بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Sabtu, 05 Februari 2022

DO’A MEMINTA ILMU YANG BERMANFAAT


Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku,
Ketahuilah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa memanjatkan do’a berikut ini selepas shalat shubuh:

اللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima”. (HR. Ibnu Majah, dari Ummu Salamah radhiyallaahu ‘anha).

Saudaraku,
Perlu diperhatikan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta ilmu yang bermanfaat sebelum perkara yang lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu yang bermanfaat merupakan perkara yang harus didahulukan dan diutamakan. Karena dengan ilmu yang bermanfaat, seseorang akan dapat memilah rezeki yang halal dan haram, serta dapat membedakan mana amal yang diterima yaitu amalan yang shalih (amal kebajikan) dan amal yang ditolak yaitu amalan yang buruk.

Saudaraku,
Sedemikian pentingnya menuntut ilmu itu (terutama ilmu agama), sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan bagi setiap muslim untuk menuntutnya, yaitu menuntut ilmu agama. Demikian penjelasan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah berikut ini:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ. (رواه ابن ماجه)
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mencari ilmu adalah fardhu bagi setiap orang Islam”. (HR. Ibnu Majah).

Saudaraku,
Sebagai muslim yang baik, maka kita harus ridho dengan ketetapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut. Perhatikan penjelasan Al Qur’an dalam surat An Nuur ayat 51 serta dalam surat Al Ahzaab ayat 36 berikut ini:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُوْلَـــٰــئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ﴿٥١﴾
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mu'min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan: "Kami mendengar dan kami patuh". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. An Nuur. 51)

Sedangkan dalam Al Qur’an surat Al Ahzaab ayat 36, Allah SWT. telah berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَــٰــلًا مُّبِينًا ﴿٣٦﴾
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (QS. Al Ahzaab. 36)

Sehingga ketika Allah melalui rasul-Nya telah mewajibkan kita orang-orang yang beriman untuk menuntut ilmu agama, maka tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali melaksanakan perintah yang datangnya dari Allah tersebut apa adanya/tanpa tawar-menawar sedikitpun.

Oleh karena itu berlapang-lapanglah dalam majelis ilmu, wahai saudaraku.

Dan jika hal ini yang kita lakukan (yaitu berlapang-lapang dalam majelis ilmu), maka Allah akan memberi kelapangan untuk kita, di surga nanti. Perhatikan penjelasan Al Qur’an dalam surat Al Mujaadilah ayat 11 berikut ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَـــٰــلِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَــٰـتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ ﴿١١﴾
“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Mujaadilah. 11).

Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy):

“(Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian, "Berlapang-lapanglah) berluas-luaslah (dalam majelis") yaitu majelis tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada, dan majelis dzikir sehingga orang-orang yang datang kepada kalian dapat tempat duduk. Menurut suatu qiraat lafal al-majaalis dibaca al-majlis dalam bentuk mufrad (maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untuk kalian) di surga nanti. (Dan apabila dikatakan, "Berdirilah kalian") untuk melakukan shalat dan hal-hal lainnya yang termasuk amal-amal kebaikan (maka berdirilah) menurut qiraat lainnya kedua-duanya dibaca fansyuzuu dengan memakai harakat dzamah pada huruf syin-nya (niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian) karena ketaatannya dalam hal tersebut (dan) Dia meninggikan pula (orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat) di surga nanti. (Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan)”. (QS. Al Mujaadilah. 11).

Do’a Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: اللّٰهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي وَزِدْنِي عِلْمًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَأَعُوذُ بِاللهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ. (رواه ابن ماجه)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca doa: “Ya Allah, berikanlah kemanfaatan atas apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku, dan ajarkanlah aku apa-apa yang bermanfaat untuk diriku, tambahkanlah kepadaku ilmu. Dan segala puji bagi Allah atas semua keadaan, aku pun berlindung kepada Allah dari siksa api neraka”. (HR. Ibnu Majah).

Demikian yang bisa kusampaikan. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku.

