Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, wahai saudaraku!
Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.


Jika ada kekurangan / kekhilafan, mohon masukan / saran / kritik / koreksinya. Kritik dan saran bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau melalui "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel. Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain. Untuk lebih jelasnya, bisa klik di sini: http://imronkuswandi.blogspot.com/2011/01/menyebarkan-kebaikan.html

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan. Hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.)

Kamis, 03 Februari 2011

INDAHNYA NIKMAT IMAN (I)

Assalamu'alaikum wr. wb.

Saudaraku...,
Berikut ini aku sampaikan pengalamanku berdialog / diskusi dengan beberapa temanku saat kuliah di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS). Semoga bermanfaat. Dan semoga hal ini dapat membuat kita semakin mensyukuri atas "nikmat iman” yang telah dianugerahkan Allah kepada kita. Amin…!!!

Subhanallah...!!!

Saudaraku...,
Pada tahun pertama / kedua aku kuliah di ITS, aku banyak terlibat diskusi masalah akidah dengan teman-teman kuliah di ITS, yaitu Bung Nafil*, Bung Alex* dan Bung Fulan*. Bahkan pada suatu saat, kami berempat pernah terlibat diskusi bersama di kamarnya Bung Alex.

Dari diskusi yang sangat panjang dan berulangkali tersebut, dapat disimpulkan bahwa aku dengan mudah dapat mematahkan semua argumen yang mereka ajukan, sekalipun aku harus melawan / dikeroyok oleh tiga orang sekaligus.

Semakin lama diskusi berlangsung, semakin sering diskusi dilakukan, maka semakin nampaklah kesalahan-kesalahan yang terdapat pada agama mereka (Nasrani). Sebaliknya, semakin sering diskusi dilakukan, justru semakin nampak kebenaran agama kita (Islam).

Namun dengan berjalannya waktu, dimana beban kuliah terasa semakin berat dan tugas-tugas kuliah juga semakin banyak, maka lambat laun kami tidak pernah lagi berdiskusi tentang masalah akidah.

Peristiwa mengejutkan!

Saudaraku...,
Setelah sekian lama aku tidak pernah diskusi masalah akidah lagi, tiba-tiba aku dikejutkan oleh pernyataan dari Bung Fulan. Pada waktu itu, aku mampir ke kos-kosannya. Seperti biasanya, kami berdua sudah tidak lagi berdiskusi masalah akidah. Jadi pada saat itu sama sekali tidak ada pembicaraan masalah akidah. Eh..., tiba-tiba Bung Fulan mengingatkan lagi tentang diskusi-diskusi masalah akidah yang dahulu sering kami lakukan.

Dia sendiri menyimpulkan, bahwa dia pada akhirnya mengakui bahwa agama yang dia yakini banyak sekali kejanggalan-kejanggalan / kesalahan-kesalahan, sambil dia memberikan contoh sebagian dari kesalahan yang ada pada agama yang dia yakini. Namun..., dia sendiri heran, mengapa hatinya kok bisa menerima, sekalipun logikanya menyatakan "TIDAK". (Berarti selama ini, dia terus memikirkan tentang hasil-hasil dari diskusi yang telah kami lakukan dahulu).

Subhanallah!
Sungguh benar firman Allah berikut ini: Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus”. (QS. Al Baqarah: 142).

Saudaraku...,
Mendengar penuturan dari Bung Fulan tersebut, hampir-hampir aku menangis. Menangis karena terharu. Ya... Allah, betapa bersyukurnya aku! Karena Engkau telah memberi hidayah kepadaku! Yah..., logikaku menyatakan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar, dan hatiku juga bisa menerima kebenaran agama Islam! Allahu Akbar!!!

Saudaraku...,
Sering-seringlah membaca kalimah "La ilaha illallah". Semoga kita senantiasa tetap dalam keadaan beriman, hingga ajal menjemput kita! Semoga kita bisa menggapai "khusnul khotimah". Amin...!!!

-----

Saudaraku...,
Berikut ini adalah kiriman e-mail dari Bung Nafil. Dari email tersebut, aku bisa menyimpulkan, bahwa sebenarnya Bung Nafil juga mengakui kebenaran Agama Islam. Namun, ternyata beliau belum mendapat hidayah dari Allah SWT. (satu-satunya Tuhan yang kita percayai).

Ya… Rabbi!
Tunjukilah kami, sehingga kami senantiasa dapat menjaga cahaya kebenaran ini (setelah pengetahuan datang kepada kami) hingga akhir hayat kami.

Amin…,
Ya rabbal ‘alamin...!!!

-----

Pada zaman dahulu, ada seorang pedagang yang mempunyai seorang istri jelita dan seorang anak laki-laki yang sangat dicintainya. Suatu hari istrinya jatuh sakit dan tak berapa lama meninggal. Betapa pedihnya hati pria tersebut. Sepeninggal istrinya, dia mencurahkan segenap perhatian dan kasih sayangnya kepada anak laki-laki semata wayangnya.

