بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Sabtu, 05 Desember 2020

HIJRAH DARI TAKUT KEHILANGAN DUNIAWI


Assalamu’alaikum wr. wb.

Seorang sahabat (staf pengajar/dosen sebuah perguruan tinggi negeri terkemuka di Sumatera) telah menyampaikan pesan via WhatsApp sebagai berikut: “Bagaimana caranya ya Pak Imron, agar kita bisa hijrah dari takut kehilangan duniawi?”.

Saudaraku,
Semakin kita mencintai sesuatu, maka hal ini akan membuat kita semakin takut kehilangan sesuatu itu. Sebaliknya, semakin kita tidak mencintai sesuatu, maka hal ini akan membuat kita semakin tidak takut kehilangan sesuatu itu. Dan pada puncaknya, ketika kita tidak lagi mencintai sesuatu, maka hal ini akan membuat kita tidak takut lagi akan kehilangan sesuatu itu.

Demikian pula halnya dengan kecintaan kita kepada dunia ini. Semakin kita mencintai dunia ini, maka hal itu juga akan membuat kita semakin takut kehilangan dunia ini. (Dan sudah menjadi tabiat manusia untuk mencintai dunia ini).

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَاٰبِ ﴿١٤﴾
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali ‘Imraan. 14).

Maka kurangilah cinta kita kepada dunia ini, agar kita semakin tidak takut kehilangan dunia ini. Dan jika upaya ini (upaya untuk mengurangi rasa cinta kita kepada dunia ini) terus-menerus kita lakukan hingga kita tidak lagi mencintai dunia ini, maka (jika kita sudah mencapai tahapan ini) kita juga akan menjadi tidak takut lagi kehilangan dunia ini.

Terkait hal ini, setidaknya ada empat hal yang harus kita lakukan, yaitu: (1) cintailah Allah dan Rasul-Nya melebihi yang lain, (2) ikutilah anjuran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjadi musafir di dunia ini, (3) sering-seringlah mengingat kematian sebagai pemutus kelezatan dunia ini, dan (4) jadikan akhirat sebagai tujuan hidup kita.

1. Mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi yang lain

Saudaraku,
Untuk bisa mengurangi rasa cinta kita kepada dunia ini, tumbuhkan rasa cinta kita kepada Allah (dan Rasul-Nya). Pupuklah rasa cinta kita kepada Allah terus-menerus agar rasa cinta kita kepada-Nya dapat terus tumbuh dan terus tumbuh hingga melebihi rasa cinta kita kepada dunia ini. Dan jika kita sudah sampai pada tahapan ini (yaitu ketika kita sudah bisa mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi dunia ini), maka kita akan menjadi lebih takut kehilangan (rahmat) Allah daripada kehilangan dunia ini.

Saudaraku,
Agar kita bisa semakin mencintai Allah (dan Rasul-Nya) hingga melebihi cinta kita kepada dunia ini/agar kita bisa lebih takut kehilangan rahmat-Nya melebihi rasa takut kita akan kehilangan dunia ini, maka kita musti banyak-banyak menyebut dan mengingat diri-Nya (serta banyak-banyak membaca shalawat untuk Rasul-Nya).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا اللهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ﴿٤١﴾
Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. (QS. Al Ahzaab. 41).

إِنَّ اللهَ وَمَلَـــٰــئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴿٥٦﴾
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. (QS. Al Ahzaab. 56).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا. (رواه مسلم)
“Siapa yang bershalawat untukku satu kali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali (Allah akan memberikan kerahmatan padanya sepuluh kali dengan sebab sekali shalawat tadi).” (HR. Muslim).

