بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Kamis, 05 September 2019

MENGKAJI PEMIKIRAN ORANG LIBERAL TENTANG SEPUTAR MASALAH MENUTUP AURAT BAGI WANITA (VI)

Assalamu’alaikum wr. wb.

Berikut ini kelanjutan dari artikel “Mengkaji Pemikiran Orang Liberal Tentang Seputar Masalah Menutup Aurat Bagi Wanita (V)”:

Kata Wajib, kata wajib itu sendiri berarti bila tidak dikerjakan akan mendapat dosa dan bila dikerjakan akan mendapat pahala.
- Apakah perempuan yang pakai jilbab pahalanya mengalir terus setiap  hari?
- Apakah perempuan yang tidak pakai jilbab dosanya mengalir terus setiap hari?
- Apakah perempuan yang pakai jilbab itu sudah pasti masuk surga?
- Apakah seorang perempuan yang rajin beribadah: sholat, puasa, zakat, sedekah dan ikhlas berbuat baik kepada orang lain, tetapi ia tidak memakai jilbab dan hanya berpakaian sopan maka perempuan ini akan masuk neraka?

Jika seandainya memang benar begitu hukumnya, maka saya akan bilang kepada istri dan anak perempuan saya bahwa tidak perlu sholat lagi, tidak perlu puasa lagi, tidak perlu zakat lagi dan tidak perlu bersedekah lagi, sebab cukup dengan memakai jilbab saja maka sudah pasti masuk surga.

  Apakah perempuan yang pakai jilbab pahalanya mengalir terus setiap  hari?
  Apakah perempuan yang tidak pakai jilbab dosanya mengalir terus setiap hari?

Terkait hal ini, alhamdulillah sudah dijelaskan dalam artikel ini (baca kembali pada bagian sebelumnya dalam artikel ini). Dasarnya adalah penjelasan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim berikut ini:

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ مِن أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَٰلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا. (رواه مسلم) 
“Barangsiapa menyeru (mengajak) kepada petunjuk, baginya pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya, tidak berkurang pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang menyeru (mengajak) kepada kesesatan, atasnya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi demikian itu dari dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim).

  Apakah perempuan yang pakai jilbab itu sudah pasti masuk surga?

Saudaraku,
Ketahuilah bahwa ada dua kunci utama agar semua ibadah yang kita lakukan diterima Allah SWT., yaitu ikhlas dan ittiba’. Ikhlas berarti melakukannya semata-mata karena Allah, sedangkan ittiba’ berarti mengikuti cara peribadatan yang Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam contohkan.

قُلِ اللهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَّهُ دِينِي ﴿١٤﴾
”Katakanlah: "Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku". (QS. Az Zumar. 14).

Sedangkan dalam rangkaian ittiba’ kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mari kita mengkaji firman Allah SWT. pada bagian akhir ayat 7 dari surat Al Hasyr berikut ini:

... وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ ﴿٧﴾
“... Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya”. (QS Al Hasyr. 7).

Sehingga jika ada seorang wanita yang pada saat memakai jilbab benar-benar ikhlas/melakukannya semata-mata karena Allah serta ittiba’ (sesuai dengan tuntunan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka sudah pasti amal kebajikannya akan diterima oleh Allah. Sedangkan terhadap setiap amalan yang diterima, Allah akan berikan pahala kepada yang bersangkutan. Pahala itu artinya surga, sedangkan dosa itu artinya neraka.

الَّذِينَ تَتَوَفَّـــٰـهُمُ الْمَلَـــٰــئِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلَـــٰمٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُواْ الْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ﴿٣٢﴾
“(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): "Salaamun`alaikum6), masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan". (QS. An Nahl. 32).

6)  Artinya adalah: selamat sejahtera bagimu.

