بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Minggu, 05 Mei 2024

APAKAH MEMANG ADA TAKDIR BAHWA SESEORANG TIDAK MEMILIKI JODOH? (III)

 
Assalamu’alaikum wr. wb.
 
Seorang Guru Besar/Profesor di sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Jawa Timur telah menyampaikan pertanyaan terkait artikel “Apakah Memang Ada Takdir Bahwa Seseorang Tidak Memiliki Jodoh? (I)” dengan pertanyaan sebagai berikut: “Pertanyaan yang lebih spesifik seperti ini. Jika seorang perempuan belum ada yang melamar sampai akhir hayatnya, apakah ini berarti dia tidak punya jodoh? Jadi dia bukan tidak mau memilih. Dia memang tidak punya pilihan. Sedangkan kodrat perempuan, tidak elok jika harus agresif”.
 
Saudaraku,
Dalam Islam, proses menuju pernikahan itu melewati tiga tahapan, yaitu ta’aruf, khitbah dan akad nikah. Ta’aruf adalah proses mengenal, sedangkan khitbah adalah proses melamar. Lewat masa ta’aruf, seseorang (baik laki-laki maupun wanita) bisa menggali sebanyak mungkin informasi tentang dia/orang yang ingin dinikahi, baik hobi, sifat, kondisi kesehatan, impian dan sebagainya.
 
   Langkah awal sebelum melamar
 
   Pria langsung datang untuk melamar wanita yang ingin dinikahi (bagi wanita, dia juga bisa langsung datang kepada laki-laki untuk minta dinikahi)
 
Saudaraku,
Secara umum, memang banyak dalil yang menjelaskan bahwa prosesi melamar atau khitbah biasanya dilakukan oleh pria. Jadi si pria datang ke pihak wanita untuk meminang. Meminta izin resmi kepada walinya agar ia diperbolehkan menikah dengan wanita tersebut.
 
وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُم بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ أَوْ أَكْنَنتُمْ فِي أَنفُسِكُمْ عَلِمَ اللهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَــــٰـكِن لَّا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلَّا أَن تَقُولُواْ قَوْلًا مَّعْرُوفًا وَلَا تَعْزِمُواْ عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْكِتَـــٰبُ أَجَلَهُ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ ﴿٢٣٥﴾
Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma`ruf. Dan janganlah kamu ber`azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis `iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (QS. Al Baqarah. 235).
 
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمْ الْمَرْأَةَ فَإِنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى مَا يَدْعُوهُ إِلَى نِكَاحِهَا فَلْيَفْعَلْ قَالَ فَخَطَبْتُ جَارِيَةً فَكُنْتُ أَتَخَبَّأُ لَهَا حَتَّى رَأَيْتُ مِنْهَا مَا دَعَانِي إِلَى نِكَاحِهَا وَتَزَوُّجِهَا فَتَزَوَّجْتُهَا. (رواه ابو داود)
2082. Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kamu meminang seorang wanita, jika ia bisa melihat sesuatu yang dapat membuatnya menikahinya, maka lihatlah”. Jabir berkata lagi: “Maka aku meminang seorang wanita, kemudian aku bersembunyi di sebuah tempat, sehingga aku dapat melihatnya, sehingga membuatku ingin menikahinya, maka setelah itu aku menikahinya”. (HR. Abu Dawud).
 
Meskipun demikian, dalam Islam juga diperbolehkan seorang wanita langsung datang kepada laki-laki untuk minta dinikahi. Dalam urusan melamar, Islam tidak melarang apabila seorang wanita untuk minta/ingin dinikahi laki-laki. Islam tidak mensyariatkan bahwa yang boleh mengajukan lamaran hanya laki-laki.
 
Saudaraku,
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari berikut ini (hadits no. 4726) dikisahkan bahwa pada suatu ketika, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian, datanglah seorang perempuan kepada Nabi: “Wahai Nabi, apakah engkau punya maksud untuk menikahi saya?”.
 
Dalam periwayatan hadits tersebut, disebutkan bahwa Anas bin Malik menceritakan keberanian perempuan itu kepada putrinya. Mengetahui bahwa pernah ada seorang perempuan yang ‘macam-macam’ seperti itu pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, putri Anas bin Malik itu mencibir: “Duh, tidak punya malu. Buruk sekali perangai seperti itu”.
 
