بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Sabtu, 05 Agustus 2017

TENTANG ORANG MUNAFIK (II)



Assalamu’alaikum wr. wb.

Seorang akhwat (mahasiswi S3 di Jerman) telah menyampaikan pesan via WhatsApp sebagai berikut:

Saya terus terang masih belum faham tentang munafik. Munafik ini kan pekerjaan hati. Walau Allah melalui hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (telah) memberitahukan ciri-ciri orang munafik, tapi kita tidak tahu pasti kan, apakah benar ada kemunafikan di hati seseorang.

Di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, setahu saya yang tahu persis siapa-siapa yang munafiq di antara para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seorang sahabat yang namanya saya lupa. Nah, yang jadi pertanyaan saya, bagaimana kita bisa memastikan jenazah (orang yang wafat) itu adalah jenazah orang munafiq? Pencerahan dong, bapak/ibu yang lebih tahu dan faham tentang hal ini? Terima kasih sebelumnya.

Tanggapan seorang akhwat lainnya (staf pengajar/dosen di Manado): “Munafik mengaku Islam tapi tidak percaya sama Al Qur’an. Salah satunya memilih Fulan*) sebagai gubernur, jelas munafik.

MARI KITA KAJI DISKUSI DI ATAS

Saudaraku,
Orang munafik adalah orang yang tidak beriman, namun berpura-pura beriman. Atau orang yang berpura-pura mengikuti ajaran agama Islam namun sebenarnya tidak mengakuinya dalam hatinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ؛ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ. (رواه البخارى ومسلم)
“Tanda orang munafik ada tiga: Jika bicara berdusta, jika diberi amanah berkhianat, dan jika berjanji menyelisihinya”. (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Meskipun Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjukkan tanda-tanda orang munafik, kita tidak boleh asal tuduh saja kepada orang lain yang dalam dirinya terdapat tanda-tanda tersebut. Sebagai ilustrasi: adanya mendung yang gelap, adalah tandanya mau turun hujan. Namun pada kenyataannya, belum tentu hujan benar-benar turun, meski tanda-tandanya sudah sangat jelas.

Saudaraku,
Ketahuilah, bahwa nifak itu ada dua macam, yaitu nifak kecil dan nifak besar.

Nifak kecil ialah berperilaku sebagaimana perilaku orang-orang munafik, seperti yang tersebut dalam hadits di atas, dengan tetap ada iman dalam hati. Nifak jenis ini tidak menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam, namun termasuk sarana menuju kekufuran. Jika perilaku-perilaku tersebut terus ia lakukan, tidak menutup kemungkinan ia akan terjerembab dalam kemunafikan.

Sedangkan jenis kedua ialah nifak besar atau nifak yang berkaitan dengan keyakinan, yaitu apabila seseorang menampakkan keimanan dan keislaman namun menyembunyikan kekufuran dalam hati. Cukup banyak ayat-ayat Al-Quran yang diturunkan untuk mencela dan mengkafirkan mereka yang memiliki sifat ini (nifak besar) serta mengabarkan bahwa orang yang memiliki sifat ini akan dikembalikan ke dalam kerak api neraka.

... إِنَّ اللهَ جَامِعُ الْمُنَـــٰـفِقِينَ وَالْكَـــٰــفِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا ﴿١٤٠﴾
“... Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam, (QS. An Nisaa’. 140).

إِنَّ الْمُنَـــٰـفِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا ﴿١٤٥﴾
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka”. (QS. An Nisaa’. 145).

Saudaraku,
Berdasarkan penjelasan di atas, maka sangat mudah dipahami bahwa akan sangat berbahaya jika kita asal tuduh saja kepada orang lain yang dalam dirinya terdapat tanda-tanda tersebut sebagai orang munafik, karena kita tidak tahu apa isi hati setiap manusia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan bahayanya tuduhan seperti ini dalam sebuah hadits berikut ini:

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا أَكْفَرَ رَجُلٌ رَجُلًا إِلَّا بَاءَ أَحَدُهُمَا بِهَا إِنْ كَانَ كَافِرًا وَإِلَّا كَفَرَ بِتَكْفِيْرِهِ. (روه ابن حبان)
“Tidaklah seseorang memvonis kafir (mengkafirkan) orang lain kecuali salah seorang dari keduanya kembali dengan hal tersebut. Apabila benar kafir (maka menuju kepada orang yang dikafirkannya tersebut), namun bila tidak, maka ia kafir dengan sebab pengkafirannya tersebut”. (HR. Ibnu Hibban).