Saudaraku,
Jika kita sudah sampai pada tahapan ini (yaitu jika kita sudah mampu untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi cinta kita kepada dunia ini), niscaya kita akan mendapatkan manisnya iman.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ: أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْأَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلّٰهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ. (رواه البخارى و مسلم)
“Tiga hal yang jika ketiganya ada pada diri seseorang niscaya dia akan mendapatkan manisnya iman: hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, hendaklah dia mencintai seseorang serta tidaklah dia mencintainya melainkan karena Allah, dan hendaklah dia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dia dari kekufuran itu sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dan jika kita sudah bisa merasakan manisnya iman, maka kita akan bisa merasakan kelezatan didalam ketaatan dan mengemban beban-beban dalam mendapatkan ridho Allah dan Rasul-Nya serta lebih mendahulukan keridho-an tersebut daripada perhiasan-perhiasan dunia ini. Karena ridho Allah adalah lebih baik dari dunia seisinya, bahkan lebih baik dari surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.

وَعَدَ اللهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَـــٰتِ جَنَّـــٰتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَــٰــرُ خَـــٰــلِدِينَ فِيهَا وَمَسَـــٰــكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّـــٰتِ عَدْنٍ وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللهِ أَكْبَرُ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ﴿٧٢﴾
“Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mu'min lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di syurga `Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar”. (QS. At Taubah. 72).

Saudaraku,
Perhatikan penjelasan surat At Taubah pada bagian akhir ayat 72 di atas:

... وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللهِ أَكْبَرُ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ﴿٧٢﴾
“... Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar”. (QS. At Taubah. 72).

Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy): “... (Dan keridhaan Allah adalah lebih besar) lebih agung daripada kesemuanya itu (itu adalah keberuntungan yang besar)”.

Lebih dari itu semua, kita juga akan terbebas dari ancaman Allah dalam Al Qur’an surat At Taubah ayat 24 berikut ini:

قُلْ إِن كَانَ ءَابَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَـــٰــرَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَـــٰـكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللهُ بِأَمْرِهِ وَاللهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ ﴿٢٤﴾
“Katakanlah: "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”. (QS. At Taubah. 24).

2. Ikuti anjuran Rasulullah untuk menjadi musafir di dunia ini

Ibn Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang bahuku lalu bersabda:

كُنْ فِى الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْعَابِرُسَبِيْلٍ (رواه البخارى)
“Jadilah kamu di dunia ini bagaikan orang gharib (orang asing) atau orang yang hanya lalu di jalanan”. (HR. Bukhari).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا لِي وَلِلدُّنْيَا مَا مَثَلِي وَمَثَلُ الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ سَارَ فِي يَوْمٍ صَائِفٍ فَاسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا. (رواه أحمد)
”Apa urusanku dengan dunia? Aku dan dunia ibarat seorang pengendara yang melakukan perjalanan di siang hari, berteduh dan bernaung di sebuah pohon kemudian melanjutkan perjalanan dan meninggalkan tempat tersebut.” (HR. Ahmad).

Saudaraku,
Ambillah dunia ini sesuai dengan hajat kebutuhan kita. Janganlah kita sampai rakus dan tamak terhadapnya, hingga berusaha mendapatkan/mengumpulkannya dengan berbagai cara. Ingatlah wahai saudaraku, bahwa barangsiapa yang mengambil lebih dari hajat kebutuhannya, berarti dia telah mengambil sesuatu yang membinasakannya dengan tidak merasa. Na’udzubillahi mindzalika!

مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ ﴿٢٠﴾
“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat”. (QS. Asy Syuura. 20).

Saudaraku,
Semoga kisah berikut ini (aku ambil dari buku: “Irsyadul ‘Ibad Ila Sabilirrasyad”) dapat menambah pemahaman kita akan hakekat kehidupan dunia ini. Amin, ya rabbal ‘alamin.

Allaits meriwayatkan, dari Jarir berkata:
Seseorang datang kepada Nabi Isa A. S. dan berkata: “ Saya ingin bersahabat dan selalu bersamamu”. Maka berjalanlah keduanya di tepi sungai dan makanlah mereka berdua tiga potong roti, Nabi Isa A. S. satu potong dan satu potong untuk orang itu, sisa satu potong.

Kemudian Nabi Isa A. S. pergi minum ke sungai dan kembali, roti yang sepotong itu tidak ada lalu ditanyakan kepada orang itu: “Siapakah yang mengambil sepotong roti?”. Jawab orang itu: “Tidak tahu”.

