بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Jumat, 05 Agustus 2016

CINTA KEPADA ALLAH



Assalamu’alaikum wr. wb.


Saudaraku,
Jika kita benar-benar mencintai Allah SWT., maka ikutilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika ini yang kita lakukan, niscaya Allah akan mengasihi kita dan akan mengampuni dosa-dosa kita.

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿٣١﴾
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS. Ali ‘Imraan. 31).

Saudaraku,
Dari surat Ali ‘Imraan ayat 31 di atas, diperoleh penjelasan bahwa jika kita benar-benar mencintai Allah SWT., maka ikutilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

... وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ ﴿٧﴾
“... Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya”. (QS Al Hasyr. 7).

Sedangkan apabila kita mengikuti/menta’ati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sesungguhnya kita juga telah menta`ati Allah SWT.

مَّنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ وَمَن تَوَلَّىٰ فَمَآ أَرْسَلْنَـــٰـكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا ﴿٨٠﴾
“Barangsiapa yang menta`ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta`ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta`atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”. (QS An Nisaa’. 80).

Saudaraku,
Jika kita mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya Allah akan mengasihi kita dan akan mengampuni dosa-dosa kita, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Ali ‘Imraan ayat 31 di atas. Hal ini diperkuat dengan penjelasan beberapa hadits berikut ini:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ، إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَاِئرُ. (رواه مسلم)  
“Shalat lima waktu, Jum’at yang satu ke Jum’at berikutnya, dan Ramadhan yang satu ke Ramadhan berikutnya, adalah penghapus dosa-dosa yang dilakukan di antara waktu tersebut, apabila dijauhi dosa-dosa besar (yakni, selama dosa besar tidak dilakukan, pen.).” (HR. Muslim).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ، مَا تَقُولُونَ ذَلِكَ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ؟ قَالُوا: لاَ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا. قَالَ: فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا. (رواه البخارى ومسلم)   
“Apa pendapat kalian apabila ada sebuah sungai di (hadapan) pintu salah seorang kalian yang ia mandi padanya sehari lima kali, apa yang kalian katakan tentang hal itu, (apakah) masih tersisa kotorannya?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak tersisa kotorannya sedikit pun.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seperti itulah perumpamaan shalat lima waktu, Allah menghapus dengannya dosa-dosa.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً. (رواه مسلم)
“Barangsiapa bersuci dirumahnya kemudian berjalan menuju ke salah satu masjid Allah Subhanahu wata’ala untuk menunaikan salah satu kewajiban (shalat) yang diwajibkan oleh Allah Subhanahu wata’ala (atasnya), pada setiap dua langkah kakinya, satu langkah akan menggugurkan satu dosa dan satu langkah yang lain akan mengangkat derajat.” (HR. Muslim).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebutkan sebuah kisah tentang salah seorang dari Bani Israil dalam sabdanya:

