بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Minggu, 05 Desember 2021

BENARKAH ORANG YANG JUJUR/ORANG YANG BAIK APAPUN AGAMANYA DIA PASTI MENDAPAT TEMPAT YANG TERBAIK DI SISI ALLAH SWT?


Assalamu’alaikum wr. wb.

Dalam sebuah acara di sebuah televisi swasta nasional, seorang tokoh nasional yang bergelar Kyai Haji (KH) telah membuat pernyataan sebagai berikut: “Orang yang jujur, orang yang shalih, punya solidaritas sosial, punya dedikasi, punya loyalitas, apapun agamanya, dia pasti mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah SWT”.

Saudaraku,
Terkait hal ini, perhatikan penjelasan Al Qur’an dalam surat Muhammad ayat 1 berikut ini:

الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَن سَبِيلِ اللهِ أَضَلَّ أَعْمَـــٰــلَهُمْ ﴿١﴾
Orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, Allah menghapus perbuatan-perbuatan mereka. (QS. Muhammad. 1).

Tafsir Ibnu Katsir

الَّذِينَ كَفَرُوا ... ﴿١﴾
Orang-orang yang kafir. (QS. Muhammad. 1) kepada ayat-ayat Allah SWT.

... وَصَدُّوا عَن سَبِيلِ اللهِ أَضَلَّ أَعْمَـــٰــلَهُمْ ﴿١﴾
dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, Allah menghapus perbuatan-perbuatan mereka. (QS. Muhammad. 1) Yaitu membatalkan dan melenyapkan amal-amal tersebut, tidak memberinya pahala dan tidak pula imbalan. Semakna dengan firman-Nya:

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَــٰـهُ هَبَاءً مَّنثُورًا ﴿٢٣﴾
Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (QS. Al-Furqaan. 23).

Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy)

(Orang-orang yang kafir) dari kalangan penduduk Mekah (dan menghalang-halangi) orang-orang lainnya (dari jalan Allah) dari jalan keimanan (Allah melebur) menghapus (amal-amal mereka) seperti memberi makan dan menghubungkan silaturahim; mereka tidak akan melihat pahala amalnya di akhirat nanti dan mereka hanya mendapat balasan di dunia saja dari kemurahan-Nya.

Saudaraku,
Perhatikan pula penjelasan Al Qur’an dalam surat Al-Furqaan ayat 23 berikut ini:

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَــٰـهُ هَبَاءً مَّنثُورًا ﴿٢٣﴾
Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (QS. Al-Furqaan. 23).

Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy)

(Dan Kami hadapi) kami hadapkan (segala amal yang mereka kerjakan) amal kebaikan seperti sedekah, menghubungkan silaturahmi, menjamu tamu dan menolong orang yang memerlukan pertolongan sewaktu di dunia (lalu Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan) amal perbuatan mereka tidak bermanfaat sama sekali pada hari itu, tidak ada pahalanya sebab syaratnya tak terpenuhi, yaitu iman, akan tetapi mereka telah mendapatkan balasannya selagi mereka di dunia.

Tafsir Ibnu Katsir

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَــٰـهُ هَبَاءً مَّنثُورًا ﴿٢٣﴾
Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (QS. Al-Furqaan. 23).

Ini terjadi pada hari kiamat di saat Allah menghisab amal perbuatan yang telah dilakukan oleh semua hamba, amal yang baik dan amal yang buruk. Maka Allah memberitahukan bahwa orang-orang musyrik itu tidak akan memperoleh sesuatu imbalan-pun dari amal-amal perbuatan yang telah mereka lakukan, padahal mereka menduga bahwa amal perbuatannya itu dapat menyelamatkan diri mereka.

Demikian itu karena amal perbuatannya tidak memenuhi syarat yang diakui oleh syariat, yaitu ikhlas dalam beramal karena Allah atau mengikuti syariat Allah. Setiap amal perbuatan yang dilakukan tidak secara ikhlas dan tidak sesuai dengan tuntunan syariat yang diridhai adalah batil.

Amal perbuatan orang-orang kafir itu tidak memenuhi salah satu dari kedua syarat tersebut, dan adakalanya kedua syarat tersebut tidak terpenuhi sehingga lebih jauh dari diterima. Untuk itu Allah SWT. berfirman: “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kamijadi­kan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan”. (QS. Al-Furqaan. 23).

