بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Kamis, 02 April 2009

BERSIKAP POSITIF

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Jika pada saat ini Allah memberikan harta kekayaan kepada kita, maka belanjakanlah harta kekayaan itu di jalan Allah. Yaitu dengan membelanjakannya sesuai dengan tuntunan Allah, antara lain untuk diberikan kepada kerabat yang terdekat akan haknya (istri, anak, orang tua, dsb.), membantu fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, untuk berdakwah, dst. yang kesemuanya itu kita lakukan semata-mata untuk mencari keridhaan Allah sekaligus sebagai perwujudan rasa syukur kita kepada-Nya.

“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa`at.” (QS. 2. 254).

“Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung.” (QS. 30. 38).

Jangan malah sebaliknya (menghambur-hamburkan harta, berlebih-lebihan, dll.). Ingatlah wahai saudaraku, bahwa tidak semua orang diberi kelebihan harta. “… dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros”. (QS. Al Israa. 26). “… dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al An’aam. 141).

Saudaraku…,
Jika pada saat ini Allah telah memberikan ilmu yang bermanfaat kepada kita, maka manfaatkan ilmu yang kita miliki tersebut sebesar-besarnya untuk mendekatkan diri kepada-Nya, serta sebarkan ilmu yang kita miliki tersebut kepada saudara-saudara kita yang lain. Bukankah orang yang paling baik adalah orang yang paling banyak memberi manfaat kepada yang lain? Demikian penjelasan Rasulullah dalam sebuah hadits.



عَنْ جَابِرٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْمُؤْمِنُ يَأْلَفُ وَيُؤْلَفُ، وَلا خَيْرَ فِيمَنْ لا يَأْلَفُ وَلا يُؤْلَفُ، وَخَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Jabir r.a berkata: Rasulullah SAW. bersabda: Orang beriman ialah insan yang mampu bergaul dengan manusia, dan manusia lain mampu bergaul dengannya. Tiada kebaikan bagi siapa yang tidak mampu bercampur dengan manusia, dan manusia tidak mau mencampurinya. Dan sebaik-baik manusia ialah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain. (HR at-Thabrani)

Saudaraku…,
Jika pada saat ini Allah masih memberikan waktu/kesempatan kepada kita, maka manfaatkan waktu/kesempatan tersebut sebesar-besarnya untuk berbuat amal kebajikan, sebelum waktu/kesempatan itu pergi meninggalkan kita. Bukankah jika kesempatan itu sudah berlalu meninggalkan kita (meski hanya sedetik), maka kita tidak mungkin bisa ke sana lagi?

“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa`at.” (QS. 2. 254).

Saudaraku…,
Sebaliknya, yaitu ketika kita ditimpa kesedihan, maka sudah seharusnya bagi kita untuk menghadapinya dengan sabar dan tabah. Yang dimaksud dengan kesedihan disini bisa meliputi segala hal. Bisa berupa kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, sakit yang mendera kita, dst.

Bukankah Allah akan selalu menguji kita setelah kita menyatakan beriman kepada-Nya? ”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al ‘Ankabuut. 2). “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?” (QS. 2. 214).

Jika kita mampu menghadapinya dengan sabar dan tabah, maka hal itu baik bagi kita. Karena Allah akan memberikan berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu dengan memberikan surga untuknya. “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”, (QS. Al Baqarah. 155).

Sedangkan janji Allah itu adalah pasti, sebagaimana firman-Nya dalam Al Qur'an surat At Taubah berikut ini: "Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah. 111).

Semoga bermanfaat!

1 komentar:

  1. Eko Pramunanto; ekopram@gmail.com, wrote:

    Assalamu 'alaina WARSAWA (Wa 'Ala Rasulullah Sholallahu 'Alaihi Wa Aalihi).

