بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Senin, 05 Desember 2022

PRIORITAS DALAM BERDAKWAH

Assalamu’alaikum wr. wb.
 
Saudaraku,
Berdakwah bermakna menghimbau/menyeru kepada umat manusia untuk melaksanakan segala apa yang Allah Ta’ala perintahkan dan meninggalkan semua yang dilarang-Nya. Sedangkan kewajiban untuk berdakwah itu telah Allah bebankan atas setiap muslim, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini:
 
يَــــٰــبُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَوٰةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ ﴿١٧﴾
”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).
 
   Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy):
 
(Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan mungkar serta bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu) disebabkan amar makruf dan nahi mungkarmu itu. (Sesungguhnya yang demikian itu) hal yang telah disebutkan itu (termasuk hal-hal yang ditekankan untuk diamalkan) karena mengingat hal-hal tersebut merupakan hal-hal yang wajib. (QS. Luqman. 17).
 
   Tafsir Ibnu Katsir:
 
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ ... ﴿١٧﴾
Hai Anakku, dirikanlah salat ... (Luqman: 17). Sesuai dengan batasan-batasannya, fardu-fardunya, dan waktu-waktunya.
 
... وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ ...﴿١٧﴾
... dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar ... (Luqman: 17). Sesuai dengan kemampuanmu dan menurut kesanggupan kekuatanmu.
 
... وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ... ﴿١٧﴾
... dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu ... (Luqman: 17)
 
Perlu kamu ketahui bahwa dalam mengerjakan amar ma'ruf dan nahi munkar terhadap manusia, pasti kamu akan beroleh gangguan dan perlakuan yang menyakitkan dari mereka. Karena itulah kamu harus bersabar terhadap gangguan mereka. Luqman menasihati anaknya untuk bersabar dalam menjalankan perintah amar ma'ruf dan nahi munkar itu.
 
...إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ ﴿١٧﴾
... Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (Luqman: 17). Sesungguhnya bersikap sabar dalam menghadapi gangguan manusia benar-benar termasuk hal yang diwajibkan oleh Allah.
 
   Kepada siapa saja kita harus berdakwah?
 
Saudaraku,
Prioritas pertama dan yang pertama kali harus kita dakwahi tentunya adalah diri kita sendiri. Perhatikan penjelasan Al Qur’an dalam surat Al Baqarah ayat 44 serta dalam surat Ash Shaaf ayat 2 – 3 berikut ini:
 
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ ﴿٤٤﴾
Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir? (QS. Al Baqarah. 44).
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لِـمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ﴿٢﴾ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ ﴿٣﴾
(2) Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? (3) Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (QS. Ash Shaff. 2 – 3).
 
Selanjutnya prioritas kedua adalah keluarga/kaum kerabat kita.
 
وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ ﴿٢١٤﴾
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”, (QS. Asy Syu’araa’. 214).
 
   Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy):
 
214. (Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat) mereka adalah Bani Hasyim dan Bani Mutalib, lalu Nabi saw. memberikan peringatan kepada mereka secara terang-terangan; demikianlah menurut keterangan hadis yang telah dikemukakan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَـــٰــئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ﴿٦﴾
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At Tahrim. 6).
 
Saudaraku,
Setelah berdakwah kepada diri-sendiri serta keluarga/kaum kerabat, barulah kita berdakwah kepada yang lainnya. Wallahu a’lam
 
Demikian yang bisa kusampaikan. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku.
 
Semoga bermanfaat.
 

Sabtu, 03 Desember 2022

BENARKAH KEBAHAGIAAN ITU BARU BISA DIDAPAT SETELAH BERBUAT MAKSIAT TERLEBIH DAHULU?

Assalamu’alaikum wr. wb.
 
Seorang sahabat (dosen senior FISIB Universitas Trunojoyo Madura) telah menyampaikan pesan via WhatsApp sebagai berikut: Pak Imron, berikut ini saya kirimi pernyataan seorang ‘ulama’: “Kayak apa celakanya kita, kalau bahagia menunggu maksiat dulu, harus melakukan hal yang buruk. Allah SWT. menyediakan sekian banyak kesenangan dari hal-hal yang diperbolehkan”. In sya Allah ini juga bagus untuk panjenengan kembangkan menjadi sebuah artikel.
 