Kecuali jika yang bersangkutan telah melakukan kemunafikan secara nyata, sebagaimana pernyataan Ibu Dosen dari Manado di atas. Karena Allah telah berfirman dalam surat An Nisaa’ ayat 138 – 139 berikut ini:

بَشِّرِ الْمُنَـــٰـفِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا ﴿١٣٨﴾ الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَـــٰــفِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِندَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلّٰهِ جَمِيعًا ﴿١٣٩﴾
(138) “Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih”, (139) “(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah”. (QS. An Nisaa’. 138 – 139).

Bahkan terhadap orang yang melakukan kemunafikan secara nyata tersebut, Allah telah melarang kaum muslimin untuk menshalatkan jenazahnya, menguburkannya atau menziarahinya untuk selama-lamanya serta melarang pula untuk mendo’akannya.

وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰ أَحَدٍ مِّنْهُم مَّاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَىٰ قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُواْ بِاللهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُواْ وَهُمْ فَاسِقُونَ ﴿٨٤﴾
“Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendo`akan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik”. (QS. At Taubah. 84).

Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy): “Ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan salat jenazah atas kematian Ibnu Ubay (pemimpin orang-orang munafik), maka turunlah firman-Nya: (Dan janganlah kamu sekali-kali menyalatkan jenazah seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri di kuburnya) untuk keperluan menguburkannya atau menziarahinya. (Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik) yaitu dalam keadaan kafir”.

Demikian yang bisa kusampaikan. Mohon koreksinya jika ada kekurangan/kesalahan.

Semoga bermanfaat.

NB.
*) Fulan (nama samaran/bukan nama sebenarnya) adalah salah satu calon gubernur non-muslim dalam Pilkada DKI Jakarta periode tahun 2017.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Info Buku

Assalamu'alaikum wr. wb.

Alhamdulillah buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur'an dan Hadits" Jilid 1 dan 2, telah dibaca & diperiksa oleh Prof. Dr. H. M. Ali Aziz, MAg.

Beliau adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Unsur Ketua MUI Jatim, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia 2009-2013, Dekan Fakultas Dakwah 2000-2004/Guru Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 2004 - sekarang.

Penulisan buku tersebut adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini:

”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Jilid 1:

Jilid 1:
Jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 330 halaman, ISBN: 978-602-396-004-0

Jilid 2:

Jilid 2:
Jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 324 halaman, ISBN: 602-396-005-7

Buku tersebut (Jilid 1 dan Jilid 2) merupakan kumpulan artikel yang pernah kusampaikan dalam ceramah/kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah ba’da shalat tarawih, ceramah/kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus/kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab/konsultasi/diskusi via email/facebook/sms/media lainnya.

Artikel-artikel tersebut telah dihimpun menjadi 13 bab yang disusun secara berurutan mulai dari bab awal yang membahas tentang kebenaran Al Qur'an serta kebenaran Agama Islam dengan harapan dapat memperkuat pondasi keimanan kita, hingga membahas berbagai problematika kehidupan sehari-hari dan diakhiri dengan bab yang membahas tentang kehidupan sesudah mati. Ditambah dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, diharapkan hal ini dapat menambah wawasan bagi yang ingin belajar banyak tentang nilai-nilai keislaman yang lebih dalam.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke sini: imronkuswandi@gmail.com atau via inbox (facebook) di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

____________________

Alhamdulillah, saat ini telah terbit buku:Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” Jilid 3. Buku jilid 3 ini merupakan kelanjutan dari buku jilid 1 dan jilid 2.

Jilid 3:

Jilid 3:
Jilid 3: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 396 halaman, ISBN: 978-602-006-4

Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Prof. Dr. H. M. Ali Aziz, M.Ag. yang telah memberi motivasi untuk menulis buku serta telah berkenan membaca dan memeriksa buku jilid 1 dan jilid 2 untuk kemudian memberikan banyak masukan dan kembali memotivasi untuk terus menulis buku-buku berikutnya. Dan alhamdulillah atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan penulisan buku jilid 3 ini.

Semoga karya yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi saudara sesama muslim. Dan semoga amal karya yang sederhana ini dapat diterima Allah SWT. sebagai amal kebajikan, sehingga dapat menambah ketakwaan kepada-Nya. Amin, ya rabbal ‘alamin.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