بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Senin, 03 Desember 2012

BENARKAH NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM WAFAT KARENA DI RACUN WANITA YAHUDI?



Assalamu’alaikum wr. wb.

Seorang teman muallaf telah menyampaikan beberapa pertanyaan sebagai berikut:

Afwan ana mengganggu. Ana mau bertanya perkara dimana orang-orang kafir berkata bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam wafatnya dengan dibunuh, yaitu di racun.

1. Apakah betul kisah itu?
2. Bagaimanakah kisahnya sesuai dalil yg syar'i?
3. Ana mendapat keterangan dari kawan seperti ini. Mohon penilaiannya, yaitu:

Perkara Kambing Beracun Zainab binti Harits

Kemenangan pada Perang Khaibar sempat terusik oleh ulah seorang wanita yang bernama Zainab binti Harits (istri Salam bin Misykam) yang memberikan daging kambing panggang beracun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika menelannya, daging tersebut beliau muntahkan kembali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa daging itu sendiri yang memberitahu bahwa ada racun padanya.

Kemudian wanita itu diinterogasi dan dia mengakui perbuatannya. "Apa yang menyebabkan kamu melakukan itu?" Wanita itu menjawab: "Jika beliau seorang raja maka daging (yang beracun itu) akan keluar dari tubuhnya, dan jika beliau seorang Nabi maka daging itu akan memberitahukannya (bahwa ia beracun)".

Karena jawaban ini, maka wanita itu dimaafkan. Tapi pada peristiwa itu ternyata Bisr bin al-Bara` bin Ma'rur juga ikut memakan daging itu sehingga dia wafat. Karena wafatnya Bisr ini ada riwayat yang mengatakan bahwa wanita itu dimaafkan dan ada juga riwayat yang mengatakan bahwa dia dibunuh karena uji cobanya itu telah memakan korban.

Riwayat yang lebih kuat menyatakan bahwa pada awalnya wanita itu dimaafkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi setelah kematian Bisr dia dibunuh sebagai hukuman qishas.

Mohon bimbingan perihal pertanyaan di atas. Jazakallah khairan katsir atas perhatian, ilmu & waktunya. Semoga Allah Subhana Wa Ta'Ala melimpahkan ampunan, rahmat, taufik, inayah & hidayah-Nya bagi antum & keluarga.

Tanggapan

Saudaraku,
Dari berbagai riwayat, dijelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dalam keadaan sakit biasa (bukan karena diracun).

Berikut ini adalah riwayat tentang perang Khaibar, riwayat wanita Yahudi yang mencoba membubuhkan racun namun Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam selamat, dan riwayat tentang wafatnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

I. Mengenai perang di Khaibar

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ قَالَ حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيُّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ لَمَّا فُتِحَتْ خَيْبَرُ أُهْدِيَتْ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَاةٌ فِيهَا سُمٌّ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اجْمَعُوا إِلَيَّ مَنْ كَانَ هَا هُنَا مِنْ يَهُودَ فَجُمِعُوا لَهُ فَقَالَ إِنِّي سَائِلُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَهَلْ أَنْتُمْ صَادِقِيَّ عَنْهُ فَقَالُوا نَعَمْ قَالَ لَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَبُوكُمْ قَالُوا فُلَانٌ فَقَالَ كَذَبْتُمْ بَلْ أَبُوكُمْ فُلَانٌ قَالُوا صَدَقْتَ قَالَ فَهَلْ أَنْتُمْ صَادِقِيَّ عَنْ شَيْءٍ إِنْ سَأَلْتُ عَنْهُ فَقَالُوا نَعَمْ يَا أَبَا الْقَاسِمِ وَإِنْ كَذَبْنَا عَرَفْتَ كَذِبَنَا كَمَا عَرَفْتَهُ فِي أَبِينَا فَقَالَ لَهُمْ مَنْ أَهْلُ النَّارِ قَالُوا نَكُونُ فِيهَا يَسِيرًا ثُمَّ تَخْلُفُونَا فِيهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اخْسَئُوا فِيهَا وَاللهِ لَا نَخْلُفُكُمْ فِيهَا أَبَدًا ثُمَّ قَالَ هَلْ أَنْتُمْ صَادِقِيَّ عَنْ شَيْءٍ إِنْ سَأَلْتُكُمْ عَنْهُ فَقَالُوا نَعَمْ يَا أَبَا الْقَاسِمِ قَالَ هَلْ جَعَلْتُمْ فِي هَذِهِ الشَّاةِ سُمًّا قَالُوا نَعَمْ قَالَ مَا حَمَلَكُمْ عَلَى ذَلِكَ قَالُوا أَرَدْنَا إِنْ كُنْتَ كَاذِبًا نَسْتَرِيحُ وَإِنْ كُنْتَ نَبِيًّا لَمْ يَضُرَّكَ. (رواه البخارى)
40.11/2933. Telah bercerita kepada kami 'Abdullah bin Yusuf telah bercerita kepada kami Al Laits berkata telah bercerita kepadaku Sa'id bin Abu Sa'id Al Maqbariy dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; Ketika Khaibar ditaklukan, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam diberi hadiah seekor kambing yang didalamnya ditaruh racun.

Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata: Kumpulkan di hadapanku orang-orang yang ada disini dari kalangan Yahudi. Maka mereka berkumpul di hadapan Beliau lalu Beliau berkata: Aku bertanya satu hal kepada kalian, apakah kalian akan membenarkan aku tentang suatu masalah?. Mereka menjawab; Ya. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertanya kepada mereka: Siapa orang tua kalian. Mereka menjawab; Si fulan. Beliau berkata: Kalian berdusta. Yang sebenarnya orang tua kalian adalah si anu. Mereka berkata; Anda benar.

Lalu Beliau bertanya lagi: Apakah kalian akan membenarkan aku tentang suatu masalah yang akan aku tanyakan?. Mereka menjawab; Ya, wahai Abu Al Qasim. Seandainya kami berdusta, Anda pasti mengetahui kedustaan kami sebagaimana Anda mengetahui orangtua kami. Beliau bertanya: Siapakah yang menjadi penduduk neraka?. Mereka menjawab; Kami akan berada di dalamnya sebentar lalu kalian (kaum Muslimin) akan mengiringi masuk ke dalamnya. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata: Tinggallah kalian dengan hina di dalamnya. Demi Allah, sungguh kami tidak akan mengikuti kalian ke dalamnya selama-lamanya.

Kemudian Beliau bertanya lagi: Apakah kalian akan membenarkan aku tentang suatu masalah yang akan aku tanyakan?. Mereka menjawab; Ya, wahai Abu Al Qasim. Beliau bertanya: Apakah kalian telah memasukkan racun ke dalam kambing ini?. Mereka menjawab; Ya. Beliau bertanya lagi: Apa yang mendorong lkalian berbuat begitu?. Mereka menjawab; Kami hanya ingin menguji Seandainya anda berdusta (mengaku sebagai Nabi) kami dapat beristirahat dari anda. Dan seandainya anda benar seorang Nabi maka racun itu tidak akan dapat mendatangkan bahaya buat anda. (HR. Bukhari).

أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنِي اللَّيْثُ حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيُّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ لَمَّا فَتَحْنَا خَيْبَرَ أُهْدِيَتْ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَاةٌ فِيهَا سُمٌّ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اجْمَعُوا لِي مَنْ كَانَ هَا هُنَا مِنْ الْيَهُودِ فَجُمِعُوا لَهُ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي سَائِلُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَهَلْ أَنْتُمْ صَادِقِيَّ عَنْهُ قَالُوا نَعَمْ يَا أَبَا الْقَاسِمِ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَبُوكُمْ قَالُوا أَبُونَا فُلَانٌ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذَبْتُمْ بَلْ أَبُوكُمْ فُلَانٌ قَالُوا صَدَقْتَ وَبَرَرْتَ فَقَالَ لَهُمْ هَلْ أَنْتُمْ صَادِقِيَّ عَنْ شَيْءٍ إِنْ سَأَلْتُكُمْ عَنْهُ فَقَالُوا نَعَمْ وَإِنْ كَذَبْنَاكَ عَرَفْتَ كَذِبَنَا كَمَا عَرَفْتَ فِي آبَائِنَا فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَنْ أَهْلُ النَّارِ فَقَالُوا نَكُونُ فِيهَا يَسِيرًا ثُمَّ تَخْلُفُونَا فِيهَا قَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اخْسَئُوا فِيهَا وَاللهِ لَا نَخْلُفُكُمْ فِيهَا أَبَدًا ثُمَّ قَالَ لَهُمْ هَلْ أَنْتُمْ صَادِقِيَّ عَنْ شَيْءٍ إِنْ سَأَلْتُكُمْ عَنْهُ قَالُوا نَعَمْ قَالَ هَلْ جَعَلْتُمْ فِي هَذِهِ الشَّاةِ سُمًّا قَالُوا نَعَمْ قَالَ مَا حَمَلَكُمْ عَلَى ذَلِكَ قَالُوا أَرَدْنَا إِنْ كُنْتَ كَاذِبًا أَنْ نَسْتَرِيحَ مِنْكَ وَإِنْ كُنْتَ نَبِيًّا لَمْ يَضُرَّكَ
Telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Shalih telah menceritakan kepadaku Al Laits telah menceritakan kepadaku Sa'id bin Abu Sa'id Al Maqburi dari Abu Hurairah Radliyallahu'anhu ia berkata; "Ketika kami menaklukan Khaibar, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam diberi hadiah seekor kambing beracun. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kontan berkata: “Tolong kumpulkanlah orang-orang Yahudi yang ada di sini”. Maka dikumpulkanlah mereka kepada beliau.

Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata: “Saya akan bertanya kalian tentang sesuatu, apakah kalian akan menjawab dengan jujur?”. Mereka menjawab: “Ya, wahai Abu Qasim (Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam)”. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya: “Siapakah ayah kalian?”. Mereka menjawab: “Ayah kami si fulan”. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata: “Kalian bohong! Tetapi ayah kalian adalah si fulan”. Mereka menjawab: “Baginda benar”.

Lalu beliau berkata kepada mereka: “Apakah kalian akan jujur jika saya tanya tentang sesuatu?”. Mereka menjawab: “Ya, dan jika kami berbohong niscaya baginda mengetahuinya, sebagaimana baginda mengetahui ayah-ayah kami”. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya kepada mereka: “Siapakah penghuni neraka?”. Mereka menjawab: “Kami berada di dalamnya sebentar dan kemudian baginda menggantikan kami di dalamnya”. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada mereka: “Terhinalah kalian di dalamnya, demi Allah Subhanahu wa Ta'ala kami tidak akan menggantikan kalian di dalamnya selamanya”.

Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya kepada mereka: “Apakah kalian akan berkata jujur terhadap pertanyaan yang akan ku tanyakan kepada kalian?”. Mereka menjawab: “Ya!”. Beliau berkata: “Apakah kalian membubuhi racun pada (daging) kambing tersebut?”. Mereka menjawab: “Ya!”. Beliau bertanya: “Apa yang menyebabkan kalian berbuat demikian?”. Mereka menjawab: “Kami ingin terbebas jika baginda seorang pembohong dan jika baginda benar seorang Nabi maka (racun itu) tidak bakalan mencelakai baginda”. (HR. Ad-Darimi).

II.  Pembuktian bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam selamat dari racun yang diberikan oleh wanita Yahudi

1.      Perang Khaibar terjadi pada tahun 628 M (tahun ke 7 H) dan pada bulan February 629 M (Zul Qa’dah 7 H) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum Muslimin melaksanakan Umratul Qadha’.
2.      Setelah perang Khaibar dapat ditaklukkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Shafiyah binti Huyaiy bin Akhtab. Pada tahun yang sama.
3.      Bulan January 630 M (Ramadhan 8 H) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun masih sehat wal afiat. Beliau membuka kota Makkah dan menghancurkan semua berhala-berhala yang ada disekitar Ka’bah. Peristiwa ini dikenal dengan “FATHUL MAKKAH”.
4.      Empat tahun dari peristiwa Khaibar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup! Dan pada bulan Maret 632 M, atau tepatnya Dzulhijjah 10 H, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  melaksanakan Haji Wada’ bersama-sama dengan kira-kira 114.000 orang kaum muslimin untuk menunaikan ibadah haji.
5.      Pada bulan Mei 632 M atau bulan Safar 11 H, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyiapkan Tentara Usamah untuk pergi ke Negri Syam.
6.      Pada tgl 7 Juni 632 M atau pada hari Senin 12 Rabi’ul Awal (bertepatan dengan hari kelahiran beliau) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.

_____

Saudaraku,
Sebenarnya sebab wafatnya seseorang tidak selalu mencerminkan maqam yang bersangkutan di hadapan Allah. Misal: orang yang wafat karena terbunuh, bukan berarti cerminan bahwa yang bersangkutan termasuk golongan orang-orang yang merugi. Bukankah banyak juga para sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang wafat karena terbunuh? Bahkan para Nabi di kalangan Bani Israil-pun juga banyak yang wafat karena terbunuh?

Perhatikan penjelasan Al Qur’an dalam surat Al Baqarah ayat 61 (tepatnya pada bagian akhir dari ayat 61 surat Al Baqarah):

... ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُواْ يَكْفُرُونَ بِئَايَـــٰتِ اللهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعْتَدُونَ ﴿٦١﴾
“… Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas”. (QS. Al Baqarah. 61).

Surat Al Baqarah ayat 61 selengkapnya adalah sebagai berikut:

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَىٰ لَن نَّصْبِرَ عَلَىٰ طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنبِتُ الْأَرْضُ مِن بَقْلِهَا وَقِثَّآئِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَىٰ بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ اهْبِطُواْ مِصْرًا فَإِنَّ لَكُم مَّا سَأَلْتُمْ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَآءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللهِ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُواْ يَكْفُرُونَ بِئَايَـــٰتِ اللهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعْتَدُونَ ﴿٦١﴾
“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya dan bawang merahnya". Musa berkata: "Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta". Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas”. (QS. Al Baqarah. 61).

