بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Minggu, 05 Juni 2022

JANGANLAH KALIAN BERLOMBA-LOMBA MENGUMPULKAN SESUATU YANG PASTI AKAN KALIAN TINGGALKAN DI KEMUDIAN HARI


Assalamu’alaikum wr. wb.

Seorang sahabat (dosen senior FISIB Universitas Trunojoyo Madura) telah menyampaikan pesan via WhatsApp sebagai berikut: Pak Imron, berikut ini sebagian kiriman dari Bu Fulanah (nama samaran/dosen senior Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura): “Janganlah kalian berlomba-lomba mengumpulkan sesuatu yang pasti akan kalian tinggalkan di kemudian hari”. In sya Allah bagus untuk panjenengan uraikan dalam sebuah artikel.

   Hakikat kehidupan dunia

Saudaraku,
Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah senda gurau serta main-main belaka. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Demikian penjelasan Al Qur’an dalam surat Al ‘Ankabuut ayat 64 serta dalam surat Al Hadiid ayat 20 berikut ini:

وَمَا هَـــٰـذِهِ الْـحَيٰوةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ ﴿٦٤﴾
Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”. (QS. Al ‘Ankabuut. 64).

اِعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَـــٰــدِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىـٰهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَـــٰـمًا وَفِي الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ ﴿٢٠﴾
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. (QS. Al Hadiid. 20).

Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy):

(Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan) sebagai perhiasan (dan bermegah-megahan antara kalian serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak) artinya, menyibukkan diri di dalamnya. Adapun mengenai ketaatan dan hal-hal yang membantu menuju kepadanya termasuk perkara-perkara akhirat (seperti) kehidupan dunia yang menyilaukan kalian dan kepunahannya sesudah itu bagaikan (hujan) bagaikan air hujan (yang membuat orang-orang yang bertani merasa kagum) merasa takjub (akan tanam-tanamannya) yang tumbuh disebabkan turunnya hujan itu (kemudian tanaman itu menjadi kering) lapuk dan kering (dan kamu lihat warnanya yang kuning itu kemudian menjadi hancur) menjadi keropos dan berjatuhan ditiup angin. (Dan di akhirat ada azab yang keras) bagi orang-orang yang lebih memilih keduniaan (dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya) bagi orang-orang yang lebih memilih akhirat daripada dunia. (Dan kehidupan dunia ini tidak lain) maksudnya bersenang-senang dalam dunia ini tiada lain (hanyalah kesenangan yang menipu).

Sedangkan dunia itu jika dibandingkan dengan akhirat hanyalah seperti seseorang yang mencelupkan jarinya ke laut, maka yang tersisa di jarinya jika ia keluarkan dari laut itulah dunia. Bahkan dunia itu lebih hina bagi Allah, melebihi hinanya bangkai anak kambing yang cacat bagi kita umat manusia.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ أَبِي خَالِدٍ حَدَّثَنَا قَيْسُ بْنُ أَبِي حَازِمٍ قَال سَمِعْتُ مُسْتَوْرِدًا أَخَا بَنِي فِهْرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَاذَا يَرْجِعُ. (رواه الترمذى)
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Basyar] telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Sa'id] telah menceritakan kepada kami [Isma'il bin Abu Khalid] telah menceritakan kepada kami [Qais bin Abu Hazim] bekata: Aku mendengar [Mustaurid] dari Bani Fihr, berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Dunia bagi akhirat itu tidak lain seperti salah seorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut lalu perhatikanlah apa yang dibawa kembali". (HR. At-Tirmidzi, no. 2245).

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْلَمَةَ بْنِ قَعْنَبٍ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ يَعْنِي ابْنَ بِلَالٍ عَنْ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِالسُّوقِ دَاخِلًا مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَةِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَهُ فَمَرَّ بِجَدْيٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ ثُمَّ قَالَ أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ فَقَالُوا مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ قَالَ أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ قَالُوا وَاللَّهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيهِ لِأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ فَقَالَ فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى الْعَنَزِيُّ وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَرْعَرَةَ السَّامِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ يَعْنِيَانِ الثَّقَفِيَّ عَنْ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِهِ غَيْرَ أَنَّ فِي حَدِيثِ الثَّقَفِيِّ فَلَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ هَذَا السَّكَكُ بِهِ عَيْبًا. (رواه مسلم)
55.2/5257. Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah bin Qa'nab telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal dari Ja'far dari ayahnya dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam melintas masuk ke pasar seusai pergi dari tempat-tempat tinggi sementara orang-orang berada disisi beliau. Beliau melintasi bangkai anak kambing dengan telinga melekat, beliau mengangkat telinganya lalu bersabda: Siapa diantara kalian yang mau membeli ini seharga satu dirham? mereka menjawab: Kami tidak mau memilikinya, untuk apa? Beliau bersabda: Apa kalian mau (bangkai) ini milik kalian? mereka menjawab: Demi Allah, andai masih hidup pun ada cacatnya karena telinganya menempel, lalu bagaimana halnya dalam keadaan sudah mati? Beliau bersabda: Demi Allah, dunia lebih hina bagi Allah melebihi (bangkai) ini bagi kalian. Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al Mutsanna Al Anazi dan Ibrahim bin Muhammad bin Ararah As Sami keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Abdulwahhab Ats Tsaqafi dari Ja'far dari ayahnya dari Jabir dari nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam sepertinya hanya saja dalam hadits Ats Tsaqafi disebutkan: Bila pun hidup, telinga yang menempel ini aib. (HR. Muslim).

