Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, wahai saudaraku!
Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.


Jika ada kekurangan / kekhilafan, mohon masukan / saran / kritik / koreksinya. Kritik dan saran bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau melalui "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel. Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain. Untuk lebih jelasnya, bisa klik di sini: http://imronkuswandi.blogspot.com/2011/01/menyebarkan-kebaikan.html

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan. Hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.)

Senin, 05 April 2010

BERHARAPLAH HANYA KEPADA ALLAH SEMATA ATAU KAMU HARUS MENJADI ORANG YANG SANGAT KEJAM

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Orang yang berharap kepada manusia (atau kepada siapapun selain berharap kepada Allah), adalah cerminan orang / pribadi yang tidak percaya diri (tidak mempunyai rasa kepercayaan kepada diri sendiri) dan kurang berserah diri kepada-Nya. Orang seperti ini, pada suatu saat bisa menjadi orang yang sangat kejam.

Koq bisa begitu...???

Saudaraku…,
Orang yang tidak percaya diri (dan kurang berserah diri kepada-Nya), biasanya cenderung untuk lebih percaya kepada (kemampuan) orang lain.

Sebagai ilustrasi, jika dia adalah seorang pelajar / siswa / mahasiswa, maka setiap kali ada ujian, dia akan cenderung untuk melakukan kecurangan dengan jalan mencontek pekerjaan temannya atau bekerjasama dengan temannya.

Jika dia adalah seorang pencari kerja, maka dia akan merasa tidak percaya dengan kemampuannya sendiri, tidak yakin bisa bersaing dengan pelamar lain secara fair. Dalam kondisi seperti ini, jika kurang berserah diri kepada-Nya, maka dia akan berupaya meminta bantuan kepada orang lain dengan melakukan kecurangan via KKN (korupsi, kolusi, dan/atau nepotisme) atau cara lainnya, demi memuluskan keinginannya untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Pada tahapan ini, (tanpa dia sadari) dia benar-benar telah menjadi orang yang sangat kejam. Betapa tidak, hanya demi memuluskan keinginannya dalam mendapatkan pekerjaan tersebut, dia tidak segan untuk merampas pekerjaan itu dari tangan pelamar lain yang lebih berhaq.

Sedangkan jika yang bersangkutan adalah seorang karyawan, maka dia akan merasa tidak percaya dengan kemampuannya sendiri pada saat ada promosi jabatan. Dia benar-benar merasa tidak yakin bisa bersaing dengan karyawan lain secara fair. Dalam kondisi seperti ini, jika kurang berserah diri kepada-Nya, maka dia juga akan berupaya meminta bantuan kepada orang lain dengan melakukan kecurangan via KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) atau cara lainnya, demi memenuhi ambisinya untuk mendapatkan jabatan itu.

Pada tahapan ini, dia benar-benar telah menjadi orang yang sangat kejam. Betapa tidak, hanya demi memenuhi ambisinya dalam mendapatkan jabatan itu, dia tidak segan-segan untuk merampas jabatan itu dari tangan karyawan lain yang seharusnya lebih berhaq untuk mendapatkan jabatan itu. Demikian seterusnya…!!!

Saudaraku…,
Hal sangat berbeda terjadi pada orang-orang yang hanya berharap kepada Allah semata. Dia menyandarkan seluruh hidupnya hanya kepada-Nya. Karena dia menyadari, bahwa: “Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (QS. 112. 2). Karena “Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS. Al Anfaal. 40).

Menyadari hal itu, maka dia senantiasa berupaya untuk selalu bertakwa kepada-Nya, selalu berupaya untuk menjalankan semua perintah-Nya serta menjauhi semua larangan-Nya. Dia juga senantiasa berdzikir / ingat kepada-Nya serta setiap saat memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya serta senantiasa berbaik sangka kepada-Nya. Karena Dia adalah Pelindungnya dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. “Dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Tahriim. 2).

Sebagai ilustrasi, jika dia adalah pencari kerja, maka dia tidak akan berlaku curang. Dia akan berupaya secara maksimal sambil menyerahkan semuanya hanya kepada-Nya. Jika pada akhirnya dia diterima, maka dia akan bersyukur. Sedangkan jika ternyata gagal, dia akan bersabar dan tetap berprasangka baik kepada-Nya. Mungkin kegagalan itu hanyalah karena Allah akan memilihkan pekerjaan lain yang lebih baik / lebih cocok untuknya dibelakang hari.

