بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Selasa, 05 Juni 2018

TENTANG SEPUTAR LAFADZ DO’A



Assalamu’alaikum wr. wb.

Seorang akhwat (dosen sebuah perguruan tinggi negeri di Pontianak) telah men-share (membagikan) buku kumpulan do’a-do’a dalam format pdf via WhatsApp di sebuah grup dosen. Terkait hal itu, seorang akhwat yang lainnya memberi tanggapan bahwa menurut yang bersangkutan, buku kumpulan do’a-do’a tersebut rujukannya adalah sebuah buku yang banyak dipakai di kalangan syiah.

Terkait tanggapan tersebut, beliau (dosen sebuah perguruan tinggi negeri di Pontianak) telah menyampaikan pesan via WhatsApp sebagai berikut: “Pak Imron, mohon penjelasan tentang tuntunan dari Rasullullah untuk do’a-do’a pada bulan Ramadhan. Saya terlanjur share buku do’a di atas, tapi ternyata menurut akhwat tadi, rujukannya adalah buku syiah”.

Saudaraku,
Sebelum menanggapi pertanyaan tersebut, ketahuilah bahwa ibadah dalam Agama Islam itu ada yang disebut sebagai ibadah mahdhah (ibadah yang murni hubungan antara manusia dengan Allah), ada juga yang disebut sebagai ibadah ghairu mahdhah (ibadah yang bukan murni berhubungan secara langsung dengan Allah).
ü Ibadah mahdhah adalah ibadah yang tata caranya, tempatnya, waktunya, berapa banyaknya, dst. sudah ada ketetapan dari Al Qur’an maupun Hadits sehingga tidak ada celah kreatifitas bagi kita dalam melaksanakannya. Contoh: wudhu, tayammum, mandi suci dari hadats, adzan, iqamat, shalat, i’tikaf di masjid, puasa, haji, umrah, dll.
ü Ibadah ghairu mahdhah adalah ibadah yang ada perintahnya, namun tentang tata caranya, tempatnya, waktunya, berapa banyaknya, dst. tidak ada ketetapan dari Al Qur’an maupun Hadits sehingga terbuka kesempatan bagi kita untuk berkreasi dalam pelaksanaannya (biasanya terkait muammalah). Contoh: menuntut ilmu dan menyebarkannya, berdakwah/amar ma’ruf nahi munkar, dll.

Saudaraku,
Do’a sendiri adalah salah satu bentuk ibadah ghairu mahdhah. Sedangkan perintah untuk berdo’a itu telah Allah SWT. bebankan atas setiap muslim, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Al Mu'min ayat 60 berikut ini:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ﴿٦٠﴾
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (QS. Al Mu'min. 60).

Saudaraku,
Karena do’a termasuk ibadah ghairu mahdhah, maka do’a bisa disampaikan dalam bahasa apa saja (tidak harus dalam Bahasa Arab seperti halnya ibadah sholat), bisa dilakukan kapan saja (tidak harus dalam bulan Ramadhan seperti halnya ibadah puasa wajib Ramadhan/tidak harus di malam hari sebagaimana sholat tahajjud), bisa dilakukan dimana saja (tidak harus di tanah suci seperti halnya ibadah haji atau umrah), juga bisa dilakukan dalam jumlah berapa saja yaitu bisa banyak/lama maupun sedikit/pendek (tidak seperti sholat fardhu yang hanya lima waktu dalam sehari semalam/tidak seperti sholat ied yang hanya dua kali setahun), dst.

Saudaraku,
Meskipun do’a adalah salah satu bentuk ibadah ghairu mahdhah sehingga karenanya terbuka kesempatan bagi kita untuk berkreasi dalam pelaksanaannya, namun bukan berarti kita bisa sebebasnya/sesuka hati dalam berkreasi. Perhatikan penjelasan Al Qur’an dalam surat Al A’raaf ayat 55 berikut ini:

ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ ﴿٥٥﴾
Berdo`alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al A’raaf. 55).

Saudaraku,
Disamping harus dilakukan dengan berendah diri dan suara yang lembut pada saat berdo’a sebagaimana penjelasan pada bagian awal ayat 55 dari surat Al A’raaf, perhatikan pula bagian akhir ayat 55 dari surat Al A’raaf tersebut:

... إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ ﴿٥٥﴾
“... Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. (QS. Al A’raaf. 55).

Di bagian akhir ayat tersebut, Allah SWT menjelaskan bahwa Dia tidak menyukai orang-orang yang berbuat i’tida‘ (melampaui batas). Maknanya adalah melewati batasan syariat dan pedoman-pedoman yang semestinya harus dipatuhi.