Maka berjalanlah keduanya. Tiba-tiba (mereka) melihat rusa dengan kedua anaknya. Maka dipanggil satu anak rusa itu lalu disembelih lalu dibakar kemudian dimakan berdua. Lalu Nabi Isa A. S. menyuruh anak rusa yang telah dimakan itu supaya hidup kembali, maka hiduplah dengan izin Allah. Lalu Nabi Isa A. S. bertanya: “Demi Allah yang memperlihatkan kepadamu bukti kekuasaan-Nya itu, siapakah yang mengambil sepotong roti itu?”. Jawab orang itu: “Tidak tahu”.

Kemudian berjalan terus hingga sampai ke tepi sungai. Lalu Nabi Isa A. S. memegang tangan orang itu dan mengajaknya berjalan di atas air hingga sampai di seberang, lalu ditanya: “Demi Allah yang memperlihatkan kepadamu bukti ini, siapakah yang mengambil sepotong roti itu?”. Jawab orang itu: “Tidak tahu”.

Kemudian ketika berada di hutan dan duduk berdua, Nabi Isa A. S. mengambil tanah atau kerikil, lalu diperintah: “Jadilah emas dengan seizin Allah”, maka menjadi emas lalu dibagi tiga. Nabi Isa A. S. berkata: “Untukku sepertiga, dan kamu sepertiga. Dan yang sepertiga ini untuk orang yang mengambil roti”. Maka ia jawab: “Akulah yang mengambil roti itu!”. Nabi Isa A. S. berkata: “Maka ambillah semua untukmu!”. Lalu berpisah keduanya.

Kemudian orang itu didatangi oleh dua orang (yang) akan merampok harta orang itu dan (akan) membunuhnya. Lalu ia berkata: “Lebih baik kami bagi tiga saja”. Maka setuju ketiganya. Lalu menyuruh seorang (di antara mereka) untuk pergi ke pasar berbelanja makanan.

Maka timbul perasaan orang yang berbelanja itu: “Untuk apa kita membagi uang (emas). Lebih baik makanan ini saya isi racun, supaya keduanya mati dan aku ambil semua harta ini”. Lalu diracunnya makanan itu. Sedang kedua orang yang tinggal itu berkata: “Untuk apa kami membagi harta ini. Lebih baik jika ia datang, kami bunuh, lalu harta ini kami bagi berdua”.

Maka ketika datang orang yang berbelanja, segera dibunuh oleh keduanya. Lalu hartanya dibagi dua. Kemudian keduanya makan dari makanan yang beracun itu. Maka matilah keduanya. Dan tinggallah uang (emas) itu di hutan, sedang mereka bertiga mati di sekitar uang itu.

Kemudian ketika Nabi Isa A. S. berjalan di hutan dan menemukan (melihat) hal itu, berkata kepada sahabat-sahabatnya: “Inilah contoh dunia. Maka berhati-hatilah kamu daripadanya”.

Saudaraku,
Sebagai tambahan, berikut ini aku kutipkan penjelasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا الْفَقْرُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا فَتُهلِكُكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُم. (رواه البخارى ومسلم)   
“Bukanlah kefakiran yang aku takutkan atas kalian. Tetapi aku khawatir akan dibuka lebar (pintu) dunia kepada kalian, seperti telah dibuka lebar kepada orang sebelum kalian. Nanti kalian akan saling bersaing untuk mendapatkannya sebagaimana mereka telah bersaing untuknya. Nantinya (kemewahan) dunia akan membinasakan kalian seperti telah membinasakan mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

3. Mengingat kematian sebagai pemutus kelezatan dunia

Saudaraku,
Hidup di dunia ini tidaklah selamanya. Akan datang masanya kita berpisah dengan dunia beserta seluruh isinya. Perpisahan itu terjadi saat kematian menjemput kita, tanpa ada seorang-pun yang dapat menghindar darinya. Karena Allah SWT. telah berfirman dalam surat Ali ‘Imran ayat 185, surat An Nisaa’ ayat 78, serta surat Al-Anbiyaa` ayat 35 berikut ini:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ ... ﴿١٨٥﴾
”Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. ...”. (QS. Ali ‘Imran. 185).

