بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Sabtu, 01 Desember 2018

TAFSIRAN ORANG LIBERAL YANG SANGAT MEMBAHAYAKAN AQIDAH (I)



Assalamu’alaikum wr. wb.

Seorang akhwat (staf pengajar/dosen senior sebuah perguruan tinggi negeri terkemuka di Bandung, Jawa Barat) telah menyampaikan tulisan berikut ini:

Tafsiran orang liberal:
1. Jilbab          : Budaya Arab
2. Dakwah     : Arabisasi
3. Al Qur’an  : Produk budaya
4. Gay/lesbi   : Perbedaan orientasi seksual
5. Agama       : Cukup kita dengan Tuhan saja
6. Bela Islam  : Allah nggak perlu dibela
7. Kafir           : Tidak beragama
8. Allah          : Tuhan semua agama

Intinya: Al Qur’an itu wahyu campur pemikiran, jadi nggak wajib berjilbab, nggak wajib berdakwah, nggak perlu bela Islam, cukup perbaiki diri saja, diperbolehkan gay/lesbi, dan boleh pindah agama karena semua agama menyembah Allah juga.

Bahasanya manis dan akademis, pelan-pelan mengajak pindah agama.

Mari kita kaji hal-hal yang sangat membahayakan aqidah di atas

1. Jilbab adalah budaya Arab

Saudaraku,
Sebelum membahas apakah jilbab itu budaya Arab atau bukan, berikut ini kusampaikan terlebih dahulu pengertian tentang aurat.

Aurat adalah bagian dari tubuh (anggota badan) yang tidak boleh ditampakkan dan diperlihatkan (oleh lelaki maupun perempuan) kepada orang lain. Tidak boleh ditampakkan dan diperlihatkan kepada orang lain, artinya harus ditutupi dari pandangan orang lain dengan pakaian.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ، وَلَا الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ، وَلَا يُفْضِي الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ، وَلَا تُفْضِي الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةَ فِي الثَّوْبِ الْوَحِدِ. (رواه مسلم)
Janganlah seorang lelaki melihat aurat lelaki (lainnya), dan janganlah pula seorang wanita melihat aurat wanita (lainnya). Seorang pria tidak boleh bersama pria lain dalam satu kain, dan tidak boleh pula seorang wanita bersama wanita lainnya dalam satu kain.” (HR. Muslim).

Sedangkan dalam Al Qur’an surat Al A’raaf ayat 26, Allah telah berfirman:

يَا بَنِي ءَادَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْءَاتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ذَٰلِكَ مِنْ ءَايَـــٰتِ اللهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ ﴿٢٦﴾
Hai anak Adam1, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi `auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa2 itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. (QS. Al A’raaf. 26).

1)  Maksudnya ialah umat manusia.
2)  Maksudnya ialah selalu bertakwa kepada Allah. Sedangkan yang dimaksud dengan takwa ialah memelihara diri dari segala macam dosa-dosa yang mungkin terjadi, yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, tidak cukup diartikan dengan takut saja.

Saudaraku,
Perintah untuk menutup aurat juga terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud serta dalam Al Qur’an surat An Nuur ayat 31 dan surat Al Ahzab ayat 59 berikut ini:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتْ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا، وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ. (رواه ابو داود)
Dari Aisyah, dia berkata: Asma' binti Abu Bakar menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan memakai pakaian yang tipis, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpaling darinya dan berkata: “Wahai Asma' Jika wanita telah mengalami haid (baligh) maka dia tidak boleh memperlihatkan auratnya kecuali ini dan ini sambil, beliau memberi isyarat pada wajah dan kedua telapak tangan“. (HR. Abu Dawud).

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَـــٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَـــٰرِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَائِهِنَّ أَوْ ءَابَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَــــٰـــنُهُنَّ أَوِ التَّـــٰبِعِينَ غَيْرِ أُوْلِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿٣١﴾
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (QS. An Nuur. 31).

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَـــٰــبِيبِهِنَّ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا ﴿٥٩﴾
“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya3 ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”. (QS. Al Ahzab. 59).

3)  Yang dimaksud dengan jilbab adalah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada (catatan kaki no. 1233, Al Qur’an dan Terjemahnya, Departemen Agama Republik Indonesia).

