Assalamu'alaikum wr. wb.
Saudaraku...,
Berikut ini aku sampaikan
pengalamanku berdialog / diskusi dengan beberapa temanku saat kuliah di
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS). Semoga bermanfaat. Dan
semoga hal ini dapat membuat kita semakin mensyukuri atas “nikmat iman” yang
telah diberikan Allah kepada kita. Amin!
-----
Saudaraku...,
Pada tahun pertama / kedua aku
kuliah di ITS, aku banyak terlibat diskusi masalah akidah dengan teman-teman
kuliah di ITS, yaitu Bung Nafil*, Bung Alex* dan Bung Fulan*. Bahkan
pada suatu saat, kami berempat pernah terlibat diskusi bersama di kamarnya Bung
Alex.
Dari diskusi yang sangat
panjang dan berulangkali tersebut, dapat disimpulkan bahwa aku dengan mudah
dapat mematahkan semua argumen yang mereka ajukan, sekalipun aku harus melawan /
dikeroyok oleh tiga orang sekaligus.
Semakin lama diskusi
berlangsung, semakin sering diskusi dilakukan, maka semakin nampaklah
kesalahan-kesalahan yang terdapat pada agama mereka (Nasrani). Sebaliknya,
semakin sering diskusi dilakukan, justru semakin nampak kebenaran agama kita
(Islam).
Namun dengan berjalannya
waktu, dimana beban kuliah terasa semakin berat dan tugas-tugas kuliah juga
semakin banyak, maka lambat laun kami tidak pernah lagi berdiskusi tentang
masalah akidah.
Peristiwa mengejutkan!
Saudaraku...,
Setelah sekian lama aku tidak
pernah diskusi masalah akidah lagi, tiba-tiba aku dikejutkan oleh pernyataan
dari Bung Fulan. Pada waktu itu, aku mampir ke kos-kosannya. Seperti biasanya,
kami berdua sudah tidak lagi berdiskusi masalah akidah. Jadi pada
saat itu sama sekali tidak ada pembicaraan masalah akidah. Eh..., tiba-tiba
Bung Fulan mengingatkan lagi tentang diskusi-diskusi masalah akidah yang dahulu
sering kami lakukan.
Dia sendiri menyimpulkan,
bahwa dia pada akhirnya mengakui bahwa agama yang dia yakini (Nasrani) banyak
sekali kejanggalan-kejanggalan / kesalahan-kesalahan, sambil dia memberikan
contoh sebagian dari kesalahan yang ada pada agama yang dia yakini. Namun...,
dia sendiri heran, mengapa hatinya kok bisa menerima, sekalipun logikanya
menyatakan "TIDAK". (Berarti selama ini, dia terus memikirkan tentang
hasil-hasil dari diskusi yang telah kami lakukan dahulu).
Ya Rabb!
Sungguh benar firman-Mu
berikut ini:
...
قُل لِّلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ
مُّسْتَقِيمٍ ﴿١٤٢﴾
“... Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat;
Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus”. (QS.
Al Baqarah: 142).
Saudaraku...,
Mendengar penuturan dari Bung
Fulan tersebut, hampir-hampir aku menangis. Menangis karena terharu. Ya...
Allah, betapa bersyukurnya aku! Karena Engkau telah memberi hidayah kepadaku!
Yah..., logikaku menyatakan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar,
dan hatiku juga bisa menerima kebenaran agama Islam! Allahu Akbar!!!
Saudaraku...,
Sering-seringlah membaca
kalimah "La ilaha illallah". Semoga kita senantiasa tetap
dalam keadaan beriman, hingga ajal menjemput kita! Semoga kita bisa menggapai
"khusnul khotimah". Amin, ya rabbal ‘alamin!
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda:
أَفْضَلُ
الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ. (رواه الترمذى)
“Dzikir yang paling utama
adalah ucapan La ilaha illallah…” (HR. At-Tirmidzi)
-----
Saudaraku...,
Berikut ini adalah kiriman
e-mail dari Bung Nafil. Dari email tersebut, aku bisa menyimpulkan, bahwa
sebenarnya Bung Nafil juga mengakui kebenaran Agama Islam. Namun, ternyata
beliau belum mendapat hidayah dari Allah SWT. (satu-satunya Tuhan yang kita
percayai).
