بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Senin, 01 September 2008

ADAKAH KESEMPATAN UNTUK TIDAK BERSYUKUR?

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
”Jika ada kelebihan, optimalkan kelebihan itu sebagai perwujudan rasa syukur kita kepada-Nya. Sebaliknya, jika ada kekurangan, pandanglah kekurangan itu justru sebagai kelebihan kita”.

Jika pada saat ini ada kelebihan yang diberikan Allah pada diri kita, maka optimalkan kelebihan itu sebagai perwujudan rasa syukur kita kepada-Nya. Yang dimaksud dengan kelebihan disini dapat meliputi segala hal. Bisa berupa kelebihan harta, kesehatan, ilmu yang kita miliki, waktu/kesempatan, dst.

Jika pada saat ini Allah memberikan kelebihan harta kepada kita, maka optimalkan kelebihan harta itu untuk dibelanjakan di jalan Allah (untuk diberikan kepada kerabat yang terdekat akan haknya, membantu fakir miskin, untuk berdakwah, dst.) yang kesemuanya itu kita lakukan semata-mata untuk mencari keridhaan Allah sekaligus sebagai perwujudan rasa syukur kita kepada-Nya. Jangan malah sebaliknya (menghambur-hamburkan harta, berlebih-lebihan, dll.). Ingat..., bahwa tidak semua orang diberi kelebihan harta. “… dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros”. (QS. Al Israa. 26). “… dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al An’aam. 141).

Jika pada saat ini Allah telah memberikan kelebihan ilmu kepada kita, maka manfaatkan ilmu yang kita miliki tersebut sebesar-besarnya untuk mendekatkan diri kepada-Nya, serta sebarkan ilmu yang kita miliki tersebut kepada saudara-saudara kita yang lain. Bukankah orang yang paling baik adalah orang yang paling banyak memberi manfaat kepada yang lain? Demikian penjelasan Rasulullah dalam sebuah hadits.



عَنْ جَابِرٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْمُؤْمِنُ يَأْلَفُ وَيُؤْلَفُ، وَلا خَيْرَ فِيمَنْ لا يَأْلَفُ وَلا يُؤْلَفُ، وَخَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Jabir r.a berkata: Rasulullah SAW. bersabda: Orang beriman ialah insan yang mampu bergaul dengan manusia, dan manusia lain mampu bergaul dengannya. Tiada kebaikan bagi siapa yang tidak mampu bercampur dengan manusia, dan manusia tidak mau mencampurinya. Dan sebaik-baik manusia ialah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain. (HR at-Thabrani)


Jika pada saat ini Allah masih memberikan waktu/kesempatan kepada kita, maka manfaatkan waktu/kesempatan tersebut sebesar-besarnya untuk berbuat amal kebajikan, sebelum waktu/kesempatan itu pergi meninggalkan kita. Hal ini kita lakukan, semata-mata untuk mencari keridhaan Allah sekaligus sebagai perwujudan rasa syukur kita kepada-Nya atas waktu/kesempatan yang telah Allah berikan kepada kita. “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa`at.” (QS. 2. 254). Demikian seterusnya..., jika saat ini ada kelebihan yang diberikan Allah (apapun bentuk kelebihan itu) pada diri kita, maka optimalkan kelebihan itu sebagai perwujudan rasa syukur kita kepada-Nya.

Sebaliknya, jika pada saat ini ada kekurangan pada diri kita, pandanglah kekurangan itu justru sebagai kelebihan kita. Yang dimaksud dengan kekurangan disini dapat meliputi segala hal. Bisa berupa kekurangan harta, kesehatan, ilmu yang kita miliki, waktu/kesempatan, dll., dst.