Dalam surat Al Baqarah ayat 229, Allah SWT berfirman:

... تِلْكَ حُدُودُ اللهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ اللهِ فَأُوْلَـــٰـــئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ ﴿٢٢٩﴾
“... Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim”. (QS. Al Baqarah. 229).

Larangan berbuat melampaui batas tersebut berlaku umum, artinya mencakup seluruh perbuatan, termasuk larangan berbuat melampaui batas dalam berdoa.

Dari ‘Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

إنَّهُ سَيَكُونُ فِي هَذِهِ اْلأُمَّةِ قَوْمٌ يَعْتَدُونَ فِي الطَّهُورِ وَالدُّعَاءِ

Sesungguhnya aku pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh akan muncul kaum dari umat ini yang akan berbuat melampaui batas dalam berdoa dan bersuci”. (HR Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Maajah. Dishahîhkan oleh al Albâni dalam Shahîh Sunan Abu Dawud, no. 87).

Saudaraku,
Berikut ini beberapa contoh perbuatan melampaui batas (i’tida‘) dalam berdo’a:

1.  Berdo’a kepada selain Allah SWT.

Ini adalah jenis i’tida’ yang paling parah. Tidak ada i’tida’ yang lebih besar dan lebih parah daripada orang yang berdo’a kepada selain Allah atau mempersekutukan sesuatu dengan-Nya dalam berdo’a. Perhatikan firman Allah dalam surat Al Ahqaaf ayat 5 berikut ini:

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّن يَدْعُو مِن دُونِ اللهِ مَن لَّا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَىٰ يَومِ الْقِيَـــٰمَةِ وَهُمْ عَن دُعَائِهِمْ غَـــٰــفِلُونَ ﴿٥﴾
Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (do`a) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do`a mereka? (QS. Al Ahqaaf. 5).

2.  Berdo’a kepada Allah untuk perkara yang haram

Berdo’a kepada Allah untuk perkara yang haram (perkara yang tidak diperbolehkan), seperti memohon pertolongan untuk melakukan perbuatan haram dan mengerjakan kemaksiatan.

... فَقَدْ سَأَلُواْ مُوسَىٰ أَكْبَرَ مِن ذَٰلِكَ فَقَالُواْ أَرِنَا اللهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْهُمُ الصَّـــٰـعِقَةُ بِظُلْمِهِمْ ... ﴿١٥٣﴾
“... Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: "Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata". Maka mereka disambar petir karena kezalimannya, ...”. (QS. An Nisaa’. 153).

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لا يُقبَلَ إِلَّا طَيِّبًا ... (رواه مسلم)
“Wahai manusia, sesungguhnya Allah ta’ala adalah Maha Baik, tidak menerima kecuali yang baik, ...” (HR. Muslim).

3. Memohon kepada Allah sesuatu yang tidak mungkin dikabulkan oleh Allah karena bertentangan dengan sifat hikmah-Nya.

Seperti berdo’a/memohon kepada Allah agar hidup terus-menerus hingga ke alam akhirat (tanpa mengalami kematian). Hal seperti ini mustahil dikabulkan oleh Allah, karena Allah telah berjanji dalam Al Qur’an surat Ali ’Imran ayat 185:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ ... ﴿١٨٥﴾
”Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. ...”. (QS. Ali ‘Imran. 185).

Adalah mustahil bagi Allah untuk menghidupkan seorang manusia terus menerus hingga ke alam akhirat (tidak mengalami kematian), meskipun Allah bisa melakukannya. Karena Allah adalah Tuhan Yang Maha Menepati Janji.

... لَا يُخْلِفُ اللهُ وَعْدَهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ ﴿٦﴾
“... Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. Ar Ruum. 6).

Atau berdo’a/memohon sesuatu yang mestinya ditempuh dengan sebab-sebab namun yang bersangkutan enggan untuk melaksanakannya, seperti berdo’a/memohon agar dapat memperoleh anak tanpa menikah, berdo’a/memohon agar dapat hidup sehat tanpa makan dan minum, dst.

Atau berdo’a/memohon sesuatu yang tidak selayaknya, yang menjadi keistimewaan para nabi padahal dia bukan seorang nabi atau memohon sesuatu yang menjadi keistimewaan Allah subhanahu wa ta’ala seperti memohon agar diberi kemampuan untuk bisa mengetahui segala sesuatu atau berkuasa atas segala sesuatu atau memohon agar diperlihatkan sesuatu yang ghaib, dst.

