بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Minggu, 05 Februari 2023

INGIN MENDAPATKAN KEBAHAGIAAN DENGAN CARA YANG CULAS

Assalamu’alaikum wr. wb.
 
Saudaraku,
Perhatikan beberapa kasus berikut ini:
 
Kasus 1:
   Jika seorang mahasiswa ditanya, mengapa menyontek? Maka jawabnya adalah untuk mendapatkan nilai yang lebih baik.
   Kemudian jika yang bersangkutan ditanya mengapa ingin mendapatkan nilai yang lebih baik? Maka jawabnya adalah agar peluang untuk mendapatkan pekerjaan menjadi lebih mudah.
   Selanjutnya jika yang bersangkutan ditanya mengapa ingin mendapatkan pekerjaan dengan mudah? Maka jawabnya adalah agar bisa mendapatkan penghidupan yang lebih baik.
   Berikutnya jika yang bersangkutan ditanya mengapa ingin bisa mendapatkan penghidupan yang lebih baik? Maka jawabnya adalah agar bisa mendapatkan kebahagiaan.
 
Kasus 2:
   Jika seorang mahasiswa yang baru lulus ditanya, mengapa mencari pekerjaan dengan cara-cara yang culas (nyogok, nepotisme, dll)? Maka jawabnya adalah agar bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah.
   Selanjutnya jika yang bersangkutan ditanya mengapa ingin mendapatkan pekerjaan dengan mudah? Maka jawabnya adalah agar bisa mendapatkan penghidupan yang lebih baik.
   Berikutnya jika yang bersangkutan ditanya mengapa ingin bisa mendapatkan penghidupan yang lebih baik? Maka jawabnya adalah agar bisa mendapatkan kebahagiaan.
 
Kasus 3:
   Jika seorang pedagang ditanya, mengapa musti mengurangi timbangan? Maka jawabnya adalah agar bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar dengan mudah.
   Selanjutnya jika yang bersangkutan ditanya mengapa ingin mendapatkan keuntungan yang lebih besar dengan mudah? Maka jawabnya adalah agar bisa mendapatkan penghidupan yang lebih baik.
   Berikutnya jika yang bersangkutan ditanya mengapa ingin bisa mendapatkan penghidupan yang lebih baik? Maka jawabnya adalah agar bisa mendapatkan kebahagiaan.
 
Demikian seterusnya.
 
Padahal sumber kebahagiaan yang hakiki itu adalah Allah. Artinya dari Allah-lah kebahagiaan itu berasal. Dengan kata lain, hanya Allah-lah yang bisa memberikan kebahagiaan. Sedangkan para malaikat, para nabi, orang-orang shalih, para wali (apalagi syaitan) serta semua makhluk lainnya tidak ada satupun yang bisa memberikan kebahagiaan kepada kita.
 
... فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ... ﴿٩٧﴾
“..., maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik ...”. (QS. An Nahl. 97).
 
مَا يَفْتَحِ اللهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِن بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ﴿٢﴾
Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Faathir. 2).
 
قُل لَّا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللهُ ... ﴿١٨٨﴾
Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfa`atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. ...”. (QS.Al-A’raaf. 188).
 
Saudaraku,
Sekali lagi kusampaikan bahwa sumber kebahagiaan yang hakiki itu adalah Allah. Artinya dari Allah-lah kebahagiaan itu berasal. Maka bagaimana mungkin seseorang bisa mendapatkan kebahagiaan yang hakiki, jika cara untuk mendapatkannya justru dengan cara-cara yang dilarang oleh-Nya?
 
حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا فُضَيْلُ بْنُ مَرْزُوقٍ عَنْ عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ {وَقَالَ }يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ {قَالَ وَذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَهُ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟ (رواه الترمذى)
Telah menceritakan kepada kami ['Abd bin Humaid] telah menceritakan kepada kami [Abu Nu'aim] telah menceritakan kepada kami [Fudlail bin Marzuq] dari [Adi bin Tsabit] dari [Abu Hazim] dari [Abu Hurairah] ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah Maha Baik dan hanya menerima yang baik, sesungguhnya Allah memerintahkan kaum mukminin seperti yang diperintahkan kepada para rasul, Dia berfirman: "Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Mu’minuun: 51). Dan Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu...” (QS. Al-Baqarah: 172)." Lalu beliau menyebutkan tentang orang yang memperlama perjalanannya (melakukan perjalanan jauh), rambutnya acak-acakan dan berdebu, ia membentangkan tangannya ke langit sambil berdo'a; "Ya Rabb, ya Rabbi, " sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diliputi dengan yang haram (dicukupi dari yang haram), lalu bagaimana akan dikabulkan do'anya." (HR. Tirmidzi no. 2915).
 
   Janganlah kita terpedaya oleh tipu daya syaitan yang terkutuk
 
Saudaraku,
Jika hal ini yang terjadi, yaitu jalan yang ditempuh untuk mendapatkan kebahagiaan adalah jalan yang dilarang oleh-Nya (yang artinya adalah menempuh jalannya syaitan), maka yang didapatkan hanyalah kebahagiaan yang semu belaka yang pada akhirnya hanya akan berujung kepada kehancuran yang sebenar-benarnya.
 
وَإِذْ زَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ الْيَوْمَ مِنَ النَّاسِ وَإِنِّي جَارٌ لَّكُمْ فَلَمَّا تَرَاءَتِ الْفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِّنكُمْ إِنِّي أَرَىٰ مَا لَا تَرَوْنَ إِنِّيَ أَخَافُ اللهَ وَاللهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ ﴿٤٨﴾
Dan ketika syaitan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: "Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu". Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), syaitan itu balik ke belakang seraya berkata: "Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu; sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah". Dan Allah sangat keras siksa-Nya. (QS. Al Anfaal. 48).
 
تَاللهِ لَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَـــٰنُ أَعْمَــٰــلَهُمْ فَهُوَ وَلِيُّهُمُ الْيَوْمَ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿٦٣﴾
Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka syaitan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih. (QS. An Nahl. 63).
 
وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الأَمْرُ إِنَّ اللهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدتُّكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ إِلاَّ أَن دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلاَ تَلُومُونِي وَلُومُواْ أَنفُسَكُم مَّا أَنَاْ بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِن قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿٢٢﴾
Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih. (QS. Ibrahim. 22).
 
Saudaraku,
Ketahuilah bahwa syaitan menakut-nakuti kita dengan kemiskinan dan menyuruh kita berbuat kejahatan, sedang Allah menjanjikan untuk kita ampunan dan karunia. Dan Allah adalah Tuhan Yang Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.
 
الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِالْفَحْشَاءِ وَاللهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلاً وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ ﴿٢٦٨﴾
“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al Baqarah. 268).
 
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللهِ الْغَرُورُ ﴿٥﴾
Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syetan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. (QS. Faathir. 5).
 
Oleh karena itu, semenjak sekarang dan jangan ditunda-tunda lagi, pegang-teguhlah kejujuran dan jangan mudah terpedaya oleh syaitan jika kita memang ingin mendapatkan kebahagiaan yang hakiki. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kita untuk bersegera dalam amalan yang berkenaan dengan akhirat.
 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اَلتُّؤَدَةُ فِى كُلِّ شَيْءٍ خَيْرٌ اِلَّا فِى عَمَلِ الْاٰخِرَةِ. (رواه ابو داود والْحَاكِمُ)
“Perlahan-lahan dalam segala hal adalah baik, kecuali dalam amalan yang berkenaan dengan akhirat”. (HR. Abu Dawud dan Al Hakim).
 
Saudaraku,
Nyontek saat ujian, bekerjasama dengan mahasiswa lain saat ujian, melakukan plagiasi saat mengerjakan skripsi, melakukan korupsi, menipu orang lain demi keuntungan pribadi, serta semua perbuatan maksiat lainnya, tinggalkan semuanya itu sejauh-jauhnya dan jangan pernah diambil lagi. Karena hidup ini tak ‘kan bahagia tanpa ada ridho dari-Nya.
 