Mujahid dan As'-Sauri mengatakan bahwa makna qadimna ialah: “Kami hadapi”. Hal yang sama dikatakan oleh As-Saddi, sedangkan sebagian lain ada yang mengatakannya: “Kami datangi”.

... فَجَعَلْنَــٰـهُ هَبَاءً مَّنثُورًا ﴿٢٣﴾
“... lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan”. (QS. Al-Furqaan. 23).

Sufyan As-Sauri mengatakan dari Abu Ishaq, dari Al-Haris, dari Ali r.a. sehubungan dengan makna firman-Nya: “debu yang beterbangan” (QS. Al-Furqaan. 23) Yaitu sinar matahari apabila memasuki sebuah lubang dinding.

Hal yang sama diriwayatkan dari perawi lainnya yang bukan hanya seorang, dari Ali r.a. Hal yang semisal diriwayatkan-pula dari Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Sa'id Ibnu Jubair, As-Saddi, Ad-Dahhak, dan lain-lainnya.

Hal yang sama dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri, yaitu sinar matahari yang memasuki lubang dinding rumah seseorang di antara kalian; seandainya dia meraupkan tangannya pada sinar itu, ia tidak dapat menangkapnya.

Ali ibnu AbuTalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: “debu yang beterbangan” (QS. Al-Furqaan. 23) Yang dimaksud ialah air yang ditumpahkan.

Abul Ahwas meriwayatkan dari Abu Ishaq. dari Al-Haris, dari Ali, “haba 'amansuran" bahwa makna al-haba ialah laratnya hewan. Hal yang semisal diriwayatkan pula oleh Ibnu Abbas dan Ad-Dahhak, juga dikatakan oleh Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: “debu yang beterbangan” (QS. Al-Furqaan. 23) Tidakkah engkau melihat pohon yang kering bila tertiup angin? Makna yang dimaksud adalah seperti dedaunannya yang berguguran itu.

Abdullah Ibnu Wahb mengatakan, telah menceritakan kepadaku Asim ibnu Hakim, dari Abu Sari' At-Ta-i,dari Ubaid ibnu Ya'la yang mengatakan bahwa sesungguhnya al-haba itu adalah debu yang diterbangkan oleh angin.

Kesimpulan dari semua pendapat di atas mengisyaratkan kepada makna yang dikandung oleh ayat. Demikian itu karena mereka telah melakukan banyak amal perbuatan yang menurut dugaan mereka benar. Tetapi ketika ditampilkan di hadapan Raja, Hakim Yang Maha Adil, yang tidak pernah kelewat batas dan tidak pernah menganiaya seseorang (Dialah Allah), ternyata kosong belaka, tiada artinya sama sekali.

Kemudian hal itu diumpamakan dengan sesuatu yang tiada artinya lagi berserakan, yang oleh pemiliknya tidak ada artinya sama sekali. Hal yang sama telah diungkapkan oleh Allah SWT. melalui firman-Nya dalam surat Ibrahim ayat 18:

مَّثَلُ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِرَبِّهِمْ أَعْمَــٰـــلُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ لَّا يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُواْ عَلَىٰ شَيْءٍ ذَٰلِكَ هُوَ الضَّــلَــــٰـلُ الْبَعِيدُ ﴿١٨﴾
Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh. (QS. Ibrahim. 18).

Dan firman Allah SWT. dalam surat Al Baqarah ayat 264:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُبْطِلُواْ صَدَقَـــٰــتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُواْ ... ﴿٢٦٤﴾
“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; ...”. (QS. Al Baqarah. 264).

Juga firman Allah SWT. dalam surat An Nuur ayat 39:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَــٰـــلُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْئَانُ مَاءً حَتَّىٰ إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا ... ﴿٣٩﴾
“Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. ...”. (QS. An Nuur. 39).

Saudaraku,
Dari uraian di atas bisa disimpulkan bahwa pernyataan tokoh yang mengaku bergelar Kyai Haji (KH) tersebut, yaitu pernyataan bahwa: “Orang yang jujur, orang yang shalih, punya solidaritas sosial, punya dedikasi, punya loyalitas, apapun agamanya dia pasti mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah SWT”, sama sekali tidak benar!