Lebih dari itu, kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang bersifat sementara dan sesungguhnya kehidupan akhirat itulah negeri yang kekal.

يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَــٰـذِهِ الْـحَيٰوةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْاٰخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ ﴿٣٩﴾
“Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya kehidupan akhirat itulah negeri yang kekal”. (QS. Al Mu’min. 39).

Tafsir Ibnu Katsir:

يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَــٰـذِهِ الْـحَيٰوةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ ... ﴿٣٩﴾
“Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) ...”. (QS. Al Mu’min. 39). Yakni sedikit lagi akan hilang dan fana; dalam waktu sebentar ia akan menyurut, kemudian lenyap.

... وَإِنَّ الْاٰخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ ﴿٣٩﴾
“... dan sesungguhnya kehidupan akhirat itulah negeri yang kekal”. (QS. Al Mu’min. 39). Yaitu negeri yang tidak akan lenyap, tidak akan ada perpindahan lagi darinya, dan tidak akan pergi lagi menuju negeri lain.

Maka janganlah kita berlomba-lomba mengumpulkan sesuatu yang pasti akan kita tinggalkan di kemudian hari.

Saudaraku,
Orang yang berlomba-lomba mengumpulkan sesuatu yang pasti akan ditinggalkan di kemudian hari, ujung-ujungnya pasti akan menuju kepada bermegah-megahan dalam kehidupan dunia. Padahal bermegah-megahan dalam kehidupan dunia itu hanya akan melalaikannya dari taat kepada Allah. Sementara tidaklah seseorang itu diberi kesempatan untuk hidup di dunia ini, melainkan hanya sebentar saja.

قَالَ إِن لَّبِثْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا لَّوْ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿١١٤﴾
Allah berfirman: "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui". (QS. Al Mu’minuun. 114).

Ya, bermegah-megahan dalam kehidupan dunia itu hanya akan melalaikannya dari taat kepada Allah. Hingga kesempatan untuk hidup di dunia yang hanya sebentar ini tak terasa tiba-tiba saja berakhir dan tiba-tiba saja ajal sudah datang menjelang. Maka barulah yang bersangkutan akan mengetahui akibat buruk dari perbuatannya itu (yaitu perbuatan bermegah-megahan dalam kehidupan dunia).

Terkait hal ini Al Qur’an telah menyampaikannya dalam satu surat penuh, yaitu dalam surat At Takaatsur dari ayat pertama hingga ayat terakhir:

أَلْهَـــــٰـكُمُ التَّكَاثُرُ ﴿١﴾ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ ﴿٢﴾ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ﴿٣﴾ ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ﴿٤﴾ كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ ﴿٥﴾ لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ ﴿٦﴾ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ ﴿٧﴾ ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ ﴿٨﴾
(1) Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, (2) sampai kamu masuk ke dalam kubur. (3) Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), (4) dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. (5) Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, (6) niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, (7) dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan `ainul yaqin, (8) kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (QS. At Takaatsur. 1 – 8).

Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy):

(01) (Telah membuat kalian lalai) atau telah melalaikan kalian dari taat kepada Allah (bermegah-megahan) yaitu saling bangga-membanggakan harta, anak-anak dan pembantu-pembantu.

(02) (Sampai kalian masuk ke dalam kubur) hingga kalian mati dikubur di dalam tanah; atau hingga kalian menghitung-hitung banyaknya orang yang telah mati.

(03) (Janganlah begitu) kalimat ini mengandung hardikan dan cegahan (kelak kalian akan mengetahui.)

(04) (Dan janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui) akibat buruk dari perbuatan kalian itu di kala kalian menjelang kematian, kemudian sewaktu kalian telah berada di dalam kubur.

(05) (Janganlah begitu) sesungguhnya (jika kalian mengetahui dengan pengetahuan yang yakin) tentang akibat perbuatan kalian itu, niscaya kalian tidak akan lalai taat kepada Allah.

(06) (Niscaya kalian benar-benar akan melihat neraka Jahim) Jawab Qasamnya tidak disebutkan, yaitu niscaya kalian tidak akan sibuk dengan bermegah-megahan yang melalaikan kalian dari taat kepada Allah. Lafal Latarawunna pada asalnya adalah Latarawunanna, kemudian Lam Fi'il dan 'Ain Fi'ilnya dibuang, kemudian harakatnya diberikan kepada Wau, sehingga jadilah Latarawunna.

(07) (Dan sesungguhnya kalian benar-benar akan melihatnya) kalimat ayat ini mengukuhkan makna ayat sebelumnya (dengan pengetahuan yang yakin) lafal 'Ainal Yaqiin adalah Mashdar; demikian itu karena lafal Ra-aa dan lafal 'Aayana mempunyai arti yang sama.