Sekali lagi kusampaikan, bahwa hidup ini tak ‘kan bahagia tanpa ada ridho dari-Nya.
 
الَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّـــٰــلِحَــٰتِ طُوبَىٰ لَهُمْ وَحُسْنُ مَئَابٍ ﴿٢٩﴾
Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik. (QS. Ar Ra’d. 29).
 
مَنْ عَمِلَ صَــٰــلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ ﴿٩٧﴾
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An Nahl. 97).
 
إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّـــٰلِحَـــٰتِ أُوْلَـــٰــئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ ﴿٧﴾ جَزَاؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّـــٰتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَـــٰــرُ خَـــٰـلِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَّضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ ﴿٨﴾
(7) “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk”. (8) “Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga `Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya”. (QS. Al Bayyinah. 7 – 8).
 
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿٢٧﴾ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴿٢٨﴾ فَادْخُلِي فِي عِبَـــٰدِي ﴿٢٩﴾ وَادْخُلِي جَنَّتِي ﴿٣٠﴾
(27) Hai jiwa yang tenang. (28) Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. (29) Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, (30) dan masuklah ke dalam surga-Ku. (QS. Al Fajr. 27 – 30).
 
Demikian yang bisa kusampaikan. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku.
 
Semoga bermanfaat.
 

Jumat, 03 Februari 2023

BENARKAH IBADAH SOSIAL ITU LEBIH UTAMA DARIPADA IBADAH INDIVIDUAL?

Assalamu’alaikum wr. wb.
 
Seorang akhwat1) (dosen sebuah perguruan tinggi terkemuka di Surabaya) telah menyampaikan pertanyaan sebagai berikut: “Mohon maaf sebelumnya ada yang ingin saya tanyakan tentang ibadah. Saya pernah membaca suatu artikel yang menjelaskan tentang ibadah. Bahwa ibadah yang mempunyai nilai tinggi dihadapan Allah SWT. adalah ibadah yang bersifat sosial. Bagaimana menurut Pak Imron?”.
 
Saudaraku,
Berbicara masalah agama itu harus berdasarkan dalil/tidak cukup jika hanya berdasarkan logika semata. Mengapa demikian? Karena ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu, sedangkan ilmu pengetahuan manusia itu sangatlah terbatas.
 
اللهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا ﴿١٢﴾
Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. (QS. Ath Thalaaq. 12).
 
... وَمَا أُوتِيتُم مِّن الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا ﴿٨٥﴾
“... dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (QS. Al Israa’. 85).
 
Terkait pertanyaan apakah ibadah sosial itu lebih utama daripada ibadah individual, marilah kita perhatikan penjelasan beberapa ayat Al Qur’an serta beberapa hadits berikut ini:
 
   Keutamaan membaca Al Qur’an
 
Saudaraku,
Orang yang membaca satu huruf dari Al Qur’an, maka baginya sepuluh kebaikan dari setiap huruf yang dibacanya.
 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ اَمْثَالِهَا، لَااَقُوْلُ الم حَرْفٌ، بَلْ اَلِفٌ حَرْفٌ، وَلَامٌ حَرْفٌ، وَمِيْمٌ حَرْفٌ (رواه الترمذى، وقال حديث حسن صحيح)
“Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah (Al Qur’an) maka baginya satu kebaikan, sedangkan satu kebaikan itu bernilai sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf”. (HR. At-Turmudzi, dan ia mengatakan hadits hasan shahih).
 
Sedangkan orang yang mengajarkan satu ayat dari Al Qur’an itu lebih baik daripada shalat sunnah seratus rakaat.
 