Saudaraku,
Berdasarkan uraian di atas, jelaslah bahwa mengenakan jilbab sebagai pakaian dalam rangka untuk menutup aurat/menjaga aurat dari pandangan orang lain itu merupakan bagian dari risalah Islam karena memang ada dalil yang mendasarinya.

Bahkan karena begitu pentingnya menjaga aurat dalam agama Islam, sehingga seseorang diperbolehkan melempar dengan kerikil kepada orang yang berusaha melihat atau mengintip aurat keluarganya di rumahnya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَوْ اطَّلَعَ فِي بَيْتِكَ أَحَدٌ وَلَمْ تَأْذَنْ لَهُ خَذَفْتَهُ بِحَصَاةٍ فَفَقَأْتَ عَيْنَهُ مَا كَانَ عَلَيْكَ مِنْ جُنَاحٍ. (رواه البخارى)
Jika ada orang yang berusaha melihat (aurat keluargamu) di rumahmu dan kamu tidak mengizinkannya lantas kamu melemparnya dengan kerikil sehingga membutakan matanya maka tidak ada dosa bagimu. (HR. Al-Bukhari).

Pertanyaannya adalah: apakah kewajiban untuk menutup aurat/menjaga aurat dari pandangan orang lain itu hanya diperuntukkan bagi bangsa Arab saja sehingga penggunaan jilbab sebagai pakaian untuk menutup aurat/menjaga aurat dari pandangan orang lain juga hanya diperuntukkan bagi bangsa Arab saja yang dari sini kemudian bisa disimpulkan bahwa jilbab adalah budaya Arab?

Saudaraku,
Ketahuilah bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki banyak keistimewaan. Salah satu diantaranya adalah bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah untuk seluruh manusia. Sedangkan para Nabi sebelumnya hanya diutus untuk umatnya masing-masing. Perhatikan penjelasan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari berikut ini:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ وَجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ وَأُحِلَّتْ لِي الْمَغَانِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً. (رواه البخارى)
Dari Jabir bin Abdulloh, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Aku diberi (oleh Allah) lima perkara, yang itu semua tidak diberikan kepada seorang-pun sebelumku:
   Aku ditolong (oleh Allah) dengan kegentaran (musuh sebelum kedatanganku) sejauh perjalanan sebulan;
   Bumi (tanah) dijadikan untukku sebagai masjid (tempat sholat) dan alat bersuci (untuk tayammum-pen). Maka siapa saja dari umatku yang (waktu) sholat menemuinya, hendaklah dia sholat.
   Ghonimah (harta rampasan perang) dihalalkan untukku, dan itu tidaklah halal untuk seorangpun sebelumku.
   Aku diberi syafa’at (oleh Allah).
   Dan Nabi-Nabi dahulu (sebelumku) diutus khusus kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada manusia semuanya. (HR. Bukhari).

Perhatikan pula firman Allah dalam surat Al A’raaf ayat 158 berikut ini:

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ لَا إِلَــــٰـهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِـي وَيُمِيتُ فَئَامِنُواْ بِاللهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللهِ وَكَلِمَـــٰــتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ ﴿١٥٨﴾
Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk". (QS. Al A’raaf. 158).

Saudaraku,
Perintah Allah dalam surat Al A’raaf ayat 158 di atas, yaitu “Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua”, hal ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk seluruh manusia, sebagaimana firman Allah dalam surat Saba’ ayat 28 berikut ini:

وَمَا أَرْسَلْنَــــٰـكَ إِلَّا كَافَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَـــٰــكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ ﴿٢٨﴾
Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (QS. Saba’. 28).

Saudaraku,
Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah untuk seluruh manusia, maka itu artinya perintah untuk menutup aurat juga berlaku untuk seluruh manusia di seluruh dunia ini.

Hal ini sekaligus juga menunjukkan bahwa kewajiban untuk menutup aurat/menjaga aurat dari pandangan orang lain itu, tidak hanya diperuntukkan bagi bangsa Arab saja, namun berlaku untuk seluruh manusia (wanita) di seluruh dunia ini sehingga penggunaan jilbab sebagai pakaian untuk menutup aurat/menjaga aurat dari pandangan orang lain juga tidak hanya diperuntukkan bagi bangsa Arab saja yang dari sini kemudian bisa disimpulkan bahwa jilbab bukanlah semata-mata budaya Arab.