Saudaraku,
Dikisahkan dalam Al Qur’an bahwa setelah penciptaannya, Allah SWT. telah menempatkan Nabi Adam AS bersama isterinya (yakni Hawa) di dalam surga dan dipersilahkan untuk memakan makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang mereka sukai, kecuali satu pohon saja.
 
وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ الْـجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَــٰــذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الْظَّالِمِينَ ﴿٣٥﴾
Dan Kami berfirman: Hai Adam diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. (QS. Al Baqarah. 35).
 
وَيَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ فَكُلَا مِنْ حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَــٰــذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ ﴿١٩﴾
(Dan Allah berfirman): Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim. (QS. Al A’raaf. 19).
 
Saudaraku,
Berdasarkan penjelasan kedua ayat di atas, menunjukkan bahwa apa yang dilarang Allah itu jauh lebih sedikit dibandingkan dengan apa yang diperbolehkan/yang dihalalkan. Sehingga apabila kita mencoba untuk menghitung apa yang dihalalkan oleh Allah, sudah pasti kita tidak akan mampu untuk menghitungnya. Karena yang dihalalkan oleh Allah itu tidak akan terhitung banyaknya/karena jumlah nikmat yang diberikan Allah kepada kita adalah tak terhingga banyaknya.
 
... وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللهِ لَا تُحْصُوهَا ... ﴿٣٤﴾
“…Dan jika kalian menghitung ni`mat Allah, tidaklah kalian mampu menghitungnya…” (QS. Ibrahim. 34).
 
Namun syaitan telah membisikkan pikiran jahat kepada keduanya (Nabi Adam AS beserta isterinya). Syaitan berkata kepada keduanya, bahwa Tuhan tidak melarang keduanya dari mendekati pohon tersebut, melainkan supaya keduanya tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal dalam surga.
 
فَوَسْوَسَ لَـهُمَا الشَّيْطَانُ لِــيُبْدِيَ لَـهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِن سَوْءَاتِـهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَـــٰـذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَن تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ ﴿٢٠﴾
Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga). (QS. Al A’raaf. 20).
 
فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْـخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَىٰ ﴿١٢٠﴾
Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?”. (QS. Thaahaa. 120)
Bahkan syaitan tidak segan-segan untuk bersumpah bahwa mereka hanyalah hendak menyampaikan nasihat dan anjuran baik belaka.
 
وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ ﴿٢١﴾
Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua, (QS. Al A’raaf. 21).
 
Maka Adam dan Hawa-pun memakan buah itu dan Allah mengeluarkan mereka dari keadaan yang mereka alami semula, yakni dari nikmat surga.
 
فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْءَاتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ الْجَنَّةِ وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَن تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُل لَّكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُّبِينٌ ﴿٢٢﴾
Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?”. (QS. Al A’raaf. 22).
 
Saudaraku,
Hal itu semua berawal dari penciptaan Nabi Adam AS kemudian Allah perintahkan penduduk surga untuk bersujud kepada Nabi Adam AS, maka mereka-pun (para malaikat) bersujud kecuali Iblis.
 
وَلَقَدْ خَلَقْنَـــٰـكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَــــٰـكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُواْ لِآدَمَ فَسَجَدُواْ إِلَّا إِبْلِيسَ لَمْ يَكُن مِّنَ السَّـــٰجِدِينَ ﴿١١﴾
Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah*) kamu kepada Adam”; maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. (QS. Al A’raaf. 11).
 
Saudaraku,
Yang membuat/yang menghalangi Iblis untuk bersujud kepada Nabi Adam AS adalah karena Iblis merasa lebih baik daripada Nabi Adam AS, dimana Allah telah menciptakan dirinya dari api sedangkan Nabi Adam AS Allah ciptakan dari tanah.
 
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَاْ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ ﴿١٢﴾
Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud* (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis: "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". (QS. Al A’raaf. 12).
 
Akibat dari kesombongannya tersebut, maka Iblis-pun diusir Allah dari surga dan hal ini telah menjadikannya termasuk golongan orang-orang yang hina.
 
قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّـــٰــغِرِينَ ﴿١٣﴾
Allah berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina". (QS. Al A’raaf. 13).
 
