بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Rabu, 06 Oktober 2021

TENTANG SEPUTAR MASALAH TALAK TIGA


Assalamu’alaikum wr. wb.

Seorang sahabat (staf pengajar/dosen sebuah perguruan tinggi di Pekanbaru, Riau) telah menyampaikan pertanyaan via WhatsApp sebagai berikut:

Ada pertanyaan dari temanku (namanya tidak mau disebut). Beliau ada permasalahan dalam hubungan dengan istrinya. Beliau khilaf telah mengucapkan talak pada istrinya. Beliau ragu sudah 3 x atau belum, kalau mentalak selalu dalam kondisi emosional/marah-marah. Nah, beliau pernah baca katanya kalau talak dalam keadaan emosional tetap sah. Apa benar, Pak Imron?

Sementara beliau ingin sekali mempertahankan keluarganya karena punya 2 orang anak yang kecil-kecil. Ditambah lagi isterinya nggak punya pekerjaan. Dia nggak ingin perceraian yang pada akhirnya akan membuat anak dan istrinya menderita.

Saat ini dia sudah rujuk kembali sebelum habis masa iddahnya. Beliau yakin kalau dia rujuk nggak apa-apa karena pernah dengar ceramah kalau talak dalam keadaan marah tidak sah atau tidak jatuh talak.

Tanggapan

Saudaraku,
Ketahuilah bahwa pada perceraian yang dilakukan oleh suami kepada istri (ini adalah perceraian/talak yang paling umum), status perceraian tipe ini terjadi tanpa harus menunggu keputusan pengadilan. Begitu suami mengatakan kata-kata talak pada istrinya, maka talak itu sudah jatuh dan terjadi. Sedangkan keputusan Pengadilan Agama hanyalah formalitas belaka.

Hal ini menunjukkan bahwa ketika suami mengatakan: “Cerai, kita cerai” atau “Kamu aku cerai” atau “Aku menceraikanmu” atau mengatakan perkataan lain yang semacam itu, maka pada saat itu juga sudah jatuh talak (sudah terjadi talak) tanpa harus menunggu keputusan Pengadilan Agama.

Mengapa demikian?

Karena bagi siapa saja yang mengucapkan kata “talak” (cerai) walau dalam keadaan bercanda atau main-main asalkan lafadz talak tersebut keluar shorih (tegas), maka talak tersebut jatuh jika orang yang mengucapkan talak tersebut adalah suami yang sah, baligh (dewasa), berakal dan dengan kemauan sendiri (tidak terpaksa).

Dengan demikian tidak ada alasan jika ada yang berucap: “Saya kan hanya bergurau” atau “Saya kan hanya main-main saja”. Perhatikan penjelasan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, At Tirmidzi dan Ibnu Majah berikut ini:

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلَاثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جِدٌّ النِّكَاحُ وَالطَّلَاقُ وَالرَّجْعَةُ. (رواه ابو داود والترمذى وابن ماجه)
“Tiga perkara yang serius dan bercandanya sama-sama dianggap serius: (1) nikah, (2) talak, dan (3) rujuk”. (HR. Abu Daud no. 2194, At Tirmidzi no. 1184 dan Ibnu Majah no. 2039).

Saudaraku,
Ketahuilah bahwa terdapat dua pihak dalam perceraian yaitu suami dan istri, dimana pada masing-masing pihak ada syarat sahnya talak/perceraian. Para ‘ulama’ telah membagi syarat sahnya talak menjadi tiga, yaitu: (1) berkaitan dengan suami yang mentalak, (2) berkaitan dengan istri yang ditalak, dan (3) berkaitan dengan shighoh talak.

1. Berkaitan dengan suami yang mentalak

a. Yang mentalak adalah benar-benar suami yang sah.

Yang dimaksud di sini adalah bahwa antara pasangan tersebut memiliki hubungan pernikahan yang sah. Hal ini menunjukkan bahwa jika ada dua orang laki-laki dan wanita yang belum menikah kemudian lelaki tersebut mengatakan: “Saya mentalakmu”, maka ucapan seperti ini termasuk talak yang tidak sah. Atau dua orang laki-laki dan wanita yang belum menikah lalu lelaki tersebut mengatakan: “Jika nanti aku menikahimu, aku akan mentalakmu”. Karena pada saat itu belum menikah, maka yang seperti ini adalah talak yang tidak sah.

Perhatikan penjelasan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad serta penjelasan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan Al-Hakim berikut ini:

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا نَذْرَ لاِبْنِ آدَمَ فِيمَا لَا يَمْلِكُ وَلَا عِتْقَ لَهُ فِيمَا لَا يَمْلِكُ وَلَا طَلَاقَ لَهُ فِيمَا لَا يَمْلِكُ. (رواه الترمذى وأحمد)
“Tidak ada nadzar bagi anak Adam pada sesuatu yang bukan miliknya. Tidak ada membebaskan budak pada budak yang bukan miliknya. Tidak ada talak pada  sesuatu yang bukan miliknya”. (HR. Tirmidzi no. 1181 dan Ahmad 2/190).

Abu Ya’la dan Al-Hakim meriwayatkan hadits dari Jabir bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا طَلَاقَ اِلَّا بَعْدَ نِكَاحٍ وَلَاعِتْقَ اِلَّابَعْدَ مِلْكً.
Tidak ada talak kecuali setelah akad perkawinan dan tidak ada pemerdekaan kecuali setelah ada pemilikan.

Perhatikan pula penjelasan Al Qur’an dalam surat Al Ahzaab ayat 49 berikut ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَـــٰتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ ... ﴿٤٩﴾
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka ….” (QS. Al Ahzaab: 49).

Saudaraku,
Dalam surat Al Ahzaab ayat 49 di atas, disebut kata talak setelah sebelumnya disebutkan pernikahan. Hal ini menunjukkan bahwa yang mentalak adalah benar-benar suami yang sah melalui jalan pernikahan. Seandainya ada yang kumpul kebo (sebutan untuk sepasang pria-wanita yang hidup bersama tanpa adanya ikatan pernikahan) lalu si pria mengajukan cerai, maka hal seperti ini adalah talak yang tidak sah (artinya tidak jatuh talak sama sekali).

b. Yang mengucapkan talak telah baligh.

