بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Selasa, 17 Juni 2008

APA YANG SEBENARNYA KITA CARI DALAM HIDUP INI? (I)

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Tanpa kita sadari, ternyata tiap-tiap kita telah hampir memasuki usia 40 tahun. Bahkan, sekitar 12 tahun lagi, tiap-tiap kita akan memasuki usia 50 tahun. Sungguh…, suatu usia yang sudah dapat dikatakan ‘tua’. Sehingga tidak tertutup kemungkinan, pada waktu itu sebagian diantara kita telah menjadi kakek/nenek, atau bahkan sudah ada diantara kita yang berpulang menghadap kepada Sang Kholiq, Pemilik seluruh alam semesta ini. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un!

Saudaraku…,
Rasanya, begitu cepat waktu berlalu. Masih terbayang dalam ingatan kita, masa-masa ketika kita masih SMA dahulu. Masa ketika hari-hari indah kita lalui bersama. Masa ketika hari-hari kita lalui dengan penuh canda dan tawa. Masa ketika kita tidak pernah dan tidak perlu memikirkan problematika kehidupan yang teramat kompleks ini, karena itu adalah urusan orang tua kita.

Yah…, singkat cerita, begitu indah masa-masa ketika kita masih SMA dahulu. Teramat banyak kenangan yang terukir di sana. Sehingga rasanya tidak cukup untuk sekedar menuliskannya kembali dalam tulisan ini.

Namun, ternyata masa itu sudah berlalu. Bahkan sudah hampir 20 tahun telah kita tinggalkan. Rasanya, teramat cepat waktu berlalu. Dan pada saat ini, tiap-tiap kita telah hampir memasuki usia 40 tahun.

Saudaraku…,
Lalu, apa yang sebenarnya kita cari dalam hidup ini? Apakah mencari harta/kekayaan sebanyak-banyaknya? Untuk apa? Sampai kapan? Atau, mengejar jabatan/pangkat setinggi-tingginya? Untuk apa? Sampai kapan? Atau, mencari …? Atau, mengejar…? dst. Untuk apa? Sampai kapan? Sementara waktu terus berlalu dan terus berlalu (dan tidak mungkin berhenti/kita hentikan). Hingga tanpa sadar, tiba-tiba maut sudah ada di depan mata!

“Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan”. (QS. Al Baqarah. 96). Na’udzubillahi mindzalika!

Saudaraku…,
Sesungguhnya, semuanya itu (mencari harta/kekayaan sebanyak-banyaknya, mengejar jabatan/pangkat setinggi-tingginya, atau mencari …atau mengejar… dst.) “hanya akan terasa hampa” jika kita belum mengenal-Nya, jika kita belum mendapatkan ridha-Nya!!!

Saudaraku…,
Hanya dengan menggapai ridha-Nya, jiwa kita akan menjadi tenang. Hanya dengan mendapatkan ridha-Nya, kita akan memperoleh keberuntungan yang besar. Hanya dengan ridha-Nya, kita akan bisa merasa puas terhadap nikmat yang telah dicurahkan-Nya kepada kita. “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya”. (QS. Al Fajr. 27-28).

“Allah berfirman: "Ini adalah suatu hari yang bermanfa`at bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha terhadap-Nya**. Itulah keberuntungan yang paling besar". (QS. Al Maa-idah. 119). **) Maksudnya ialah: Allah meridhai segala perbuatan-perbuatan mereka, dan merekapun merasa puas terhadap nikmat yang telah dicurahkan Allah kepada mereka.

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya”. (QS. Al Baqarah. 207).

Semoga bermanfaat!

NB.
Tulisan ini adalah sebagai upaya untuk menjawab pertanyaan Bung Edi Wahono (teman alumnus SMAN 1 Blitar ’89, saat ini tinggal di Yogyakarta) berikut ini: “Cumak yo kuwi lho…! Kok cepete umur iki. Ora kroso wis meh kepala 4. Terus ‘nggolek opo jan-jane awake dewe iki? Rolas tahun maneh wis kepala 5. Tuwo kan…?”. (Hanya ya itu lho…! Kok cepatnya umur ini. Tidak terasa sudah hampir kepala 4. Terus mencari apa sebenarnya kita ini? Dua belas tahun lagi sudah kepala 5. Tua kan…?).

{Bersambung; tulisan ke-1 dari 2 tulisan}

7 komentar:

  1. Nah, mestinya ada kesimpulannya.
    Apa? Mengapa? di mana? bagaimana?

    BalasHapus
  2. Saudaraku...,
    Menurutku, yang kita cari dalam hidup ini seharusnya hanyalah menggapai ridho-Nya (QS. Al Fajr. 27-28; QS. Al Maa-idah. 119; QS. Al Baqarah. 207). Wallahu a'lam.

    BalasHapus
  3. ...ya betul usia berjalan tanpa jeda..terus berjalan sampai batas akhir..namun apa yang sudah kita isi diusia yang telah kita jalani? Astagfirullah..banyak dosa dan maksiat yang telah saya perbuat. Semoga masih ada waktu buat saya untuk bertobat dan menggapai Ridha Allah SWT.Amien.. terimakasih mas tulisannya...