Yang benar adalah bahwa mengenakan jilbab sebagai pakaian dalam rangka untuk menutup aurat/menjaga aurat dari pandangan orang lain itu merupakan bagian dari risalah Islam dan hal ini berlaku tidak hanya bagi bangsa Arab saja, namun berlaku untuk seluruh manusia (wanita) di seluruh dunia ini.

2. Dakwah adalah Arabisasi

Saudaraku,
Berdakwah bermakna menghimbau/menyeru kepada umat manusia untuk melaksanakan segala apa yang Allah Ta’ala perintahkan dan meninggalkan semua yang dilarang-Nya. Sedangkan kewajiban untuk berdakwah itu telah Allah bebankan atas setiap muslim, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini:

يَــــٰــبُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَوٰةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ ﴿١٧﴾
”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Saudaraku,
Perintah untuk berdakwah juga terlihat jelas dalam dua ayat berikut ini:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَــٰـــئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ﴿١٠٤﴾
”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. (QS. Ali ’Imran. 104).

يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُسَــٰرِعُونَ فِي الْخَيْرَٰتِ وَأُوْلَـــٰــئِكَ مِنَ الصَّـــٰـلِحِينَ ﴿١١٤﴾
”Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan mereka menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh”. (QS. Ali ’Imran. 114).

Saudaraku,
Dari uraian di atas, jelaslah bahwa berdakwah itu merupakan bagian dari risalah Islam yang mana kewajiban untuk berdakwah itu telah Allah bebankan atas setiap muslim (tidak hanya berlaku bagi bangsa Arab saja).

Nah, karena berdakwah itu merupakan bagian dari risalah Islam dimana kewajiban untuk berdakwah itu telah Allah bebankan atas setiap muslim di seluruh dunia ini (artinya tidak hanya berlaku bagi bangsa Arab saja), maka tafsiran orang liberal yang menyatakan bahwa dakwah adalah Arabisasi, benar-benar merupakan tafsiran/tuduhan yang sama sekali tidak berdasar.

3. Al Qur’an  adalah produk budaya

Saudaraku,
Ketahuilah bahwa budaya atau kebudayaan itu berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal), diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. (http://www.gurupendidikan.co.id/pengertian-budaya-menurut-para-ahli-beserta-definisi-dan-unsurnya/ ).

Saudaraku,
Ketahuilah pula bahwa sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar datang dari Allah SWT, Tuhan semesta alam. Perhatikan penjelasan Allah dalam beberapa ayat berikut ini:

وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَـــٰـلَمِينَ ﴿١٩٢﴾
”Dan sesungguhnya Al Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam”, (QS. Asy Syu’araa’. 192).

وَإِنَّكَ لَتُلَقَّى الْقُرْءَانَ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ عَلِيمٍ ﴿٦﴾
”Dan sesungguhnya kamu benar-benar diberi Al Qur'an dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui”. (QS. An Naml. 6).

تَنْزِيلُ الْكِتَـــٰبِ مِنَ اللهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ ﴿٢﴾
”Diturunkan Kitab ini dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al Ahqaaf. 2).

Saudaraku,
Sesungguhnya Al Qur’an itu telah diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi, yang diturunkan kepada kita penuh dengan berkah supaya kita memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.

قُلْ أَنزَلَهُ الَّذِي يَعْلَمُ السِّرَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِنَّهُ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا ﴿٦﴾
”Katakanlah: "Al Qur'an itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al Furqaan. 6).

تَنزِيلُ الْكِتَـــٰبِ مِنَ اللهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ ﴿١﴾
”Kitab (Al Qur'an ini) diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Az Zumar. 1).

تَنزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ ﴿٢﴾
”Diturunkan Kitab ini (Al Qur'an) dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”, (QS. Al Mu’min. 2).

كِتَـــٰبٌ أَنزَلْنَـــٰـهُ إِلَيْكَ مُبَـــٰــرَكٌ لِّيَدَّبَّرُواْ ءَايَـــٰــتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الْأَلْبَـــٰـبِ ﴿٢٩﴾
”Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran”. (QS. Shaad. 29).

Saudaraku,
Jika sekiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah kita akan mendapati adanya pertentangan yang banyak di dalamnya.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلَـــٰــفًا كَثِيرًا ﴿٨٢﴾
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”. (QS. An Nisaa’. 82).