Semoga bermanfaat.

Kamis, 03 Februari 2022

DUNIA SUDAH TERBOLAK-BALIK


Assalamu’alaikum wr. wb.

Seorang saudara seiman (tinggal di Kota Blitar) telah menyampaikan pesan via WhatsApp, bahwa beliau telah mendapat kiriman sebagai berikut:

GONJANG GANJING INDONESIA

Indonesia mayoritas Islam, tapi yang paling disudutkan muslim. Lebih serem yang pakai cadar, daripada yang pakai rok mini. Lebih serem orang berjenggot, daripada yang tatoan. Pakai baju tauhid ditangkep, pake baju PKI nggak apa-apa. Lebih curiga sama yang rajin ibadah di masjid, daripada orang yang mabuk-mabukan dan judi. Diduga teroris langsung tembak, bandar narkoba internasional bisa dinego. Lebih mentolelir aliran sesat daripada syariat.

Dunia sudah terbolak-balik?

Yang nyunnah – radikal. Yang nyeleneh – toleran. Yang jilbab syar’i – ekstrem. Yang nggak pakai jilbab – cantik. Yang menikah lagi – penjahat. Yang main pelacur – biasa lelaki.

Yang muda sholat 5 waktu – waspadai. Yang muda nggak sholat – maklum masih muda. Yang jenggotan rajin ke masjid – teroris. Yang jenggotan rajin dugem – keren. Yang ke majelis ta’lim pekanan – fanatik. Yang ke bioskop harian – gaul. Yang hafal Al Qur’an 30 juz – militan. Yang hafal banyak musik – hebat.

Yang anaknya di jilbabin – keterlaluan, melanggar HAM. Yang anaknya pakai rok mini – imut-imut. Yang pakai baju koko – sok alim. Yang nggak pakai baju – jantan. Yang hariannya bicara Islam – sok ustadz. Yang hariannya ghibah – up to date. Media Islam – radikal. Media porno – kebutuhan. Buka mata hati kita wahai manusia!

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam muncul dalam keadaan asing dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR Muslim: 208)

Sahabat bertanya siapakah orang asing itu, Nabi Shollallahu alaihi wassallam menjawab: Mereka ialah orang-orang yang senantiasa melakukan kebaikan di tengah kerusakan. (HR Ahmad).

Dan ingatlah bahwa kita semua pasti mati dan hanya kepada Allah Tabaroka wa Ta'āla kita akan kembali serta dimintai pertanggung-jawaban atas segala perbuatan kita. Maka segeralah bertobat selagi masih ada waktu.

Terkait kiriman di atas, beliau bertanya: Kalau (sudah) begini ini, terus bagaimana kita menyikapi?”.

Tanggapan

Saudaraku,
Keadaan yang demikian sulit ini sebenarnya telah diberitahukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (pemimpin kita yang teramat kita cintai) lebih dari 14 abad yang lalu. Perhatikan penjelasan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dua Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (Hadits no. 208 dan Hadits no. 209) berikut ini:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ جَمِيعًا عَنْ مَرْوَانَ الْفَزَارِيِّ قَالَ ابْنُ عَبَّادٍ حَدَّثَنَا مَرْوَانُ عَنْ يَزِيدَ يَعْنِي ابْنَ كَيْسَانَ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ. (رواه مسلم)
2.200/208. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abbad dan Ibnu Abu Umar semuanya dari Marwan al-Fazari, Ibnu Abbad berkata, telah menceritakan kepada kami Marwan dari Yazid – yaitu Ibnu Kaisan – dari Abu Hazim dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasing”. (HR. Muslim).

