat menambah ketakwaan kepada-Nya. Amin, ya rabbal ‘alamin.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