Sedangkan jika yang bersangkutan adalah seorang karyawan, ketika ada promosi jabatan, maka dia juga tidak akan berupaya melakukan kecurangan demi memenuhi ambisinya untuk mendapatkan jabatan itu. Semuanya dia serahkan kepada-Nya. Yang lebih penting baginya adalah bekerja dengan baik, lillahi ta’ala. Jika kemudian dinilai pantas untuk menduduki jabatan itu, maka dia akan berupaya untuk menjalankannya dengan penuh amanah. Dan jika ternyata harus orang lain yang diberi kesempatan, maka dia akan tetap berprasangka baik kepada-Nya. Mungkin saja hal ini karena Allah berkehendak untuk meyelamatkannya dari fitnah yang menjerumuskan.

Demikian seterusnya…! Sehingga hal ini semua senantiasa membuat hidupnya menjadi tenang. Tidak dipenuhi oleh ambisi yang membabi buta...!!!

Ya… Rabbi,
Berilah kekuatan kepada kami, sehingga kami benar-benar dapat ridha dengan apa yang telah Engkau berikan kepada kami. Cukuplah Engkau bagi kami. Sesungguhnya kami hanya berharap kepada Engkau. Semoga Engkau berikan karunia-Mu kepada kami. Amin...!

“Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: "Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebahagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah", (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka)”. (QS. At Taubah. 59).

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya*, sedang mereka berdo`a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka”. (QS. As Sajdah. 16). *) Maksudnya adalah mereka tidak tidur di waktu orang biasanya tidur, untuk mengerjakan sholat malam.

Semoga bermanfaat!

7 komentar:

  1. Kejam=lalim(dlolim)?
    Bagaimana dg mendlolimi diri sendiri?
    Mengapa bisa "harus menjadi kejam"?

    BalasHapus
  2. Saudaraku...,
    Jika kita berbuat baik, sesungguhnya kita telah berbuat baik bagi diri kita sendiri dan jika kita berbuat jahat maka sesungguhnya kejahatan itu adalah bagi diri kita sendiri.

    Jadi, ketika kita mendholimi orang lain, sebenarnya kita telah mendholimi kepada diri sendiri. Demikian yang aku ketahui. (Wallahu ta'ala a'lam).

    “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri”, (QS. Al Israa’. 7).

    “Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng`azab sebelum Kami mengutus seorang rasul”. (QS. Al Israa’. 15).

    “Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba (Nya)”. (QS. Fush Shilat. 46).

    “Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan”. (QS. Al Jaatsiyah. 15).

    BalasHapus
  3. Saudaraku...,
    Sebenarnya aku telah menulis artikel tentang hal ini. Namun belum aku posting di blog ini.

    BalasHapus
  4. Betul mas... hanya kepadaNya kami berserah diri.., semoga selalu diberi kekuatan //

    BalasHapus
  5. Amin...!
    Ya rabbal 'alamin...!!!

    Ya… Rabbi,
    Berilah kekuatan kepada kami, sehingga kami benar-benar dapat ridha dengan apa yang telah Engkau berikan kepada kami. Cukuplah Engkau bagi kami. Sesungguhnya kami hanya berharap kepada Engkau. Semoga Engkau berikan karunia-Mu kepada kami.

    BalasHapus
  6. Sip Pak. Berbagi terus atas apa yang dimiliki (harta dan ilmu).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih wahai saudaraku Pak Gede, atas perhatian dan motivasinya. Jika berkenan mohon do’anya, semoga saya dapat terus berkarya!

      Semoga kita semua senantiasa berada dalam bimbingan-Nya, dijauhkan dari tipu daya syaitan serta senantiasa mendapat ridho dari-Nya. Amin, ya rabbal 'alamin!

      Hapus

”Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah”. (QS. Luqman. 33).

-----


Saudaraku…,
B
agaimanapun sampai saat ini aku benar-benar menyadari bahwa wawasan ilmuku masih sangat terbatas.

Oleh karena itu, ada baiknya jika saudaraku juga bertanya kepada 'alim / 'ulama’ di sekitar saudaraku tinggal. Semoga bisa mendapatkan penjelasan / jawaban yang lebih memuaskan. Karena bagaimanapun juga, mereka (para 'ulama') lebih banyak memiliki ilmu dan keutamaan daripada aku. (Imron Kuswandi M.)