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ وَالْفَضْلُ بْنُ سَهْلٍ الْأَعْرَجُ قَالَا حَدَّثَنَا شَبَابَةُ بْنُ سَوَّارٍ حَدَّثَنَا عَاصِمٌ وَهُوَ ابْنُ مُحَمَّدٍ الْعُمَرِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْإِسْلَامَ بَدَأَ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ وَهُوَ يَأْرِزُ بَيْنَ الْمَسْجِدَيْنِ كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ فِي جُحْرِهَا. (رواه مسلم)
2.201/209. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi' dan al-Fadll bin Sahl al-A'raj keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Syababah bin Sawwar telah menceritakan kepada kami Ashim - yaitu Ibnu Muhammad al-Umari - dari bapaknya dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: “Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing seperti semula, ia akan masuk di antara dua masjid sebagaimana ular yang masuk ke dalam lubangnya”. (HR. Muslim).

Penjelasan untuk no. 2.200/208 serta no. 2.201/209:
2                       = ini adalah nomer kitab (Kitab Iman). Kitab Shahih Muslim terbagi menjadi 56 kitab, dimulai dengan kitab no. 1 (Kitab Mukadimah) dan diakhiri dengan kitab no. 56 (Kitab Tafsir)
200 serta 201  = ini adalah nomer hadits dalam Kitab Iman
208 serta 209  = ini adalah nomer hadits dalam Kitab Shahih Muslim secara keseluruhan. Dalam pengutipan hadits, seringkali hanya nomer ini yang dikutip/disertakan.

Saudaraku,
Jika kita melihat penjelasan kedua Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di atas, nampaklah bahwa pada saat ini kita sudah mulai memasuki masa/keadaan yang demikian sulit itu. Kalau sudah begini ini, terus bagaimana kita menyikapinya?

Saudaraku,
Jawaban atas pertanyaan yang panjenengan sampaikan tersebut, sebenarnya sudah ada dalam Hadits di atas. Artinya pertanyaan yang panjenengan sampaikan tersebut sudah dijawab sendiri oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (pemimpin kita yang teramat kita cintai).

Saudaraku,
Ketika kita tinggal/berada di suatu negeri dengan penduduk mayoritas Islam, namun yang paling disudutkan muslim. Ketika yang pakai cadar justru lebih dipandang sebelah mata daripada yang pakai rok mini. Ketika yang rajin beribadah di masjid justru lebih dicurigai daripada orang yang mabuk-mabukan dan berjudi. Diduga teroris langsung tembak, bandar narkoba internasional bisa dinego.

Dan ketika yang nyunnah malah dinilai radikal. Dan ketika yang nyeleneh malah dipandang toleran. Dan ketika yang berjilbab syar’i dikatakan ekstrem sedangkan yang nggak pakai jilbab malah dikatakan cantik. Dan ketika yang hafal Al Qur’an 30 juz disebut militan, sementara yang hafal banyak musik malah dibilang hebat. Dan seterusnya.

Maka beruntunglah orang-orang yang terasing. Demikian penjelasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (Hadits no. 208) berikut ini:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ جَمِيعًا عَنْ مَرْوَانَ الْفَزَارِيِّ قَالَ ابْنُ عَبَّادٍ حَدَّثَنَا مَرْوَانُ عَنْ يَزِيدَ يَعْنِي ابْنَ كَيْسَانَ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ. (رواه مسلم)
2.200/208. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abbad dan Ibnu Abu Umar semuanya dari Marwan al-Fazari, Ibnu Abbad berkata, telah menceritakan kepada kami Marwan dari Yazid -yaitu Ibnu Kaisan- dari Abu Hazim dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasing”. (HR. Muslim).

Lalu siapakah yang dimaksud dengan orang-orang yang terasing itu?

Saudaraku,
Ketahuilah bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang terasing itu adalah mereka yang memperbaiki manusia ketika rusak/mereka orang-orang yang shalih yang berada di tengah banyaknya orang-orang yang jelek lalu orang yang mendurhakainya lebih banyak daripada yang mentaatinya.