(08) (Kemudian kalian pasti akan ditanyai) lafal Latus-alunna dibuang daripadanya Nun alamat Rafa' karena berturut-turutnya huruf Nun, dibuang pula daripadanya Wawu dhamir jamak, tetapi bukan karena 'Illat atau sebab bertemunya kedua huruf yang disukunkan; bentuk asal daripada Latus-alunna adalah Latus-aluunanna (pada hari itu) yakni di hari kalian melihat neraka Jahim (tentang kenikmatan) yang kalian peroleh semasa di dunia, yaitu berupa kesehatan, waktu luang, keamanan, makanan, minuman dan nikmat-nikmat lainnya. Artinya dipergunakan untuk apakah kenikmatan itu?

   Jadilah seorang musafir

Saudaraku,
Berdasarkan uraian di atas, maka jadilah kita hidup di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau orang yang hanya lalu dijalanan saja.

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللهِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَبُو المُنْذِرِ الطُّفَاوِيُّ عَنْ سُلَيْمَانَ الْأَعْمَشِ قَالَ حَدَّثَنِي مُجَاهِدٌ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ. (رواه البخارى)
61.5/5937. Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdurrahman Abu Al Mundzir At Thufawi dari Sulaiman Al A'masy dia berkata; telah menceritakan kepadaku Mujahid dari Abdullah bin Umar radliallahu 'anhuma dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah memegang pundakku dan bersabda: “Jadilah kamu di dunia ini seakan-akan orang asing atau seorang pengembara (orang yang hanya lalu dijalanan)”. (HR. Bukhari).

Saudaraku,
Sekali lagi kusampaikan, jadilah kita hidup di dunia ini seakan-akan orang asing atau orang yang hanya lalu dijalanan saja. Ambillah dunia ini seperlunya dan jadikanlah akhirat sebagai maksud serta tujuan hidup kita.

حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ الرَّبِيعِ بْنِ صَبِيحٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبَانَ وَهُوَ الرَّقَاشِيُّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَتِ الْأَخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ؛ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، جَعَلَ اللهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ، وَلَمْ يأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ. (رواه الترمذى)
2465. Hannad menceritakan kepada kami. Waki' menceritakan kepada kami, dari Ar-Rabi' bin Shabih, dari Yazid bin Aban – Ar-Raqasyi –, dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai maksud dan tujuannya, niscaya Allah akan menjadikan kekayaannya dalam hatinya dan Allah akan mengumpulkan urusannya yang tercerai-berai, bersamaan dengan itu dunia datang kepadanya dalam keadaan hina dan rendah. (Sebaliknya), barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai maksud dan tujuannya, niscaya Allah akan menjadikan kefakirannya di hadapan kedua matanya, dan Allah akan mencerai-beraikan urusannya yang semula terkumpul, sementara dunia tidak datang kepadanya selain sebatas apa yang telah ditetapkan untuknya”. (HR. at-Tirmidzi)

   Taqwa adalah bekal terbaik

Saudaraku,
Ambillah dunia ini sesuai dengan hajat kebutuhan kita. Janganlah kita sampai rakus dan tamak terhadapnya, hingga berusaha mendapatkan/mengumpulkannya dengan berbagai cara, tanpa peduli lagi apakah melanggar norma-norma agama atau tidak.

Saudaraku,
Semoga kisah yang aku ambil dari kitab “Irsyadul ‘Ibad Ila Sabilirrasyad” berikut ini dapat menambah pemahaman kita akan hakekat kehidupan dunia ini, sehingga dapat menjadikan kita untuk lebih berhati-hati daripadanya:

Allaits meriwayatkan dari Jarir berkata:
Seseorang datang kepada Nabi Isa AS. dan berkata: “ Saya ingin bersahabat dan selalu bersamamu”. Maka berjalanlah keduanya di tepi sungai dan makanlah mereka berdua tiga potong roti, Nabi Isa AS. satu potong dan satu potong untuk orang itu, sisa satu potong.

Kemudian Nabi Isa AS. pergi minum ke sungai dan kembali, roti yang sepotong itu tidak ada lalu ditanyakan kepada orang itu: “Siapakah yang mengambil sepotong roti?”. Jawab orang itu: “Tidak tahu”.

Maka berjalanlah keduanya. Tiba-tiba (mereka) melihat rusa dengan kedua anaknya. Maka dipanggil satu anak rusa itu lalu disembelih lalu dibakar kemudian dimakan berdua. Lalu Nabi Isa AS. menyuruh anak rusa yang telah dimakan itu supaya hidup kembali, maka hiduplah dengan izin Allah. Lalu Nabi Isa AS. bertanya: “Demi Allah yang memperlihatkan kepadamu bukti kekuasaan-Nya itu, siapakah yang mengambil sepotong roti itu?”. Jawab orang itu: “Tidak tahu”.

Kemudian berjalan terus hingga sampai ke tepi sungai. Lalu Nabi Isa AS. memegang tangan orang itu dan mengajaknya berjalan di atas air hingga sampai di seberang, lalu ditanya: “Demi Allah yang memperlihatkan kepadamu bukti ini, siapakah yang mengambil sepotong roti itu?”. Jawab orang itu: “Tidak tahu”.