يَا أَبَاذَرٍّ ، لَأَنْ تَغْدَوْا فَتُعَلِّمَ اَيَةً مِنْ كِتَابِ اللهِ خَيْرٌ لَّكَ مِنْ اَنْ تُصَلِّيَ مِائَةَ رَكْعَةٍ ، وَلَأَنْ تَغْدُوْا فَتُعَلِّمَ بَابًا مِنَ الْعِلْمِ عُمِلَ بِهِ اَوْ لَمْ يُعْمَلْ ، خَيْرٌ مِنْ اَنْ تُصَلِّيَ أَلْفَ رَكْعَةٍ. (رواه ابن ماجه)
“Wahai Aba Dzar, kamu pergi mengajarkan ayat dari Kitabullah lebih baik bagimu dari pada shalat (sunnah) seratus rakaat, dan pergi mengajarkan satu bab ilmu pengetahuan baik dilaksanakan atau tidak, itu lebih baik dari pada shalat seribu rakaat”. (HR. Ibnu Majah).
 
Padahal dalam setiap rakaat sholat sunat itu minimal dibaca 7 ayat Al Qur’an yaitu yang terdapat dalam surat Al Faatihah (dan masih ditambah lagi dengan rangkaian bacaan serta perbuatan lainnya dalam ibadah sholat), karena tidak sah shalat seseorang jika dia tidak membaca surah Al Faatihah.
 
Dari Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 
لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِأُمِّ الْقُرْآنِ. (رواه البخارى ومسلم)    
“Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Ummul Qur’an (Al-Faatihah)”. (HR. Bukhari dan Muslim).
 
Saudaraku,
Orang yang mengajarkan satu ayat dari Al Qur’an itu disamping lebih baik daripada shalat sunnah seratus rakaat, ia juga akan mendapatkan pahala yang sama dengan pahala yang diberikan Allah kepada orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun.
 
Artinya setiap kali yang bersangkutan mengamalkan ilmu yang telah diberikan, maka orang yang mengajarkannya akan selalu mendapatkan pahala yang sama dengan pahala yang diberikan Allah kepada orang yang mengamalkannya tersebut.
 
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عِيسَى الْمِصْرِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ وَهْبٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَيُّوبَ عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا فَلَهُ أَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهِ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الْعَامِلِ. (رواه ابن ماجه)
Telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin Isa Al Mishri] berkata, telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Wahb] dari [Yahya bin Ayyub] dari [Sahl bin Mu'adz bin Anas] dari [Bapaknya] bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka ia akan mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun." (HR. Ibnu Majah, no. 236).
 
Sehingga dari sini bisa disimpulkan bahwa mengajarkan satu ayat dari Al Qur’an itu berlipat-lipat kali lebih baik daripada membaca satu ayat dari Al Qur’an.
 
   Keutamaan sholat malam dan puasa
 
Saudaraku,
Ketahuilah bahwa sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa yang ketika hidup di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik, sementara mereka itu sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah SWT., maka bagi mereka itu nantinya akan berada di dalam taman-taman surga. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.
 
Perhatikan penjelasan Al Qur’an dalam surat Adz Dzaariyaat ayat 15 – 18 serta dalam surat Al Israa’ ayat 79 berikut ini:
 
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّــــٰتٍ وَعُيُونٍ ﴿١٥﴾ ءَاخِذِينَ مَا ءَاتَـــٰــهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَٰلِكَ مُحْسِنِينَ ﴿١٦﴾ كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ الَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ ﴿١٧﴾ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ ﴿١٨﴾
(15) “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air”, (16) “sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik”; (17) “Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam”; (18) “Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah)”. (QS. Adz Dzaariyaat. 15 – 18).
 
وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا ﴿٧٩﴾
“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. (QS. Al Israa’. 79).
 
Sedangkan terkait keutamaan ibadah puasa, perhatikan penjelasan sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim berikut ini:
 
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ. (رواه مسلم)
Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi”. (HR. Muslim no. 1151)
 
Saudaraku,
Berdasarkan penjelasan Al Qur’an dalam surat Adz Dzaariyaat ayat 15 – 18 dan dalam surat Al Israa’ ayat 79 serta penjelasan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di atas, nampaklah betapa tingginya keutamaan bagi siapa saja yang mau melaksanakan ibadah sholat malam serta puasa.
 