Saudaraku,
Karena Iblis telah memandang bahwa yang menjadikannya terusir dari surga dan menjadi hina adalah karena kehadiran Nabi Adam AS, maka Iblispun telah bersumpah untuk menyesatkan Nabi Adam AS beserta keturunannya semuanya. Untuk itu (agar Iblis berkesempatan menggoda Nabi Adam AS beserta anak cucunya), maka Iblis-pun telah memohon kepada Allah agar diperkenankan untuk hidup terus hingga hari kiamat, dan Allah-pun telah mengabulkannya.

 

قَالَ رَبِّ فَأَنظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ ﴿٣٦﴾ قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنظَرِينَ ﴿٣٧﴾ إِلَىٰ يَومِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ ﴿٣٨﴾ قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّـــنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ ﴿٣٩﴾ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ ﴿٤٠﴾
(36). Berkata iblis: "Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan". (37). Allah berfirman: "(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, (38). sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan". (39). Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma`siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, (40). kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka". (QS. Al Hijr. 36 – 40).
 
Saudaraku,
Oleh karena Iblis telah memandang bahwa yang menjadikannya terusir dari surga dan menjadi hina adalah karena kehadiran Nabi Adam AS, maka Iblispun telah bersumpah untuk menyesatkan Nabi Adam AS beserta keturunannya (yakni kita umat manusia) semuanya. Iblis akan melakukan apapun dalam upayanya untuk menjerumuskan Nabi Adam AS beserta anak cucunya ke dalam jurang kehinaan.
 
Untuk itu, Iblis dan balatentaranya akan menjadikan kita umat manusia memandang baik perbuatan ma`siat di muka bumi (sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Al Hijr ayat 39 di atas).
 
Mereka juga akan mengepung kita dari segala arah/dari muka dan dari belakang kita serta dari kanan dan dari kiri kita, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Al A’raaf ayat 16 – 17 berikut ini:
 
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿١٦﴾ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ ﴿١٧﴾
(16) Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, (17) kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta`at). (QS. Al A’raaf. 16 – 17).
 
Bahkan mereka bisa mengalir dalam tubuh Bani Adam sebagaimana mengalirnya darah di urat nadi, sebagaimana penjelasan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim berikut ini:
 
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
 
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الْإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ. (رواه البخارى ومسلم)
“Sesungguhnya setan mengalir dalam tubuh manusia sebagaimana mengalirnya darah”. (HR. Bukhari, Muslim).

Disamping mereka akan menjadikan umat manusia memandang baik perbuatan ma`siat di muka bumi ini dan akan mengepung kita dari segala arah serta bisa mengalir dalam tubuh Bani Adam sebagaimana mengalirnya darah di urat nadi, ternyata mereka juga bisa melihat kita sementara kita tidak bisa melihat mereka!
 
... إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ... ﴿٢٧﴾
“... Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. ...”. (QS. Al A’raaf. 27).
 
Saudaraku,
Berdasarkan realita di atas, ditambah dengan pengalaman mereka yang sangat panjang dalam menggoda umat manusia (mulai dari Nabi Adam AS hingga sekarang, bahkan hingga akhir zaman nantinya), maka jelaslah bahwa mereka (Iblis dan bala-tentaranya) akan sangat mudah mengalahkan kita umat manusia. Dengan kata lain, kita umat manusia pasti akan kalah telak melawan godaan mereka.
 
Sehingga tidak heran jika sangat banyak diantara kita yang mengatakan bahwa untuk bisa bahagia, kita tidak perlu segan-segan untuk bermaksiat dulu (tidak perlu segan-segan untuk korupsi, berselingkuh/berzina/main perempuan, melakukan kecurangan, merampas hak orang lain, minum minuman keras, berbohong, menjual agama dengan harga yang sangat murah, dst). Na’udzubillahi min dzalika (kami berlindung kepada Allah dari yang demikian).
 
Padahal Allah telah menjelaskan bahwa mereka (Iblis dan bala-tentaranya) adalah musuh bagi kita, maka perlakukan mereka sebagai musuh dan jangan jadikan mereka sebagai pemimpin-peminpin kita.
 
إِنَّ الشَّيْطَـــٰنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَـــٰبِ السَّعِيرِ ﴿٦﴾
Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (QS. Faathir. 6).
 
... إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَـــٰـطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ ﴿٢٧﴾
“... Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman”. (QS. Al A’raaf. 27).
 