SYIRIK MERUPAKAN KEDHOLIMAN YANG BESAR

Lebih dari itu semua, ketahuilan bahwa perbuatan syirik itu benar-benar merupakan kedholiman yang besar (baca surat Luqman ayat 13) yang dosanya melebihi/lebih besar dari semua dosa yang lain, hingga Allah tidak akan mengampuni dosa syirik tersebut (baca surat An Nisaa’ ayat 48).

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ ﴿١٣﴾
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (QS. Luqman. 13).

إِنَّ اللهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا ﴿٤٨﴾
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (QS. An Nisaa’. 48).

Sedangkan yang dimaksud dengan syirik adalah menyamakan selain Allah dengan Allah dalam Rububiyyah dan Uluhiyyah.

Saudaraku,
Syirik dalam Rububiyyah yaitu menjadikan sekutu selain Allah yang mengatur alam semesta, sebagaimana firman-Nya dalam surat Saba’ ayat 22 berikut ini:

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُم مِّن دُونِ اللهِ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِن شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُم مِّن ظَهِيرٍ ﴿٢٢﴾
Katakanlah: "Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai ilah/tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat dzarrah*)-pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu saham-pun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya". (QS. Saba’. 22)

Sedangkan syirik dalam Uluhiyyah, yaitu beribadah atau berdo’a kepada selain Allah. Menyekutukan dalam Uluhiyyah Allah adalah dalam hal-hal yang merupakan kekhususan bagi Allah, seperti berdo’a kepada selain Allah, berdo’a meminta suatu hajat atau meminta rejeki atau meminta kesembuhan penyakit kepada orang yang sudah meninggal maupun kuburan keramat atau kepada pohon dan lainnya (selain Allah) atau memalingkan suatu bentuk ibadah seperti menyembelih hewan kurban, bernadzar, dan sebagainya kepada selain Allah.

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَـــٰــهُكُمْ إِلَـــٰــهٌ وَاحِدٌ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَـــٰـلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا ﴿١١٠﴾
Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (QS. Al Kahfi. 110).

Saudaraku,
Karena ternyata perbuatan syirik itu benar-benar merupakan kedholiman yang besar yang dosanya melebihi/lebih besar dari semua dosa yang lain, maka bagaimana mungkin orang-orang yang tidak beriman itu mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah SWT? Sekalipun mereka adalah orang-orang yang jujur, orang-orang yang shalih, punya solidaritas sosial, punya dedikasi, serta punya loyalitas?

Yang terjadi justru sebaliknya. Bahwa sekalipun mereka itu adalah orang-orang yang jujur, orang-orang yang shalih, punya solidaritas sosial, punya dedikasi, serta punya loyalitas, namun jika mereka melakukan perbuatan syirik, maka tak mungkin mereka bisa masuk surga dan tempat mereka adalah neraka untuk selama-lamanya.

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُواْ بِئَايَـــٰـــتِنَا وَاسْتَكْبَرُواْ عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ ﴿٤٠﴾ لَهُم مِّن جَهَنَّمَ مِهَادٌ وَمِن فَوْقِهِمْ غَوَاشٍ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّــــٰـلِمِينَ ﴿٤١﴾
(40) Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lobang jarum**). Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. (41) Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al A’raaf. 40 – 41).

BERHATI-HATILAH SAAT BERBICARA MASALAH AGAMA

Saudaraku,
Ketahuilah bahwa meskipun yang menyampaikan pernyataan seperti itu adalah seorang tokoh nasional dan bergelar kyai haji sekalipun, namun jika yang bersangkutan lebih mengedepankan akalnya/pemikirannya sendiri dalam menilai suatu perkara tanpa mau menyandarkannya kepada Al Qur’an, maka menurut pandangan Allah, orang-orang yang seperti itu adalah orang-orang yang bodoh.

Terkait hal ini, Allah telah berfirman dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 269:

يُؤتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُوْلُواْ الأَلْبَـــٰبِ ﴿٢٦٩﴾
“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)”. (QS. Al Baqarah. 269).

Saudaraku,
Perhatikan penjelasan Al Qur’an dalam surat Al Baqarah pada bagian akhir ayat 269 di atas:

... وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُوْلُواْ الأَلْبَـــٰبِ ﴿٢٦٩﴾
“... Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)”. (QS. Al Baqarah. 269).

