بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Sabtu, 01 Agustus 2009

TERUSLAH BELAJAR!

Assalamu'alaikum wr. wb.

Saudaraku...,
Mungkin tulisan berikut ini dapat kita jadikan sebagai bahan renungan bersama. Mudah-mudahan dapat memotivasi kita untuk belajar dan terus belajar (tanpa mengenal lelah), kapanpun, dimanapun, dalam kondisi apapun. (Mohon maaf jika kurang bekenan...!!!)

----------

ILMU PENGETAHUAN (I)

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Jika kita merenungi lebih jauh lagi, maka sadarlah kita, bahwa ilmu pengetahuan yang kita miliki ternyata sangatlah terbatas. Semakin tinggi pendidikan kita, justru semakin menyadarkan kita, bahwa semakin banyak ilmu pengetahuan yang tidak kita ketahui. Teramat banyak ilmu pengetahuan yang tidak kita kuasai, karena pada kenyataannya, kita memang tidak mungkin menguasai semua ilmu, meski setinggi apa-pun pendidikan kita. “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (QS. Al Israa’. 85). “Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya”. (QS. Thaahaa. 110).

Sementara kalimat-kalimat-Nya adalah tidak terbatas. Tidak mungkin bagi kita untuk menuliskan semuanya. Meski telah disediakan tinta sebanyak lautan yang ada di bumi ini untuk menuliskan kalimat-kalimat-Nya, maka pasti akan habis tinta itu sebelum habis ditulis kalimat-kalimat-Nya. Bahkan seandainya didatangkan tambahan tinta sebanyak itu lagi, tetap saja, pasti akan habis lagi tinta itu sebelum habis ditulis kalimat-kalimat-Nya. Hal ini sesuai dengan penjelasan Al Qur’an dalam surat Al Kahfi berikut ini: “Katakanlah: "Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”. (QS. Al Kahfi. 109).

Bahkan dalam ayat yang lainnya, diperoleh penjelasan bahwa seandainya pohon-pohon di bumi ini dijadikan pena dan laut menjadi tintanya untuk menuliskan kalimat-kalimat Allah, kemudian ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah keringnya, niscaya tetap tidak akan pernah habis-habisnya kalimat Allah tersebut. “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)-nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Luqman. 27).

Saudaraku…,
Tentunya uraian di atas, dapat menjadi tantangan sekaligus ujian buat kita semua. Di satu sisi (karena ternyata ilmu kita teramat sedikit), kita mesti belajar dan terus belajar (tanpa mengenal lelah), kapanpun, dimanapun, dalam kondisi apapun. Bahkan meski kita sudah lulus S-2 atau S-3 sekalipun. Jangan pernah berhenti belajar. Di sisi lain, jika kita telah diberi kesempatan untuk meraih strata pendidikan tertinggi, maka janganlah hal ini membuat kita menjadi takabur/sombong. Ingatlah, bahwa setinggi apapun pendidikan kita, tetap saja, pengetahuan kita amatlah sedikit. “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (QS. Al Israa’. 85). { Tulisan ini juga bisa dibaca di sini: http://imronkuswandi.blogspot.com/2008/05/ilmu-pengetahuan-i.html }.

----------

Di sisi lain, jika kita telah diberi kesempatan untuk meraih strata pendidikan tertinggi, maka janganlah hal ini membuat kita menjadi takabur. Mungkin tulisan berikut ini {diambilkan dari: http://imronkuswandi.blogspot.com/2008/06/ternyata-kita-hanyalah-sekeping-debu.html } juga dapat kita jadikan sebagai bahan renungan bersama. Mudah-mudahan kita tidak sampai merasa besar, hanya karena memiliki sedikit kelebihan...

----------

TERNYATA KITA HANYALAH SEKEPING DEBU

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Dari buku Ilmu Pengetahuan Populer* (buku 1 dari 10 buku), diperoleh data bahwa masa bumi = 5.980.000.000.000.000.000.000.000 kg, sedangkan masa matahari = 330.000 x masa bumi. Matahari sendiri bukanlah bintang terbesar. Matahari hanyalah bintang dengan ukuran rata-rata. Bintang-bintang dengan ukuran lebih besar dari matahari, antara lain ialah bintang Antares yang mempunyai masa = 20 x masa matahari, dan bintang Hadar yang mempunyai masa = 25 x masa matahari. Sedangkan benda langit terbesar yang diketahui saat ini, mempunyai lebar = 18,6 tahun cahaya (1 tahun cahaya = jarak yang ditempuh oleh cahaya selama 1 tahun, yaitu sebesar 9.500.000.000.000 km). Artinya, jika seberkas cahaya bergerak melintas dari salah satu tepi benda langit tersebut menuju ke tepi lainnya, maka untuk menyelesaikan perjalanan tersebut, diperlukan waktu selama 18,6 tahun! Subhanallah!

