Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, wahai saudaraku!
Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.


Jika ada kekurangan / kekhilafan, mohon masukan / saran / kritik / koreksinya. Kritik dan saran bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau melalui "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel. Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain. Untuk lebih jelasnya, bisa klik di sini: http://imronkuswandi.blogspot.com/2011/01/menyebarkan-kebaikan.html

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan. Hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.)

Jumat, 04 Januari 2008

SI “PUSS” YANG LUCU

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Pada pagi hari setelah selesai sholat subuh, aku sering jalan sehat mengelilingi kampus ITS. Maklum, rumahku dekat dengan kampus ITS. Saat jalan-jalan mengelilingi kampus ITS, secara tidak sengaja, pandangan mataku tertuju pada seekor kucing liar yang sedang tertidur pulas. Awalnya hal ini hanya berlalu begitu saja. Namun setelah aku sering menjumpai hal yang sama, barulah aku menyadari bahwa ternyata banyak hal yang dapat kita pelajari darinya.

Sebagaimana kita ketahui, kucing liar (bukan kucing rumahan/kucing peliharaan), hanyalah sejenis hewan yang memiliki banyak keterbatasan. Dia tidak mempunyai kemampuan untuk menyimpan makanan. Dia hanya akan mencari makanan ketika lapar dan akan makan secukupnya saja. Jika sudah kenyang, sedangkan makanannya masih tersisa, pasti akan dia tinggalkan begitu saja untuk selanjutnya akan ditemukan dan dimakan oleh kucing liar lainnya.

Lalu, kenapa si kucing liar tadi bisa tertidur pulas di pagi hari? Sementara dia tidak mempunyai persediaan makanan (karena memang tidak mempunyai kemampuan untuk menyimpan makanan), bahkan untuk hari itu? Dan dia juga tidak tahu, hari itu akan makan apa? Apalagi untuk hari-hari berikutnya? Sedangkan makanannya adalah hewan lain (tikus, cecak, dll) yang mesti diburu? Sementara dia juga tidak mempunyai kemampuan untuk membudidayakan sumber makanannya? Sebagaimana kita?

Saudaraku…,
Di pihak lain, kita umat manusia yang diberi teramat banyak kelebihan, kenapa justru seringkali gelisah menghadapi masa depan kita? Betapa hanya untuk mengatasi kegelisahan tersebut, begitu banyak di antara kita yang mengumpulkan harta dengan membabi buta? Seolah korupsi itu sudah merupakan hal yang biasa saja? Seolah mengurangi timbangan itu sudah menjadi suatu keharusan? Seolah …, seolah…, dst? Juga tidak sedikit diantara kita yang mencari pekerjaan dengan cara-cara yang tidak fair (via KKN/korupsi, kolusi, nepotisme atau cara lainnya)? Bukankah hal ini sudah merupakan suatu kegelisahan / kekhawatiran yang berlebihan? Na’udzubillahi mindzalika!

Saudaraku…,
Marilah kita kembali belajar pada kucing liar di atas. Meskipun dia memiliki banyak kekurangan sebagaimana uraian di atas, namun dia tetap bisa tertidur pulas. Seolah dia tidak pernah khawatir bahwa hari ini tidak akan mendapatkan makanan. Seolah dia tidak pernah khawatir akan mati kelaparan. Karena dia yakin, bahwa Allah-lah yang akan mengurus rezkinya. “Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. 29. 60).

Semoga bermanfaat.

0 komentar:

Poskan Komentar

”Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah”. (QS. Luqman. 33).

-----


Saudaraku…,
B
agaimanapun sampai saat ini aku benar-benar menyadari bahwa wawasan ilmuku masih sangat terbatas.

Oleh karena itu, ada baiknya jika saudaraku juga bertanya kepada 'alim / 'ulama’ di sekitar saudaraku tinggal. Semoga bisa mendapatkan penjelasan / jawaban yang lebih memuaskan. Karena bagaimanapun juga, mereka (para 'ulama') lebih banyak memiliki ilmu dan keutamaan daripada aku. (Imron Kuswandi M.)