بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau melalui 'kotak komentar' yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.)

Minggu, 01 November 2009

MAKNA SEBUAH JABATAN

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Mas Fulan adalah seorang pemuda alumnus sebuah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) terkemuka di sebuah kota di Propinsi Jawa Tengah yang saat ini telah menjadi staf pengajar/dosen di kampus yang sama. Sebagai seorang dosen, hari-hari dia lalui dengan kegiatan-kegiatan mengajar, membimbing praktikum, membimbing serta menguji tugas akhir/skripsi, mengikuti seminar, dll.

Setelah berjalan beberapa tahun, karier Mas Fulan-pun semakin menanjak. Dimulai saat tahun ketiga menjadi dosen, Mas Fulan mulai dipercaya untuk menduduki jabatan Ketua Jurusan. Selanjutnya pada tahun keempat, Mas Fulan telah dipercaya untuk menduduki jabatan Pembantu Dekan III (Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan). Tidak lama setelah itu, Mas Fulan juga telah dipercaya untuk menduduki jabatan Pembantu Dekan I (Bidang Akademik, Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat). Dan pada puncaknya – ketika memasuki tahun kedelapan – Mas Fulan-pun telah terpilih sebagai Dekan termuda di kampus tempat Mas Fulan bekerja.

Tentu saja, karier Mas Fulan yang terbilang cemerlang tersebut tidak diperoleh begitu saja. Dengan kerja ekstra keras dan penuh semangat – dan tentu saja juga menyita banyak waktu – akhirnya semuanya telah dapat berjalan dengan lancar.

Terlebih lagi saat Mas Fulan ikut berkompetisi dalam pemilihan dekan beberapa waktu yang lalu. Menghadapi persaingan yang begitu ketat, hal ini telah memaksa Mas Fulan untuk bekerja ekstra keras. Begitu banyak waktu yang tersita, hingga membuat aktivitas dakwahnya menjadi terabaikan. Yah..., benar-benar proses yang sangat melelahkan.

Kepada Mas Nafil – salah seorang sahabatnya – Mas Fulan telah menceriterakan “kesuksesannya” dalam pemilihan dekan beberapa waktu yang lalu. Mendengar hal itu, Mas Nafil-pun menyampaikan nasehatnya kepada Mas Fulan:

“Wuaduh, yah.... semuanya itu tergantung dari cara pandangmu juga nich. Kalau jabatan itu menurutmu adalah ladangmu, maka kerja keras telah menunggumu dengan berbagai resiko yang mungkin juga akan melibatkan banyak orang di sekitarmu. Baik dan buruknya akan tertanggung bersama. Tetapi belum pasti akan terlihat begitu. Inilah amanat yang berat sebagai pejabat. Itu tuh, seperti yang pernah kau ceritakan sebelumnya tentang besarnya ombak dan gelombang pasang yang harus dihadapi. Belum lagi arus air dan angin yang mungkin juga kadang searah dan kadang berlawanan dengan arah perjalanan. Yah, untuk pandangan yang ini saya hanya bisa mendoakan "Semoga selamat di perjalanan dan sampai ke tujuan".

Lain halnya bila jabatan itu kau pandang sebagai fitnah, maka bersabarlah. Allah akan senantiasa bersama-sama dengan hamba-Nya yang sabar bukan? Maka Dia akan menjadi penolongmu. Insya Allah. ”Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. Al Anfaal. 46).

”Yang jangan sampai terjadi padamu adalah memandang jabatan ini sebagai prestasi atau kebanggaan. Karena dia akan menjauhkanmu dari pertolongan-Nya. Pandanganmu akan terbatasi oleh gemerlapnya fasilitas dunia yang menyibukkan dan melenakan. Dan pada akhirnya memabukkanmu kepada kecintaan yang semu dan membinasakan”.

Tak lupa, Mas Nafil juga berdo’a: ”Semoga selamat, tetaplah berpegang pada tali-Nya yang tak mungkin putus kecuali kau sendiri melepaskannya”.

”Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan”. (QS. Luqman. 22).