Mayoritas ‘ulama’ berpandangan bahwa jika anak kecil/belum baligh (terjadi pada pasangan yang menikah pada usia belum baligh) menjatuhkan talak, maka talaknya dinilai tidak sah. Hal ini didasarkan pada penjelasan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, At Tirmidzi serta Ibnu Majah berikut ini:

Diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu 'anha dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الْمُبْتَلَى حَتَّى يَبْرَأَ وَعَنِ الصَّبِىِّ حَتَّى يَكْبَرَ. (رواه ابو داود والترمذى وابن ماجه)
“Pena diangkat dari tiga orang: orang yang tidur sampai ia bangun, orang yang hilang ingatan sampai kembali ingatannya dan anak kecil sampai ia dewasa”. (HR. Abu Daud no. 4398, At Tirmidzi no. 1423, Ibnu Majah no. 2041).

c. Yang melakukan talak adalah berakal.

Hal ini menunjukkan bahwa tidak sah talak yang dilakukan oleh orang gila atau orang yang kurang akal. Hal ini didasarkan pada penjelasan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, At Tirmidzi dan Ibnu Majah di atas.

d. Dengan kemauan sendiri

Yang dimaksudkan di sini adalah bahwa orang yang mengucapkan talak tersebut telah mengucapkannya atas kehendak sendiri/tanpa ada paksaan. Perhatikan penjelasan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah serta hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud berikut ini:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ وَضَعَ عَنْ أُمَّتِى الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ. (رواه ابن ماجه)
“Sesungguhnya Allah memaafkan dosa dari umatku ketika ia keliru, lupa dan dipaksa”. (HR. Ibnu Majah no. 2045).

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا طَلَاقَ وَلَا عَتَاقَ فِى غَلَاقٍ. (رواه ابو داود)
“Tidak jatuh talak dan tidak pula dianggap merdeka dalam suatu pemaksaan”. (HR. Abu Daud no. 2193).

2. Berkaitan dengan istri yang ditalak

a. Akad nikahnya sah

Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad serta hadits yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan Al-Hakim, juga surat Al Ahzaab ayat 49 (lihat kembali pembahasan pada bagian awal syarat sahnya talak yang berkaitan dengan suami yang mentalak). Berdasarkan ketiga dalil tersebut, dapat disimpulkan bahwa talak hanya terjadi jika keduanya memiliki hubungan pernikahan yang sah.

b. Belum diceraikan dengan talak tiga oleh suaminya

Saudaraku,
Jika setelah talak pertama dan kedua masih boleh rujuk, maka setelah talak yang ketiga suami tidak bisa langsung menikahi mantan istrinya kembali sampai mantan istrinya tersebut menikah lagi dengan pria lain kemudian keduanya telah cerai dengan cara yang wajar (bukan direkayasa). Baru setelah itu suami yang pertama tadi boleh menikahi lagi.

Hal ini menunjukkan bahwa tidak mungkin tali pernikahan tersebut tersambung kembali setelah talak ketiga, kecuali jika mantan istrinya menikah lagi dengan pria lain kemudian keduanya telah bercerai secara wajar. Nah karena tidak ada tali pernikahan diantara keduanya setelah talak ketiga, maka talak yang seperti ini adalah talak yang tidak sah.

Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad serta hadits yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan Al-Hakim, serta surat Al Ahzaab ayat 49 (lihat kembali pembahasan pada bagian awal syarat sahnya talak yang berkaitan dengan suami yang mentalak). Berdasarkan ketiga dalil tersebut, dapat disimpulkan bahwa talak hanya terjadi jika keduanya berada dalam tali pernikahan yang sah.

Saudaraku,
Ketika istri sudah ditalak tiga kali, maka haram bagi mantan suaminya untuk rujuk kembali sampai mantan istrinya menikah dengan pria lain dengan pernikahan yang sah. Allah Ta’ala telah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 230:

فَإِن طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِن بَعْدُ حَتَّىٰ تَنكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ ... ﴿٢٣٠﴾
“Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia nikah dengan suami yang lain ...” (QS. Al Baqarah: 230).

Kemudian jika suami yang lain tersebut telah menceraikannya, maka suami yang pertama tadi boleh menikahi kembali mantan isterinya yang sudah bercerai dengan pria yang lain tersebut.

... فَإِن طَلَّقَهَا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَن يَتَرَاجَعَا إِن ظَنَّا أَن يُقِيمَا حُدُودَ اللهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ ﴿٢٣٠﴾
“... Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui”. (QS. Al Baqarah: 230).

Saudaraku,
Pada pernikahan yang kedua tersebut, disyaratkan bahwa suami kedua telah menyetubuhi istrinya, sebagaimana dijelaskan dalam hadits ‘Aisyah berikut ini:

أَنَّ امْرَأَةَ رِفَاعَةَ الْقُرَظِىِّ جَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ رِفَاعَةَ طَلَّقَنِى فَبَتَّ طَلَاقِى، وَإِنِّى نَكَحْتُ بَعْدَهُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ الزَّبِيرِ الْقُرَظِىَّ، وَإِنَّمَا مَعَهُ مِثْلُ الْهُدْبَةِ . قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لَعَلَّكِ تُرِيدِينَ أَنْ تَرْجِعِى إِلَى رِفَاعَةَ، لَا، حَتَّى يَذُوقَ عُسَيْلَتَكِ وَتَذُوقِى عُسَيْلَتَهُ . (رواه البخارى ومسلم)
Suatu ketika istri Rifaa’ah Al Qurozhiy menemui Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata:  “Aku adalah istri Rifaa’ah, kemudian ia menceraikanku dengan talak tiga. Setelah itu aku menikah dengan ‘Abdurrahman bin Az-Zubair Al Qurozhiy. Akan tetapi sesuatu yang ada padanya seperti hudbatuts-tsaub* (ujung kain)”. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tersenyum mendengarnya, lantas beliau bersabda: “Apakah kamu ingin kembali kepada Rifaa’ah? Tidak bisa, sebelum kamu merasakan madunya dan ia pun merasakan madumu”. (HR. Bukhari no. 5260 dan Muslim no. 1433).