Adapun jika wanita pemakai jilbab tersebut ternyata juga melakukan pelanggaran terhadap syari’at Islam di bidang yang lainnya (mencuri, memfitnah, dll), jika yang bersangkutan belum sempat bertaubat selama masa hidupnya di dunia ini namun meninggal dalam keadaan beriman kepada Allah (yaitu meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun), maka dosa-dosanya tersebut pada akhirnya akan diampuni semuanya oleh Allah setelah sebelumnya dihukum di neraka terlebih dahulu sesuai dengan kadar kesalahan yang telah diperbuat selama masa hidupnya.

Perhatikan penjelasan Allah dalam Al Qur’an surat An Nisaa’ ayat 48 serta surat Al An’aam ayat 160 berikut ini:

إِنَّ اللهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا ﴿٤٨﴾
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (QS. An Nisaa’. 48).

مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَن جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ ﴿١٦٠﴾
Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (QS. Al An’aam. 160)

Nah, karena pada akhirnya Allah akan mengampuni segala dosa bagi setiap orang yang wafat dalam keadaan beriman kepada-Nya, maka itu artinya bagi siapa saja yang wafat dalam keadaan beriman kepada-Nya (wafat dalam keadaan beragama Islam), pasti masuk surga.

Perhatikan penjelasan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Bukhari dan Imam Muslim berkut ini:

حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنِ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ عَنْجَابِرٍ قَالَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ مَا الْمُوجِبَتَانِ قَالَ مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللهِ دَخَلَ النَّارَ. (رواه أحمد)
Telah bercerita kepada kami Abu Mu'awiyah dari Al 'A'masy dari Abu Sufyan dari Jabir berkata; ada seseorang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata; Wahai Rasulullah, apa dua hal yang pasti itu? Beliau bersabda: “Barangsiapa yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah ‘Azza Wa Jalla dengan sesuatupun pasti masuk surga, sebaliknya siapa yang meninggal dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu pasti masuk neraka”. (HR. Ahmad).

Penjelasan selengkapnya terkait hal ini bisa dibaca dalam buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” Jilid 4, Bab 2, Sub-Bab 2.4. Apakah Semua Dosa Itu Akan Diampuni Oleh Allah?, halaman 103 – 120.

  Apakah seorang perempuan yang rajin beribadah: sholat, puasa, zakat, sedekah dan ikhlas berbuat baik kepada orang lain, tetapi ia tidak memakai jilbab dan hanya berpakaian sopan maka perempuan ini akan masuk neraka?

Saudaraku,
Wanita yang seperti ini dan belum sempat bertaubat selama masa hidupnya di dunia ini, maka jelas dia akan masuk neraka disebabkan dosanya dalam melanggar larangan Allah, yaitu karena tidak memakai jilbab. (Penjelasan selengkapnya, bisa dibaca kembali uraian dalam artikel ini/persis di atas bahasan pada point ini).

Pada artikel di atas, penulis juga mengatakan: “Jika seandainya memang benar begitu hukumnya, maka saya akan bilang kepada istri dan anak perempuan saya bahwa tidak perlu sholat lagi, tidak perlu puasa lagi, tidak perlu zakat lagi dan tidak perlu bersedekah lagi, sebab cukup dengan memakai jilbab saja maka sudah pasti masuk surga”.

Saudaraku,
Lagi-lagi, untuk kesekian kalinya hal ini semakin menunjukkan ketidakpahaman yang bersangkutan terhadap Islam. (Penjelasan selengkapnya, bisa dibaca kembali uraian dalam artikel ini/persis di atas bahasan pada point ini).

√ Jadi tentang jilbab menurut saya tidak ada masalah halal atau haram dan tidak ada masalah pahala atau dosa, daripada ributkan soal jilbab lebih baik kerja sosial membantu orang lain yang sedang kesusahan dan itu yang diperintahkan oleh agama.

Saudaraku,
Seolah sudah tak terhitung lagi, berapa kali penulis artikel di atas membuat pernyataan-pernyataan ngawur/tidak berdasar seperti ini. Karena jilbab adalah perintah agama, jelas hal ini sangat berkaitan dengan masalah halal/haram serta masalah pahala atau dosa. (Rabbana Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami berlindung kepada Engkau dari membuat pernyataan-pernyataan seperti ini).