Mendengar nasehat serta do’a dari Mas Nafil tersebut, Mas Fulan-pun menyampaikan rasa terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada Mas Nafil, yang telah mengingatkannya akan makna sebuah jabatan. Hampir-hampir saja Mas Fulan tergelincir, karena telah memandang jabatan tersebut sebagai sebuah prestasi serta kebanggaan. Kepada sahabatnya tersebut, Mas Fulan mengatakan:

“Saudaraku yang baik...,
Beribu ucapan terimakasih ’kusampaikan kepada saudaraku, atas nasehat yang telah diberikan. Semoga Allah membalas jasa baik saudaraku”.

“Saudaraku...,
Aku melihat, bahwa ketiga jenis pandangan tentang suatu jabatan yang saudaraku sampaikan itu adalah benar adanya”.

“Untuk pandangan pertama dan kedua, semoga Allah senantiasa membimbingku sehingga aku dapat selamat di perjalanan dan sampai ke tujuan. Semoga Allah juga senantiasa memberikan kemampuan kepadaku untuk senantiasa bersabar terhadap segala fitnah yang mungkin terjadi”.

“Dan yang paling aku khawatirkan, tentunya adalah pandangan ketiga. Semoga Allah tetap membukakan mata hatiku, sehingga pandanganku tidak sampai terbatasi oleh gemerlapnya fasilitas duniawi yang menyibukkan dan melenakan, yang pada akhirnya dapat memabukkanku kepada kecintaan yang semu dan membinasakan”.

”Sebagian upaya yang aku lakukan, antara lain: meskipun aku akan mendapat fasilitas rumah dinas, mobil dinas + sopir beserta biaya operasionalnya, aku tidak akan manfaatkan semuanya kecuali jika benar-benar diperlukan (misal: ketika ada kunjungan kerja dengan sesama dekan dari perguruan tinggi lain). Untuk rumah dinas, bisa digunakan oleh teman-teman dosen yang memerlukan menginap di sana. Sedangkan untuk mobil dinas, biar digunakan untuk operasional fakultas sehingga utilitasnya lebih optimal”.

“Sedangkan untuk hubungan pergaulan dengan sesama dosen/sesama teman lainnya, insya Allah aku akan berupaya untuk tidak berubah. Jika dulu teman, sekarang juga tetap teman (kecuali jika berkaitan dengan masalah pekerjaan). Aku tidak ingin ada sekat yang dapat membuat hubungan pertemanan/persaudaraan ini menjadi renggang. Lebih dari itu, jika aku sudah terbiasa dihormati, aku khawatir hal ini malah menjadi bumerang bagiku yang pada akhirnya dapat memabukkanku kepada kecintaan yang semu dan membinasakan. Semoga aku dapat selamat, dan tetap dapat berpegang teguh pada tali-Nya. Amin...!”

Saudaraku semuanya…,
Semoga kita semua dapat memetik hikmah dari kisah di atas. Sebagai sesama muslim, memang sudah semestinya jika diantara kita saling mengingatkan serta saling memberi nasehat. Dengan saling memberi dan mengingatkan, semoga kita tidak termasuk golongan orang-orang yang merugi. sebagaimana penjelasan Al Qur’an berikut ini: “Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. 103. 2-3).

Sedangkan dalam ayat yang lain, diperoleh keterangan sbb: ”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,”. (QS. Ali ’Imran. 104 – 105).


Semoga bermanfaat!

NB.
- Mas Fulan dan Mas Nafil pada kisah di atas hanyalah nama fiktif belaka. Mohon ma’af jika secara kebetulan ada kemiripan nama dengan kisah di atas.
- Ucapan terima kasih disampaikan kepada Bang Eko Pramunanto atas masukannya pada tulisan ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞

Saudaraku…,
Bagaimanapun sampai saat ini aku benar-benar menyadari bahwa wawasan ilmuku masih sangat terbatas. Oleh karena itu, ada baiknya jika saudaraku juga bertanya kepada 'alim/'ulama’ di sekitar saudaraku tinggal. Semoga saudaraku bisa mendapatkan penjelasan/jawaban yang lebih memuaskan. Karena bagaimanapun juga, mereka (para 'ulama') lebih banyak memiliki ilmu dan keutamaan daripada aku. (Imron Kuswandi
M.)