3. Lafadz/ucapan talak

Lafadz (ucapan) talak bisa dibedakan menjadi dua macam, yaitu: (1) talak dengan lafadz shorih (tegas) dan (2) talak dengan lafadz kinayah (kiasan).

a. Talak dengan lafadz shorih (tegas)

Artinya tidak mengandung makna lain ketika diucapkan dan langsung dipahami bahwa maknanya adalah talak/cerai. Contohnya seorang suami mengatakan kepada istrinya: “Saya talak kamu”, atau “Saya ceraikan kamu”, dst. Lafadz-lafadz seperti ini tidak bisa dipahami selain makna cerai atau talak.

Jika lafadz-lafadz seperti ini diucapkan oleh suami, maka jatuhlah talak dengan sendirinya, baik lafadz tersebut diucapkan dengan serius maupun dengan bercanda. Hal ini menunjukkan bahwa jika lafadz talak diucapkan dengan tegas, maka jatuhlah talak selama lafazh tersebut diucapkan atas pilihan sendiri (tidak dalam keadaan terpaksa), meskipun diucapkan dengan serius maupun dengan bercanda.

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلَاثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جِدٌّ النِّكَاحُ وَالطَّلَاقُ وَالرَّجْعَةُ. (رواه ابو داود والترمذى وابن ماجه)
“Tiga perkara yang serius dan bercandanya sama-sama dianggap serius: (1) nikah, (2) talak, dan (3) rujuk”. (HR. Abu Daud no. 2194, At Tirmidzi no. 1184 dan Ibnu Majah no. 2039).

b. Talak dengan lafazh kinayah (kiasan)

Artinya tidak diucapkan dengan kata talak atau cerai secara khusus, namun diucapkan dengan kata yang bisa mengandung makna yang lain.

Contohnya, suami mengatakan: “Pulang saja kamu ke rumah orang tuamu”. Kalimat seperti ini bisa mengandung makna lain selain cerai. Bisa saja karena telah terjadi pertengkaran hebat dan suami memandang isterinya berakhlak buruk, kemudian suami meminta isterinya untuk pulang ke rumah orang tuanya agar mendapat nasehat dari orangtuanya sehingga akhlak buruknya tersebut bisa diperbaiki.

Contoh lainnya, suami mengatakan:  “Sekarang kita berpisah saja”. Lafazh seperti ini tidak selamanya dimaksudkan untuk talak. Bisa jadi ketika suami hendak melanjutkan studi S2 atau S3 ke luar negeri atau ketika suami hendak merantau di tempat yang jauh sehingga memakan waktu cukup lama, kemudian menjelang keberangkatannya, suami mengatakan hal itu kepada isterinya.

Saudaraku,
Untuk kasus-kasus seperti ini, diperlukan adanya niat. Jika ucapan-ucapan seperti ini diniatkan untuk maksud talak, maka jatuhlah talak. Namun jika tidak diniatkan untuk talak, maka tidak jatuh talak. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ. (رواه البخارى ومسلم)
“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung dari niatnya”. (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907, dari ‘Umar bin Al Khottob).

Adapun jika talaknya hanya dengan niat dalam hati (tidak sampai diucapkan), maka talaknya tidak jatuh. Perhatikan penjelasan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim berikut ini:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِى مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا، مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَتَكَلَّمْ. (رواه البخارى ومسلم)
“Sesungguhnya Allah memaafkan pada umatku sesuatu yang terbetik dalam hatinya selama tidak diamalkan atau tidak diucapkan”. (HR. Bukhari no. 5269  dan Muslim no. 127).

Saudaraku mengatakan: “Beliau ragu, sudah 3 x atau belum”.

Saudaraku,
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa ketika suami mengucapkan kata talak/cerai secara shorih/tegas, seperti mengatakan: “Kamu aku cerai” atau “Aku menceraikanmu” atau mengatakan perkataan lain yang semacam itu, maka pada saat itu juga sudah jatuh talak/sudah terjadi talak tanpa harus menunggu keputusan Pengadilan Agama, tidak peduli apakah hal itu diucapkan dengan serius atau hanya bercanda.

Jika setelah suami mengucapkan kata talak/cerai secara shorih/tegas kemudian sebelum habis masa ‘iddah, suami mengatakan kepada saudaraku: "Aku rujuk" atau “Aku kembali kepadamu” atau berkata pada orang lain: “Aku rujuk pada istriku” atau “Aku kembali ke istriku”, atau suami berkumpul kembali dengan isterinya (melakukan hubungan suami-isteri) dengan diniati rujuk, maka tali pernikahan tersambung kembali. Artinya semenjak saat itu, kembali berstatus sebagai suami-isteri yang sah. (http://pa-kedirikab.go.id/index.php/492-talak-dan-gugat-cerai-dalam-syariat-islam).

Jika setelah itu (setelah rujuk) kemudian suami kembali mengucapkan kata talak/cerai secara shorih/tegas, maka pada saat itu sudah jatuh talak untuk kedua kalinya/sudah terjadi talak untuk kedua kalinya tanpa harus menunggu keputusan Pengadilan Agama, tidak peduli apakah hal itu diucapkan dengan serius atau hanya bercanda. Namun jika sebelum rujuk suami kembali mengucapkan kata talak/cerai secara shorih/tegas, maka talak seperti ini tidak sah disebabkan tidak adanya hubungan suami-istri sama sekali, sehingga tidak jatuh talak untuk kedua kalinya/tidak terjadi talak untuk kedua kalinya (artinya tetap dihitung talak satu).