Demikian penjelasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dua buah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad berikut ini:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنَ سَنَّةَ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ بَدَأَ الإِسْلَامُ غَرِيــــبًا ثُمَّ يَعُودُ غَرِيــــبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللهِ وَمَنِ الْغُرَبَاءُ قَالَ الَّذِينَ يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ. (رواه أحمد)
Dari ‘Abdurrahman bin Sannah. Ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabad, “Islam itu akan datang dalam keadaan asing dan kembali dalam keadaan asing seperti awalnya. Beruntunglah orang-orang yang asing.” Lalu ada yang bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai ghuroba’, lalu beliau menjawab, “(Ghuroba atau orang yang terasing adalah) mereka yang memperbaiki manusia ketika rusak.” (HR. Ahmad).

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ فَقِيلَ مَنِ الْغُرَبَاءُ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ أُنَاسٌ صَالِحُونَ فِى أُنَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ. (رواه أحمد)
Beruntunglah orang-orang yang terasing.” “Lalu siapa orang yang terasing wahai Rasulullah”, tanya sahabat. Jawab beliau, “Orang-orang yang shalih yang berada di tengah banyaknya orang-orang yang jelek, lalu orang yang mendurhakainya lebih banyak daripada yang mentaatinya” (HR. Ahmad)

Sehingga ketika sedang berada dalam keadaan yang demikian sulit ini, maka tetap berpeganglah kepada kebenaran sekalipun engkau seorang diri.

Saudaraku,
Sesungguhnya Allah telah menjadikan kita berada di atas suatu syariat/peraturan dari urusan/agama yang lurus. Maka ikutilah syariat itu semuanya (tanpa terkecuali) dan janganlah kita mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.

ثُمَّ جَعَلْنَـــٰكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِّنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ﴿١٨﴾
“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui”. (QS. Al Jaatsiyah. 18).

Dan tetaplah berupaya untuk memperbaiki manusia ketika rusak.

Saudaraku,
Ketika kemaksiatan sudah merajalela, ketika kejujuran sudah menjadi barang yang langka, ketika kecurangan sudah membudaya, ketika kecintaan pada dunia sudah menjadi tujuan utama, dan ketika kemungkaran sudah ada dimana-mana, maka tetaplah berupaya untuk memperbaiki manusia sekalipun orang yang mendurhakai lebih banyak daripada yang mentaati. Bahkan seandainya tidak ada seorangpun yang mentaati, tetaplah berupaya untuk memperbaiki mereka dan tetap berpeganglah dengan kebenaran sekalipun engkau seorang diri.

Saudaraku,
Sebagai orang beriman, maka saat melihat suatu kemungkaran yang terjadi dimanapun, kapanpun dan dilakukan oleh siapapun, berupayalah untuk memberantas kemungkaran tersebut dengan segala kemampuan yang ada.

Pertama berupayalah semaksimal mungkin untuk memberantas kemungkaran tersebut dengan tangan/dengan kekuasaan yang ada. Namun jika tidak mampu memberantas kemungkaran tersebut dengan tangan (artinya tidak ada kekuasaan pada diri saudaraku untuk memberantas kemungkaran tersebut), maka berupayalah semaksimal mungkin untuk memberantas kemungkaran tersebut dengan lisan saudaraku. Artinya jika saudaraku mempunyai bekal ilmu yang cukup, maka ajaklah untuk berdiskusi dengan menyertakan hujjah (keterangan, alasan, bukti, atau argumentasi) yang kuat disertai dengan dalil-dalil yang mendasarinya, dengan harapan agar yang bersangkutan bisa segera meninggalkan perbuatan mungkarnya.

Saudaraku,
Memberantas kemungkaran dengan mempergunakan lisan bisa dilaksanakan secara langsung maupun secara tidak langsung, yaitu lewat tulisan untuk kemudian disampaikan kepada yang bersangkutan melalui sms/whatsapp/email/facebook/media lainnya.