Kemudian ketika berada di hutan dan duduk berdua, Nabi Isa AS. mengambil tanah atau kerikil, lalu diperintah: “Jadilah emas dengan seizin Allah”, maka menjadi emas lalu dibagi tiga. Nabi Isa AS. berkata: “Untukku sepertiga, dan kamu sepertiga. Dan yang sepertiga ini untuk orang yang mengambil roti”. Maka ia jawab: “Akulah yang mengambil roti itu!”. Nabi Isa AS. berkata: “Maka ambillah semua untukmu!”. Lalu berpisah keduanya.

Kemudian orang itu didatangi oleh dua orang (yang) akan merampok harta orang itu dan (akan) membunuhnya. Lalu ia berkata: “Lebih baik kami bagi tiga saja”. Maka setuju ketiganya. Lalu menyuruh seorang (di antara mereka) untuk pergi ke pasar berbelanja makanan.

Maka timbul perasaan orang yang berbelanja itu: “Untuk apa kita membagi uang (emas). Lebih baik makanan ini saya isi racun, supaya keduanya mati dan aku ambil semua harta ini”. Lalu diracunnya makanan itu. Sedang kedua orang yang tinggal itu berkata: “Untuk apa kami membagi harta ini. Lebih baik jika ia datang, kami bunuh, lalu harta ini kami bagi berdua”.

Maka ketika datang orang yang berbelanja, segera dibunuh oleh keduanya. Lalu hartanya dibagi dua. Kemudian keduanya makan dari makanan yang beracun itu. Maka matilah keduanya. Dan tinggallah uang (emas) itu di hutan, sedang mereka bertiga mati di sekitar uang itu.

Kemudian ketika Nabi Isa AS. berjalan di hutan dan menemukan (melihat) hal itu, berkata kepada sahabat-sahabatnya: “Inilah contoh dunia. Maka berhati-hatilah kamu daripadanya”.

Saudaraku,
Demikianlah gambaran tentang dunia ini. Maka ambillah dunia ini sesuai dengan hajat kebutuhan kita. Janganlah kita sampai rakus dan tamak terhadapnya, hingga berusaha mendapatkan/mengumpulkannya dengan berbagai cara, tanpa peduli lagi apakah melanggar norma-norma agama atau tidak.

Dan jadikanlah akhirat sebagai maksud serta tujuan hidup kita. Untuk itu, siapkan bekal terbaik.

Berbekallah untuk menyongsong kehidupan yang kekal di alam akhirat nantinya dengan bekal yang sebaik-baiknya. Dan ketahuilah bahwa sebaik-baiknya bekal adalah takwa.

... وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ وَاتَّقُونِ يَا أُوْلِي الْأَلْبَـــٰبِ ﴿١٩٧﴾
“... Dan berbekallah kalian, maka sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang mempunyai akal. (QS. Al Baqarah. 197).

Sedangkan bagi siapa saja yang telah mempersiapkan bekal terbaik (yaitu dengan bertaqwa kepada Allah), maka Allah akan menunjukkan jalan keluar dari setiap permasalahan hidup yang dia hadapi serta memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.

... وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ﴿٢﴾
”... Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar”. (QS. Ath Thalaaq. 2).

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا ﴿٣﴾
”Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. (QS. Ath Thalaaq. 3).

   Kaya yang sesungguhnya

Saudaraku,
Ketahuilah bahwa bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, akan tetapi kekayaan yang sesungguhnya itu adalah kaya hati.

Dari sini seseorang bisa menerungkan bahwa banyaknya harta dan kemewahan dunia bukanlah jalan untuk meraih kebahagiaan yang sesungguhnya. Orang yang kaya harta (namun tidak kaya hati) akan selalu merasa kurang puas. Jika diberi satu lembah berupa emas, maka dia akan berusaha untuk memiliki lembah emas yang kedua. Jika diberi dua lembah berupa emas, maka dia akan berusaha untuk memiliki lembah emas yang ketiga. Demikian seterusnya.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي زِيَادٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ صَالِحِ بْنِ كَيْسَانَ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ ذَهَبٍ لَأَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ ثَالِثٌ وَلَا يَمْلَأُ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ. (رواه الترمذى)
2337. Abdullah bin Abi Ziyad menceritakan kepada kami. Ya'qub bin Ibrahim bin Sa'ad menceritakan kepada kami. ayahku menceritakan kepada kami, dari Shalih bin Kaisan, dan Ibnu Syihab. dari Anas bin Malik, ia berkata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Seandainya anak Adam sudah memiliki dua lembah emas, maka dia akan senang untuk berusaha memiliki lembah yang ketiga. Dan tidak ada yang memenuhi mulutnya kecuali tanah dan Allah akan menerima taubat bagi orang yang mau bertaubat”. (HR. At-Tirmidzi).

حَدَّثَنِي مُحَمَّدٌ أَخْبَرَنَا مَخْلَدٌ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ سَمِعْتُ عَطَاءً يَقُولُ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ مِثْلَ وَادٍ مَالًا لَأَحَبَّ أَنَّ لَهُ إِلَيْهِ مِثْلَهُ وَلَا يَمْلَأُ عَيْنَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ. (رواه البخارى)
61.25/5957. Telah menceritakan kepada kami Muhammad telah mengabarkan kepada kami Makhlad telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij dia berkata; saya mendengar 'Atha` berkata; saya mendengar Ibnu Abbas berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Sekiranya anak Adam memiliki harta kekayaan sebanyak satu bukit, niscaya ia akan mengharapkan satu bukit lagi yang seperti itu, dan tidaklah mata anak Adam itu dipenuhi melainkan dengan tanah, dan Allah akan menerima taubat siapa saja yang bertaubat”. (HR. Bukhari).

