بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Rabu, 05 Agustus 2020

ORANG YANG BODOH


Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku,
Perhatikan penjelasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah berikut ini:

أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا, أُولَئِكَ أَكْيَاسٌ. (رواه ابن ماجه)
“Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah)

Saudaraku,
Dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa orang yang cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang cerdas adalah orang yang jangkauan pemikirannya adalah jangka panjang, bahkan sampai menembus ke alam akhirat.

Maka kebalikan dari penjelasan di atas adalah, bahwa orang yang hanya berpikir jangka pendek saja adalah orang yang bodoh. Perhatikan beberapa contoh berikut ini:
ü Orang yang menjadi karyawan melalui KKN pada BUMN/BUMD maupun PNS pada lembaga-lembaga milik negara yang lain (seperti lembaga pendidikan negeri, lembaga kepolisian, dll) adalah orang yang bodoh.
ü Orang yang mencuri harta (yang menjadi hak) orang lain adalah orang yang bodoh.
ü Orang yang obral janji palsu demi mendapatkan jabatan politik tertentu (anggota legislatif, kepala daerah, kepala negara, dll) adalah orang yang bodoh.
ü Orang yang tidak mau membayar hutang adalah orang yang bodoh.
ü Orang yang merenggut segala sesuatu yang menjadi hak orang lain adalah orang yang bodoh.
ü Dan seterusnya.

Mengapa demikian? Mengapa mereka yang disebut di atas adalah orang-orang yang bodoh? Mari kita bahas dengan lebih terperinci.

ü Orang yang menjadi karyawan melalui KKN pada BUMN/BUMD maupun PNS pada lembaga-lembaga milik negara yang lain adalah orang yang bodoh.

Saudaraku,
Perekrutan karyawan BUMN/BUMD maupun PNS pada lembaga-lembaga milik negara yang lain berdasarkan KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) hanya akan melahirkan karyawan/PNS/polisi/tentara yang kurang cakap, karena:
   Korupsi, berarti lebih memilih karyawan baru berdasarkan suap/sogokan (risywah) yang diberikan, bukan berdasarkan kemampuannya. Sedangkan yang dimaksud dengan risywah (suap) adalah pemberian yang bertujuan untuk membatalkan yang benar/untuk memenangkan yang salah atau pemberian yang bertujuan untuk mencari keberpihakan yang tidak dibenarkan. Dari Abdullah bin Amr, beliau berkata:

لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ. (رواه الترمذى)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang menyogok dan menerima sogok. (HR. At-Tirmidzi).

   Kolusi, berarti melakukan perekrutan karyawan secara diam-diam (rahasia) untuk maksud tidak terpuji dan/atau persekongkolan sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui adanya info tentang perekrutan karyawan baru/masyarakat luas tidak bisa mengakses informasi tersebut, sehingga putra-putri terbaik bangsa ini tidak bisa ikut bersaing dalam perekrutan karyawan baru tersebut.

   Nepotisme, berarti dalam perekrutan karyawan baru lebih memilih kerabat sendiri atau teman akrab berdasarkan hubungannya, bukan berdasarkan kemampuannya.

Saudaraku,
Karena perekrutan karyawan BUMN/BUMD maupun PNS pada berbagai lembaga milik negara yang berdasarkan KKN akan melahirkan karyawan/PNS yang kurang cakap, maka seseorang yang menjadi karyawan BUMN/BUMD maupun PNS via KKN, sudah pasti dia telah merampas hak orang lain yang lebih cakap dari dirinya/yang lebih berhak untuk menempati posisinya yang sekarang. Disamping itu, dia juga telah merampas hak masyarakat secara umum untuk mendapatkan yang terbaik dari BUMN/BUMD maupun dari lembaga-lembaga milik negara yang lainnya. Jelas, ini adalah kejahatan yang besar!

Jika sudah demikian, maka semua penghasilan yang diperolehnya sebagai karyawan BUMN/BUMD/PNS juga menjadi haram karena sebenarnya dia tidak berhak atasnya. Karena penghasilan yang diperolehnya tersebut sebenarnya adalah hak orang lain yang lebih cakap dari dirinya (yang lebih berhak untuk menempati posisinya yang sekarang).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلَّا بِطِيْبِ نَفْسٍ مِنْهُ. (رواه ابو داود)
“Tidak halal harta seorang muslim kecuali dengan kerelaan dari dirinya.” (HR. Abu Dawud).

Dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 188, Allah SWT. telah berfirman:

وَلَا تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُواْ بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُواْ فَرِيقًا مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿١٨٨﴾
“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui”. (QS. Al Baqarah. 188).

Dan karena penghasilan yang diperolehnya sebagai karyawan BUMN/BUMD maupun PNS tersebut sebenarnya adalah hak orang lain (yang lebih cakap dari dirinya), maka dia harus mengembalikan seluruh penghasilannya kepada yang berhak. Jika dia tidak bersedia untuk mengembalikannya ketika masih hidup di dunia ini, maka kelak di akhirat nanti dia tetap harus mengembalikannya, karena pada hakekatnya dia tetap tidak pernah berhak untuk memilikinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ عِنْدَهُ لِأَخِيْهِ مَظْلَمَةٌ فَلْيَتَحَلَّلْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُوْنَ دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا. إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْ حَسَناَتِهِ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٍ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ. (رواه البخارى)
“Siapa yang memiliki kezaliman terhadap saudaranya, hendaklah ia meminta kehalalan saudaranya tersebut pada hari ini, sebelum datang suatu hari saat tidak berlaku lagi dinar dan tidak pula dirham. Jika ia memiliki amal saleh, akan diambil dari kebaikannya sesuai dengan kadar kezaliman yang diperbuatnya lalu diserahkan kepada orang yang dizaliminya. Apabila ia tidak memiliki kebaikan, akan diambil kejelekan saudaranya yang dizaliminya lalu dibebankan kepadanya.” (HR. al-Bukhari)

Lebih dari itu, semua ibadah yang dibiayai dari gajinya sebagai PNS/pegawai BUMN/BUMD juga akan ditolak oleh Allah (karena ibadah tersebut dibiayai dengan uang haram). Ditolak oleh Allah, artinya dia tidak akan memperoleh apapun dari ibadah yang telah diupayakannya.

Mengapa demikian?
Karena Allah adalah Maha Baik dan Dia tidak mau menerima, kecuali yang baik saja. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا ... (رواه مسلم)
“Wahai manusia, sesungguhnya Allah ta’ala adalah Maha Baik, tidak menerima kecuali yang baik, ...” (HR. Muslim).

Dari uraian di atas, nampaklah betapa berbagai kesulitan yang tiada tara kelak di alam akhirat nanti, pasti akan dialami oleh orang yang menjadi karyawan pada BUMN/BUMD maupun PNS pada berbagai lembaga milik negara via (melalui) KKN.

Saudaraku,
Hanya orang-orang yang bodohlah yang hanya berpikir jangka pendek, yaitu orang yang hanya berpikir untuk mendapatkan kesenangan yang sedikit selama masa hidupnya yang teramat singkat di dunia ini, tanpa mau melihat jauh ke depan hingga menembus ke alam akhirat.

قَالَ إِن لَّبِثْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا لَّوْ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿١١٤﴾
”Allah berfirman: "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui". (QS. Al Mu’minuun. 114).

Sekali lagi, hanya orang-orang yang bodohlah yang hanya berpikir jangka pendek, yaitu orang yang hanya berpikir untuk mendapatkan kesenangan yang sedikit selama masa hidupnya yang teramat singkat di dunia ini, tanpa mau melihat apa yang akan terjadi jauh ke depan hingga menembus ke alam akhirat.

Saudaraku,
Benar bahwa menjadi karyawan pada BUMN/BUMD/PNS via KKN itu secara kasat mata akan mendatangkan keuntungan duniawi yang sangat menggiurkan, karena seseorang bisa mendapatkan pekerjaan tersebut dengan mudah tanpa perlu bersaing dengan pelamar lain secara fair. Namun berbagai kesulitan yang tiada tara telah siap menantinya di alam akhirat kelak.