Ya… Tuhan kami!
Tunjukilah kami, sehingga
kami senantiasa dapat menjaga cahaya kebenaran ini (setelah pengetahuan datang
kepada kami) hingga akhir hayat kami.
Amin…,
Ya rabbal ‘alamin...!!!
-----
Pada zaman dahulu, ada
seorang pedagang yang mempunyai seorang istri jelita dan seorang anak laki-laki
yang sangat dicintainya. Suatu hari istrinya jatuh sakit dan tak berapa lama
meninggal. Betapa pedihnya hati pria tersebut. Sepeninggal istrinya, dia
mencurahkan segenap perhatian dan kasih sayangnya kepada anak laki-laki semata
wayangnya.
Suatu ketika pedagang
tersebut pergi ke luar kota untuk berdagang; anaknya ditinggal di rumah.
Sekawanan bandit datang merampok desa tempat tinggal mereka. Para penjarah ini
merampok habis harta benda, membakar rumah-rumah, dan bahkan menghabisi hidup
penduduk yang mencoba melawan; rumah sang pedagang-pun tak luput dari sasaran. Mereka
bahkan menculik anak laki-laki sang pedagang untuk dijadikan budak.
Betapa terperanjatnya sang
pedagang ketika ia pulang dan mendapati rumahnya sudah jadi tumpukan arang.
Dengan gundah hati, ia mencari-cari anak tunggalnya yang hilang. Ia menjadi
frustrasi ketika mendapati banyak tetangganya yang terbantai dan mati terbakar.
Di tengah kepedihan dan keputus-asaan, ia menemukan seonggok belulang dan abu
di sekitar rumahnya, di dekat tumpukan abu itu tergolek boneka kayu kesayangan
anaknya. Yakinlah sudah ia bahwa itu adalah abu jasad anaknya. Meledaklah raung
tangisnya. Ia menggelepar-gelepar di tanah sembari meraupi abu jasad itu ke
wajahnya. Satu-satunya sumber kebahagiaan hidupnya telah terenggut.
Semenjak itu, pria tersebut
selalu membawa-bawa abu anaknya dalam sebuah tas. Sampai setahun setelah itu ia
suka mengucilkan diri, tenggelam dalam tangis sampai berjam-jam lamanya; kadang
orang melihat ia tertawa sendiri, mungkin kala itu ia teringat masa-masa
bahagia bersama keluarganya. Ia terus larut dalam kesedihan tak terperikan.
Musim berlalu. Sang anak
akhirnya berhasil meloloskan diri dari cengkeraman para penculiknya. Ia
bergegas pulang ke kampung halamannya. Sesampai di kediaman ayahnya, ia
mengetuk pintu rumah sembari berteriak senang, "Ayah, ini aku
pulang!".
Sang ayah yang waktu itu lagi
tertidur di ranjangnya, terbangun mendengar suara itu. Ia berpikir, "Ini
pasti ulah anak-anak nakal yang suka meledekku itu! Pergi! Jangan
main-main!".
Mendengar sahutan itu, sang
anak kembali berteriak, "Ayah! Ini aku, anakmu!".
Dari dalam rumah terdengar
lagi, "Jangan ganggu aku terus! Pergi kamu!".
Sang anak menggedor pintu dan
berteriak lebih lantang, "Buka pintu ayah! Ini betul anakmu!".
Mereka saling bersahutan. Sang
ayah terus bersikeras tidak membuka pintu. Sang anak-pun akhirnya putus asa dan
berlalu dari rumah itu.
Sebagian orang begitu erat
memegang apa yang mereka ANGGAP sebagai kebenaran. Ketika Kebenaran Sejati
betul-betul datang, belum tentu mereka membuka pintu hati mereka.
-----
Demikian...,
Semoga bermanfaat!
NB.
*) Bung Nafil, Bung Alex dan
Bung Fulan pada tulisan di atas adalah nama samaran / bukan nama sebenarnya (mohon
ma’af jika secara kebetulan ada kemiripan nama dengan kisah di atas). Hal ini
semata-mata hanyalah karena dikhawatirkan mereka tidak berkenan jika kisah
tersebut di-publish di ruang umum / bisa dibaca oleh semua orang.
{Bersambung;
tulisan ke-1 dari 2 tulisan}