بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾

Assalamu’alaikum wr. wb.

Selamat datang, saudaraku. Selamat membaca artikel-artikel tulisanku di blog ini.

Jika ada kekurangan/kekhilafan, mohon masukan/saran/kritik/koreksinya (bisa disampaikan melalui email: imronkuswandi@gmail.com atau "kotak komentar" yang tersedia di bagian bawah setiap artikel). Sedangkan jika dipandang bermanfaat, ada baiknya jika diinformasikan kepada saudara kita yang lain.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika kurang berkenan, hal ini semata-mata karena keterbatasan ilmuku. (Imron Kuswandi M.).

Rabu, 03 September 2008

APAKAH ALLAH MASIH PEDULI DENGAN KITA?

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudaraku…,
Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa tangan kita ternyata sangat peka terhadap panas. Sehingga seandainya pada saat kita sedang melamun kemudian tanpa kita sadari tangan kita telah memegang bara api, maka secara refleks (reflex movement, gerakan yang tidak disengaja) tangan kita segera menghindarinya. Setelah peristiwa itu barulah kita sadari, bahwa tanpa sengaja ternyata tangan kita telah memegang bara api.

Bisa dibayangkan seandainya tangan kita tersebut tidak peka terhadap panas. Pada peristiwa yang sama, dimana kita sedang melamun kemudian tanpa kita sadari tangan kita telah memegang bara api, maka – karena tangan kita tidak peka terhadap panas – bisa dipastikan pula bahwa tanpa kita sadari kita akan terus memegang bara api tersebut. Hingga pada akhirnya kita baru menyadarinya setelah tangan kita tersebut hangus terbakar. Jika sudah demikian, maka hanya ada satu pilihan, yaitu tangan kita tersebut harus diamputasi.

Dari gambaran di atas, dapatlah kita simpulkan bahwa kepekaan tangan kita terhadap panas tersebut ternyata merupakan salah satu indikasi/petunjuk/tanda bahwa Allah masih peduli dengan kita. Dengan adanya kepekaan terhadap panas tersebut, sesungguhnya Allah telah menyelamatkan tangan kita sehingga tidak sampai terbakar serta tidak harus diamputasi.

Saudaraku…,
Jika kita renungi lebih jauh lagi, kepekaan terhadap rasa bersalah/berdosa ketika kita melakukan kesalahan (melanggar larangan Allah) sesungguhnya juga merupakan cerminan kasih sayang Allah kepada kita.

Saudaraku…,
Bagi kita yang sudah terbiasa menjalankan ibadah puasa ketika bulan Ramadhan tiba, bisa dibayangkan betapa perasaan bersalah/berdosa begitu besar hinggap dalam hati kita jika pada suatu saat dimana terik matahari begitu menyengat dan rasa haus serasa tak tertahankan, kemudian kita mencoba meminum walau hanya seteguk air sehingga puasa kita menjadi batal. Dengan adanya perasaan bersalah/berdosa yang begitu besar tersebut, tentunya akan membuat kita jera dan berusaha kembali untuk menjalankan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya. Meskipun demikian, jika hal ini diulang dan terus diulang kembali, maka perasaan bersalah/berdosa tersebut berangsur-angsur akan berkurang dan bahkan bisa menghilang. Hingga pada akhirnya kita sudah tidak peka lagi terhadap perasaan bersalah/berdosa tersebut, karena kita telah terbiasa untuk tidak berpuasa.


Demikian juga halnya dengan ibadah sholat. Bagi kita yang sudah terbiasa menjalankan ibadah sholat wajib lima waktu, bisa dibayangkan betapa perasaan bersalah/berdosa begitu besar hinggap dalam hati kita jika pada suatu saat dimana kita sedang dihadapkan dengan pekerjaan yang begitu menggunung, kemudian kita mencoba untuk meninggalkan sholat demi kesibukan kita dalam menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk tersebut. Dengan adanya perasaan bersalah/berdosa yang begitu besar tersebut, tentunya akan membuat kita jera dan berusaha kembali untuk menjalankan ibadah sholat dengan sebaik-baiknya. Apalagi jika hal ini kita kaitkan dengan penjelasan sebuah hadits yang menyatakan bahwa yang pertama diwajibkan atas umat Islam adalah sholat lima waktu, dan pertama yang terangkat dari amal mereka adalah sholat lima waktu, dan pertama yang akan ditanya dari amal mereka adalah sholat lima waktu.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا قَاَل: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوَّلُ مَاافْتَرَضَ اللهُ عَلى أُمَّتِى الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَأَوَّلُ مَايُرْفَعُ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَأَوَّلُ مَايُسْأَلُوْنَ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، ... (رَوَاهُ الْحَاكِمُ)
Ibn Umar r.a. berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Pertama yang diwajibkan atas umatku sholat lima waktu, dan pertama yang terangkat dari amal mereka sholat lima waktu, dan pertama yang akan ditanya dari amal mereka sholat lima waktu, …” (HR. Al Hakim).

Meskipun demikian, jika hal ini (meninggalkan sholat) diulang dan terus diulang kembali, maka perasaan bersalah/berdosa tersebut berangsur-angsur akan berkurang dan bahkan bisa menghilang. Hingga pada akhirnya kita sudah tidak peka lagi terhadap perasaan bersalah/berdosa tersebut, karena kita telah terbiasa untuk tidak mendirikan sholat.