Tak bisa dibayangkan kesulitan yang tiada tara kelak di alam akhirat nanti, karena ini adalah kejahatan yang besar. Padahal azab yang paling ringan pada hari akhir nanti ialah seorang lelaki yang diletakkan pada tapak kakinya dua biji batu dari neraka, kemudian otaknya mendidih karena sebab panasnya. Na’udzubillahi mindzalika!

و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَهْوَنُ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا أَبُو طَالِبٍ وَهُوَ مُنْتَعِلٌ بِنَعْلَيْنِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ. (رواه مسلم)
2.304/312. Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah menceritakan kepada kami Tsabit dari Abu Utsman an-Nahdi dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Penduduk neraka yang siksanya paling ringan adalah Abu Thalib, dia memakai sandal dengan dua sandal yang mana otaknya mendidih karena panas keduanya”. (HR. Muslim).

و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ وَاللَّفْظُ لِابْنِ الْمُثَنَّى قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا إِسْحَقَ يَقُولُ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ يَخْطُبُ وَهُوَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَرَجُلٌ تُوضَعُ فِي أَخْمَصِ قَدَمَيْهِ جَمْرَتَانِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ. (رواه مسلم)
2.305/313. Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Mutsanna dan Ibnu Basysyar dan lafazh tersebut milik Ibnu al-Mutsanna, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dia berkata, aku mendengar Abu Ishaq berkata, aku mendengar an-Nu'man bin Basyir berkhutbah, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling ringan azabnya pada Hari Kiamat ialah seorang lelaki yang diletakkan pada tapak kakinya dua biji batu dari Neraka, kemudian otaknya mendidih karena sebab panasnya keduanya”. (HR. Muslim).

و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا مَنْ لَهُ نَعْلَانِ وَشِرَاكَانِ مِنْ نَارٍ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ كَمَا يَغْلِ الْمِرْجَلُ مَا يَرَى أَنَّ أَحَدًا أَشَدُّ مِنْهُ عَذَابًا وَإِنَّهُ لَأَهْوَنُهُمْ عَذَابًا. (رواه مسلم)
2.306/314. Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari al-A'masy dari Abu Ishaq dari an-Nu'man bin Basyir dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya penduduk neraka yang paling ringan siksanya adalah orang yang memiliki dua sandal dan dua tali sandal dari api neraka, dimana otaknya akan mendidih karena panasnya sandal tersebut sebagaimana kuali mendidih. Orang tersebut merasa bahwa tidak ada seorang-pun yang siksanya lebih pedih daripadanya, padahal siksanya adalah yang paling ringan di antara mereka”. (HR. Muslim).

ü Orang yang mencuri harta yang menjadi hak orang lain adalah orang yang bodoh.

Saudaraku,
Benar bahwa mencuri harta yang menjadi hak orang lain itu secara kasat mata akan mendatangkan keuntungan duniawi yang sangat menyilaukan, karena seseorang bisa mendapatkan harta tersebut dengan mudah tanpa perlu bekerja keras dan mengumpulkannya sedikit demi sedikit secara fair.

Namun tahukah anda bahwa ketika seseorang telah merampas harta yang menjadi hak orang lain, maka pada hakekatnya orang tersebut hanyalah ”meminjamnya” saja? Dan dia harus tetap mengembalikannya kepada yang berhak?

Jika dia tidak bersedia untuk mengembalikannya ketika masih hidup di dunia ini, maka kelak di akhirat nanti dia tetap harus mengembalikannya. Jika ia memiliki amal saleh, maka akan diambil dari kebaikannya sesuai dengan kadar kezaliman yang telah diperbuatnya lalu diserahkan kepada orang yang dizaliminya. Sedangkan apabila pahala kebaikannya tidak mencukupi untuk menebus dosa-dosa kejahatan yang telah dilakukannya, maka diambillah dosa-dosa orang yang dizaliminya itu dan dibebankan kepadanya, lalu dia dilempar ke dalam neraka. Maka jadilah dia orang yang bangkrut dengan sebenar-benarnya. Na’udzubillahi mindzalika.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا: اَلْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ: إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ. (رواه مسلم)
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?’ Para sahabat menjawab, ‘Setahu kami orang yang bangkrut itu adalah orang yang tak punya harta benda.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, ‘Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, namun dia juga membawa catatan dosa; mencela si ini, menuduh si ini, memakan harta si ini, membunuh si ini, dan memukul si ini. Akhirnya, pahala kebaikan yang dimilikinya diberikan kepada masing-masing orang yang dijahatinya itu (sebagai balasannya). Manakala pahala kebaikannya itu tidak mencukupi untuk menebus dosa kejahatan yang dilakukannya, diambillah dosa-dosa orang yang dijahatinya itu dan ditimpakan kepadanya, lalu dia dilempar ke dalam neraka.” (HR. Muslim).