Terkait hal itu, sahabat Anas menimpali komentar anaknya: “Wahai anakku, perempuan itu lebih baik daripada kamu. Ia menyukai Rasulullah, kemudian dengan jujur meminta kesediaan beliau agar menikahinya”.
 
Berikut ini hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari tersebut (hadits no. 4726):
 
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللهِ حَدَّثَنَا مَرْحُومُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ مِهْرَانَ قَالَ سَمِعْتُ ثَابِتًا الْبُنَانِيَّ قَالَ كُنْتُ عِنْدَ أَنَسٍ وَعِنْدَهُ ابْنَةٌ لَهُ قَالَ أَنَسٌ جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعْرِضُ عَلَيْهِ نَفْسَهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللهِ أَلَكَ بِي حَاجَةٌ فَقَالَتْ بِنْتُ أَنَسٍ مَا أَقَلَّ حَيَاءَهَا وَا سَوْأَتَاهْ وَا سَوْأَتَاهْ قَالَ هِيَ خَيْرٌ مِنْكِ رَغِبَتْ فِي النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَرَضَتْ عَلَيْهِ نَفْسَهَا. (رواه البخارى)
47.52/4726. Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah Telah menceritakan kepada kami Marhum bin Abdul Aziz bin Mihran ia berkata; Aku mendengar Tsabit Al Bunani berkata; Aku pernah berada di tempat Anas, sedang ia memiliki anak wanita. Anas berkata, Ada seorang wanita datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu menghibahkan dirinya kepada beliau. Wanita itu berkata: “Wahai Rasulullah, adakah Anda berhasrat padaku?”. Lalu anak wanita Anas pun berkomentar: “Alangkah sedikitnya rasa malunya”. Anas berkata: “Wanita lebih baik daripada kamu, sebab ia suka pada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, hingga ia menghibahkan dirinya pada beliau”. (HR. Bukhari).
 
   Melalui perantara yang amanah
 
Saudaraku,
Jika seseorang (baik pihak laki-laki maupun wanita) malu atau tidak percaya diri untuk menyampaikannya secara langsung, ia bisa memilih orang lain yang bisa dipercaya sebagai perantara untuk menyampaikannya seperti orang tua, saudara, bisa juga sahabat/teman dekat.
 
Saudaraku,
Ketika Siti Khadijah telah menemukan sosok pria yang didambakannya, Khadijahpun mencurahkan perasaannya tersebut kepada sahabatnya yang bernama Siti Nafisah dan Siti Nafisahpun segera pergi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membeberkan niatan Khadijah dan menganjurkan Rasulullah untuk menikahinya.
 
Gayungpun bersambut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima lamaran Siti Khadijah. Melalui pamannya Abu Thalib, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melangsungkan lamaran resmi untuk pernikahan.
 
Saudaraku,
Demikianlah contoh yang telah diberikan oleh Siti Khadijah radhiyallahu ‘anha, sebaik-baik wanita umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
 
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ جَعْفَرٍ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ عَلِيًّا رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ خَيْرُ نِسَائِهَا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ وَخَيْرُ نِسَائِهَا خَدِيجَةُ. (رواه أحمد)
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Bisyr] telah menceritakan kepada kami [Hisyam bin 'Urwah] dari [bapaknya] bahwa [Abdullah bin Ja'far] menceritakannya, bahwa dia mendengar [Ali Radhiallah 'anhu] berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sebaik-baik wanita pada umat saat itu adalah Maryam binti 'Imran dan sebaik-baik wanita umat ini adalah Khadijah." (HR. Ahmad, no. 1149).
 
   Mencarikan jodoh untuk orang lain
 
Saudaraku,
Salah satu diantara motivasi besar untuk menikah, Allah telah memerintahkan orang yang sudah menikah untuk turut mensukseskan terwujudnya pernikahan orang lain. Perhatikan penjelasan Al Qur’an dalam surat An Nuur ayat 32 berikut ini:
 
وَأَنكِحُوا الْأَيَــــٰـمَىٰ مِنكُمْ ... ﴿٣٢﴾
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, …” (QS. An Nuur. 32).
 
Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy): “(Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kalian) lafal Ayaama adalah bentuk jamak dari lafal Ayyimun artinya wanita yang tidak mempunyai suami, baik perawan atau janda, dan laki-laki yang tidak mempunyai istri; hal ini berlaku untuk laki-laki dan perempuan yang merdeka ...”. (QS. An Nuur. 32).
 
Terkait hal ini, berikut ini kusampaikan tentang kisah sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu yang mencarikan jodoh untuk putrinya.
 
Umar bin Khattab adalah sahabat Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam. Beliau memiliki seorang putri bernama Hafshah. Putrinya telah menikah. Namun pada suatu hari suaminya meninggal dunia.
 
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu yang melihat kondisi tersebut lantas berniat mencarikan jodoh untuk putrinya agar tidak menjanda terlalu lama. Selepas masa iddah, kemudian Umar bin Khattab r.a. menemui sahabat-sahabatnya untuk menawarkan Hafshah agar dinikahi.
 
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللهِ أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يُحَدِّثُ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ حِينَ تَأَيَّمَتْ حَفْصَةُ بِنْتُ عُمَرَ مِنْ خُنَيْسِ بْنِ حُذَافَةَ السَّهْمِيِّ وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ شَهِدَ بَدْرًا تُوُفِّيَ بِالْمَدِينَةِ قَالَ عُمَرُ فَلَقِيتُ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ فَعَرَضْتُ عَلَيْهِ حَفْصَةَ فَقُلْتُ إِنْ شِئْتَ أَنْكَحْتُكَ حَفْصَةَ بِنْتَ عُمَرَ قَالَ سَأَنْظُرُ فِي أَمْرِي فَلَبِثْتُ لَيَالِيَ فَقَالَ قَدْ بَدَا لِي أَنْ لَا أَتَزَوَّجَ يَوْمِي هَذَا قَالَ عُمَرُ فَلَقِيتُ أَبَا بَكْرٍ فَقُلْتُ إِنْ شِئْتَ أَنْكَحْتُكَ حَفْصَةَ بِنْتَ عُمَرَ فَصَمَتَ أَبُو بَكْرٍ فَلَمْ يَرْجِعْ إِلَيَّ شَيْئًا فَكُنْتُ عَلَيْهِ أَوْجَدَ مِنِّي عَلَى عُثْمَانَ فَلَبِثْتُ لَيَالِيَ ثُمَّ خَطَبَهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنْكَحْتُهَا إِيَّاهُ فَلَقِيَنِي أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ لَعَلَّكَ وَجَدْتَ عَلَيَّ حِينَ عَرَضْتَ عَلَيَّ حَفْصَةَ فَلَمْ أَرْجِعْ إِلَيْكَ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ فَإِنَّهُ لَمْ يَمْنَعْنِي أَنْ أَرْجِعَ إِلَيْكَ فِيمَا عَرَضْتَ إِلَّا أَنِّي قَدْ عَلِمْتُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ ذَكَرَهَا فَلَمْ أَكُنْ لِأُفْشِيَ سِرَّ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَوْ تَرَكَهَا لَقَبِلْتُهَا. (رواه البخارى)
Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Yaman] telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] dari [Az Zuhri] dia berkata, telah mengabarkan kepadaku [Salim bin Abdullah] bahwa dia mendengar [Abdullah bin Umar] radliallahu 'anhuma bercerita, bahwa Umar bin Khattab berkata ketika Hafshah binti Umar menjanda dari Khunais bin Hudzafah As Sahmi – ia termasuk di antara sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang ikut serta dalam perang Badr dan meninggal di Madinah –, Umar berkata: “Maka aku datangi Usman bin 'Affan dan kutawarkan Hafshah kepadanya. Aku berkata: “Jika engkau mau, maka aku akan nikahkan engkau dengan Hafshah binti Umar”. Utsman hanya memberi jawaban: “Aku akan melihat perkaraku dulu, aku lalu menunggu beberapa malam”. Kemudian ia menemuiku dan berkata: “Nampaknya aku tidak akan menikah pada saat ini”. Umar berkata: “Kemudian aku menemui Abu Bakr, kukatakan padanya. Jika engkau menghendaki, maka aku akan nikahkan engkau dengan Hafshah binti Umar”. Abu Bakar hanya terdiam dan tidak memberi jawaban sedikitpun kepadaku. Dan kemarahanku kepadanya jauh lebih memuncak daripada kepada Utsman. Lalu aku menunggu beberapa malam, ternyata Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meminangnya. Maka aku menikahkannya dengan beliau. Kemudian Abu Bakr menemuiku dan berkata: “Sepertinya engkau marah kepadaku ketika engkau menawarkan Hafshah kepadaku dan aku tidak memberi jawaban sedikitpun”. Aku menjawab: “Ya”. Abu Bakr berkata: “Sebenarnya tidak ada yang menghalangiku untuk memberi jawaban kepadamu mengenai apa yang engkau tawarkan kepadaku, kecuali aku mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sering menyebut-nyebutnya dan tidak mungkin aku akan menyebarkan rahasia Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Kalaulah beliau meninggalkannya, tentu aku akan menerima tawaranmu”. (HR. Bukhari, no. 3704).
 
