بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Kamis, 05 Agustus 2010

BERBUAT BAIK ATAU JAHAT, HAL ITU ADALAH BAGI DIRI KITA SENDIRI


JIKA KITA BERBUAT BAIK SESUNGGUHNYA KITA TELAH BERBUAT BAIK BAGI DIRI KITA SENDIRI, DAN JIKA KITA BERBUAT KEJAHATAN SESUNGGUHNYA KEJAHATAN ITU ADALAH BAGI DIRI KITA SENDIRI

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Pada saat ini, (mungkin) kita dengan mudah bisa menyaksikan, betapa begitu banyak orang yang menghadapi problematika kehidupan ini dengan nafsu belaka. Ditambah dengan keserakahannya, hal ini telah membuat mereka dengan mudahnya berbuat aniaya kepada pihak lain.

Memang...,
Sepertinya dengan mengurangi timbangan, sang pedagang dapat mengeruk keuntungan lebih besar dengan mudah. Juga, sepertinya dengan melakukan kecurangan via KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) atau cara lainnya, sang pelamar kerja dapat memperoleh pekerjaan dengan mudah. Juga, sepertinya dengan melakukan korupsi, sang karyawan dapat memperoleh tambahan penghasilan dengan mudah. Dan sepertinya dengan melakukan KKN atau cara lainnya, sang karyawan dapat memperoleh promosi jabatan dengan mudah. Demikian seterusnya.

Namun ketahuilah, bahwa sesungguhnya mereka semuanya telah berbuat aniaya terhadap diri mereka sendiri.

Karena...,
Pada saat seorang pedagang mengurangi timbangan, maka pada saat itu pula dia telah mengambil sebagian barang yang menjadi hak pembeli secara tidak halal. Dalam hal ini, pada hakekatnya sang pedagang hanyalah “meminjam” barang tersebut dari pemilik yang syah (pembeli). Dan karena hanya meminjam, maka dia tetap harus mengembalikan barang yang “dipinjamnya” kepada pemiliknya.

Rasulullah SAW. bersabda:
لَا يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلَّا بِطِيْبِ نَفْسٍ مِنْهُ. (رواه ابو داود)
“Tidak halal harta seorang muslim kecuali dengan kerelaan dari dirinya.” (HR. Abu Dawud)

Jika dia tidak bersedia untuk mengembalikannya ketika masih hidup di dunia ini (atau minta dihalalkan), maka kelak di akhirat nanti dia tetap harus mengembalikannya.

Rasulullah SAW. bersabda:
مَنْ كَانَ عِنْدَهُ لِأَخِيْهِ مَظْلَمَةٌ فَلْيَتَحَلَّلْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُوْنَ دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا. إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْ حَسَناَتِهِ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٍ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ. (رواه البخارى)
“Siapa yang memiliki kezaliman terhadap saudaranya, hendaklah ia meminta kehalalan saudaranya tersebut pada hari ini, sebelum datang suatu hari saat tidak berlaku lagi dinar dan tidak pula dirham. Jika ia memiliki amal saleh, akan diambil dari kebaikannya sesuai dengan kadar kezaliman yang diperbuatnya lalu diserahkan kepada orang yang dizaliminya. Apabila ia tidak memiliki kebaikan, akan diambil kejelekan saudaranya yang dizaliminya lalu dibebankan kepadanya.” (HR. al-Bukhari)

Jika sudah demikian, jelaslah bahwa hal ini merupakan suatu kesulitan yang tiada tara, sangat tidak sebanding dengan sedikit kesenangan yang dia peroleh saat mengambil sebagian hak pembeli tersebut. Jika sudah demikian adanya, bukankah dia telah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri...?

Demikian juga halnya ketika seorang pelamar kerja melakukan kecurangan via KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) atau cara lainnya, demi memperoleh suatu pekerjaan dengan mudah. Maka pada saat itu pula dia telah merampas pekerjaan dari pelamar lain yang lebih berhak. Dalam hal ini, pada hakekatnya dia hanyalah “meminjam” pekerjaan tersebut (beserta hak-hak yang melekat pada pekerjaan tersebut) dari pemiliknya yang syah. Dan karena hanya meminjam, maka dia tetap harus mengembalikan pekerjaan yang “dipinjamnya” kepada pemiliknya. Jika dia tidak bersedia untuk mengembalikannya ketika masih hidup di dunia ini (atau minta dihalalkan), maka kelak di akhirat nanti dia tetap harus mengembalikannya. Dan hal ini merupakan suatu kesulitan yang tiada tara, sangat tidak sebanding dengan sedikit kesenangan yang dia peroleh dari pekerjaan tersebut. Jika sudah demikian adanya, bukankah dia telah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri...?

Demikian juga halnya ketika seorang karyawan melakukan korupsi, demi memperoleh ”tambahan penghasilan” dengan mudah. Maka pada saat itu pula sang karyawan telah mengambil uang negara / uang perusahaan secara tidak halal. Dalam hal ini, pada hakekatnya karyawan tersebut hanyalah “meminjam” uang negara / uang perusahaan tersebut. Dan karena hanya meminjam, maka dia tetap harus mengembalikan uang yang “dipinjamnya” kepada pemiliknya. Jika dia tidak bersedia untuk mengembalikannya ketika masih hidup di dunia ini, maka kelak di akhirat nanti dia tetap harus mengembalikannya. Dan hal ini merupakan suatu kesulitan yang tiada tara, sangat tidak sebanding dengan sedikit kesenangan yang dia peroleh dari ”tambahan penghasilan” tersebut. Jika sudah demikian adanya, bukankah dia telah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri...?