Saudaraku,
Jelas sekali, bahwa hanya orang-orang yang bodohlah yang hanya berpikir jangka pendek, yaitu orang yang hanya berpikir untuk mendapatkan kesenangan yang sedikit selama masa hidupnya yang teramat singkat di dunia ini, tanpa mau melihat apa yang akan terjadi jauh ke depan hingga menembus ke alam akhirat.

ü Orang yang obral janji palsu demi mendapatkan jabatan politik tertentu (anggota legislatif, kepala daerah, kepala negara, dll) adalah orang yang bodoh.

Saudaraku,
Benar bahwa dengan menebar janji-janji manis akan membuat masyarakat terpesona dan berharap banyak kepada calon anggota legislatif/calon kepala daerah/calon kepala negara sehingga hal ini dapat mendorong masyarakat untuk memilihnya menjadi anggota legislatif/kepala daerah/kepala negara.

Namun hal ini akan menjadi bumerang*) manakala janji-janji manis tersebut ternyata hanyalah janji-janji palsu yang ditebar demi memuluskan tujuannya untuk menjadi anggota legislatif/untuk menjadi kepala daerah/untuk menjadi kepala negara dengan mudah.

Karena setiap janji itu pasti akan dimintai pertanggungan jawabnya kelak, sebagaimana firman-Nya dalam Al Qur’an surat Al Maa-idah pada bagian awal ayat 1 serta dalam surat Al Israa’ pada bagian akhir ayat 34 berikut ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ أَوْفُواْ بِالْعُقُودِ ... ﴿١﴾
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu...” (QS. Al Maa-idah. 1).

Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy): “(Hai orang-orang yang beriman, penuhilah olehmu perjanjian itu) baik perjanjian yang terpatri di antara kamu dengan Allah maupun dengan sesama manusia. ...”.

... وَأَوْفُواْ بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْــــئُولًا ﴿٣٤﴾
“... dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya”. (QS. Al Israa’. 34).

Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy): “(... dan penuhilah janji) jika kalian berjanji kepada Allah atau kepada manusia (sesungguhnya janji itu pasti akan diminta pertanggungjawaban)nya”.

Jika mereka para anggota legislatif/kepala daerah/kepala negara tersebut tidak bersedia memenuhi janji-janjinya ketika masih hidup di dunia ini, maka pasti akan Allah paksa untuk memenuhinya di alam akhirat nanti.

Jika mereka para anggota legislatif/kepala daerah/kepala negara tersebut memiliki amal saleh, maka akan diambil dari kebaikannya sesuai dengan kadar kezaliman yang telah diperbuatnya lalu diserahkan kepada orang yang dizaliminya. Sedangkan apabila pahala kebaikannya tidak mencukupi untuk menebus dosa-dosa kejahatan yang telah dilakukannya, maka diambillah dosa-dosa orang yang dizaliminya itu dan dibebankan kepadanya, lalu dia dilempar ke dalam neraka. Maka jadilah dia orang yang bangkrut dengan sebenar-benarnya. Na’udzubillahi mindzalika.

Sehingga dengan mudah dapat disimpulkan, bahwa hanya orang-orang yang bodohlah yang hanya berpikir jangka pendek, yaitu orang yang hanya berpikir untuk mendapatkan dengan mudah jabatan politik tertentu dengan cara menebar janji-janji palsu, tanpa mau melihat apa yang akan terjadi jauh ke depan hingga menembus ke alam akhirat.