Saudaraku,
Jelas dan tegas penjelasan Al Qur’an dalam surat Al Baqarah pada bagian akhir ayat 269 di atas, bahwa hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran dari firman Allah (Al Qur’an). Hal ini menunjukkan bahwa hanya orang-orang yang cerdaslah yang dapat mengambil pelajaran dari Al Qur’an.

Dan hal ini sekaligus juga menunjukkan kebalikannya, bahwa hanya orang-orang yang tidak menggunakan akalnya (alias hanya orang-orang yang bodohlah) yang tidak mau mengambil pelajaran dari Al Qur’an, karena mereka lebih mengedepankan kemampuannya sendiri dalam menilai suatu perkara (tanpa menyandarkannya kepada Al Qur’an).

Oleh karena itu janganlah menuruti hawa nafsu mereka (baca surat Al Mu’minuun ayat 71). Dan ikutilah/terima dan laksanakan apapun yang datangnya dari Allah dan Rasul-Nya tanpa adanya tawar menawar sedikitpun (baca surat An Nuur ayat 51 dan surat Al Ahzaab ayat 36).

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ بَلْ أَتَيْنَاهُم بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَن ذِكْرِهِم مُّعْرِضُونَ ﴿٧١﴾
“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu”. (QS. Al Mu’minuun. 71).

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُوْلَـــٰـــئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ﴿٥١﴾
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mu'min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan: "Kami mendengar dan kami patuh". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. An Nuur. 51)

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَـــٰــلًا مُّبِينًا ﴿٣٦﴾
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (QS. Al Ahzaab. 36)

Demikian yang bisa kusampaikan. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku.

Semoga bermanfaat.

NB.
*)    Dzarrah adalah istilah untuk suatu partikel yang sangat kecil.
**)   Dan tidak pula mereka masuk surga hingga unta masuk, yakni jika ada unta yang dapat masuk “ke dalam lubang jarum” maksudnya lubang yang ada pada jarum; ini kata kiasan bahwa hal itu tidak mungkin terjadi. (Tafsir Jalalain).

Jumat, 03 Desember 2021

BENARKAH SEMUA AGAMA ADALAH RAHMAT BAGI ALAM SEMESTA?


Assalamu’alaikum wr. wb.

Seorang pejabat tinggi yang baru saja dilantik, dengan tegas telah membuat pernyataan sebagai berikut: “Semua agama pasti rahmat bagi alam semesta”.

Sebelum mengkaji pernyataan di atas, marilah kita perhatikan uraian berikut ini terlebih dahulu.

Saudaraku,
Secara bahasa, rahmat artinya kelembutan yang berpadu dengan rasa iba. Atau dengan kata lain rahmat dapat diartikan dengan kasih sayang. Jadi, diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam adalah bentuk kasih sayang Allah SWT. kepada seluruh semesta alam.

Adapun pernyataan  bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam), pernyataan ini merupakan kesimpulan dari firman Allah SWT dalam Al Qur’an surat surat Al Anbiyaa’ ayat 107 berikut ini:

وَمَا أَرْسَلْنَـــٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَـــٰـلَمِينَ ﴿١٠٧﴾
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. Al Anbiyaa’. 107).

Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy): “(Dan tiadalah Kami mengutus kamu) hai Muhammad! (melainkan untuk menjadi rahmat) yakni merupakan rahmat (bagi semesta alam) manusia dan jin melalui kerasulanmu”.

Tafsir Ibnu Katsir:

Melalui ayat ini Allah SWT. memberitahukan bahwa Dia menjadikan Muhammad SAW. sebagai rahmat buat semesta alam. Dengan kata lain, Dia mengutusnya sebagai rahmat buat mereka. Maka barang siapa yang menerima rahmat ini dan mensyukurinya, berbahagialah ia di dunia dan akhiratnya. Dan barang siapa yang menolak serta mengingkarinya, maka merugilah ia di dunia dan akhiratnya, seperti yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُواْ نِعْمَةَ اللهِ كُفْرًا وَأَحَلُّواْ قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ ﴿٢٨﴾ جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَهَا وَبِئْسَ الْقَرَارُ ﴿٢٩﴾
(28) Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar ni`mat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan?, (29) yaitu neraka Jahannam; mereka masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman. (QS. Ibrahim. 28 – 29).