Saudaraku,
Sekali lagi kusampaikan bahwa kekayaan yang sesungguhnya itu bukanlah karena banyaknya harta, akan tetapi kekayaan yang sesungguhnya itu adalah kaya hati. Yaitu hati yang selalu merasa cukup dengan apa yang Allah beri. Itulah yang namanya qona’ah. Dan itulah yang disebut dengan ghoni (kaya) yang sebenarnya.

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو حَصِينٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ. (رواه البخارى)
61.33/5965. Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami Abu Bakr telah menceritakan kepada kami Abu Hashin dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, akan tetapi kekayaan itu adalah kaya hati”. (HR. Bukhari).

Meskipun demikian, bukan berarti kita tidak boleh kaya harta. Perhatikan penjelasan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah berikut ini:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ مُعَاذِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ خُبَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَمِّهِ قَالَ كُنَّا فِي مَجْلِسٍ فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى رَأْسِهِ أَثَرُ مَاءٍ فَقَالَ لَهُ بَعْضُنَا نَرَاكَ الْيَوْمَ طَيِّبَ النَّفْسِ فَقَالَ أَجَلْ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ أَفَاضَ الْقَوْمُ فِي ذِكْرِ الْغِنَى فَقَالَ لَا بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنْ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنْ اتَّقَى خَيْرٌ مِنْ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنْ النَّعِيمِ. (رواه ابن ماجه)
Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakr bin Abu Syaibah] berkata, telah menceritakan kepada kami [Khalid bin Makhlad] berkata, telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Sulaiman] dari [Mu'adz bin Abdullah bin Khubaib] dari [Bapaknya] dari [Pamannya] ia berkata: “Kami sedang duduk-duduk dalam sebuah majelis, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam datang, sementara di kepalanya masih ada sisa air mandi”. Sebagian kami berkata kepada beliau: “Hari ini kami melihatmu tampak bahagia”. Beliau lantas menjawab: “Benar, segala puji bagi Allah”. Setelah itu orang-orang hanyut dalam perbincangan masalah kekayaan hingga beliau pun bersabda: “Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan bahagia itu bagian dari kenikmatan”. (HR. Ibnu Majah no. 2132).

Saudaraku,
Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah di atas, menunjukkan bahwa tidak tercela untuk kaya harta. Yang tercela itu adalah tidak pernah merasa cukup dan puas dengan apa yang Allah beri.

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمُقْرِئُ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي أَيُّوبَ حَدَّثَنِي شُرَحْبِيلُ وَهُوَ ابْنُ شَرِيكٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ. (رواه مسلم)
13.122/1746. Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abu Abdurrahman Al Muqri dari Sa'id bin Abu Ayyub telah menceritakan kepadaku Syurahbil bin Syarik dari Abu Abdurrahman Al Hubali dari Abdullah bin Amru bin Ash bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sungguh amat beruntunglah seorang yang memeluk Islam dan diberi rizki yang cukup serta qana'ah terhadap apa yang diberikan Allah." (HR. Muslim).

Saudaraku,
Sifat qona’ah dan selalu merasa cukup itulah yang selalu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam minta pada Allah dalam do’anya.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ أَبِي الْأَحْوَصِ عَنْ عَبْدِ اللهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ اللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. (رواه مسلم)
49.67/4898. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Basysyar mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Abu Ishaq dari Abul Ahwash dari 'Abdullah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pernah berdo’a: “ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKALHUDAA WATTUQAA WAL’AFAAFA WALGHINAA” Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, terhindar dari perbuatan yang tidak baik, dan kecukupan (tidak minta-minta). (HR. Muslim).

Demikian yang bisa kusampaikan, mohon maaf jika kurang berkenan. Hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku.

Semoga bermanfaat.

Jumat, 03 Juni 2022

CERDAS DALAM MENYIKAPI WABAH VIRUS CORONA


Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku,
Virus corona hanyalah makhluk kecil ciptaan Allah. Namun kehadirannya telah mengguncangkan kehidupan umat manusia secara global.

Allah menunjukkan ke-Maha Agungan-nya lewat makhluk kecil yang tak terlihat secara kasat mata. Terbukti sekarang ini, bahwa hanya dengan melalui virus yang Allah kirimkan ke muka bumi ini, begitu banyak lapisan masyarakat menjadi gempar dan dicekam kekhawatiran. Fenomena ini memberi pelajaran bahwa betapa sangat mudah bagi Allah untuk menjadikan alam ini serta membinasakannya.

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُن فَيَكُونُ ﴿١١٧﴾
Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah". Lalu jadilah ia. (QS. Al Baqarah. 117).

Saudaraku,
Hal ini sekaligus juga menunjukkan betapa lemahnya kita umat manusia. Betapa hanya dengan makhluk kecil tak kasat mata, kita umat manusia di seluruh dunia telah dibuat tak berdaya.