Saudaraku,
Karena mereka (Iblis dan bala-tentaranya) adalah musuh yang nyata bagi kita, maka bisa dipastikan bahwa kebahagiaan yang mereka janjikan (dengan melakukan perbuatan maksiat) hanyalah kebahagiaan yang semu belaka yang pada akhirnya hanya akan berujung kepada kehancuran yang sebenar-benarnya.
 
Maka benarlah apa yang dikatakan ‘ulama’ di atas: “Kayak apa celakanya kita, kalau bahagia menunggu maksiat dulu, harus melakukan hal yang buruk. Allah SWT. menyediakan sekian banyak kesenangan dari hal-hal yang diperbolehkan”.
 
Oleh karenanya, ketika kita ditimpa gangguan syaitan/ketika kita ditimpa godaan syaitan, maka tiada pilihan lain selain bersegera untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT. Karena hanya inilah satu-satunya cara agar kita bisa selamat dari tipu daya mereka (Iblis dan bala-tentaranya).
 
وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ﴿٣٦﴾                                                       
Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Fushshilat. 36).
 
وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَـــٰنِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿٢٠٠﴾
Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al A’raaf. 200).
 
Sedangkan jika tanpa pertolongan-Nya, kita ini hanyalah makhluk yang lemah yang tak berdaya sedikitpun dalam menghadapi godaan syaitan yang terkutuk (sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya).
 
... وَخُلِقَ الإِنسَانُ ضَعِيفًا ﴿٢٨﴾
“..., dan manusia dijadikan bersifat lemah”. (QS. An Nisaa’. 28).
 
Dan karena mereka akan mengepung kita dari segala arah (sebagaimana uraian di atas), agar “benteng pertahanan” ini tidak goyah, maka tetaplah berpegang pada tali-Nya yang tak akan mungkin putus kecuali kita sendiri melepaskannya.
 
وَمَن يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ وَإِلَى اللهِ عَــٰــقِبَةُ الْأُمُورِ ﴿٢٢﴾
Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. (QS. Luqman. 22).
 
Demikian yang bisa kusampaikan. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku.
 
Semoga bermanfaat.
 
NB.
*)  Yang dimaksud sujud di sini berarti menghormati dan memuliakan Nabi Adam AS., bukan berarti sujud memperhambakan diri, karena sujud memperhambakan diri itu semata-mata hanyalah kepada Allah SWT.
 

Info Buku:

● Alhamdulillah, telah terbit buku: Islam Solusi Setiap Permasalahan jilid 1.

Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, MAg: “Banyak hal yang dibahas dalam buku ini. Tapi, yang paling menarik bagi saya adalah dorongan untuk mempelajari Alquran dan hadis lebih luas dan mendalam, sehingga tidak mudah memandang sesat orang. Juga ajakan untuk menilai orang lebih berdasar kepada kitab suci dan sabda Nabi daripada berdasar nafsu dan subyektifitasnya”.

Buku jilid 1:

Buku jilid 1:
Buku: “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 378 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

● Buku “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1 ini merupakan kelanjutan dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” (jilid 1 s/d jilid 5). Berisi kumpulan artikel-artikel yang pernah saya sampaikan dalam kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah menjelang shalat tarawih/ba’da shalat tarawih, Khutbah Jum’at, kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus maupun kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook/whatsapp (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab, konsultasi, diskusi via email, facebook, sms, whatsapp, maupun media lainnya.

● Sebagai bentuk kehati-hatian saya dalam menyampaikan Islam, buku-buku religi yang saya tulis, biasanya saya sampaikan kepada guru-guru ngajiku untuk dibaca + diperiksa. Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz adalah salah satu diantaranya. Beliau adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Unsur Ketua MUI Jatim, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia 2009-2013, Dekan Fakultas Dakwah 2000-2004/Guru Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 2004 - sekarang.

_____

Assalamu'alaikum wr. wb.

● Alhamdulillah, telah terbit buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5.

● Buku jilid 5 ini merupakan penutup dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan jilid 4.

Buku Jilid 5

Buku Jilid 5
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-29-3

Buku Jilid 4

Buku Jilid 4
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 4: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-28-6

Buku Jilid 3

Buku Jilid 3
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 3: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 396 halaman, ISBN 978-602-5416-27-9

Buku Jilid 2

Buku Jilid 2
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 324 halaman, ISBN 978-602-5416-26-2

Buku Jilid 1

Buku Jilid 1
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 330 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

Keterangan:

Penulisan buku-buku di atas adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini: ”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