    Teman,
    Tentang QS 2:256 itu, "paksaan" bukanlah satu-satunya kata yang dapat digunakan sebagai terjemahan. Kata dasar kata ikroha adalah karoha yang berarti tidak suka, Kata makruh juga dari kata tersebut. Jadi dalam konteks penerimaan keyakinan, seyogyanya agama diperlakukan sebagai hal yang disukai atau bahkan dibutuhkan. Kelanjutan ayat tersebut juga menerangkan bahwa sungguh telah terang kenyataan (yang hanya dapat ditangkap oleh kesadaran yang murni) dan khayalan (yang timbul dari kebodohan, keinginan nafsu dan tipuan syaithon). Secara fitrah manusia tentu menyukai bahkan membutuhkan sesuatu yang nyata daripada khayalan bukan.

    Karenanya mereka yang tidak menyukai agama biasanya karena tenggelam dalam khayalan atau bahkan mimpi. Menurut Ustad-ku mereka ini dalam keadaan tidur.

    Jadi, kalau ada ayat lain menerangkan tentang "Bagiku agamaku dan bagimu agamamu" itu tidaklah menghalangi kita untuk peduli kepada mereka yang non-muslim. Bahkan kalau pun itu dianggap sebagai pembicaraan tentang akidah, mereka itu tidaklah berakidah. Sepengetahuan saya ayat ini turun berkenaan dengan ajakan damai oleh para pemuka yahudi di Madinah agar Rasulullah tidak lagi menda'wahi kalangan mereka. Dan sebagai timbal-baliknya mereka bersedia untuk beribadah dengan cara Islam berselang-seling dengan cara ibadah mereka dan mereka juga menuntut agar Rasulullah juga melakukan hal yang sama. Maka ini tidaklah bisa ditolerir. Ayat ini adalah pernyataan bahwa apa yang dibawa Rasulullah adalah suatu yang berbeda dan tidak dapat dicampur-adukkan dengan apa yang mereka bawa. Dan agar Rasulullah dengan tegas menyatakan apa yang beliau bawa adalah dari Allah dan untuk Allah, sedangkan mereka tidaklah begitu walaupun mereka berkata bahwa mereka adalah pewaris ajaran nabi Musa AS dan dari Allah juga.

    Karena itu apa yang kemudian menjadi konsekuensi dari hal tersebut adalah bahwa da'wah kepada seluruh umat manusia wajib disampaikan dengan cara yang baik dan disesuaikan dengan fitrah manusia yang suka akan kebaikan. Kalaupun terdapat penolakan atau perlawanan, maka itu harus dipandang sebagai perilaku orang-orang yang belum sadar dari tidurnya.

    Demikianlah da'wah amar ma'ruf nahi munkar tidak mengecualikan mereka yang non-muslim. Karena semua manusia secara fitrahnya sama suka pada kebaikan yang berpangkal-ujung pada kebenaran, maka kebaikan dan kebenaran itu tidak boleh hanya menurut persepsi pribadi masing-masing. Kebaikan dan kebenaran tidak boleh dilepaskan dari ajaran agama. QS 23:71 "Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu."

    Wallahu a'lam.
    Wasalamu 'alaina WARSAWA.

    Eko Pramunanto.

    Imron Kuswandi; imronkuswandi@yahoo.com, menulis:

    Wa'alaikum salam wr wb

    Benar sekali, teman...
    Berdakwah itu tidak hanya kepada saudara-saudara seiman (sesama muslim), tetapi juga kepada non-muslim. Tulisanku yang berjudul "Menyebarkan Al Qur'an" (yang merupakan upaya untuk menjawab pertanyaan teman dari Malaysia, sudah aku kirimkan ke Pak Eko) juga menunjukkan bahwa kita juga harus peduli kepada mereka.

    Pengalamanku berdialog tentang akidah dengan non-muslim (sebagian diantaranya juga sudah aku kirimkan ke Pak Eko) juga menunjukkan bahwa kita juga harus peduli dengan mereka.

    Dari saudara seiman: Imron Kuswandi M.

    Eko Pramunanto; ekopram@gmail.com, wrote:

    Da'wah tentu mrp intervensi cara pandang thdp kebenaran, yg jadi pangkal ujung amal kan. Nah implementasinya dalam amal yg diserahkan kpd masing2. Tapi bila satu sama lain saling berhubungan misal dlm muamalat, maka ada konsep ihsan, adil, dan sabar serta utamakan selamat. Ini gak akan bisa lepas dari ikatan agama yg lurus.