Dan Allah SWT. telah berfirman sehubungan dengan sifat Al-Qur'an:

... قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي ءَاذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُوْلَــــٰــئِكَ يُنَادَوْنَ مِن مَّكَانٍ بَعِيدٍ ﴿٤٤﴾
“... Katakanlah: "Al Qur'an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Qur'an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh”. (QS. Fushshilat: 44).

♦ Tafsir Ibnul Qayyim:

Dalam masalah ini, terdapat dua penafsiran:
Pertama: Alam semesta secara umum mendapat manfaat dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam.

Orang yang mengikuti beliau, dapat meraih kemuliaan di dunia dan akhirat sekaligus.

Orang kafir yang memerangi beliau, manfaat yang mereka dapatkan adalah disegerakannya pembunuhan dan maut bagi mereka, itu lebih baik bagi mereka. Karena hidup mereka hanya akan menambah kepedihan adzab kelak di akhirat. Kebinasaan telah ditetapkan bagi mereka. Sehingga, dipercepatnya ajal lebih bermanfaat bagi mereka daripada hidup menetap dalam kekafiran.

Orang kafir yang terikat perjanjian dengan beliau, manfaat bagi mereka adalah dibiarkan hidup didunia dalam perlindungan dan perjanjian. Mereka ini lebih sedikit keburukannya daripada orang kafir yang memerangi Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa sallam.

Orang munafik, yang menampakkan iman secara zhahir saja, mereka mendapat manfaat berupa terjaganya darah, harta, keluarga dan kehormatan mereka. Mereka pun diperlakukan sebagaimana kaum muslimin yang lain dalam hukum waris dan hukum yang lain.

Dan pada umat manusia setelah beliau diutus, Allah Ta’ala tidak memberikan adzab yang menyeluruh dari umat manusia di bumi. Kesimpulannya, semua manusia mendapat manfaat dari diutusnya Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa sallam.

Kedua: Islam adalah rahmat bagi setiap manusia, namun orang yang beriman menerima rahmat ini dan mendapatkan manfaat di dunia dan di akhirat. Sedangkan orang kafir menolaknya. Sehingga bagi orang kafir, Islam tetap dikatakan rahmat bagi mereka, namun mereka enggan menerima. Sebagaimana jika dikatakan: “Ini adalah obat bagi si fulan yang sakit”. Andaikan fulan tidak meminumnya, obat tersebut tetaplah dikatakan obat.

BENARKAH SEMUA AGAMA ADALAH RAHMAT BAGI ALAM SEMESTA?

Saudaraku,
Perhatikan penjelasan Al Qur’an dalam surat Maryam ayat 88 – 92 berikut ini:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَــــٰنُ وَلَدًا ﴿٨٨﴾ لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا ﴿٨٩﴾ تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا ﴿٩٠﴾ أَن دَعَوْا لِلرَّحْمَـــٰنِ وَلَدًا ﴿٩١﴾ وَمَا يَنبَغِي لِلرَّحْمَـــٰنِ أَن يَتَّخِذَ وَلَدًا ﴿٩٢﴾
(88) Dan mereka berkata: "Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak". (89) Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, (90) hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, (91) karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. (92) Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. (QS. Maryam. 88 – 92).

Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy):

(88). (Dan mereka berkata,) orang-orang Yahudi dan Nasrani dan orang-orang yang menyangka bahwa malaikat-malaikat itu adalah anak-anak perempuan Allah ("Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak") maka Allah menyanggah perkataan mereka itu melalui firman-Nya, (89). ("Sesungguhnya kalian telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar) yaitu suatu perkara mungkar yang sangat besar. (90). (Hampir-hampir) dapat dibaca Takaadu dan Yakaadu (langit pecah) terbelah, dan menurut qiraat yang lain lafal Yatafaththarna dibaca Yanfathirna (karena ucapan itu dan bumi belah dan gunung-gunung runtuh) yakni terbalik menindih mereka disebabkan. (91). (mereka mendakwakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak"). Allah berfirman, (92). ("Dan tidak layak bagi Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak") yakni tidak patut bagi-Nya hal yang demikian itu.