4. Memohon derajat dan martabat yang tidak layak, sementara sunnatullah tidak memungkinkanya untuk dapat meraih hal tersebut. Seperti berdo’a/memohon menjadi malaikat, berdo’a/memohon menjadi nabi dan rasul. Atau berdo’a/memohon supaya menjadi muda kembali setelah memasuki usia tua, dst.

5. Berdoa kepada Allah tidak dengan tadharru’.

Saudaraku,
Tadharru’ berarti ketundukan diri yang sangat. Untuk menggambarkan hal ini, bayangkan seseorang yang tenggelam di tengah lautan dan yang dimilikinya hanyalah sebatang kayu agar tetap terapung. Ia menjadi semakin lemah dan semakin dekat pada kematian. Maka bisa dibayangkan bagaimana tatapan matanya yang penuh harapan menatap ke arah langit sambil berdo’a: Ya Robbi/wahai Tuhanku, Ya Robbi/wahai Tuhanku! Dalam kondisi seperti ini, bisa dibayangkan betapa putus-asanya dan betapa tulusnya ia berdo’a/memohon pertolongan kepada Allah.

Saudaraku,
Seperti itulah yang disebut dengan tadharru di hadapan Allah. Adapun lawan dari tadharru’ adalah sikap angkuh atau menyombongkan diri.

وَلَقَدْ أَرْسَلنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَأَخَذْنَـــٰــهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ ﴿٤٢﴾
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. (QS. Al An ‘aam. 42).

ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا ... ﴿٥٥﴾
“Berdo`alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri ...”. (QS. Al A’raaf. 55).

Saudaraku,
Demikianlah uraian singkat tentang seputar do’a, dimana karena do’a adalah salah satu bentuk ibadah ghairu mahdhah, maka terbuka kesempatan bagi kita untuk berkreasi dalam pelaksanaannya.

Meskipun demikian, bukan berarti kita bisa sebebasnya/sesuka hati dalam berkreasi. Dalam berdo’a, disamping harus dilakukan dengan berendah diri dan suara yang lembut, juga tidak boleh melampaui batas (melewati batasan syariat dan pedoman-pedoman yang semestinya harus dipatuhi), sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Al A’raaf ayat 55 di atas.

Sehingga sebenarnya tidak masalah do’a itu berasal dari siapa saja, apakah dari karangan sendiri atau karangan ulama atau orang lain, selama kandungannya masih sesuai dengan uraian di atas.

Sedangkan tentang penetapan do’a yang dikaitkan dengan waktu, seperti: do’a bulan Ramadhan hari ke-1 adalah seperti ini, do’a hari ke-2 adalah seperti ini, do’a hari ke-3 adalah seperti ini, dst., terkait hal seperti ini, kita harus lebih berhati-hati dalam menyikapinya. Artinya selama tidak ada dalil yang mendasarinya (baik dari Al Qur’an maupun Hadits), maka meyakini bahwa disunnahkan untuk membaca do’a hari ke-1 seperti ini, do’a hari ke-2 seperti ini, do’a hari ke-3 seperti ini, dst., sikap seperti ini bisa membawa kita tergelincir/jatuh dalam perkara bid’ah.

Diriwayatkan dari Jabir berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ. (رواه مسلم) 
“Kemudian daripada itu. Maka sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah Kitabullah. Dan sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan. Maka sesungguhnya setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap kebid’ahan adalah sesat.” (HR. Muslim)

Saudaraku,
Kita boleh-boleh saja merencanakan untuk berdo’a pada bulan Ramadhan hari ke-1 dengan do’a seperti ini, do’a hari ke-2 dengan do’a seperti ini, do’a hari ke-3 dengan do’a seperti ini, dst., baik itu atas keinginan sendiri atau merujuk pendapat orang lain, selama tidak meyakini bahwa disunnahkan untuk membaca do’a hari ke-1 seperti ini, do’a hari ke-2 seperti ini, do’a hari ke-3 seperti ini, dst., jika memang tidak ada dalil yang mendasarinya, agar kita tidak tergelincir/tidak jatuh dalam perkara bid’ah.

Sebagai penutup,
Meskipun do’a adalah salah satu bentuk ibadah ghairu mahdhah sehingga terbuka kesempatan bagi kita untuk berkreasi dalam pelaksanaannya, namun ketahuilah bahwa sesungguhnya do’a yang terbaik adalah do’a-do’a yang telah diajarkan/dicontohkan oleh Allah serta Rasul-Nya, yaitu do’a-do’a yang terdapat dalam Al Qur’an maupun Hadits.