   Tidak benar jika seorang perempuan hanya boleh pasif menunggu jodoh yang datang
 
Saudaraku,
Berdasarkan uraian di atas, jelaslah sekarang bahwa tidak benar jika seorang perempuan hanya boleh pasif menunggu jodoh yang datang.
 
Jika sang perempuan punya kepercayaan diri, maka dia boleh langsung datang kepada laki-laki untuk minta dinikahi. Dalam urusan melamar, Islam tidak melarang seorang wanita untuk minta/ingin dinikahi laki-laki. Islam tidak mensyariatkan bahwa yang boleh mengajukan lamaran hanya laki-laki (perhatikan kembali penjelasan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (hadits no. 4726) di atas.
 
Jika sang perempuan malu atau tidak percaya diri untuk menyampaikannya secara langsung, ia bisa memilih orang lain yang bisa dipercaya sebagai perantara untuk menyampaikannya seperti: orang tua, saudara, bisa juga sahabat/teman dekat.
 
Sedangkan jika seorang perempuan punya rasa malu yang sangat tinggi sehingga untuk sekedar mengutarakan kepada keluarga dekat (orang tua serta saudara-saudaranya) tentang gerak hatinya untuk menikah saja tak mampu terucap, maka orang tuanya harus aktif memotivasi agar keinginan untuk menikah tetap tidak pernah padam serta mengupayakan mencarikan jodoh untuk putrinya, sebagaimana penjelasan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (hadits no. 3704) di atas. Sedangkan dalam hadits lainnya yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi (hadits no. 8299) diperoleh penjelasan sebagai berikut:
 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 
مَنْ وُلِدَ لَهُ وَلَدٌ فَلْيُحْسِنِ اسْمَهُ وَأَدَبَهُ، فَإِذَا بَلَغَ فَلْيُزَوِّجْهُ فَإِنْ بَلَغَ وَلَمْ يُزَوِّجْهُ فَأَصَابَ إِثْمًا، فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى أَبِيهِ. (رواه البيهقى)
“Bila melahirkan anak, baguskanlah nama dan moralnya. Bila baligh, nikahkanlah. Karena bila anak baligh tapi tidak dinikahkan, lalu anak itu berbuat dosa, maka dosanya ditimpakan pada ayahnya”. (HR. Albaihaqi, no. 8299).
 
Demikian yang bisa kusampaikan. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku.
 
Semoga bermanfaat.
 
{Tulisan ke-3 dari 3 tulisan}
 
 

Jumat, 03 Mei 2024

APAKAH MEMANG ADA TAKDIR BAHWA SESEORANG TIDAK MEMILIKI JODOH? (II)

Assalamu’alaikum wr. wb.
 
Seorang teman di Universitas Trunojoyo Madura telah menyampaikan pertanyaan terkait artikel “Apakah Memang Ada Takdir Bahwa Seseorang Tidak Memiliki Jodoh? (I)” dengan pertanyaan sebagai berikut: “Ada kalimat: termasuk perkara mu’amalah yang berada dalam area yang dikuasai manusia, lalu ada QS An-Nuur: ... Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mohon pencerahan!”.
 
