Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, wahai saudaraku!
Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.


Jika ada kekurangan / kekhilafan, mohon masukan / saran / kritik / koreksinya. Kritik dan saran bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau melalui "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel. Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain. Untuk lebih jelasnya, bisa klik di sini: http://imronkuswandi.blogspot.com/2011/01/menyebarkan-kebaikan.html

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan. Hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.)

Minggu, 10 Februari 2008

SESUDAH KESULITAN ITU ADA KEMUDAHAN!

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Sekalipun tantangan hidup dari hari ke hari terasa kian kompleks. Sekalipun masalah demi masalah datang silih berganti. Sekalipun kesulitan demi kesulitan seolah datang tiada henti. Namun tidak sepantasnya jika kita berputus asa. Dimanapun, kapanpun, kemanapun kita melangkah dalam menjalani hidup ini, kita tetap harus optimis. Optimis bahwa semuanya pasti akan ada jalan keluarnya. Optimis bahwa semuanya pasti akan bisa teratasi. Optimis bahwa kita akan mendapatkan pertolongan-Nya. ”Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyrah. 5). Bahkan hal ini ditegaskan kembali dalam ayat berikutnya: ”Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (QS. Alam Nasyrah. 6).

Namun bukan berarti sesudah kita mengalami kesulitan demi kesulitan tersebut, lantas kemudahan itu datang dengan sendirinya. Kita tetap harus berusaha keras sebagai upaya agar secepatnya terlepas dari derita hidup yang (mungkin) mendera kita, sambil berharap hanya kepada Allah!

Jangan berharap kepada yang lain! Karena yang lain-pun sama seperti kita, yang tercipta dalam keadaan yang sangat lemah. “Dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An Nisaa’. 28).

Berharaplah hanya kepada Allah semata, karena “Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (QS. 112. 2). Karena “Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS. Al Anfaal. 40). “Dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Tahriim. 2).

Saudaraku…,
Kita tidak boleh hanya berpangku tangan. Jika kita telah menyelesaikan suatu urusan, maka harus segera diikuti dengan mengerjakan urusan yang lainnya. Jadi, jangan hanya diam!!! Dengan kata lain, jangan bermalas-malasan! “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”. (QS. Alam Nasyrah. 7 – 8).

Semoga bermanfaat.

2 komentar:

  1. dengan adanya kesulitan maka positipnya kita akan terus berjuang dan berusaha untuk mengatasinya. dengan demikian akan diperoleh kemudahan setelah itu seperti yang dijanjikan oleh Allah SWT. Terimaaksih tulisannya mas... sangat bermanfaat

    BalasHapus
  2. Sama-sama, Bang...!
    Sebagai sesama muslim, memang sudah semestinya jika diantara kita saling mengingatkan serta saling memberi nasehat. Dengan saling memberi dan mengingatkan, semoga kita tidak termasuk golongan orang-orang yang merugi. sebagaimana penjelasan Al Qur’an berikut ini: “Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. 103. 2-3).

    BalasHapus

”Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah”. (QS. Luqman. 33).

-----


Saudaraku…,
B
agaimanapun sampai saat ini aku benar-benar menyadari bahwa wawasan ilmuku masih sangat terbatas.

Oleh karena itu, ada baiknya jika saudaraku juga bertanya kepada 'alim / 'ulama’ di sekitar saudaraku tinggal. Semoga bisa mendapatkan penjelasan / jawaban yang lebih memuaskan. Karena bagaimanapun juga, mereka (para 'ulama') lebih banyak memiliki ilmu dan keutamaan daripada aku. (Imron Kuswandi M.)