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ، فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيهَا فَشَرِبَ ثُمَّ خَرَجَ، فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ، فَقَالَ الرَّجُلُ: لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبَ مِنَ الْعَطَشِ مِثْلُ الَّذِي كَانَ بَلَغَ مِنِّي. فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلَأَ خُفَّهُ مَاءً ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ حَتَّى رَقِيَ فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَإِنَّ لَنَا فِي هَذِهِ الْبَهَائِمِ لَأَجْرًا؟ فَقَالَ: فِي كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ. (رواه البخارى ومسلم)   
“(Dahulu) ketika seseorang dalam suatu perjalanan dan merasa kehausan yang amat sangat tiba-tiba dia mendapati sumur. Dia turun ke dalamnya dan minum dari airnya. (Ketika) dia keluar dari sumur tersebut, tiba-tiba dia melihat ada seekor anjing yang menjulurkan lidahnya menghisap tanah yang basah karena kehausan. Orang tersebut mengatakan, ‘Sungguh, telah menimpa anjing itu kehausan yang sangat sebagaimana telah menimpaku.’ Dia pun turun ke sumur dan memenuhi sepatu botnya dengan air dan memegangnya dengan mulutnya sampai naik, kemudian memberikan minum kepada anjing tersebut sehingga Allah memujinya dan mengampuni dosanya.” (Para sahabat pun) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah kita benar-benar akan mendapatkan balasan karena berbuat baik kepada hewan-hewan?” Beliau menjawab, “Berbuat baik kepada setiap yang hidup ada balasannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Mu’adz bin Anas meriwayatkan dari ayahnya (yakni Anas radhiyallahu ‘anhu), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَكَلَ طَعَامًا ثُمَّ قَالَ: الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا الطَّعَامَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ؛ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. (رواه ابو داود والترمذى وابن ماجه)
“Barang siapa yang selesai makan kemudian berdo’a, ‘Segala puji bagi Allah yang telah mengaruniakan makanan ini kepadaku dan memberi rezeki kepadaku pula tanpa daya dan upaya dari diriku’, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَصَابَ ذَنْبًا فَأُقِيمَ عَلَيْهِ حَدُّ ذَلِكَ الذَّنْبِ فَهُوَ كَفَّارَتُهُ
“Barang siapa melakukan dosa lalu ditegakkan atasnya hukuman had terhadap dosa tersebut, hal itu adalah penebus dosanya.” (HR. Ahmad dan Al-Bukhari).

Saudaraku,
Dari penjelasan beberapa hadits di atas, jelaslah bahwa ketika kita mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa kita. Sedangkan berdasarkan hadits berikut ini, diperoleh penjelasan bahwa jika mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Allah juga akan mencintai kita.

Dari Abul Abbas Sahl bin Sa’d as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu disebutkan:

أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اللهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللهُ، وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ. (رواه ابن ماجه)
“Seorang lelaki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Laki-laki itu berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku satu amalan yang apabila aku mengamalkannya Allah akan mencintaiku dan manusia akan mencintaiku.’ Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Zuhudlah dalam urusan dunia, Allah akan mencintaimu dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya manusia akan mencintaimu’.” (HR. Ibnu Majah)

Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat demi kehidupan akhirat.

Al-Hasan Al-Bashri menyatakan bahwa zuhud itu bukanlah mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta, akan tetapi zuhud di dunia adalah engkau lebih mempercayai apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Keadaanmu antara ketika tertimpa musibah dan tidak adalah sama saja, sebagaimana sama saja di matamu antara orang yang memujimu dengan yang mencelamu dalam kebenaran.

Hakekat zuhud itu berada di dalam hati, yaitu dengan keluarnya rasa cinta dan ketamakan terhadap dunia dari hati seorang hamba. Ia jadikan dunia (hanya) di tangannya, sementara hatinya dipenuhi rasa cinta kepada Allah dan akhirat.

Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia secara total dan menjauhinya. Lihatlah Nabi, teladan bagi orang-orang yang zuhud, beliau mempunyai sembilan istri. Demikian juga Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman, sebagai seorang penguasa mempunyai kekuasaan yang luas sebagaimana yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Para Shahabat, juga mempunyai istri-istri dan harta kekayaan, yang di antara mereka ada yang kaya raya. Semuanya ini tidaklah mengeluarkan mereka dari hakekat zuhud yang sebenarnya.

Saudaraku,
Jika dalam surat Ali ‘Imraan ayat 31 di atas, diperoleh penjelasan bahwa jika kita benar-benar mencintai Allah SWT. (yaitu dengan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) niscaya Allah akan mengasihi kita dan akan mengampuni dosa-dosa kita, maka kebalikan dari hal itu (ayat berikutnya/surat Ali ‘Imraan ayat 32) yaitu jika kita berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir (na’udzubillahi mindzalika).