Meskipun demikian, ternyata orang yang membantu para janda dan orang-orang miskin itu bahkan seperti orang yang berjihad di jalan Allah dan seperti orang yang shalat malam yang tidak pernah istirahat serta seperti orang yang berpuasa dan tidak pernah berbuka.
 
Pertanyaannya adalah: “Adakah diantara kita yang mampu untuk melakukan shalat malam yang tidak pernah istirahat (terus-menerus sepanjang malam) serta berpuasa terus-menerus dan tidak pernah berbuka?”.
 
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْلَمَةَ حَدَّثَنَا مَالِكٌ عَنْ ثَوْرِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ أَبِي الْغَيْثِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللهِ وَأَحْسِبُهُ قَالَ يَشُكُّ الْقَعْنَبِيُّ كَالْقَائِمِ لَا يَفْتُرُ وَكَالصَّائِمِ لَا يُفْطِرُ. (رواه البخارى)
58.36/5548. Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami Malik dari Tsaur bin Zaid dari Abu Al Ghaits dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Orang yang membantu para janda dan orang-orang miskin seperti orang yang berjihad di jalan Allah – aku mengira beliau juga bersabda (Al Qa'nabi ragu) – “Dan seperti orang yang shalat malam tidak pernah istirahat dan seperti orang puasa tidak berbuka”. (HR. Al-Bukhari).
 
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ بْنِ قَعْنَبٍ حَدَّثَنَا مَالِكٌ عَنْ ثَوْرِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ أَبِي الْغَيْثِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأَحْسِبُهُ قَالَ وَكَالْقَائِمِ لَا يَفْتُرُ وَكَالصَّائِمِ لَا يُفْطِرُ. (رواه مسلم)
55.40/5295. Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah bin Qa'nab telah menceritakan kepada kami Malik dari Tsaur bin Zaid dari Abu Al Ghaits dari Abu Hurairah dari nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: “Orang yang membantu para janda dan orang-orang miskin seperti orang yang berjihad dijalan Allah” – aku mengira beliau bersabda – “Dan seperti orang yang shalat malam tidak lelah dan seperti orang puasa tidak berbuka”. (HR. Muslim).
 
Sehingga dari sini bisa disimpulkan bahwa membantu para janda dan orang-orang miskin itu berlipat-lipat kali lebih baik daripada orang yang melaksanakan ibadah sholat malam serta puasa.
 
   Ibadah sosial itu lebih utama daripada ibadah individual
 
Saudaraku,
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa memang benar ibadah sosial itu lebih utama daripada ibadah individual.
 
Meskipun demikian, kita juga harus memperhatikan penjelasan surat Al Baqarah ayat 44 serta surat Ash Shaff ayat 2 – 3 berikut ini:
 
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ ﴿٤٤﴾
Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir? (QS. Al Baqarah. 44).
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لِـمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ﴿٢﴾ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ ﴿٣﴾
(2) Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? (3) Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (QS. Ash Shaff. 2 – 3).
 
Saudaraku,
Berdasarkan penjelasan surat Al Baqarah ayat 44 serta surat Ash Shaff ayat 2 – 3 di atas, nampaklah bahwa sebelum berbuat kebajikan kepada orang lain maka prioritas pertama dan yang pertama kali tentunya adalah berbuat kebajikan untuk diri kita sendiri.
 
Hal ini mengandung arti bahwa meskipun ibadah sosial itu keutamaannya begitu tinggi namun kita harus berbuat kebajikan untuk diri-sendiri terlebih dahulu sebelum berbuat kebajikan untuk orang lain. Karena jika tidak, maka kita akan terkena murka Allah sebagaimana ancaman-Nya dalam surat Al Baqarah ayat 44 serta surat Ash Shaff ayat 2 – 3 di atas. Na’udzubillahi min dzalika (kami berlindung kepada Allah dari yang demikian).
 