Suatu ketika pedagang tersebut pergi ke luar kota untuk berdagang; anaknya ditinggal di rumah. Sekawanan bandit datang merampok desa tempat tinggal mereka. Para penjarah ini merampok habis harta benda, membakar rumah-rumah, dan bahkan menghabisi hidup penduduk yang mencoba melawan; rumah sang pedagang-pun tak luput dari sasaran. Mereka bahkan menculik anak laki-laki sang pedagang untuk dijadikan budak.

Betapa terperanjatnya sang pedagang ketika ia pulang dan mendapati rumahnya sudah jadi tumpukan arang. Dengan gundah hati, ia mencari-cari anak tunggalnya yang hilang. Ia menjadi frustrasi ketika mendapati banyak tetangganya yang terbantai dan mati terbakar. Di tengah kepedihan dan keputus-asaan, ia menemukan seonggok belulang dan abu di sekitar rumahnya, di dekat tumpukan abu itu tergolek boneka kayu kesayangan anaknya. Yakinlah sudah ia bahwa itu adalah abu jasad anaknya. Meledaklah raung tangisnya. Ia menggelepar-gelepar di tanah sembari meraupi abu jasad itu ke wajahnya. Satu-satunya sumber kebahagiaan hidupnya telah terenggut.

Semenjak itu, pria tersebut selalu membawa-bawa abu anaknya dalam sebuah tas. Sampai setahun setelah itu ia suka mengucilkan diri, tenggelam dalam tangis sampai berjam-jam lamanya; kadang orang melihat ia tertawa sendiri, mungkin kala itu ia teringat masa-masa bahagia bersama keluarganya. Ia terus larut dalam kesedihan tak terperikan.

Musim berlalu. Sang anak akhirnya berhasil meloloskan diri dari cengkeraman para penculiknya. Ia bergegas pulang ke kampung halamannya. Sesampai di kediaman ayahnya, ia mengetuk pintu rumah sembari berteriak senang, "Ayah, ini aku pulang!".

Sang ayah yang waktu itu lagi tertidur di ranjangnya, terbangun mendengar suara itu. Ia berpikir, "Ini pasti ulah anak-anak nakal yang suka meledekku itu! Pergi! Jangan main-main!".

Mendengar sahutan itu, sang anak kembali berteriak, "Ayah! Ini aku, anakmu!".

Dari dalam rumah terdengar lagi, "Jangan ganggu aku terus! Pergi kamu!".

Sang anak menggedor pintu dan berteriak lebih lantang, "Buka pintu ayah! Ini betul anakmu!".

Mereka saling bersahutan. Sang ayah terus bersikeras tidak membuka pintu. Sang anak-pun akhirnya putus asa dan berlalu dari rumah itu.

Sebagian orang begitu erat memegang apa yang mereka ANGGAP sebagai kebenaran. Ketika Kebenaran Sejati betul-betul datang, belum tentu mereka membuka pintu hati mereka.

-----

Demikian...,
Semoga bermanfaat!

NB.
*) Bung Nafil, Bung Alex dan Bung Fulan pada tulisan di atas adalah nama samaran / bukan nama sebenarnya (mohon ma’af jika secara kebetulan ada kemiripan nama dengan kisah di atas). Hal ini semata-mata karena dikhawatirkan mereka tidak berkenan jika kisah di atas di-publish di ruang umum / bisa dibaca oleh semua orang.

{Bersambung; tulisan ke-1 dari 2 tulisan}

2 komentar:

  1. Alhamdulillah, jazakallah khairan ya ustad atas ilmu & tausiyahnya

    BalasHapus
  2. Terimakasih wahai saudaraku, atas perhatian dan do'anya. Semoga kita semua senantiasa berada dalam bimbingan-Nya, dijauhkan dari tipu daya syaitan serta senantiasa mendapat ridho dari-Nya!
    -
    Rasulullah SAW bersabda: "Khairukum man ta'allamal qur'aana wa'allamahu (Sebaik-baik kamu ialah orang yang mau mempelajari Al Qur'an dan mau mengajarkannya)". (HR. Muslim).

    BalasHapus

”Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah”. (QS. Luqman. 33).

-----


Saudaraku…,
B
agaimanapun sampai saat ini aku benar-benar menyadari bahwa wawasan ilmuku masih sangat terbatas.

Oleh karena itu, ada baiknya jika saudaraku juga bertanya kepada 'alim / 'ulama’ di sekitar saudaraku tinggal. Semoga bisa mendapatkan penjelasan / jawaban yang lebih memuaskan. Karena bagaimanapun juga, mereka (para 'ulama') lebih banyak memiliki ilmu dan keutamaan daripada aku. (Imron Kuswandi M.)