عَنْ الْعُرْسِ ابْنِ عَمِيرَةَ الْكِنْدِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا عُمِلَتْ الْخَطِيئَةُ فِي الْأَرْضِ كَانَ مَنْ شَهِدَهَا فَكَرِهَهَا وَقَالَ مَرَّةً أَنْكَرَهَا كَانَ كَمَنْ غَابَ عَنْهَا وَمَنْ غَابَ عَنْهَا فَرَضِيَهَا كَانَ كَمَنْ شَهِدَهَا. (رواه ابو داود)
Dari Al 'Urs bin 'Amirah Al Kindi, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, "Jika kemaksiatan telah dikerjakan di muka bumi, maka bagi orang yang menyaksikannya dan ia benar-benar membencinya (dari dalam hatinya), maka ia seperti orang yang tidak melihatnya (tidak berdosa). Dan orang yang tidak menyaksikannya, akan tetapi ia merestui perbuatan tersebut, maka ia (dihukumi) seperti orang yang menyaksikannya." (HR. Abu Daud).

Terakhir jika memberantas kemungkaran dengan lisan tidak mampu juga, maka minimal hati saudaraku mengingkari kemungkaran tersebut. Artinya saudaraku akan membenci perbuatan mungkar tersebut, yaitu dengan menjauhkan diri dari perbuatan mungkar tersebut. Namun tindakan ini tergolong orang yang memiliki iman setipis-tipisnya.

Sedangkan jika hati panjenengan saja sudah tidak mengingkari kemungkaran tersebut, maka sudah tidak ada lagi tanda-tanda keimanan pada diri saudaraku. (Na’udzubillahi mindzalika).

Dari Abu Sa’id Al Khudry radhiyallahu ’anhu berkata: saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَٰلِكَ أَضْعَفُ الْإِيْمَانِ. (رواه مسلم)
“Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaknya mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu dengan tangannya, dengan lisannya. Jika tidak mampu dengan lisannya, dengan hatinya; dan itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim).

Saudaraku,
Sekali lagi kusampaikan bahwa sebagai orang beriman, maka saat melihat suatu kemungkaran yang terjadi dimanapun, kapanpun dan dilakukan oleh siapapun, berupayalah untuk memberantas kemungkaran tersebut dengan segala kemampuan yang ada. Dan jangan sampai tinggalkan amar ma’ruf nahi munkar, sesulit apapun kondisi yang kita hadapi, jika kita tidak ingin mendapatkan la`nat Allah sebagaimana yang ditimpakan Allah kepada Bani Israil.

عَنْ جَابِرٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ رَجُلٍ يَكُونُ فِي قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعَاصِي يَقْدِرُونَ عَلَى أَنْ يُغَيِّرُوا عَلَيْهِ فَلَا يُغَيِّرُوا إِلَّا أَصَابَهُمْ اللهُ بِعَذَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَمُوتُوا. (رواه ابو داود)
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Tidaklah seorang lelaki yang berada di dalam sebuah kaum yang terdapat kemasiatan yang dikerjakan di dalamnya kemudian (mereka menyadari bahwa) mereka mampu merubahnya, namun mereka tidak melakukannya, melainkan Allah akan menimpakan sebuah adzab kepada mereka sebelum mereka meninggal dunia." (HR. Abu Daud).

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُواْ يَعْتَدُونَ ﴿٧٨﴾ كَانُواْ لَا يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُواْ يَفْعَلُونَ ﴿٧٩﴾
(78) “Telah dila`nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan `Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas”. (79) “Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu”. (QS. Al Maa-idah. 78 – 79).

Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy):

78. (Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israel melalui lisan Daud) yaitu Nabi Daud mendoakan/menyerapah mereka hingga mereka berubah ujud menjadi kera-kera; mereka adalah orang-orang dari kalangan Bani Israel yang menduduki tanah Ailah (dan Isa putra Maryam) yaitu Nabi Isa mendoakan/menyerapah mereka sehingga mereka berubah ujud menjadi babi-babi; mereka adalah orang-orang Bani Israel yang memiliki Al-Maidah/hidangan yang didatangkan dari langit (yang demikian itu) adalah laknat (disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas).

79. (Mereka satu sama lain tidak pernah melarang) artinya sebagian di antara mereka tidak pernah melarang sebagian lainnya (dari) kebiasaan (tindakan mungkar yang biasa mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat) kebiasaan mereka dalam melakukan perbuatan mungkar itu. (QS. Al Maa-idah. 78 – 79).