ü Orang yang tidak mau membayar hutang adalah orang yang bodoh.

Saudaraku,
Benar bahwa tidak membayar hutang akan mendatangkan keuntungan duniawi yang sangat menyilaukan, karena seseorang bisa mendapatkan apa yang dipinjamnya dengan mudah tanpa harus bersusah payah mengembalikannya.

Namun ketahuilah bahwa jika seseorang tidak bersedia untuk mengembalikan hutangnya ketika masih hidup di dunia ini, maka kelak di akhirat nanti dia tetap harus mengembalikannya. Perhatikan penjelasan hadits berikut ini:

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ، فَلَيْسَ ثَمَّ دِيْنَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، وَلٰكِنَّهَا الْـحَسَنَاتُ وَالسَّيِّئَاتُ. (رواه أحمد)
“Barangsiapa meninggal dunia sedangkan ia masih memiliki tanggungan hutang, sedang di sana tidak ada dinar dan tidak juga dirham, akan tetapi yang ada hanya kebaikan dan kejelekan”. (HR. Ahmad dari Ibnu ‘Umar r.a.)

Saudaraku,
Ketahuilah pula bahwa jika seseorang tidak bersedia untuk mengembalikan hutangnya ketika masih hidup di dunia ini, maka hal itu akan terus membebaninya setelah meninggal dunia nantinya. Perhatikan penjelasan hadits berikut ini:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

نَفْسُ الْـمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّىٰ يُقْضَى عَنْهُ
“Jiwa seorang mukmin itu terkatung-katung dengan sebab hutangnya sampai hutang dilunasi”. (HR. Ahmad, Imam at-Tirmidzi, Imam ad-Darimi, Imam Ibnu Mâjah).

Hadits di atas menunjukkan bahwa seseorang akan tetap disibukkan dengan hutangnya walaupun ia telah meninggal dunia. Hadits di atas juga menganjurkan agar seseorang melunasi hutangnya sebelum meninggal dunia. Dan hadits di atas juga menunjukkan bahwa hutang adalah tanggung jawab yang sangat berat.

Saudaraku,
Selain hadits di atas yang menunjukkan bahwa hutang adalah tanggung jawab yang sangat berat, hadits berikut ini juga menjelaskan betapa beratnya tanggung-jawab terhadap hutang tersebut sehingga orang yang mati syahid-pun tidak akan diampuni dosanya jika dosa tersebut terkait dengan hutang.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُغْفَرُ لِلشَّهِيْدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلَّا الدَّيْنَ. (رواه مسلم)
“Orang yang mati syahid diampuni seluruh dosanya, kecuali hutang”. (HR. Muslim).

Terlebih lagi jika yang bersangkutan memang tidak ada niat untuk membayar hutangnya, maka dia benar-benar akan bertemu Allah sebagai seorang pencuri. (Na’udzubillahi mindzalika).

Dari Shuhaib bin al-Khair radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّمَـا رَجُلٍ تَدَيَّنَ دَيْنًا وَهُوَ مُـجْمِعٌ أَنْ لَا يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِيَ اللّٰـهَ سَارِقًا. (رواه ابن ماجه)
“Siapa saja yang berhutang, sedang ia berniat tidak melunasi hutangnya maka ia akan bertemu Allah sebagai seorang pencuri”. (HR. Ibnu Mâjah).

Saudaraku,
Dengan melihat uraian di atas, maka dengan mudah dapat disimpulkan bahwa hanya orang-orang yang bodohlah yang hanya berpikir jangka pendek, yaitu orang yang hanya berpikir untuk mendapatkan apa yang dipinjamnya dengan mudah tanpa berniat untuk mengembalikan pinjamannya, tanpa mau melihat apa yang akan terjadi jauh ke depan hingga menembus ke alam akhirat.

Demikian seterusnya, hal seperti ini juga berlaku untuk perkara yang serupa. Oleh karena itu, takutlah akan azab hari kiamat jika mendurhakai Allah SWT.

قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ ﴿١٥﴾
Katakanlah: "Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku". (QS. Al An’aam. 15).