Jarak matahari ke bumi = 150.000.000 km. Sedangkan jarak bintang lain yang terdekat selain matahari, yaitu bintang Alpha Centauri, jaraknya = 40.000.000.000.000 km. Galaksi kita, yaitu Bimasakti, terdiri dari sekitar 100.000.000.000 bintang. Garis tengah Bimasakti = 80.000 tahun cahaya.

Jumlah galaksi di alam semesta** diperkirakan sebanyak 100.000.000.000 galaksi. Beberapa galaksi terdekat adalah sebagai berikut: galaksi Awan-awan Magellanik, jaraknya = 200.000 tahun cahaya. Galaksi Andromeda, jaraknya = 2.000.000 tahun cahaya. Galaksi Ursa Mayor, jaraknya = 8.000.000 tahun cahaya. Dan galaksi Virgo, jaraknya = 39.000.000 – 52.000.000 tahun cahaya. Galaksi terjauh yang bisa teramati saat ini diperkirakan jaraknya mencapai beberapa milyar tahun cahaya.

Umur bumi diperkirakan = 4.500.000.000 tahun, sedangkan umur jagad raya diperkirakan = 10.000.000.000 tahun. Jadi, seandainya suatu saat bisa diciptakan teleskop tercanggih sekalipun, maka maksimal teleskop tersebut hanya mampu mengamati galaksi/benda langit lainnya yang jaraknya hanya sekitar 10.000.000.000 tahun cahaya. Galaksi-galaksi lain yang jaraknya lebih jauh lagi, tetap akan menjadi misteri, yang tidak akan pernah teramati. Karena, sejak awal mereka tercipta, cahayanya belum pernah mencapai bumi kita. Subhanallah! Maha Suci Engkau, Ya… Allah!

Saudaraku…,
Lalu berapakah sebenarnya luas alam semesta ini? Jawabnya: tidak ada seorangpun yang tahu. “dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (QS. Al Israa’. 85). “Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya”. (QS. Thaahaa. 110).

Subhanallah!
Jika kita melihat uraian di atas, ternyata kita hanyalah sekeping debu. Teramat kecil jika dibandingkan dengan jagad raya yang luasnya tidak ada seorangpun yang tahu, meski dengan peralatan tercanggih sekalipun. Dan, pada akhirnya barulah kita menyadari, bahwa ternyata kita tercipta dalam keadaan yang sangat lemah. “dan manusia dijadikan bersifat lemah”. (QS. An Nisaa’. 28).

Namun, pada kenyataannya, betapa banyak diantara kita yang merasa besar, hanya karena memiliki sedikit kelebihan. Padahal, “Kepunyaan-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (QS. Asy Syuura. 4).


Rasulullah SAW. bersabda:
مَنْ تَعَظَّمَ فِى نَفْسِهِ وَاَجْتَالَ فِى مِشْيَتِهِ لَقِىَ اللهَ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ (رواه أحمد)
“Siapa yang merasa dirinya besar, lalu sombong dalam jalannya, maka ia akan menghadap pada Allah, sedang Allah murka padanya”. (HR. Ahmad). Na’udzubillahi mindzalika!

Subhanallah!
“Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Maha Besar”. (QS. Al Waaqi’ah. 74). Bahkan hal ini ditegaskan kembali dalam dua ayat lainnya dengan kalimat yang sama, yaitu: surat Al Waaqi’ah ayat 96 serta surat Al Haaqqah ayat 52. Wallahu a'lam bish-shawab.

NB.
*) Kerja sama LIPI – Pusat Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan – Grolier International, Inc. – PT. Widyadara.

**) Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Alam semesta teramati adalah istilah dalam kosmologi Big Bang untuk menggambarkan daerah berbentuk bola di alam semesta yang mengelilingi pengamat di mana obyek-obyek dapat diamati karena jaraknya cukup dekat, artinya ada cukup waktu untuk ditempuh cahaya dari obyek itu ke pengamat. Setiap posisi memiliki alam semesta teramati sendiri.
Kata teramati di sini tidak ada hubungannya dengan kemampuan teknologi modern untuk mendeteksi radiasi dari obyek di dalam daerah ini, melainkan dengan kemungkinan cahaya atau radiasi lain dari obyek mencapai pengamat.
Banyak artikel kosmologi menggunakan istilah "alam semesta" untuk menyebut "alam semesta teramati". Hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan kita untuk mengetahui bagian alam semesta di luar alam semesta teramati.

Semoga bermanfaat.