Hal yang sama juga bisa terjadi ketika kita mulai mencoba untuk melakukan kecurangan/korupsi (karena sudah mulai ada kesempatan). Jika selama ini kita senantiasa memegang teguh kejujuran, maka bisa dibayangkan pula betapa perasaan bersalah/berdosa akan begitu besar hinggap dalam hati kita. Bisa dipastikan, bahwa akan terjadi pertarungan antara perasaan bersalah/berdosa dengan perasaan senang karena memperoleh pendapatan ekstra. Dengan adanya perasaan bersalah/berdosa yang begitu besar tersebut, tentunya akan membuat kita jera dan berusaha kembali untuk senantiasa memegang teguh kejujuran. Meskipun demikian, jika hal ini diulang dan terus diulang kembali, maka perasaan bersalah/berdosa tersebut berangsur-angsur akan berkurang dan bahkan bisa menghilang. Hingga pada akhirnya kita sudah tidak peka lagi terhadap perasaan bersalah/berdosa tersebut, karena kita telah terbiasa melakukan kecurangan/korupsi. Demikian seterusnya...

Saudaraku…,
Jika sudah demikian – ketika kita sudah tidak memiliki kepekaan terhadap rasa bersalah/berdosa pada saat kita melakukan kesalahan/melanggar larangan Allah – apakah hal ini merupakan satu indikasi/petunjuk/tanda bahwa Allah sudah tidak peduli dengan kita? Jika memang demikian, kemana lagi kita memohon pertolongan? Jika memang demikian, kemana lagi kita mencari perlindungan? Wallahu a'lam bish-shawab.

Saudaraku…,
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah telah berfirman dalam Al Qur’an surat Al An’aam sebagai berikut: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’aam: 44). Na’udzubillahi mindzalika!

Semoga bermanfaat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Info Buku:

● Alhamdulillah, telah terbit buku: Islam Solusi Setiap Permasalahan jilid 1.

Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, MAg: “Banyak hal yang dibahas dalam buku ini. Tapi, yang paling menarik bagi saya adalah dorongan untuk mempelajari Alquran dan hadis lebih luas dan mendalam, sehingga tidak mudah memandang sesat orang. Juga ajakan untuk menilai orang lebih berdasar kepada kitab suci dan sabda Nabi daripada berdasar nafsu dan subyektifitasnya”.

Buku jilid 1:

Buku jilid 1:
Buku: “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 378 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

● Buku “Islam Solusi Setiap Permasalahan” jilid 1 ini merupakan kelanjutan dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” (jilid 1 s/d jilid 5). Berisi kumpulan artikel-artikel yang pernah saya sampaikan dalam kajian rutin ba’da shalat subuh (kuliah subuh), ceramah menjelang berbuka puasa, ceramah menjelang shalat tarawih/ba’da shalat tarawih, Khutbah Jum’at, kajian rutin untuk rekan sejawat/dosen, ceramah untuk mahasiswa di kampus maupun kegiatan lainnya, siraman rohani di sejumlah grup di facebook/whatsapp (grup SMAN 1 Blitar, grup Teknik Industri ITS, grup dosen maupun grup lainnya), kumpulan artikel yang pernah dimuat dalam majalah dakwah serta kumpulan tanya-jawab, konsultasi, diskusi via email, facebook, sms, whatsapp, maupun media lainnya.

● Sebagai bentuk kehati-hatian saya dalam menyampaikan Islam, buku-buku religi yang saya tulis, biasanya saya sampaikan kepada guru-guru ngajiku untuk dibaca + diperiksa. Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz adalah salah satu diantaranya. Beliau adalah Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris, Unsur Ketua MUI Jatim, Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia 2009-2013, Dekan Fakultas Dakwah 2000-2004/Guru Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 2004 - sekarang.

_____

Assalamu'alaikum wr. wb.

● Alhamdulillah, telah terbit buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5.

● Buku jilid 5 ini merupakan penutup dari buku “Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an dan Hadits” jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan jilid 4.

Buku Jilid 5

Buku Jilid 5
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 5: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-29-3

Buku Jilid 4

Buku Jilid 4
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 4: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², x + 384 halaman, ISBN 978-602-5416-28-6

Buku Jilid 3

Buku Jilid 3
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 3: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 396 halaman, ISBN 978-602-5416-27-9

Buku Jilid 2

Buku Jilid 2
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 2: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 324 halaman, ISBN 978-602-5416-26-2

Buku Jilid 1

Buku Jilid 1
Buku: "Petunjuk Praktis Menjadi Muslim Seutuhnya Menurut Al Qur’an Dan Hadits” jilid 1: HVS 70 gr, 16 x 24 cm², viii + 330 halaman, ISBN 978-602-5416-25-5

Keterangan:

Penulisan buku-buku di atas adalah sebagai salah satu upaya untuk menjalankan kewajiban dakwah, sebagaimana penjelasan Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 17 berikut ini: ”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman. 17).

Sehingga sangat mudah dipahami jika setiap pembelian buku tersebut, berarti telah membantu/bekerjasama dalam melaksanakan tugas dakwah.

Informasi selengkapnya, silahkan kirim email ke: imronkuswandi@gmail.com atau kirim pesan via inbox/facebook, klik di sini: https://www.facebook.com/imronkuswandi

۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞ ۞