Penulis artikel di atas juga membuat pernyataan: “Daripada ributkan soal jilbab lebih baik kerja sosial membantu orang lain yang sedang kesusahan dan itu yang diperintahkan oleh agama”.

Saudaraku,
Siapa yang membuat ribut? Apakah itu artinya kita tidak perlu membahas masalah jilbab? Apakah kita harus tinggalkan saja seputar masalah jilbab ini? Padahal Allah telah berfirman dalam Al Qur'an surat Al Baqarah ayat 208:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ ﴿٢٠٨﴾
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. (QS. Al Baqarah. 208).

Dari Al Qur'an surat Al Baqarah ayat 208 tersebut, diperoleh penjelasan bahwa kita diperintahkan untuk masuk ke dalam Islam secara keseluruhannya. Artinya kita tidak boleh mengambil sebagian saja hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh Allah, yaitu hukum-hukum yang kita senangi saja. Sementara hukum-hukum yang lain yang tidak kita senangi kita buang begitu saja.

Jika hal ini yang kita lakukan (yaitu mengambil sebagian hukum-hukum Allah dan membuang sebagian yang lainnya), maka tanpa kita sadari, kita telah memperturutkan langkah-langkah syaitan. Padahal, sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kita. Na’udzubillahi mindzalika!

... أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ ﴿٨٥﴾
“... Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat”. (QS. Al Baqarah. 85).

Saudaraku,
Jika kita hanya mengambil Islam sebagian saja, atau bahkan ingin sepenuhnya mengambil hukum-hukum lain (selain yang ditetapkan oleh Allah), lalu apakah hukum Jahiliyah yang kita kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?

أَفَحُكْمَ الْجَـــٰهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ ﴿٥٠﴾
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al Maa-idah. 50).

Kehidupan Perempuan, milik perempuan itu sendiri. ‘Ulama’ tidak boleh terlalu banyak mengatur kehidupan perempuan dengan memakai hadits misigonis yang tidak benar dan jangan mendoktrin. Di dalam sejarah dan Hadits Nabi Muhammad menyayangi dan menghormati perempuan, tidak pernah melecehkan atau mencela perempuan. Jadi tentang Hadits-hadits kebencian terhadap perempuan itu saya meyakini datangnya bukan dari Nabi dan tidak mungkin Nabi Muhammad yang sifatnya disebutkan di dalam Al Qur'an “berbudi pekerti yang agung” mengeluarkan Hadits-hadits misigonis yang jelas-jelas bertentangan dengan Al Qur'an.

Saudaraku,
Membuat pernyataan seperti ini (seperti pada bagian awal alinea di atas), sama saja dengan melarang ‘ulama’ (serta melarang kita semua) untuk berdakwah7). Padahal kewajiban untuk berdakwah itu telah Allah bebankan atas setiap muslim, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini:

يَــــٰــبُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَوٰةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ ﴿١٧﴾
”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

7)  Berdakwah bermakna menghimbau/menyeru kepada umat manusia untuk melaksanakan segala apa yang Allah Ta’ala perintahkan dan meninggalkan semua yang dilarang-Nya.

Sedangkan terkait pernyataan yang bersangkutan pada bagian berikutnya dari alinea di atas, sudah dijelaskan secara panjang lebar pada bagian sebelumnya dalam artikel ini.

Silakan yang mau pakai jilbab, tetapi tidak boleh menghina yang tidak pakai jilbab dan begitu juga sebaliknya dan saya berkeyakinan bahwa Allah bukan hanya menilai sekedar jilbabnya saja, tetapi yang dinilai Allah adalah perbuatan baiknya kepada sesama.

Saudaraku,
Tentu saja kita tidak boleh menghina pihak lain hanya karena yang bersangkutan tidak/belum mengenakan jilbab, sebagaimana kita juga tidak boleh menghina saudara kita yang belum tergerak hatinya untuk bersedekah, berpuasa, dll.