Sedangkan jika setelah terjadi talak untuk kedua kalinya kemudian sebelum habis masa ‘iddah suami kembali mengatakan kepada saudaraku: "Aku rujuk" atau “Aku kembali kepadamu” atau berkata pada orang lain: “Aku rujuk pada istriku” atau “Aku kembali ke istriku”, atau melakukan hubungan suami-isteri dengan diniati rujuk, maka tali pernikahan tersambung kembali.

Dan jika setelah rujuk untuk kedua kalinya suami kembali mengucapkan kata talak/cerai secara shorih/tegas, maka pada saat itu sudah jatuh talak untuk ketiga kalinya/sudah terjadi talak untuk ketiga kalinya tanpa harus menunggu keputusan Pengadilan Agama, tidak peduli apakah hal itu diucapkan dengan serius atau hanya bercanda.

Saudaraku,
Jika hal ini sampai terjadi (jika sampai terjadi talak untuk ketiga kalinya), maka haram bagi mantan suami untuk rujuk kembali sampai sang isteri menikah dengan pria lain dengan pernikahan yang sah lalu sudah melakukan hubungan suami-isteri, kemudian bercerai secara wajar (sebagaimana sudah dijelaskan pada uraian di atas). Talak seperti ini dikenal dengan talak ba-in kubro.

Tanggapan balik dari sahabat tersebut (staf pengajar/dosen sebuah perguruan tinggi di Pekanbaru, Riau): “Berarti kalau mentalak dalam kondisi emosional yang nggak terkontrol nggak sah ya talaknya, Pak Imron?”.

Tetap sah saudaraku, jika menggunakan kata-kata yang jelas/dengan lafadz shorih (tegas), artinya tidak mengandung makna lain ketika diucapkan dan langsung dipahami bahwa maknanya adalah talak/cerai. Contohnya seorang suami mengatakan kepada istrinya: “Saya talak kamu”, atau “Saya ceraikan kamu”, dst. Lafadz-lafadz seperti ini tidak bisa dipahami selain makna cerai atau talak.

Jika lafadz-lafadz seperti ini diucapkan oleh suami, maka jatuhlah talak dengan sendirinya, baik lafadz tersebut diucapkan dengan serius maupun dengan bercanda. Hal ini menunjukkan bahwa jika lafadz talak diucapkan dengan tegas, maka jatuhlah talak selama lafazh tersebut diucapkan atas pilihan sendiri (tidak dalam keadaan terpaksa), meskipun diucapkan dengan serius maupun dengan bercanda.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلَاثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جِدٌّ النِّكَاحُ وَالطَّلَاقُ وَالرَّجْعَةُ. (رواه ابو داود والترمذى وابن ماجه)
“Tiga perkara yang serius dan bercandanya sama-sama dianggap serius: (1) nikah, (2) talak, dan (3) rujuk”. (HR. Abu Daud no. 2194, At Tirmidzi no. 1184 dan Ibnu Majah no. 2039).

In sya Allah uraian pada artikel di atas sudah cukup jelas.

Sahabat tersebut (staf pengajar/dosen sebuah perguruan tinggi di Pekanbaru, Riau) menanggapi kembali dengan tanggapan sebagai berikut: “Hwaduhh, bagaimana caraku menyampaikan ke temanku tersebut. Karena dia sudah kembali lagi bersama istrinya dan tambah sayang dan akur serta anak-anaknya jadi bersemangat lagi”.

Saudaraku,
Ust. Drs. H. Sahmin Hidayat (alumnus Ponpes Gontor/salah satu guru ngajiku) malah bertanya dengan pertanyaan kurang lebih sebagai berikut: "Apakah ada, seorang suami yang bilang cerai kepada isterinya dengan kata-kata yang lemah lembut/dalam keadaan baik-baik saja?".

Tanggapan beliau
(staf pengajar/dosen sebuah perguruan tinggi di Pekanbaru, Riau): Iya Pak Imron. Mungkin aku suruh saja dia menyimpulkan sendiri. Karena takut dia jadi syok”.

Tanggapanku: “Lho, kan beliau sudah rujuk? Rujuk tidak memerlukan saksi, ijab kabul, dll. sebagaimana orang menikah. In sya Allah uraian di atas sudah cukup jelas. Coba dibaca lagi dengan seksama”.

Tanggapan beliau (staf pengajar/dosen sebuah perguruan tinggi di Pekanbaru, Riau): “Tapi kata beliau, dia ragu apa sudah 3 x.

Tanggapanku: “Tidak semua orang (suami) yang telah mengatakan cerai sebanyak 3 x dihukumi talak 3, saudaraku. Coba dibaca lagi dengan seksama”.

Tanggapan beliau (staf pengajar/dosen sebuah perguruan tinggi di Pekanbaru, Riau): “Kata beliau pernah talak rujuk, talak rujuk lagi dalam waktu yang bertahun-tahun dan talak lagi. Begitu, katanya. Aku sudah jelaskan, tapi takut salah”.

Tanggapanku: “Semoga beliau bisa memahaminya”.

Demikian dialog ini,
Semoga bermanfaat.

Minggu, 03 Oktober 2021

MENIKAH DENGAN SUAMI YANG SALAH


Assalamu’alaikum wr. wb.

Seorang akhwat telah menyampaikan pertanyaan via WhatsApp sebagai berikut: “Pak Imron, anakku telah menikah dengan orang yang salah. Penjudi, hutangnya buanyak. Duhhh, aku ikut nanggung, ini”.

Saudaraku,
Ketahuilah bahwa dalam Agama Islam, mencari nafkah itu adalah kewajiban mutlak bagi seorang suami dan tidak bisa dialihkan kepada yang lain selama suami masih mampu mencari nafkah. Demikian penjelasan Al Qur’an dalam surat An Nisaa’ pada bagian awal ayat 34 berikut ini:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ ...
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka ...”. (QS. An Nisaa’. 34).