Lebih dari itu, ketahuilah bahwa dengan berbuat kebajikan untuk diri-sendiri terlebih dahulu, sesungguhnya hal itu juga akan melahirkan perbuatan amal kebajikan untuk orang lain. Yang artinya adalah: jika benar bahwa ibadah individu itu dilaksanakan dengan baik dan benar, maka otomatis hal itu akan melahirkan ibadah sosial pula.
 
Perhatikan penjelasan Al Qur’an dalam surat Thaahaa ayat 14 berikut ini:
 
إِنَّنِي أَنَا اللهُ لَا إِلَـــٰــهَ إِلَّا أَنَاْ فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي ﴿١٤﴾
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS. Thaahaa. 14).
 
Saudaraku,
Berdasarkan surat Thaahaa ayat 14 di atas, diperoleh penjelasan bahwa tujuan shalat adalah agar manusia selalu ingat kepada Allah. Jika seseorang selalu mengingat dan merasakan kehadiran Allah bersamanya, bagaimana mungkin akan berani melakukan suatu pelanggaran atau perbuatan dosa?
 
Bukankah ketika seseorang berani berbuat dosa dan pelanggaran, hal ini karena pada saat itu dia tidak menyadari kehadiran dan kebersamaan Allah dengannya? Karena pada saat itu dia telah menanggalkan iman yang sebelumnya ada dalam genggamannya?
 
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا سَلَمَةَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ وَابْنَ الْمُسَيَّبِ يَقُولَانِ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ. قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَأَخْبَرَنِي عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ أَبِي بَكْرِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ هِشَامٍ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ كَانَ يُحَدِّثُهُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ثُمَّ يَقُولُ كَانَ أَبُو بَكْرٍ يُلْحِقُ مَعَهُنَّ وَلَا يَنْتَهِبُ نُهْبَةً ذَاتَ شَرَفٍ يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ أَبْصَارَهُمْ فِيهَا حِينَ يَنْتَهِبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ. (رواه البخارى)
“Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Shalih telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dia berkata; saya mendengar Abu Salamah bin Abdurrahman dan Ibnu Musayyab keduanya berkata, Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidaklah seseorang itu berzina, ketika sedang berzina dia dalam keadaan mukmin. Tidak pula seseorang itu minum khamer ketika sedang minum khamer ia dalam keadaan mukmin. Dan tidak pula seseorang itu mencuri ketika sedang mencuri ia dalam keadaan mukmin." Ibnu Syihab berkata; telah mengabarkan kepadaku pula Abdul Malik bin Abu Bakr bin Abdurrahman bin Al Harits bin Hisyam bahwa Abu Bakr pernah menceritakan kepadanya dari Abu Hurairah, lalu dia berkata; "Abu Bakar menambahkan dalam hadits tersebut dengan redaksi; "Dan tidaklah seseorang merampas harta orang lain yang karenanya orang-orang memandangnya sebagai orang yang terpandang, ketika dia merampas harta tersebut dalam keadaan mukmin". (HR. Bukhari).
 
Saudaraku,
Disamping penjelasan di atas, dalam Al Qur’an surat Al ‘Ankabuut ayat 45 berikut ini Allah juga telah menyampaikan kepada kita bahwa shalat itu adalah suatu ibadah yang akan membentuk manusia agar memiliki akhlak yang mulia.
 
اُتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَـــٰبِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ ﴿٤٥﴾
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al ‘Ankabuut. 45).
 
Oleh karena itu, orang yang benar-benar melakukan shalat dengan penuh penghayatan terhadap apa yang dilakukannya, pastilah dia tidak akan pernah melakukan suatu pelanggaran, baik terhadap aturan Allah maupun aturan masyarakat. Orang yang melaksanakan shalat dengan benar, pasti tidak akan pernah melakukan perbuatan yang membuat orang lain risih, tersinggung atau terusik.
 