    BalasHapus
  4. Sama-sama, Bang Aos Kuswandi...,
    Sebagai sesama muslim, memang sudah semestinya jika diantara kita saling mengingatkan serta saling memberi nasehat. Dengan saling memberi dan mengingatkan, semoga kita tidak termasuk golongan orang-orang yang merugi. sebagaimana penjelasan Al Qur’an berikut ini: “Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. 103. 2-3).

    BalasHapus
  5. Seorang teman yang lain, telah memberi komentar sebagai berikut:

    Terima kasih pencerahan hati yang saudara kirimkan ke kami, pada prinsipnya sy setuju dengan pendapat sampean "Hidup untuk mencari ridlo Allah semata" yang menjadi pertanyaan saya dan berkecamuk di benak saya dengan usia saya yang sudah mendekati 50 tahun ini, apa yang sudah saya perbuat terutama dalam kearah menuju ridlo Allah. Ilmu agama yang sangat dangkal, sementara kalau melihat teman-teman seusia saya masih mengejar ilmu-ilmu yang sesuai dengan kepakarannya di dunia ini, hati ini merasa bimbang.

    Padahal kalau menilik usia menurut saya seharusnya kita sudah harus banyak mengejar/mencari bekal untuk kehidupan yang akan datang di akherat nanti. Kemudian dalam benak saya muncul pertanyaan kapan saya harus mengaji ilmu agama?

    Itulah kawan yang akhir-akhir ini sering muncul dipikiran saya kemana saya harus melangkah ilmu dunia yang dituntut oleh para akademisi atau ilmu untuk yang dapat diamalkan untuk di akherat nanti. Tetapi kita berbuat dengan mengajar kepada anak didik kita, melaksanakan pekerjaan yang dibebankan kita dan menjalankan dengan ikhlas tanpa paksaan juga merupakan jalan menuju ridlo Allah? (ini pendapat saya pribadi)

    Semoga kita selalu mendapatkan ridlo dari NYA wassalam.

    BalasHapus
  6. Terhadap komentar tersebut, saya telah berusaha untuk memberi penjelasan sebagai berikut:

    Saudaraku...,
    Semoga artikel berikut ini dapat memberikan jawaban atas pertanyaan saudaraku.


    Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan. Hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku.

    * * * * * * * * * * * * * * * *

    Ilmu Dunia Hanyalah Alat Bantu ’Tuk Menggapai Kebahagiaan Hakiki

    Assalamu’alaikum wr. wb.

    Mas Fulan* adalah seorang pemuda dari Blitar yang saat ini telah menjadi staf pengajar / dosen Fakultas Teknik di sebuah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) terkemuka di Surabaya. Sebagai seorang dosen, hari-hari dia lalui dengan kegiatan-kegiatan mengajar, membimbing praktikum, membimbing serta menguji tugas akhir/skripsi, seminar, dll.

    Sejak memutuskan untuk berkarier sebagai seorang dosen, Mas Fulan juga telah melakukan upaya-upaya untuk menghasilkan karya-karya ilmiah di bidangnya. Hal ini merupakan konsekuensi logis berkaitan dengan pengembangan keilmuannya. Hingga saat ini sudah banyak karya ilmiah yang Mas Fulan tulis. Beberapa karya ilmiahnya telah berhasil terpublikasi di beberapa jurnal/majalah ilmiah nasional maupun internasional.

    Dengan terus berupaya untuk menghasilkan karya-karya ilmiah tersebut, maka Mas Fulan dapat langsung mempraktekkan ilmu/mata kuliah yang dia bina di lapangan. Terutama untuk publikasi di jurnal ilmiah nasional yang sudah terakreditasi DIKTI (terlebih lagi publikasi di jurnal ilmiah internasional) dimana terjadi persaingan yang sangat ketat untuk bisa publikasi, maka hal ini menuntut Mas Fulan untuk banyak membaca literatur maupun hasil-hasil penelitian lainnya. Hal ini harus Mas Fulan lakukan sebagai upaya untuk menambah wawasan keilmuannya sehingga dapat memperkuat daya inovasi pada penelitiannya. Dengan pengalaman penelitian tersebut, maka hal ini akan sangat bermanfaat pada saat mengajar di kelas, dimana Mas Fulan tidak hanya mengandalkan teori-teori yang ada di buku-buku literatur, tetapi juga dapat Mas Fulan perkaya dengan pengalaman penelitian di lapangan.