TANGGAPAN
 
Saudaraku,
Berikut ini aku sampaikan ayat yang panjenengan maksud tersebut:
 
الْخَبِيثَـــــٰتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَــــٰتِ وَالطَّيِّبَـــٰتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَــــٰتِ أُوْلَـــٰـئِكَ مُبَرَّؤُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ ﴿٢٦﴾
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga). (QS. An Nuur. 26).
 
Saudaraku,
Untuk bisa memahami ayat di atas, berikut ini kusampaikan penjelasan Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy) serta Tafsir Ibnu Katsir.
 
√ Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy) surat An Nuur ayat 26:
 
(Wanita-wanita yang keji) baik perbuatannya maupun perkataannya (adalah untuk laki-laki yang keji) pula (dan laki-laki yang keji) di antara manusia (adalah buat wanita-wanita yang keji pula) sebagaimana yang sebelumnya tadi (dan wanita-wanita yang baik) baik perbuatan maupun perkataannya (adalah untuk laki-laki yang baik) di antara manusia (dan laki-laki yang baik) di antara mereka (adalah untuk wanita-wanita yang baik pula) baik perbuatan maupun perkataannya.
 
Maksudnya, hal yang layak adalah orang yang keji berpasangan dengan orang yang keji, dan orang baik berpasangan dengan orang yang baik. (Mereka itu) yaitu kaum laki-laki yang baik dan kaum wanita yang baik, antara lain ialah Siti Aisyah dan Sofwan (bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka) yang keji dari kalangan kaum laki-laki dan wanita.
 
(Bagi mereka) yakni laki-laki yang baik dan wanita yang baik itu (ampunan dan rezeki yang mulia) di surga. Siti Aisyah merasa puas dan bangga dengan beberapa hal yang ia peroleh, antara lain, ia diciptakan dalam keadaan baik, dan dijanjikan mendapat ampunan dari Allah, serta diberi rezeki yang mulia.
 
√ Tafsir Ibnu Katsir surat An Nuur ayat 26:

 

الْخَبِيثَـــــٰتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَــــٰتِ وَالطَّيِّبَـــٰتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَــــٰتِ أُوْلَـــٰـئِكَ مُبَرَّؤُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ ﴿٢٦﴾
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga). (QS. An Nuur. 26).
 
Ibnu Abbas mengatakan bahwa perkataan yang keji hanyalah pantas dilemparkan kepada lelaki yang berwatak keji, dan laki-laki yang keji hanyalah pantas menjadi bahan pembicaraan perkataan yang keji. Perkataan yang baik-baik hanyalah pantas ditujukan kepada lelaki yang baik-baik, dan lelaki yang baik-baik hanyalah pantas menjadi bahan pembicaraan perkataan yang baik-baik.
 
Ibnu Abbas mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Siti Aisyah dan para penyebar berita bohong. Hal yang sama telah diriwayatkan dari Mujahid, Ata, Sa'id ibnu Jubair, Asy-Syabi, Al-Hasan Al-Basri, Habib ibnu Abu Sabit, dan Ad-Dahhak. Ibnu Jarir memilih pendapat ini dan memberikan komentarnya, bahwa perkataan yang keji pantas bila ditujukan kepada orang yang berwatak keji, dan perkataan yang baik pantas bila ditujukan kepada orang yang baik. Dan apa yang dikatakan oleh para penyebar berita dusta terhadap diri Siti Aisyah, sebenarnya merekalah yang lebih utama menyandang predikat itu. Siti Aisyah lebih utama beroleh predikat bersih dan suci daripada diri mereka. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

 

... أُوْلَـــٰـئِكَ مُبَرَّؤُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ... ﴿٢٦﴾
“... Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh para penuduhnya ...”. (QS. An Nuur. 26).
 
Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan – sehubungan dengan makna ayat ini – bahwa orang-orang yang keji dari kalangan kaum wanita adalah untuk orang-orang yang keji dari kalangan kaum pria. Dan orang-orang yang keji dari kalangan kaum pria adalah untuk orang-orang yang keji dari kalangan kaum wanita. Orang-orang yang baik dari kalangan kaum wanita adalah untuk orang-orang yang baik dari kalangan kaum pria. Dan orang-orang yang baik dari kalangan kaum pria adalah untuk orang-orang yang baik dari kalangan kaum wanita.
 