Saudaraku,
Perhatikan bagaimana keadaan langit, bumi dan gunung-gunung karena ucapan itu? Hampir-hampir langit pecah, bumi terbelah dan gunung-gunung runtuh disebabkan mereka mendakwakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Lantas dimana letak rahmatan lil ‘alamin-nya?

Dari sini saja sudah bisa disimpulkan bahwa agama Yahudi dan Nasrani itu sama sekali bukan agama yang rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam).

Saudaraku,
Pada bagian awal tulisan ini telah dijelaskan bahwa secara bahasa, rahmat artinya kelembutan yang berpadu dengan rasa iba. Atau dengan kata lain rahmat dapat diartikan dengan kasih sayang. Jadi, diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bentuk kasih sayang Allah SWT. kepada seluruh semesta alam, termasuk di dalamnya manusia dan jin.

Sedangkan dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir, disebutkan bahwa melalui ayat ini (surat Al Anbiyaa’ ayat 107) Allah SWT. memberitahukan bahwa Dia menjadikan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi semesta alam. Dengan kata lain, Dia mengutusnya sebagai rahmat bagi mereka. Maka barang siapa yang menerima rahmat ini dan mensyukurinya, berbahagialah ia di dunia dan akhiratnya.

Dan barang siapa yang menolak serta mengingkarinya (karena lebih memilih agama yang lainnya/karena lebih memilih agama selain agama Islam), maka merugilah ia di dunia dan akhiratnya. Lantas dimana letak rahmatan lil ‘alamin-nya?

Saudaraku,
Dari sini juga bisa disimpulkan bahwa semua agama selain agama Islam itu sama sekali bukan agama yang rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam).

BERHATI-HATILAH SAAT BERBICARA MASALAH AGAMA

Saudaraku,
Berbicara masalah agama tentunya diperlukan informasi yang benar, akurat dan meyakinkan karena teramat banyak hal-hal yang berada di luar jangkauan logika kita.

Informasi yang benar, akurat dan meyakinkan tersebut telah Allah sampaikan melalui utusan-Nya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yakni melalui ayat-ayat Al Qur’an yang tidak ada sedikitpun keraguan padanya. Sedangkan informasi/jawaban-jawaban yang tidak berasal dari Al Qur’an (dan Al Hadits), hanyalah sebatas prasangka dan dugaan semata.

ذَٰلِكَ الْكِتَـــٰبُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ ﴿٢﴾
“Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,” (QS. Al Baqarah. 2).

Selanjutnya perhatikan pula penjelasan Al Qur’an dalam surat Al Baqarah pada bagian akhir ayat 269 berikut ini:

... وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُوْلُواْ الأَلْبَـــٰبِ ﴿٢٦٩﴾
“... Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)”. (QS. Al Baqarah. 269).

Jelas dan tegas penjelasan Al Qur’an dalam surat Al Baqarah pada bagian akhir ayat 269 di atas, bahwa hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran dari firman Allah (Al Qur’an). Hal ini menunjukkan bahwa hanya orang-orang yang cerdaslah yang dapat mengambil pelajaran dari Al Qur’an.

Dan hal ini sekaligus juga menunjukkan kebalikan dari hal ini, bahwa hanya orang-orang yang tidak menggunakan akalnya (alias hanya orang-orang yang bodohlah) yang tidak mau mengambil pelajaran dari Al Qur’an, karena mereka lebih mengedepankan kemampuannya sendiri (tanpa menyandarkan kepada Al Qur’an) dalam menilai suatu perkara, terlebih lagi jika hal itu menyangkut perkara agama.

Saudaraku,
Sekali lagi kusampaikan, bahwa hanya orang-orang yang bodohlah yang tidak mau mengambil pelajaran dari Al Qur’an, karena mereka lebih mengedepankan kemampuannya sendiri (tanpa menyandarkan kepada Al Qur’an) dalam menilai suatu perkara, terlebih lagi jika hal itu menyangkut perkara agama. Na’udzubillahi mindzalika!

DAMPAK DARI PERNYATAAN DI ATAS

Saudaraku,
Bagi siapa saja yang dengan penuh kesadaran/dengan penuh keyakinan telah membuat pernyataan seperti di atas yaitu pernyataan: “Semua agama pasti rahmat bagi alam semesta”, maka hal ini bisa menghanguskan imannya sehingga hapuslah pula amalan-amalannya dan Allah tidak mengadakan suatu penilaianpun bagi amalan-amalannya pada hari kiamat (na’udzubillahi mindzalika).