أَيْنَمَا تَكُونُواْ يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ ... ﴿٧٨﴾
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, ...”. (QS. An Nisaa’. 78).

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ ﴿٣٥﴾
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (QS. Al Anbiyaa’. 35).

Saudaraku,
Ketahuilah bahwa mengingat kematian itu akan dapat melembutkan hati dan menghancurkan ketamakan kita terhadap dunia ini.

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بْنُ مُوسَى عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ. (رواه الترمذى)
Mahmud bin Ghailan menceritakan kepada kami, Al Fadhl bin Musa menceritakan kepada kami. dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan”. (HR. At-Tirmidzi). Yang dimaksud di sini adalah kematian. Kematian disebut haadzim (pemutus) karena ia menjadi pemutus kelezatan dunia.

Saudaraku,
Orang yang selalu mengingat kematian itu tidaklah identik dengan orang yang selalu murung, frustasi dan penuh dengan keputus-asaan karena serasa maut benar-benar di depan mata. Yang terjadi justru sebaliknya. Kepada siapapun, dimanapun, kapanpun, dia akan selalu berusaha untuk berkarya dan memberikan persembahan terbaik (yang semuanya itu dilakukan karena Allah semata). Karena dia khawatir, jangan-jangan hari ini adalah kesempatan terakhir!

Di sisi lain, dia juga senantiasa bekerja keras mempersiapkan bekal untuk menghadapinya. Seolah tidak ada waktu untuk tidak mengingat Allah (dzikrullah). Seolah tidak ada waktu untuk bersantai, apalagi sampai bermaksiat kepada-Nya. Karena dia tahu, bahwa maut bisa datang menjemputnya, kapan saja, di mana saja.

Pada saat yang sama, dia juga tidak mudah silau oleh gemerlapnya kehidupan dunia ini. Karena dia tahu, bahwa masa depannya yang sesungguhnya bukanlah di sini, di alam dunia ini. Tetapi nanti, di alam akhirat, dimana dia akan tinggal untuk selamanya di sana.

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَـهْوٌ وَلَلدَّارُ الْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ ﴿٣٢﴾
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”. (QS. Al An’aam: 32).

4. Menjadikan akhirat sebagai tujuan hidup kita

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كاَنَتِ الْأَخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ؛ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، جَعَلَ اللهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ، وَلَمْ يأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ. (رواه الترمذى)
“Siapa yang menjadikan akhirat sebagai maksud dan tujuannya, niscaya Allah akan menjadikan kekayaannya dalam hatinya dan Allah akan mengumpulkan urusannya yang tercerai-berai, bersamaan dengan itu dunia datang kepadanya dalam keadaan hina dan rendah. Sebaliknya, siapa yang menjadikan dunia sebagai maksud dan tujuannya, niscaya Allah akan menjadikan kefakirannya di hadapan kedua matanya, dan Allah akan mencerai-beraikan urusannya yang semula terkumpul, sementara dunia tidak datang kepadanya selain sebatas apa yang telah ditetapkan untuknya.” (HR. at-Tirmidzi, dihasankan dalam ash-Shahihah no. 949)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ، وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ. (رواه الترمذى وابن ماجه)
“Siapa yang akhirat menjadi tujuannya, Allah SWT. pasti meletakkan rasa kaya (cukup) di dalam hatinya, menyatukan urusannya, dan dunia datang kepadanya padahal dia (dunia itu) tidak menyukainya. Sebaliknya, siapa yang dunia menjadi tujuannya, Allah pasti meletakkan kemiskinan di depan matanya, dan mencerai-beraikan urusannya, sementara itu dunia tidak mendatanginya selain apa yang sudah ditentukan baginya.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Demikian yang bisa kusampaikan. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku.

Semoga bermanfaat.

Kamis, 03 Desember 2020

TERGESA-GESA DALAM MENGAMBIL TINDAKAN


Assalamu’alaikum wr. wb.