Takwil inipun senada dengan apa yang telah dikatakan oleh para ‘ulama’ di atas sebagai suatu kepastian. Dengan kata lain dapat disebutkan bahwa tidaklah Allah menjadikan Aisyah radhiyallahu ‘anha sebagai istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melainkan karena dia adalah wanita yang baik, sebab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang terbaik di antara yang baik. Seandainya Aisyah adalah seorang wanita yang keji tentulah tidak pantas, baik menurut penilaian syari'at maupun penilaian martabat, bila ia menjadi istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena itu Allah SWT. berfirman dalam penghujung ayat ini:
 
... أُوْلَـــٰـئِكَ مُبَرَّؤُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ... ﴿٢٦﴾
“... Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka yang melancarkan tuduhan ...”. (QS. An Nuur. 26).
 
Maksudnya, mereka jauh sekali dari apa yang dituduhkan oleh para penyiar berita bohong dan musuh-musuhnya.
 
... لَهُم مَّغْفِرَةٌ ... ﴿٢٦﴾
“... Bagi mereka ampunan ...”. (QS. An Nuur. 26).
 
Disebabkan kedustaan yang dilemparkan terhadap diri mereka (yang hal itu mencuci dosa mereka).
 
... وَرِزْقٌ كَرِيمٌ ﴿٢٦﴾
“... dan rezeki yang mulia”. (QS. An Nuur. 26).
 
Yakni di sisi Allah yaitu surga yang penuh dengan kenikmatan. Di dalam makna ayat ini terkandung suatu janji yang menyatakan bahwa istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pasti masuk surga.
 
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Muslim, telah menceritakan kepada kami Abu Na'im, telah menceritakan kepada kami Abdus Salam ibnu Harb, dari Yazid ibnu Abdur Rahman, dari Al-Hakam berikut sanadnya sampai kepada Yahya ibnul Jazzar yang mengatakan bahwa Asir ibnu Jabir datang kepada Abdullah, lalu berkata: “Sesungguhnya saya telah mendengar Al-Walid ibnu Uqbah pada hari ini mengatakan suatu pembicaraan yang mengagum­kan saya”. Maka Abdullah menjawab: “Sesungguhnya seorang lelaki mukmin di dalam kalbunya terbetik kalimat yang baik hingga meresap ke dalam hatinya sampai dalam, hingga manakala dia mengucapkannya dan memperdengarkannya kepada orang lain yang ada di hadapannya, maka lelaki itu akan mendengarkannya dan meresapkannya di dalam hatinya. Sesungguhnya seseorang yang durhaka yang di dalam hatinya terbetik perkataan yang kotor hingga meresap ke dalam relung hatinya, hingga manakala dia mengutarakannya dan memperdengarkannya kepada orang lain yang ada di hadapannya, maka orang itu akan mendengarkannya dan meresapinya di dalam hatinya”.
 
Kemudian Abdullah membaca firman-Nya (yang artinya): “Perkataan-perkataan yang keji hanyalah untuk orang-orang yang keji, dan orang-orang yang keji hanyalah untuk perkataan-perkataan yang keji; dan perkataan-perkataan yang baik-baik hanyalah untuk orang-orang yang baik-baik, dan orang-orang yang baik-baik hanyalah untuk perkataan-perkataan yang baik-baik (pula)”. (QS. An Nuur. 26).
 
(Terjemahan ini berdasarkan tafsir yang dimaksudkan oleh sahabat Ibnu Ma'sud r.a., pent.)
 