Karena pada saat kita sedang menghina orang lain, maka pada saat itu pula (tanpa kita sadari) kita telah merasa lebih mulia dari padanya. Demikian juga pada saat kita sedang menjelekkan orang lain, maka pada saat itu pula kita telah merasa lebih baik dari padanya. Pada saat kita sedang memandang rendah orang lain, maka pada saat itu pulalah kita telah merasa lebih tinggi dari padanya. Dan pada saat kita sedang meremehkan orang lain, maka pada saat itu pula kita telah merasa lebih hebat dari padanya. Demikian seterusnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَعَظَّمَ فِى نَفْسِهِ وَاَجْتَالَ فِى مِشْيَتِهِ لَقِىَ اللهَ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ (رواه أحمد)
“Siapa yang merasa dirinya besar, lalu sombong dalam jalannya, maka ia akan menghadap pada Allah, sedang Allah murka padanya”. (HR. Ahmad).

Salam cerdas beragama.

Cerdas apanya? Dari rangkaian uraian di atas, pernyataan-pernyataannya justru telah menunjukkan kebodohan yang bersangkutan dalam beragama.

Mengapa demikian?
Karena penulis artikel di atas tidak mau mengambil pelajaran dari Al Qur’an, karena penulis artikel di atas lebih mengedepankan kemampuan sendiri (tanpa menyandarkan kepada Al Qur’an) dalam menilai suatu perkara (sebagaimana telah dijelaskan pada bagian sebelumnya dalam artikel ini).

... وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُوْلُواْ الأَلْبَـــٰبِ ﴿٢٦٩﴾
“... Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)”. (QS. Al Baqarah. 269).

Wallahu a’lam,
Semoga bermanfaat.

{Tulisan ke-6 dari 6 tulisan}


Info Buku:

● Alhamdulillah, telah terbit buku: Islam Solusi Setiap Permasalahan jilid 1.

Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, MAg: “Banyak hal yang dibahas dalam buku ini. Tapi, yang paling menarik bagi saya adalah dorongan untuk mempelajari Alquran dan hadis lebih luas dan mendalam, sehingga tidak mudah memandang sesat orang. Juga ajakan untuk menilai orang lebih berdasar kepada kitab suci dan sabda Nabi daripada berdasar nafsu dan subyektifitasnya”.

Buku jilid 1:

Buku jilid 1:
Buku: “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 378 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

● Buku “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1 ini merupakan kelanjutan dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” (jilid 1 s/d jilid 5). Berisi kumpulan artikel-artikel yang pernah saya sampaikan dalam kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah menjelang shalat tarawih/ba’da shalat tarawih, Khutbah Jum’at, kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus maupun kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook/whatsapp (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab, konsultasi, diskusi via email, facebook, sms, whatsapp, maupun media lainnya.

● Sebagai bentuk kehati-hatian saya dalam menyampaikan Islam, buku-buku religi yang saya tulis, biasanya saya sampaikan kepada guru-guru ngajiku untuk dibaca + diperiksa. Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz adalah salah satu diantaranya. Beliau adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Unsur Ketua MUI Jatim, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia 2009-2013, Dekan Fakultas Dakwah 2000-2004/Guru Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 2004 - sekarang.

_____

Assalamu'alaikum wr. wb.

● Alhamdulillah, telah terbit buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5.

● Buku jilid 5 ini merupakan penutup dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan jilid 4.

Buku Jilid 5

Buku Jilid 5
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-29-3

Buku Jilid 4

Buku Jilid 4
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 4: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-28-6

Buku Jilid 3

Buku Jilid 3
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 3: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 396 halaman, ISBN 978-602-5416-27-9

Buku Jilid 2

Buku Jilid 2
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 324 halaman, ISBN 978-602-5416-26-2

Buku Jilid 1

Buku Jilid 1
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 330 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

Keterangan:

Penulisan buku-buku di atas adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini: ”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