Hal yang sama juga terjadi pada saat seorang karyawan melakukan kecurangan via KKN atau cara lainnya, demi memperoleh promosi jabatan dengan mudah. Maka pada saat itu pula dia telah merampas jabatan dari rekannya yang lebih berhak. Dalam hal ini, pada hakekatnya dia hanyalah “meminjam” jabatan tersebut (beserta hak-hak yang melekat pada jabatan tersebut) dari pemiliknya yang syah. Dan karena hanya meminjam, maka dia tetap harus mengembalikan jabatan yang “dipinjamnya” kepada pemiliknya. Jika dia tidak bersedia untuk mengembalikannya ketika masih hidup di dunia ini, maka kelak di akhirat nanti dia tetap harus mengembalikannya. Dan hal ini merupakan suatu kesulitan yang tiada tara, sangat tidak sebanding dengan sedikit kesenangan yang dia peroleh dari pekerjaan tersebut. Jika sudah demikian adanya, bukankah dia telah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri...? Demikian seterusnya.

”Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang (syaitan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya?” (QS. Muhammad. 14).

”Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa". (QS. Thaahaa. 16). Semoga bermanfaat!

Sebaliknya...,
Sepertinya dengan berlaku jujur dalam timbangan, sang pedagang hanya mendapatkan keuntungan yang sedikit. Juga, sepertinya dengan bersaing secara fair, sang pelamar kerja akan lebih sulit untuk memperoleh pekerjaan. Juga, sepertinya dengan berlaku amanah, sang karyawan akan lebih sulit untuk memperoleh tambahan penghasilan. Dan sepertinya dengan berlaku jujur serta bersaing secara fair, sang karyawan juga akan lebih sulit untuk memperoleh promosi jabatan. Demikian seterusnya.

Namun ketahuilah, bahwa ketika mereka berbuat kebaikan, maka sesungguhnya mereka telah berbuat kebaikan untuk diri mereka sendiri

Saudaraku…,
Dengan berlaku jujur dalam timbangan, dengan bersaing secara fair, serta dengan berlaku amanah dalam segala hal (dan seterusnya), hal itu menunjukkan bahwa mereka semuanya hanya berharap kepada Allah semata. Dia menyandarkan seluruh hidupnya hanya kepada-Nya. Karena dia menyadari, bahwa: “Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (QS. 112. 2). Karena “Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS. Al Anfaal. 40).

Menyadari hal itu, maka mereka senantiasa berupaya untuk selalu bertakwa kepada-Nya, selalu berupaya untuk menjalankan semua perintah-Nya serta menjauhi semua larangan-Nya. Dia juga senantiasa berdzikir / ingat kepada-Nya serta setiap saat memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya serta senantiasa berbaik sangka kepada-Nya. Karena Dia adalah Pelindungnya dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. “Dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Tahriim. 2).

Sebagai ilustrasi, jika dia adalah pencari kerja, maka dia tidak akan berlaku curang. Dia akan berupaya secara maksimal sambil menyerahkan semuanya hanya kepada-Nya. Jika pada akhirnya dia diterima, maka dia akan bersyukur. Sedangkan jika ternyata gagal, dia akan bersabar dan tetap berprasangka baik kepada-Nya. Mungkin kegagalan itu hanyalah karena Allah akan memilihkan pekerjaan lain yang lebih baik / lebih cocok untuknya dibelakang hari.

Sedangkan jika yang bersangkutan adalah seorang karyawan, ketika ada promosi jabatan, maka dia juga tidak akan berupaya melakukan kecurangan demi memenuhi ambisinya untuk mendapatkan jabatan itu. Semuanya dia serahkan kepada-Nya. Yang lebih penting baginya adalah bekerja dengan baik, lillahi ta’ala. Jika kemudian dinilai pantas untuk menduduki jabatan itu, maka dia akan berupaya untuk menjalankannya dengan penuh amanah. Dan jika ternyata harus orang lain yang diberi kesempatan, maka dia akan tetap berprasangka baik kepada-Nya. Mungkin saja hal ini karena Allah berkehendak untuk meyelamatkannya dari fitnah yang menjerumuskan.

Demikian seterusnya…! Sehingga hal ini semua senantiasa membuat hidupnya menjadi tenang. Tidak dipenuhi oleh ambisi jahiliyah...!!!

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri”, (QS. Al Israa’. 7).

“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng`azab sebelum Kami mengutus seorang rasul”. (QS. Al Israa’. 15).

“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba (Nya)”. (QS. Fushshilat. 46).

“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan”. (QS. Al Jaatsiyah. 15).

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". (QS. Luqman. 12).

Semoga bermanfaat!

NB.
Ada baiknya juga untuk dibaca, artikel berikut ini (silahkan klik di sini): http://imronkuswandi.blogspot.com/2008/10/nilai-sebuah-kesalahan_26.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞

Saudaraku…,
Bagaimanapun sampai saat ini aku benar-benar menyadari bahwa wawasan ilmuku masih sangat terbatas. Oleh karena itu, ada baiknya jika saudaraku juga bertanya kepada 'alim/'ulama’ di sekitar saudaraku tinggal. Semoga saudaraku bisa mendapatkan penjelasan/jawaban yang lebih memuaskan. Karena bagaimanapun juga, mereka (para 'ulama') lebih banyak memiliki ilmu dan keutamaan daripada aku. (Imron Kuswandi
M.)