Pengertian ini mirip dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab musnadnya secara marfu', yaitu:
 
حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَخْبَرَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ عَنْ أَوْسِ بْنِ خَالِدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَثَلُ الَّذِي يَسْمَعُ الْحِكْمَةَ ثُمَّ لَا يُخْبِرُ عَنْ صَاحِبِهِ إِلَّا بِشَرِّ مَا سَمِعَ كَمَثَلِ رَجُلٍ أَتَى رَاعِيَ غَنَمٍ فَقَالَ أَجْزِرْنِي شَاةً مِنْ غَنَمِكَ فَقَالَ اخْتَرْ فَأَخَذَ بِأُذُنِ كَلْبِ الْغَنَمِ. (رواه أحمد)
Telah menceritakan kepada kami [Yazid], dia berkata; telah mengabarkan kepada kami [Hammad bin Salamah] dari [Ali bin Zaid] dari [Aus bin Khalid] dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: “Permisalan seorang yang mendengarkan hikmah kemudian ia tidak mengabarkan perihal sahabatnya kecuali hal yang paling buruk yang ia dengar, adalah seperti seorang lelaki yang datang kepada seorang penggembala kambing, ia berkata: Sembelihkanlah untukku satu kambing milikmu. Lalu sang penggembala berkata: Pilihlah. Namun kemudian ia mengambil kambing yang paling buruk”. (HR. Ahmad, no. 10198).
 
Saudaraku,
Pengertian di atas juga mirip dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad (hadits no. 8285) berikut ini:
 
حَدَّثَنَا حَسَنٌ وَعَفَّانُ قَالَا حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ عَنْ أَوْسِ بْنِ خَالِدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الَّذِي يَجْلِسُ فَيَسْمَعُ الْحِكْمَةَ ثُمَّ لَا يُحَدِّثُ عَنْ صَاحِبِهِ إِلَّا بِشَرِّ مَا سَمِعَ كَمَثَلِ رَجُلٍ أَتَى رَاعِيًا فَقَالَ يَا رَاعِيَ اجْزُرْ لِي شَاةً مِنْ غَنَمِكَ قَالَ اذْهَبْ فَخُذْ بِأُذُنِ خَيْرِهَا فَذَهَبَ فَأَخَذَ بِأُذُنِ كَلْبِ الْغَنَمِ. (رواه أحمد)
Telah menceritakan kepada kami [Hasan] dan ['Affan] mereka berkata; telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Salamah] dari ['Ali bin Zaid] dari [Aus bin Khalid] dari [Abu Hurairah] ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Bersabda: “Permisalan orang yang duduk dan mendengarkan hikmah kemudian ia tidak berbicara tentang sahabatnya kecuali yang jelek dari apa yang ia dengar, seperti seorang laki-laki yang datang kepada penggembala dan berkata: Hai pengembala sembelihkan untukku satu kambingmu. Maka si pengembala berkata: Pergi dan ambillah dengan kambing yang paling bagus. Lalu ia pergi dengan membawa kambing yang paling jelek”. (HR. Ahmad, no. 8285).
 
Saudaraku,
Berdasarkan uraian di atas, jelaslah sekarang bahwa ayat nomer 26 dari surat An Nuur tersebut sama sekali tidak berbicara tentang jodoh. Namun ayat tersebut turun berkenaan dengan Siti Aisyah dan para penyebar berita bohong.
 
Dan apa yang dikatakan oleh para penyebar berita dusta terhadap diri Siti Aisyah, sebenarnya merekalah yang lebih utama menyandang predikat itu. Siti Aisyah lebih utama beroleh predikat bersih dan suci daripada diri mereka. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:
 
... أُوْلَـــٰـئِكَ مُبَرَّؤُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ... ﴿٢٦﴾
“... Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh para penuduhnya ...”. (QS. An Nuur. 26).
 
Saudaraku,
Sebagaimana telah kita ketahui bersama, bahwa ketika mendapat giliran untuk menyertai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Perang Muraisi', Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha kehilangan kalungnya saat perjalanan menuju Madinah pasca peperangan.
 
Dalam perjalanan pulang itu, mereka beristirahat di sebuah tempat. Saat itu Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha keluar dari sekedupnya (semacam tandu yang berada di atas punggung unta) untuk satu keperluan. Ketika kembali ke sekedupnya, Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha kehilangan kalung. Akhirnya beliau keluar lagi untuk mencarinya.
 
Saat kembali untuk yang kedua kali inilah, Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha kehilangan rombongan, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan pasukan beliau berangkat. Para sahabat yang menaikkan sekedup itu ke punggung unta tidak menyadari bahwa Sayyidah Aisyah tidak ada di dalamnya.
 