Mengapa demikian? Karena Allah telah menegaskan, bahwa tidak ada yang memperdebatkan tentang kebenaran ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir.

مَا يُجَـــٰـدِلُ فِي ءَايَــــٰتِ اللهِ إِلَّا الَّذِينَ كَفَرُوا ... ﴿٤﴾
“Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir ...”. (QS. Ghafir. 4).

Oleh karena itu, berhati-hatilah wahai saudaraku!

Saudaraku,
Bagi siapapun yang dengan penuh kesadaran/dengan penuh keyakinan telah membuat pernyataan seperti di atas dan tidak segera bertaubat sebelum ajal menjelang, maka dia akan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang paling merugi perbuatannya, yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya. Na’udzubillahi mindzalika!

Perhatikan penjelasan Allah dalam Al Qur’an surat Al Kahfi ayat 103 – 106 berikut ini:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَــٰــلًا ﴿١٠٣﴾ الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا ﴿١٠٤﴾ أُوْلَــــٰـــئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِئَايَـــٰتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَـــٰــلُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَــــٰــمَةِ وَزْنًا ﴿١٠٥﴾ ذَٰلِكَ جَزَاؤُهُمْ جَهَنَّمُ بِمَا كَفَرُوا وَاتَّخَذُوا ءَايَــــٰتِي وَرُسُلِي هُزُوًا ﴿١٠٦﴾
(103) Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" (104) Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (105) Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. (106) Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok. (QS. Al Kahfi. 103 – 106).

Mungkin diantara kita ada yang bertanya: “Bukankah itu hanya sekedar ucapan/pernyataan semata?”

Saudaraku,
Ketahuilah bahwa dalam Islam, ucapan/perkataan/pernyataan itu memegang peranan yang sangat penting hingga bisa mengubah hukum suatu perkara:
   Bukankah karena ucapan (yaitu akad nikah) dua orang lelaki dan wanita yang sebelumnya berstatus sebagai orang asing sehingga haram hukumnya berkhalwat (apalagi sampai berhubungan suami-isteri), statusnya berubah menjadi sepasang suami-isteri sehingga halal bagi keduanya melakukan hal-hal seperti itu? Maka karena ucapan pula (yaitu ucapan talak) dua orang lelaki dan wanita yang sebelumnya berstatus suami-isteri, dengan ucapan itu tali ikatan pernikahan akan terputus sehingga statusnya berubah menjadi orang asing*).
   Bukankah karena ucapan (yaitu ucapan syahadat) seseorang yang sebelumnya kafir menjadi muslim? Maka dengan ucapan pula, seseorang yang sebelumnya muslim bisa menjadi kafir. Na’udzubillahi mindzalika!

Oleh karena itu, berhati-hatilah wahai saudaraku!

MENYEPELEKAN PERMASALAHAN AQIDAH

Saudaraku,
Dengan menggunakan ayat di atas (yaitu surat Al Anbiyaa’ ayat 107), sebagian orang telah menyepelekan dan enggan mendakwahkan aqidah yang benar. Karena mereka menganggap mendakwahkan aqidah yang benar hanya akan memecah-belah ummat dan menimbulkan kebencian sehingga tidak sesuai dengan prinsip bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin.

Renungkanlah!
Bahwa Beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pencerahan kepada umat manusia yang sebelumnya berada dalam kejahilan. Beliau menyampaikan aqidah yang benar kepada menusia yang sebelumnya berada dalam kesesatan. Inilah yang dimaksud rahmat Allah bagi seluruh manusia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi rahmat bagi seluruh manusia karena beliau membawa ajaran tauhid. Karena manusia pada masa sebelum beliau diutus berada dalam kesesatan berupa penyembahan kepada sesembahan selain Allah, walaupun mereka menyembah kepada Allah juga. Dan inilah inti ajaran para Rasul, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat An Nahl ayat 36 berikut ini:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُواْ اللهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّـــٰــغُوتَ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَـــٰـــلَةُ فَسِيرُواْ فِي الْأَرْضِ فَانظُرُواْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ ﴿٣٦﴾
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. An Nahl. 36).