Saudaraku,
Bagaimana mungkin, orang yang melaksanakan shalat dengan benar berani melanggar aturan Allah? Bukankah di awal shalatnya dia telah mengakui Kemahabesaran Allah melalui ucapan takbir? Begitu juga, bagaimana mungkin orang yang melaksanakan shalat dengan benar akan melakukan sesuatu yang akan mengganggu dan mengusik ketenangan orang lain? Bukankah di akhir shalatnya dia menebarkan kedamaian, keselamatan dan ketenangan bagi orang di sekitarnya melalui salam?
 
   Orang yang baik ibadah individualnya akan baik pula ibadah sosialnya
 
Saudaraku,
Dari uraian di atas, maka bisa dipastikan bahwa semakin baik shalat seseorang maka akan semakin baik pula amal sosialnya, semakin peka terhadap persoalan-persoalan yang ada dalam masyarakat dan tidak akan menimbulkan keburukan dan kerusakan bagi sesamanya.
 
Dan jika kita kaji ibadah-ibadah individu yang lainnya maka akan kita dapatkan kesimpulan yang sama, bahwa orang yang baik ibadah individualnya maka akan baik pula ibadah sosialnya.
 
Demikian yang bisa kusampaikan. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku.
 
Semoga bermanfaat.
 
NB.
1)  Akhwat ini sebenarnya adalah bentuk jamak dari ukhti, namun setelah diserap ke dalam Bahasa Indonesia, telah terjadi pergeseran. Sama halnya dengan kata: ‘ulama' ( عُلَمَاءُ ) yang juga merupakan bentuk jamak dari ‘alim ( عَالِمٌ ), namun setelah diserap ke dalam Bahasa Indonesia juga telah mengalami pergeseran. Sehingga kita sangat familiar mendengar kalimat berikut ini: “Beliau adalah seorang ‘ulama' yang kharismatik”. Dan malah terdengar aneh di telinga kita saat mendengar kalimat berikut ini: “Beliau adalah seorang ‘alim yang kharismatik”.
 

Info Buku:

● Alhamdulillah, telah terbit buku: Islam Solusi Setiap Permasalahan jilid 1.

Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, MAg: “Banyak hal yang dibahas dalam buku ini. Tapi, yang paling menarik bagi saya adalah dorongan untuk mempelajari Alquran dan hadis lebih luas dan mendalam, sehingga tidak mudah memandang sesat orang. Juga ajakan untuk menilai orang lebih berdasar kepada kitab suci dan sabda Nabi daripada berdasar nafsu dan subyektifitasnya”.

Buku jilid 1:

Buku jilid 1:
Buku: “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 378 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

● Buku “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1 ini merupakan kelanjutan dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” (jilid 1 s/d jilid 5). Berisi kumpulan artikel-artikel yang pernah saya sampaikan dalam kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah menjelang shalat tarawih/ba’da shalat tarawih, Khutbah Jum’at, kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus maupun kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook/whatsapp (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab, konsultasi, diskusi via email, facebook, sms, whatsapp, maupun media lainnya.

● Sebagai bentuk kehati-hatian saya dalam menyampaikan Islam, buku-buku religi yang saya tulis, biasanya saya sampaikan kepada guru-guru ngajiku untuk dibaca + diperiksa. Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz adalah salah satu diantaranya. Beliau adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Unsur Ketua MUI Jatim, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia 2009-2013, Dekan Fakultas Dakwah 2000-2004/Guru Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 2004 - sekarang.

_____

Assalamu'alaikum wr. wb.

● Alhamdulillah, telah terbit buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5.

● Buku jilid 5 ini merupakan penutup dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan jilid 4.

Buku Jilid 5

Buku Jilid 5
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-29-3

Buku Jilid 4

Buku Jilid 4
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 4: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-28-6

Buku Jilid 3

Buku Jilid 3
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 3: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 396 halaman, ISBN 978-602-5416-27-9

Buku Jilid 2

Buku Jilid 2
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 324 halaman, ISBN 978-602-5416-26-2

Buku Jilid 1

Buku Jilid 1
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 330 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

Keterangan:

Penulisan buku-buku di atas adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini: ”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