Sekali lagi, bahwa mencari nafkah itu adalah kewajiban mutlak bagi seorang suami dan tidak bisa dialihkan kepada pihak lain selama suami masih mampu mencari nafkah. Terkecuali jika suami sudah tidak mampu lagi untuk mencari nafkah, seperti ketika suami terkena stroke sehingga dia hanya bisa berbaring di tempat tidur saja atau karena usianya yang sudah sangat renta sehingga tidak mampu lagi untuk mencari nafkah, dll.

لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ وَمَن قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّا ءَاتَاهُ اللهُ لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا مَا ءَاتَاهَا سَيَجْعَلُ اللهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا ﴿٧﴾
”Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan”. (QS. Ath Thalaaq. 7).

Adapun besaran nafkah yang harus diberikan kepada keluarga, disesuaikan dengan kadar kemampuan suami (tidak ada ketentuan harus sekian rupiah per bulan, dll).

... وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ ... ﴿٣٤﴾
“... dan karena mereka (laki-laki/suami) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka ...” (QS. An Nisaa’. 34).

... وَعلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ...﴿٢٣٣﴾
“... Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. ...” (QS. Al Baqarah. 233)

Saudaraku,
Kita tidak boleh membantah ketetapan Allah tersebut. Kita tidak boleh mengambil sebagian saja hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh Allah, yaitu hukum-hukum yang kita senangi saja, sementara hukum-hukum yang lain yang tidak kita senangi kita buang begitu saja. Karena Allah telah berfirman dalam Al Qur'an surat Al Baqarah ayat 208, yang artinya adalah sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ ﴿٢٠٨﴾
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. (QS. Al Baqarah. 208).

Jika hal ini yang kita lakukan (yaitu mengambil sebagian hukum-hukum Allah dan membuang sebagian yang lainnya), maka tanpa kita sadari kita telah memperturutkan langkah-langkah syaitan. Padahal, sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kita. Na’udzubillahi mindzalika!

Saudaraku,
Karena Islam hanya membebankan pemberian nafkah keluarga kepada suami (bukan kepada isteri), maka menjadi tuntutan bagi suami untuk bekerja/keluar rumah mencari karunia Allah demi memenuhi kewajiban tersebut. Sedangkan pihak isteri, dikarenakan tidak ada kewajiban padanya untuk memberikan nafkah kepada keluarganya, maka tidak ada kewajiban pula baginya untuk bekerja mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Saudaraku,
Berdasarkan keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa dari setiap penghasilan yang diperoleh suami, di sana ada jatah nafkah istri yang harus ditunaikan. Ini berbeda dengan penghasilan isteri.

Terkait penghasilan istri, maka penghasilan tersebut adalah milik dirinya sendiri/milik pribadi (bukan milik suaminya) sebagaimana harta-harta pribadi lainnya seperti harta warisan, maskawin (mahar), hibah dari orang lain, dll. Murni menjadi miliknya, artinya tidak ada seorangpun (termasuk suaminya) yang boleh mengambilnya kecuali dengan kerelaan isteri. Kesimpulan ini bisa kita sandarkan pada ayat tentang mahar:

وَءَاتُواْ النِّسَاءَ صَدُقَـــٰــتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا ﴿٤﴾
“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. (QS. An Nisaa’. 4).

Nah, jika harta mahar saja (yang asalnya dari suami diberikan kepada isteri) tidak boleh dinikmati suami kecuali atas kerelaan hati sang istri, apalagi harta lainnya yang murni dimiliki istri (seperti penghasilan istri atau warisan milik istri dari orang tuanya), tentunya juga tidak boleh dinikmati oleh suaminya kecuali atas kerelaan istri*).

Dengan demikian, hukum asalnya adalah istri tidak wajib menanggung hutang suami. Harta istri adalah miliknya sendiri dan dia bebas menggunakannya tanpa campur tangan orang lain, termasuk suaminya. Istri boleh menolak pembayaran hutang itu jika suami memaksa. Sebab tanpa kerelaan istri, haram hukumnya seorang suami mengambil dan menikmati harta istri (termasuk jika digunakan untuk membayar hutang-hutangnya).

Namun jika pembayaran hutang suami oleh istri adalah pemberian yang ikhlas tanpa paksaan, tanda cinta istri kepada suami setelah mempertimbangkan kemampuan masing-masing, juga upaya istri meraih amal shalih yang lebih banyak, tentu saja diperbolehkan.

Dalam hal ini, bahkan isteri (yang bersedekah kepada suaminya, salah satu diantaranya adalah dengan pemberian yang ikhlas tanpa paksaan kepada suaminya untuk keperluan membayar hutang-hutang sang suami) akan mendapatkan dua pahala, yaitu pahala menyambung karib kerabat dan pahala karena sedekah. Demikian penjelasan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim berikut ini:

حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ الرَّبِيعِ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْحَارِثِ عَنْ زَيْنَبَ امْرَأَةِ عَبْدِ اللهِ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَصَدَّقْنَ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ وَلَوْ مِنْ حُلِيِّكُنَّ قَالَتْ فَرَجَعْتُ إِلَى عَبْدِ اللهِ فَقُلْتُ إِنَّكَ رَجُلٌ خَفِيفُ ذَاتِ الْيَدِ وَإِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَمَرَنَا بِالصَّدَقَةِ فَأْتِهِ فَاسْأَلْهُ فَإِنْ كَانَ ذَلِكَ يَجْزِي عَنِّي وَإِلَّا صَرَفْتُهَا إِلَى غَيْرِكُمْ قَالَتْ فَقَالَ لِي عَبْدُ اللهِ بَلْ ائْتِيهِ أَنْتِ قَالَتْ فَانْطَلَقْتُ فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنْ الْأَنْصَارِ بِبَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَاجَتِي حَاجَتُهَا قَالَتْ وَكَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أُلْقِيَتْ عَلَيْهِ الْمَهَابَةُ قَالَتْ فَخَرَجَ عَلَيْنَا بِلَالٌ فَقُلْنَا لَهُ ائْتِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبِرْهُ أَنَّ امْرَأَتَيْنِ بِالْبَابِ تَسْأَلَانِكَ أَتُجْزِئُ الصَّدَقَةُ عَنْهُمَا عَلَى أَزْوَاجِهِمَا وَعَلَى أَيْتَامٍ فِي حُجُورِهِمَا وَلَا تُخْبِرْهُ مَنْ نَحْنُ قَالَتْ فَدَخَلَ بِلَالٌ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَهُ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ هُمَا فَقَالَ امْرَأَةٌ مِنْ الْأَنْصَارِ وَزَيْنَبُ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الزَّيَانِبِ قَالَ امْرَأَةُ عَبْدِ اللهِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَهُمَا أَجْرَانِ أَجْرُ الْقَرَابَةِ وَأَجْرُ الصَّدَقَةِ حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ يُوسُفَ الْأَزْدِيُّ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنِي شَقِيقٌ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْحَارِثِ عَنْ زَيْنَبَ امْرَأَةِ عَبْدِ اللهِ قَالَ فَذَكَرْتُ لِإِبْرَاهِيمَ فَحَدَّثَنِي عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْحَارِثِ عَنْ زَيْنَبَ امْرَأَةِ عَبْدِ اللهِ بِمِثْلِهِ سَوَاءً قَالَ قَالَتْ كُنْتُ فِي الْمَسْجِدِ فَرَآنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ تَصَدَّقْنَ وَلَوْ مِنْ حُلِيِّكُنَّ وَسَاقَ الْحَدِيثَ بِنَحْوِ حَدِيثِ أَبِي الْأَحْوَصِ. (رواه مسلم)
13.43/1667. Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Rabi' Telah menceritakan kepada kami Abul Ahwash dari Al A'masy dari Abu Wa`il dari Amru bin Harits dari Zainab isteri dari Abdullah, ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Bersedekahlah wahai kaum wanita! Bersedekahlah sekalipun dengan perhiasanmu. Zainab berkata; Mendengar sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tersebut, lalu aku pulang menemui Abdullah -suamiku- seraya berkata kepadanya, Anda adalah seorang laki-laki yang miskin. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kepada kami kaum wanita agar bersedekah. Cobalah datangi beliau dan tanyakan bolehkah jika aku bersedekah kepada keluarga? Jika tidak akan aku kualihkan kepada yang lain. Abdullah menjawab, Sebaiknya kamu sajalah yang mendatangi beliau. Maka pergilah aku. Lalu di pintu rumah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kudapati wanita Anshar yang bermaksud sama denganku. Sebagaimana biasa, orang-orang yang ingin bertemu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selalu diliputi rasa gentar. Kebetulan Bilal keluar mendapatkan kami. Kata kami kepada Bilal, Tolonglah kamu sampaikan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa dua wanita sedang berdiri di pintu hendak bertanya, 'Apakah dianggap cukup, jikalau kami berdua bersedekah kepada suami kami masing-masing dan kepada anak-anak yatim yang berada dalam pemeliharaan kami? Dan sekali-kali jangan engkau beritahukan siapa kami.' Maka masuklah Bilal menanyakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tetapi beliau balik bertanya: Siapa kedua wanita itu? Bilal menjawab, Seorang wanita Anshar bersama-sama dengan Zainab. Beliau bertanya, Zainab yang mana? Bial menjawab, Zainab isterinya Abdullah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Masing-masing mereka mendapat dua pahala. Yaitu pahala (menyambung) karib kerabat dan pahala karena sedekah. Telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Yusuf Al Azdi Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh bin Ghiyats Telah menceritakan kepada kami bapakku Telah menceritakan kepada kami Al A'masy telah menceritakan kepadaku Syaqiq dari Amru bin Harits dari Zainab isteri Abdullah. Ia berkata; lalu saya menyebutkannya kepada Ibrahim, maka ia pun menceritakan kepadaku dari Abu Ubaidah dari Amru bin Harits dari Zainab isteri Abdullah dengan hadits semisalnya. Zainab berkata; Suatu ketika saya berada di masjid, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melihatku dan bersabda: Bersedekahlah, meskipun dengan perhiasan kalian. Ia pun menuturkan hadits sebagaimana hadits Abul Ahwash. (HR. Muslim).

Saudaraku,
Jika istri saja tidak wajib menanggung hutang suami, apalagi panjenengan selaku ibu mertuanya. Tentunya lebih-lebih lagi tidak wajib untuk ikut menanggung hutangnya. Dan jika istri saja boleh menolak pembayaran hutang itu jika suaminya memaksa, apalagi panjenengan selaku ibu mertuanya. Tentunya lebih-lebih lagi boleh menolak pembayaran hutang itu jika yang bersangkutan memaksa.

MENYIKAPI PERILAKU BURUK SUAMI YANG SUKA BERJUDI

Saudaraku,
Sebagai istri yang baik, tentunya akan lebih bijak jika berupaya terlebih dahulu (berusaha semaksimal mungkin) untuk mengajaknya kembali ke jalan yang benar. Karena Allah Ta’ala telah berfirman dalam Al Qur’an surat At Tahriim ayat 6 berikut ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَـــٰــئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ﴿٦﴾
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. At Tahriim. 6).

Meskipun demikian, dalam berdakwah tentunya tidak harus mentargetkan sedemikian rupa sehingga sang istri (dalam hal ini adalah anak panjenengan) sukses membawa suaminya untuk kembali ke dalam jalan-Nya yang lurus. Karena kewajiban kita hanyalah menyampaikan ayat-ayat-Nya. Demikian penjelasan Al Qur’an dalam surat Ali ‘Imran ayat 20 berikut ini:

فَإنْ حَآجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلّٰهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ وَقُل لِّلَّذِينَ أُوْتُواْ الْكِتَـــٰبَ وَالْأُمِّيِّينَ ءَأَسْلَمْتُمْ فَإِنْ أَسْلَمُواْ فَقَدِ اهْتَدَواْ وَّإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَـــٰغُ وَاللهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ ﴿٢٠﴾
“Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: "Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku". Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: "Apakah kamu (mau) masuk Islam?" Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”. (QS. Ali ‘Imran: 20).