Minggu, 05 Juli 2009

TERIMALAH KRITIKAN ITU SEBAGAI NASEHAT

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Terimalah kritikan itu sebagai nasehat. Apapun bentuk kritikan itu serta disampaikan dengan cara apapun, sesungguhnya semuanya itu adalah sebagai bentuk perhatian serta nasehat untuk kita. Sekalipun kritikan itu adalah tidak benar dan disampaikan dengan cara yang kasar. Apalagi jika kritikan itu adalah benar adanya dan disampaikan dengan cara yang sopan dan lemah lembut. Semoga Allah membalas kebaikan saudara-saudara kita yang telah bersedia untuk memberikan kritikan kepada kita (apapun bentuk kritikannya serta disampaikan dengan cara apapun). Amin...!

Sebagai ilustrasi, jika selama ini kita telah berusaha untuk bersikap jujur dan tidak pernah berupaya untuk mengambil hak orang lain. Kemudian orang lain telah mengatakan kepada kita bahwa kita telah melakukan banyak kecurangan (melakukan korupsi, mengurangi timbangan, berbohong dalam hal harga / kualitas barang, dll) demi meraup harta/kekayaan yang sebanyak-banyaknya. Padahal sebenarnya kita tidaklah demikian.

Menghadapi kritikan tersebut, akan lebih baik jika kita bersikap sabar dan menerima kritikan tersebut justru sebagai bentuk perhatian serta nasehat untuk kita. Mungkin selama ini (tanpa kita sadari) kita terlalu sombong dengan kejujuran kita. Mungkin selama ini (tanpa kita sadari) kita terlalu membanggakan ketaatan kita dalam menjalankan perintah-Nya.

Jika memang demikian, bisa jadi Allah telah menegur kita (melalui orang tersebut). Bisa jadi Allah telah mengingatkan kita (melalui orang tersebut). Karena sekalipun kita benar-benar telah berusaha untuk bersikap jujur dan tidak pernah berupaya untuk mengambil hak orang lain, namun jika kemudian diikuti dengan kesombongan, hal ini menunjukkan bahwa kita kurang ikhlas dalam menjalankan perintah-Nya. Hal ini juga menunjukkan bahwa kita kurang memurnikan ketaatan kita kepada-Nya.

Padahal, Allah hanya akan melihat amal-amal kita, jika semua amal-amal tersebut hanya kita ikhlaskan kepada-Nya, jika kita benar-benar memurnikan ketaatan kita kepada-Nya.

”Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”. (QS. Al Baqarah. 264).

“Katakanlah: "Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati”, (QS. Al Baqarah. 139).

”Katakanlah: "Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku". (QS. Az Zumar. 14).

Nah, jika menghadapi kritikan yang tidak benar saja kita seharusnya bersikap baik seperti uraian di atas, apalagi jika kritikan itu adalah benar adanya.

Saudaraku…,
Belajarlah untuk menjadi pendengar yang baik. Terimalah kritikan/nasehat itu dengan baik, bagaimanapun cara orang dalam menyampaikan kritikan/nasehat tersebut. Orang lainlah yang lebih tahu tentang kelemahan serta kekurangan kita, karena (pada umumnya) ada kecenderungan pada diri kita untuk menilai diri kita sendiri secara subyektif (cenderung untuk memberi penilaian yang lebih baik dari kenyataannya), sehingga kita menjadi kurang jeli terhadap kelemahan, kekurangan maupun bahaya yang sedang mengancam diri kita.

Jadi, diantara kita sudah semestinya untuk saling nasehat-menasehati, yang dalam hal ini tentunya masing-masing pihak harus siap untuk menerima kritikan demi kebaikan bersama. “Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. 103. 2-3).

Saudaraku…,
Belajarlah untuk merendahkan diri. Karena dengan merendahkan diri, kita akan sanggup untuk menerima kritikan dengan lapang dada. Dan ucapkanlah kata-kata yang baik, dimanapun, kapanpun, kepada siapapun. “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik”. (QS. Al Furqaan. 63).

Dan tak lupa, belajarlah untuk memberi ucapan terimakasih kepada orang-orang yang telah memberikan kritikan/masukan/nasehat kepada kita. Jika perlu, sertakan dalam do’a kita. Semoga Allah memberikan balasan terbaik kepadanya. Amin!

Semoga bermanfaat!

Sabtu, 04 Juli 2009

TERNYATA ALLAH TIDAK PERNAH MEMPERSULIT KITA

Assalamu’alaikum wr. wb.

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni`mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur”. (QS. Al Maa-idah. 6).

Saudaraku…,
Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah tidak pernah mempersulit urusan kita, sebagaimana telah dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al Kahfi berikut ini: ”Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan Kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah Kami". (QS. Al Kahfi. 88).

Sedangkan dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 239 diperoleh keterangan sebagai berikut: ”Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”. (QS. Al Baqarah. 239).

Saudaraku…,
Dari uraian tersebut di atas, dapat diperoleh penjelasan bahwa sesungguhnya Allah benar-benar tidak pernah mempersulit urusan kita. Karena sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat!

Jumat, 03 Juli 2009

JANGAN MUDAH MENYERAH...!