قُلْ أَطِيعُواْ اللهَ وَالرَّسُولَ فإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الْكَـــٰــفِرِينَ ﴿٣٢﴾
Katakanlah: "Ta`atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". (QS. Ali ‘Imraan. 32).

Bahkan dalam surat Al Maa-idah ayat 54 berikut ini, Allah telah memberikan peringatan yang sangat keras:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَـــٰـفِرِينَ يُجَـــٰـهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ ﴿٥٤﴾
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu'min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al Maa-idah. 54).

Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy):

“(Hai orang-orang yang beriman! Siapa yang murtad) yartadda pakai idgam atau tidak; artinya murtad atau berbalik (di antara kamu dari agamanya) artinya berbalik kafir; ini merupakan pemberitahuan dari Allah SWT. tentang berita gaib yang akan terjadi yang telah terlebih dahulu diketahui-Nya. Buktinya setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat segolongan umat keluar dari agama Islam (maka Allah akan mendatangkan) sebagai ganti mereka (suatu kaum yang dicintai oleh Allah dan mereka pun mencintai-Nya) sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Mereka itu ialah kaum orang ini," sambil menunjuk kepada Abu Musa Al-Asyari; riwayat Hakim dalam sahihnya (bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin dan bersikap keras) atau tegas (terhadap orang-orang kafir. Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut akan celaan orang yang suka mencela) dalam hal itu sebagaimana takutnya orang-orang munafik akan celaan orang-orang kafir. (Demikian itu) yakni sifat-sifat yang disebutkan tadi (adalah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah Maha Luas) karunia-Nya (lagi Maha Mengetahui) akan yang patut menerimanya. Ayat ini turun ketika Ibnu Salam mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Wahai Rasulullah! Kaum kami telah mengucilkan kami!"

Wallahu a'lam,
Semoga bermanfaat.


Rabu, 03 Agustus 2016

MENOLAK KEDATANGAN TAMU (II)



Assalamu’alaikum wr. wb.

Berikut ini lanjutan dari artikel “Menolak Kedatangan Tamu (I)”:

Lalu apakah hal ini berarti kita tidak diperbolehkan menolak tamu yang datang? Jawabnya boleh-boleh saja, wahai saudaraku. Namun tidak dengan cara berbohong sebagaimana yang telah saudaraku sampaikan di atas.

Saudaraku,
Ketahuilah bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbolehkan kita untuk menolak tamu dalam rangka menghargai sang tamu, sebaliknya sang tamu juga harus menghargai tuan rumah (tamu yang datang harus dimuliakan, namun di saat tuan rumah repot atau sebab-sebab lainnya sehingga dikhawatirkan bila tetap menerima tamu akan melakukan hal-hal yang tidak seharusnya diketahui oleh tamu, tentunya sang tamu juga harus menghargai tuan rumah).

Saudaraku,
Akan menjadi tidak baik bila seseorang bertamu kemudian pulang dengan membawa oleh-oleh aib tuan rumah dalam hal kurang maksimalnya menerima tamu (atau sebab-sebab lainnya). Maka disinilah sang tamu harus mengerti bahwa ia pun sebenarnya diselamatkan oleh sunnah Nabi-nya agar pulang dalam keadaan bersih tanpa membawa aib tuan rumah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتاً غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ﴿٢٧﴾ فَإِن لَّمْ تَجِدُوا فِيهَا أَحَداً فَلَا تَدْخُلُوهَا حَتَّى يُؤْذَنَ لَكُمْ وَإِن قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا هُوَ أَزْكَى لَكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ ﴿٢٨﴾
(27). “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat”. (28). “Jika kamu tidak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: "Kembali (saja) lah", maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. An Nuur. 27 – 28).

Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy):

(27). (Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian sebelum meminta izin) maksudnya sebelum kalian meminta izin kepada empunya (dan memberi salam kepada penghuninya). Seseorang jika mau memasuki rumah orang lain hendaknya ia mengucapkan, "Assalaamu’alaikum, bolehkah aku masuk?" demikianlah menurut tuntunan hadits. (Yang demikian itu lebih baik bagi kalian) daripada masuk tanpa izin (agar kalian selalu ingat) lafal Tadzakkaruuna dengan mengidgamkan huruf Ta kedua kepada huruf Dzal; maksudnya supaya kalian mengerti akan kebaikan meminta izin itu, kemudian kalian mengerjakannya.
(28). (Jika kalian tidak menemukan seorang pun di dalamnya) maksudnya orang yang mengizinkan kalian masuk (maka janganlah kalian masuk sebelum kalian mendapat izin. Dan jika dikatakan kepada kalian) sesudah kalian meminta izin ("Kembalilah" maka hendaklah kalian kembali. Itu) yakni kembali itu (lebih bersih) dan lebih baik (bagi kalian) daripada berdiam menunggu di pintu (dan Allah terhadap apa yang kalian kerjakan) yakni mengenai memasuki rumah orang lain dengan memakai izin atau tidak (Maha Mengetahui) Dia kelak akan membalasnya kepada kalian.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita, bahwa batasan untuk meminta izin untuk bertamu adalah tiga kali.

Dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiyallahu ‘anhu, dia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Minta izin masuk rumah itu tiga kali, jika diizinkan untuk kamu (masuklah) dan jika tidak maka pulanglah!”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hal ini (memberi salam dan minta izin sebagaimana penjelasan surat An Nuur ayat 27 – 28 serta penjelasan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim di atas) maksudnya adalah: jika tamu telah memberi salam tiga kali namun tidak ada jawaban atau tidak diizinkan, maka itu berarti sang tamu harus menunda kunjungannya saat itu.

Adapun ketika salam dari sang tamu telah dijawab, bukan berarti sang tamu dapat membuka pintu kemudian masuk begitu saja, atau jika pintu telah terbuka bukan berarti sang tamu dapat langsung masuk. Sang tamu tetap harus minta izin untuk masuk dan menunggu izin dari sang pemilik rumah untuk memasuki rumahnya. Hal ini disebabkan sangat dimungkinkan jika sang tamu langsung masuk, maka ‘aib atau hal yang tidak diinginkan untuk dilihat belum sempat ditutupi oleh sang pemilik rumah. Sebagaimana diriwayatkan dari Sahal ibn Sa’ad radhiallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya disyari’atkan minta izin adalah karena untuk menjaga pandangan”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikian penjelasan yang bisa kusampaikan. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku.

Beliau mengatakan: “Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Baik Pak Imron, maturnuwun penjelasannya sehingga saya bisa menjadi lebih baik lagi dalam bertindak”.

Semoga bermanfaat.

{Tulisan ke-2 dari 2 tulisan}
NB.
*)  Hanif maksudnya: seorang yang selalu berpegang kepada kebenaran dan tak pernah meninggalkannya.


Senin, 01 Agustus 2016

MENOLAK KEDATANGAN TAMU (I)



Assalamu’alaikum wr. wb.

Seorang akhwat (teman sekolah di SMPN 1 Blitar) telah menyampaikan pesan via WhatsApp sebagai berikut:

Pak Imron, saya mau sedikit bertanya: “Bagaimana kalau saya menolak teman yang mau main ke rumah saya karena saya tidak suka dia datang ke rumah saya baik laki-laki atau perempuan sehingga saya berbohong sedang tidak di rumah, sedangkan tamu itu adalah rejeki. Maturnuwun, Pak Imron”.