Apalagi jika hal ini kita kaitkan dengan penjelasan Allah dalam surat Al An’aam ayat 162, yang artinya adalah:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّٰهِ رَبِّ الْعَـــٰـــلَمِينَ ﴿١٦٢﴾
“Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”, (QS. Al An’aam. 162).

Jadi, sebaiknya apapun yang dilakukan istri (termasuk dalam berdakwah), harus diniatkan hanya karena Allah semata, bukan karena yang lain. Jika sang istri sudah berusaha secara maksimal, maka apapun hasilnya, semuanya itu sudah menjadi urusan Allah. Karena hak Allah-lah untuk memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Jika seseorang diberi petunjuk oleh-Nya, niscaya dia akan memilih jalan yang lurus. Demikianlah penjelasan Al Qur’an dalam surat Al Baqarah ayat 142:

... قُل لِّلّٰهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ﴿١٤٢﴾
“... Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.”. (Wallahu ta'ala a'lam). (QS. Al Baqarah. 142).

Saudaraku,
Bisa jadi sang istri (dalam hal ini adalah anak panjenengan) mengatakan: “Aku menyadari kalau aku juga belum sempurna menjadi istri yang baik. Masih banyak kekurangan”.

Jika memang demikian, maka sebaiknya disikapi dengan santai saja. Karena kewajiban kita hanyalah berupaya semaksimal mungkin untuk menjalankan semua perintah-Nya, semampu yang kita bisa.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ. (رواه البخارى) 
“Apabila aku melarangmu dari sesuatu maka jauhi dia. Bila aku perintahkan kamu suatu perkara maka tunaikanlah semampumu.” (HR. Al-Bukhari, no. 7288)

Dan Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ...
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya ...”. (QS. Al Baqarah ayat 286).

Jika sang istri (dalam hal ini adalah anak panjenengan) sudah berupaya semaksimal mungkin dalam menjalankan peran sebagai seorang istri, maka cukuplah hal itu. Setelah sang istri (dalam hal ini adalah anak panjenengan) berupaya sebaik mungkin dalam menjalankan peran sebagai seorang istri, selanjutnya bacalah istighfar kepada-Nya. Mohonlah ampun kepada-Nya, barangkali masih ada kekurangan/kekhilafan/sesuatu yang luput dalam menjalankan kewajiban saudaraku sebagai seorang istri. Semoga Allah meridhoi niatan baik saudaraku.

Saudaraku,
Bisa jadi pula sang istri (dalam hal ini adalah anak panjenengan) mengatakan bahwa karena selalu memaafkan kelakuan suami saya, akhirnya membuat suaminya “tuman” melakukan perbuatan maksiatnya (berjudi). Bisa jadi sang istri juga selalu mendo’akan suami agar bisa segera menyadari segala perbuatannya.

Jika memang demikian halnya, apa yang harus istri lakukan, apa harus terus bersabar menghadapi perbuatan suaminya? Terus memaafkan suaminya, terus berdo’a untuk kebaikannya? Atau lebih baik ditinggalkan saja suaminya?

Saudaraku,
Adalah hak seorang istri untuk mendapatkan perlakuan yang baik dari suaminya, mendapatkan nafkah baik lahir maupun batin dari suami serta mendapatkan bimbingan dari suami dalam menggapai ridho-Nya agar selamat dari siksa api neraka. Sebaliknya, adalah kewajiban suami untuk memberikan perlakuan yang baik kepada sang istri, memberikan nafkah baik lahir maupun batin serta memberikan bimbingan kepada sang istri dalam menggapai ridho-Nya agar selamat dari siksa api neraka.

Jika melihat kembali pada apa yang telah saudaraku sampaikan, nampaknya suami memiliki perilaku yang buruk (suka berjudi) serta tidak bisa memenuhi dengan baik segala hak istri. Terkait hal ini, keputusan sepenuhnya ada pada sang istri (dalam hal ini adalah anak panjenengan). Karena penggunaan hak itu diserahkan sepenuhnya kepada pihak yang mempunyai hak. Seseorang yang mempunyai hak atas sesuatu, maka dia boleh mengambil haknya tersebut, boleh juga tidak.

Jika sang istri (dalam hal ini adalah anak panjenengan) ridho dengan perilaku buruk suami, sementara sang istri juga sudah berupaya untuk tetap sabar dan juga sudah berupaya untuk mengingatkan sang suami agar segera kembali ke dalam jalan-Nya yang lurus, maka sebagai saudara seiman seagama, aku hanya bisa mendo’akan semoga kelapangan dada sang istri (dalam hal ini adalah anak panjenengan) dalam menghadapi keadaan yang demikian sulit ini, dapat dilihat oleh Allah sebagai amal kebajikan sehingga dapat menambah ketakwaan saudaraku kepada-Nya.

Namun jika ternyata sang suami tetap seperti sekarang (bahkan kondisinya semakin memburuk) sehingga sang istri sudah tidak mampu lagi untuk memaafkan kesalahannya, maka sudah saatnya bagi sang istri untuk memikirkan kembali akan keberlangsungan pernikahan ini.

Saudaraku,
Perhatikanlah kisah perjalanan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disaat-saat awal kenabiannya, Rasulullah melaksanakan dakwahnya dengan sembunyi-sembunyi (secara rahasia) karena saat itu jumlah umat Islam masih sedikit. Hingga ketika jumlah umat Islam semakin bertambah banyak, Rasulullah melaksanakan dakwahnya secara terang-terangan.

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ ﴿٩٤﴾
”Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik”. (QS. Al Hijr. 94).

Selanjutnya dalam perkembangan dakwahnya, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta kaum muslimin menemui banyak rintangan. Pada awalnya, mereka berusaha menghentikan dakwah Rasulullah dengan cara ”halus”. Mereka mencoba menawarkan tiga hal (harta, tahta dan wanita) kepada Rasulullah agar berhenti mendakwahkan Islam.