Saudaraku,
Teruslah melangkah. Dan jangan pernah surut dalam berdakwah, meski rintangan tak pernah berhenti menghadang. Karena orang yang paling baik perkataan dan perbuatannya adalah orang yang mengajak manusia kepada Allah SWT., membimbing mereka kepada-Nya, mengajari mereka urusan agama mereka, memberikan pemahaman agama kepada mereka, bersabar dalam menjalankannya, dan mengamalkan apa yang didakwahkanya.

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللهِ وَعَمِلَ صَــٰــلِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ ﴿٣٣﴾
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?" (QS. Fushshilat. 33).

Saudaraku,
Tak perlu pusing dengan hasil dari dakwah kita, karena kewajiban kita hanyalah menyampaikan ayat-ayat-Nya.

وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَـــٰـغُ الْمُبِينُ ﴿١٧﴾
Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas". (QS. Yaa Siin. 17).

PRIORITAS DALAM BERDAKWAH

Saudaraku,
Prioritas pertama dan yang pertama kali kita dakwahi tentunya adalah diri kita sendiri. Perhatikan penjelasan surat Ash Shaaf ayat 2 – 3 berikut ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لِـمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ﴿٢﴾ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ ﴿٣﴾
(2) Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? (3) Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (QS. Ash Shaaf. 2 – 3).

Selanjutnya prioritas kedua adalah keluarga/kaum kerabat kita.

وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ ﴿٢١٤﴾
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”, (QS. Asy Syu’araa’. 214).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَـــٰــئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ﴿٦﴾
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At Tahrim. 6).

Setelah berdakwah kepada diri-sendiri serta keluarga/kaum kerabat, barulah kita berdakwah kepada yang lainnya. Wallahu a’lam

Demikian yang bisa kusampaikan. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku.

Semoga bermanfaat.

Info Buku:

● Alhamdulillah, telah terbit buku: Islam Solusi Setiap Permasalahan jilid 1.

Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, MAg: “Banyak hal yang dibahas dalam buku ini. Tapi, yang paling menarik bagi saya adalah dorongan untuk mempelajari Alquran dan hadis lebih luas dan mendalam, sehingga tidak mudah memandang sesat orang. Juga ajakan untuk menilai orang lebih berdasar kepada kitab suci dan sabda Nabi daripada berdasar nafsu dan subyektifitasnya”.

Buku jilid 1:

Buku jilid 1:
Buku: “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 378 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

● Buku “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1 ini merupakan kelanjutan dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” (jilid 1 s/d jilid 5). Berisi kumpulan artikel-artikel yang pernah saya sampaikan dalam kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah menjelang shalat tarawih/ba’da shalat tarawih, Khutbah Jum’at, kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus maupun kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook/whatsapp (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab, konsultasi, diskusi via email, facebook, sms, whatsapp, maupun media lainnya.

● Sebagai bentuk kehati-hatian saya dalam menyampaikan Islam, buku-buku religi yang saya tulis, biasanya saya sampaikan kepada guru-guru ngajiku untuk dibaca + diperiksa. Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz adalah salah satu diantaranya. Beliau adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Unsur Ketua MUI Jatim, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia 2009-2013, Dekan Fakultas Dakwah 2000-2004/Guru Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 2004 - sekarang.

_____

Assalamu'alaikum wr. wb.

● Alhamdulillah, telah terbit buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5.

● Buku jilid 5 ini merupakan penutup dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan jilid 4.

Buku Jilid 5

Buku Jilid 5
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-29-3

Buku Jilid 4

Buku Jilid 4
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 4: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-28-6

Buku Jilid 3

Buku Jilid 3
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 3: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 396 halaman, ISBN 978-602-5416-27-9

Buku Jilid 2

Buku Jilid 2
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 324 halaman, ISBN 978-602-5416-26-2

Buku Jilid 1

Buku Jilid 1
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 330 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

Keterangan:

Penulisan buku-buku di atas adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini: ”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