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Marilah kita perhatikan bersama, bahwa pada saat ini nampaknya kemaksiatan benar-benar sudah merajalela. Sedangkan kemungkaran juga sudah ada dimana-mana. Dan kecintaan pada dunia sepertinya juga sudah menjadi tujuan utama.

Saudaraku…,
Nampaknya inilah realita yang sedang kita hadapi saat ini, dimana begitu banyak terdapat perusak akhlak berbanding dengan sangat sedikitnya proses pembangunan akhlak. Sungguh..., suatu kenyataan yang sangat menyedihkan.

Saudaraku…,
Menghadapi hal ini, kita tidak boleh ”mudah menyerah”. Karena jika kita mudah menyerah, bagaimana mungkin kita dapat mempertahankan diri??? Sekali lagi, kita tidak boleh mudah menyerah. Karena jika kita mudah menyerah, bagaimana kita dapat mempertahankan diri kita dari gempuran yang terus-menerus dari musuh-musuh kita yang telah disponsori oleh syaitan laknatullah?

Saudaraku…,
Ingatlah, bahwa sesungguhnya syaitan akan selalu berupaya mendatangi kita dari segala arah, dalam upayanya untuk menyesatkan kita. Dalam Al Qur’an surat Al A’raaf ayat 16-17, diperoleh keterangan bahwa: “Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta`at)”.

Sedangkan dalam surat Al Hijr diperoleh keterangan bahwa: Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma`siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya”, (QS. Al Hijr. 39). ”kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis* di antara mereka". (QS. Al Hijr. 40). *) Yang dimaksud dengan “mukhlis” ialah orang-orang yang diberi taufiq untuk mentaati segala petunjuk dan perintah Allah. Wallahu a'lam bish-shawab.

Jangan mudah menyerah, wahai Saudaraku...!
Semoga Allah senantiasa membimbing dan meridhoi langkah kita. Amin...! “Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu'min, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik”. (QS. Al Israa’. 19).

Semoga bermanfaat!

Kamis, 02 Juli 2009

TERNYATA KESEMPATAN ITU TERAMAT MAHAL, NAMUN BEGITU BANYAK DIANTARA KITA YANG MENYIA-NYIAKANNYA

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Perhatikanlah, ketika seseorang yang hendak bepergian dengan kereta api dan ternyata telah terlambat hanya 1 menit saja. Pada peristiwa ini dia benar-benar dapat merasakan, betapa kesempatan itu ternyata teramat mahal.

Demikian juga, ketika seseorang yang hendak bepergian dengan naik pesawat terbang (plane) dan ternyata telah terlambat hanya 1 menit saja. Pada peristiwa ini dia juga benar-benar dapat merasakan, betapa kesempatan itu ternyata teramat mahal.

Hal yang sama juga terjadi ketika seseorang atlet yang sedang mengikuti lomba lari/renang. Bisa dipastikan, bahwa meskipun terlambat hanya 1 detik saja, hal ini benar-benar bisa berakibat fatal. Karena gelar juara yang sudah di depan mata, bisa hilang begitu saja. Pada peristiwa ini dia juga benar-benar dapat merasakan, betapa kesempatan itu ternyata teramat mahal.

Saudaraku…,
Sadarkah kita, bahwa peristiwa-peristiwa tersebut di atas, tak ubahnya seperti gambaran kehidupan yang kita lalui?

Saudaraku…,
Dalam Al Qur’an surat Yunus ayat 45, diperoleh penjelasan bahwa pada saatnya nanti, kita akan merasakan bahwa seakan-akan kita tidak pernah berdiam di dunia ini, melainkan hanya sesaat saja. “Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat saja di siang hari (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk”. (QS. Yunus. 45).

Nah…, jika pada saatnya nanti kita akan merasakan bahwa seakan-akan kita tidak pernah hidup di dunia ini, melainkan hanya sesaat saja. Lalu bagaimanakah dengan rangkaian kesempatan yang ada di dalamnya (rangkaian kesempatan selama masa hidup kita di dunia ini)?

Tentunya sudah bisa dipastikan bahwa berbagai kesempatan yang ada selama masa hidup kita di dunia ini akan terasa lebih singkat lagi. Padahal, begitu kesempatan itu berlalu – jika tidak kita gunakan dengan baik – maka hal-hal yang bermanfaat yang seharusnya bisa kita raih, bisa hilang begitu saja. Dan pada saatnya nanti, kita juga benar-benar akan merasakan, betapa kesempatan itu ternyata teramat mahal. Karena sekali kesempatan itu berlalu, dia tidak akan pernah kembali lagi. Karena sekali kesempatan itu hilang, hilang pula berbagai hal bermanfaat yang seharusnya bisa kita raih. Dan bisa dipastikan pula, bahwa tinggal sesal-lah yang akan kita dapatkan. Na’udzubillahi mindzalika!

“Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka”. (QS. Al Baqarah. 167).

“Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: "Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman", (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan)”. (QS. Al An’aam. 27).

Saudaraku…,
Oleh karena kesempatan itu ternyata teramat mahal, maka janganlah kita menyia-nyiakannya karena terlalu sibuk dengan urusan-urusan dunia semata, yang sebenarnya nilainya tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat.

”Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka**. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al An’aam. 32). **) Maksudnya ialah: kesenangan-kesenangan itu hanya sebentar dan tidak kekal, Janganlah orang terpedaya dengan kesenangan-kesenangan dunia, serta lalai dalam memperhatikan urusan akhirat. ”Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”. (QS. Al A’laa. 17). Wallahu a'lam.

Semoga bermanfaat!

Rabu, 01 Juli 2009

DARI TANAH LIAT KERING YANG BERASAL DARI LUMPUR HITAM

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Tahukah kita, bahwa sesungguhnya Allah telah Menciptakan kita dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam?

“Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan (untuk berbangkit) yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu)”. (QS. Al An’aam. 2).

“Dan sesungguhnya Kami telah meciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”. (QS. Al Hijr. 26).

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”. (QS. Al Hijr. 28).

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah”. (QS. Al Mu’minuun. 12).

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak”. (QS. Ar Ruum. 20).

“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah”. (QS. As Sajdah. 7).

“Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar”, (QS. Ar Rahmaan. 14).

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah”. (QS. Al Hajj. 5).

“Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah”. (QS. Faathir. 11).

“Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes, air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami-(nya)”. (QS. Al Mu’min. 67).

Saudaraku…,
Jika memang demikian, apakah kita masih pantas untuk menyombongkan diri? Apakah kita masih pantas untuk membanggakan diri? Apakah kita masih ...? Apakah kita masih ...? Na’udzubillahi mindzalika!

Semoga bermanfaat!

Jumat, 05 Juni 2009

SEMUANYA TIDAKLAH SIA-SIA

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Dan sesungguhnya, tiadalah Allah menciptakan semuanya ini dengan sia-sia.

وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاللهُ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ﴿١٨٩﴾ إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ ﴿١٩٠﴾ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿١٩١﴾
”Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Ali ‘Imran. 189). ”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”, (QS. Ali ‘Imran. 190). “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. Ali ‘Imran. 191).

Saudaraku…,
Dari surat Ali ’Imran ayat 189 – 191 tersebut, diperoleh keterangan bahwa Allah tidaklah menciptakan langit dan bumi (beserta semua yang ada di dalamnya / diantara keduanya) dengan sia-sia. Hal itu menunjukkan bahwa semua ciptaan Allah itu pasti bermanfaat.

Lalu, bagaimanakah dengan ciptaan Allah yang menurut pandangan sebagian orang (mungkin) benar-benar sangat merugikan atau setidaknya telah membuat hidupnya kurang nyaman? Seperti: diciptakannya virus penyebab penyakit atau adanya bau badan yang dirasa kurang nyaman oleh indra penciuman kita, dll.

Saudaraku…,
Ketahuilah, ketika seseorang mengatakan bahwa adanya virus penyebab penyakit atau adanya bau badan yang dirasa kurang nyaman oleh indra penciuman kita, dll yang semuanya itu dipandang sebagai ciptaan-Nya yang kurang bermanfaat bahkan telah merugikan kehidupan manusia, maka sesungguhnya hal ini semata-mata terjadi karena sempitnya / sangat terbatasnya ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh orang itu. Bukankah keterangan dalam surat Ali ’Imran ayat 189 – 191 di atas sudah cukup menjelaskan semuanya?

Memang, begitu banyak ciptaan Allah yang Allah tidak berikan penjelasan secara rinci tentang rahasia penciptaannya. Tentu saja, hal ini dapat menjadi tantangan sekaligus ujian buat kita semua. Di satu sisi (karena begitu banyak ciptaan Allah yang Allah tidak berikan penjelasan secara rinci tentang rahasia penciptaannya), maka kita mesti belajar dan terus belajar (tanpa mengenal lelah) untuk mengetahui rahasia ciptaan-Nya, kapanpun, dimanapun, dalam kondisi apapun.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ﴿١﴾ خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ ﴿٢﴾ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ﴿٣﴾ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ﴿٤﴾ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ﴿٥﴾ كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَى ﴿٦﴾ أَن رَّآهُ اسْتَغْنَى ﴿٧﴾ إِنَّ إِلَى رَبِّكَ الرُّجْعَى ﴿٨﴾
”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan”, (QS. Al ‘Alaq. 1). ”Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”. (QS. Al ‘Alaq. 2). ”Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah”, (QS. Al ‘Alaq. 3). “Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam*”. (QS. Al ‘Alaq. 4). *) Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca. “Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (QS. Al ‘Alaq. 5). “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas”, (QS. Al ‘Alaq. 6). “karena dia melihat dirinya serba cukup”. (QS. Al ‘Alaq. 7). “Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali-(mu)”. (QS. Al ‘Alaq. 8).

