Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, wahai saudaraku!
Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.


Jika ada kekurangan / kekhilafan, mohon masukan / saran / kritik / koreksinya. Kritik dan saran bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau melalui "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel. Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain. Untuk lebih jelasnya, bisa klik di sini: http://imronkuswandi.blogspot.com/2011/01/menyebarkan-kebaikan.html

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan. Hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.)

Kamis, 07 Februari 2008

BERBAKTI KEPADA IBU DAN BAPAK (I)

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Mas Imron ......
Sudah banyak sekali artikel yang mengharuskan kita untuk berbakti kepada kedua orang tua yang telah berkorban banyak untuk kita.

Tapi.....
Kita lihat saat ini banyak sekali kasus semisal seorang ibu membuang anaknya, seorang bapak menipu anaknya atau kasus lain yang mengakibatkan seorang anak dizalimi oleh kedua orang tuanya.

Nah....
Bagaimana sikap kita terhadap orang tua yang bertindak seperti tersebut diatas.

Matur Suwun

Wassalamu'aaikum Wr. Wb.

Dari: Hendrijatno Gunawan, alumnus SMAN 1 Blitar '89.

-----

BERBAKTI KEPADA IBU DAN BAPAK (I)

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Dalam Al Qur’an surat Al ‘Ankabuut, Allah telah berfirman: “Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. Al ‘Ankabuut. 8).

Dalam Al Qur’an surat Luqman, Allah juga telah berfirman: “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. Luqman. 15).

Saudaraku…,
Dari dua ayat tersebut di atas, dapat kita ketahui bahwa sekalipun kedua orang tua kita memaksa kita untuk mempersekutukan Allah, ternyata Allah tetap memerintahkan kita untuk berbakti kepada keduanya / mempergauli keduanya di dunia ini dengan baik. Padahal perbuatan syirik (mempersekutukan Allah) itu adalah dosa terbesar dari semua dosa, hingga Allah tidak akan mengampuni dosa syirik tersebut sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an surat An Nisaa’ berikut ini: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (QS. An Nisaa’. 48).

Nah…, jika keduanya memaksa kita untuk mempersekutukan Allah saja, ternyata Allah tetap memerintahkan kita untuk berbakti kepada keduanya / mempergauli keduanya di dunia ini dengan baik, lalu bagaimanakah jika keduanya hanya melakukan kekhilafan yang kecil saja, bahkan tidak sebanding dengan dosa syirik?

Semoga bermanfaat!

{Bersambung; tulisan ke-1 dari 3 tulisan)
{Berbakti Kepada Ibu dan Bapak I & II, Sikap Orang Tua Terhadap Anak}

0 komentar:

Poskan Komentar

”Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah”. (QS. Luqman. 33).

-----


Saudaraku…,
B
agaimanapun sampai saat ini aku benar-benar menyadari bahwa wawasan ilmuku masih sangat terbatas.

Oleh karena itu, ada baiknya jika saudaraku juga bertanya kepada 'alim / 'ulama’ di sekitar saudaraku tinggal. Semoga bisa mendapatkan penjelasan / jawaban yang lebih memuaskan. Karena bagaimanapun juga, mereka (para 'ulama') lebih banyak memiliki ilmu dan keutamaan daripada aku. (Imron Kuswandi M.)