    Imron Kuswandi; imronkuswandi@yahoo.com, menulis:

    Ass. wr. wb.

    Teman...,
    Yang aku maksud dengan intervensi, antara lain: kita ikut mengatur/memasukkan unsur-unsur Islam dalam peribadatan mereka yang non-muslim atau sebaliknya. Contohnya: setiap memulai peribadatan mereka yang non-muslim, kita paksakan untuk membaca basmalah. Atau sebaliknya,
    ketika seseorang hendak sholat di masjid, kemudian orang lain yang non-muslim telah memaksakannya untuk memakai salib. Atau dilakukan kompromi: saat ini seorang muslim dipersilahkan menyembah Allah, tetapi lain waktu menyembah sembahan-sembahan mereka selain Allah. Demikian juga mereka yang non-muslim melakukan hal yang sama secara bergantian sebagai jalan tengahnya untuk menuju kedamaian.

    Jadi, biarlah semuanya berjalan sendiri-sendiri, sesuai dengan keyakinan masing-masing, sebagaimana sudah dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al Kaafiruun ayat 6 berikut ini: “Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku". (QS. Al Kaafiruun: 6).

    Sedangkan apabila hanya bertukar pikiran, hal itu sama sekali tidak ada masalah, sepanjang tidak ada paksaan dari masing-masing pihak untuk membenarkan dan mengikuti apa yang dikatakannya. Bukankah Allah-pun hanya mewajibkan kita untuk menyampaikan ayat-ayat Allah? “Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: "Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku". Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: "Apakah kamu (mau) masuk Islam?" Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”. (QS. Ali ‘Imran: 20). Wallahu a'lam..

    Eko Pramunanto; ekopram@gmail.com, wrote:

    Wasalamu 'alaina WARSAWA

    Ya' setuju banget.

    Itu ada temanku pak jun (djuni_adi@yahoo.com) dr unes semarang tertarik jg dg diskusi kita. Tlg di cc katanya.

    Wasalamu 'alaina WARSAWA

    BalasHapus

Info Buku:

● Alhamdulillah, telah terbit buku: Islam Solusi Setiap Permasalahan jilid 1.

Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, MAg: “Banyak hal yang dibahas dalam buku ini. Tapi, yang paling menarik bagi saya adalah dorongan untuk mempelajari Alquran dan hadis lebih luas dan mendalam, sehingga tidak mudah memandang sesat orang. Juga ajakan untuk menilai orang lebih berdasar kepada kitab suci dan sabda Nabi daripada berdasar nafsu dan subyektifitasnya”.

Buku jilid 1:

Buku jilid 1:
Buku: “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 378 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

● Buku “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1 ini merupakan kelanjutan dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” (jilid 1 s/d jilid 5). Berisi kumpulan artikel-artikel yang pernah saya sampaikan dalam kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah menjelang shalat tarawih/ba’da shalat tarawih, Khutbah Jum’at, kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus maupun kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook/whatsapp (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab, konsultasi, diskusi via email, facebook, sms, whatsapp, maupun media lainnya.

● Sebagai bentuk kehati-hatian saya dalam menyampaikan Islam, buku-buku religi yang saya tulis, biasanya saya sampaikan kepada guru-guru ngajiku untuk dibaca + diperiksa. Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz adalah salah satu diantaranya. Beliau adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Unsur Ketua MUI Jatim, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia 2009-2013, Dekan Fakultas Dakwah 2000-2004/Guru Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 2004 - sekarang.

_____

Assalamu'alaikum wr. wb.

● Alhamdulillah, telah terbit buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5.

● Buku jilid 5 ini merupakan penutup dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan jilid 4.

Buku Jilid 5

Buku Jilid 5
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-29-3

Buku Jilid 4

Buku Jilid 4
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 4: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-28-6

Buku Jilid 3

Buku Jilid 3
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 3: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 396 halaman, ISBN 978-602-5416-27-9

Buku Jilid 2

Buku Jilid 2
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 324 halaman, ISBN 978-602-5416-26-2

Buku Jilid 1

Buku Jilid 1
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 330 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

Keterangan:

Penulisan buku-buku di atas adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini: ”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