Saudaraku,
Demikianlah faktanya, bahwa ternyata begitu banyak orang-orang yang bodoh dengan kebodohan yang sangat keterlaluan hingga mereka tidak menyadari akan kebodohannya sendiri. Bahkan tidak jarang diantara mereka orang-orang bodoh itu yang justru merasa dirinya sebagai orang yang pandai. Na’udzubillahi mindzalika.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ ءَامِنُواْ كَمَا ءَامَنَ النَّاسُ قَالُواْ أَنُؤْمِنُ كَمَا ءَامَنَ السُّفَهَاءُ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَـــٰـكِن لَّا يَعْلَمُونَ ﴿١٣﴾
Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman", mereka menjawab: "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu. (QS. Al Baqarah. 13).

Saudaraku,
Perhatikan penjelasan surat Al Baqarah pada bagian akhir ayat 13 di atas:

... أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَـــٰـكِن لَّا يَعْلَمُونَ ﴿١٣﴾
“... Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu”. (QS. Al Baqarah. 13).

Tafsir Ibnu Katsir:

Kemudian Allah membantah semua yang mereka tuduhkan itu melalui firman selanjutnya: “Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang bodoh”. (Al-Baqarah: 13). Allah SWT. membalikkan tuduhan mereka, sesungguhnya yang bodoh itu hanyalah mereka sendiri. Pada firman selanjutnya disebutkan: “Tetapi mereka tidak tahu”. (Al-Baqarah: 13). Dengan kata lain, kebodohan mereka sangat keterlaluan hingga tidak menyadari kebodohannya sendiri, bahwa sebenarnya keadaan mereka dalam kesesatan dan kebodohan. Ungkapan ini lebih kuat untuk menggambarkan kebutaan mereka dan kejauhan mereka dari hidayah.

Demikian yang bisa kusampaikan. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku.

Semoga bermanfaat.

NB.
*)  Bumerang berarti perkataan (perbuatan, ulah, peraturan, dan sebagainya) yang dapat merugikan atau mencelakakan diri sendiri.

Info Buku:

● Alhamdulillah, telah terbit buku: Islam Solusi Setiap Permasalahan jilid 1.

Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, MAg: “Banyak hal yang dibahas dalam buku ini. Tapi, yang paling menarik bagi saya adalah dorongan untuk mempelajari Alquran dan hadis lebih luas dan mendalam, sehingga tidak mudah memandang sesat orang. Juga ajakan untuk menilai orang lebih berdasar kepada kitab suci dan sabda Nabi daripada berdasar nafsu dan subyektifitasnya”.

Buku jilid 1:

Buku jilid 1:
Buku: “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 378 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

● Buku “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1 ini merupakan kelanjutan dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” (jilid 1 s/d jilid 5). Berisi kumpulan artikel-artikel yang pernah saya sampaikan dalam kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah menjelang shalat tarawih/ba’da shalat tarawih, Khutbah Jum’at, kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus maupun kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook/whatsapp (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab, konsultasi, diskusi via email, facebook, sms, whatsapp, maupun media lainnya.

● Sebagai bentuk kehati-hatian saya dalam menyampaikan Islam, buku-buku religi yang saya tulis, biasanya saya sampaikan kepada guru-guru ngajiku untuk dibaca + diperiksa. Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz adalah salah satu diantaranya. Beliau adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Unsur Ketua MUI Jatim, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia 2009-2013, Dekan Fakultas Dakwah 2000-2004/Guru Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 2004 - sekarang.

_____

Assalamu'alaikum wr. wb.

● Alhamdulillah, telah terbit buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5.

● Buku jilid 5 ini merupakan penutup dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan jilid 4.

Buku Jilid 5

Buku Jilid 5
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-29-3

Buku Jilid 4

Buku Jilid 4
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 4: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-28-6

Buku Jilid 3

Buku Jilid 3
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 3: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 396 halaman, ISBN 978-602-5416-27-9

Buku Jilid 2

Buku Jilid 2
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 324 halaman, ISBN 978-602-5416-26-2

Buku Jilid 1

Buku Jilid 1
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 330 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

Keterangan:

Penulisan buku-buku di atas adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini: ”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