Demikian juga sebab-sebab wafat yang lainnya (wafat karena sakit, wafat karena diracun, wafat karena kecelakaan, wafat karena kebakaran, dst). Semuanya itu tidak selalu mencerminkan maqam yang bersangkutan di hadapan Allah. Kecuali jika seseorang wafat dalam keadaan berzina, atau wafat dalam keadaan mabuk (over dosis), atau wafat karena bunuh diri, dst. Na’udzubillahi mindzalika!!!

Yang ingin lebih aku tekankan terkait dengan wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bahwa sebelum beliau wafat, Islam telah tuntas diturunkan semuanya dengan sempurna (tidak ada satu bagianpun yang belum tersampaikan kepada umat manusia). Hal ini ditandai dengan turunnya ayat terakhir (surat Al Maa-idah ayat 3) berikut ini:

... الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلَامَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ فَإِنَّ اللهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿٣﴾
“… Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al Maa-idah. 3).

Lebih dari itu, ketahuilah bahwa dalam Al Qur’an surat Al Maa-idah ayat 67, Allah SWT. telah menjelaskan bahwa tidak seorangpun yang dapat membunuh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

... وَاللهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ... ﴿٦٧﴾
“... Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia* ... “. (QS. Al Maa-idah. 67).

Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahalliy): ... (Dan Allah memelihara kamu dari manusia) agar tidak sampai membunuhmu. Pada mulanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu dikawal sampai turun ayat ini, lalu sabdanya: “Pergilah karena sesungguhnya Allah memeliharaku!” Riwayat Hakim. ...

Semoga bermanfaat.

NB.
*) Maksudnya: tak seorangpun yang dapat membunuh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (catatan kaki no. 430, “Al Qur’an Dan Terjemahnya”, Departemen Agama Republik Indonesia).


3 komentar:

  1. nabi Muhammad SAW tidak bisa dibunuh manusia

    Janji ALLAH SWT pada AL MAIDAH 67 DENGAN JELAS menyatakan Nabi Muhammad SAW tidak bisa dibunuh Manusia

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah, terimakasih wahai saudaraku atas masukannya (sudah kutambahkan pada tulisan di atas). Jazaakallaahu khairaa (semoga Allah memberi balasan kebaikan kepadamu)!

    BalasHapus
  3. 69:44 Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami,
    ________________________________________
    69:45 niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya.
    ________________________________________
    69:46 Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.

    BalasHapus

Info Buku:

● Alhamdulillah, telah terbit buku: Islam Solusi Setiap Permasalahan jilid 1.

Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, MAg: “Banyak hal yang dibahas dalam buku ini. Tapi, yang paling menarik bagi saya adalah dorongan untuk mempelajari Alquran dan hadis lebih luas dan mendalam, sehingga tidak mudah memandang sesat orang. Juga ajakan untuk menilai orang lebih berdasar kepada kitab suci dan sabda Nabi daripada berdasar nafsu dan subyektifitasnya”.

Buku jilid 1:

Buku jilid 1:
Buku: “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 378 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

● Buku “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1 ini merupakan kelanjutan dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” (jilid 1 s/d jilid 5). Berisi kumpulan artikel-artikel yang pernah saya sampaikan dalam kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah menjelang shalat tarawih/ba’da shalat tarawih, Khutbah Jum’at, kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus maupun kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook/whatsapp (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab, konsultasi, diskusi via email, facebook, sms, whatsapp, maupun media lainnya.

● Sebagai bentuk kehati-hatian saya dalam menyampaikan Islam, buku-buku religi yang saya tulis, biasanya saya sampaikan kepada guru-guru ngajiku untuk dibaca + diperiksa. Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz adalah salah satu diantaranya. Beliau adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Unsur Ketua MUI Jatim, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia 2009-2013, Dekan Fakultas Dakwah 2000-2004/Guru Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 2004 - sekarang.

_____

Assalamu'alaikum wr. wb.

● Alhamdulillah, telah terbit buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5.

● Buku jilid 5 ini merupakan penutup dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan jilid 4.

Buku Jilid 5

Buku Jilid 5
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-29-3

Buku Jilid 4

Buku Jilid 4
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 4: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-28-6

Buku Jilid 3

Buku Jilid 3
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 3: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 396 halaman, ISBN 978-602-5416-27-9

Buku Jilid 2

Buku Jilid 2
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 324 halaman, ISBN 978-602-5416-26-2

Buku Jilid 1

Buku Jilid 1
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 330 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

Keterangan:

Penulisan buku-buku di atas adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini: ”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