Saudaraku,
Benar bahwa tamu itu (membawa) rejeki sebagaimana yang telah saudaraku sampaikan. Bahkan tidak hanya itu (tidak hanya membawa rejeki), tamu adalah juga membawa pengampunan dosa bagi tuan rumah. Perhatikan penjelasan hadits berikut ini:

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا دَخَلَ الضَّيْفُ عَلَى الْقَوْمِ دَخَلَ بِرِزْقِهِ وَإِذَا خَرَجَ خَرَجَ بِمَغْفِرَةِ ذُنُوبِهِمْ. (رواه الديلمى)
Apabila tamu telah masuk ke rumah seseorang, maka ia masuk dengan membawa rejekinya dan jika ia keluar, keluar membawa pengampunan dosa orang-orang rumah itu. (HR. Ad-Dailami).

Sedangkan terkait dengan kedatangan seseorang yang bertamu ke rumah kita, maka ketahuilah bahwa Islam telah mengajarkan kepada kita kaum muslimin agar menghormati/memuliakan tamu kita tersebut.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ. (رواه البخارى ومسلم)
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka katakanlah yang baik atau diam. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia memuliakan tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya dia memuliakan tamunya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim).

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ أَبِي حَصِينٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ. (رواه البخارى)
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Abu Al Ahwash dari Abu Hashin dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, janganlah ia mengganggu tetangganya, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia memuliakan tamunya dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia berkata baik atau diam". (HR. Al-Bukhari).

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ قَالَ حَدَّثَنِي سَعِيدٌ الْمَقْبُرِيُّ عَنْ أَبِي شُرَيْحٍ الْعَدَوِيِّ قَالَ سَمِعَتْ أُذُنَايَ وَأَبْصَرَتْ عَيْنَايَ حِينَ تَكَلَّمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتَهُ قَالَ وَمَا جَائِزَتُهُ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ وَالضِّيَافَةُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ فَمَا كَانَ وَرَاءَ ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ عَلَيْهِ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ. (رواه البخارى)
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami Al Laits dia berkata; telah menceritakan kepadaku Sa'id Al Maqburi dari Abu Syuraih Al 'Adawi dia berkata; "Saya telah mendengar dengan kedua telingaku dan melihat dengan kedua mataku ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengucapkan sabdanya: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia memuliakan tetangganya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia memuliakan tamunya, dan menjamunya" dia bertanya; 'Apa yang dimaksud dengan menjamunya wahai Rasulullah?" beliau menjawab: "yaitu pada siang dan malam harinya, bertamu itu tiga hari, lebih dari itu adalah sedekah bagi tamu tersebut." Dan beliau bersabda: "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia berkata dengan baik atau diam". (HR. Al-Bukhari).

Saudaraku,
Sekali lagi kusampaikan, bahwa sesungguhnya Islam telah mengajarkan kepada kita agar menghormati/memuliakan saudara kita yang datang bertamu ke rumah kita. Penghormatan tersebut tidak hanya sebatas pada tutur kata yang halus untuk menyambutnya, namun juga diiringi dengan perbuatan yang menyenangkan. Misalnya dengan memberikan jamuan, meski hanya sekedarnya.

Perhatikan bagaimana Nabi Ibrahim AS dalam memuliakan tamu-tamunya, sebagaimana dikisahkan Al Qur’an dalam surat Adz Dzaariyaat ayat 25 – 27 berikut ini (di sini dikutipkan ayat 24 – 28):

هَلْ أَتَـــىٰـكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ ﴿٢٤﴾ إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَـــٰمًا قَالَ سَلَــٰمٌ قَوْمٌ مُّنكَرُونَ ﴿٢٥﴾ فَرَاغَ إِلَىٰ أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ ﴿٢٦﴾ فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ ﴿٢٧﴾ فَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوا لَا تَخَفْ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَـــٰمٍ عَلِيمٍ ﴿٢٨﴾
(24). Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (25). (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: "Salaaman", Ibrahim menjawab: "Salaamun" (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. (26). Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), (27). lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim berkata: "Silakan kamu makan". (28). (Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata: "Janganlah kamu takut," dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishaq). (QS. Adz Dzaariyaat. 24 – 28).