Berikut ini adalah beberapa contoh do’a yang terdapat dalam Al Qur’an maupun Hadits:

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ﴿٥﴾
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau, Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Mumtahanah. 5).

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ ﴿٨﴾
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia). (Ali ‘Imran. 8).

رَّبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَــــٰنِ أَنْ ءَامِنُواْ بِرَبِّكُمْ فَئَامَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ ﴿١٩٣﴾
Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhan-mu", maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. (QS. Ali ‘Imran. 193).

رَبَّنَا وَءَاتِنَا مَا وَعَدتَّنَا عَلَىٰ رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَـــٰمَةِ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ ﴿١٩٤﴾
Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji. (QS. Ali ‘Imran. 194).

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ ﴿٤١﴾
Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mu'min pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)". (QS. Ibrahim. 41).

... رَبَّنَا إِنَّنَا ءَامَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿١٦﴾
... Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali ‘Imran. 16).


... رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ﴿٨﴾
... Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. At-Tahrim. 8).

... رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَـــٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ ﴿١٠﴾

... Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hasyr. 10).

... رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّـــٰــِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا ﴿٧٤﴾
... Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Furqan. 74).

... رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَـــٰسِرِينَ ﴿٢٣﴾
... Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Al-A’raaf. 23).

... رَبَّنَا ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿٢٠١﴾
... Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Al-Baqarah. 201).

وَيَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِك. (رواه الترمذى)   
“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan qalbu, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi).

أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ. (رواه الترمذى وأحمد)
“Ya Allah, aku memohon agar aku mencintai-Mu dan mencintai orang-orang yang mencintai-Mu serta mencintai semua amalan yang mendekatkanku kepada cinta kepada-Mu.” (HR. at-Tirmidzi dan Ahmad).

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَالْهَرَمِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ، اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا. (رواه مسلم)
“Ya Allah, seseungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, sifat penakut, sifat pelit, pikun, dan azab kubur. Ya Allah, berikanlah kepada jiwaku ketakwaannya dan sucikanlah dia. Engkaulah sebaik-baik Dzat Yang menyucikan, Engkaulah walinya dan maulanya. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, kalbu yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak merasa puas, dan do’a yang tidak terkabul.” (HR. Muslim)

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ
“Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati, kokohkanlah hatiku ini diatas agama-Mu.” (HR. Ibnu Abi Ashim dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha).

Demikian yang bisa kusampaikan. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku.

Semoga bermanfat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Info Buku:

Assalamu'alaikum wr. wb.

Alhamdulillah telah terbit buku "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur'an dan Hadits" jilid 5.

Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz, M.Ag. yang telah memberi motivasi untuk menulis buku serta telah berkenan membaca dan memeriksa buku jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan jilid 4, kemudian memberikan banyak masukan dan kembali memotivasi untuk terus menulis buku-buku berikutnya. Dan alhamdulillah atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, penulisan buku jilid 5 ini dapat terselesaikan.

Beliau (Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz, M.Ag.) adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Unsur Ketua MUI Jatim, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia 2009-2013, Dekan Fakultas Dakwah 2000-2004 / Guru Besar / Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 2004 - sekarang.

_____

Buku "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur'an dan Hadits" ini berisi kumpulan artikel-artikel yang pernah saya sampaikan dalam kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah menjelang shalat tarawih/ba’da shalat tarawih, kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus maupun kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook/whatsapp (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab, konsultasi, diskusi via email, facebook, sms, whatsapp, maupun media lainnya.

Semoga karya yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi saudara sesama muslim. Dan semoga amal karya yang sederhana ini dapat diterima Allah SWT. sebagai amal kebajikan, sehingga dapat menambah ketakwaan kepada-Nya. Amin, ya rabbal ‘alamin.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

Buku Jilid 5

Buku Jilid 5
Buku jilid 5: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-29-3

Buku Jilid 4

Buku Jilid 4
Buku jilid 4: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-28-6

Buku Jilid 3

Buku Jilid 3
Buku jilid 3: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 396 halaman, ISBN 978-602-5416-27-9

Buku Jilid 2

Buku Jilid 2
Buku jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 324 halaman, ISBN 978-602-5416-26-2

Buku Jilid 1

Buku Jilid 1
Buku jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 330 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

Keterangan:

Penulisan buku di atas adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini: ”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