Di sisi lain, jika kita telah diberi kesempatan untuk mengetahui sebagian rahasia ciptaan-Nya, maka janganlah hal ini membuat kita menjadi takabur/sombong, karena bagaimanapun juga, masih tetap teramat banyak ciptaan-Nya yang lain yang belum kita ketahui rahasianya.

... وَمَا أُوتِيتُم مِّن الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلاً ﴿٨٥﴾
“... dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (QS. Al Israa’. 85).

Ingatlah wahai saudaraku, bahwa manusia itu mempunyai kecenderungan untuk mudah berpaling dan bersikap sombong ketika Allah memberikan kepadanya sedikit saja pengetahuan ataupun kesenangan kepadanya.

وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الإِنسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَى بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَؤُوسًا ﴿٨٣﴾
”Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia: dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa”. (QS. Al Israa’. 83).

Nah, jika dengan sedikit kelebihan saja sudah ada kecenderungan untuk mudah berpaling dan bersikap sombong, lalu bagaimanakah jika seandainya Allah memberikan kelebihan* yang lebih banyak lagi??? *) Kelebihan yang dimaksud bisa berupa ilmu pengetahuan maupun kesenangan hidup lainnya. Wallahu a’lam.

Ya… Tuhan kami,
Lindungilah kami ketika kami membaca ayat-ayat-Mu dari godaan syaitan yang terkutuk agar kami senantiasa berada dalam jalan-Mu yang lurus.

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ﴿٩٨﴾
”Apabila kamu membaca Al Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk”. (QS. An Nahl. 98).

Semoga bermanfaat!

Kamis, 04 Juni 2009

SEMUANYA SIA-SIA (II)

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Bung Fulan adalah seorang karyawan di sebuah perusahaan di kota Surabaya. Dengan gaji tetap per bulan, Bung Fulan sudah merasa sangat bahagia dan menikmati pekerjaannya tersebut.

Setelah berjalan beberapa tahun, karier Bung Fulan-pun semakin menanjak. Dan tentu saja, penghasilannya juga semakin meningkat seiring dengan perjalanan kariernya. Namun karena keinginannya untuk segera meraih kesuksesan serta mendapatkan kekayaan yang melimpah begitu menggebu-gebu, hal ini telah menjadikannya tidak mensyukuri nikmat karier serta peningkatan penghasilan yang telah diberikan Allah kepadanya.

Hingga pada suatu saat, ketika sudah mulai ada kesempatan, Bung Fulan-pun mulai mencoba untuk melakukan kecurangan/korupsi. Sekali merasakan “nikmatnya” korupsi, nampaknya hal ini telah membuat Bung Fulan ingin mengulanginya lagi. Dan seiring dengan peningkatan kariernya, maka kesempatan untuk melakukan korupsi-pun semakin banyak pula. Ditambah dengan pengalamannya, Bung Fulan-pun semakin terampil dalam melakukan korupsi tersebut. Sehingga kesuksesan demi kesuksesan justru dapat diraihnya dengan baik.

Dan untuk menutupi ”belangnya”, Bung Fulan juga senantiasa berusaha membangun citra dirinya sebagai orang yang baik, yang peduli dengan sesama. Untuk itu, sebagian uang ”hasil korupsinya” telah dia sisihkan untuk menyantuni saudara-saudaranya serta para tetangganya yang kurang mampu. Sebagian yang lainnya dia salurkan untuk membantu sebuah panti sosial yang ada di kampungnya. Uang ”hasil korupsinya” juga telah dia salurkan untuk kegiatan-kegiatan sosial yang lainnya.

Hingga pada suatu saat, petaka itupun datang. Dalam perjalanan pulang dari kantornya, Bung Fulan mengalami kecelakaan hebat hingga mengakibatkan Bung Fulan harus tutup usia. Pada saat itulah Bung Fulan baru menyadari, betapa ”sia-sianya” semua yang telah dilakukannya.

الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا ﴿١٠٤﴾
”Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”. (QS. Al Kahfi. 104).

Pada saat itu, Bung Fulan baru menyadari, bahwa semua yang telah dia upayakan, ternyata sedikitpun tidak mampu memberi pertolongan/manfaat kepadanya.

مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ ﴿٢﴾
”Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan”. (QS. Al Lahab. 2).

Dan pada saat itu pula-lah, Bung Fulan juga baru menyadari, bahwa semua pujian dan sanjungan dari para tetangga, saudara/kerabatnya serta sahabat-sahabatnya, semuanya itu ternyata tidaklah berarti sama sekali. Bung Fulan juga baru menyadari, apalah artinya mendapat pujian dari orang lain, jika ternyata Allah telah menghinakannya. Apalah artinya mendapat sanjungan dari orang lain, jika ternyata Allah telah mencampakkannya. Karena sesungguhnya pada saat itu, tidak ada seorangpun yang dapat memberi pertolongan. Karena sesungguhnya pertolongan itu hanyalah dari Allah Yang Hak. Dia-lah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan.