وَمَا كَانَ هَــٰــذَا الْقُرْءَانُ أَن يُفْتَرَىٰ مِن دُونِ اللهِ وَلَـــٰـكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ الْكِتَـــٰبِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِن رَّبِّ الْعَـــٰـلَمِينَ ﴿٣٧﴾
“Tidaklah mungkin Al Qur'an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Qur'an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya4, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam”. (QS. Yunus. 37).

4)  Maksudnya: Al Qur’an itu menjelaskan secara terperinci hukum-hukum yang telah disebutkan dalam Al Qur’an itu pula.

Saudaraku,
Al Qur’an yang begitu tinggi nilainya tersebut, hanya mungkin dibuat oleh Allah dan tidak mungkin dibuat oleh manusia (termasuk jin) yang pengetahuannya teramat sangat terbatas.

... وَمَا أُوتِيتُم مِّن الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا ﴿٨٥﴾
“... dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (QS. Al Israa’. 85).

Nah karena terbatasnya ilmu yang dimiliki, maka seandainya manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur'an (kitab suci yang benar-benar datang dari Allah, Tuhan yang ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu), niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Al Qur'an, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.

قُل لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَن يَأْتُواْ بِمِثْلِ هَـــٰـذَا الْقُرْءَانِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا ﴿٨٨﴾
“Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain". (QS. Al Israa’. 88).

Tantangan ini (sebagaimana termaktub dalam surat Al Israa’ ayat 88 di atas) telah disampaikan lebih dari 14 yang lalu, dan ternyata sampai sekarang (dan hingga hari akhir nanti) tetap terbukti bahwa tidak ada satupun yang dapat membuat yang serupa dengan Al Qur’an.

Saudaraku,
Dari fakta-fakta tersebut, maka dengan mudah dapat disimpulkan bahwa tafsiran orang liberal yang menyatakan bahwa Al Qur’an adalah produk budaya, benar-benar merupakan tuduhan yang sama sekali tidak berdasar alias fitnah yang sangat keji.

Penjelasan tambahan

Pada tulisan tersebut, juga tertulis bahwa: “Al Qur’an itu wahyu campur pemikiran”. Dan sekali lagi, hal ini juga merupakan tuduhan yang sama sekali tidak berdasar alias fitnah yang sangat keji.

Saudaraku,
Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah-lah yang telah menurunkan Al Qur'an dan Allah pula yang memeliharanya.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَـــٰــفِظُونَ ﴿٩﴾
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya5.” (QS. Al Hijr. 9).

5)  Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Qur’an untuk selama-lamanya.

Saudaraku,
Ketahuilah bahwa sesungguhnya ayat-ayat Al Qur’an itu terpelihara dalam dada dengan dihapal oleh banyak kaum muslimin secara turun-temurun dan dipahami oleh mereka sehingga tidak akan pernah ada seorangpun yang dapat mengubahnya.

بَلْ هُوَ ءَايَــــٰتٌ بَيِّنَـــٰتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِئَايَــــٰـتِنَا إِلَّا الظَّـــٰـلِمُونَ ﴿٤٩﴾
“Sebenarnya, Al Qur'an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu6. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim”. (QS. Al ‘Ankabuut. 49).

6)  Maksudnya ialah: bahwa ayat-ayat Al Qur’an itu terpelihara dalam dada dengan dihapal oleh banyak kaum muslimin turun-temurun dan dipahami oleh mereka, sehingga tidak ada seorangpun yang dapat mengubahnya.

وَاتْلُ مَآ أُوحِيَ إِلَيْكَ مِن كِتَابِ رَبِّكَ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَــٰــتِهِ وَلَن تَجِدَ مِن دُونِهِ مُلْتَحَدًا ﴿٢٧﴾
“Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhan-mu (Al Qur'an). Tidak ada (seorangpun) yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain daripada-Nya”. (QS. Al Kahfi. 27)

Lebih dari itu semua, Al Qur'an juga tetap mempertahankan bahasa aslinya, yaitu Bahasa Arab.

إِنَّا أَنزَلْنَـــٰهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ ﴿٢﴾
“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur'an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya”. (QS. Yusuf. 2).

إِنَّا جَعَلْنَــٰهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ ﴿٣﴾
“Sesungguhnya Kami menjadikan Al Qur'an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami-(nya)”. (QS. Az Zukhruf. 3).