... وَخُلِقَ الْإِنسَـــٰنُ ضَعِيفًا ﴿٢٨﴾
“..., dan manusia dijadikan bersifat lemah”. (QS. An Nisaa’. 28)

Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy): “... (dan manusia dijadikan bersifat lemah) tidak tahan menghadapi wanita dan godaan seksual”. (QS. An Nisaa’. 28)

Saudaraku,
Berdasarkan Tafsir Jalalain di atas, yang dimaksud dengan “manusia dijadikan bersifat lemah” adalah sifat laki-laki yang tidak kuat menahan godaan wanita.

Namun ada juga ‘ulama’ yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan “manusia dijadikan bersifat lemah” tersebut, mencakup lemah dalam berbagai hal yang seorang hamba butuh kepada Allah. Seperti lemah badan, lemah kekuatan, lemah ilmu dan lain-lain.

Ibnul Qayyim menjelaskan tentang makna lemah dalam ayat di atas: “Kelemahan di sini mencakup semua hal secara umum akan manusia. Manusia lemah badan, lemah kekuatan, lemah keinginan, lemah ilmu dan lemah kesabaran”.

Oleh karena itu, janganlah sekali-kali kita menyombongkan diri (meskipun harta kekayaan, jabatan serta kekuasaan sedang ada dalam genggaman kita).

وَلَا تَمْشِ فِي الأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا ﴿٣٧﴾
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung”. (QS. Al Israa’. 37).

وَعِبَادُ الرَّحْمَـــٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَـــٰهِلُونَ قَالُوا سَلَـــٰـمًا ﴿٦٣﴾
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik”. (QS. Al Furqaan. 63).

   Virus corona menyadarkan kita bahwa kematian itu sangat dekat dan nyata

Saudaraku,
Penyebaran virus corona yang sangat cepat dan tidak pandang bulu (jenis kelamin, usia, ras, kewarganegaraan, orang awam, selebriti, atlet, pejabat maupun pengusaha, semuanya bisa terinfeksi) serta angka kematian yang cukup tinggi yang diakibatkan oleh virus ini, telah menyadarkan kita bahwa kematian itu sangat dekat dan nyata.

Dari sini, seolah Allah telah mengingatkan kita agar memperbanyak mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. Perhatikan penjelasan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi (hadits no. 2307) serta hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah (hadits no. 4248) berikut ini:

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بْنُ مُوسَى عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ. (رواه الترمذى)
2307. Mahmud bin Ghailan menceritakan kepada kami, Al Fadhl bin Musa menceritakan kepada kami. dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan”. Maksudnya adalah kematian. (HR. At-Tirmidzi).

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بْنُ مُوسَى عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ. (رواه ابن ماجه)
Telah menceritakan kepada kami [Mahmud bin Ghailan] telah menceritakan kepada kami [Al Fadl bin Musa] dari [Muhammad bin 'Amru] dari [Abu Salamah] dari [Abu Hurairah] dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perbanyaklah mengingat sesuatu yang dapat menghancurkan kenikmatan, yaitu kematian." (HR. Ibnu Majah, no. 4248).

Saudaraku,
Mengingat kematian dapat mengobati jiwa yang sakit, menyegarkan spiritual yang letih, serta membangun kembali kekuatan dan energi batiniah yang tidak berdaya. Maka semakin banyak mengingat kematian, semakin meningkat pula ketekunan dan optimisme dalam melaksanakan hak-hak Allah SWT, serta semakin ikhlas dalam beramal.

Mengingat kematian juga merupakan sarana yang tepat untuk menyucikan jiwa, meredam gejolak nafsu dan melembutkan hati. Sebaliknya, lupa akan kematian akan menyebabkan tidak terkontrolnya nafsu, kerasnya hati, sehingga seseorang menjadi lupa terhadap kewajibannya sebagai manusia.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا. قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ. (رواه ابن ماجه)
Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya: “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?”. Beliau bersabda: “Yang paling baik akhlaknya”. “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda: “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas”. (HR. Ibnu Majah no. 4259).

Saudaraku,
Hanya orang bodohlah yang hanya berpikir jangka pendek, yaitu orang yang hanya berpikir untuk mendapatkan kesenangan yang sedikit selama masa hidupnya yang teramat singkat di dunia ini, tanpa mau melihat jauh ke depan hingga menembus ke alam akhirat. Yaitu orang yang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah

Sebaliknya, hanya orang yang cerdaslah yang jangkauan pemikirannya jangka panjang hingga menembus ke alam akhirat, yaitu orang yang paling banyak mengingat mati dan yang paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati.

حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ ح و حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَوْنٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ عَنْ ضَمْرَةَ بْنِ حَبِيبٍ عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ قَالَ وَمَعْنَى قَوْلِهِ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ يَقُولُ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا قَبْلَ أَنْ يُحَاسَبَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيُرْوَى عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا وَيُرْوَى عَنْ مَيْمُونِ بْنِ مِهْرَانَ قَالَ لَا يَكُونُ الْعَبْدُ تَقِيًّا حَتَّى يُحَاسِبَ نَفْسَهُ كَمَا يُحَاسِبُ شَرِيكَهُ مِنْ أَيْنَ مَطْعَمُهُ وَمَلْبَسُهُ. (رواه الترمذى)
Telah menceritakan kepada kami [Sufyan bin Waqi'] telah menceritakan kepada kami ['Isa bin Yunus] dari [Abu Bakar bin Abu Maryam], dan telah mengkhabarkan kepada kami [Abdullah bin Abdurrahman] telah mengkhabarkan kepada kami ['Amru bin 'Aun] telah mengkhabarkan kepada kami [Ibnu Al Mubarak] dari [Abu Bakar bin Abu Maryam] dari [Dlamrah bin Habib] dari [Syaddad bin Aus] dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam beliau bersabda: “Orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian, sedangkan orang yang bodoh adalah orang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan angan kepada Allah”. Dia berkata: Hadits ini hasan, dia berkata: Maksud sabda Nabi: “Orang yang mempersiapkan diri” dia berkata: Yaitu orang yang selalu mengoreksi dirinya pada waktu di dunia sebelum di hisab pada hari Kiamat. Dan telah diriwayatkan dari Umar bin Al Khottob dia berkata: hisablah (hitunglah) diri kalian sebelum kalian dihitung dan persiapkanlah untuk hari semua dihadapkan (kepada Rabb Yang Maha Agung), hisab (perhitungan) akan ringan pada hari kiamat bagi orang yang selalu menghisab dirinya ketika di dunia. Dan telah diriwayatkan dari Maimun bin Mihran dia berkata: “Seorang hamba tidak akan bertakwa hingga dia menghisab dirinya sebagaimana dia menghisab temannya dari mana dia mendapatkan makan dan pakaiannya”. (HR. At-Tirmidzi no. 2383).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴿١٨﴾
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Hasyr. 18).

   Dampak virus corona yang dahsyat telah menciptakan kepanikan di antara umat manusia

Saudaraku,
Penyebaran virus corona yang sangat cepat dan tidak pandang bulu (jenis kelamin, usia, ras, kewarganegaraan, orang awam, selebriti, atlet, pejabat maupun pengusaha, semuanya bisa terinfeksi) serta angka kematian yang cukup tinggi, tak bisa dipungkiri juga telah menciptakan kepanikan di antara umat manusia.

Sikap panik ini bisa terjadi karena didorong oleh rasa khawatir atau ketakutan yang berlebihan (over worried) terhadap sesuatu. Dan pada umumnya hal ini bisa terjadi karena manusia tidak memiliki pegangan yang solid dan pasti dalam hidupnya.

Pegangan seperti itu dalam bahasa Al Qur’an lebih populer dengan istilah “al-‘Urwatul Wutsqo”. Perhatikan penjelasan Al Qur’an dalam 2 ayat berikut ini:

وَمَن يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ وَإِلَى اللهِ عَـــٰـقِبَةُ الْأُمُورِ ﴿٢٢﴾
”Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan”. (QS. Luqman. 22).

لَا إِكْرَاهَ فِى ٱلدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشْدُ مِنَ ٱلْغَىِّ فَمَن يَكْفُرْ بِٱلطَّــــٰـغُوتِ وَيُؤْمِن بِٱللهِ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا وَٱللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ﴿٢٥٦﴾
256. Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Baqarah. 256).

Saudaraku,
Selama manusia masih kehilangan pegangan ini dan berpijak pada pijakan-pijakan yang tidak pasti (semua yang selain Allah jelas tidak pasti), maka manusia akan terombang-ambing dalam kebingungannya. Di sinilah mereka akan terjatuh ke dalam perilaku ‘ajuulaa (tergesa-gesa dalam menghakimi).

... وَكَانَ الْإِنسَـــٰنُ عَجُولًا ﴿١١﴾
“... Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa”. (QS. Al Israa’. 11).

Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy): “(Dan adalah manusia) yang dimaksud adalah jenisnya (bersifat tergesa-gesa) di dalam mendoakan dirinya tanpa memikirkan lebih lanjut akan akibatnya”. (QS. Al Israa’. 11).

Saudaraku,
Di tengah penyebaran virus corona yang sangat cepat dan tidak pandang bulu serta angka kematian yang cukup tinggi ini, tak bisa dipungkiri telah menjadikan banyak orang menjadi ‘ajuulaa. Hal ini nampak dalam perilaku manusia, hampir dalam segala aspek kehidupannya.

Mulai dari persepsi yang terbangun (dengan bantuan media/medsos yang terbuka), virus corona ini menjadi terlihat begitu mencekam. Manusia menjadi ketakutan berlebihan sehingga hidupnya seolah terbayang-bayang oleh ancaman kematian di depan matanya. (Padahal kematian itu memang ada di depan mata setiap orang).

Banyak kemudian yang jatuh sakit bukan karena corona, namun lebih kepada ketakutan yang berlebihan. Hal ini bisa mengakibatkan gaya hidup menjadi tidak normal (susah tidur, pola makan menjadi tidak teratur, dll). Sehingga sistem kekebalan tubuh bisa turun drastis sehingga karenanya menjadi mudah terjangkiti berbagai macam penyakit.

Ketakutan yang berlebihan itu juga menjadikan manusia cepat menghakimi setiap gejala pada dirinya serta manusia sekitarnya sebagai gejala covid-19. Seperti ketika seseorang mengalami batuk, flu/pilek, maupun demam.