Saudaraku,
Memberikan jamuan kepada tamu termasuk sunnah Nabi Ibrahim AS. yang telah diperintahkan oleh Allah SWT. kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta kita ummatnya untuk mengikutinya. Dalam surat An Nahl ayat 123, Allah SWT. telah berfirman:

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴿١٢٣﴾
“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif*)” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”. (QS. An Nahl. 123).

Sedangkan dalam hadits berikut ini, diperoleh penjelasan bahwa para malaikat akan tetap mendo’akan seseorang selama hidangan makanannya masih terhampar untuk para tamunya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَاتَزَالُ تُصَلِّى عَلَى أَحَدِكُمْ مَادَامَتْ مَائِدَتُهُ مَوْضُوعَةً. (رواه الترمذى)
“Sesungguhnya para malaikat tetap mendo’akan seseorang selama hidangan makannya masih terhampar (yakni untuk tamu-tamu)”. (HR. At-Tirmidzi).

Saudaraku,
Meskipun dalam surat Adz Dzaariyaat ayat 26 di atas dijelaskan bahwa Nabi Ibrahim AS telah menjamu tamunya dengan daging anak sapi gemuk yang dibakar, hal ini bukan berarti kita juga diperintahkan untuk menjamu tamu kita dengan jamuan serupa jika kita memang tidak mampu. Kita tidak perlu memaksakan diri untuk menjamu tamu kita dengan hidangan yang di luar kemampuan kita.

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ كُنَّا عِنْدَ عُمَرَ فَقَالَ نُهِينَا عَنْ التَّكَلُّفِ. (رواه البخارى)
Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Tsabit dari Anas berkata, pernah kami di sisi Umar dan beliau berkata: “Kami dilarang dari perbuatan yang memaksakan diri”. (HR. Al-Bukhari).

Saudaraku,
Dari uraian di atas, nampaklah betapa Islam telah mengajarkan kepada kita kaum muslimin agar menghormati/memuliakan saudara kita yang datang bertamu ke rumah kita. Sehingga sangat mudah dipahami bahwa sikap berbohong dengan mengatakan sedang tidak di rumah karena tidak ingin kedatangan tamu adalah sikap yang tercela. Karena hal ini dapat diartikan sebagai sikap tidak menghormati/memuliakan tamu.

{ Bersambung; tulisan ke-1 dari 2 tulisan }

Info Buku

Assalamu'alaikum wr. wb.

Alhamdulillah buku saya dengan judul "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur'an dan Hadits" Jilid 1 dan 2, telah dibaca + diperiksa oleh Prof. Dr. H. M. Ali Aziz. Beliau adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris / unsur Ketua MUI Jatim / Dekan Fakultas Dakwah (2000-2004) / Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya.

Penulisan buku tersebut adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini:

”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Jilid 1

Jilid 1
Jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², 330 hlm, ISBN: 978-602-396-004-0

Jilid 2

Jilid 2
Jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², 324 hlm, ISBN: 602-396-005-7

Buku tersebut (Jilid 1 dan Jilid 2) merupakan kumpulan artikel yang pernah kusampaikan dalam ceramah/kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah ba’da shalat tarawih, ceramah/kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus/kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab/konsultasi/diskusi via email/facebook/sms/media lainnya.

Artikel-artikel tersebut telah dihimpun menjadi 13 bab yang disusun secara berurutan mulai dari bab awal yang membahas tentang kebenaran Al Qur'an serta kebenaran Agama Islam dengan harapan dapat memperkuat pondasi keimanan kita, hingga membahas berbagai problematika kehidupan sehari-hari dan diakhiri dengan bab yang membahas tentang kehidupan sesudah mati. Ditambah dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, diharapkan hal ini dapat menambah wawasan bagi yang ingin belajar banyak tentang nilai-nilai keislaman yang lebih dalam.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke sini: imronkuswandi@gmail.com atau via inbox (facebook) di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