Disamping itu, bukankah benar-tidaknya aqidah seseorang akan sangat menentukan posisi yang bersangkutan di alam akhirat kelak, yaitu di neraka untuk selamanya ataukah di surga yang penuh dengan kenikmatan abadi?

... إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَىـٰهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّـــٰـلِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ ﴿٧٢﴾
“... Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”. (QS. Al Maa-idah. 72).

Oleh karena itu, adakah yang lebih urgen dari perkara aqidah ini?

Saudaraku,
Justru dakwah tauhid, seruan untuk beraqidah yang benar adalah bentuk rahmat dari Allah Ta’ala. Karena dakwah tauhid yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rahmat Allah, maka bagaimana mungkin menjadi sebab perpecahan ummat?

Justru kesyirikanlah yang sebenarnya menjadi sebab perpecahan ummat. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Al Qur’an surat Ar Ruum ayat 31 – 32 berikut ini:

... وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴿٣١﴾ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ ﴿٣٢﴾
(31) “... dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah”, (32) “yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”. (QS. Ar Ruum. 31 – 32).

رَبَّنَا (Ya Tuhan kami),
Lindungilah kami ketika kami membaca ayat-ayat-Mu dari godaan syaitan yang terkutuk agar kami senantiasa berada dalam jalan-Mu yang lurus.

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ﴿٩٨﴾
”Apabila kamu membaca Al Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk”. (QS. An Nahl. 98).

رَبَّنَا (Ya Tuhan kami),

اهدِنَــــا الصِّرَاطَ الْمُستَقِيمَ ﴿٦﴾ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ﴿٧﴾
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. (QS. Al Faatihah. 6 – 7).

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ ﴿٨﴾
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)." (QS. Ali ‘Imran. 8).

... رَبَّنَا ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا ﴿١٠﴾
"... Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)". (QS. Al Kahfi. 10). Amin, ya rabbal ‘alamin!

Demikian yang bisa kusampaikan. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku.

Semoga bermanfaat.

NB.
*)   Penjelasan lebih terperinci terkait hal ini bisa dibaca dalam buku: “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits”, Jilid 5 pada Bab 6, sub-bab 6.5., halaman 249 – 263.

Info Buku:

● Alhamdulillah, telah terbit buku: Islam Solusi Setiap Permasalahan jilid 1.

Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, MAg: “Banyak hal yang dibahas dalam buku ini. Tapi, yang paling menarik bagi saya adalah dorongan untuk mempelajari Alquran dan hadis lebih luas dan mendalam, sehingga tidak mudah memandang sesat orang. Juga ajakan untuk menilai orang lebih berdasar kepada kitab suci dan sabda Nabi daripada berdasar nafsu dan subyektifitasnya”.

Buku jilid 1:

Buku jilid 1:
Buku: “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 378 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

● Buku “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1 ini merupakan kelanjutan dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” (jilid 1 s/d jilid 5). Berisi kumpulan artikel-artikel yang pernah saya sampaikan dalam kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah menjelang shalat tarawih/ba’da shalat tarawih, Khutbah Jum’at, kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus maupun kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook/whatsapp (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab, konsultasi, diskusi via email, facebook, sms, whatsapp, maupun media lainnya.

● Sebagai bentuk kehati-hatian saya dalam menyampaikan Islam, buku-buku religi yang saya tulis, biasanya saya sampaikan kepada guru-guru ngajiku untuk dibaca + diperiksa. Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz adalah salah satu diantaranya. Beliau adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Unsur Ketua MUI Jatim, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia 2009-2013, Dekan Fakultas Dakwah 2000-2004/Guru Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 2004 - sekarang.

_____

Assalamu'alaikum wr. wb.

● Alhamdulillah, telah terbit buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5.

● Buku jilid 5 ini merupakan penutup dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan jilid 4.

Buku Jilid 5

Buku Jilid 5
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-29-3

Buku Jilid 4

Buku Jilid 4
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 4: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-28-6

Buku Jilid 3

Buku Jilid 3
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 3: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 396 halaman, ISBN 978-602-5416-27-9

Buku Jilid 2

Buku Jilid 2
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 324 halaman, ISBN 978-602-5416-26-2

Buku Jilid 1

Buku Jilid 1
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 330 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

Keterangan:

Penulisan buku-buku di atas adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini: ”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