Ketergesaaan dalam menghakimi tadi bisa mengakibatkan orang yang batuk, flu/pilek, maupun demam tadi, dengan serta merta disimpulkan sebagai korban virus corona. Maka terjadilah kekhawatiran di atas kekhawatiran (maksudnya kekhawatiran yang berlebihan).

Dan hal ini semuanya sebenarnya bermuara kepada tidak adanya pegangan yang solid dan pasti dalam hidupnya. Sedangkan jika manusia memiliki pegangan yang solid dan pasti dalam hidupnya (pegangan seperti ini dalam bahasa Al Qur’an dikenal dengan istilah: al ‘urwatul wutsqo), maka hal ini semua tidak akan terjadi.

Karena barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.

وَمَن يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ وَإِلَى اللهِ عَـــٰـقِبَةُ الْأُمُورِ ﴿٢٢﴾
”Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan”. (QS. Luqman. 22).

Sedangkan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka dipastikan yang bersangkutan akan banyak mengingati Allah. Sehingga karenanya hatinya menjadi tenteram serta jauh dari perilaku ‘ajuulaa. (Wallahu ta’ala a’lam).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا اللهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ﴿٤١﴾
Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. (QS. Al Ahzaab. 41).

الَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ﴿٢٨﴾
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar Ra’d. 28).

   Jadikan sabar dan sholat sebagai penolong

Saudaraku,
Ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan dalam tulisan ini. Yaitu jangan lupa menjadikan sabar dan sholat sebagai penolong kita. Perhatikan penjelasan Allah dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 153 berikut ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّـــٰبِرِينَ ﴿١٥٣﴾
Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al Baqarah. 153).

Sedangkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, diperoleh penjelasan sebagai berikut:

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا خَلَفُ بْنُ الْوَلِيدِ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ زَكَرِيَّا بْنِ أَبِي زَائِدَةَ، عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ عَمَّارٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الدُّؤَلِيِّ، قَالَ: قَالَ عَبْدُ الْعَزِيزِ أَخُو حُذَيْفَةَ، قَالَ حُذَيْفَةُ، يَعْنِي ابْنَ الْيَمَانِ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى. (رواه أحمد)
Imam Ahmad meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Khalaf ibnul Walid, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Zakaria ibnu Abu Zaidah, dari Ikrimah ibnu Ammar, dari Muhammad ibnu Abdullah Ad-Du-ali yang menceritakan bahwa Abdul Aziz (saudara Huzaifah) mengatakan bahwa Huzaifah ibnul Yaman r.a. pernah mengatakan: “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bila mengalami suatu perkara (cobaan), maka beliau selalu shalat”.

Jangan berduka cita, wahai saudaraku. Karena sesungguhnya Allah SWT. beserta kita!

... لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللهَ مَعَنَا ... ﴿٤٠﴾
“... Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita. ...”. (QS. At Taubah. 40).

Demikian yang bisa kusampaikan, mohon maaf jika kurang berkenan. Hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku.

Semoga bermanfaat.

Info Buku:

● Alhamdulillah, telah terbit buku: Islam Solusi Setiap Permasalahan jilid 1.

Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, MAg: “Banyak hal yang dibahas dalam buku ini. Tapi, yang paling menarik bagi saya adalah dorongan untuk mempelajari Alquran dan hadis lebih luas dan mendalam, sehingga tidak mudah memandang sesat orang. Juga ajakan untuk menilai orang lebih berdasar kepada kitab suci dan sabda Nabi daripada berdasar nafsu dan subyektifitasnya”.

Buku jilid 1:

Buku jilid 1:
Buku: “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 378 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

● Buku “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1 ini merupakan kelanjutan dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” (jilid 1 s/d jilid 5). Berisi kumpulan artikel-artikel yang pernah saya sampaikan dalam kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah menjelang shalat tarawih/ba’da shalat tarawih, Khutbah Jum’at, kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus maupun kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook/whatsapp (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab, konsultasi, diskusi via email, facebook, sms, whatsapp, maupun media lainnya.

● Sebagai bentuk kehati-hatian saya dalam menyampaikan Islam, buku-buku religi yang saya tulis, biasanya saya sampaikan kepada guru-guru ngajiku untuk dibaca + diperiksa. Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz adalah salah satu diantaranya. Beliau adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Unsur Ketua MUI Jatim, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia 2009-2013, Dekan Fakultas Dakwah 2000-2004/Guru Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 2004 - sekarang.

_____

Assalamu'alaikum wr. wb.

● Alhamdulillah, telah terbit buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5.

● Buku jilid 5 ini merupakan penutup dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan jilid 4.

Buku Jilid 5

Buku Jilid 5
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-29-3

Buku Jilid 4

Buku Jilid 4
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 4: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-28-6

Buku Jilid 3

Buku Jilid 3
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 3: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 396 halaman, ISBN 978-602-5416-27-9

Buku Jilid 2

Buku Jilid 2
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 324 halaman, ISBN 978-602-5416-26-2

Buku Jilid 1

Buku Jilid 1
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 330 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

Keterangan:

Penulisan buku-buku di atas adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini: ”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