Setelah cara “halus” tak berhasil, mereka mulai menebar teror dengan siksaan terhadap Rasulullah dan kaum muslimin. Dan ketika siksaan dari kaum Quraisy telah sampai pada titik puncak yang tak bisa ditanggung lagi oleh kaum muslimin, akhirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (beserta kaum muslimin) hijrah ke Madinah.

Saudaraku,
Kita bisa mengambil pelajaran dari kisah perjalanan dakwah Rasulullah tersebut. Ketika rintangan yang dihadapi masih dalam batas-batas tertentu, Rasulullah tetap berupaya semaksimal mungkin untuk menyampaikan dakwahnya di kalangan penduduk Makkah. Namun ketika rintangan/siksaan dari kaum Quraisy telah sampai pada titik puncak yang tak bisa ditanggung lagi oleh kaum muslimin, akhirnya Rasulullah (beserta kaum muslimin) hijrah ke Madinah.

Demikian pula dengan apa yang dialami sang istri (dalam hal ini adalah anak panjenengan). Ketika rintangan yang dihadapi sang istri masih dalam batas-batas tertentu, maka sebaiknya sang istri tetap berupaya semaksimal mungkin untuk mengingatkan sang suami agar segera kembali ke dalam jalan-Nya yang lurus. Namun ketika rintangan yang dihadapi sang istri telah sampai pada titik puncak yang tak bisa ditanggung lagi, mungkin sudah saatnya bagi sang istri untuk berhijrah/untuk memikirkan kembali akan keberlangsungan pernikahan ini.

Jika langkah terakhir yang dipertimbangkan oleh sang istri, selama sang istri tetap bertaqwa kepada-Nya, maka sang istri tidak perlu merasa bimbang akan kelanjutan masa-masa setelahnya/setelah sang istri meninggalkannya. Karena sesungguhnya Allah akan memberi jalan keluar bagi hamba-hamba-Nya yang bertaqwa dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (Do'aku menyertai perjuangan putrimu, wahai saudaraku!).

... وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ﴿٢﴾
”... Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar”. (QS. Ath Thalaaq. 2).

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللهَ بَـــٰــلِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا ﴿٣﴾
”Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. (QS. Ath Thalaaq. 3).

Saudaraku,
Satu hal yang harus kita tanamkan dalam hati kita, bahwa sebagai seorang muslim/muslimah yang baik, maka seharusnya cinta kita 100% hanya untuk Allah semata.

Kalaupun kita mencintai istri (suami) kita, termasuk cinta kita kepada orang tua, anak, saudara, dll., maka semuanya itu hanyalah dalam rangka memenuhi perintah Allah semata (sebagai perwujudan cinta kita kepada-Nya). Dan jika suatu ketika Allah memerintahkan kita untuk menceraikan istri (suami) kita, maka (karena cinta kita kepada Allah) kita juga harus menceraikannya. Misal: ketika tiba-tiba sang istri (suami) murtad, maka terlebih dahulu kita harus berupaya semaksimal mungkin untuk mengajaknya kembali. Namun jika ternyata sang istri (suami) tetap tidak mau, maka kita harus tinggalkan dia (karena dengan murtadnya sang istri/suami, maka ikatan tali perkawinan otomatis terputus). Sekalipun kecantikannya masih membuat kita terpesona, juga kelembutan sikapnya, dll.

Demikian yang bisa kusampaikan. Mohon maaf jika kurang berkenan. Hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku.

Semoga bermanfaat.

NB.
*)   Meskipun demikian karena waktu yang digunakan isteri untuk bekerja pada dasarnya adalah hak suaminya juga, maka yang terbaik adalah bahwa hendaknya sang isteri (bagi isteri yang bekerja) juga ikut berkontribusi didalam nafkah keluarganya. (Wallahu a'lam).

Info Buku:

● Alhamdulillah, telah terbit buku: Islam Solusi Setiap Permasalahan jilid 1.

Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, MAg: “Banyak hal yang dibahas dalam buku ini. Tapi, yang paling menarik bagi saya adalah dorongan untuk mempelajari Alquran dan hadis lebih luas dan mendalam, sehingga tidak mudah memandang sesat orang. Juga ajakan untuk menilai orang lebih berdasar kepada kitab suci dan sabda Nabi daripada berdasar nafsu dan subyektifitasnya”.

Buku jilid 1:

Buku jilid 1:
Buku: “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 378 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

● Buku “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1 ini merupakan kelanjutan dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” (jilid 1 s/d jilid 5). Berisi kumpulan artikel-artikel yang pernah saya sampaikan dalam kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah menjelang shalat tarawih/ba’da shalat tarawih, Khutbah Jum’at, kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus maupun kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook/whatsapp (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab, konsultasi, diskusi via email, facebook, sms, whatsapp, maupun media lainnya.

● Sebagai bentuk kehati-hatian saya dalam menyampaikan Islam, buku-buku religi yang saya tulis, biasanya saya sampaikan kepada guru-guru ngajiku untuk dibaca + diperiksa. Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz adalah salah satu diantaranya. Beliau adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Unsur Ketua MUI Jatim, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia 2009-2013, Dekan Fakultas Dakwah 2000-2004/Guru Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 2004 - sekarang.

_____

Assalamu'alaikum wr. wb.

● Alhamdulillah, telah terbit buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5.

● Buku jilid 5 ini merupakan penutup dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan jilid 4.

Buku Jilid 5

Buku Jilid 5
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-29-3

Buku Jilid 4

Buku Jilid 4
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 4: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-28-6

Buku Jilid 3

Buku Jilid 3
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 3: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 396 halaman, ISBN 978-602-5416-27-9

Buku Jilid 2

Buku Jilid 2
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 324 halaman, ISBN 978-602-5416-26-2

Buku Jilid 1

Buku Jilid 1
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 330 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

Keterangan:

Penulisan buku-buku di atas adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini: ”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