Jika pada saat ini kita sedang kekurangan harta, maka pandanglah hal ini justru sebagai kelebihan kita. Karena bisa jadi, dengan kekurangan harta tersebut, Allah telah membentengi diri kita dari perbuatan maksiat/kesombongan. Betapa tidak, ketika keinginan untuk berbuat maksiat itu ada, ternyata kita tidak mungkin melakukannya, karena kita tidak punya biaya untuk itu. Pada saat yang lain, ketika kita akan menyombongkan diri, terpaksa kita harus menahan diri karena hal itu tak mungkin kita lakukan, karena kita tidak punya cukup harta untuk menyombongkan diri. Dst... Bukankah hal ini justru merupakan kelebihan kita, karena dengan kondisi ini, kita dapat terhindar dari perbuatan maksiat/kesombongan?

Jika pada saat ini kita sedang sakit, maka pandanglah hal ini justru sebagai kelebihan kita. Bukankah pada saat kita dalam keadaan sakit, biasanya kita dalam keadaan lemah sehingga kita dapat merasakan bahwa ternyata kita sangat membutuhkan-Nya? Bukankah hal ini justru merupakan kelebihan kita, karena dalam kondisi sakit, justru dapat membuat kita menjadi lebih dekat dengan Allah? Demikian seterusnya..., jika pada saat ini ada kekurangan (apapun bentuk kekurangan itu), maka pandanglah kekurangan itu justru sebagai kelebihan kita.

Saudaraku…,
Jika cara berpikir kita seperti ini, tentunya tidak ada alasan sedikitpun bagi kita untuk tidak bersyukur/mengeluh, bagaimanapun situasi/kondisi yang sedang kita hadapi. Yang terjadi justru sebaliknya. Apalagi jika hal ini kita kaitkan dengan salah satu hadits dimana Ahmad, Ibn Majah dan Albaihaqi meriwayatkan, bahwa Allah berfirman: “Aku selalu mengikuti persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Jika ia berprasangka baik, maka untung baginya. Dan jika berprasangka buruk, maka ia akan terkena bahayanya”.

Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Info Buku:

● Alhamdulillah, telah terbit buku: Islam Solusi Setiap Permasalahan jilid 1.

Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, MAg: “Banyak hal yang dibahas dalam buku ini. Tapi, yang paling menarik bagi saya adalah dorongan untuk mempelajari Alquran dan hadis lebih luas dan mendalam, sehingga tidak mudah memandang sesat orang. Juga ajakan untuk menilai orang lebih berdasar kepada kitab suci dan sabda Nabi daripada berdasar nafsu dan subyektifitasnya”.

Buku jilid 1:

Buku jilid 1:
Buku: “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 378 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

● Buku “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1 ini merupakan kelanjutan dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” (jilid 1 s/d jilid 5). Berisi kumpulan artikel-artikel yang pernah saya sampaikan dalam kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah menjelang shalat tarawih/ba’da shalat tarawih, Khutbah Jum’at, kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus maupun kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook/whatsapp (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab, konsultasi, diskusi via email, facebook, sms, whatsapp, maupun media lainnya.

● Sebagai bentuk kehati-hatian saya dalam menyampaikan Islam, buku-buku religi yang saya tulis, biasanya saya sampaikan kepada guru-guru ngajiku untuk dibaca + diperiksa. Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz adalah salah satu diantaranya. Beliau adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Unsur Ketua MUI Jatim, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia 2009-2013, Dekan Fakultas Dakwah 2000-2004/Guru Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 2004 - sekarang.

_____

Assalamu'alaikum wr. wb.

● Alhamdulillah, telah terbit buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5.

● Buku jilid 5 ini merupakan penutup dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan jilid 4.

Buku Jilid 5

Buku Jilid 5
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-29-3

Buku Jilid 4

Buku Jilid 4
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 4: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-28-6

Buku Jilid 3

Buku Jilid 3
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 3: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 396 halaman, ISBN 978-602-5416-27-9

Buku Jilid 2

Buku Jilid 2
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 324 halaman, ISBN 978-602-5416-26-2

Buku Jilid 1

Buku Jilid 1
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 330 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

Keterangan:

Penulisan buku-buku di atas adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini: ”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