    BalasHapus
  7. Ilmu Dunia Hanyalah Alat Bantu ’Tuk Menggapai Kebahagiaan Hakiki (Lanjutan)

    Namun setelah sekian banyak karya ilmiah di bidang / ilmu teknik yang dia tulis, maka semakin sadarlah dia bahwa ilmu teknik yang selama ini dia tekuni ternyata hanyalah merupakan alat saja, bukan tujuan utama hidupnya. Karena ilmu teknik yang kini semakin dia kuasai, ternyata tidak mampu menjamin masa depannya yang sesungguhnya, yaitu kebahagiaan hakiki di negeri akhirat. Hingga pada suatu saat, teringatlah dia pada masa-masa ketika masih di Blitar dahulu, dimana dia sempat mengenyam pendidikan di sebuah madrasah.

    Pada akhirnya Mas Fulan menyadari bahwa ternyata ada dua sumber ilmu lain yang selama ini telah dia lupakan, yaitu Al Qur’an serta Al Hadits. Hingga akhirnya Mas Fulan mulai mempelajarinya kembali. Dan ketika Mas Fulan baru sedikit saja mempelajari kedua sumber ilmu tersebut, maka dia nampak tercengang!!! Karena ternyata begitu banyak ilmu pengetahuan yang teramat tinggi nilainya/mutunya yang telah dia dapatkan, satu hal yang selama ini tidak pernah dia pikirkan. Apalagi jika hal ini dia kaitkan dengan penjelasan Al Qur’an dalam surat Al Baqarah ayat 269 berikut ini: “Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)”. (QS. Al Baqarah. 269).

    Dengan berjalannya waktu, maka semakin bertambah pula kefahamannya tentang Al Qur'an dan As Sunnah / Al Hadits. Hingga hal ini dapat membuatnya semakin yakin bahwa hanya dengan kefahaman yang mendalam tentang Al Qur'an dan As Sunnah-lah yang akan mampu menjamin masa depannya yang sesungguhnya, yaitu kebahagiaan hakiki di negeri akhirat.

    Sedangkan pada saat yang sama, sebagai seorang dosen Fakultas Teknik, dia juga tetap berupaya untuk menghasilkan karya-karya ilmiah di bidangnya (ilmu teknik) sebagai konsekuensi logis berkaitan dengan pengembangan keilmuannya. Ibarat hendak menuju suatu tempat**, maka Al Qur'an dan Al Hadits adalah petunjuk jalannya, sedangkan ilmu teknik yang saat ini semakin dia kuasai tak ubahnya seperti kendaraan yang dapat dijadikan sebagai alat bantu sehingga perjalanan tersebut dapat menjadi lebih mudah dan lebih cepat. Adapun yang dimaksud dengan suatu tempat** di sini adalah kebahagiaan hakiki di negeri akhirat. Wallahu a'lam. Semoga bermanfaat!

    NB.
    *) Mas Fulan pada kisah di atas hanyalah nama fiktif belaka. Mohon ma’af jika secara kebetulan ada kemiripan nama dengan kisah di atas!

    Sekali lagi, itu hanyalah cerita fiktif yang berasal dari anganku. Dan aku ingin mengambil hikmah dari cerita fiktif itu.

    BalasHapus

Info Buku:

● Alhamdulillah, telah terbit buku: Islam Solusi Setiap Permasalahan jilid 1.

Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, MAg: “Banyak hal yang dibahas dalam buku ini. Tapi, yang paling menarik bagi saya adalah dorongan untuk mempelajari Alquran dan hadis lebih luas dan mendalam, sehingga tidak mudah memandang sesat orang. Juga ajakan untuk menilai orang lebih berdasar kepada kitab suci dan sabda Nabi daripada berdasar nafsu dan subyektifitasnya”.

Buku jilid 1:

Buku jilid 1:
Buku: “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 378 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

● Buku “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1 ini merupakan kelanjutan dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” (jilid 1 s/d jilid 5). Berisi kumpulan artikel-artikel yang pernah saya sampaikan dalam kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah menjelang shalat tarawih/ba’da shalat tarawih, Khutbah Jum’at, kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus maupun kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook/whatsapp (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab, konsultasi, diskusi via email, facebook, sms, whatsapp, maupun media lainnya.

● Sebagai bentuk kehati-hatian saya dalam menyampaikan Islam, buku-buku religi yang saya tulis, biasanya saya sampaikan kepada guru-guru ngajiku untuk dibaca + diperiksa. Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz adalah salah satu diantaranya. Beliau adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Unsur Ketua MUI Jatim, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia 2009-2013, Dekan Fakultas Dakwah 2000-2004/Guru Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 2004 - sekarang.

_____

Assalamu'alaikum wr. wb.

● Alhamdulillah, telah terbit buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5.

● Buku jilid 5 ini merupakan penutup dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan jilid 4.

Buku Jilid 5

Buku Jilid 5
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-29-3

Buku Jilid 4

Buku Jilid 4
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 4: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-28-6

Buku Jilid 3

Buku Jilid 3
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 3: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 396 halaman, ISBN 978-602-5416-27-9

Buku Jilid 2

Buku Jilid 2
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 324 halaman, ISBN 978-602-5416-26-2

Buku Jilid 1

Buku Jilid 1
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 330 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

Keterangan:

Penulisan buku-buku di atas adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini: ”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