هُنَالِكَ الْوَلَايَةُ لِلَّهِ الْحَقِّ هُوَ خَيْرٌ ثَوَابًا وَخَيْرٌ عُقْبًا ﴿٤٤﴾
“Di sana pertolongan itu hanya dari Allah Yang Hak. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan”. (QS. Al Kahfi. 44).

Saudaraku…,
Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. Demikian penjelasan Al Qur’an surat Al ‘Ashr ayat 2 – 3:

إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ﴿٣﴾
“Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. 103. 2 3).

Yah..., memang begitulah kenyataannya. Begitu banyak di antara kita yang benar-benar berada dalam keadaan merugi. Karena tanpa kita sadari, seringkali kita dengan senang hati, bahkan berusaha keras untuk mencari kesempatan agar kita dapat menukar kesenangan yang sedikit selama masa hidup kita yang teramat singkat di dunia ini, dengan kesulitan yang tiada tara, kelak di alam akhirat nanti!!! Na’udzubillahi mindzalika!

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللهِ الْغَرُورُ ﴿٥﴾
”Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syetan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah”. (QS. Faathir. 5).

Ya… Tuhan kami,
Berilah kekuatan kepada kami, sehingga kami benar-benar dapat ridha dengan apa yang telah Engkau berikan kepada kami. Cukuplah Engkau bagi kami. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang hanya berharap kepada Engkau. Semoga Engkau berikan karunia-Mu kepada kami. Amin!

وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوْاْ مَا آتَاهُمُ اللهُ وَرَسُولُهُ وَقَالُواْ حَسْبُنَا اللهُ سَيُؤْتِينَا اللهُ مِن فَضْلِهِ وَرَسُولُهُ إِنَّا إِلَى اللهِ رَاغِبُونَ ﴿٥٩﴾
“Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: "Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebahagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah", (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka)”. (QS. At Taubah. 59).

Semoga bermanfaat!

NB.
Bung Fulan pada kisah di atas hanyalah nama fiktif belaka. Mohon ma’af jika secara kebetulan ada kemiripan nama dengan kisah di atas!

Rabu, 03 Juni 2009

SEMUANYA SIA-SIA (I)

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Mas Fulan adalah seorang pemuda yang pernah merantau di Surabaya. Selama di perantauan, Mas Fulan senantiasa berusaha keras untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Hingga pada suatu saat (ketika kesempatan itu ada), Mas Fulan telah “berhasil” menggelapkan uang majikannya dalam jumlah besar.

Setelah “berhasil” membawa kabur uang majikannya, Mas Fulan langsung kembali pulang ke kampung halamannya. Berbekal uang “haram” tersebut, Mas Fulan telah membuka usaha toko di kampung halamannya. Kepada istri dan keluarganya serta kepada para tetangganya, Mas Fulan selalu bercerita bahwa modal untuk usahanya yang begitu besar tersebut, semata-mata adalah hasil kerja kerasnya selama merantau di Surabaya. Ditambah dengan penampilan serta sikap Mas Fulan yang baik dan nampak tekun beribadah, hal ini semakin membuat istri dan keluarganya serta kepada para tetangganya percaya. Yang mereka ketahui adalah bahwa Mas Fulan adalah sosok yang taat beribadah serta senantiasa peduli dengan para tetangganya.

Setelah beberapa lama mengelola tokonya, Mas Fulan mulai insaf dan senantiasa berusaha untuk jujur dalam menjalankan usahanya. Dalam hal timbangan, Mas Fulan tidak pernah curang. Dalam hal harga, Mas Fulan tidak pernah berbohong. Dalam hal kualitas barang dagangannya, Mas Fulan juga selalu menunjukkan apa adanya (jika memang jelek dikatakan jelek, dan jika memang baik dikatakan baik). Demikianlah, Mas Fulan benar-benar senantiasa berusaha untuk jujur dalam menjalankan usahanya.

Setelah berjalan beberapa tahun, usaha Mas Fulan-pun semakin berkembang dengan pesatnya. Hingga Mas Fulan bisa menunaikan ibadah haji bersama seluruh keluarganya, menyantuni fakir miskin, memberi pekerjaan kepada para tetangganya. Bahkan Mas Fulan juga telah berhasil membangun masjid nan megah di kampung halamannya.

Melihat usahanya yang berkembang pesat, tentu saja hal ini semakin membuat Mas Fulan berbahagia. Karena hal ini benar-benar dapat menjadi tumpuannya, seiring dengan usianya yang semakin senja. Hingga akhirnya, cobaan itupun datang. Dengan usia yang semakin senja, Mas Fulan menderita sakit parah hingga akhirnya Mas Fulan-pun tutup usia.