Setelah selesai melaksanakan bimbingan pembuatan laporan kerja praktek di ruang dosen, seorang mahasiswa Jurusan Teknik Industri Universitas Trunojoyo Madura telah memohon ijin untuk menyampaikan pertanyaan di luar topik bimbingan sebagai berikut: “Pak Imron, saya seringkali tergesa-gesa dalam mengambil tindakan begitu mendengar suatu berita sehingga seringkali berdampak buruk bagi saya. Jika sudah demikian, penyesalanlah yang saya rasakan. Yang saya tanyakan adalah bagaimana caranya untuk mengatasi hal itu, Pak Imron?”.

Adikku yang dicintai Allah,
Ketahuilah bahwa sesungguhnya tergesa-gesa itu adalah perbuatan syaitan, sedangkan syaitan itu benar-benar musuh yang nyata bagi kita. Oleh karenanya, janganlah kita mengikuti langkah-langkah mereka.

وَعَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اَللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَلْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ . أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَسَنٌ
Dari Sahal Ibnu Sa'ad Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: “Tergesa-gesa adalah termasuk perbuatan setan”. Riwayat Tirmidzi. Dia berkata bahwa hadits tersebut hasan.

... وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ ﴿٢٠٨﴾
“... dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. (QS. Al Baqarah. 208).

Adikku yang dicintai Allah,
Dalam surat Al Hujuraat ayat 6 berikut ini, Allah telah mengingatkan kita bahwa jika datang kepada kita suatu berita (terutama jika berita itu datangnya dari orang fasik), maka periksalah terlebih dahulu dengan teliti kebenaran beritanya sebelum kita mengambil keputusan/tindakan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَــٰــلَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَـــٰـدِمِينَ ﴿٦﴾
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS. Al Hujuraat. 6).

Dalam surat Al Hujuraat ayat 6 di atas, kita diingatkan untuk memeriksa terlebih dahulu dengan teliti kebenarannya pada saat datang kepada kita suatu berita (terutama jika berita itu datangnya dari orang fasik) sebelum kita mengambil keputusan/tindakan. Hal ini menunjukkan bahwa kita diperintahkan untuk lebih berhati-hati sebelum kita mengambil keputusan/tindakan.

Adikku yang dicintai Allah,
Kita diperintahkan untuk perlahan-lahan, sabar dan tenang dalam mengambil keputusan/tindakan karena kebaikan itu bukan dengan tergesa-gesa.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ بَزِيعٍ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ عَنْ قُرَّةَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ أَبِي جَمْرَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِأَشَجِّ عَبْدِ الْقَيْسِ إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللهُ الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ. (رواه الترمذى)
Muhammad bin Abdullah bin Bazi' menceritakan kepada kami, Bisyr bin Al Mufaddhal menceritakan kepada kami, dari Qurrah bin Khalid, dari Abu Jamrah dari Ibnu Abbas: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Asyaj Abdul Qais: “Sesungguhnya dalam dirimu ada dua hal yang Allah sukai: (1) sabar dan (2) pelan-pelan”. (HR. At-Tirmidzi).

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

التَّأَنيِّ مِنَ اللهِ وَ العُجْلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ. (رواه البيهقى)
“Sifat perlahan-lahan (sabar) itu berasal dari Allah. Sedangkan sifat tergesa-gesa itu berasal dari setan”. (HR. Al-Baihaqi(

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ، فَإِنَّ الْبِرَّ لَيْسَ باِلْإيِضَاعِ. (رواه البخارى)
“Wahai sekalian umat manusia, wajib atas kalian untuk tenang karena kebaikan itu bukan dengan tergesa-gesa.” (HR. al-Bukhari).