Pada kedua ayat tersebut, Allah sendiri yang memberikan kesaksian bahwa Al Qur’an itu Dia turunkan dalam Bahasa Arab. Dan terbukti sejak dahulu hingga sekarang bahkan hingga hari kiamat nantinya, Al Qur’an akan tetap mempertahankan bahasa aslinya.

Al Qur’an walaupun sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa, namun tetap didampingi dengan bahasa aslinya yaitu Bahasa Arab. Hal ini bisa kita buktikan, bahwa kemanapun kita pergi di seluruh permukaan bumi ini, pasti akan kita jumpai terjemahan Al Qur’an yang didampingi dengan Bahasa Arab. Jadi kita tidak akan menjumpai adanya satu kitab yang hanya berisi terjemahan Al Qur’an saja, tanpa disandingkan dengan Al Qur’an dalam bahasa aslinya yaitu Bahasa Arab.

Kondisi seperti ini jelas akan memudahkan umat Islam untuk mengecek apabila terjadi kesalahan dalam terjemahannya, karena dengan mudah bisa merujuk langsung ke dalam Al Qur’an asli yang berbahasa Arab sebagai standard. (Sebuah kitab dari waktu ke waktu akan selalu mengalami perubahan, jika tidak ada lagi kitab berbahasa asli sebagai standard untuk mengecek apabila terjadi kesalahan dalam terjemahannya).

Saudaraku,
Tidak ada satu-pun kitab suci di dunia ini yang susunan redaksinya benar-benar sama untuk semua edisi di seluruh dunia dan di sepanjang masa. Kecuali hanya Al Qur'an.

Sehingga berdasarkan fakta-fakta tentang kesucian dan kemurnian Al Qur’an di atas, maka dengan mudah dapat dipahami bahwa tafsiran orang liberal yang menyatakan bahwa Al Qur’an itu adalah wahyu campur pemikiran, benar-benar merupakan tuduhan yang sama sekali tidak berdasar/benar-benar merupakan fitnah yang sangat keji.

{ Bersambung; tulisan ke-1 dari 3 tulisan }

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Info Buku:

● Alhamdulillah, telah terbit buku: Islam Solusi Setiap Permasalahan jilid 1.

Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, MAg: “Banyak hal yang dibahas dalam buku ini. Tapi, yang paling menarik bagi saya adalah dorongan untuk mempelajari Alquran dan hadis lebih luas dan mendalam, sehingga tidak mudah memandang sesat orang. Juga ajakan untuk menilai orang lebih berdasar kepada kitab suci dan sabda Nabi daripada berdasar nafsu dan subyektifitasnya”.

Buku jilid 1:

Buku jilid 1:
Buku: “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 378 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

● Buku “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1 ini merupakan kelanjutan dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” (jilid 1 s/d jilid 5). Berisi kumpulan artikel-artikel yang pernah saya sampaikan dalam kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah menjelang shalat tarawih/ba’da shalat tarawih, Khutbah Jum’at, kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus maupun kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook/whatsapp (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab, konsultasi, diskusi via email, facebook, sms, whatsapp, maupun media lainnya.

● Sebagai bentuk kehati-hatian saya dalam menyampaikan Islam, buku-buku religi yang saya tulis, biasanya saya sampaikan kepada guru-guru ngajiku untuk dibaca + diperiksa. Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz adalah salah satu diantaranya. Beliau adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Unsur Ketua MUI Jatim, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia 2009-2013, Dekan Fakultas Dakwah 2000-2004/Guru Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 2004 - sekarang.

_____

Assalamu'alaikum wr. wb.

● Alhamdulillah, telah terbit buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5.

● Buku jilid 5 ini merupakan penutup dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan jilid 4.

Buku Jilid 5

Buku Jilid 5
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-29-3

Buku Jilid 4

Buku Jilid 4
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 4: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-28-6

Buku Jilid 3

Buku Jilid 3
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 3: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 396 halaman, ISBN 978-602-5416-27-9

Buku Jilid 2

Buku Jilid 2
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 324 halaman, ISBN 978-602-5416-26-2

Buku Jilid 1

Buku Jilid 1
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 330 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

Keterangan:

Penulisan buku-buku di atas adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini: ”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