Pada saat itulah Mas Fulan baru menyadari, betapa sia-sianya semua kesuksesan serta semua upayanya selama ini. Karena usaha dagangnya dibangun hari “uang haram”, maka semua penghasilan yang bersumber darinya juga haram. Dan ternyata hal ini juga berdampak pada semua amal ibadahnya yang lain. Bagaimana mungkin upayanya untuk menyantuni fakir miskin bisa bernilai ibadah, jika untuk menyantuninya bersumber dari uang haram? Bagaimana mungkin upayanya untuk membangun masjid bisa bernilai ibadah, jika untuk membangunnya bersumber dari uang haram? Demikian juga dengan hajinya, sholatnya, dst? Belum lagi dengan tanggung-jawabnya terhadap uang majikannya yang telah dia bawa kabur dan digunakannya untuk modal usahanya tersebut.

الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا ﴿١٠٤﴾
”Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”. (QS. Al Kahfi. 104).

Karena jika masa itu telah tiba, maka semua yang telah dia usahakan, ternyata sedikitpun tidak mampu memberi pertolongan/manfaat kepadanya.

مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ ﴿٢﴾
”Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan”. (QS. Al Lahab. 2).

Sedangkan para fakir miskin yang telah disantuninya, juga para tetangganya yang telah mendapatkan pekerjaan darinya, termasuk istri dan keluarganya, dengan santainya menikmati ”hasil jerih payahnya”. Dan karena mereka semuanya benar-benar tidak menyadari bahwa harta yang telah mereka nikmati tersebut berasal dari uang haram, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللهِ الْغَرُورُ ﴿٥﴾
”Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syetan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah”. (QS. Faathir. 5).

Ya… Tuhan kami,
Berilah kekuatan kepada kami, sehingga kami benar-benar dapat ridha dengan apa yang telah Engkau berikan kepada kami. Cukuplah Engkau bagi kami. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang hanya berharap kepada Engkau. Semoga Engkau berikan karunia-Mu kepada kami. Amin!

وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوْاْ مَا آتَاهُمُ اللهُ وَرَسُولُهُ وَقَالُواْ حَسْبُنَا اللهُ سَيُؤْتِينَا اللهُ مِن فَضْلِهِ وَرَسُولُهُ إِنَّا إِلَى اللهِ رَاغِبُونَ ﴿٥٩﴾
“Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: "Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebahagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah", (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka)”. (QS. At Taubah. 59).

Semoga bermanfaat!

NB.
Mas Fulan pada kisah di atas hanyalah nama fiktif belaka. Mohon ma’af jika secara kebetulan ada kemiripan nama dengan kisah di atas!

Info Buku:

● Alhamdulillah, telah terbit buku: Islam Solusi Setiap Permasalahan jilid 1.

Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, MAg: “Banyak hal yang dibahas dalam buku ini. Tapi, yang paling menarik bagi saya adalah dorongan untuk mempelajari Alquran dan hadis lebih luas dan mendalam, sehingga tidak mudah memandang sesat orang. Juga ajakan untuk menilai orang lebih berdasar kepada kitab suci dan sabda Nabi daripada berdasar nafsu dan subyektifitasnya”.

Buku jilid 1:

Buku jilid 1:
Buku: “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 378 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

● Buku “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1 ini merupakan kelanjutan dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” (jilid 1 s/d jilid 5). Berisi kumpulan artikel-artikel yang pernah saya sampaikan dalam kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah menjelang shalat tarawih/ba’da shalat tarawih, Khutbah Jum’at, kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus maupun kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook/whatsapp (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab, konsultasi, diskusi via email, facebook, sms, whatsapp, maupun media lainnya.

● Sebagai bentuk kehati-hatian saya dalam menyampaikan Islam, buku-buku religi yang saya tulis, biasanya saya sampaikan kepada guru-guru ngajiku untuk dibaca + diperiksa. Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz adalah salah satu diantaranya. Beliau adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Unsur Ketua MUI Jatim, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia 2009-2013, Dekan Fakultas Dakwah 2000-2004/Guru Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 2004 - sekarang.

_____

Assalamu'alaikum wr. wb.

● Alhamdulillah, telah terbit buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5.

● Buku jilid 5 ini merupakan penutup dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan jilid 4.

Buku Jilid 5

Buku Jilid 5
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-29-3

Buku Jilid 4

Buku Jilid 4
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 4: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-28-6

Buku Jilid 3

Buku Jilid 3
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 3: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 396 halaman, ISBN 978-602-5416-27-9

Buku Jilid 2

Buku Jilid 2
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 324 halaman, ISBN 978-602-5416-26-2

Buku Jilid 1

Buku Jilid 1
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 330 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

Keterangan:

Penulisan buku-buku di atas adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini: ”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