Sayyidah Aisyah-pun gelisah karena ditinggal rombongan, namun beliau tidak kehilangan akal. Sayyidah Aisyah tetap menunggu di tempat semula, dengan harapan rombongan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam segera menyadari ketiadaannya dan kembali mencarinya di tempat mereka istirahat.
 
Akan tetapi yang ditunggu tidak kunjung datang. Sampai akhirnya salah satu sahabat Rasulullah yang bernama Shafwan bin Al-Mu'atthal As-Sulami radhiyallahu 'anhu lewat di tempat itu dan mengenali Sayyidah Aisyah. Shafwan bin Al-Mu'atthal pernah melihat Sayyidah Aisyah saat sebelum hijab diwajibkan.

Shafwan bin Al-Mu'atthal kemudian membantu Sayyidah Aisyah. Shafwan menidurkan untanya agar Sayyidah Aisyah bisa naik unta, sementara Shafwan menuntunnya sampai ke Madinah.
 
Sejak bertemu dan selama perjalanan, Shafwan tidak pernah mengucapkan kalimat apapun kepada Sayyidah Aisyah selain ucapan "inna lillaahi wa inna 'ilaihi raaji'un" karena kaget saat mengetahui Sayyidah Aisyah tertinggal.

Peristiwa inipun dimanfaatkan oleh kaum munafik. Mereka membubuhi kisah ini dengan berbagai cerita bohong. Di antara yang sangat berantusias menyebarkan cerita bohong dan keji itu adalah tokoh munafik Abdullah bin Ubay. Cerita bohong itu menyebar dengan cepat, dari mulut ke mulut, sehingga ada beberapa sahabat yang terfitnah dan tanpa disadari ikut andil dalam menyebarkan berita ini.
 
Demikian yang bisa kusampaikan. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku.
 
Semoga bermanfaat.
 
{Bersambung; tulisan ke-2 dari 3 tulisan}
 
 

Info Buku:

● Alhamdulillah, telah terbit buku: Islam Solusi Setiap Permasalahan jilid 1.

Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, MAg: “Banyak hal yang dibahas dalam buku ini. Tapi, yang paling menarik bagi saya adalah dorongan untuk mempelajari Alquran dan hadis lebih luas dan mendalam, sehingga tidak mudah memandang sesat orang. Juga ajakan untuk menilai orang lebih berdasar kepada kitab suci dan sabda Nabi daripada berdasar nafsu dan subyektifitasnya”.

Buku jilid 1:

Buku jilid 1:
Buku: “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 378 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

● Buku “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1 ini merupakan kelanjutan dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” (jilid 1 s/d jilid 5). Berisi kumpulan artikel-artikel yang pernah saya sampaikan dalam kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah menjelang shalat tarawih/ba’da shalat tarawih, Khutbah Jum’at, kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus maupun kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook/whatsapp (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab, konsultasi, diskusi via email, facebook, sms, whatsapp, maupun media lainnya.

● Sebagai bentuk kehati-hatian saya dalam menyampaikan Islam, buku-buku religi yang saya tulis, biasanya saya sampaikan kepada guru-guru ngajiku untuk dibaca + diperiksa. Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz adalah salah satu diantaranya. Beliau adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Unsur Ketua MUI Jatim, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia 2009-2013, Dekan Fakultas Dakwah 2000-2004/Guru Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 2004 - sekarang.

_____

Assalamu'alaikum wr. wb.

● Alhamdulillah, telah terbit buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5.

● Buku jilid 5 ini merupakan penutup dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan jilid 4.

Buku Jilid 5

Buku Jilid 5
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-29-3

Buku Jilid 4

Buku Jilid 4
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 4: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-28-6

Buku Jilid 3

Buku Jilid 3
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 3: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 396 halaman, ISBN 978-602-5416-27-9

Buku Jilid 2

Buku Jilid 2
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 324 halaman, ISBN 978-602-5416-26-2

Buku Jilid 1

Buku Jilid 1
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 330 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

Keterangan:

Penulisan buku-buku di atas adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini: ”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