Adikku yang dicintai Allah,
Sekali lagi, perlahan-lahanlah, berhati-hatilah serta bersikap tenanglah dalam mengambil keputusan/tindakan, kecuali untuk amalan yang berkenaan dengan akhirat. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kita untuk bersegera (dan jangan ditunda-tunda lagi) dalam amalan yang berkenaan dengan akhirat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلتُّؤَدَةُ فِى كُلِّ شَيْءٍ خَيْرٌ اِلَّا فِى عَمَلِ الْاٰخِرَةِ. (رواه ابو داود والْحَاكِمُ)
“Perlahan-lahan dalam segala hal adalah baik, kecuali dalam amalan yang berkenaan dengan akhirat”. (HR. Abu Dawud dan Al Hakim).

Adikku yang dicintai Allah,
Segala amalan yang berkenaan dengan akhirat itu sudah pasti perintahnya berasal dari Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan segala sesuatu yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya itu pasti benar dan pasti berbuah kebaikan bagi kita umat manusia, sehingga kita tidak perlu lagi untuk berpikir-pikir terlebih dahulu dalam melaksanakannya.

ذَٰلِكَ الْكِتَــــٰبُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ ﴿٢﴾
Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (QS. Al Baqarah. 2).

اِتَّبِعُواْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ ﴿٣﴾
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya)”. (QS. Al A’raaf. 3).

... وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ ﴿٧﴾
“... Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya”. (QS Al Hasyr. 7).

Adikku yang dicintai Allah,
Sekali lagi kusampaikan, bahwa segala amalan yang berkenaan dengan akhirat itu sudah pasti perintahnya berasal dari Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan segala seuatu yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya itu pasti benar dan pasti berbuah kebaikan bagi kita umat manusia sehingga kita tidak perlu lagi untuk berpikir-pikir terlebih dahulu dalam melaksanakannya. Segera laksanakan apa adanya dan jangan ditunda-tunda lagi.

Perhatikan penjelasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah Hadits berikut ini:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara yang lain: (Manfaatkan) masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa fakirmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, masa hidupmu sebelum datang masa matimu.” (HR. Al-Hakim dan lainnya).

Semoga bermanfaat.

Info Buku:

● Alhamdulillah, telah terbit buku: Islam Solusi Setiap Permasalahan jilid 1.

Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, MAg: “Banyak hal yang dibahas dalam buku ini. Tapi, yang paling menarik bagi saya adalah dorongan untuk mempelajari Alquran dan hadis lebih luas dan mendalam, sehingga tidak mudah memandang sesat orang. Juga ajakan untuk menilai orang lebih berdasar kepada kitab suci dan sabda Nabi daripada berdasar nafsu dan subyektifitasnya”.

Buku jilid 1:

Buku jilid 1:
Buku: “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 378 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

● Buku “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1 ini merupakan kelanjutan dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” (jilid 1 s/d jilid 5). Berisi kumpulan artikel-artikel yang pernah saya sampaikan dalam kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah menjelang shalat tarawih/ba’da shalat tarawih, Khutbah Jum’at, kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus maupun kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook/whatsapp (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab, konsultasi, diskusi via email, facebook, sms, whatsapp, maupun media lainnya.

● Sebagai bentuk kehati-hatian saya dalam menyampaikan Islam, buku-buku religi yang saya tulis, biasanya saya sampaikan kepada guru-guru ngajiku untuk dibaca + diperiksa. Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz adalah salah satu diantaranya. Beliau adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Unsur Ketua MUI Jatim, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia 2009-2013, Dekan Fakultas Dakwah 2000-2004/Guru Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 2004 - sekarang.

_____

Assalamu'alaikum wr. wb.

● Alhamdulillah, telah terbit buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5.

● Buku jilid 5 ini merupakan penutup dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan jilid 4.

Buku Jilid 5

Buku Jilid 5
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-29-3

Buku Jilid 4

Buku Jilid 4
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 4: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-28-6

Buku Jilid 3

Buku Jilid 3
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 3: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 396 halaman, ISBN 978-602-5416-27-9

Buku Jilid 2

Buku Jilid 2
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 324 halaman, ISBN 978-602-5416-26-2

Buku Jilid 1

Buku Jilid 1
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 330 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

Keterangan:

Penulisan buku-buku di atas adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini: ”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